IMG-LOGO
Jenazah

Hukum Shalat Jenazah Shalat Tanpa Wudhu

Sabtu 15 Juni 2019 11:30 WIB
Share:
Hukum Shalat Jenazah Shalat Tanpa Wudhu

Sudah seharusnya bahwa shalat selalui di dahului dengan wudhu. Karena wudhu merupakan salah satu cara bersuci dari hadats kecil. Dan kesucian adalah bagian dari syarat syah shalat yang harus dipenuhi bagi siapapun yang akan mendirikan shalat.

Hal ini berbeda dalam kasus shalat jenazah (shalat yang diperuntukkan kepada mayit sebelum dikubur), menurut pendapat para faqih minoritas seperti As-Syu’bi dan kelompoknya, boleh saja melaksanakan shalat jenazah tanpa berwudhu lebih dahulu. Karena bagi mereka shalat jenazah tidak dianggap sebagai shalat, tetapi hanya sebagai do’a (sebagaimana makna shalat itu sendiri). Dan juga tata cara pelaksanaan shalat jenazah yang dilakukan tanpa ruku’ dan sujud.

Demikian yang tersebut dalam Bidayatul Mujtahid karya Ibnu Rusyd.


وشذ قوم فقالوا يجوز أن يصلى على الجنازة بغير طهارة, وهو قول الشعبي وهؤلاء ظنوا أن اسم الصلاة لايتناول صلاة الجنازة, وإنما يتناولها اسم الدعاء إذ كان ليس فيها ركوع ولاسجود

 

Redaktur: Ulil Hadrawy


Catatan: Naskah ini terbit pertama kali di NU Online pada Senin, 11 Maret 2013 pukul 19:00. Redaksi mengunggahnya ulang dengan sedikit penyuntingan.

Share:
Sabtu 15 Juni 2019 10:30 WIB
Bolehkah Penguburan Jenazah Ditunda?
Bolehkah Penguburan Jenazah Ditunda?
Pengurusan jenazah hukumnya Fardhu Kifayah, dan anjuran Rasulullah SAW dalam hal ini adalah perlunya mengubur jenazah sesegera mungkin. Namun kadangkala pada praktiknya muncul beberapa masalah karena berkenaan dengan kepentingan studi pelatihan medis untuk operasi bedah, atau untuk penyelidikan hukum seperti penyelidikan terhadap pembunuhan, atau penundaan itu terkait adat masyarakat setempat. Ada kisah lain di beberapa daerah kota Bandung pemandian jenazah ditunda dikarenakan takut munculnya hadats dan najis berkali-kali.

Di dunia kedokteran, lazim dilakukan pengawetan jenazah untuk kepentingan studi, di mana pihak calon mayyit telah berwasiat dan disetujui oleh keluarganya untuk menjadi bahan latihan tenaga medis. Kemudian setelah meninggal dunia jenazahnya tersebut diawetkan dalam batas waktu tertentu untuk bahan latihan para calon dokter.<>

Setelah digunakan untuk latihan, kemudian mayyit tersebut dirapikan kembali dan dilakukan prosesi penguburan jenazah sebagaimana mestinya menurut ajaran Islam. Dengan deminkian, otomatis hal ini menimbulkan masalah tertundanya penguburan jenazah.

Pertanyaannya, bagaimanakah hukum mengakhirkan penguburan jenazah, baik karena tujuan otopsi, studi dan mensucikan jenazah seperti dalam beberapa kasus di atas? Bolehkan membedah jenazah setelah lama diawetkan untuk kepentingan studi? Berapa lama batas mengakhirkan penguburan jenazah?

Hasil Bahtsul Masail Diniyah Waqi’iyah Muktamar ke-32 NU di Makassar akhir Maret 2010 kemarin memberikan beberapa penjelasan berikut ini: Mengakhirkan penguburan jenazah pada dasarnya tidak diperbolehkan kecuali;

(a) untuk mensucikan jenazah berpenyakit menular yang menurut dokter harus ditangani secara khusus;

(b) untuk dilakukan otopsi dalam rangka penegakan hukum;

(c) untuk menunggu kedatangan wali jenazah dan atau menunggu terpenuhinya empat puluh orang yang akan menshalati dengan syarat diberitahukan segera selama tidak dikhawatirkan ada perubahan pada jenazah.

Adapun mengakhirkan penguburan jenazah untuk keperluan studi hanya boleh dilakukan pada jenazah kafir harbi, orang murtad dan zindik. Sementara membedah jenazah setelah lama diawetkan untuk kepentingan studi dibolehkan dalam kondisi darurat atau hajat.

Adapun batas mengakhirkan penguburan jenazah adalah sampai khaufut taghayur (jenazah berubah) atau sampai selesainya kebutuhan di atas.


Komisi Bahtsul Masail Diniyah Waqi’iyah Muktamar ke-32 NU
23-27 Maret 2010

Catatan: Naskah ini terbit pertama kali di NU Online pada Selasa, 25 Mei 2010 pukul 16:17. Redaksi mengunggahnya ulang dengan sedikit penyuntingan.

Kamis 13 Juni 2019 22:30 WIB
Alasan Memandikan Mayit
Alasan Memandikan Mayit

Mengapa mayit harus dimandikan? Karena pada dasarnya mayit tidak bisa mandi sendiri. Jawaban ini bukanlah jawaban kelakar. Tetapi jawaban dari kacamata fiqih. Karena sebenarnya memandikan mayit merupakan tuntutan bagi mereka yang masih hidup dengan alasan ketidakmampuan mayit memandikan dirinya sendiri. Demikian diterangkan dalam Tuhaftul Habib, Juz 2.<>

ولايرد على الاكتفاء بتغسيل الميت نفسه كرامة ان المخاطب غيره بذلك لأنانقول إنماخوطب غيره لعجزه أى الميت فاذا اتى به خرقا للعادة اكتفى به اذ المدار على وجوده من جنس المكلف

Oleh karena itu jika seorang mayit mampu memandikan dirinya sendiri, maka gugurlah kewajiban sanak family yang masih hidup. Dan hal itu dianggap sahih. Seperti yang pernah terjadi pada karomah waliyullah Abdullah al-Manufi dan Al-Quthbus Syahir Sayyidil Ahmadil Badawi, qaddasallahu siraahuma.

Kejadian ini merupakan bukti kelebihan yang dimiliki oleh para auliyaullah yang terkenal dengan nama karomah. Demikianlah termaktub dalam Kasyifatus Saja:

ولو غسل نفسه كرامة كفى كما وقع لسيد أحمد البدوى أمدنا الله بمدده

Dan jikalau (mayit) memandikan dirinya sendiri maka dianggap cukup. Sebagaimana pernah terjadi pada karomah Sayyid Ahmad Al-Badawi amaddanallahu bimadadihi.

Akan tetapi bagi mayit yang tidak mampu mandi sendiri, maka bagi sanak keluarga yang ditinggalkan harus memandikannya, sebagaimana mengafani, meshalati dan mengkuburkannya. Hanya saja perlu difahami terlebih dahulu bahwasannya alasan memandikan mayit tidaklah sama dengan alasan mencuci piring atau pakaian yang bertujuan menghilangkan najis dan menyucikannya. Karena sesungguhnya mayit tidaklah mengandung hadats, dan mayit bukan pula barang najis.

Namun, alasan memandikan mayit lebih pada penghormatan. Sebagaimana termaktub dalam kitab Iqna' bahwa alasan bersuci itu ada tiga, untuk menghilangkan najis, menghilangkan hadats atau pun untuk penghormatan:

وجه الدلالة أن الطهارة اما لحدث اوخبث اوتكرمة ولاحدث على الإناء ولاتكرمة فتعينت طهارة الخبث

Demikianlah keterangan tentang alasan memandikan mayit, yang tentunya harus difahami bagi semua muslim baik yang nantinya akan dimandikan maupun yang hendak mandi sendiri. Wallau a'lam (red. Ulil H)


Catatan: Naskah ini terbit pertama kali di NU Online pada Jumat, 07 Juni 2013 pukul 09:07. Redaksi mengunggahnya ulang dengan sedikit penyuntingan.

Kamis 16 Mei 2019 20:30 WIB
Dianjurkan Memberi Minum Orang yang Sedang Sakaratul Maut?
Dianjurkan Memberi Minum Orang yang Sedang Sakaratul Maut?
Ilustrasi (via lovlist.org)
Kematian pasti akan dirasakan oleh siapa saja, baik cepat maupun lambat. Setiap Muslim pasti berharap akan mengakhiri episode kehidupan di dunia ini dengan bagus karena bagaimanapun amal seseorang akan ditentukan bagaimana kualitas penutup hidupnya.

إِنَّ العَبْدَ لَيَعْمَلُ فِيمَا يَرَى النَّاسُ عَمَلَ أَهْلِ الجَنَّةِ وَإِنَّهُ لَمِنْ أَهْلِ النَّارِ وَيَعْمَلُ فِيمَا يَرَى النَّاسُ عَمَلَ أَهْلِ النَّارِ وَهُوَ مِنْ أَهْلِ الجَنَّةِ وَإِنَّمَا الأَعْمَالُ بِخَوَاتِيمِهَا

Artinya: “Sesungguhnya ada hamba yang mengerjakan amal yang menurut pandangan manusia adalah amal surga namun sejatinya itu adalah kegiatan penduduk neraka. Dan ada pula orang yang menjalani kehidupan yang menurut pandangan orang-orang adalah perilaku ahli neraka, namun sebenarnya amal tersebut merupakan amal ahli surga. Yang penting pada setiap amal adalah bagaimana purnanya.” (HR Bukhari: 6493) 

Hadits di atas menjelaskan bagaimana pentingnya penutup. Detik-detik menjelang kematian seseorang merupakan ujian terbesar yang bakal dimanfaatkan iblis untuk menjadikan orang tersebut sesat dan selama-lamanya masuk neraka.

وَقَدْ رُوِيَ أَنَّ الشَّيْطَانَ لَا يكون في حال أشد على بن آدَمَ مِنْهُ فِي حَالِ الْمَوْتِ يَقُولُ لِأَعْوَانِهِ دُونَكُمْ هَذَا فَإِنَّهُ إِنْ فَاتَكُمُ الْيَوْمَ لَمْ تَلْحَقُوهُ بَعْدَ الْيَوْمِ

Artinya: “Diriwayatkan, setan tidak menggoda anak Adam melebihi hebatnya godaan pada saat orang akan meninggal dunia. Pada saat itu, setan berkata kepada teman-temannya, ‘Kumpul di sini, jika kalian tidak bisa menyesatkannya pada hari ini, kalian tidak lagi bisa menggodanya selamanya’.” (Muhammad Asyraf bin Amir Abadi, Aunul Ma’bud, [Darul Kutub Al-Ilmiyyah, cetaka II, 1415 H], juz 4, halaman 287).

Orang yang sedang sakaratul maut, karena saking sakitnya perpisahan antara nyawa dengan jasad biasanya akan terasa haus yang luar biasa. Setan akan selalu menggoda menawari iming-iming berupa minuman namun dengan syarat mau menyekutukan Allah subhanahu wa ta’ala dan lain sebagainya. 

Sebuah riwayat dari Sayid Ba’alai Al-Hadrami yang bersumber dari kitab Tuhfah menceritakan, orang yang menghadapi kematian dalam keadaan suci baik dari hadats maupun najis, akan didatangi malaikat Jibril. Orang yang akan mati juga disarankan untuk dibacakan surat yasin.

Baca: Lakukan Empat Hal Ini saat Menghadapi Orang Sekarat
Selain itu, untuk menghindari kehausan yang menyerang, hukumnya sunnah atau bahkan wajib memberikan minuman kepada orang yang sedang sakaratul maut apabila terlihat ada tanda-tanda orang yang sakit tersebut sangat membutuhkannya. Hal ini penting dilaksanakan agar dia tidak tergoda atas iming-iming minum dari setan. 

ويجرع الماء ندباً بل وجوباً إن ظهرت أمارات تدل على احتياجه، كأن يهشّ إذا فعل به ذلك، لأن العطش يغلب لشدّة النزع، ولذلك يأتي الشيطان بماء زلال ويقول: قل لا إله غيري حتى أسقيك اهـ تحفة.

Artinya: “Dan diberi tegukan air dengan hukum sunnah bahkan menjadi wajib apabila terlihat ada tanda-tanda yang menunjukkan bahwa orang yang sakaratul maut sedang membutuhkannya. Di antara tanda yang muncul mungkin seperti raut muka ceria yang tampak. Sebab haus memang sedang melanda hebat karena saking beratnya naza’. Oleh karena itu setan datang dengan air yang putih seputih telur. Ia berkata ‘Katakan tidak ada Tuhan selain aku (setan) sampai aku memberikan minuman kepadamu’.” (Sayyid Ba’alawi Al-Hadrami, Bughyatul Mustarsyidin, [Maktabah Darul Fikr], halaman 151)

Dengan demikian, dapat diambil kesimpulan, orang yang akan meninggal, jika terlihat tanda-tanda membutuhkan uluran tangan minuman, hukumnya sunnah untuk disuapi minuman. Bahkan kalau kebutuhannya begitu kuat, bisa menjadikan hukum wajib dalam rangka kita menolongnya supaya selamat, tidak tergelincir dengan godaan setan di akhir hayat. Semoga kita diselamatkan oleh Allah dan kemudian meninggal kelak dalam keadaan husnul khatimah, amin. Wallahu a’lam

Ustadz Ahmad Mundzir, pengajar di Pesantren Raudhatul Quran an-Nasimiyyah, Semarang