IMG-LOGO
Ilmu Hadits
MUSTHALAH HADITS

Ini Tiga Ilmu Bantu untuk Memahami Hadits Rasulullah SAW

Jumat 15 Desember 2017 17:28 WIB
Share:
Ini Tiga Ilmu Bantu untuk Memahami Hadits Rasulullah SAW
(© pinterest)
Sebagaimana halnya Al-Quran, hadits juga mempunyai rumpun keilmuan yang beragam. Seseorang tidak dibenarkan untuk berdalil dengan menggunakan hadits Nabi Muhammad SAW sebelum menguasai secara mendalam ragam keilmuan hadits tersebut.

Hal ini berterima dalam akal sehat sederhana karena juga diterapkan dalam segala rumpun keilmuan yang ada. Seseorang tidak dibenarkan mengambil tindakan medis terhadap orang yang sakit kecuali kalau dia mempunyai sertifikat dokter dan menguasai ilmunya. Begitu juga, seseorang tidak diizinkan untuk mengajar kecuali jika ia menguasai bidang yang ia ajar dan lain sebagainya.

Almarhum Kiai Ali Mustafa Yaqub, salah seorang pakar hadits Nusantara, menjelaskan dalam salah sebuah bukunya sebagai berikut:

وتنحصر دراسات الحديث النبوي في العصر الحاضر على ثلاثة أمور : الأول ما يتعلق بمصطلح الحديث بما في ذلك الدفاع عن الحديث ضد منكري الحديث والمستشرقين. والثاني ما يتعلق بطرق تخريج الحديث ونقد المتون والأسانيد. والثالث ما يتعلق بفهم الحديث النبوي.

Artinya, “Kajian hadits pada masa sekarang terbagi menjadi tiga bahasan. Pertama, berkaitan dengan dengan Ilmu Musthalah Hadits, termasuk untuk mempertahankan hadits dari serangan orang-orang yang menolak hadits dan para orientalis. Kedua, berkaitan dengan metode takhrij serta kritik matan dan sanad hadits. Ketiga, bahasan yang berkaitan dengan metode pemahaman hadits.”

Berdasarkan uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa seseorang baru bisa dikatakan sebagai ahli hadits dalam konteks sekarang ketika dia menguasai tiga ilmu berikut:

Pertama, Ilmu Musthalah Hadits, yaitu ilmu yang berisi tentang istilah-istilah dasar dalam ilmu hadits, seperti apa yang dimaksud dengan sanad dan matan. Apa itu hadits sahih, hasan dan dhaif. Apa saja kriteria sebuah hadits disebut sahih, hasan dan dhaif. Apa yang dimaksud dengan istilah mutawatir lafzhi dan mutawatir maknawi. Apa yang dimaksud dengan hadits ahad dan variannya dan lain sebagainya.

Ilmu ini berfungsi untuk mempertahankan eksistensi hadits sebagai sumber kedua hukum Islam dari cengkeraman orang-orang yang tidak menyukainya.

Kedua, Ilmu Takhrij dan Dirasah Sanad, yaitu ilmu yang berisi tatacara mengidentifikasi sebuah teks apakah benar ia berstatus sebagai hadits Nabi atau bukan. Selain itu, ilmu ini juga berfungsi untuk membuktikan tingkat validitas sebuah ungkapan, apakah ia hadits sahih, hasan, atau dhaif dengan menganalisis segala sesuatu yang terdapat di dalam sanadnya.

Dengan menguasai ilmu ini, seseorang dapat mengatakan bahwa hadits ini bernilai sahih karena sanadnya bersambung hingga kepada Nabi Muhammad SAW dan semua perawi (pembawa beritanya) berstatus jujur dan adil, serta hasil penelitian lainnya.

Ketiga, Ilmu Thuruq Fahmil Hadits, yaitu ilmu yang berisi tentang tatacara serta kaidah-kaidah khusus dalam memahami teks hadits seperti kaidah tidak semua hadits sahih langsung diamalkan, tidak semua hadits dhaif langsung ditolak, kaidah membedakan antara hadits yang mengandung syariat dan hadits yang hanya sebatas budaya lokal Arab semata dan lain sebagainya.

Ilmu ini sangat penting dalam ranah pengaplikasian hadits sehingga orang yang menguasainya diharapkan dapat memahami konteks sebuah hadits dengan baik dan benar. Wallahu a’lam. (Yunal Isra)

Share:
Rabu 13 Desember 2017 22:1 WIB
MUSTHALAH HADITS
Posisi Hadits dalam Hukum Islam
Posisi Hadits dalam Hukum Islam
Hadits dalam hukum Islam dianggap sebagai mashdarun tsanin (sumber kedua) setelah Al-Quran. Ia berfungsi sebagai penjelas dan penyempurna ajaran-ajaran Islam yang disebutkan secara global dalam Al-Quran. Bisa dikatakan bahwa kebutuhan Al-Quran terhadap hadits sebenarnya jauh lebih besar ketimbang kebutuhan hadits terhadap Al-Quran.

Kendati demikian, seorang Muslim tidak dibenarkan untuk mengambil salah satu dan membuang yang lainnya karena keduanya ibarat dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan.

Untuk mengeluarkan hukum Islam, pertama kali para ulama harus menelitinya di dalam Al-Quran. Kemudian setelah itu, baru mencari bandingan dan penjelasannya di dalam hadits-hadits Nabi karena pada dasarnya tidak satupun ayat yang ada dalam Al-Quran kecuali dijelaskan oleh hadits-hadits Nabi.

Dengan sinergi beberapa ayat dan hadits tersebut, seorang ulama bisa memutuskan hukum-hukum agama sesuai dengan persoalan yang dihadapi, tentunya dengan dukungan ilmu dan perangkat pengetahuan yang mumpuni terhadap kedua sumber tersebut.

Menurut Abdul Wahab Khallaf, seorang ahli hukum Islam berkebangsaan Mesir, hadits mempunyai paling tidak tiga fungsi utama dalam kaitannya dengan Al-Quran :

Pertama, hadits berfungsi sebagai penegas dan penguat segala hukum yang ada dalam Al-Quran seperti perintah shalat, puasa, zakat dan haji. Abdul Wahab Khallaf mengatakan,

إما أن تكون سنة مقررة ومؤكدة حكما جاء في القرآن

Artinya, “Adakalanya hadits berfungsi sebagai penegas dan penguat terhadap hukum yang ada dalam Al-Quran.”

Kedua, hadits juga berfungsi sebagai penjelas dan penafsir segala hukum yang bersifat global dalam Al-Quran, seperti menjelaskan tatacara shalat, puasa, zakat dan haji.

إما أن تكون سنة مفصلِّة ومفسِّرة لما جاء في القرآن

Artinya, “Adakalanya hadits berfungsi sebagai penjelas dan penafsir terhadap hukum global/umum yang disebutkan dalam Al-Quran.”

Ketiga, hadits juga berfungsi sebagai pembuat serta memproduksi hukum yang belum dijelaskan oleh Al-Quran seperti hukum mempoligami seorang perempuan sekaligus dengan bibinya, hukum memakan hewan yang bertaring, burung yang berkuku tajam dan lain sebagainya. Khallaf kembali mengatakan sebagai berikut.

وإما أن تكون سنة مثبِتَة ومنشِئَة حُكما سكت عنه القرآن

Artinya, “Adakalanya hadits berfungsi sebagai penetap dan pencipta hukum baru yang belum disebutkan oleh Al-Quran.”

Dengan demikian, karena begitu pentingnya posisi hadits dalam konsepsi hukum Islam, maka seseorang yang akan berkecimpung di dalamnya diharuskan untuk mengenal istilah dasar dalam ilmu hadits, menguasai kaidah-kaidah takhrij dan kajian sanadnya, serta mengetahui seluk beluk dan tatacara memahami redaksinya.

Pembacaan yang tidak paripurna serta serampangan terhadap hadits akan membuat seseorang keliru dan bahkan juga membuat keliru orang lain. Wallahu a’lam. (Yunal Isra)

Selasa 12 Desember 2017 11:2 WIB
MUSTHALAH HADITS
Ini Sanad-Sanad yang Sahih dan Lemah dalam Hadits
Ini Sanad-Sanad yang Sahih dan Lemah dalam Hadits
Salah satu komponen dalam kesahihan sebuah hadits adalah sanadnya, baik secara ketersambungan antara satu perawi dan yang lain maupun kualitas dari perawi-perawi yang ada dalam sanad tersebut.

Namun penelitian sebuah sanad tentu tidak semudah membalikkan tangan karena biasanya membutuhkan kemampuan khusus dan waktu yang cukup lama. Para ulama dan peneliti hadits yang terbiasa meneliti sanad akan hafal dan menandai sanad mana saja yang sudah bisa dipastikan kesahihannya dan sanad mana saja yang sudah bisa dipastikan kedhaifannya bahkan kebohongannya.

Para ulama hadits membaginya menjadi dua kategori, yakni silsilatudz dzahab dan silsilatul kadzib.

Adapun silsilah dzahab atau silsilah emas, yang disebut Mahmud Thahan dalam Taysir Musthalah Hadits sebagai ashahhul asanid (sanad-sanad yang paling sahih) adalah sebagai berikut.

Pertama, silsilah sanad sahih yang paling tinggi derajatnya adalah sanad Malik dari Nafi’ dari Ibnu Umar. Silsilah sanad inilah yang disebut para ulama sebagai silsilatudz dzahab karena kualitas perawi dan ketersambungannya tidak dapat diragukan lagi.

Kedua, silsilah sanad sahih yang kualitasnya di bawah silsilah dzahab di atas, yaitu riwayat Hammad bin Salamah dari Tsabit dari Anas bin Malik.

Ketiga, yang merupakan silsilah sanad sahih yang kualitasnya di bawah kedua silsilah sanad di atas adalah riwayat Suhail bin Abi Shalih dari Ayahnya (Abi Shalih) dari Abu Hurairah RA.

Seperti halnya hadits shahih yang memiliki sanad paling shahih di dalamnya (ashahhul asanid), hadits dhaif juga memiliki sanad paling lemah (auha’ul asanid).

Imam Al-Hakim An-Nisabury menjelaskan dalam kitabnya yang berjudul Ma’rifah fi Ulumil Hadits bahwa ada banyak sekali sanad-sanad yang dianggap paling lemah, baik dalam kategori tingkatan sahabat ataupun dari segi negara (tempat tinggal seorang rawi). Imam As-Suyuthi telah menjelaskannya secara lengkap dalam kitabnya Tadribur Rawi fi syarhi taqrib An-Nawawi.

Berikut tiga di antara banyaknya sanad lemah yang disebutkan As-Suyuthi sesuai ringkasan yang diberikan oleh Mahmud Thahan berdasarkan sahabat dan negara.

Pertama, sanad yang paling lemah yang dinisbatkan kepada sahabat Abu Bakar RA adalah Shadaqah bin Musa Ad-Dakiki dari Farqad As-Sabahiy dari Murrah bin Thayyab dari Abu Bakar RA.

Kedua, sanad paling lemah yang dinisbatkan pada ahli Syam adalah Muhammad bin Qais Al-Maslub dari Ubaidillah bin Zahr dari Ali bin Yazid dari Al-Qasim dari Abi Umamah.

Ketiga, sanad paling lemah yang dinisbatkan pada sahabat Ibnu Abbas, yaitu As-Sudy As-Saghir Muhammad bin Marwan dari Al-Kalbiy dari Abi Shalih dari Ibnu Abbas. Bahkan As-Syeikhul Islam mengatakan bahwa ini adalah silsilah kadzib bukan silsilah dzahab.

Beberapa sanad sahih dan lemah yang telah kami paparkan di atas adalah hanya kilas singkat pengetahuan agar mempermudah pembaca meneliti hadits dari susunan perawinya. Tetapi karena hadits jumlahnya ratusan ribu dan sanadnya juga sangat kaya, maka kami sarankan untuk lebih mendalami pembahasan terkait sanad dalam ilmu Musthalah Hadits. Wallahu a‘lam. (Muhammad Alvin Nur Choironi)

Kamis 7 Desember 2017 4:5 WIB
Pandangan Ulama terkait Kualitas Hadits Bendera Rasulullah
Pandangan Ulama terkait Kualitas Hadits Bendera Rasulullah
Bendera hitam atau putih bertuliskan kalimat tauhid selalu diidentikkan oleh sebagian kelompok sebagai bendera Islam atau bendera Rasulullah. Dengan anggapan ini, kalau ada bendera lain yang tidak serupa dengan bendera Rasulullah, dianggap bukan Islam dan tidak sesuai dengan tuntunan Rasulullah.

Kelompok yang mengindetikkan bendera hitam atau putih bertulis kalimat tauhid ini sebagai bendera Rasulullah merujuk pada hadits riwayat Ibnu Abbas yang terdapat dalam beberapa kitab hadits. Ibnu Abbas berkata.

كَانَتْ رَايَةُ رَسُوْلِ اللهِ سَوْدَاءَ وَلِوَاؤُهُ أَبْيَضُ مَكْتُوْبٌ عَلَيْهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ

Artinya, “Bendera (pasukan) Rasulullah itu hitam dan panjinya itu putih yang bertuliskan di atasnya ‘La Ilaha Illallah Muhammad Rasulullah,’”(HR At-Thabarani).

Merujuk pada penelitian yang dilakukan tim el-Bukhari Institute dalam buku Meluruskan Pemahaman Hadits Kaum Jihadis, hadits tentang bendera Rasulullah di atas terdapat dalam beberapa kitab, di antaranya, Mu’jamul Awsath karya At-Thabarani dan Akhlaqun Nabi wa Adabuhu karya Abus Syekh Al-Ashbihani.

Secara umum, kualitas hadits bendera hitam bertulis "La Ilaha Illallah Muhammad Rasulullah" adalah dhaif (lemah), baik riwayat At-Thabarani ataupun Abu Syekh. Hadits bendera hitam juga dikategorikan dhaif oleh Ibn ‘Adi dan termasuk salah satu dari sekian banyak hadits dhaif yang terdapat dalam kitab Al-Kamil fi Dhu’afa’ir Rijal.

Riwayat At-Thabarani dihukumi lemah karena di dalam rangkaian sanadnya terdapat rawi bermasalah, yaitu Ahmad Ibn Risydin. Menurut An-Nasa’i, Ibn Risydin adalah seorang pembohong kadzdzab (pembohong). Adz-Dzahabi menyebut Ibn Risydin sebagai pemalsu hadits (muttaham bil wadh’i). Ibn ‘Adi mengakui bahwa Ibn Risydin salah satu orang yang paling banyak meriwayatkan hadits, namun sangat disayangkan kebanyakan periwayatannya munkar dan palsu. Sementara menurut Ibnu Yunus, Ibnu ‘Asakir, dan Ibnul Qaththan, dan Ibnul Qasim, Ibn Risydin diterima haditsnya karena dia kredibel (tsiqah) dan penghafal hadits (huffazhul hadits).

Ketika dihadapkan pada dua simpulan yang bertolak-belakang ini, maka penilaian negatif (jarh) lebih diprioritaskan daripada penilaian positif (ta’dil). Simpulan ini merujuk pada kaidah umum dalam jarh wa al-ta’dil, “Apabila bertentangan antara jarh dan ta’dil, maka jarh lebih didahulukan bila dijelaskan argumentasinya secara spesifik.” Dengan demikian, riwayat Ibn Risydin tidak dapat diterima karena pembohong (muttaham bil kidzbi) dan dianggap pemalsu hadits (muttaham bil wadh’i) meskipun riwayat dan haditsnya banyak didokumentasikan.

Adapun riwayat Abu Syekh berasal ari dua jalur, yaitu Abu Hurairah dan Ibnu Abbas. Riwayat yang bersumber dari Abu Hurairah dihukumi lemah karena ada Muhammad Ibn Abu Humaid dalam silsilah sanadnya. Sebagian besar kritikus hadits berpendapat bahwa Abu Humaid adalah dhaif dan termasuk munkarul hadits. Sedangkan riwayat Abu Syekh yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas dihukumi hasan dan tidak sampai pada tingkatan shahih.

Berdasarkan penjelasan di atas, dapat dipahami bahwa kualitas hadits bendera hitam yang diriwayatkan oleh At-Thabarani dan riwayat Abu Syekh yang bersumber dari Abu Hurairah adalah lemah atau dapat disebut juga hadits munkar. Sementara riwayat Abu Syekh yang berasal dari Ibnu Abbas termasuk hadits hasan dan tidak mencapai derajat shahih.

Bagaimana Pengamalannya?
Setelah mengetahui kualitas hadits, pertanyaan berikutnya adalah bagaimana pengamalannya, apakah hadits tersebut wajib diamalkan atau tidak. Dalam bahasa lain, apakah hadits bendera Rasulullah itu bermuatan syariat atau tidak. Kalau dipahami sebagai bagian dari syariat berarti wajib diamalkan. Sementara kalau bukan bagian dari syariat, tidak wajib diamalkan.

Menurut KH Ali Mustafa Yaqub, ada dua indikator yang dapat digunakan untuk membedakan syariat dan bukan syariat, atau budaya, di dalam memahami hadits Nabi. Pertama, apabila amalan tersebut hanya dilakukan oleh umat Islam dan tidak dilakukan agama lain berarti amalan itu bagian dari syariat. Kedua, jika sebuah perbuatan dikerjakan oleh semua orang, baik Muslim maupun non-Muslim, dan sudah ada sejak sebelum kedatangan Islam, maka perbuatan tersebut bukan syariat dan termasuk budaya.

Berdasarkan dua indikator ini dan sekaligus merujuk pada fakta sejarah, bendera bukanlah bagian dari syariat karena sudah ada sebelum kedatangan Islam dan digunakan oleh semua pasukan perang baik Muslim ataupun non-Muslim. Bahkan dalam pandangan Ibnu Khaldun, memperbanyak bendera, memberi warna dan memanjangkannya, hanya semata-mata untuk menakuti musuh dan kepentingan politik suatu pemerintahan.

Kendati Rasulullah menggunakan warna dan bentuk bendera tertentu, bukan berati model bendera Rasulullah ini mesti diikuti oleh setiap umat Islam sehingga negara yang tidak sesuai warna benderanya dengan bendera Rasulullah dianggap tidak mengikuti sunah Nabi. Karena pada hakikatnya, persoalan warna dan bentuk bendera bukan bagian dari agama yang bersifat ibadah (ta’abbudi), seperti halnya shalat, puasa, dan ibadah mahdhah lainnya, tetapi termasuk urusan muamalah yang identik dengan perubahan dan perkembangan. Wallahu a’lam. (M Khalimi-Hengki Ferdiansyah)