IMG-LOGO
Quote Islami

KH Ahmad Shiddiq tentang Tawasuth dalam Amar Ma’ruf Nahi Munkar

Kamis 11 Januari 2018 8:13 WIB
Share:
KH Ahmad Shiddiq tentang Tawasuth dalam Amar Ma’ruf Nahi Munkar
KH Ahmad Shiddiq, Rais ‘Aam PBNU tahun 1984-1991, mengatakan, “Dalam ber-amar ma’ruf dan ber-nahi munkar,watak tawasuth juga tetap menjadi pegangan pokok. Demikian pula dalam pergaulan antara manusia di tengah-tengah masyarakat majemuk. Tawasuth dalam Islam bukanlah hasil dari dialektika tesis dan antitesis yang kemudian menimbulkan sintesis. Tawasuth Islam sudah ditetapkan oleh Allah SWT sesuai “strategi dan skenario agung.

Garapan pokok Islam adalah da‘wah ila-Llâh (ud‘û ilâ sabîli rabbika/wa man ahsana qaulan min man da‘â ila-Lâh, mengajak manusia untuk menempuh jalan Allah, jalan yang diridhai oleh Allah, jalan yang ditunjukkan oleh Allah SWT melalui Rasul-Nya. Dengan membawa Islam dan untuk melaksanakan Islam itulah Allah SWT mengutus para Rasul-Nya.

Berbagai macam sarana dapat dipergunakan untuk da‘wah ila-Llâh ini, mulai dari harta benda, tenaga, ilmu, teknologi, wibawa, lembaga sosial dan negara, sebagai salah satu wujud persekutuan sosial plus kekuasaan di dalamnya, juga merupakan salah satu sarana untuk menciptakan tata kehidupan yang diridhai oleh Allah pula, menuju rahmatan lil ‘âlamîn.”

(Penggalan wawancara KH Fahmi D Saifuddin dengan KH Ahmad Shiddiq yang tertuang dalam buku "Islam, Pancasila,dan Ukhuwah Islamiyah". Buku yang terbit pertama kali pada tahun 1985 ini merupakan rangkuman dari rekaman wawancara dalam beberapa kali kesempatan sejak sebelum Munas Alim Ulama tahun 1983 hingga jelang Rapat Pleno Gabungan PBNU pada pertengahan tahun 1985)

(Red: Mahbib)

Tags:
Share:
Kamis 3 Agustus 2017 18:30 WIB
Andai Orang Bodoh Mau Berhenti Komentar
Andai Orang Bodoh Mau Berhenti Komentar

لِأَجْلِ الجُهَّالِ كَثُرَ الخِلَافُ بَيْنَ النَّاسِ
وَلوْ سَكَتَ مَنْ لَايَدْرِيْ لَقَلَّ الخِلَافُ بَيْنَ الخَلْقِ

"Karena orang-orang dungulah terjadi banyak kontroversi di antara manusia. Seandainya orang-orang yang bodoh berhenti bicara, niscaya berkuranglah pertentangan di antara sesama." (Imam al-Ghazali dalam kitab "Faishilut Tafriqah bainal Islâm wal Zindiqah")

Kebodohan seyogianya memang melahirkan semangat untuk belajar dan menahan diri mengomentari segala hal. Ketika mereka secara leluasa turut berbicara apa pun yang ada di sekelilingnya, saat itulah sebuah malapetaka bias terjadi.

Di era dunia maya yang amat demokratis ini, semua orang punya kesempatan sama untuk mengungkapkan apa yang ada di benaknya. Masalah timbul ketika tingginya semangat untuk berekspresi tak seiring dengan bekal tingginya pengetahuan dan keahlian yang dimiliki. Yakni, ketika kompleksitas politik dianalisa dan dikomentari oleh orang-orang amatiran, fatwa agama dikeluarkan orang-orang yang baru belajar agama, dan seterusnya. Akibatnya, dunia menjadi bising dan gaduh sebagaimana yang kita dapati di media sosial belakangan ini.

Menurut Imam al-Ghazali, perselisihan di dunia ini dipicu oleh ketidasanggupan kaum bodoh untuk berhenti menanggapi hal yang tidak ia pahami dan kuasai dengan baik. Harus diingat pula, manusia senantiasa dalam keterbatasan. Pandai dalam segala hal adalah sesuatu yang mustahil. Misalnya, orang yang mahir soal seni belum tentu ia mahir pula soal ekonomi; orang yang pandai tentang politik, belum tentu pandai pula di bidang agama. Begitu juga sebaliknya. Sehingga, yang dibutuhkan adalah rasa tahu diri akan kapasitas diri sendiri. Wallâhu a‘lam.

Jumat 17 Maret 2017 15:30 WIB
Mungkinkah Mencari Teman Tanpa Cela?
Mungkinkah Mencari Teman Tanpa Cela?

مَنْ طَلَبَ أَخًا بِلاَ عَيْبٍ بَقِيَ بلاَ أَخٍ

“Siapa mencari teman tanpa cela, ia selamanya bakal tanpa teman.” [Maqalah]

Tak ada teman yang sempurna, sebagaimana tidak ada manusia tanpa kesalahan dan kelupaan. Karena itu, pilih-pilih teman demi mendapatkan yang tanpa cela merupakan pekerjaan sia-sia belaka. Teman, siapa pun ia, pasti memiliki cela dan itulah tugas kita sebagai sesama teman untuk mengingatkan, bukan justru menjauhinya. Pesan ini senada kasus orang mencari pasangan (teman hidup). Masing-masing kita memang tidak dituntut untuk menjadi sempurna, melainkan saling menyempurnakan. Wallahu 'alam
Senin 13 Februari 2017 15:0 WIB
Perintah Al-Qur'an ketika Berbicara
Perintah Al-Qur'an ketika Berbicara
وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا

“..dan berbicaralah kepada orang-orang dengan baik..” [QS al-Baqarah: 83]


Dalam kitab Tafsir Jalalain dijelaskan bahwa ucapan yang baik itu di antaranya adalah ucapan yang jujur, lembut, dan yang mengandung ajakan untuk melakukan kebaikan dan menghindari keburukan. Ayat ini satu rangkaian dengan pembahasan tentang Bani Israil yang sudah bersumpah untuk tidak menyembah selain Allah, serta bebruat baik kepada kedua orang tua, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin. Ayat 83 Surat al-Baqarah ini juga memerintahkan mereka untuk mendirikan shalat dan menunaikan zakat. Wallâhu a‘lam