IMG-LOGO
Ubudiyah

Penjelasan Para Ulama Tentang Maulid Nabi Muhammad

Selasa 12 Desember 2017 7:45 WIB
Penjelasan Para Ulama Tentang Maulid Nabi Muhammad
Bulan Rabiul Awal ini merupakan bulan yang istimewa. Bagaimana tidak istimewa?, pada bulan tersebut manusia terbaik, hamba Allah dan utusan Allah termulia dilahirkan di dunia. Pada 1400 abad yang lalu, tepatnya pada hari Senin 12 Rabiul Awal 576 M, baginda Nabi Muhammad Saw dilahirkan dari pasangan Sayyid Abdullah dan Sayyidah Aminah Radliya Allahu ‘anhuma.

Setiap tahun hari kelahirannya dirayakan oleh umat Muslim di seluruh penjuru dunia. Berbagai acara mulai di tingkat desa hingga istana negara menyelenggaraan perayaan maulid. Lantas bagaimana pendapat para ulama’ 4 madzhab mengenai tradisi perayaan maulid tersebut? Berikut ini kami rangkum beberapa statemen ulama’ mengenai tradisi tahunan tersebut.

Al-Imam al-Suyuthi dari kalangan ulama’ Syafi’iyyah mengatakan:

هُوَ مِنَ الْبِدَعِ الْحَسَنَةِ الَّتِيْ يُثَابُ عَلَيْهَا صَاحِبُهَا لِمَا فِيْهِ مِنْ تَعْظِيْمِ قَدْرِ النَّبِيِّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ وَإِظْهَارِ الْفَرَحِ وَالْاِسْتِبْشَارِ بِمَوْلِدِهِ الشَّرِيْفِ

“Perayaan maulid termasuk bid’ah yang baik, pelakunya mendapat pahala. Sebab di dalamnya terdapat sisi mengagungkan derajat Nabi Saw dan menampakan kegembiraan dengan waktu dilahirkannya Rasulullah Saw”.

Dalam kesempatan yang lain, beliau mengatakan:

يُسْتَحَبُّ لَنَا إِظْهَارُ الشُّكْرِ بِمَوْلِدِهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ وَالْاِجْتِمَاعُ وَإِطْعَامُ الطَّعَامِ وَنَحْوُ ذَلِكَ مِنْ وُجُوْهِ الْقُرُبَاتِ وَإِظْهَارِ الْمَسَرَّاتِ

“Sunah bagi kami untuk memperlihatkan rasa syukur dengan cara memperingati maulid Rasulullah Saw, berkumpul, membagikan makanan dan beberapa hal lain dari berbagai macam bentuk ibadah dan luapan kegembiraan”.

Dari kalangan Hanafiyyah, Syaikh Ibnu ‘Abidin mengatakan:

اِعْلَمْ أَنَّ مِنَ الْبِدَعِ الْمَحْمُوْدَةِ عَمَلَ الْمَوْلِدِ الشَّرِيْفِ مِنَ الشَّهْرِ الَّذِيْ وُلِدَ فِيْهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ

“Ketahuilah bahwa salah satu bid’ah yang terpuji adalah perayaan maulid Nabi pada bulan dilahirkan Rasulullah Muhammad Saw”.

Bahkan setiap tempat yang di dalamnya dibacakan sejarah hidup Nabi Saw, akan dikelilingi malaikat dan dipenuhi rahmat serta ridla Allah Swt. Al-Imam Ibnu al-Haj ulama’ dari kalangan madzhab Maliki mengatakan:

مَا مِنْ بَيْتٍ أَوْ مَحَلٍّ أَوْ مَسْجِدٍ قُرِئَ  فِيْهِ مَوْلِدُ النَّبِيِّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ إِلَّا حَفَّتِ الْمَلاَئِكَةُ أَهْلَ ذَلِكَ الْمَكَانِ وَعَمَّهُمُ اللهُ تَعَالَى بِالرَّحْمَةِ وَالرِّضْوَانِ

“Tidaklah suatu rumah atau tempat yang di dalamnya dibacakan maulid Nabi Saw, kecuali malaikat mengelilingi penghuni tempat tersebut dan Allah memberi mereka limpahan rahmat dan keridloan”.

Al-Imam Ibnu Taimiyyah dari kalangan madzhab Hanbali mengatakan:

فَتَعْظِيْمُ الْمَوْلِدِ وَاتِّخَاذُهُ مَوْسِمًا قَدْ يَفْعَلُهُ بَعْضُ النَّاسِ وَيَكُوْنُ لَهُ فِيْهِ أَجْرٌ عَظِيْمٌ لِحُسْنِ قَصْدِهِ وَتَعْظِيْمِهِ لِرَسُوْلِ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ

“Mengagungkan maulid Nabi dan menjadikannya sebagai hari raya telah dilakukan oleh sebagian manusia dan mereka mendapat pahala besar atas tradisi tersebut, karena niat baiknya dan karena telah mengagungkan Rasulullah Saw”.

Bahkan merayakan maulid Nabi bisa menjadi wajib bila menjadi sarana dakwah yang efektif untuk menandingi perayaan-perayaan lain yang terdapat banyak kemunkaran. Al-Syaikh al-Mubasyir al-Tharazi menegaskan:

إِنَّ الْاِحْتِفَالَ بِذِكْرَى الْمَوْلِدِ النَّبَوِيِّ الشَّرِيْفِ أَصْبَحَ وَاجِبَا أَسَاسِيًّا لِمُوَاجَهَةِ مَا اسْتُجِدَّ مِنَ الْاِحْتِفَالَاتِ الضَّارَّةِ فِيْ هَذِهِ الْأَيَّامِ.

“Sesungguhnya perayaan maulid Nabi menjadi wajib yang bersifat siyasat untuk menandingi perayaan-perayaan lain yang membahayakan pada hari ini”.

Dari beberapa keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa tradisi merayakan maulid Nabi Saw merupakan bid’ah yang baik (disunahkan), meski tidak pernah dilakukan pada zaman Nabi Saw, karena di dalamnya terdapat sisi mengagungkan dan kecintaan kepada Rasulullah Saw.

Bahkan, hukum merayakan maulid bisa menjadi wajib bila menjadi sarana dakwah yang paling efektif untuk mengimbangi acara-acara yang membahayakan moral bangsa. (M. Mubasysyarum Bih)

Penjelasan disarikan dari Syekh Yusuf Khathar Muhammad, al-Mausu’ah al-Yusufiyyah, juz. 1, halaman 407. 
Tags:
Rabu 6 Desember 2017 17:0 WIB
Lima Fase Umur Manusia Menurut Sayyid Abdullah Al-Haddad
Lima Fase Umur Manusia Menurut Sayyid Abdullah Al-Haddad
Ilustrasi (Pinterest)
Allamah Sayyid Abdullah bin Alawi Al-Haddad dalam kitabnya bedujul Sabîlul Iddikâr wal I’tibâr bimâ Yamurru bil Insân wa Yanqadli Lahu minal A’mâr (Dar Al-Hawi, Cet. II, 1998, hal. 13-14), menjelaskan bahwa kehidupan manusia terbagi ke dalam 5 (lima ) fase umur sebagai berikut: 

1. Fase Umur Pertama

Fase umur pertama manusia dimulai sejak Nabi Adam AS diciptakan oleh Allah SWT. Saat itu juga dalam punggung Nabi Adam AS terdapat anak-cucunya. Hal ini sebagaimana  penjelasan Sayyid Abdullah Al-Haddad (hal. 13) sebagai berikut: 

العمر الأول منها: من حين خلق الله أدم عليه السلام، وضمَّن ظهرَه الذرية

Artinya: “Fase umur pertama manusia adalah sejak Allah menciptakan Nabi Adam AS dan dalam punggungnya dibekali anak-anak keturunannya.” 

Lebih lanjut dijelaskan bahwa sebelum Allah SWT menyimpan semua anak cucu Adam AS di tulang punggungnya, Allah SWT mengeluarkan mereka untuk diambil kesaksian atau pengakuannya atas ketuhanan Allah SWT. Mereka semua menjawab sebagaimana bunyi penggalan ayat 172, Surah Al-A’raf, sebagai berikut:

أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَى شَهِدْنَا

 Artinya: “Bukankah Aku ini Tuhan kamu? Mereka menjawab: ‘Ya, kami menjadi saksi’.” 

Jadi jauh sebelum manusia lahir ke dunia mereka sesungguhnya sudah beriman kepada Allah SWT dan inilah yang disebut fitrah sebagaimana dimaksud dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa setiap anak lahir ke dunia dalam keadaan fitrah.

2. Fase Umur Kedua

Fase umur kedua dimulai sejak kelahiran manusia ke dunia ini hingga meninggal dunia. Hal ini merupakan tahapan pertengahan di antara semua umur sebagaimana penjelasan Sayyid Abdullah Al-Haddad sebagai berikut: 

والعمرالثاني: من حين خروج الإنسان من بين أبويه الى الدنيا، إلى وقت موته، وخروجه من الدنيا. 

Artinya: “Fase umur kedua dimulai sejak manusia dilahirkan ke dunia dari perkawinan kedua orang tuanya hingga mati meninggalkan dunia ini.” 

Dalam fase umur kedua ini, berlaku taklif dimana manusia dibebani kewajiban-kewajiban tertentu ketika telah mencapai usia baligh dengan keharusan menunaikan perintah-perintah Allah SWT dan meninggalkan larangan-larangan-Nya. Konsekwensi taklif adalah manusia mendapatkan pahala atas kewajiban-kewajiban yang dilaksanakan dan mendapatkan hukuman atas dosa-dosa yang dilakukannya. 

3. Umur Ketiga

Fase umur ketiga dimulai sejak manusia mati sebagaimana penjelasan Sayyid Abdullah Al-Haddad (hal. 14) sebagai berikut: 

والعمرالثالث: من حين خروج الإنسان من الدنيا.بالموت، إلى ان يبعثه الله بالنفخ في الصور، وتلك مدة البرزاخ.

Artinya: “Fase umur ketiga dimulai sejak manusia meninggalkan alam dunia ini hingga ia dibangkitkan oleh Allah dari kubur dengan tiupan sangkakala. Dan inilah masa tunggu manusia di alam barzakh.” 

Penjelasan tersebut sejalan dengan firman Allah SWT dalam Surah Al-Mukmin, ayat 100, sebagai berikut: 

وَمِن وَرَائِهِم بَرْزَخٌ إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ

Artinya: “Dan di belakang mereka ada Barzakh sampai hari mereka dibangkitkan.”

Jadi alam barzakh adalah saat dimana manusia meninggal dunia lalu dibaringkan di dalam kubur hingga dibangkitkan dengan ditiupnya terompet sangkakala untuk pertama kali oleh Malaikat Israfil di hari Kiamat. 

4. Fase Umur Keempat

Fase umur keempat dimulai sejak manusia dibangkitkan dari kuburnya sebagaimana penjelasan Sayyid Abdullah Al-Haddad sebagai berikut: 

العمر الرابع: : من حين خروج الإنسان من قبره، أو من حيث شاء الله بالنفخ في الصور، ليوم البعث والنشور، إلى الحشر إلى الله، والوقوف بين يديه للوزن والحساب، والمرور على الصراط وأخذ الكتاب، الى غير ذالك من مواقف القيامة واحوالها وشدائدها وأهوالها.

Artinya:”Fase umur keempat dimulai sejak dikeluarkannya manusia dari kubur, atau tempat lain yang Allah kehendaki; sejak ditiupkan sangkakala pada hari kebangkitan, hingga tibalah hari ketika seluruh manusia dikumpulkan di Makhsyar untuk diadili di hadapan Allah SWT dengan ditimbang semua amalnya untuk dihisab. Sesudah itu meniti jalan kecil (shirath), menerima buku catatan amal masing-masing dan hal-hal lain tentang berita hari Kiamat, keadaan-keadaannya dan bermacam-macam kesulitan serta hal-hal yang menakutkan.”

Penjelasan itu sejalan dengan perintah Allah SWT kepada Malaikat Israfil untuk meniup sangkakala yang kedua kalinya. Allah berfirman dalam Surat Yasin, ayat 51:

وَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَإِذَا هُمْ مِنَ الْأَجْدَاثِ إِلَى رَبِّهِمْ يَنْسِلُونَ

Artinya: “Dan ditiuplah sangkakala, maka merekapun bangkit dari kubur masing-masing, lalu datang bergegas menuju Tuhan mereka.”

5. Fase Umur Kelima

Fase umur kelima dimulai dari saat masuknya manusia ke dalam surga dan kekal di dalamnya sebagaimana penjelasan Sayyid Abdullah Al-Haddad sebagai berikut:

والعمر الخامس: من وقت دخول الإنسان في الجنة إلى الأبد. وهذا هو العمر الذي لا انقضاء له غاية، أو من حين دخول أهل النار إلى النار 

Artinya:”Fase umur kelima dimulai sejak dimasukkannya manusia ke surga sampai selama-lamanya atau abadi. Inilah fase umur yang takkan berakhir, atau sejak masuknya ahli neraka ke neraka.”

Dengan kata lain fase umur kelima yang merupakan fase terkahir dan abadi dimulai sejak ahli surga masuk ke surga dan ahli nereka masuk ke neraka dengan keadaan yang berbeda-beda sesuai dengan catatan amal masing-masing. Mereka yang masuk neraka ada yang kekal dan ada pula yang tidak. Orang-orang kafir akan kekal di dalam neraka. Sedangkan orang-orang mukmin yang berdosa tidak kekal di neraka sehingga pada saatnya akan masuk surga dan kekal di dalamnya.  

Kelima fase umur tersebut berlangsung secara urut dan berlaku pada semua manusia, yakni dimulai sejak fase umur pertama atau disebut juga alam azali; fase umur kedua atau disebut juga alam dunia; fase umur ketiga atau juga disebut alam kubur/barzakh; fase umur keempat dan fase umur kelima disebut alam akhirat yang dimulai dengan kebangkitan manusia dari kubur, berkumpul di makhsyar, ditimbang untuk dihisab amal-amalnya ketika hidup di dunia, hingga mereka mendapat balasan atas amal-amal itu. Ada yang masuk ke surga, dan ada pula yang masuk ke neraka.  


Muhammad Ishom, dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta

Kamis 30 November 2017 15:4 WIB
Tiga Tanda Orang Bertawakal Menurut Sayyid Abdullah Al-Haddad
Tiga Tanda Orang Bertawakal Menurut Sayyid Abdullah Al-Haddad
Ilustrasi (chasejarvis.com)
Salah satu tanda orang mukmin sejati adalah memiliki sikap tawakal kepada Allah subhânahu wata‘âlâ. Tawakal merupakan bagian dari buah tauhid. Allamah Sayyid Abdullah bin Alawi Al-Haddad dalam kitabnya berjudul Risâlatul Mu‘âwanah wal Mudhâharah wal Muwâzarah (Dar Al-Hawi, 1994, hal. 179) menjelaskan tentang tiga tanda orang yang benar-benar bertawakal sebagai berikut: 

وللمتوكل الصادق ثلاث علامات: الأولى أن لا يرجوغيرالله ولا يخاف إلا الله، وعلامة ذالك أن لا يدع القول بالحق عند من يُرجى و يُخشى عادة من المخلوقين كالأمراء والسلاطين 

“Ada tiga tanda bagi orang yang bertawakal dengan sebenarnya, yakni pertama, tidak berharap kecuali kepada Allah sekaligus tidak takut kecuali kepada-Nya. Hal itu ditandai dengan keberaniannya mengatakan sesuatu yang benar di hadapan seseorang yang umumnya orang memiliki harapan sekaligus merasa takut kepadanya seperti para amir dan raja.” 

Tanda pertama ini berkiatan erat dengan apa yang diucapkan seorang Muslim dalam setiap menunaikan shalatnya, yakni pada saat membaca surah Al-Fatihah, ayat 5:

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ

“Hanya kepada Engulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan.”

Wujud menyembah dan memohon pertolongan hanya kepada Allah tentu saja tidak hanya berupa shalat, tetapi juga dalam bertawakal kepada-Nya dalam seluruh urusan hidup dan mati. Orang-orang yang benar-benar bertawakal kepada Allah  tidak merasa takut untuk berkata benar di depan para penguasa maupun orang-orang kaya yang bisa memberikan fasilitas apa saja. 

Demikian pula mereka tidak takut berkata “tidak” ketika suatu persoalan bertentangan dengan apa yang telah disyariatkan oleh Allah meskipun mendapat ancaman atau hukuman dari para penguasa maupun dari orang-orang kaya yang bisa memberikan fasilitas apa saja. Jadi orang yang bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya akan menyerahkan seluruh urusannya kepada Yang Maha Satu semata sehingga tidak ada yang mereka takuti kecuali Allah.
 
والثانية أن لا يدخل قلبه همُّ الرزق ثقة بضمان الله بحيث يكون سكون قلبه عند فقد ما يحتاج اليه كسكونه في حال وجوده وأشد 

Artinya: “Kedua, tidak pernah merisaukan masalah rezeki disebabkan merasa yakin akan adanya jaminan Allah sehingga hatinya tetap tenang dan tentram di kala suatu keuntungan luput darinya, sama seperti di kala ia memperolehnya.”

Tanda kedua ini berkaitan erat dengan jaminan Allah  tentang rezeki sebagaimana termaktub dalam surah Al-An’am, ayat 151: 

نَحْنُ نَرْزُقُكًمْ وَإِيَّاهُمْ

Artinya: “Kamilah yang memberikan rezeki kepadamu dan kepada mereka.” 

Orang-orang yang benar-benar bertawakal kepada Allah  tidak menujukkan kekhawatiran dan ketakutannya berkaitan dengan rezeki bagi dirinya maupun bagi orang-orang yang menjadi tanggungannya. Hal ini disebabkan mereka meyakini kebenaran surah Al-An’am, ayat 151 di atas. Allahlah yang memberi rezeki kepada setiap makhluk yang diciptakannya. 

Oleh karena itu, orang-orang yang benar-benar bertawakal kepada Allah  tetap merasa tenang ketika kesulitan ekonomi sedang melanda baik dalam sekala terbatas mapun luas sebagaimana ketika ekonomi sedang dalam puncak kesuksesan. Seorang karyawan perusahaan yang terkena PHK karena sesuatu hal sedangkan ia benar-benar bertawakal kepada Allah  tentu bersikap tenang karena meyakini “Bos Besar” tidak pernah mem-PHK siapapun. Dialah – dan bukan bos kecil - yang memberinya rezeki lewat pintu mana saja yang Dia kehendaki. 

والثالثة أن لا يضطرب قلبه في مظان الخوف علما منه أن ما أخطأه لم يكن ليصيبه وما أصابه لم يكن ليخطئه
 
“Ketiga, tidak pernah hatinya terguncang pada saat diperkirakan akan datangnya suatu bahaya disebabkan ia yakin sepenuhnya bahwa tak satu pun ditetapkan ia terhindari darinya, akan tetap menimpanya; dan tak satu pun ditetapkan akan menimpanya, akan terhindar dari dirinya.” 

Tanda ketiga ini berkaitan dengan keyakinan akan ketetapan Allah. Orang-orang yang benar-benar bertawakal kepada Allah  tentu bersikap tenang menghadapi segala keadaan yang mungkin terjadi disebabkan keridhaannya atas apa yang telah ditetapkan-Nya. Ancaman bahaya sebesar apapun tidak akan mengguncangkan jiwa mereka. Mereka meyakini apa yang akan terjadi kepada mereka hanyalah apa yang telah ditetapkan-Nya. 

Singkatnya, orang-orang yang benar-benar bertawakal kepada Allah  akan terlihat tanda-tandanya dari tiga hal. Pertama, mereka mandiri dan berani dalam mengatakan kebenaran tanpa rasa takut akan hukuman dari orang-orang berkuasa dan berpengaruh. Kedua, mereka tidak merisaukan soal rejeki karena meyakini Allah telah menjamin rezeki bagi semua yang diciptakan-Nya. Ketiga, mereka bersikap tenang terhadap musibah yang akan menimpa atau tidak akan menimpa mereka karena mengimani takdir dan iradat Allah .


Muhammad Ishom, dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta

Selasa 28 November 2017 8:2 WIB
Mengganti Kayu Siwak dengan Sikat dan Pasta Gigi?
Mengganti Kayu Siwak dengan Sikat dan Pasta Gigi?
Islam adalah agama yang mencintai kebersihan, tak terkecuali kebersihan gigi. Oleh sebab itu, dalam ajaran Nabi Muhammad SAW seorang Muslim dianjurkan untuk bersiwak yang berguna untuk membersihkan gigi.

Apa siwak itu? Menurut bahasa Arab siwak berarti menggosok atau alat yang digunakan untuk itu. Nabi SAW sangat menganjurkan umatnya untuk bersiwak dalam setiap shalat.

لَوْلَا أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي، لَأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ عِنْدَ كُلِّ صَلَاةٍ

Artinya, “Jika tidak memberatkan bagi umatku, maka aku akan menyuruh mereka untuk bersiwak setiap shalat,” (HR Abu Dawud).

Pada masa Nabi, sebagaimana disebutkan dalam kitab-kitab fikih klasik, disebutkan bahwa orang Arab biasa menggosok gigi dengan kayu yang dikenal dengan kayu arak. Selain itu, dalam berbagai riwayat hadits, Nabi dan sahabat tidak lupa untuk mencuci kayu tersebut setelah digunakan bersiwak. Kenapa kayu arak? Ranting kayu ini lebih lunak dan terasa nyaman di mulut.

Di Indonesia, fenomena bersiwak banyak di sekitar kita. Kayu arak ini dijual, serta dijadikan oleh-oleh jamaah haji untuk handai tolan sepulang ke Indonesia. Sebagian orang menganggap, yang disebut bersiwak adalah menggunakan kayu tersebut sewaktu-waktu, terutama sebelum shalat.

Zaman sudah berubah, masyarakat juga mengenal sikat gigi serta pasta gigi. Sikat gigi lebih mudah didapat di Indonesia, serta bisa menjangkau bagian mulut yang lebih dalam. Nah, apakah menggunakan sikat dan pasta gigi termasuk bersiwak juga?

وَيُطْلَقُ السِّوَاكُ أَيْضًا عَلَى مَا يَسْتَاكُ بِهِ مِنْ أَرَاكٍ وَنَحْوِهِ

Syekh Muhammad bin Qasim Al-Ghazi menyebutkan dalam kitabnya Fathul Qarib bahwa “Siwak adalah menggosok gigi dengan kayu arak atau sejenisnya.” Dari keterangan tersebut, maka selain kayu arok pun bisa dinilai bersiwak.

Lebih lanjut, Syekh Wahbah Az-Zuhayli dalam Al-Fiqhul Islami wa Adillatuh menyebutkan:

اِسْتِعْمَالُ عَوْدٍ أَوْ نَحْوِهَ كَأَشْنَانٍ وَصَابُوْنٍ، فِي الْأَسْنَانِ وَمَا حَوْلَهَا، لِيُذْهِبَ الصُّفْرَةُ وَغَيْرَهَا عَنْهَا.

Artinya, “Siwak adalah penggunaan kayu atau sejenisnya seperti sikat dan pasta gigi, untuk membersihkan bagian gigi dan sekitarnya, supaya kotoran dan sejenisnya bisa hilang.”

Maka perlu diketahui, bahwa tujuan bersiwak ini adalah mulut yang bersih serta bau mulut yang sedap. Dalam interaksi kita sehari-hari, gigi kotor dan bau mulut tak sedap membuat tidak nyaman. Untuk menambah nilai kemuliaan saat beribadah, maka membersihkan gigi sangat dianjurkan, baik sebelum shalat, ketika akan membaca Al-Quran, dan sebagainya.

Bersiwak dengan kayu juga perlu diperhatikan. Setelah digunakan, kayu hendaknya dicuci. Lalu saat ujungnya sudah mekar, maka ia sulit untuk menjangkau sela-sela gigi. Kayu siwak yang digunakan tapi tak kunjung dicuci, tentu juga bisa menyebabkan kayu itu berbau tak sedap.

Membersihkan gigi itu penting, dan meskipun tidak menggunakan kayu tetap diniatkan bersiwak agar mendapat kesunahan. Gigi bersih, nafas segar, serta mendapatkan kebaikan juga. Kalau bisa, kita juga boleh menggunakan kayu arak agar lebih menambah keutamaan. (Muhammad Iqbal Syauqi)