IMG-LOGO
Shalat

Bolehkah Shalat Sunnah Sambil Duduk?

Rabu 5 April 2017 9:1 WIB
Share:
Bolehkah Shalat Sunnah Sambil Duduk?
Sarana untuk mendapatkan pahala di dalam Islam sangatlah banyak. Allah SWT tidak hanya memerintahkan ibadah wajib, tetapi juga menganjurkan untuk memperbanyak ibadah sunnah. Hampir setiap ibadah terdapat kewajiban dan kesunnahan. Dalam shalat misalnya, ada shalat wajib dan ada pula shalat sunnah. Demikian pula puasa, ada yang wajib dan ada yang sunnah. Bahkan, pada shalat dan puasa wajib pun nanti juga ada kesunnahan di dalamnya.

Aturan pelaksanaan ibadah sunnah biasanya tidak seberat ibadah wajib. Dalam kaidah fikih disebutkan, al-nafl awsa’ min al-fardh (sunnah lebih luas cakupannya dibandingkan fardhu). Maksudnya, ibadah sunnah lebih fleksibel dibanding ibadah wajib. Terdapat beberapa hal yang mesti ada dan tidak boleh tinggalkan saat ibadah wajib, namun boleh diabaikan ketika mengerjakan ibadah sunnah.

Misalnya, keharusan berdiri saat shalat. Berdiri bagi orang mampu termasuk bagian dari rukun shalat dan tidak sah shalat bila tidak berdiri bagi yang mampu. Akan tetapi, dalam shalat sunnah tidak diharuskan berdiri. Meskipun mampu berdiri, mengerjakannya sambil duduk tetap diperbolehkan.

Zaynuddin al-Malibari dalam Fathul Mu’in mengatakan:

فيجوز له أن يصلي النفل قاعدا ومضطجا مع القدرة على القيام أو القعود، ويلزم المضطجع القعود للركوع والسجود، أما مستلقيا فلا يصح مع إمكان الاضطجاع.

“Shalat sunnah sambil duduk dan berbaring dibolehkan walaupun mampu berdiri dan duduk. Akan tetapi, bagi orang yang berbaring diharuskan duduk ketika ruku’ dan sujud. Adapun shalat sunnah dalam kondisi tidur terlentang dihukumi tidak sah bila masih sanggup berbaring”

Berdasarkan penjelasan penulis Fathul Mu’in di atas, shalat sunnah dibolehkan sambil duduk dan berbaring, meskipun mampu berdiri dan duduk. Dengan demikian, kewajiban berdiri tidak berlaku pada shalat sunnah dan hanya berlaku untuk shalat wajib. Akan tetapi, shalat sunnah tidak boleh dilakukan sambil tidur telentang bila masih sanggup berdiri dan duduk.

Namun perlu diingat, terkadang nilai dari sebuah amalan diukur berdasarkan tingkat kesulitan yang dihadapi saat mengerjakan amalan tersebut. Semakin sulit dan susah, semakin besar ganjaran yang diperoleh. Shalat dalam keadaan berdiri tentu lebih berat dan sulit dibanding shalat sambil duduk. Wallahu a’lam (Hengki Ferdiansyah)


Share:
Jumat 31 Maret 2017 3:2 WIB
Hukum Tidur Menjelang Waktu Shalat Tiba
Hukum Tidur Menjelang Waktu Shalat Tiba
Ilustrasi (rojasa.net)

Tidur sudah menjadi aktivitas rutin manusia. Tidak ada satu pun manusia di dunia ini yang bisa menghindar dari rasa kantuk. Baik suka ataupun tidak suka, rasa kantuk pasti akan datang pada setiap orang saat kondisi tubuh sudah lelah. Dikarenakan tidur sudah menjadi keniscayaan, Rasulullah SAW sering kali mengingatkan sahabat agar pandai membagi waktu ibadah dan istirahat. 


Jangan sampai seharian penuh beribadah terus tanpa henti karena tubuh juga butuh istirahat. Bahkan, Rasulullah SAW pernah menegur seorang sahabat yang terlihat lemas di siang hari, lantaran beribadah sepanjang malam. Oleh sebab itu, kita sangat dianjurkan menyeimbangkan waktu tidur dengan ibadah. Pada saat tubuh lelah istirahatlah terlebih dahulu supaya nanti bisa mengerjakan ibadah dengan baik dan tepat waktu.


Dalam kehidupan sehari-hari, terkadang kita tidak memanfaatkan waktu dengan baik. Misalnya, waktu shalat digunakan untuk waktu tidur atau waktu tidur digunakan untuk bekerja. Beberapa kali, mungkin kita pernah merasakan, menjelang waktu shalat tiba, rasa kantuk datang mengantui dan membuat kita tertidur lelap atau memang sengaja untuk tidur dengan harapan bisa bangun sebelum waktu shalat berakhir.

Menurut Zaynuddin al-Malibari dalam Fathul Mu’in, dimakruhkan tidur ketika waktu shalat sudah masuk dan yang bersangkutan belum mengerjakan shalat. Beliau mengatakan:


يكره النوم بعد دخول وقت الصلاة وقبل فعلها، حيث ظن الاستيقاظ قبل ضيقه لعادة أو لإيقاظ غيره له، وإلا حرم النوم الذي لم يغلب في الوقت


“Dimakruhkan tidur saat waktu shalat telah masuk dan belum mengerjakannya, sekira-kira ada kemungkinan bangun tidur sebelum akhir waktu atau ada orang lain yang membangunkan. Jika tidak, diharamkan tidur (bagi yang tidak kantuk berat) di waktu shalat.”

Tidur pada waktu shalat ataupun menjelang waktu shalat dimakruhkan karena dikhawatirkan tidak bangun hingga waktu shalat sudah abis, meskipun menurut kebiasaan orang yang bersangkutan bisa bangun sebelum akhir waktu atau ada orang yang akan membangunkannya. Hukum tidur bisa berubah menjadi haram bagi orang yang suka kebablasan dan tidak ada orang yang membangunkannya.

 Abu Bakar Syatha al-Dimyati dalam I’anatul Thalibin menjelaskan:

فإن غلب لا يحرم ولايكره

“Andaikan tertidur lantaran kantuk berat tidak diharamkan dan tidak dimakruhkan pula”

Tertidur dalam waktu shalat dan belum mengerjakannya, dalam pandangan Abu Bakar Syatha, tidak diharamkan dan dimakruhkan selama tidak sengaja dan dalam kondisi kantuk berat. Ini tidak diharamkan karena Rasulullah berkata, “Tidak dikenakan kewajiban pada tiga orang: orang tidur sampai bangun, anak kecil sampai mimpi, dan orang gila sampai berakal atau normal” (HR: Ibnu Majah).

Dengan demikian, pada waktu shalat sudah masuk ataupun menjelang masuk waktu shalat, kerjakanlah shalat terlebih dahulu atau tunggu sampai waktu shalat tiba. Setelah itu, barulah tidur agar tidak dianggap melalaikan kewajiban. Wallahu a’lam(Hengki Ferdiansyah)

Jumat 10 Maret 2017 6:0 WIB
Hukum Makmum Menyendiri dari Shaf Shalat Jamaah
Hukum Makmum Menyendiri dari Shaf Shalat Jamaah
Ilustrasi (qzt.com)
Sebagai umat Islam tentu kita tiap kali mengikuti shalat berjamaah sudah sangat familiar dengan seruaan si imam sebelum memulai shalat yang berbunyi:  

سَوُّوْا صُفُوْفَكُمْ فَإِنَّ تَسْوِيَةَ الصَّفِّ مِنْ إِقَامَةِ الصَّلاَة

"Luruskan shaf-shaf kalian, karena sesungguhnya meluruskan shaf termasuk menegakkan sholat."

Meski dalam praktiknya, si imam senantiasa menyeru para makmum dengan Hadis Nabi di atas untuk mengingatkan agar para makmunya meluruskan barisan shalatnya. Tapi terkadang kita tidak menyadari apa konsekuensi hukumnya bagi makmum yang dalam shalat jamaahnya tidak meluruskan barisannya, seperti makmum yang justru memisahkan diri dari barisan jamaah misalnya.

Dalam fiqih Madzhab Syafi'i, salah satu literatur yang biasa dikaji kaum santri seperti kitab Fathul Mu'in juga tidak melewatkan membahas persoalan di atas. Syekh Zainudin bin Abdul Aziz Al-Malibari, penulis kitab ini menyatakan dalam "Fasal Shalat Jama'ah" bahwa makmum yang memisahkan diri dari barisan jamaah padahal shaf ini masih longgar maka ia dihukumi makruh (dari sisi keutamaan barisan).

Lebih spesifik dinyatakan dalam Fathul Mu'in: 

وكره لماموم انفراد عن الصف الذى من جنسه ان وجد فيه سعة

"Dihukumi makruh bagi makmum yang shalat berjamaah (berdirinya) menyendiri terpisah dari barisan shalat jamaah yang sejenis bila dalam shaf itu masih ada ruang yang tersisa".

Dengan sedikit redaksi berbeda, Imam Jalaludin Al-Mahalli dalam Kanz Al-Raghibiin fi Syarhi Minhaji at-Talibin didapati keterangan senada di atas:

ويكره وقوف الماموم فردا بل يدخل الصف ان وجد سعة

Keterangan ini dijelaskan lebih lanjut dalam syarah I'anatu Thalibin oleh Sayyid Abu Bakar Muhammad Syatha Ad-Dimyati bahwa ketentuan ini berlaku bila antara makmum yang menyendiri dan jamaah shaf tersebut sama dalam status gendernya, misalnya semuanya sama-sama laki-laki atau sebaliknya. Jika antara makmum yang memisahkan diri dan barisan jamaahnya berlainan status gendernya, maka memisahkan diri shaf jamaah yang berlainan jenis justru disunahkan.

Selanjutnya bila si makmum yang berdirinya memisahkan diri tersebut disebabkan karena sudah penuhnya barisan yang ada sehingga tidak muat ikut berbaris di dalamnya, maka ia disunahkan menarik salah satu orang dalam shaf yang penuh tersebut setelah melakukan takbiratul ihram. Hal ini sesuai dengan keterangan lanjutan dalam kitab Al-Mahalli (Kanz Al-Raghibiin) sebagai berikut:

والا فليجر شخصا بعد الإحرام وليساعده المجرور.....

"Dan apabila di dalam shaf tersebut sudah tak ada ruang lagi, maka disunahkan makmum menarik seseorang (dari shaf yang penuh itu) setelah takbiratul ihram dan hendaknya orang yang ditarik membantu (berdiri sejajar bersama si makmum)". 

(M. Haromain)

Jumat 3 Maret 2017 6:1 WIB
Bolehkah Menutup Masjid Usai Shalat?
Bolehkah Menutup Masjid Usai Shalat?
Foto: ilustrasi
Di sebagian kota besar, masjid ditutup rapat dan dikunci pintunya setelah shalat berjamaah, terutama pada malam hari dan usai shalat shubuh. Ini dilakukan agar masjid tidak disalahgunakan dan peralatannya tidak rusak atau dicuri orang lain.

Sebagaimana diketahui, di beberapa daerah, masjid pun menjadi sasaran pencurian. Pengeras suara dan kotak amal termasuk barang yang seringkali diintai para pencuri.

Atas dasar itu, pengurus masjid mengambil sikap untuk membuka masjid hanya pada waktu shalat saja. Setelah selesai shalat berjamaah, beberapa jam kemudian masjid ditutup rapat dengan alasan keamanan. Kebijakan pengurus ini tentu merugikan bagi sebagian orang, terkhusus bagi orang yang ingin shalat di masjid tersebut.

Terkait persoalan ini, Sayyid Abdurrahman Ba’lawi dalam Bughyah al-Mustarsyidin mengatakan:
 
يجوز إغلاق المسجد في غير وقت الصلاة صيانة ولآلته عن الامتهان والضياع

“Dibolehkan mengunci masjid pada selain waktu shalat demi menjaga masjid dan peralatannya dari penyalahgunaan dan kehilangan.”

Berdasarkan pendapat di atas, menutup dan mengunci masjid dengan alasan keamanan dibolehkan. Walaupun dibolehkan, alangkah baiknya pengurus masjid tidak menutup langsung pintu masjid usai shalat berjemaah, supaya orang yang belum shalat dapat mengerjakan shalat di masjid tersebut. Bila diperkiraan sudah tidak ada lagi orang yang akan shalat, barulah pintu masjid ditutup dan dikunci. Wallahu a’lam.

(Hengki Ferdiansyah)