IMG-LOGO
Hikmah

Yang Membuat Abu Hurairah Menangis Tersedu-sedu

Kamis 10 November 2016 15:0 WIB
Share:
Yang Membuat Abu Hurairah Menangis Tersedu-sedu
Di antara sekian sahabat Nabi, Abu Hurairahlah yang paling produktif meriwayatkan hadits. Padahal, dari segi waktu ia tidak termasuk as-sâbiqûnal awwalûn atau golongan pertama yang masuk Islam. Bahkan dalam sebuah riwayat ia hanya hidup bersama Nabi hanya sekitar empat tahun.

Fakta ini mengindikasikan betapa dekatnya pria bernama asli Abdurrahman bin Shakhr ini dengan Rasulullah. Dari ketekunannya mengikuti aktivitas Rasulullah di berbagai tempat, ia tak hanya mendengar, bertanya, tapi juga mencatat serta menghafal apa yang ia serap. Iniah yang menyebabkan Abu Hurairah masuk dalam deretan sahabat yang utama, dan namanya terus disebut hingga sekarang karena riwayat-riwayat haditsnya.

Dengan kadalaman wawasan mengenai perkataan, perilaku, dan kepribadian Rasulullah, rasanya mustahil membayangkan Abu Hurairah sebagai sahabat dengan kaulitas ibadah dan amal kebaikan hanya di level rata-rata. Apalagi, ia bukan cuma pendengar dan penghafal yang baik tapi juga peneladan Rasulullah yang ketat.

Meski demikian, seperti karakter generasi salaf pada umumnya, prestasi ibadah dan kualitas diri tak serta merta membuat Abu Hurairah angkuh dan lalai. Bak tanaman padi, makin berisi makin merunduk, demikian pula yang dialami Abu Hurairah. Semakin tinggi yang ia capai, semakin tampak baginya kekurangan dalam dirinya.

Seperti yang diceritakan Salim ibn Bisyr ibn Jahal. Suatu kali Abu Hurairah yang sedang sakit menangis. Apa yang membuat ia tersedu-sedu? Penyakit yang ia deritakah? Kehilangan benda yang ia sayangikah?

"Aku tidak sedang menangisi dunia kalian ini," jawabnya seperti dikisahkan dalam Raudlatuz Zâhdîn karya Abul Malik Ali al-Kalîb saat menerangkan bab taqwâ.

Abu Hurairah menjelaskan bahwa ia tengah menangisi nasib perjalannya di akhirat kelak. Ia merasa perbekalan hidupnya masih sedikit. Dengan kenyataan begini, Abu Hurairah membayangkan bakal naik turun antara surga dan neraka. "Aku tidak tahu, manakah tempat bersedia saya singgahi?"

Bila Abu Hurairah yang “lengket” dengan Nabi saja merasa tidak memiliki kepastian nasib di akhirat kelak, lantas bagaimana dengan orang-orang yang tak selevel beliau?

Di sinilah kita bisa menyerap pelajaran bahwa tak seorang pun bisa mengklaim sudah berada di zona nyaman kehidupan akhirat, sebagaimana tak bisa juga orang menuduh orang lain berada dalam masa depan buruk di hari kemudian. Bagaimana mungkin kita bisa memberi jaminan nasib akhirat sementara kekuasaan itu hanya Allah yang memiliki? Yang bisa dilakukan manusia sebatas ikhtiar menjadi sebaik mungkin, sembari terus mengoreksi kekurangan diri sendiri lalu berusaha memperbaikinya. (Mahbib)


Share:
Senin 7 November 2016 15:1 WIB
Kisah Pertengkaran Dua Pria Zuhud
Kisah Pertengkaran Dua Pria Zuhud
Ilustrasi (w-dog.net)
Raja Kisra yang terkenal adil suatu kali harus menyelesaikan kasus “aneh” dua pria yang sedang bersengketa. Dikatakan aneh karena keduanya berselisih bukan karena sedang berebut kekayaan, melainkan sebaliknya: berebut saling menolak kekayaan.

Kisah persengketaan keduannya dimulai ketika seorang pria membeli rumah dari pria lainnya. Tanpa dinyana, di dalam rumah itu terdapat harta simpanan. Si pembeli yang merasa hanya membeli bangunan rumah (bukan sekaligus isinya) pun menemui penjual dan berniat mengembalikan harta yang ia nilai bukan haknya.

“Saya menjual rumah, dan tak tahu kalau ada harta simpanan di dalamnya. Harta ini berarti milikmu,” si penjual rumah menanggapi.

Si pembeli pun berontak, “Kamu harus mengambil harta ini karena memang di luar barang yang seharusnya saya beli (yakni rumah).”

Dari sini, perdebatan saling menolak klaim kepemilikan harta berlangsung panjang. Hingga akhirnya kasus sampai ke tangan Raja Kisra untuk mendapat penyelesaian hukum secara adil.

Setelah mendengarkan kronologi masalah, Kisra bertanya, “Apakah kalian memiliki anak?”

“Hamba punya anak laki-laki dewasa,” jawab si penjual rumah.

“Hamba punya anak perempuan dewasa,” tutur si pembeli rumah.

“Saya perintahkan kalian saling menjodohkan anak-anak kalian, sehingga terbangunlah hubungan kekerabatan. Selanjutnya, infakkan harta yang kalian perselisihkan itu kepada sepasang pengantin ini untuk kemaslahatan keluarga mereka,” instruksi Raja Kisra. Perintah ini dilaksanakan dan persengketaan aneh itu pun selesai tanpa menyisakan masalah.

Kisah ini termaktub dalam kitab An-Nawâdir karya Syekh Syihabuddin Ahmad ibn Salamah al-Qalyubi. Drama tersebut menampilkan campuran antara kezuhudan, infak, dan kecerdikan dalam memutuskan perkara.

Persengketaan dua pria tersebut seolah menyindir sikap orang kebanyakan yang lazimnya mencintai kekayaan. Dengan cara yang sama-sama mudah, sebetulnya salah satu dari kedua orang itu bisa mendapatkan sebuah keuntungan. Namun, sikap zuhud mereka mengubah perkara yang “semestinya sederhana” tampak kian runyam. Karena sangat berhati-hati, mereka berebut tidak mau mengklaim kekayaan yang bagi mereka masih abu-abu status hukumnya.

Meski bentuk kasus berbeda, persoalan yang mirip dengan cerita di atas kerap kita jumpai dalam hidup sehari-hari. Namun, apakah seseorang bisa bersikap selayak kedua pria zuhud itu atau tidak, kembali kepada pribadi masing-masing dalam memaknai hakikat kekayaan dan hidup yang fana ini. (Mahbib)

Sabtu 5 November 2016 6:0 WIB
Belajar dari Ketawadhuan Mbah Dullah Kajen
Belajar dari Ketawadhuan Mbah Dullah Kajen
KH Abdullah Salam (Mbah Dullah) Kajen.
KH Abdullah Salam adalah seorang Ulama kharismatik asal Kajen, Pati, Jawa Tengah. Kharisma beliau membuat semua kalangan, mulai dari masyarakat bawah sampai dengan para pejabat dan pengusaha, menaruh hormat kepadanya. Bahkan sekelas Presiden Gus Dur yang ketika itu baru saja dilantik, harus menyempatkan diri secara khusus untuk sowan kepada Kiai yang oleh masyarakat Pati tersebut akrab disapa dengan panggilan Mbah Dullah.

KH Imam Aziz, salah satu Ketua PBNU yang juga santri beliau pernah bercerita. Dulu, karena mungkin ada suatu halangan, pernah Mbah Dullah datang terlambat di suatu acara resepsi. Sebagaimana lazimnya ketika seorang Kiai datang, tuan rumah akan menyambut dan mempersilakan sang Kiai untuk duduk di kursi paling depan. Hal itu semata-mata dilakukan sebagai bentuk penghormatan.

Waktu itu, suasana di lokasi resepsi sudah ramai dengan para tamu undangan. Seluruh tempat duduk telah penuh ditempati. Hanya beberapa barisan belakang dan barisan paling depan saja yang masih kosong. Barisan depan memang sengaja kosong karena biasanya diperuntukkan bagi Kiai dan orang-orang yang dituakan, termasuk Mbah Dullah ini.

Ketika Mbah Dullah "rawuh", tuan rumah pun menyambut, menggandeng dan mempersilakan beliau untuk menempati kursi bagian depan yang memang telah disediakan. Namun Mbah Dullah menolak. Beliau malah mengambil tempat duduk di belakang bersebelahan dengan para tamu biasa.

Hal itu kontan membuat tuan rumah kebingungan dan mencari berbagai cara untuk membujuk Mbah Dullah agar "kerso" menempati tempat duduk di depan. Namun tak ada satupun cara yang berhasil. Mbah Dullah memilih untuk tetap tidak beranjak dari tempat duduknya sampai akhir acara.

Dari sikap tersebut, nampaknya Mbah Dullah ingin mengajarkan kepada kita semua bahwa setinggi apapun derajat kita, tak usahlah merasa istimewa dan juga berharap untuk diperlakukan istimewa. Sejatinya semua manusia adalah sama, tak ada yang lebih unggul dari yang lainnya. Rasa lebih unggul adalah salah satu bentuk dari kesombongan. Dan satu sifat itulah yang amat sangat dikutuk oleh Allah SWT. 

Kita bisa bercermin dari kisah iblis yang pada akhirnya mendapatkan laknat dari Allah SWT. Diriwayatkan bahwa pada awal mulanya Iblis adalah hamba yang sangat taat. Bahkan saking taatnya, tak ada satu jengkal tempat pun di alam semesta ini yang tidak pernah digunakan iblis untuk bersujud, semuanya pernah digunakan iblis untuk bersujud kepada Allah selama ribuan tahun. Namun ketaatan iblis sekian lama itu, tak ada artinya karena telah habis dilumat api kesombongan.

Semoga kita bisa meneladani sikap rendah hati Mbah Dullah, sembari terus berdoa agar Allah menghindarkan kita dari sifat sombong dan merasa unggul ataupun benar dibanding yang lain. (Syauqi)

Ahad 30 Oktober 2016 15:0 WIB
Uwais al-Qarni Pingsan di Dekat Makam Rasulullah
Uwais al-Qarni Pingsan di Dekat Makam Rasulullah
Uwais al-Qarni, pemuda saleh asal Yaman, pernah kecewa berat saat jerih payahnya jauh-jauh pergi ke Madinah untuk bertemu Rasulullah ternyata tak membuahkan hasil. Ketika itu ia hanya bertemu dengan istri beliau, A’isyah radliyallâhu ‘anhâ karena Nabi sedang keluar ke medan pertempuran.

Uwais juga tak mungkin menunggu orang yang sangat dirindukannya itu berlama-lama lantaran di Yaman ia sedang meninggalkan sang ibunda yang renta dan sakit-sakitan. Uwais memang terkenal sebagai pemuda dengan pengabdian kepada orang tua yang luar biasa. Rasulullah sendiri memberi catatan khusus kepadanya dan menyebut Uwais sebagai “penghuni langit”.

(Baca: Kisah Uwais Al Qarni, Pemuda Istimewa di Mata Rasulullah)


Dalam kesempatan lain, pasca-wafatnya Nabi, ia pergi ke Madinah dalam suatu momen ibadah haji. Dalam kitab Ihyâ’ ‘Ulûmiddîn karya Imam al-Ghazali, melalui cerita Abu Sulaiman, dikisahkan bahwa ketika Uwais sampai di pintu masjid Madinah, Uwais menerima kabar bahwa di masjid tersebut Nabi dimakamkan. Seketika itu ia pingsan.

Saat siuman, Uwais berujar, “Keluarkan aku dari sini. Aku merasa tidak enak di negeri tempat bersemayamnya Rasulullah.”

Di sini Uwais kembali menunjukkan rasa cinta dan hormatnya kepada Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wasallam. Rasa tidak nyamannya, atau lebih tepatnya perasaan malu, muncul lantaran ia sesungguhnya tidak berkenan menginjak tanah suatu daerah yang di dalamnya terdapat jasad mulia Rasulullah. Uwais memosisikan Nabi yang sudah wafat selayak ketika beliau masih hidup.

Imam al-Ghazali di kitab yang sama lantas menjelaskan tentang adab berziarah ke makam Rasulullah. Al-Ghazali menggarisbawahi bahwa penghormatan yang setinggi-tingginya mesti ditunjukkan kala berziarah ke makam Rasulullah. Rasa ta'dhim peziarah mesti tampil sebagaimana saat ia menghadap pribadi mulia yang masih hidup, misalnya, dengan tidak sembarangan menyentuh atau mencium makam beliau.

Rasulullah, kata Imam al-Ghazali, mengetahui kedatangan para peziarah makamnya dan mendengar shalawat dan salam yang disampaikan kepada beliau. Sebuah hadits riwayat Nasa'i menjelaskan bahwa Allah mengutus malaikat yang bertugas menyampaikan salam kepada Nabi dari umatnya. (Mahbib)