IMG-LOGO
Quote Islami

Andai Orang Bodoh Mau Berhenti Komentar

Kamis 3 Agustus 2017 18:30 WIB
Share:
Andai Orang Bodoh Mau Berhenti Komentar

لِأَجْلِ الجُهَّالِ كَثُرَ الخِلَافُ بَيْنَ النَّاسِ
وَلوْ سَكَتَ مَنْ لَايَدْرِيْ لَقَلَّ الخِلَافُ بَيْنَ الخَلْقِ

"Karena orang-orang dungulah terjadi banyak kontroversi di antara manusia. Seandainya orang-orang yang bodoh berhenti bicara, niscaya berkuranglah pertentangan di antara sesama." (Imam al-Ghazali dalam kitab "Faishilut Tafriqah bainal Islâm wal Zindiqah")

Kebodohan seyogianya memang melahirkan semangat untuk belajar dan menahan diri mengomentari segala hal. Ketika mereka secara leluasa turut berbicara apa pun yang ada di sekelilingnya, saat itulah sebuah malapetaka bias terjadi.

Di era dunia maya yang amat demokratis ini, semua orang punya kesempatan sama untuk mengungkapkan apa yang ada di benaknya. Masalah timbul ketika tingginya semangat untuk berekspresi tak seiring dengan bekal tingginya pengetahuan dan keahlian yang dimiliki. Yakni, ketika kompleksitas politik dianalisa dan dikomentari oleh orang-orang amatiran, fatwa agama dikeluarkan orang-orang yang baru belajar agama, dan seterusnya. Akibatnya, dunia menjadi bising dan gaduh sebagaimana yang kita dapati di media sosial belakangan ini.

Menurut Imam al-Ghazali, perselisihan di dunia ini dipicu oleh ketidasanggupan kaum bodoh untuk berhenti menanggapi hal yang tidak ia pahami dan kuasai dengan baik. Harus diingat pula, manusia senantiasa dalam keterbatasan. Pandai dalam segala hal adalah sesuatu yang mustahil. Misalnya, orang yang mahir soal seni belum tentu ia mahir pula soal ekonomi; orang yang pandai tentang politik, belum tentu pandai pula di bidang agama. Begitu juga sebaliknya. Sehingga, yang dibutuhkan adalah rasa tahu diri akan kapasitas diri sendiri. Wallâhu a‘lam.

Tags:
Share:
Jumat 17 Maret 2017 15:30 WIB
Mungkinkah Mencari Teman Tanpa Cela?
Mungkinkah Mencari Teman Tanpa Cela?

مَنْ طَلَبَ أَخًا بِلاَ عَيْبٍ بَقِيَ بلاَ أَخٍ

“Siapa mencari teman tanpa cela, ia selamanya bakal tanpa teman.” [Maqalah]

Tak ada teman yang sempurna, sebagaimana tidak ada manusia tanpa kesalahan dan kelupaan. Karena itu, pilih-pilih teman demi mendapatkan yang tanpa cela merupakan pekerjaan sia-sia belaka. Teman, siapa pun ia, pasti memiliki cela dan itulah tugas kita sebagai sesama teman untuk mengingatkan, bukan justru menjauhinya. Pesan ini senada kasus orang mencari pasangan (teman hidup). Masing-masing kita memang tidak dituntut untuk menjadi sempurna, melainkan saling menyempurnakan. Wallahu 'alam
Senin 13 Februari 2017 15:0 WIB
Perintah Al-Qur'an ketika Berbicara
Perintah Al-Qur'an ketika Berbicara
وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا

“..dan berbicaralah kepada orang-orang dengan baik..” [QS al-Baqarah: 83]


Dalam kitab Tafsir Jalalain dijelaskan bahwa ucapan yang baik itu di antaranya adalah ucapan yang jujur, lembut, dan yang mengandung ajakan untuk melakukan kebaikan dan menghindari keburukan. Ayat ini satu rangkaian dengan pembahasan tentang Bani Israil yang sudah bersumpah untuk tidak menyembah selain Allah, serta bebruat baik kepada kedua orang tua, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin. Ayat 83 Surat al-Baqarah ini juga memerintahkan mereka untuk mendirikan shalat dan menunaikan zakat. Wallâhu a‘lam


Jumat 20 Januari 2017 13:30 WIB
Perumpaan Rasulullah untuk Orang yang Tak Berdzikir
Perumpaan Rasulullah untuk Orang yang Tak Berdzikir

مَثَلُ الّذِيْ يَذكُرُ رَبَّهُ وَالّذِيْ لَا يَذكُرُ رَبَّهُ مَثَلُ الْحَيِّ وَالْمَيِّتِ

“Perumpamaan antara orang yang dzikir pada Tuhannya dan yang tidak, seperti antara orang yang hidup dan yang mati. (HR Bukhari)

Dzikir bagi hati selayak air bagi ikan. Dzikir yang merupakan kesadaran ilahiah menjadi energi yang menghidupkan hati. Karena hati adalah elemen paling pokok dari manusia, matinya hati sama dengan matinya seluruh tubuh. Syekh Ibnu 'Athaillah, sebagaimana dikatakan Ibnu 'Ajibah dalam Iqadhul Himam (syarah al-Hkam), menyebut bahwa di antara tanda matinya hati adalah hilangnya rasa sedih dan penyesalan ketika berbuat yang bertentangan dengan kehendak Tuhan. Ibnu 'Ajibah sendiri mengatakan, matinya hati dilatari oleh tiga faktor, yakni cinta dunia, lalai dari dzikir kepada Allah, membiarkan anggota badan jatuh dalam perbuatan maksiat. Wallâhu a‘lam.