IMG-LOGO
Doa

Doa saat Kendaraan Selip

Kamis 18 Januari 2018 23:7 WIB
Share:
Doa saat Kendaraan Selip
(© otoblid)
Suatu kali kita mengalami kesulitan saat mengendarai motor, mobil, atau kendaraan lainnya. Kita kesulitan mengendalikan kendaraan tersebut karena masalah mesin atau selisih jalan dengan kendaraan lain sehingga kita hampir mengalami kecelakaan.

Dalam menghadapi kendaraan selip, kita dianjurkan untuk mengucapkan kalimat yang baik-baik, bukan umpatan-umpatan kasar atau kotor. Rasulullah SAW menganjurkan kita untuk membaca bismillah dalam posisi sulit seperti itu.

روينا في سنن أبي داود عن أبي المليح التابعي المشهور عن رجل قال: كنت رديف النبي صلى الله عليه وسلم فعثرت دابته فقلت: تعس الشيطان ،فقال: لا تقل تعس الشيطان، فإنك إذا قلت ذلك تعاظم حتى يكون مثل البيت ويقول: بقوتي، ولكن قل : بِسْمِ اللهِ، فإنك إذا قلت ذلك تصاغر حتى يكون مثل الذباب

Artinya, “Diriwayatkan kepada kami di kitab Sunan Abu Dawud dari Abul Malih, seorang tabiin terkenal, dari salah seorang sahabat, ia berkata bahwa ia pernah menumpang ikut dalam kendaraan Rasulullah SAW. Di tengah jalan kendaraan itu mengalami selip. Saya spontan mengucap, ‘Celaka setan.’ Rasulullah SAW mengingatkan, ‘Jangan berkata, ‘Celaka setan.’ Kalau kaukatakan, ia akan membesar hingga sebesar rumah dan ia akan berkata, ‘Demi kekuatanku.’ Tetapi ucaplah, ‘Bismillah.’ Kalau kaukatakan itu, maka setan akan mengecil sampai seukuran seekor lalat,’” (Lihat Imam An-Nawawi, Al-Adzkar, Kairo, Darul Hadits, 2003 M/1424 H, halaman 290).

Dengan doa ini, kita berharap Allah memberikan keselamatan kepada kita selama berkendaraan dari segala macam bentuk gangguan dan kemungkinan kecelakaan. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)
Tags:
Share:
Rabu 17 Januari 2018 21:45 WIB
Doa untuk Jaga Mulut dari Ucapan Menyakitkan
Doa untuk Jaga Mulut dari Ucapan Menyakitkan
(© pinterest)
Sebagian dari kita mengalami kesulitan untuk mengendalikan ucapan. Kita terdorong untuk mengomentari apa saja dengan kalimat-kalimat yang tidak sambung dan sering kali dengan ucapan tajam menyakitkan. Tidak jarang kita mengumpat atas masalah orang lain yang kita tidak berkepentingan dengannya.

Karena kebiasaan itu, tanpa disadari orang-orang di sekita kita mulai menjauh dan menjaga jarak karena ucapan tajam dan mulut kotor kita. Banyak orang tersakiti oleh ucapan kita. Sampai di sini, bahaya  sudah hadir di tengah kita.

Oleh karena itu, sebelum jauh sampai bahkan pertikaian atau pengucilan sebagai sanksi sosial, kita dianjurkan untuk melakukan introspeksi dan kerap menahan diri untuk tidak dengan ringan berkata tajam. Kita juga dianjurkan memperbanyak istighfar sebagai bentuk doa kepada Allah untuk mengontrol ucapan kita mana yang perlu dikatakan dan mana yang tidak perlu. Istighfar ini merupakan anjuran Rasulullah SAW untuk Hudzaifah RA yang mengadukan keluhannya.

روينا في كتابي ابن ماجه وابن السني عن حذيفة رضي الله عنه قال: شكوت إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم ذرب لساني، فقال: أين أنت من الاستغفار؟ إني لأستغفر الله عز وجل كل يوم مائة مرة

Artinya, “Diriwayatkan kepada kami di kitab Ibnu Majah dan Ibnu Sunni dari Hudzaifah RA, ia berkata, ‘Aku mengadu kepada Rasulullah SAW perihal kotornya ucapanku.’ Rasulullah SAW mengingatkan, ‘Kamu di mana di saat-saat istighfar? Sungguh, aku beristighfar kepada Allah setiap hari seratus kali,’” (Lihat Imam An-Nawawi, Al-Adzkar, Kairo, Darul Hadits, 2003 M/1424 H, halaman 289-290).

Istighfar di sini dipahami sebagai permohonan ampunan kepada Allah atas kotornya mulut kita. Tetapi istighfar di sini juga bermakna doa agar Allah berkenan meningkatkan kewaspadaan dan keterjagaan kita dalam mengendalikan ucapan kita. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)
Selasa 16 Januari 2018 9:1 WIB
Doa saat Kaki Kesemutan atau Keram
Doa saat Kaki Kesemutan atau Keram
Ilustrasi (via hna.de)
Sekali waktu bangun tidur, kita pernah juga tak mampu menggerakkan anggota tubuh kita. Sekali waktu juga kita mengalami kesemutan pada tangan atau kaki di tengah asyik berbincang dengan para sahabat. Pada saat itu kita dianjurkan untuk bertawassul kepada Rasulullah SAW.

Lafal yang bisa dibaca antara lain adalah:

يَا مُحَمَّدُ (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ)

Yâ Muhammad, shallallâhu alaihi wa sallama

Artinya, “Wahai junjungan kami, Muhammad shallallâhu alaihi wa sallama.”

Tawasul ini diamalkan oleh para sahabat Rasulullah SAW saat mengalami keram atau kesemutan pada salah satu anggota tubuhnya. Di sinilah salah satu keistimewaan tawasul kepada Nabi SAW sebagai riwayat berikut ini:

روينا في كتاب ابن السني عن الهيثم بن حنش قال : "كنا عند عبد الله بن عمر رضي الله عنهما فخدرت رجله ، فقال له رجل : اذكر أحب الناس إليك ، فقال : يا محمد (صلى الله عليه وسلم) ، فكأنما نشط من عقال"

Artinya, “Diriwayatkan kepada kami di kitab Ibnu Sunni dari Al-Haitsam bin Hanasy, ia berkata, ‘Ketika kami berada di dekat Abdullah bin Umar RA, lalu ia merasa kakinya tak dapat digerakkan, seseorang menganjurkan, ‘Sebutlah nama orang yang paling kaucintai.’ Ibnu Umar RA menyebut, ‘Ya Muhammad (shallalahu alaihi wa sallam).’ Lalu ia merasa seperti bebas dari belenggu,’” (Lihat Imam An-Nawawi, Al-Adzkar, Kairo, Darul Hadits, 2003 M/1424 H, halaman 287).

Selain Ibnu Umar RA, tawasul saat kaki kesemutan atau keram juga diamalkan oleh sahabat Ibnu Abbas RA. Keduanya merupakan sahabat terkemuka Rasulullah SAW dalam bidang agama sebagai riwayat berikut ini:

وروينا فيه عن مجاهد قال : "خدرت رجل رجل عند ابن عباس، فقال ابن عباس رضي الله عنهما : اذكر أحب الناس إليك ، فقال : محمد (صلى الله عليه وسلم) فذهب خدره

Artinya, “Diriwayatkan kepada kami di kitab Ibnu Sunni dari Mujahid, ia menceritakan bahwa suatu hari seseorang mengeluhkan kakinya yang keram atau kesemutan di dekat Ibnu Abbas RA. Ibnu Abbas RA lalu menganjurkan, ‘Sebutlah nama orang yang paling kaucintai.’ Orang yang mengeluh lalu menyebut, ‘Ya Muhammad (shallalahu alaihi wa sallam).’ Lalu lenyap kesemutan atau keram pada kakinya,’” (Lihat Imam An-Nawawi, Al-Adzkar, Kairo, Darul Hadits, 2003 M/1424 H, halaman 287).

Oleh karena itu, kita dianjurkan sedapat mungkin bertawasul kepada Rasulullah atau banyak membaca shalawat di sela perbincangan kita dengan siapapun. Selain bernilai ibadah, tawasul dan baca shalawat juga menyimpan keistimewaan yang bermanfaat untuk fisik kita. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)

Selasa 16 Januari 2018 0:1 WIB
Doa ketika Sulit Tinggalkan Maksiat
Doa ketika Sulit Tinggalkan Maksiat
(via Portalsatu.com)

Sebagai manusia, sebagai ciptaan Allah SWT, kita diberi anugerah sekaligus amanat oleh-Nya dalam menjalani bahtera kehidupan ini. Allah SWT menjadikan manusia sebagai mahluk yang istimewa dengan diberikan ikhtiar, yaitu bisa memilih mana yang baik dan mana yang buruk.

Malaikat sudah tentu taat kepada-Nya. Manusia jika taat bisa lebih mulia dari malaikat. Tetapi jika sebaliknya, kita bisa lebih bobrok dan hina dari hewan. Naudzubillah.

Makanya kita dituntut untuk selalu bersyukur atas ketaatan yang Allah berikan pada kita, hakikatnya ketaatan itu adalah nikmat yang besar, berupa shalat, bangun malam, berpuasa, bermunajat kepada-Nya, semua itu dengan izin-Nya. Begitu juga ketika kita terjerumus dalam kemaksiatan, hendaknya tidak berputus asa dari rahmat-Nya.

Setiap orang pasti memiliki riwayat hitam dalam hidupnya berupa kemaksiatan kepada Allah SWT. Adakalanya kita sulit sekali meninggalkan kemaksiatan tersebut. Sebagaimana dikatakan dalam kitab Mawa’izh Al-Usfuriyyah, surga itu dekat dengan hal-hal yang dibenci dan neraka itu dekat dengan hal-hal yang disukai. Artinya, untuk melaksakan kebaikan yang berakibat ganjaran dari Allah SWT itu menjalaninya lebih sulit dari pada bermaksiat yang memang kelihatannya nikmat, namun hanya sesaat.

Syekh Mutawalli As-Sya’rawi berkata, “Kamu melakukan sesuatu yang haram? Kamu tahu itu haram tapi tidak bisa meninggalkannya? Bacalah doa ini:”

أللهمَّ احْرمْنِي لَذَّةَ مَعْصِيَتِكَ، وَارْزُقْنِي لَذَّةَ طَاعَتِكَ

Allâhumma ahrimnî ladzdzata ma‘shiyatika, warzuqnî ladzdzata thâ‘atika.

Artinya, “Ya Allah, luputkan aku dari kelezatan maksiat kepada-Mu, dan berikanlah aku kelezatan untuk taat kepada-Mu.”

Demikian doa supaya mudah meninggalkan maksiat, dan selalu berharap bahwa ampunan Allah SWT sangatlah besar bagi hamba-Nya. Semoga bermanfaat. Wallahu a‘lam. (Amien Nurhakim)