IMG-LOGO
Ramadhan

Doa Kamilin, Dibaca Sesudah Shalat Tarawih

Rabu 8 Mei 2019 21:15 WIB
Share:
Doa Kamilin, Dibaca Sesudah Shalat Tarawih
Ilustrasi (via iqraa.com)

Para ulama sepakat bahwa shalat tarawi merupakan ibadah yang dianjurkan dalam bulan Ramadhan. Jika siang hari umat Islam melaksanakan puasa, maka malam hari adalah kesempatan bagi mereka menghidupkan Ramadhan dengan shalat tarawih.

Petunjuk tentang kesunnahan shalat tarawih mengacu pada hadits:

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa ibadah (tarawih) di bulan Ramadhan seraya beriman dan ikhlas, maka diampuni baginya dosa yang telah lampau” (HR al-Bukhari, Muslim, dan lainnya).

Syekh Khatib al-Syarbini dalam Mughni al-Muhtaj menjelaskan bahwa ulama sepakat soal makna “qâma ramadlâna” di dalam hadits tersebut diarahkan pada shalat tarawih.

Baca juga: 
• Dalil dan Keutamaan Shalat Tarawih
• Mengapa Jumlah Rakaat Tarawih Berbeda-beda? Ini Penjelasannya
Sebagaimana istimewanya bulan Ramadhan, salah satu momentum yang sayang dilewatkan adalah berdoa dan bermunajat di malam hari. Sebagai bulan kasih sayang (rahmah), ampunan (maghfirah), dan pembebasan dari neraka (itqum minan nar), doa pada bulan suci ini lebih berpahala dan lebih potensial dikabulkan. Apalagi dilaksanakan di malam hari, yang mungkin saja bertepatan dengan Lailatul Qadar, suatu malam yang disebut Al-Qur'an lebih baik dari seribu bulan.

Selain merupakan wahana menumpahkan permohonan kepada Sang Khalik, doa mencerminkan pula sebuah ekspresi ketundukan, kepasrahan, dan kerendahan hati di hadapan-Nya. Doa bisa diungkapkan dengan bahasa apa saja, oleh siapa saja, dan dilakukan kapan saja, termasuk usai shalat tarawih pada Ramadhan kali ini.

Berikut ini adalah doa yang lazim dibaca para ulama setiap selepas sembahyang tarawih. Doa ini popular dengan sebutan “doa kamilin”. 


اَللهُمَّ اجْعَلْنَا بِالْإِيْمَانِ كَامِلِيْنَ. وَلِلْفَرَائِضِ مُؤَدِّيْنَ. وَلِلصَّلاَةِ حَافِظِيْنَ. وَلِلزَّكَاةِ فَاعِلِيْنَ. وَلِمَا عِنْدَكَ طَالِبِيْنَ. وَلِعَفْوِكَ رَاجِيْنَ. وَبِالْهُدَى مُتَمَسِّكِيْنَ. وَعَنِ الَّلغْوِ مُعْرِضِيْنَ. وَفِى الدُّنْيَا زَاهِدِيْنَ. وَفِى اْلآخِرَةِ رَاغِبِيْنَ. وَبَالْقَضَاءِ رَاضِيْنَ. وَلِلنَّعْمَاءِ شَاكِرِيْنَ. وَعَلَى الْبَلاَءِ صَابِرِيْنَ. وَتَحْتَ لِوَاءِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ سَائِرِيْنَ وَعَلَى الْحَوْضِ وَارِدِيْنَ. وَإِلَى الْجَنَّةِ دَاخِلِيْنَ. وَمِنَ النَّارِ نَاجِيْنَ. وَعَلى سَرِيْرِالْكَرَامَةِ قَاعِدِيْنَ. وَبِحُوْرٍعِيْنٍ مُتَزَوِّجِيْنَ. وَمِنْ سُنْدُسٍ وَاِسْتَبْرَقٍ وَدِيْبَاجٍ مُتَلَبِّسِيْنَ. وَمِنْ طَعَامِ الْجَنَّةِ آكِلِيْنَ. وَمِنْ لَبَنٍ وَعَسَلٍ مُصَفًّى شَارِبِيْنَ. بِأَكْوَابٍ وَّأَبَارِيْقَ وَكَأْسٍ مِّنْ مَعِيْن. مَعَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّيْنَ وَالصِّدِّيْقِيْنَ وَالشُّهَدَآءِ وَالصَّالِحِيْنَ وَحَسُنَ أُولئِكَ رَفِيْقًا. ذلِكَ الْفَضْلُ مِنَ اللهِ وَكَفَى بِاللهِ عَلِيْمًا. اَللهُمَّ اجْعَلْنَا فِى هذِهِ اللَّيْلَةِ الشَّهْرِالشَّرِيْفَةِ الْمُبَارَكَةِ مِنَ السُّعَدَاءِ الْمَقْبُوْلِيْنَ. وَلاَتَجْعَلْنَا مِنَ اْلأَشْقِيَاءِ الْمَرْدُوْدِيْنَ. وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآلِه وَصَحْبِه أَجْمَعِيْنَ. بِرَحْمَتِكَ يَاأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

Allâhummaj‘alnâ bil îmâni kâmilîn. Wa lil farâidli muaddîn. Wa lish-shlâti hâfidhîn. Wa liz-zakâti fâ‘ilîn. Wa lima ‘indaka thâlibîn. Wa li ‘afwika râjîn. Wa bil-hudâ mutamassikîn. Wa ‘anil laghwi mu‘ridlîn. Wa fid-dunyâ zâhdîn. Wa fil ‘âkhirati râghibîn. Wa bil-qadlâ’I râdlîn. Wa lin na‘mâ’I syâkirîn. Wa ‘alal balâ’i shâbirîn. Wa tahta liwâ’i muhammadin shallallâhu ‘alaihi wasallam yaumal qiyâmati sâ’irîna wa alal haudli wâridîn. Wa ilal jannati dâkhilîn. Wa minan nâri nâjîn. Wa 'alâ sariirl karâmati qâ'idîn. Wa bi hûrun 'in mutazawwijîn. Wa min sundusin wa istabraqîn wadîbâjin mutalabbisîn. Wa min tha‘âmil jannati âkilîn. Wa min labanin wa ‘asalin mushaffan syâribîn. Bi akwâbin wa abârîqa wa ka‘sin min ma‘în. Ma‘al ladzîna an‘amta ‘alaihim minan nabiyyîna wash shiddîqîna wasy syuhadâ’i wash shâlihîna wa hasuna ulâ’ika rafîqan. Dâlikal fadl-lu minallâhi wa kafâ billâhi ‘alîman. Allâhummaj‘alnâ fî hâdzihil lailatisy syahrisy syarîfail mubârakah minas su‘adâ’il maqbûlîn. Wa lâ taj‘alnâ minal asyqiyâ’il mardûdîn. Wa shallallâhu ‘alâ sayyidinâ muhammadin wa âlihi wa shahbihi ajma‘în. Birahmatika yâ arhamar râhimîn wal hamdulillâhi rabbil ‘âlamîn.

Artinya, “Yaa Allah, jadikanlah kami orang-orang yang sempurna imannya, yang memenuhi kewajiban-kewajiban, yang memelihara shalat, yang mengeluarkan zakat, yang mencari apa yang ada di sisi-Mu, yang mengharapkan ampunan-Mu, yang berpegang pada petunjuk, yang berpaling dari kebatilan, yang zuhud di dunia, yang menyenangi akhirat, yang ridha dengan qadla-Mu (ketentuan-Mu), yang mensyukuri nikmat, yang sabar atas segala musibah, yang berada di bawah panji-panji junjungan kami, Nabi Muhammad, pada hari kiamat, yang mengunjungi telaga (Nabi Muhammad), yang masuk ke dalam surga, yang selamat dari api neraka, yang duduk di atas ranjang kemuliaan, yang menikah dengan para bidadari, yang mengenakan berbagai sutra ,yang makan makanan surga, yang minum susu dan madu murni dengan gelas, cangkir, dan cawan bersama orang-orang yang Engkau beri nikmat dari kalangan para nabi, shiddiqin, syuhada dan orang-orang shalih. Mereka itulah teman yang terbaik. Itulah keutamaan (anugerah) dari Allah, dan cukuplah bahwa Allah Maha Mengetahui. Ya Allah, jadikanlah kami pada malam yang mulia dan diberkahi ini termasuk orang-orang yang bahagia dan diterima amalnya, dan janganlah Engkau jadikan kami tergolong orang-orang yang celaka dan ditolak amalnya. Semoga Allah mencurahkan rahmat-Nya atas junjungan kami Muhammad, serta seluruh keluarga dan shahabat beliau. Berkat rahmat-Mu, wahai Yang Paling Penyayang di antara yang penyayang. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam.” (Lihat Sayyid Utsman bin Yahya, Maslakul Akhyar, Cetakan Al-‘Aidrus, Jakarta).

Tampak bahwa nama "kâmilîn" diambil dari redaksi pembuka doa ini yang memohon terbentuknya pribadi-pribadi sempurna (kâmilîn) dalam hal keimanan. Substansi doa ini cukup komplet, meliputi aspek duniawi dan ukhrawi, kenikmatan dan kesulitan, meminta kerbekahan malam mulia, diterimanya amal, dan lain sebagainya. Doa yang hampir selalu dibaca oleh umat Islam di Tanah Air ini juga  termaktub dalam kitab-kitab doa ulama Nusantara, salah satunya Majmû‘ah Maqrûât Yaumiyah wa Usbû‘iyyah karya pengasuh Pondok Pesantren Langitan Tuban, KH Muhammad bin Abdullah Faqih (rahimahullâh). Pada lembar pengantar, sang ayah, KH Abdullah Faqih, mengatakan bahwa doa-doa dalam kitab itu merupakan hasil ijazah dari Kiai Abdul Hadi (Langitan), Kiai Ma'shum (Lasem), Sayyid Muhammad bin Alwi al-Maliki, dan Syekh Yasin bin Isa al-Fadani. KH Abdullah Faqih memberikan restu atau ijazah kepada siapa saja yang mengamalkan (dengan ijâzah munâwalah).

Wallâhu a'lam bish shawâb.


(Mahbib)



::::

Catatan: Naskah terbit pertama kali pada 9 Juni 2016, pukul 19.30. Redaksi menayangkan ulang pada Ramadhan kali ini dengan sejumlah penyuntingan.

Share:
Rabu 8 Mei 2019 21:0 WIB
Kala Nabi Muhammad Berbuka Sebelum Waktunya
Kala Nabi Muhammad Berbuka Sebelum Waktunya
"…Dan, Makan dan minumlah kalian sampai terlihat jelas bagi kalian benang putih di atas benang hitam, yaitu terbit fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa kalian sampai malam (matahari terbenam)…." (al-Baqarah: 187).

Nabi Muhammad saw. tidak menghendaki bahkan menegur para sahabatnya yang berpuasa terus-terusan hingga malam hari, meski mereka kuat melakukannya. Sebaliknya, beliau menganjurkan kepada umat Islam agar dalam berpuasa itu tidak diberat-beratkan. Sebagaimana firman Allah di atas, ketentuan waktu puasa itu mulai dari terbit fajar dan berakhir saat matahari terbenam. Tidak lebih dan tidak kurang. 

Dalam hal ibadah, Nabi Muhammad menyuruh umatnya untuk melakukan perintah agama semampunya. Misalnya ibadah puasa. Orang puasa hanya bagi orang yang mampu dan memenuhi syarat saja. Sementara jika dia sakit atau ada halangan syar’i lainnya -yang membolehkannya untuk tidak berpuasa, maka dia tidak wajib puasa. 

Nabi Muhammad pernah memberikan contoh bahwa kewajiban berpuasa itu bukan dimaksudkan untuk menyiksa atau memberatkan umat Islam. Karena bagaimanapun, ‘motif’ puasa dalam Islam itu lebih erat dengan motif keimanan, ketaatan dan pengabdian kepada Allah, serta kesadaran dalam beragama, bukan penyiksaan diri. Sehingga orang yang berpuasa diharapkan bisa menjadi orang yang bertakwa kepada Allah. 

Dikisahkan, mengutip buku Puasa pada Umat-umat Dulu dan Sekarang (Sismono, 2010), suatu ketika pada bulan Ramadhan Nabi Muhammad dan para sahabatnya berada dalam perjalanan menuju ke Makkah. Pada siang harinya, Nabi Muhammad melihat ada beberapa sahabatnya yang terlihat letih dan lemah. Ketika melewati sebuah sumber mata air atau sumur, beliau menimba seember air dan langsung meneguknya. Dengan demikian, maka beliau berbuka puasa sebelum pada waktunya. 

“Inilah suatu keringanan dari Allah bagi hamba-hamba-Nya,” kata Nabi Muhammad.

Apa yang dilakukan Nabi Muhammad itu tidak serta-merta langsung diikuti oleh seluruh sahabatnya yang ikut dalam rombongan. Ada beberapa sahabatnya yang mengaku masih kuat dan akan meneruskan puasanya hingga waktu berbuka tiba. Beliau tidak memaksa sahabatnya itu. Malah beliau menerima sikap sahabatnya itu dengan penuh rasa hormat. 

“Mereka adalah orang-orang yang kuat dalam melaksanakan amal kebajikan,” timpal Nabi Muhammad.

Nabi Muhammad bukan berarti tidak kuat berpuasa pada saat itu. Akan tetapi, sikap Nabi Muhammad itu menunjukkan bahwa ada hal atau kondisi dimana seseorang tidak lagi diwajibkan berpuasa. Misalnya orang yang dalam perjalanan (musafir). Jika jarak tempuh perjalannya mencapai 120 km –sebagian ulama menyebut 80 km atau 90 km, maka dia diperbolehkan untuk berbuka dan mengganti puasanya di lain hari. Karena di dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa salah seorang yang diberi keringanan boleh tidak berpuasa adalah orang yang sedang melakukan perjalanan atau musafir.

“…Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (dia tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain...” (QS. al-Baqarah: 185)

Begitulah cara Nabi Muhammad memberikan teladan tentang bagaimana seharusnya berpuasa, terutama ketika sedang melakukan perjalanan. Beliau sendiri berbuka puasa sebelum waktunya dan mempersilahkan sahabatnya untuk mengikutinya. Di sisi lain, beliau juga mengizinkan sahabatnya yang kuat melanjutkan puasanya hingga waktu buka tiba –meski mereka sedang dalam perjalanan. (A Muchlishon Rochmat)
Rabu 8 Mei 2019 20:0 WIB
Adakah Fadhilah Tarawih Per Hari?
Adakah Fadhilah Tarawih Per Hari?
Ilustrasi (stratfor.com)
Setiap Ramadhan selalu beredar hadits yang berisi keutamaan shalat tarawih setiap harinya, mulai hari pertama hingga hari terakhir. Bagaimana sebenarnya hadits itu? Layakkah kita meyakini dan menyebarkannya?

Bila mau objektif, maka ada beberapa keganjilan dalam hadits itu, antara lain:

Nabi hanya shalat qiyamu ramadhan selama tiga malam saja lalu tak pernah lagi secara berjamaah. Ini yang tercatat dalam kitab-kitab hadits mu'tabarah. Misalnya riwayat Bukhari berikut:

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ بُكَيْرٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا اللَّيْثُ، عَنْ عُقَيْلٍ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، قَالَ: أَخْبَرَنِي عُرْوَةُ، أَنَّ عَائِشَةَ، أَخْبَرَتْهُ: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ ذَاتَ لَيْلَةٍ مِنْ جَوْفِ اللَّيْلِ، فَصَلَّى فِي المَسْجِدِ، فَصَلَّى رِجَالٌ بِصَلاَتِهِ، فَأَصْبَحَ النَّاسُ، فَتَحَدَّثُوا، فَاجْتَمَعَ أَكْثَرُ مِنْهُمْ، فَصَلَّوْا مَعَهُ، فَأَصْبَحَ النَّاسُ، فَتَحَدَّثُوا، فَكَثُرَ أَهْلُ المَسْجِدِ مِنَ اللَّيْلَةِ الثَّالِثَةِ، فَخَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَصَلَّوْا بِصَلاَتِهِ، فَلَمَّا كَانَتِ اللَّيْلَةُ الرَّابِعَةُ عَجَزَ المَسْجِدُ عَنْ أَهْلِهِ حَتَّى خَرَجَ لِصَلاَةِ الصُّبْحِ، فَلَمَّا قَضَى الفَجْرَ أَقْبَلَ عَلَى النَّاسِ، فَتَشَهَّدَ، ثُمَّ قَالَ: «أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّهُ لَمْ يَخْفَ عَلَيَّ مَكَانُكُمْ، لَكِنِّي خَشِيتُ أَنْ تُفْرَضَ عَلَيْكُمْ، فَتَعْجِزُوا عَنْهَا» قَالَ أَبُو عَبْدِ اللَّهِ: تَابَعَهُ يُونُسُ 

"Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Bukair berkata, telah mengabarkan kepada kami Al Laits dari 'Uqail dari Ibnu Syihab berkata, telah mengabarkan kepadaku 'Urwah bahwa 'Aisyah radliallahu 'anha mengabarkan kepadanya, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pada suatu malam keluar di tengah malam untuk melaksanakan shalat di masjid, orang-orang kemudian mengikuti beliau dan shalat di belakangnya. Pada waktu paginya orang-orang membicarakan kejadian tersebut. Kemudian pada malam berikutnya orang-orang yang berkumpul bertambah banyak lalu ikut shalat dengan beliau. Dan pada waktu paginya orang-orang kembali membicarakan kejadian tersebut. Kemudian pada malam yang ketiga orang-orang yang hadir di masjid semakin bertambah banyak lagi, lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam keluar untuk shalat dan mereka shalat bersama beliau. Kemudian pada malam yang keempat, masjid sudah penuh dengan jamaah hingga akhirnya beliau keluar hanya untuk shalat Shubuh. Setelah beliau selesai shalat Fajar, beliau menghadap kepada orang banyak membaca syahadat lalu bersabda: ‘Ammâ ba'du, sesungguhnya aku bukannya tidak tahu keberadaan kalian (semalam). Akan tetapi aku takut shalat tersebut akan diwajibkan atas kalian, sementara kalian tidak mampu." Abu 'Abdullah Al Bukhari berkata, "Hadits ini dikuatkan oleh Yunus." (HR. Bukhari)

Namanya saja saat itu bukan tarawih tetapi masih qiyamu ramadhan berdasarkan hadits berikut:

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبه

"Siapa yang berdiri shalat di [malam] bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, maka akan diampuni dosanya yang telah lalu" (HR. Bukhari-Muslim)

Baca juga: 
Dalil dan Keutamaan Shalat Tarawih
Mengapa Jumlah Rakaat Tarawih Berbeda-beda? Ini Penjelasannya
Istilah tarawih baru muncul belakangan ketika ia diidentikkan dengan shalat berjamaah yang punya jeda istirahat (tarwihah) setiap dua kali salam hingga genap 10 kali salam (20 rakaat). Imam Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan asal nama tarawih ini sebagai berikut:

وَالتَّرَاوِيحُ جَمْعُ تَرْوِيحَةٍ وَهِيَ الْمَرَّةُ الْوَاحِدَةُ مِنَ الرَّاحَةِ كَتَسْلِيمَةٍ مِنَ السَّلَامِ سُمِّيَتِ الصَّلَاةُ فِي الْجَمَاعَةِ فِي لَيَالِي رَمَضَانَ التَّرَاوِيحَ لِأَنَّهُمْ أَوَّلَ مَا اجْتَمَعُوا عَلَيْهَا كَانُوا يَسْتَرِيحُونَ بَيْنَ كُلِّ تَسْلِيمَتَيْنِ 

"Tarawih adalah jamak dari tarwihah yaitu istirahat satu kali, seperti kata taslimah berasal dari kata salam. Salat berjamaah di malam-malam bulan Ramadan disebut sebagai tarawih karena pada awal ia dilakukan berjamaah, para sahabat beristirahat di antara setiap dua kali salam." (Ibnu Hajar al-Asqalai, Fathul Bari, juz IV, h. 250) 

Sudah maklum bahwa peristiwa awal shalat tarawih berjamaah terjadi di masa Khalifah Umar dengan imam tarawih Ubay bin Ka'b, sebagaimana dalam hadits berikut:

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَبْدٍ القَارِيِّ، أَنَّهُ قَالَ: خَرَجْتُ مَعَ عُمَرَ بْنِ الخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، لَيْلَةً فِي رَمَضَانَ إِلَى المَسْجِدِ، فَإِذَا النَّاسُ أَوْزَاعٌ مُتَفَرِّقُونَ، يُصَلِّي الرَّجُلُ لِنَفْسِهِ، وَيُصَلِّي الرَّجُلُ فَيُصَلِّي بِصَلاَتِهِ الرَّهْطُ، فَقَالَ عُمَرُ: «إِنِّي أَرَى لَوْ جَمَعْتُ هَؤُلاَءِ عَلَى قَارِئٍ وَاحِدٍ، لَكَانَ أَمْثَلَ» ثُمَّ عَزَمَ، فَجَمَعَهُمْ عَلَى أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ، ثُمَّ خَرَجْتُ مَعَهُ لَيْلَةً أُخْرَى، وَالنَّاسُ يُصَلُّونَ بِصَلاَةِ قَارِئِهِمْ، قَالَ عُمَرُ: «نِعْمَ البِدْعَةُ هَذِهِ، وَالَّتِي يَنَامُونَ عَنْهَا أَفْضَلُ مِنَ الَّتِي يَقُومُونَ» يُرِيدُ آخِرَ اللَّيْلِ وَكَانَ النَّاسُ يَقُومُونَ أَوَّلَهُ

"Dari 'Abdurrahman bin 'Abdul Qariy bahwa dia berkata; "Aku keluar bersama 'Umar bin Al Khaththob radliallahu 'anhu pada malam Ramadhan menuju masjid, ternyata orang-orang shalat berkelompok-kelompok secara terpisah-pisah, ada yang shalat sendiri dan ada seorang yang shalat diikuti oleh ma'mum yang jumlahnya kurang dari sepuluh orang. Maka 'Umar berkata: "Aku pikir seandainya mereka semuanya shalat berjama'ah dengan dipimpin satu orang imam, itu lebih baik". Kemudian Umar memantapkan keinginannya itu lalu mengumpulkan mereka dalam satu jama'ah yang dipimpin oleh Ubbay bin Ka'ab. Kemudian aku keluar lagi bersamanya pada malam yang lain dan ternyata orang-orang shalat dalam satu jama'ah dengan dipimpin seorang imam, lalu 'Umar berkata: "Sebaik-baiknya bid'ah adalah ini. Dan mereka yang tidur terlebih dahulu adalah lebih baik daripada yang shalat awal malam, yang ia maksudkan untuk mendirikan shalat di akhir malam, sedangkan orang-orang secara umum melakukan shalat pada awal malam." (HR. Bukhari).

Adalah sangat aneh bila kemudian ada "hadits" yang isinya menjelaskan fadhilah tarawih per hari, padahal istilah tarawih saja belum ada.

Belum lagi Nabi Muhammad sengaja berhenti shalat berjamaah qiyamul ramadhan karena khawatir diwajibkan. Dengan ini para ulama kemudian menyimpulkan bahwa kekhawatiran itu sudah tiada ketika Nabi wafat sebab syariat sudah putus saat itu sehingga tak ada masalah lagi bila dilakukan setiap hari sebulan penuh. Menjadi sangat aneh bila ternyata Nabi secara sharih mensyariatkan tarawih (berjamaah) setiap hari sewaktu beliau hidup sebab akan bertentangan dengan kekhawatiran beliau sendiri yang diriwayatkan dalam hadits sahih.

Keganjilan lain adalah fadhilah yang terlalu wow. Ini adalah salah satu ciri hadits bermasalah (lemah atau bahkan palsu). Misalnya, seperti pahala shalat di Masjidil Haram, seperti mengkhatamkan 4 kitab suci, bahkan diberi anugerah seperti ibadahnya para Nabi, seperti melakukan 1000 haji, dll. Wow sekali.

Ini keganjilan secara matan. Adapun keganjilan secara sanad, maka tak perlu dibahas sebab sanadnya saja tak ada. Sumber hadits fadhilah tarawih per hari adalah kitab Durrotun Nashihin yang kebiasaannya tak menyampaikan sanad.

Jadi, hadits fadhilah tarawih per hari itu sangat bermasalah, bahkan mempunyai ciri-ciri hadits palsu. Andai itu dhaif saja, tentu kitab-kitab hadits mu'tabar akan memuatnya beserta sanadnya. Hadratussyaikh Muhammad Hasyim Asy’ari pernah ditanya soal shalat Rebo Wekasan, jawaban beliau adalah itu bukan syariat dan alasannya adalah والدليل على ذلك خلو الكتب المعتمدة عن ذكرها (tiadanya keterangan soal itu di kitab-kitab pedoman). Hal yang sama berlaku di kasus ini, sama-sama tidak ada keterangannya di kitab mu'tamad.

Namun, bukan berarti tak sunnah tarawih setiap hari. Kesunnahan tarawih setiap hari sudah disepakati semua ulama dari semua mazhab. Soal fadhilahnya, sudah sangat cukup berbagai fadhilah yang shahih yang salah satunya dikutip di atas. Masih ada fadhilah lain sebab ia masuk kategori shalat malam dan juga masuk kategori amal ramadhan tapi ini di luar bahasan kita. Semuanya sudah lebih dari cukup sebagai alasan untuk giat melakukan tarawih tiap malam ramadhan tanpa perlu memakai hadits yang bermasalah.

Sebagai akhir, dalam kasus Rebo Wekasan, Hadratus Syaikh pernah menukil pernyataan Syaikh Mulla Ali al-Qari berikut ini yang juga relevan dalam bahasan fadhilah tarawih per hari ini:

لا يجوز نقل الأحاديث النبوية والمسائل الفقهية والتفاسير القرآنية إلا من الكتب المداولة (المشهورة) لعدم الإعتماد على غيرها

"Tak boleh menukil hadits-hadits Nabi dan masalah fikih dan tafsir al-Qur’an kecuali dari kitab yang populer sebab yang lain tak bisa dibuat pedoman".

Wallahu a'lam.


Ustadz Abdul Wahab Ahmad, Wakil Katib PCNU Jember dan Peneliti di Aswaja Center Jember.

Rabu 8 Mei 2019 18:35 WIB
Ini Jumlah Shalat Witir
Ini Jumlah Shalat Witir
(Foto: @mrkenjikwok.com)
Shalat witir secara bahasa bermakna ganjil. Shalat witir berarti shalat yang bilangan rakaatnya adalah ganjil. Shalat witir dapat dikerjakan sebanyak satu, tiga, lima rakaat, dan seterusnya hingga sebelas rakaat.

Shalat witir tetap dianjurkan pada bulan Ramadhan. Shalat witir pada bulan Ramadhan biasanya dikerjakan sebanyak tiga rakaat setelah shalat Tarawih.

Di luar bulan Ramadhan, shalat witir dilaksanakan sendirian. Tetapi pada bulan Ramadhan, shalat witir dianjurkan untuk dikerjakan secara berjamaah sebagaimana keterangan dari Syekh M Nawawi Banten berikut ini:

و) من القسم الذي لا تسن فيه الجماعة (وتر) في غير رمضان (وأقله ركعة) ولا كراهة في الاقتصار عليها على المعتمد بل خلاف الأولى وأدنى الكمال ثلاث وأكمل منه خمس ثم سبع ثم تسع (وأكثره إحدى عشرة) وهي غاية الكمال فلا تصح الزيادة عليها

Artinya, “Salah satu jenis shalat sunnah yang tidak dianjurkan untuk dikerjakan secara berjamaah adalah shalat (witir) di luar. (Jumlah minimal shalat witir adalah satu rakaat). Tidak makruh mengerjakan shalat witir hanya satu rakaat menurut pendapat yang muktamad, tetapi memang khilaful aula [menyalahi yang utama]. Jumlah sempurna minimal shalat witir adalah tiga rakaat. Lebih sempurna dari itu adalah lima rakaat, kemudian tujuh, kemudian sembilan. (Jumlah maksimal shalat witir adalah sebelas rakaat), ini puncak kesempurnaan shalat witir. Tidak sah shalat witir lebih dari itu [sebelas rakaat],” (Lihat Syekh M Nawawi Banten, Nihayatuz Zain, [Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyyah: 2002 M/1422 H], halaman 100).

Dari penjelasan ini, kita mendapatkan keterangan bahwa jumlah minimal shalat witir adalah satu rakaat. Sedangkan jumlah maksimalnya adalah sebelas rakaat. Tiga rakaat adalah batas minimal kesempurnaan shalat witir. Lebih dari tiga rakaat, shalat witir lebih sempurna.

Adapun jika seseorang melakukan shalat sebanyak tiga belas rakaat sekaligus secara sengaja dan tahu kedudukannya, maka semua shalatnya batal. Sedangkan orang yang melakukan shalat dua rakaat setelah melakukan 11 rakaat dengan niat shalat witir, maka dua rakaat shalatnya batal. Tetapi kalau yang bersangkutan tidak tahu jumlah shalat witir, maka dua rakaat shalanya dihitung sebagai shalat sunnah mutlak biasa.

فلو أحرم بثلاث عشرة دفعة وكان عامدا عالما بطل الجمع. وإن كان ناسيا أو جاهلا وقعت نفلا مطلقا .وإن أحرم بركعتين بعد أن صلى الإحدى عشرة لم تنعقد هذه الصلاة إن كان عامدا عالما، وإلا وقعتا نفلا مطلقا 

Artinya, “Kalau seseorang melakukan takbiratul ihram untuk shalat witir 13 rakaat sekaligus dalam keadaan sengaja dan tahu [akan aturannya], maka semua rakaat itu batal. Tetapi jika dia lupa atau tidak tahu, maka shalat itu bernilai shalat sunnah mutlak. Tetapi jika ia bertabiratul ihram untuk shalat dua rakaat setelah shalat sebelas rakaat, maka shalat dua rakaat itu tidak jadi jika dilakukan secara sengaja dan tahu. Jika tidak, maka keduanya bernilai shalat sunnah mutlak,” (Lihat Syekh M Nawawi Banten, Nihayatuz Zain, [Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyyah: 2002 M/1422 H], halaman 100).

Demikian penjelasan singkat perihal shalat sunnah witir menurut pandangan Mazhab Syafi’i. Semoga penjelasan singkat ini memotovasi kita untuk mengamalkan shalat witir yang penuh keutamaan sebagaimana hadits yang terjemahannya adalah “Allah itu ganjil dan Dia menyukai jumlah ganjil.” Wallahu a’lam. (Alhafiz K)