IMG-LOGO
Trending Now:
Hikmah

Sudahkah Kita Meresapi dan Mengamalkan Makna Basmalah?

Kamis 15 Maret 2018 22:45 WIB
Share:
Sudahkah Kita Meresapi dan Mengamalkan Makna Basmalah?
null
Bila ada yang beniat mengamalkan Al-Qur’an, mulailah dengan mengamalkan ayat pertamanya, yaitu basmallah dalam setiap aktivitas. Tanpa fondasi basmalah, maka ayat-ayat selanjutnya akan susah diamalkan. Ibarat akan membangun rumah, kuatkan dulu fondasinya. Untuk itu, kuatkanlah pemahaman dan pengamalan bismi-Llâhir rahmânir rahîm.
 
Di antara sekian nama-Nya yang agung, Allah tidak memilih al-Mâlik (Yang Maha Merajai), al-‘Azîz (Yang Maha Perkasa), al-Mutakabbir (Yang Maha Memiliki Kebesaran), dan lain-lain sebagai "kartu nama" untuk disebut hamba-Nya terus-menerus dalam setiap memulai aktivitas, tapi Dia memilih ar-Rahmân, ar-Rahîm (Maha Pengasih dan Maha Penyayang).
 
Ternyata yang pertama disebut dalam ayat Al-Qur’an adalah sifat pengasih dan penyayang. Sudahkah kita meniru sifat Allah ini? Dengan mengamalkan basmallah, maka kita belajar menyayangi orang lain, baik yang berbuat baik maupun berbuat buruk kepada kita. Wali Allah Rabi‘atul Adawiyah tidak memiliki rasa benci kepada iblis karena semua hatinya dipenuhi rasa kasih sayang. 
 
Bila ada setitik saja kebencian kepada manusia, mungkin karena kita belum mengenal dengan baik siapa pencipta manusia dan belum mengamalkan secara maksimal kandungan basmallah. Jika pun harus menghukum seseorang, hukumlah karena kasih sayang kita kepadanya, bukan karena benci. Sebagaimana hadits nabi yang kurang lebih maknanya, sayangilah siapa pun yang di bumi, maka yang di langit akan menyayangimu (irhamû man fil ardli yarhamkum man fis samâ’).
 
Selanjutnya, saya membayangkan kedahsyatan basmalah kurang lebih seperti ini. Seorang preman di pasar, ketika menyuruh anak buahnya yang baru gabung, mungkin akan berkata, "Ambil jatah kita dari orang-orang, bilang aja lo anak buah gue". Maka pungli pun dengan mudah didapat oleh sang anak buah yang baru meskipun badannya kerempeng.
 
Seorang pelanggar lalu lintas, ketika akan ditilang, bisa jadi akan berkata, "Saya saudaranya pejabat A." Maka polisi yang hendak menilang, yang tidak mau urusan jadi panjang, mungkin akan melepas pelanggar lalu lintas tadi.
 
Seorang oknum pejabat yang ingin saudaranya menang tender, mungkin akan berkata ke saudaranya "Sebut saja nama saya, panitia tendernya kenal baik dengan saya. Bahkan dulu ada yang anak buah saya." Maka urusan tender pun bisa jadi akan beres.
 
Baru menyebut nama orang-orang biasa saja, urusan bisa lancar, meski sebagian mungkin melanggar hukum dan bukan contoh yang baik. Apalagi bila kita menyebut nama Allah pemilik alam semesta. Bahkan istana Ratu Bilqis pun bisa pindah dengan perantaraan ahli ilmu yang mengucap basmalah. Dengan mengucap basmalah dalam setiap aktivitas, maka seolah kita berkata ke alam semesta, "Wahai alam semesta, saya hamba Allah. Maka tunduklah kepadaku atas nama Allah." Jika Allah berkehendak, maka Dia akan menundukkan alam semesta itu untuk hambaNya. Allahu a'lam.
 
Roziqin, Dosen Hukum Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) Jakarta.
 
Tags:
Share:
Kamis 15 Maret 2018 8:0 WIB
Cara Stephen Hawking Dukung Perjuangan Palestina
Cara Stephen Hawking Dukung Perjuangan Palestina
Fisikawan terkemuka di dunia Stephen Hawking meninggal dunia hari ini, Rabu (14/3), pada usia 76 tahun. Berita meninggalnya Hawking menghebohkan dunia. Pasalnya, dia dianggap sebagai orang yang memiliki kontribusi dan terobosan besar dalam bidang fisika dan kosmologi. Diantara teori yang dicetuskannya dan menjadi perhatian besar di jagat dunia sains adalah Teori Big Bang, Teori Gravitasi Kuantum, dan Radiasi Hawking.   

Selain sebagai seorang ilmuan yang cemerlang, Hawking juga dikenal sebagai orang yang mendukung perjuangan Palestina. Pada bulan Mei 2013, nama dan foto Hawking menjadi berita utama di banyak media internasional. Pasalnya, dia menolak hadir dan menjadi pembicara dalam sebuah acara konferensi yang diselenggarakan oleh Presiden pada saat itu Israel Shimon Peres di Yerusalem. 

Alasannya, Hawking menggap kebijakan pemerintah Israel terhadap Palestina cenderung menimbulkan bencana. Sebelumnya Hawking menerima sejumlah email dari akademisi Palestina. Mereka berharap Hawking untuk memboikot acara tersebut. Dan Hawking menyetujui hal itu. 

Dalam sebuah surat, Hawking menyatakan bahwa kalau seandainya jadi hadir dalam konferensi, ia akan menyampaikan apa yang dilakukan pemerintah Israel itu akan menyebabkan bencana. 

Keputusan Hawking untuk memboikot acara konferensi kepresidenan Israel tersebut disambut suka cita oleh para akademisi dan aktivis Palestina. 

Dukungan Hawking untuk bangsa Palestina tidak hanya itu. Tahun 2017 lalu, ia melakukan penggalangan dana di akun Facebooknya untuk disumbangkan ke Sekolah Tinggi Fisika Palestina (Palestinian Advanced Physics School). Dengan menggalang dana, Hawking juga berupaya untuk mendirikan sekolah-sekolah fisika lainnya di Palestina. 

Stephen Hawking lahir pada 8 Januari 1942 di Inggris. Ia belajar fisika di University College dan meneliti kosmologi di Cambridge University. Saat usianya menginjak 21 tahun, ia terkena penyakit amyotrophic lateral sclerosis (ALS) atau penyakit Lou Gehrig. Semenjak itu, ia divonis hanya bisa bertahan hidup selama dua tahun saja. Namun nasib berkata lain, ia terus hidup hingga usia 76 tahun.

A Brief History of Time, bukunya yang ditulis pada 1988  menjadi salah satu buku yang paling populer di dunia setelah terjual lebih dari 10 juta eksemplar. (A Muchlishon Rochmat)
Kamis 15 Maret 2018 3:0 WIB
Kiai Zarkasyi Rawalini dan Aroma Durian
Kiai Zarkasyi Rawalini dan Aroma Durian
Ada satu keanehan Kiai Zarkasyi Rawalini setelah meninggal. Aroma buah durian kadang tercium beberapa saat setelah kepergiannya.

Sebagaimana yang kita tahu, durian selain enak rasanya, harum baunya, dan mempunyai khasiat yang banyak, meski memiliki efek samping yang tidak dapat disepelekan, seperti kolesterol yang tinggi dan penyebab diabetes.

Semasa hidupnya, Kiai Zarkasyi sangat menginginkan memakan durian. Karena faktor usia yang tua, sehingga ia pun menahan diri. Tak mau ambil risiko. Akhirnya sampai akhir hayat pun tidak sempat mencicipi buah itu.

KH Uci Turtusi Pasar Kemis, Kiai Unari, Kiai Syahruwardi datang berta’ziyah untuk Kiai Zarkasyi. Tiba-tiba saja Ki Uci mencium bau durian. Ia pun bertanya kepada orang di sekitar area pekuburan.

“Saha ieu nu ngakan kadu? (siapa ini yang makan durian),” tanyanya. 

Orang-orang sekitar pun merasakan juga apa yang dicium oleh Kiai Uci. Padahal ketika itu bukan musim durian. Mereka langsung mencari kemana-mana tentang bau durian tersebut karena barangkali ada seseorang yang memakannya. Namun tak seorang pun ditemukan. Pencarian pun berakhir nihil karena memang tidak ada yang memakan buah durian di sekitaran area itu.

Peristiwa bau durian itu dialami juga keluarga Kiai Zarkasyi. Suatu hari ada salah satu anggota keluarga di rumah yang memakai minyak wangi khas yang biasa dipakai Kiai Zarkasyi. Ketika minyak wangi dibuka dan dipakai, lantas yang tercium bau durian di dalam rumah. Refleks keluarga itu pun teringat dengan abahnya.

Haul Kiai Zarkasyi selalu diperingati tiap tahunnya di Pondok Pesantren Al-Hasaniyah Rawalini berbarengan dengan haul sesepuh pondok itu. (Amien Nurhakim)

Selasa 13 Maret 2018 22:0 WIB
Sejumlah Karomah Rabi’ah al-Adawiyah
Sejumlah Karomah Rabi’ah al-Adawiyah
Rabi’ah al-Adawiyah adalah sedikit dari ulama sufi perempuan yang sangat disegani dalam sejarah peradaban Islam. Pemikiran dan laku spiritualnya terus dikaji hingga hari ini. Berbagai macam kisah hidupnya pun sudah banyak dikupas dan ditulis dalam banyak buku. 

Termasuk soal ajaran cinta (mahabbah). Selain Jalaluddin Rumi, Rabi’ah al-Adawiyah adalah seorang sufi yang mengusung mazhab cinta. Cintanya kepada Allah begitu dalam dan kuat. Sehingga ia tidak mampu mencintai yang lainnya karena cintanya hanya untuk Allah. 

Rabi’ah menyembah Allah dengan dasar cinta (hubb), bukan karena takut atau harap (roja’ dan khauf) sebagaimana kebanyakan orang. Karena saking cintanya kepada Allah, Rabi’ah pernah berujar bahwa ia tidak mendambakan surga dan tidak takut kalau dimasukkan neraka.

Rabi’ah dikenal sebagai sebagai hamba yang sangat patuh dan taat kepada Allah. Bahkan, setiap hembusan nafasnya selalu diiringi dengan dzikir kepada Allah. Dalam urusan beribadah kepada Allah, ia adalah orang sangat istiqomah. Ketaatan yang begitu tinggi kepada Allah membuatnya dikenal sebagai waliyullah (wali Allah). 

Memang, ada ungkapan bahwa hanya wali Allah yang mengetahui wali Allah lainnya (la ya’riful wali illa wali). Tapi sebagaimana yang dikemukana oleh Syekh Zarruq, setidaknya ada tiga sifat yang dimiliki seorang wali; mengutamakan Allah, (hatinya) berpaling dari makhluk-Nya, dan berpegang tegug pada syariat Nabi Muhammad SAW dengan benar. Jika merujuk pada indikator ini, maka Rabi’ah adalah memang seorang waliyullah.

Selain ketiga tanda tersebut, seorang waliyullah ‘biasanya’ memiliki karomah (sesuatu yang berbeda dari sewajarnya). Dalam hal ini, Rabi’ah juga memiliki cerita dan kisah yang menggambarkan karomahnya. Berikut adalah sejumlah karomah yang dimiliki oleh Rabi’ah al-Adawiyah sebagaimana yang tercantum dalam buku Rabi’ah; Pergulatan Spiritual Perempuan karya Margaret Smith. 

Pertama, ketika Rabi’ah sedang jalan-jalan di sebuah pegununang, ada banyak binatang buas yang mendekatinya. Anehnya, binatang-binatang tersebut tidak menyerang Rabi’ah dan sangat jinak kepadanya. Mereka bermain bersama. Tiba-tiba, Hasan al-Basri muncul dan mendekati Rabi’ah. Seketika binatang-binatang buas tersebut menampakkan wajah buasnya dan pergi meninggalkan Hasan al-Basri.

Kedua, suatu hari Rabi’ah melakukan perjalanan haji ke baitullah Mekkah dengan menaiki unta. Di tengah jalan, unta yang dinaiki tersebut mati. Langsung saja, Rabi’ah berdoa kepada Allah. Tidak lama setelah itu, untanya hidup kembali. Rabi’ah pun melanjutkan perjalanan hingga sampai ke baitullah dan pulang dengan menaiki unta yang sama, unta yang pernah mati itu.  

Ketiga, suatu malam ada dua orang teman Rabi’ah yang datang  kerumahnya. Mereka hendak melakukan diskusi bersama dengan Rabi’ah. Na’asnya, rumah Rabi’ah tidak memiliki lampu penerang. Lalu Rabi’ah meniup ujung jari-jarinya hingga kemudian mengeluarkan cahaya yang terang dan menerangi seluruh rumahnya sepanjang malam. Dengan demikian, mereka bisa berdiskusi hingga pagi hari.  

Keempat, pada suatu malam rumah Rabi’ah didatangi oleh tamu yang tidak diundang. Tamu tersebut hendak mencuri pakaian Rabi’ah. Ketika sudah mengangkut semua baju Rabi’ah dan hendak kabur, pencuri tersebut bingung karena tidak menemukan pintu keluar. Namun, ketika sang pencuri meletakkan barang curiannya tersebut, ia menemukan ada pintu keluar. Sang pencuri mengulang perbuatannya itu –mengambil dan meletakkan barang Rab’iah- sebanyak tujuh kali. 

Hingga akhirnya sang pencuri mendengar ada hatif (suara tanpa rupa) yang mengatakan; Wahai manusia, jangan engkau persulit dirimu sendiri. Perempuan ini telah mempercayakan dirinya kepada Kami selama bertahun-tahun. Setan pun tidak berani mendekatinya. Mendengan suara itu, pencuri tersebut lari terbirit-birit tanpa membawa secuil barangpun dari rumah Rabi’ah.

Kelima, suatu hari Hasan al-Basri mengajak Rabi’ah al-Adawiyah untuk salat di atas air. Rabi’ah merespons ajakan Hasan itu dengan sebuah jawaban yang ketus. Bagi Rabi’ah, adalah tidak perlu menunjukkan kemampuan spiritual untuk mencari kepopuleran duniawi. Tidak hanya itu, Rabi’ah kemudian melemparkan sajadahnya dan terbang di atasnya. Ia mengajak Hasan untuk naik di atas bersamanya sehingga lebih banyak orang yang mengetahuinya, daripada hanya sekedar salat di atas air. Hasan tahu jawaban yang diutarakan Rabi’ah itu adalah sindirian. Mendengar hal itu, Hasan hanya terdiam.

Selain kelima cerita di atas, tentu masih banyak lagi kisah-kisah yang menceritakan tentang karomah Rabi’ah al-Adawiyah. Namun satu yang perlu diketahui bahwa karomah yang diberikan kepada Rabi’ah adalah tanda bahwa Allah memberkahinya. (A Muchlishon Rochmat)