IMG-LOGO
Thaharah

Hakikat Azan, Bersuci dan Menutup Aurat

Selasa 13 Mei 2014 8:0 WIB
Share:
Hakikat Azan, Bersuci dan Menutup Aurat
Ilustrasi (amnh.org)

Di antara rahasia shalat adalah mengetahui hikmah dan tatacara memberlakukan diri ketika telinga mendengar adzan. Adzan seharusnya menjadi tanda panggil dari Yang Maha Kuasa, hati yang baik akan merasa terpanggil untuk menyambutnya.

Tentunya dengan perasaan yang penuh gembira dan kebahagiaan, bukan dengan perasaan yang memberatkan. Adzan ibarat panggilan dari sang kekasih yang lama telah dirindukan. Sesungguhnya mereka yang bersegera menjawab panggilan ini nanti di hari akhir akan dipanggil dengan lembut oleh Allah swt.

Adapun bersuci yang dalam fiqih disebut dengan thaharah sesungguhnya merupakan thaharah dhahiriyah yang meliputi suci badan, suci pakaian dan suci tempat shalat yang dipergunakan. Ketika thaharah secara fiqihy ini telah dipenuhi, maka usahakanlah thaharah dalam hati. Thaharah dalam hati ini berarti mensucikan diri dari segenap dosa dengan bertaubat mengakui kesalahan dan memohon ampunan atasnya. Dalam shalat hati seharus suci dan bersih, karena hatilah ruang bagi pandangan Dzat Yang Disembah.

Selanjutnya menutup aurat yaitu menutup kejelekan-kejelekan diri dari pandangan-pandangan makhluk, karena jasad badaniah ini menjadi objek pandangan mereka. Sedangkan bagi Allah swt tidak ada satupun yang tertutup bagi-Nya Yang Maha Tahu. Maka bukalah aurat batin karena serapi apapun hati disembunyikan Allah Maha Tahu.

Setelah itu bersegeralah bangunkan perasaan menyesal, malu dan takut kepada-Nya sebagai wahana melahirkan kerendahan dan ketenangan hati. Jika sudah demikian maka shalat akan didirikan dengan wajah tertunduk dengan perasaan tawadhu. Merasa diri lemah, tak berdaya dan penuh dosa di hadapan Yang Maha perkasa. (Red. Ulil Hadrawi)

 

Share:
Selasa 18 Februari 2014 14:12 WIB
Hukum Parfum Beralkohol
Hukum Parfum Beralkohol

Bagi sebagian kalangan, barang encer dalam botol minyak wangi bisa menaikkan tingkat kepercayaan diri. Tetapi tidak sedikit mereka yang berjiwa besar tanpa mengenal parfum. Di antara keduanya, ada juga mereka yang mengenakan minyak wangi dalam tempo tertentu sesuai kehendak hati. Yang jelas, setiap mereka mengantongi alasan macam-macam.
<>
Perdagangan cairan wangi asiri yang mudah menguap pada temperatur agak rendah ini bisa didapati di emper masjid, pasar tradisional, pasar swalayan, atau pasar-pasar malam dadakan.

Pedagang minyak wangi biasanya menerakan minyak wangi yang tidak mengandung alkohol. “Nonalkohol,” dengan tulisan besar. Untuk yang beralkohol, biasanya tanpa keterangan apapun. Penggolongan keduanya bisa berasal dari pedagang, peracik, atau produsennya.

Penggolongan ini sekurangnya membelah sikap warga. Ada yang memilih nonalkohol untuk menenangkan hati jika mereka bersembayang. Pasalnya, ia menganggap najis zat alkohol yang digolongkan ke dalam khamar. Sedangkan yang lain mengambil parfum beralkohol di samping ada juga mereka yang tidak mengambil peduli.

Sikap di atas bisa dijelaskan secara hukum antara lain; pertama zat alkohol termasuk ke dalam khamar. Artinya alkohol sebagaimana khamar juga haram dan najis. Sedangkan pendapat kedua mengatakan, alkohol hanya haram dikonsumsi, tetapi tidak najis digunakan untuk kepentingan parfum misalnya.

“Alkohol tidak identik dengan khamar. Kekeliruan orang banyak mengidentikan keduanya. Padahal keduanya tidak selalu identik. Kalau alkohol diminum, ia baru disebut khamar. Tetapi sejauh digunakan untuk parfum, tidak menjadi apa,” kata Katib Aam PBNU KH Malik Madani di Gedung PBNU jalan Kramat Raya 164 Jakarta Pusat, Kamis (13/2).

Sementara pendapat ketiga mengatakan, khamar itu tetap suci kendati tetap haram. Keterangan ini bisa didapat dari Syekh Abdul Wahab bin Ahmad Al-Ansori yang lazim dikenal As-Sya’roni dalam kitab Al-Mizanul Kubro berikut.

أجمع الأئمة علي نجاسة الخمر إلا ما حكي عن داود أنه قال بطهارتها مع تحريمها

“Para imam mujtahid sepakat atas najisnya khamar kecuali riwayat dari Imam Daud. Ia berpendapat, khamar itu suci meski haram untuk dikonsumsi.” Pendapat ini bisa berlaku bagi mereka yang mengidentikkan alkohol dan khamar. Wallahu A’lam.


Alhafiz Kurniawan

Senin 3 Februari 2014 12:4 WIB
Baju Baru, Suci atau Najis?
Baju Baru, Suci atau Najis?
Ilustrasi (isigood)

Pakaian merupakan salah satu kebutuhan pokok dalam kehidupan manusia. Pakaian sering dikelompokkan ke dalam jenis kebutuhan primer. Sebagai kebutuhan pokok, pakaian berfungsi sebagai penutup aurat yang dalam Islam hukumny adalah wajaib. Maka wajib pula bagi individu memiliki pakaian yang cukup untuk menutup auratnya. Tidak harus mewah dan beragam, yang penting aurat itu tertutup dengan rapat.

 

Hanya saja di zaman sekarang ini macam pakaian sungguh amat ragamnya. Baik merk, kwalitas, maupun modenya yang terus berubah. Sehingga dinamika dalam dunia mode terus berkembang, baik karena tuntunan nilai guna dan fungsi saja tetapi juga tuntutan pasar.

 

Hal inilah yang menjadi salah satu faktor seseorang memeiliki banyak pakaian. Sehingga mereka dapat berganti-ganti memakainya. Jika salah satu pakaian telah dipakai dan dianggap kotor ataupun terkena najis maka seseorang akan menggantinya dengan yang bersih dan suci, begitulah keadaan yang kesehariannya dialami seseorang.

 

Pakaian yang dianggap telah kotor dan najis akan dicuci kembali menggunakan air dengan tujuan supaya kembali bersih dan suci lalu bisa digunakan untuk beribadah seperti shalat dan ibadah lain. Ketika seseorang memiliki pakaian yang telah usang dan warna pakaian yang memudar, kecondongan akan muncul untuk membeli pakaian baru.

 

Tidak ada larangan membeli pakaian baru meskipun pakaian yang lama masih layak untuk dipakai, tentu tiada lain tujuan membelinya adalah untuk menutup aurat, agar terlihat rapi dan menjaga kebersihan. Kebingungan dan keragu-raguan akan kesucian pakaian baru terkadang menjadi beban tersendiri, dikarenakan jika seseorang membeli pakaian baru entah itu kemeja, celana, sarung dan lain-lain merasa was-was akan kesuian pakaian tersebut.

 

Maka untuk solusi menghilangkan rasa keragu-raguan apakah pakaian tersebut suci atau tidak, sebagian ulama’ memberi penjelasan bahwa pakaian yang baru saja ia beli dihukumi suci karena asal dari pada sesuatu itu suci selama tidak ada hal-hal yang membuatnya terkena najis, seperti baju yang terbuat dari campuran kulit bangkai hewan, atau terbuat dari campuran sesuatu yang najis, maka jika diketahui itu semua, baju tersebut dihukumi najis. Imam Jalaluddin As-Suyuthi dalam kitabnya Al-Asybah Wa Al-Nadloir menjelaskan,

 

قَاعِدَة: الْأَصْلُ فِي الْأَشْيَاءِ الْإِبَاحَةُ حَتَّى يَدُلَّ الدَّلِيلُ عَلَى التَّحْرِيم

 

"Salah satu qaidah Fiqhiyah berbunyi: Asal sesuatu itu hukumnya mubah, sampai ada dalil yang mengharamkannya."

 

Kaidah Fiqhiyah ini memberi penegasan bahwa sesuatu misalnya hewan atau apapun  dihukumi mubah dan halal selama tidak didapati dalil yang mengharamkannya. Jika Qaidah ini disesuaikan dengan akar masalah diatas, maka seseorang yang membeli baju baru namun ia dilanda keragu-raguan apakah baju tersebut suci atau najis, atau terbuat dari barang yang suci ataukah najis, kesucian baju tersebut menjadi hukum yang dimenangkan dalam artian baju baru itu dihukumi suci selama tidak diketahui ada sesuatu yang membuatnya menjadi najis. 

 

Jika diketahui bahwa baju itu terdapat sebuah najis yang menempel maka hukum baju tersebut tidak bisa dibawa kehukum asal, karena telah diketahui ada najis yang menempel. Qaidah ini berlaku jika tidak diketahui asal muasal apakah baju tersebut suci ataukah najis, maka boleh dibawa kehukum asal yang mengatakan bahwa asal sesuatu tersebut suci selama tidak ada dalil atau bukti yang menyebutkan mengenai najisnya baju tersebut. (Pen. Fuad H/Red. Ulil Hadrawi)

Jumat 10 Januari 2014 7:0 WIB
Sandal Khusus Kamar Mandi
Sandal Khusus Kamar Mandi
null

Kamar mandi, kamar kecil, toilet, WC, dan berbagai sebutan lainnya merupakan tempat khusus yang dipergunakan manusia untuk membersihkan diri dari kotoran. Sehingga kamar mandi dan sejenisnya selalu identik dengan najis. Oleh karena itu wajar sekali jika seseorang sering merasa ragu akan kesuciannya ketika selesai mandi, buang air besar maupun kecil.

 

Kebanyakan keraguan seseorang bersumber dari telapak kaki sebagai anggota badan yang langsung bersentuhan dengan lantai kamar mandi. Sehingga seringkali seseorang berjalan dengan berjinjit sangat hati-hati. Merasa seolah lantai kamar mandi itu tidak bebas dari najis, padahal tidak demikian, jika memang lantai kamar mandi telah disiram berulang-ulang dengan air yang suci.

 

Namun demikian, keraguan adalah keraguan yang ada dalam hati yang susah untuk dihilangkan. Untuk menyiasati hal ini sebaiknya seseorang menyeidakan satu sandal khusus untuk ke kamar mandi, agar telapak kaki tidak bersentuhan langsung dengan lantai kamar mandi yang dianggap najis. Mengenai hal ini Imam Nawawi dalam Kitab Al-Majmu’ Syarhul Muhaddzab pernah menjelaskan,

 

اسْتِحْبَابُ الِاحْتِيَاطِ فِي الْعِبَادَاتِ وَغَيْرِهَا بِحَيْثُ لَا يَنْتَهِي إلَى الْوَسْوَسَة

 

Diperbolehkan berihthiyath (berhati-hati) dalam masalah ibadah dan yang lain sehingga tidak mengakibatkan waswas.

 

Penekanan Ihthiyath (kehati-hatian) lebih diutamakan pada masalah ini, dikarenakan bersuci dari najis adalah salah satu syarat sahnya shalat, jika saja ada najis yang mengenai pakaian seseorang, maka akan menjulur pada keabsahan shalat itu sendiri.

 

Sedangkan maksud dan tujuan dari memakai sandal sendiri adalah untuk menghindari keragu-raguan, najis dan kotoran itu sendiri. Maka jika terpenuhinya maksud tersebut adalah dengan memakai sandal, maka hal itu dianjurkan sebagai sarana terwujudnya maksud dan tujuan. Imam Nawawi melanjutkan penjelasannya, dalam kitab yang sama, 

 

وَأَنَّهُ يُسْتَحَبُّ الِاحْتِيَاطُ فِي اسْتِيفَاءِ الْمَقْصُود

 

Diperbolehkan juga berhati-hati untuk terpenuhinya maksud dan tujuan.

 

Lebih baiknya seseorang menyediakan sandal khusus kamar mandi dan tidak dipakai kecuali hanya ketika hendak masuk kekamar mandi. Terlebih lagi jika kamar mandi tersebut tidak ada tempat cucian kaki, maka sandal khususu kamar mandi adalah solusinya. (Pen. Fuad H/Red. Ulil H)