IMG-LOGO
Trending Now:
Ramadhan

Batalkah Mengecap Masakan ketika Berpuasa?

Rabu 15 Juni 2016 15:6 WIB
Share:
Batalkah Mengecap Masakan ketika Berpuasa?
Sebelum dihidangkan masakan harus dikecap terlebih dahulu di dapur. Rasa masakan harus dipastikan demi kepuasan koki dan penyantapnya. Terlebih lagi kalau masakan akan dihidangkan kepada mereka yang tengah berpuasa. Kepastian rasa masakan ini tentu memberikan nilai tersendiri di sisi Allah.

Rasa masakan mesti pas. Masakan tidak boleh terlalu banyak garam, atau terlalu hambar karena kurang perasa. Kepastian rasa ini bertujuan untuk menjaga selera makan penyantapnya. Karena itu ada baiknya koki mengecap dan mencicipi terlebih dahulu masakan yang akan dihidangkan di meja makan.

Untuk koki atau ibu rumah tangga yang sedang berpuasa tetap harus mengecap masakannya. Mereka tidak boleh canggung untuk mencicipi masakannya. Kalau hanya mengecap dan mencicipi, hukum Islam tidak mempermasalahnnya. Bahkan makruh pun tidak.

Syekh Abdullah bin Hijazi asy-Syarqawi dalam karyanya Hasyiyatusy Syarqawi ‘ala Tuhfatith Thullab menyebutkan sebagai berikut.

وذوق طعام خوف الوصول إلى حلقه أى تعاطيه لغلبة شهوته ومحل الكراهة إن لم تكن له حاجة ، أما الطباخ رجلا كان أو امرأة ومن له صغير يعلله فلا يكره في حقهما ذلك قاله الزيادي

Artinya, “Di antara sejumlah makruh dalam berpuasa ialah mencicipi makanan karena dikhawatirkan akan mengantarkannya sampai ke tenggorokan. Dengan kata lain, khawatir dapat menjalankan makanan itu ke teggorokan lantaran begitu dominannya syahwat. Posisi makruhnya itu sebenarnya terletak pada ketiadaan alasan atau hajat tertentu dari orang yang mengecap makanan itu. Berbeda lagi bunyi hukum untuk tukang masak baik pria maupun wanita, dan orang tua yang berkepentingan mengobati buah hatinya yang masih kecil. Bagi mereka ini, mengecap masakan tidaklah makruh. Demikian Az-Zayadi menerangkan.”

Dengan bahasa lain, mengecap masakan bagi mereka yang tengah puasa karena hajat yang dibenarkan syar’i (agama) diperbolehkan. Hanya saja, usai mencicipi seseorang harus segera mengeluarkannya. Status hukum menjadi makruh bila ada nafsu yang kuat untuk mengonsumsi makanan tersebut dan jika mengecap makanan tersebut dikhawatirkan akan tertelan. Wallahu A’lam. (Alhafiz K)

Share:
Rabu 15 Juni 2016 17:2 WIB
Sunah Berbuka Puasa dengan Kolak?
Sunah Berbuka Puasa dengan Kolak?
Seperti yang disebutkan di artikel sebelumnya, ada dua makanan yang dianjurkan saat buka puasa: kurma dan air putih. Hal ini sesuai dengan hadits Nabi Muhammad SAW, “Apabila kamu ingin berbuka, berbukalah dengan kurma. Jika tidak ada, minumlah air putih karena ia suci,” (HR At-Tirmidzi).

Berdasarkan hadits ini, kita dianjurkan mengonsumsi kurma pada saat buka puasa. Bila kurma tidak ada, minumlah air putih terlebih dahulu sebelum mengonsumsi makanan yang lain.

Akan tetapi, sebagian masyarakat Indonesia memiliki menu tersendiri ketika buka puasa. Menu buka puasa ini sepertinya sudah turun-temurun dan menjadi tradisi masyarakat Nusantara. Masing-masing daerah memunyai makanan khas yang dikonsumsi pada waktu buka puasa, misalnya kolak,  dan karena belum tentu juga semua orang terbiasa berbuka puasa dengan kurma.

Timbul pertanyaan, apakah harus diganti tradisi buka puasa dengan kolak itu dengan kurma? Atau dapatkah dikatakan orang yang buka puasa dengan kolak juga menjalani sunah Nabi Muhammad SAW? Untuk menjawab pertanyaan ini, perlu kiranya kita memperhatikan komentar Al-Mubarakfuri dalam Tuhfatul Ahwadzi terhadap hadis di atas.

إنما شرع الإفطار بالتمر لأنه حلو  وكل حلو يقوي البصر الذي يضعف بالصوم وهذا أحسن ما قيل في المناسبة وقيل لأن الحلو يوافق الإيمان ويرق القلب وإذا كانت العلة كونه حلوا والحلو له ذلك التأثير فيلحق به الحلويات كلها قاله الشوكاني وغيره

Artinya, “Disyariatkan buka puasa dengan kurma karena ia manis. Sesuatu yang manis dapat menguatkan penglihatan (mata) yang lemah karena puasa. Ini merupakan alasan (‘illat) yang paling baik. Adapula yang berpendapat bahwa sesuatu yang manis ini sesuai dengan iman dan melembutkan hati. Apabila ‘illat kesunahan buka puasa dengan kurma itu karena manisnya dan dapat memberikan dampak positif, maka hukum ini berlaku untuk semua (makanan dan minuman) yang manis. Demikian menurut pendapat As-Syaukani dan lainnya.”

Kutipan ini menunjukan bahwa yang menjadi perhatian pada hadits di atas (kesunahan buka puasa dengan kurma) ialah maksud dan tujuan perintah Nabi Muhammad SAW. Hadits di atas tidak membatasi kesunahan buka puasa hanya dengan mengonsumsi kurma.

Lebih dari itu, semua sesuatu yang manis disunahkan untuk dikonsumsi terlebih dahulu, sebelum mencicipi makanan yang lain. Dengan demikian, makan kolak pun dapat dikatakan sunah sebab ia termasuk makanan yang manis. Wallahu ‘alam. (Hengki Ferdiansyah)

Jumat 10 Juli 2015 5:4 WIB
Ganjaran Berbagi Takjil untuk Orang Berpuasa
Ganjaran Berbagi Takjil untuk Orang Berpuasa

Setiap kita tidak mengerti kualitas puasa orang lain. Bahkan kita sendiri tidak tahu kalau ada orang lain mengaku berpuasa padahal hanya pengakuan dusta. Karena, ibadah puasa lebih dimengerti oleh pihak yang bersangkutan. Namun demikian, agama menganjurkan mereka yang sedang berpuasa untuk berbagi makanan atau minuman kepada sesamanya.

Syekh Said Muhammad Ba’asyin dalam Busyrol Karim mengatakan sebagai berikut.

و يسن تفطير الصائمين ولو بتمرة أو بشربة، وبعشاء أفضل لخبر "من فطّر صائما فله مثل أجره ولا ينقص من أجر الصائم شئ" ولو تعاطى الصائم ما يبطل ثوابه لم يبطل أجره لمن فطّره

Orang yang berpuasa disunahkan berbagi sesuatu dengan orang lain untuk buka puasanya meskipun hanya sebutir kurma atau seteguk air. Kalau dengan makan malam, tentu lebih utama berdasar pada hadits Rasulullah SAW.

Beliau bersabda, “Siapa yang membatalkan puasa orang lain, maka ia mendapatkan pahala puasa tanpa mengurangi pahala puasa orang yang bersangkutan.”

Kalau selagi berpuasa tadi orang yang ditraktir melakukan hal-hal yang membatalkan pahala puasanya seperti berbuat ghibah, menghasut orang lain, berdusta, memalsukan kesaksian, atau tindakan tercela lainnya, maka semua itu tidak berpengaruh pada pahala orang yang mentraktirnya.

Keterangan di atas menunjukkan kuatnya anjuran untuk berbagi saat berbuka puasa. Dan anjuran ini sama sekali terlepas dari bagaimana kualitas puasa orang yang menjadi partner berbagi. Wallahu A’lam. (Alhafiz K)

Selasa 16 Juni 2015 14:2 WIB
Niat Puasa Ramadhan di Siang Hari
Niat Puasa Ramadhan di Siang Hari

Niat ibadah sangat kuat dianjurkan oleh agama karena didasarkan pada hadits Rasulullah SAW. Saking kuatnya, niat ini sesuatu yang tidak bisa ditinggalkan dalam sebuah ibadah termasuk puasa baik wajib maupun puasa sunah. Namun demikian ulama berbeda pendapat soal kedudukan niat.

Sebagian mereka menganggap niat itu sebagai syarat sah sebuah ibadah. Sementara sebagian lainnya mengatakan, bukan syarat. Di samping itu, mereka juga mempertanyakan kapan niat itu dilakukan. Semua pertanyaan berdampak panjang yang akhirnya menentukan sebuah ibadah seseorang.

Dalam konteks puasa, kebsahan ibadah kita akan bergantung sekali pada niat di malam hari. lalu bagaimana dengan keesokan harinya? Apakah orang yang niat puasa sebulan penuh tidak perlu mengulang niatnya setiap malam Ramadhan? Lalu bagaimana orang lupa mengikrarkan niat puasa di malam hari?

Berikut ini merupakan keterangan Syekh Sulaiman Bujairimi dalam Hasyiyah Iqna’

ويشترط لفرض الصوم من رمضان أو غيره كقضاء أو نذر التبييت وهو إيقاع النية ليلا لقوله صلى الله عليه وسلم: من لم يبيت النية قبل الفجر فلا صيام له. ولا بد من التبييت لكل يوم لظاهر الخبر.

Artinya, disyaratkan menjatuhkan niat di malam hari bagi puasa wajib seperti puasa Ramadhan, puasa qadha, atau puasa nadzar. Syarat ini berdasar pada hadits Rasulullah SAW, “Siapa yang tidak memalamkan niat sebelum fajar, maka tiada puasa baginya.” Karenanya, tidak ada jalan lain kecuali berniat puasa setiap hari berdasar pada redaksi zahir hadits.

قوله: فلا صيام له أي صحيح لا كامل خلافا للحنفية، فإن نفي الصحة أقرب إلى نفي الحقيقة من نفي الكمال. وقوله خلافا للحنفية فإنهم يجوزون النية في النهار في الفرض والنفل.

Redaksi “maka tiada puasa baginya”, maksudnya tidak sah, bukan tidak sempurna. Pandangan Syafi’iyah ini berbeda dengan pandangan Hanafiyah. Karena menurut Syafi’iyah, menganulir keabsahan itu lebih dekat dengan menganulir puasa itu sendiri, dibandingkan hanya menganulir kesempurnaan puasa.

Sementara “Pandangan Syafi’iyah ini berbeda dengan pandangan Hanafiyah” karena Hanafiyah membolehkan niat di siang hari baik puasa wajib maupun puasa sunah.

Atas perbedaan pendapat di kalangan ulama ini, perlu kiranya kita belajar menenggang. Pasalnya mereka berdasar pada sumber hukum Islam yang sama, yaitu hadits dalam konteks ini.

Para ulama madzhab ini ialah orang-orang yang mendapat bimbingan dari Allah. Meminjam istilah Syekh Abdul Wahhab Asy-Sya’roni dalam Mizanul Kubro-nya, “Ula’ika ‘ala hudan min robbihim. Wa ula’ika humul muflihun.Wallahu A’lam. (Alhafiz K)