IMG-LOGO
Trending Now:
Bahtsul Masail

Hukum Shalat Jamaah dengan Pacar

Selasa 13 Desember 2016 6:5 WIB
Share:
Hukum Shalat Jamaah dengan Pacar
Foto: Ilustrasi
Assalamu ’alaikum wr. wb.
Kepada yang terhormat admin NU Online, saya mau menanyakan perihal shalat jamaah dengan pacar. Apakah hukum shalat jamaah tersebut? Atas penjelasannya kami ucapkan terima kasih. Wassalamu ’alaikum wr. wb. (Rahmat Hidayat/Sidoarjo)

Jawaban
Assalamu ’alaikum wr. wb.
Penanya yang budiman, semoga selalu dirahmati Allah SWT. Pertama-tama yang harus dipahami adalah bahwa dalam konteks ini ada dua permasalahan. Pertama menyangkut soal dua orang berlainan jenis yang bukan mahram melakukan khalwat atau berduaan di tempat sepi. Kedua, menyangkut status hukum shalat berjamaahnya.  

Menyangkut permasalahan pertama hemat kami sudah sangat jelas bahwa menurut ajaran Islam, laki-laki yang berduaan dengan perempuan yang bukan mahramnya jelas tidak diperbolehkan/haram. Di antara dalil menjadi landasan dalam hal ini adalah sebagai berikut.

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلَا يَخْلُوَنَّ بِامْرَأَةٍ لَيْسَ مَعَهَا ذُو مَحْرَمٍ مِنْهَا فَإِنَّ ثَالِثَهُمَا الشَّيْطَانُ

Artinya, “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka jangan sekali-kali berkhalwat (berduaan) dengan perempuan yang bukan mahram karena yang ketiga di antara mereka adalah setan,” (HR Ahmad).

Hadits ini dengan terang menjelaskan bahwa keimanan itu meniscayakan untuk menafikan khalwat dengan perempuan yang bukan mahram atau ajnabiyyah. Karena hal tersebut bisa menjerumuskan kepada sesuatu yang dilarang.

Dari sini kemudian dapat dipahami kenapa berkhalwat atau berduaan dengan perempuan yang bukan mahram diharamkan. Jadi larangan tersebut bisa dipahami sebagai upaya untuk menutup hal-hal yang tidak diinginkan (saddud dzari’ah).

Atas dasar inilah kemudian dengan tegas Abu Ishaq Asy-Syirazi dalam kitab Al-Muhadzdzab fi Fiqhil Imamis Syafi’i menyatakan bahwa makruh seorang laki-laki shalat dengan seorang perempuan ajnabiyyah atau yang bukan mahramnya karena didasarkan hadits Nabi yang melarang seorang laki-laki berduaan dengan perempuan yang bukan mahram.

وَيُكْرَهُ أَنْ يُصَلِّيَ الرَّجُلُ بِامْرَأَةٍ أَجْنَبِيَّةٍ لِمَا رَوَي أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ لَا يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ فَإِنَّ ثَالِثَهُمَا الشَّيْطَانُ

Artinya, “Dan dimakruhkan seorang laki-laki shalat dengan seorang perempuan ajnabiyyah karena didasarkan pada sabda Nabi SAW, ‘Jangan sekali-kali seorang laki-laki berkhalwat dengan perempuan karena yang ketiga di antara mereka adalah setan,” (Lihat Abu Ishaq Asy-Syirazi, Al-Muhadzdzab fi Fiqhil Imamis Syafi’i, Beirut, Darul Fikr, tt, juz I, halaman 98).

Kemakruhan dalam konteks ini menurut Muhyiddin Syarf An-Nawawi adalah makruh tahrim sebagaimana yang beliau kemukakan dalam anotasi atau syarah atas pernyataan Abu Ishaq Asy-Syirazi di atas. Sedangkan makruh tahrim itu sendiri pengertian adalah sama dengan haram.

اَلْمُرَادُ بِالْكَرَاهَةِ كَرَاهَةُ تَحْرِيمِ هَذَا إِذَا خَلَا بِهَا

Artinya, “Yang dimaksud makruh (dalam pernyataan Abu Ishaq Asy-Syirazi di atas) adalah makruh tahrim. Hal ini apabila si laki-laki tersebut berduaan dengan seorang perempuan ajnabiyyah atau bukan mahramnya,” (Lihat Muhyiddin Syarf An-Nawawi, Al-Majmu` Syarhul Muhadzdzab, Jeddah, Maktabah Al-Irsyad, juz IV, halaman 173).

Namun persoalannya tidak hanya sampai di sini saja. Jika shalat hanya berduaan, yaitu hanya seorang laki-laki (imam) dan perempuan (makmum) yang bukan mahramnya atau hanya berdua dengan pacar adalah haram dengan mengacu pada penjelasan di atas, maka pertanyaannya adalah apakah sah shalat jamaah tersebut?

Dalam pandangan kami, shalat berjamaah dengan perempuan yang bukan mahram atau dengan pacar sebagaimana dijelaskan di atas adalah tetap sah. Sebab keharaman shalat berduaan dengan pacar atau perempuan yang bukan mahramnya karena adanya sesuatu yang berada di luar shalat (li amrin kharijiy ‘anis shalah). Yaitu berkhalwat atau berduaan dengan perempuan yang bukan mahramnya. Sedang berkhalwat tersebut bisa terjadi melalui perantara shalat dan yang lainnya.

Demikian jawaban yang dapat kami kemukakan. Semoga bisa dipahami dengan baik. Hindari dan jauhi keinginan untuk berdua-duaan dengan pacar, karena bisa menjerumuskan ke dalam perbuatan yang dilarang. Kami selalu terbuka untuk menerima saran dan kritik dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq,
Wassalamu ’alaikum wr. wb.



(Mahbub Ma’afi Ramdlan)

Tags:
Share:
Senin 12 Desember 2016 19:3 WIB
Hukum Azan dan Iqamah untuk Sembahyang Munfarid atau Sendiri
Hukum Azan dan Iqamah untuk Sembahyang Munfarid atau Sendiri
Foto: Ilustrasi
Assalamu ‘alaikum wr. wb. redaksi bahtsul masail NU Online yang terhormat. Apa hukumnya mengumandangkan azan atau iqamah ketika ingin melaksanakan shalat fardhu secara sendiri? Terima kasih banyak sebelumnya. Wassalamu 'alaikum wr. wb. (Asmizanunix)

Jawaban
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Penanya yang budiman, semoga Allah SWT menurunkan rahmat-Nya kepada kita semua. Azan dan iqamah merupakan ibadah yang dilakukan sebelum shalat dimulai. Keduanya mengandung kalimat-kalimat luar biasa dalam Islam. Di dalamnya antara lain terdapat pujian, pengakuan keesaan, pengakuan risalah Nabi Muhammad SAW, seruan Islam, panggilan kemenangan.

Karena di dalamnya mengandung dua kalimat syahadat, maka orang kafir yang mengumandangkan azan maupun iqamah dinilai sebagai muslim. Sementara perihal hukum azan dan iqamah ulama berbeda pendapat. Imam Nawawi menjelaskannya sebagai berikut.

فَصْلٌ الْأَذَانُ وَالْإِقَامَةُ سُنَّةٌ، وَقِيلَ فَرْضُ كِفَايَةٍ، وَإِنَّمَا يُشْرَعَانِ لِمَكْتُوبَةٍ، وَيُقَالُ فِي الْعِيدِ وَنَحْوِهِ: الصَّلَاةَ جَامِعَةً. وَالْجَدِيدُ: نَدْبُهُ لِلْمُنْفَرِدِ، وَيَرْفَعُ صَوْتَهُ إلَّا بِمَسْجِدٍ، وَقَعَتْ فِيهِ جَمَاعَةٌ.... ويندب لجماعة النساء الإقامة لا الأذان على المشهور

Artinya, “(Pasal) hukum azan dan iqamah adalah sunah. Tetapi ada ulama yang mengatakan, fardhu kifayah. Azan dan iqamah hanya dilakukan untuk shalat wajib. Sementara untuk Shalat Ied dan sejenisnya cukup dengan ‘As-shalâtu jâmi‘ah’. Menurut qaul jadid madzhab Syafi’i, azan dianjurkan bagi orang yang shalat sendiri. Ia juga perlu mengeraskan suara azannya kecuali di masjid yang dipakai untuk shalat berjamaah... sementara menurut pendapat yang masyhur, jamaah perempuan dianjurkan mengumandangkan iqamah, tanpa azan,” (Lihat Imam An-Nawawi, Minhajut Thalibin wa ‘Umdatul Muftin, Darul Minhaj, Beirut Libanon, 1426 H/2005 M, halaman 92).

Keterangan Imam Nawawi di atas sudah cukup menjawab pertanyaan yang diajukan. Hanya saja berikut ini kami kutip uraian Syekh Muhammad Al-Khatib As-Syarbini untuk melengkapi jawaban Imam An-Nawawi.

والجديد ) قال الرافعي : الذي قطع به الجمهور ( ندبه ) أي الأذان ( للمنفرد ) في بلد أو صحراء إذا أراد الصلاة للحديث الآتي ، والقديم لا يندب له لانتفاء المعنى المقصود منه : وهو الإعلام ، وظاهر إطلاقه تبعا للمحرر مشروعية أذان المنفرد وإن بلغه أذان غيره ، وهو الأصح في التحقيق والتنقيح . وقال الإسنوي إن العمل عليه ، وهذا هو المعتمد وإن صحح في شرح مسلم أنه لا يؤذن . وقال الأذرعي : هو الذي نعتقد رجحانه ويكفي في أذانه إسماع نفسه بخلاف أذان الإعلام للجماعة فيشترط فيه الجهر بحيث يسمعونه ؛ لأن ترك ذلك يخل بالإعلام ويكفي إسماع واحد .أما الإقامة فتسن على القولين ويكفي فيها إسماع نفسه أيضا بخلاف المقيم للجماعة كما في الأذان ، لكن الرفع فيها أخفض

Artinya, “(Menurut qaul jadid) yang menurut Imam Ar-Rafi‘i menjadi pedoman jumhur ulama (dianjurkan) mengumandangkan azan (bagi orang yang sembahyang sendiri) di sebuah negeri atau di tanah lapang bia ia ingin sembahyang berdasarkan hadits yang akan datang. Sementara menurut qaul qadim, azan tidak dianjurkan baginya karena tidak ada tujuan dari azan itu sendiri, yaitu mengumumkan masuknya waktu sembahyang. Secara lahir kemutlakan sebutan ini dengan mengikuti pandangan kitab Al-Muharrar mengamanahkan kumandang azan orang yang sembahyang sendiri meski kumandang azan orang lain terdengar olehnya. Pendapat ini paling sahih seperti disebut di kitab Tahqiq dan Tanqih. Pengamalan ini yang didasarkan pada pandangan yang mu’tamad meski Imam An-Nawawi dalam kitab Syarah Shahih Muslim menyatakan, tidak perlu azan.

Imam Al-Adzra‘i mengatakan, ‘Ini pendapat yang kami yakini lebih rajih. Kumandang azannya cukup terdengar oleh telinganya sendiri. Hal ini berbeda dari azan pengumuman masuk waktu dengan tujuan sembahyang berjamaah yang tentu saja disyaratkan dengan suara keras agar terdengar oleh mereka. Tanpa suara keras tujuan memberi tahu masuknya waktu sembahyang menjadi tidak memadai. Karenanya azan  cukup terdengar olehnya saja. Sementara iqamah dianjurkan menurut qaul qadim dan jadid. Sebagai azan kumandang iqamah cukup terdengar olehnya saja. Lain hal kalau iqamah dimaksudkan untuk sembahyang berjamaah. Hanya saja volume suara iqamah lebih kecil dari volume azan,’” (Lihat Muhammad ibnil Khatib As-Syarbini, Mughnil Muhtaj ila Ma‘rifati Ma‘ani Alfazhil Minhaj, Darul Ma‘rifah, Beirut, Libanon, 1418 H/1997, juz I, halaman 208).

Dari sini kami menyimpulkan bahwa sebelum sembahyang fardhu sendiri meskipun di masjid atau sembahyang berjamaah gelombang kedua, ketiga, kita dianjurkan untuk mengumandangkan azan dan iqamah. Hanya saja kita harus membatasi volume azan dan iqamah sebatas terdengar diri sendiri atau terdengar oleh beberapa orang di sekitarnya jika berjamaah dengan kelompok kecil.

Demikian yang dapat kami kemukakan. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka untuk menerima saran dan kritik dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq,
Wassalamu’alaikum wr. wb.



(Alhafiz Kurniawan)
Jumat 9 Desember 2016 9:5 WIB
Baca Subhanallah atau Masya Allah saat Saksikan Keindahan?
Baca Subhanallah atau Masya Allah saat Saksikan Keindahan?
anekatempatwisata.com
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Selamat pagi redaksi bahtsul masail NU Online yang terhormat. Nama saya Nuril Anwar. Saya mau bertanya. Dulu saya pernah membuat status atau pm di bbm yang intinya menyatakan keindahan dengan menulis "Subhanallah". Lalu teman saya mengirim pesan teguran, “KokSubhanallah?’ ‘Masya Allah’ dong, coba kamu buka Google.” Sementara membalas pesan itu, saya bertahan pada pendirian saya. Kami berdebat setelah itu. Pertanyaan saya, untuk menyatakan keindahan itu "Subhanallah" atau "Masya Allah?" Terima kasih. Wassalammu ‘alaikum wr. wb. (Nuril Anwar/Rembang).

Jawaban
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Penanya yang budiman, semoga Allah SWT menurunkan rahmat-Nya kepada kita semua. Manusia adakalanya terpesona dan takjub oleh sesuatu pemandangan indah, peristiwa luar biasa, kabar baik, sesuatu yang mencengangkan, atau bahkan hal-hal yang tampak di luar nalar.

Ketika menyaksikan atau bahkan mengalami hal yang membuat kita terpesona atau takjub, kita dianjurkan untuk menyusulnya dengan zikir-zikir yang telah diamalkan Rasulullah SAW dan para sahabatnya.

Lafal tasbih pernah dipilih Rasulullah SAW ketika menyaksikan perilaku yang “tidak semestinya” dilakukan sahabatnya seperti riwayat Imam Bukhari dan Muslim berikut ini. Riwayat ini kami kutip dari kitab Al-Adzkar karya Imam An-Nawawi.

روينا في صحيحي البخارى ومسلم عن أبي هريرة رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم لقيه وهو جنبٌ فانسل فذهب فاغتسل فتفقده النبي فلما جاء قال أين كنت يا أبا هريرة فقال يا رسول الله لقيتني وأنا جنبٌ فكرهت أن أجالسك حتى أغتسل فقال سبحان الله إن المؤمن لا ينجس

Artinya, “Sebuah hadits diriwayatkan kepada kami di dalam Shahih Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah RA bahwa suatu hari Nabi Muhammad SAW berpapasan dengannya saat masih junub di sebuah jalan di Madinah. Abu Hurairah lalu pergi diam-diam meninggalkan Rasulullah kemudian mandi bersuci. Rasulullah SAW sendiri mencari ke mana sahabatnya menghilang. ‘Kamu tadi ke mana Abu Hurairah?’ tanya Rasulullah SAW setelah Abu Hurairah datang. ‘Saat tadi kita bertemu, aku masih kondisi junub ya Rasul. Aku enggan duduk bersamamu sebelum aku mandi,’ jawab Abu Hurairah. ‘Subhanallah, orang beriman itu tidak najis,’ sambut Rasulullah SAW,” (Lihat Imam An-Nawawi, Al-Adzkar Al-Muntakhabah min Kalami Sayyidil Abrar Shallallahu Alaihi wa Sallama, Darul Hadits, Kairo, tahun 1424 H/2003 M, halaman 308).

Apakah ada ketentuan terkait pilihan lafal zikir ketika takjub atau terpesona oleh sesuatu? Sayidina Umar RA pernah melontarkan lafal takbir di depan Rasulullah SAW sebagai rasa terima kasih yang begitu besar karena tidak menceraikan istri-istrinya. Berikut ini kami kutip dari kitab Al-Futuhatur Rabbaniyyah alal Adzkarin Nawawiyyah.

باب التعجب بلفظ التسبيح والتهليل ونحوهما أى كالتكبير والحوقلة. وترجم البخارى باب التكبير والتسبيح عند التعجب، أخرج البخارى فى تعليقاته بصيغة الجزم عن ابن أبى ثور عن ابن عباس عن عمر قال قلت للنبى صلى الله عليه وسلم طلقت نسائك قال لا قلت الله أكبر

Artinya, “Bab takjub yang diekpresikan dengan lafal tasbih, tahlil, dan lafal serupa keduanya antara lain seperti lafal takbir, lâ hawla wa lâ quwwata illâ billâh (hawqalah). Imam Bukhari mendahului bab takbir dan tasbih ketika takjub oleh sesuatu. Ia meriwayatkan hadits dalam Ta‘liqat-nya dari Ibnu Abi Tsaur, dari Ibnu Abbas, dari Sayyidina Umar RA. ‘Aku bertanya, ‘Apakah benar ente ceraikan istri-istri ente?’ Rasulullah SAW menjawab, ‘Tidak.’ ‘Allâhu akbar,’ kujawab,’” (Lihat Muhammad bin Alan As-Shiddiqi, Al-Futuhatur Rabbaniyyah alal Adzkarin Nawawiyyah, Dar Ihya‘it Turatsil Arabi, Beirut, Libanon, juz 6 halaman 317).

Dari sini kami menyimpulkan bahwa sejumlah lafal zikir dapat digunakan untuk mengekspresikan ketakjuban karena melihat sebuah pemandangan indah atau kabar baik. Jadi, memang tidak ada lafal tertentu untuk kondisi tertentu. Dengan kata lain, kita boleh membaca tasbih, takbir, tahmid, tahlil, hawqalah, masya Allah, dan zikir serupa itu.

Saran kami, jagalah hubungan persahabatan. Sebaiknya hindari perdebatan-perdebatan tanpa dasar rujukan karya ulama yang jelas. Kalau pun terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama, baiknya kita saling menghargai pendapat satu sama lain.

Demikian yang dapat kami kemukakan. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka untuk menerima saran dan kritik dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq,
Wassalamu’alaikum wr. wb.



(Alhafiz Kurniawan)

Rabu 7 Desember 2016 22:1 WIB
Kenapa Allah Gunakan Kata Kami untuk Zat-Nya?
Kenapa Allah Gunakan Kata Kami untuk Zat-Nya?
Foto: Ilustrasi
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Selamat siang redaksi bahtsul masail NU Online yang terhormat. Saya mau bertanya. Kenapa dalam beberapa ayat Al-Qur'an Allah menyebut diri-Nya dengan kata ganti “Kami”. Mohon penjelasannya? Terima kasih banyak. Wassalamu ‘alaikum wr. wb. (Abang Juri).

Jawaban
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Penanya yang budiman, semoga Allah SWT menurunkan rahmat-Nya kepada kita semua. Dalam Al-Quran, Allah SWT menggunakan kata ganti mufrad atau tunggal “Dia”, “Aku”, atau “Engkau”. Tetapi adakalanya Allah SWT pada beberapa ayat menggunakan kata orang pertama jamak atau plural “Kami”.

Untuk kata ganti pertama tunggal seperti “Huwa” atau “Anta” untuk mewakili zat-Nya, hal ini tentu sudah maklum karena semua kata ganti itu merujuk pada ketunggalan atau keesaan. Sementara kata ganti orang pertama jamak seperti “Nahnu” merujuk pada dua atau lebih entitas sehingga tidak bisa mewakili zat-Nya yang esa. Penjelasan ini tentu merujuk pada kaidah umum bahasa Arab.

Lalu bagaimana memahami fenomena penggunaan kata ganti orang pertama jamak atau plural untuk Allah? Tentu saja semua kata ganti orang pertama jamak untuk Allah ini tidak dipahami secara literal karena bertentangan dengan hukum aqal dan nash agama itu sendiri.

Sebagai contoh penggunaan kata ganti jamak, kita dapat menemukannya antara lain pada ayat sebagai berikut. “Innâ nahnu nazzalnadz dzikra, wa innâ lahû lahâfizhûn” (Sungguh, Kami menurunkan Al-Quran. Kami juga penjaganya) atau “Nahnu narzuqukum” (Kami memberimu rezeki).

Ulama menjelaskan penggunaan kata ganti jamak orang pertama untuk Allah sebagai bentuk pengagungan diri atau sebentuk pertunjukan kuasa-Nya. Hal ini bisa dilihat ketika para ulama menjelaskan Surat Al-Baqarah ayat 34 yang berbunyi “Wa idz qulnâ lil malâ’ikatisjudû li âdama” (Dan ingat ketika Kami mengatakan kepada para malaikat, “Sujudlah kepada Adam”).

وقال" قُلْنا" ولم يقل قلت لان الجبار العظيم يخبر عن نفسه بفعل الجماعة تفخيما وإشادة بذكره

Artinya, “Kata ‘Kami katakan’, bukan ‘Aku katakan’ digunakan karena Allah membahasakan dirinya dengan kata plural atau jamak sebagai bentuk pengagungan dan penyanjungan diri,” (Lihat Muhammad bin Ahmad bin Abu Bakar Al-Qurthubi, Al-Jami‘ li Ahkamil Qur‘an, Mu’assasatur Risalah, Beirut, Libanon, tahun 2006 M/1427 H, juz I, halaman 433).

Penjelasan Muhammad Al-Qurthubi itu disambung dengan penjelasan serupa dari Syekh Wahbah Az-Zuhayli ketika menjelaskan ayat dan surat yang sama.

وَإِذْ قُلْنا للتعظيم بصيغة الجمع

Artinya, “Kata ‘Ketika Kami katakan’ digunakan dengan kata jamak atau plural sebagai bentuk takzim,” (Lihat Syekh Wahbah Az-Zuhayli, At-Tafsirul Munir fil Aqidah was Syari‘ah wal Manhaj, Darul Fikr Al-Mu‘ashir, Damaskus, tahun 1418 H).

Penggunaan kata ganti orang pertama jamak juga bisa dimaksudkan untuk menunjukkan kuasa-Nya. Hal ini yang disinggung oleh Syekh Sulaiman Jamal bin Umar dalam syarahnya atas Tafsir Jalalain ketika menjelaskan Surat Al-Baqarah ayat 34 sebagai berikut.

وهو من خطاب الأكابر والعظماء فأخبر الله تعالى عن نفسه بصيغة الجمع لأنه ملك الملوك اهـ كرخي.

Artinya, “Kata ‘Ketika Kami katakan’ merupakan perintah dari Allah sebagai zat Yang Maha Kuasa. Allah menggunakan kata jamak atau plural untuk diri-Nya sendiri karena Dia penguasa mutlak atas segala penguasa,” (Lihat Syekh Sulaiman Jamal bin Umar, Al-Futuhatul Ilahiyah bi Taudhihi Tafsiril Jalalain lid Daqa’iqil Khafiyyah, Darul Fikr, Beirut, Libanon, tahun 2003 M/1423 H, juz I, halaman 67).

Dari pelbagai keterangan ulama di atas, kita dengan dengan jelas memahami bahwa kata “Kami” untuk Allah tidak merujuk pada zat yang plural dengan makna hakiki. Kata ganti “Kami” untuk Allah dipahami dengan makna majazi yang dimaksudkan untuk menunjukkan kuasa atau membesarkan yang bersangkutan.

Dari sini kemudian ahli tata bahasa Arab (ahli ilmu Nahwu) memaknai kata ganti “Nahnu” (Kami) yang merujuk pada satu person sebagai lil mu‘azzhim nafsah (untuk mengagungkan diri sendiri) di samping makna hakiki lil mutakallim ma‘al ghair (kata ganti orang pertama jamak atau plural).

Saran kami, bacalah Al-Quran dengan cermat. Karena di dalamnya banyak terdapat rahasia-rahasia dan maksud yang belum tersingkap. Ada juga baiknya kita mengikuti pengajian yang membacakan karya-karya tafsir para ulama. Hal ini akan sangat membantu kita dalam memahami hal-hal kebahasaan di dalam Al-Quran di samping mempelajari ilmu Nahwu sebagai patokan kaidah umum.

Demikian yang dapat kami kemukakan. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka untuk menerima saran dan kritik dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq,
Wassalamu’alaikum wr. wb.



(Alhafiz Kurniawan)