IMG-LOGO
Trending Now:
Ilmu Hadits

Macam-Macam Hadits Dhaif (3)

Senin 29 Januari 2018 13:4 WIB
Share:
Macam-Macam Hadits Dhaif (3)
(© pinterest)
Sebagaimana dijelaskan sebelumnya, ada dua penyebab utama kedhaifan hadits: rantaian sanadnya tidak bersambung dan perawi haditsnya tidak kredibel. Penyebab perawi hadits tidak kredibel ini ada dua pula: moralitasnya rusak (tidak adil) dan hafalannya tidak kuat.

Pembagian hadits dhaif karena rusaknya moralitas perawi sudah dibahas pada tulisan sebelumnya, seperti hadits maudhu’, munkar, dan matruk.

Tulisan kali ini akan membahas pembagian hadits dhaif berikutnya, yaitu lantaran lemahnya hafalan perawi. Di antara macam hadits dhaif yang disebabkan oleh lemahnya hafalan perawi adalah maqlub, mudraj, dan muththarib. Penjelasannya berikut ini:

Maqlub
Mahmud Thahan dalam Taisiru Musthalahil Hadits mendefenisikan hadits maqlub dengan kalimat berikut ini:

إبدال لفظ بآخر في سند الحديث أو متنه بتقديم أو تأخير ونحوه

Artinya, “Hadits yang sanad atau matannya berubah karena ada lafal yang mestinya diakhirkan tapi didahulukan, atau yang mestinya di awal tapi diakhirkan.”

Terjadi perubahan dalam sanad ataupun matan hadits disebabkan oleh kurang kuatnya hafalan perawi. Akibatnya, susunan sanad ataupun matan hadits terbolak-balik. Misalnya, dalam sanad hadits nama perawi mestinya Ka’ab bin Murrah, tapi karena hafalan perawi tidak kuat, akhirnya berubah menjadi Murrah bin Ka’ab.

Perubahan itu tidak hanya terjadi pada sanad, dalam beberapa kasus juga terjadi pada matan hadits. Misalnya, dalam sebuah riwayat dari Abu Hurairah disebutkan bahwa ada tujuh kelompok yang mendapatkan naungan di hari akhirat kelak, di antaranya:

رجل تصدق بصدقة فأخفاها حتى لا تعلم يمينه ما تنفق شماله

Artinya, “Orang yang tidak ria ketika bersedekah, sehingga tangan kanannya tidak mengetahui apa yang disedekahkan oleh tangan kirinya.”

Sementara dalam riwayat lain, sebagian rawi meriwayatkan hadits di atas dengan redaksi yang terbalik, meskipun substansi hadits pada hakikatnya tidak berubah. Redaksi lain berbunyi:

حتى لا تعلم شماله ما تنفق يمينه

Artinya, “Tangan kirinya tidak mengetahui apa yang disedekahkan oleh tangan kanannya.”

Mengubah atau membolak-balik susunan hadits, baik matan ataupun sanadnya, jelas tidak boleh. Namun dalam beberapa kondisi dibolehkan, seperti yang dijelaskan Mahmud Thahan, khususnya pada saat menguji hafalan perawi atau karena perawi itu lupa dengan catatan kesalahannya tidak fatal. Kalau kesalahannya fatal, maka termasuk ke dalam hadits dhaif yang tidak bisa diamalkan.

Mudraj
Hadits kategori Mudraj ialah:

ما غير سياق اسناده أو أدخل في متنه ما ليس منه بلا فصل

Artinya, “Hadits yang susunan sanadnya berubah atau di dalam matannya ditemukan tambahan yang sebetulnya bukan bagian dari matan hadits, tanpa ada pemisah.”

Mudraj berati hadits yang di dalamnya terdapat tambahan atau sisipan dari perawi yang sebenarnya bukan bagian dari hadits. Misalnya, Abu Hurairah meriwayatkan:

أسبغوا الوضوء، ويل للاعقاب من النار

Artinya, “Sempurnakan wudhu, celakalah mata kaki dari api neraka.”

Redaksi “أسبغوا الوضوء” pada hadits di atas bukanlah bagian dari perkataan Nabi, tetapi perkataan Abu Hurairah. Menurut Mahmud Thahan, menambahkan kata atau kalimat dalam hadits hukumnya diharamkan, kecuali kalau tujuannya untuk menjelaskan kalimat yang asing atau tidak jelas maknanya.

Mudhtharib
Mahmud Thahan dalam Taisiru Musthalahil Hadits menjelaskan, hadits Mudhtharib adalah sebagai berikut:

ما روي على أوجه مختلفة متساوية في القوة

Artinya, “Hadits yang memiliki varian riwayat dan kualitasnya sama.”

Maksudnya adalah hadits yang diriwayatkan dari berbagai macam jalur periwayatan, maknanya saling kontradiksi, dan tidak bisa dikuatkan salah satunya karena kualitasnya sama.

Kontradiksi periwayatan itu bisa terjadi pada satu orang ataupun kelompok. Bisa jadi satu orang meriwayatkan beberapa hadits dengan tema yang sama, tetapi saling kontradiksi, atau sebagian perawi bertentangan riwayatnya dengan perawi yang lain.

Dikarenakan tidak bisa ditarjih ataupun dikompromikan, keseluruhan riwayat tersebut tidak diamalkan, kecuali kalau ditemukan solusinya. Wallahu a’lam. (Hengki Ferdiansyah)
Share:
Sabtu 27 Januari 2018 11:5 WIB
Peran Fundamental Sistem Sanad bagi Ajaran Islam
Peran Fundamental Sistem Sanad bagi Ajaran Islam
Islam adalah ajaran yang memerhatikan sanad keilmuan. Kalangan ulama penting mengetahui asal suatu ajaran agama, sehingga apa yang didapatkan dapat dipertanggungjawabkan. Seorang ulama bernama Abdullah bin Al-Mubarak menyebutkan, “Isnad adalah sebagian dari agama. Tanpa adanya sanad, maka siapa saja akan berbicara apa saja yang ia kehendaki.”

Ajaran Islam disampaikan dari generasi ke generasi, dari kalangan ulama ke murid-muridnya. Semua ajaran ini diharapkan tersambung hingga Rasulullah SAW, supaya ajaran Islam benar-benar terjaga. Lebih-lebih dalam bidang hadits, para ahli sangat ketat bersikap.

Adanya sistem sanad dalam riwayat ini begitu diperhatikan ulama. Salah satu wujud perhatian ini adalah salah satu syarat hadits shahih yaitu tersambungnya sanad dari satu perawi hadits dengan lainnya, hingga sampai kepada Nabi. Meski pengumpulan hadits baru berkembang pada kurun kedua hijriyah, namun perhatian kepada sanad ini sudah dilakukan sejak masa sahabat.

Imam Muslim mencatat dalam pengantar kitab Shahih Muslim dari riwayat Abdullah bin ‘Abbas, “Sungguh kami menghapal hadits, dan hadits itu dihapalkan di sisi Rasulullah.”

Lebih lanjut Abdullah bin Abbas menuturkan bahwa jika seseorang berkata, “Rasulullah bersabda ini...”, maka para sahabat akan sangat mencermatinya. Jika mereka tidak mengetahui asalnya dari Nabi, maka mereka tidak akan menyampaikannya. Demikian perhatian para sahabat kepada penyandaran sanad kepada Nabi.

Persebaran hadits semakin meluas setelah wafatnya Nabi, seiring perluasan dakwah Islam. Sanad hadits semakin diperhatikan, terlebih pada masa memanasnya perpolitikan di masa Khalifah Ali bin Abu Thalib, yang oleh para ulama disebut sebagai masa fitnah. Karena konflik politik ini mulai disertai klaim-klaim atas Nabi, umat Islam tersadar akan pentingnya sanad dalam ajaran agama.

Berlanjut ke era tabiin, salah satu pemuka tabiin bernama Muhammad bin Sirin menyatakan setelah terjadinya masa fitnah tersebut, “Sungguh ilmu ini (yaitu tentang hadits dan sanadnya) adalah bagian dari agama, maka lihatlah dari siapa kalian mengambil ajaran agama.”

Salah satu peletak dasar ilmu hadits, yakni Imam Al-Hakim An-Naisaburi menyebutkan dalam Ma’rifatu ‘Ulumil Hadits bahwa jika tiada orang yang memerhatikan sanad, serta orang-orang enggan mempelajari dan menjaganya, maka ajaran Islam tidak akan berbekas dan orang-orang akan abai pada hadits. Bahkan turut membikin-bikin hadits dan memalsukan sanad.

Berkat upaya generasi awal umat Islam, maka sunah Nabi bisa tersampaikan dan dipertanggungjawabkan sanadnya. Terlebih sejak berkembangnya pencatatan dan pengumpulan hadits pada masa khalifah Umar bin Abdul Aziz, sistem penulisan sanad semakin ketat untuk menyeleksi kualitas hadits yang beredar di masyarakat. Dalam kajian hadits, sistem sanad adalah satu elemen yang diteliti secara ketat untuk menjaga eksistensi hadits Nabi sebagai sumber ajaran Islam. (Muhammad Iqbal Syauqi)
Jumat 26 Januari 2018 18:8 WIB
Macam-Macam Hadits Dhaif (2)
Macam-Macam Hadits Dhaif (2)
Penyebab hadits ditolak atau tidak bisa diterima ada dua: sanadnya tidak bersambung dan di dalam rangkaian sanadnya terdapat perawi yang bermasalah. Pembagian hadits dhaif dilihat dari terputusnya sanad sudah dibahas pada tulisan sebelumnya. Sebab itu, tulisan ini difokuskan pada penyebab kedua, perawi bermasalah.

Masalah perawi hadits biasanya terkait dengan dua aspek: ‘adalah dan dhabt. ‘Adalah berkaitan dengan moralitas atau integritas, sementara dhabt berkaitan dengan kekuatan hafalan.

Sebagaimana dijelaskan Mahmud Thahan dalam Taisiru Mustalahil Hadits, penyebab rusaknya ‘adalah seorang perawi karena suka berbohong, fasik atau pelaku maksiat, melakukan bid’ah tercela, dan lain-lain. Sementara penyebab rusaknya dhabt adalah karena sering lupa, hafalannya tidak bagus, sering salah, dan berbeda dengan orang yang lebih kuat hafalannya.

Berdasarkan penyebab di atas, ulama hadits membagi hadits dhaif menjadi beberapa macam. Di antara pembagiannya sebagai berikut:

Maudhu
Maudhu’ termasuk hadits yang paling parah kedhaifannya, bahkan sebetulnya maudhu’ bukanlah hadits karena tidak termasuk dari perkataan, perbuatan, dan ketetapan Rasul. Sebab itu, sebagian ulama tidak memasukkan maudhu’ sebagai kategori hadits dhaif.

Dalam musthalah hadits, maudhu’ berati:

هو الكذب المختلق المصنوع المنسوب إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم

Artinya, “Berita bohong yang dibuat-buat dan disandarkan kepada Rasulullah.”

Contoh hadits maudhu’ ialah hadits yang dibuat Muhammad bin Sa’id As-Syami. Dia mengatakan bahwa Humaid meriwayatkan hadits dari Anas, kemudian dari Rasulullah yang berkata:

أنا خاتم النبيين لا نبي بعدي إلا أن يشأ الله

Artinya, “Aku penutup para Nabi. Tidak ada Nabi setelahku, kecuali bila Allah menghendaki.”

Pernyataan di atas bukanlah perkataan Rasulullah, tetapi perkataan yang dibuat Muhammad bin Sa’id. Ini termasuk contoh hadits maudhu’ dan tidak boleh disebarluaskan kecuali dibarengi dengan penjelasan status haditsnya.

Matruk
Matruk ialah:

هو الحديث الذي في اسناده راو متهم بالكذب

Artinya, “Hadits yang terdapat di dalam sanadnya rawi yang terduga kuat berdusta.”

Mahmud Thahan menjelaskan, perawi hadits diduga kuat berdusta karena dua alasan: pertama, hadits tersebut tidak diriwayatkan kecuali darinya dan bertentangan dengan kaidah umum atau prinsip umum beragama; Kedua, di dalam sanad hadits ditemukan seorang perawi yang dalam kehidupan sehari-harinya suka berbohong.

Cara mengetahui perawi hadits berdusta atau tidak adalah dengan merujuk kitab biografi perawi hadits yang sudah didokumentasikan oleh ulama hadits. Kitab biografi tersebut menjelaskan nama lengkap perawi, guru dan muridnya, biografi kehidupannya, termasuk kredibilitas dan kekuatan hafalannya. Di antara buku biografi perawi hadits yang populer adalah Siyar A’lamin Nubala karya Adz-Dzahabi, Al-Jarhu wat Ta’dil karya Abu Hatim Ar-Razi, dan lain-lain.

Munkar
Ulama tidak satu suara dalam mendefenisikan hadits munkar. Ada banyak defenisi hadits munkar, tetapi yang paling populer ada dua defenisi:

هو الحديث الذي في اسناده راو فحش غلطه أو كثرت غفلته أو ظهر فسقه

Artinya, “Hadits yang di dalam sanadnya terdapat rawi yang sering salah atau suka lupa, dan tampak kefasikannya.”

Ada juga yang mendefenisikan dengan:

هو ما رواه الضعيف مخالفا لما رواه الثقة

Artinya, “Hadits yang diriwayatkan perawi dhaif bertentangan dengan perawi yang tsiqah.”

Dari dua defenisi di atas dapat dipahami bahwa hadits munkar adalah hadits yang diriwayatkan oleh perawi yang sering lupa, sering melakukan kesalahan, dan berbuat fasik terang-terangan. Akibatnya, hadits yang diriwayatkannya itu bertentangan dengan perawi yang tsiqah (kredibel).

Ketiga macam hadits dhaif di atas: maudhu’, matruk, dan munkar termasuk tingkatan hadits dhaif yang paling parah. Artinya, tidak boleh dijadikan landasan dalam beramal, meskipun untuk fadhail a’mal, keutamaan amal ibadah tertentu untuk motivasi. Wallahu a’lam. (Hengki Ferdiansyah)

Rabu 24 Januari 2018 11:0 WIB
Apakah Hadits Nabi Dicatat Sejak Masa Sahabat?
Apakah Hadits Nabi Dicatat Sejak Masa Sahabat?
Ilustrasi (via wejdan.org)
Dalam kajian ilmu hadits, para ulama kebanyakan menyebutkan bahwa permulaan hadits disusun dan dicatat adalah sekitar abad kedua Hijriyah oleh Ibnu Syihab az Zuhri, atas titah Khalifah Umar bin Abdul Aziz dari Dinasti Umayyah. Pendapat ini dikuatkan oleh Imam Malik bin Anas.

Disebabkan oleh jauhnya jarak waktu antara masa hidup Nabi dengan mulai disusunnya kitab-kitab hadits, hal ini menjadi sasaran kritik pengkaji hadits orientalis maupun kalangan Muslim sendiri. Keaslian hadits sebagai sumber hukum Islam diragukan.

Mereka menyebutkan bahwa keterlambatan penyusunan hadits ini disebabkan beberapa kecenderungan. Pertama, konon budaya lisan di periode awal Islam lebih populer bagi kalangan sahabat dan tabi'in, begitu pula kemampuan hafalan mereka yang luar biasa. Alasan kedua adalah memang Nabi melarang para sahabat untuk menulis hadits. Kemudian yang terakhir, para sahabat memang kebanyakan tidak mampu menulis.

Bagaimana mungkin sejarah yang sudah terpaut nyaris dua abad bisa dicatat secara tepat? Sejauh mana budaya lisan bisa dipercaya dibanding tulisan?

Menjawab hal itu, seorang Begawan hadits Syekh Muhammad Mustafa Azami menyatakan bahwa hadits Nabi telah dicatat sejak masa sahabat. Dalam bukunya yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia berjudul Hadis Nabawi dan Sejarah Kodifikasinya, Syekh Azami menyimpulkan beberapa catatan penting terkait bagaimana hadits sebenarnya telah dicatat sejak masa Rasulullah hidup.

Para sahabat, berikut tabi'in pendahulu, dianggap lebih mengutamakan kemampuan hafalan dan budaya lisan. Hal ini menjadi musykil melihat realitas bahwa meski kecerdasan seseorang bisa sangat hebat, namun tak bisa dipungkiri bahwa melakukan generalisir, gebyah uyah, bahwa seluruh sahabat memang hebat hafalannya adalah kesimpulan yang terburu-buru. Kecerdasan manusia tentu sangat beragam. Maka, pencatatan hadits dibutuhkan sejak masa awal Islam.

Selanjutnya adalah larangan Rasulullah untuk menulis hadits. Azami meneliti sekian hadits yang menjadi alasan bahwa hadits dilarang ditulis oleh Rasulullah. Dari sekian riwayat, hanya satu yang menurut beliau bisa dipertimbangkan, yaitu riwayat dari Abu Said al Khudri dalam Shahih Muslim.

لَا تَكْتُبُوا عَنِّي، وَمَنْ كَتَبَ عَنِّي غَيْرَ الْقُرْآنِ فَلْيَمْحُهُ، وَحَدِّثُوا عَنِّي، وَلَا حَرَجَ، وَمَنْ كَذَبَ عَلَيَّ - قَالَ هَمَّامٌ: أَحْسِبُهُ قَالَ - مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

Artinya: “...Janganlah menulis ucapanku, dan barangsiapa menulis ucapanku selain Al-Qur’an, hendaknya ia menghapusnya. Dan barangsiapa mendusta atas diriku – kata Hammam, saya kira. Nabi bersabda – dengan sengaja, maka bersiaplah untuk masuk neraka.”

Terkait larangan Nabi untuk menulis hadits sebagaimana di atas, Imam Khatib al-Baghdadi menyebutkan bahwa beberapa sahabat dan tabi’in memiliki motif tersendiri mengapa mereka enggan untuk mencatat hadits. 

Salah satu alasan yang populer adalah khawatir tercampurnya isi hadits dengan Al Qur’an. Nabi melarang menulis hadits, bersamaan dengan menulis Al-Qur’an alih-alih di lembar yang sama agar tidak campur aduk. Demikian penjelasan hadits di atas, sebagaimana dijelaskan Imam an Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim.

Nabi selama hidup banyak berurusan dengan banyak penguasa di luar Madinah.Terjadi surat menyurat dari Nabi kepada mereka. Dengan demikian, tentunya para sahabat banyak yang memiliki kemampuan menulis yang baik untuk tugas menulis surat itu. Begitupun Al-Qur’an yang juga banyak ditulis di lembaran maupun pelepah kurma. Alasan bahwa kebanyakan sahabat tidak dapat menulis dapat terbantahkan.

Banyak hadits-hadits shahih yang menyebutkan bahwa Nabi mengizinkan para sahabat untuk menulis hadits dari beliau, baik yang berupa surat, maupun pernyataan dan ibadah beliau. Beberapa sahabat seperti Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash, Ali bin Abu Thalib, disebutkan pernah menulis hadits dari Nabi.

Dari berbagai keterangan di atas, penting diketahui meskipun para sahabat dan tabi'in masa awal sangat memerhatikan kemungkinan tercampurnya lafal Al-Qur’an dan hadits, namun hal ini tidak menghalangi bahwa Nabi sendiri sudah memperkenankan hadits-hadits dari beliau untuk dicatat dan disebarkan ke generasi selanjutnya. 

Maka menolak hadits karena alasan bahwa ia tidak tercatat sedari masa Nabi, agaknya kurang tepat. Nabi sendiri memperkenankan hadits dan ucapan beliau ditulis selama tidak bersamaan dengan Al-Qur’an. Penjelasan ini kiranya dapat menambah semangat untuk mempelajari pribadi Nabi secara bijak. Wallahu a’lam. (Muhammad Iqbal Syauqi)