IMG-LOGO
Ilmu Tauhid

Enam Jenis Peristiwa Khariqul Adat

Selasa 20 Maret 2018 3:0 WIB
Share:
Enam Jenis Peristiwa Khariqul Adat
Khariqul adat berasal dari dua kata, yaitu khariq yang bermakna menyalahi atau menembus koyak, dan al-‘adat adalah kebiasaan. Jika digabungkan, khariqul adat berarti beberapa perkara yang menyalahi kebiasaan.

Dalam pembahasan ilmu tauhid, ada enam perkara yang dapat menyalahi kebiasaan. Itu semua hukumnya adalah boleh secara akal. Boleh secara akal dalam ilmu tauhid disebut juga ‘jaiz ‘aqli’ yang definisinya adalah sesuatu yang menerima ada dan tiada pada dzatnya. Artinya, ada dan tiadanya bisa diterima oleh akal, meskipun menyalahi adat dan kebiasaan.

Contoh, api itu panas, dan ia sudah menjadi adat (sudah biasanya) api itu bersifat panas. Namun ketika api tidak panas, sebutlah dingin, maka ia sudah menyalahi kebiasaan. Lantas, apakah secara hukum aqli bertentangan? Tentu tidak. Kita berpatokan pada definisi jaiz ‘aqli, yaitu sesuatu yang menerima ada dan tiada pada dzatnya. Ia dapat terjadi, juga tidak terjadi.

Apakah kenyataannya pernah terjadi api itu tidak panas? Jawabannya adalah pernah. Ketika Nabi Ibrahim hendak dibakar, nyatanya ia tidak terbakar. Allah SWT menjadikannya dingin.

Yang mempengaruhi kebiasaan adalah Allah SWT, bukan sesuatu itu sendiri. Contoh, cabai itu pedas. Namun, Allah menjadikannya pedas. Ketika cabai itu rasanya manis, maka otomatis ia menyalahi hukum adat. Ini sah saja bagi kita dengan patokan bahwa yang mempengaruhi/membuat (dalam ilmu tauhid biasa disebut mu’tsir) cabai itu pedas adalah Allah SWT.

Kitab Al-Haqâiqul Jaliyyah fî Syarh Nazhm Al-Kharîdatil Bahiyyah (Syekhah Syifa binti Hitou, Al-Haqâ’iqul Jaliyyah fî Syarh Nazhm Al-Kharîdatil Bahiyyah, halaman 21) menyebut enam perkara yang di luar kebiasaan.

1. Mukjizat
Mukjizat adalah perkara di luar kebiasaan yang diperlihatkan oleh Allah melalui rasul dan nabi-Nya untuk membenarkan kenabiannya. Contohnya, Nabi Ibrahim yang tidak terbakar oleh api karena Allah menjadikannya dingin, air keluar dari sela jari Nabi Muhammad SAW, Nabi Isa dapat menghidupkan orang mati dan banyak contoh mukjizat lainnya.

2. Al-Irhash
Irhash sama seperti mukjizat. Tetapi ia muncul sebelum masa kenabian (bi’tsah) sebagai pengantar atau permulaan dari alamat kenabian, seperti peristiwa bebatuan dan pepohonan yang mengucapkan salam kepada nabi Muhammad dan dibelahnya dada beliau ketika masa kanak-kanak.

3. Karamah atau Keramat
Karamah atau keramat sama seperti mukjizat. Namun karamah Allah perlihatkan melalui orang-orang saleh dan para auliya. Seperti karamah Syekh Abdul Qadir Al-Jailani yang banyak kita dapatkan dalam buku-buku biografinya.

4. Ma‘unah (pertolongan)
Ma‘unah atau pertolongan muncul pada manusia umumnya sebagai bentuk pertolongan Allah kepada mereka, dan terjadi pada perkara umum pula seperti sembuhnya orang yang sudah putus asa bahwa ia tak akan sembuh sama sekali. Derajat ma‘unah ini tidak mencapai irhash maupun mukjizat meski ia dikategorikan sebagai perkara di luar kebiasaan.

5. Istidrâj
Istidrâj diperlihatkan Allah melalui orang-orang kafir dan fasik sebagai fitnah, tipuan, dan bencana bagi orang-orang di sekitar mereka. Contoh, orang kafir semakin sejahtera. Orang durhaka menjalani hidup lancar tanpa cobaan berarti.

6. Ihânah (penghinaan)
Ihânah Allah perlihatkan pada siapa yang ingin Dia hinakan, dengan adanya perkara di luar kebiasaan namun tidak sesuai dengan tujuannya, seperti yang pernah terjadi pada Musailamah Al-Kadzzab.

Musailamah pernah berdoa untuk orang yang buta satu matanya, agar matanya yang buta itu menjadi sembuh bisa melihat. Namun yang terjadi, Musailamah malah membutakan semua matanya. Musailimah meludah ke dalam sumur supaya menjadi manis rasa airnya. Namun, air sumur itu berubah menjadi asin yang sangat asin. Wallahu a’lam. (Amien Nurhakim)
Tags:
Share:
Senin 26 Februari 2018 13:30 WIB
Apakah Akhirat itu Kekal padahal Ia Makhluk?
Apakah Akhirat itu Kekal padahal Ia Makhluk?
Allah itu bersifat dengan segala sifat kesempurnaan dan tersucikan dari segala sifat kekurangan. Dalam lingkungan para ulama yang bermazhab Asy’ari, dikenal sifat-sifat wajib Allah yang dua puluh yang menjadi sifat-sifat pokok kesempurnaan (shifat asasiyyah kamaliyyah) Allah.

Salah satu sifat wajib bagi Allah adalah mukhalafatuhu lil hawaditsi (Allah berbeda dari makhluk-makhluk-Nya). Artinya, Allah wajib berlainan atau tidak sama dengan al-hawadits (hal-hal baru atau makhluk-Nya).

Di antara dalil sifat mukhalafatuh li al-hawadits adalah berikut:

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Maha Melihat.” (QS. As-Syura: 11)

Al-hawadits itu memiliki dua segi (jihah). Yang pertama, wujud (keberadaan) hawadits itu didahului oleh ketiadaan (al-‘adam). Kedua, hawadits itu memiliki sifat imkan (berkemungkinan). Artinya, wujud atau keberadaan hawadits itu, memungkinkan masih terus berlangsung, dan mungkin juga berubah menjadi tidak ada (‘adam). Demikian pula sebaliknya, ketika sesuatu itu tidak ada (‘adam), maka ketiadaannya mungkin terus berlangsung, atau berubah dari tidak ada (’adam) menjadi ada (wujud).

Maka dengan adanya segi yang kedua ini, dapat dipahami bahwa Allah itu mukhalafah lil hawaditsi dari segi imkan-nya. Artinya, Allah mukhalafah dengan hawadits, sebab wujud-nya Allah itu adalah wajib dzati (secara dzat wajib ada), yang mustahil berubah menjadi tidak ada (‘adam), baik dari ketiadaan kemudian menjadi ada (‘adam sabiq lil wujud), atau ketiadaan yang didahului ada (‘adam lahiq lil wujud).

Hal ini berbeda dengan hawadits yang wujudnya itu bersifat mungkin. Yang demikian itu bermakna bahwa keberadaan hawadits itu bisa berubah menjadi tidak ada (‘adam) kapan saja menurut kehendak Allah.  Demikian juga dengan hawadits yang bernama akhirat, surga dan neraka. Jika Allah menghendaki kekekalannya, setelah sebelumnya akhirat adalah tidak ada, maka itu adalah sesuatu yang mungkin. Dan kenyataannya bahwa Allah memberitahukan kepada kita semua bahwa kenikmatan surga dan siksa neraka itu kekal.

Ada Makhluk yang Dikekalkan Allah
Allah itu bersifat Baqa’, artinya wujud Allah itu kekal; tidak mengalami kemusnahan. Allah berfirman:

كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُ 

"Bahwa semua selain Allah akan hancur." (QS. Al-Qashash : 88)

Menurut Syekh Ibrahim al-Laqani dalam Jauharatut Tauhid, keumuman ayat ini telah di-takhshish (dispesifikasi). 

و كل شيء هالكٌ قد خصصُوا عمومَه فاطلُب لما قد لخصوا

“Para ulama telah mentakshish keumuman ayat ‘kullu syai’in hâlikun’. Maka carilah apa-apa yang telah mereka ringkaskan.”

Para ulama telah men-takhshish keumuman ayat tersebut dengan  beberapa makhluk yang Allah kehendaki untuk kekal dan tidak mengalami kehancuran, yang menurut keterangan beberapa hadits merupakan pengecualian seperti: surga, neraka, arsy, kursy, ruh, dan lain-lain. Ada juga yang berpendapat bahwa maksud ayat ini adalah, bahwa segala sesuatu akan musnah kecuali amal yang dikerjakan karena Allah. Atau maksud hâlikun itu adalah qâbilun lil halak (menerima kerusakan), sebagaimana disebutkan para ulama, misalnya Syekh Al-Baijuri dalam Tuhfatul Murid, dan Syekh Nawawi al-Bantani dalam Tafsir Marah Labid.

Syekh Jalaluddin as-Suyuthi, sebagaimana dikutip Syekh Al-Baijuri dan Syekh Nawawi al-Bantani menyebutkan nazam tentang delapan hal yang kekal sebagai berikut:


ثمَانيةٌ حكْم البقاء يعُمها من الخلق والباقُون في حيز العدَم
هي العرْش والكرسي نار وجنة وعجب وارواح كذا اللوحُ والقلم

“Ada delapan hal dari makhluk ini yang hukum kekekalan meratainya, sedangkan  yang lain berada di wilayah ketiadaan. Yaitu arasy, kursi, neraka, surga, ajbudz dzanab (tulang ekor), dan ruh. Demikian juga lauh mahfudz dan qalam (pena).”

Kekalnya Surga Neraka
Banyak dalil Al-Quran dan hadits yang menyatakan bahwa penduduk surga dan neraka itu kekal (khâlidin), misalnya dalam Surat Hud ayat 106-108:

فَأَمَّا الَّذِينَ شَقُوا فَفِي النَّارِ لَهُمْ فِيهَا زَفِيرٌ وَشَهِيقٌ 

خَالِدِينَ فِيهَا مَا دَامَتِ السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ إِلَّا مَا شَاءَ رَبُّكَ ۚ إِنَّ رَبَّكَ فَعَّالٌ لِمَا يُرِيدُ 

وَأَمَّا الَّذِينَ سُعِدُوا فَفِي الْجَنَّةِ خَالِدِينَ فِيهَا مَا دَامَتِ السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ إِلَّا مَا شَاءَ رَبُّكَ ۖ عَطَاءً غَيْرَ مَجْذُوذٍ

"Adapun orang-orang yang celaka, maka (tempatnya) di dalam neraka. Di dalamnya mereka mengeluarkan dan menarik napas (dengan merintih). Mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain). Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap apa yang Dia kehendaki. Adapun orang-orang yang berbahagia, maka tempatnya di dalam surga. Mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain) sebagai karunia yang tidak ada putus-putusnya." (QS. Hud : 106-108)

Tentang kekekalan kenikmatan surga dan siksa neraka, Syekh Al-Bayjury dalam Tuhfatul Murid ‘ala Syarhi Jauharatit Tauhid menyatakan:

ونعيمُ الجنة وعذابُ النار له أول ولا آخرله فكلٌ منهما باق لكنْ شرْعاً لا عقلا لأن العقل يُجوّز عدمَهما

“Kenikmatan surga dan siksa neraka itu ada permulaannya, tapi tidak berakhir. Setiap keduanya adalah kekal, tetapi dikekalkan (baqin) oleh agama, bukan oleh akal. Karena akal itu memungkinkan ketiadaannya.”

Di antara hadits yang menetapkan kekekalan surga dan neraka adalah hadits shahih, termasuk di dalamnya tentang "penyembelihan" (diakhirinya) kematian.

عن ابْن عُمر قال : قال رسولُ الله صلى الله عليه وسلم  إذا صَار أهلُ الجنة إلى الجنة وأهل النار إلى النار جيءَ بالموْت حتى يجعَل بين الجنة والنار ثم يذبح ثم يُنادي مناد يا أهل الجنة لا موت و يا أهل النار لا موت فيزدادُ أهلُ الجنة فرحًا إلى فرحهم ويزداد أهل النار حُزناً إلى حزنهم

Dari Ibnu Umar berkata, Rosulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: "Ketika ahli surga telah masuk ke dalam surga dan ahli neraka telah masuk ke dalam neraka, didatangkanlah al-maut (kematian) sampai tempat di antara surga dan neraka, kemudian disembelih. Lalu akan memanggil seorang penyeru: "Wahai penduduk surga, tidak ada (lagj) kematian. Wahai penduduk neraka, tidak ada (lagi) kematian.Maka penduduk surga bertambah gembira di atas kegembiraan mereka, dan penduduk neraka bertambah sedih di atas kesedihan mereka." (HR. Bukhari).

Dengan demikian menjadi jelas bahwa ada perbedaan antara kekalnya Allah dengan kekalnya surga dan neraka. Kekalnya Allah bersifat dzatiyah dan hukumnya wajib (pasti), baik dari segi aqal ataupun agama (syara’) serta tidak ada permulaannya, sedangkan kekalnya surga dan neraka itu tidak bersifat dzatiyah namun karena dikehendaki oleh Allah dan juga wajib dari segi syara’ saja, tidak dari segi akal, serta keduanya ada permulaanya. 

Keyakinan ini bahkan merupakan kesepakatan (ijmak) para ulama Ahlissunnah wal Jamaah sebagaimana dinyatakan oleh Syekh Abdul Qahir al-Bahghdady dalam Al-Farqu Baynal Firaq sebagai berikut:

وَ أَجْمَعُوا ايْضا عَلى جَوَاز الفَنَاء على الْعَالَم كله منْ طَريق القُدْرَة والامكان, وَانما قالُوا بتأييْد الْجَنة, وتأييْد الجهَنم وَعَذابها منْ طَريق الشرْع

“Ahlussunnah juga sepakat tentang kemungkinan kemusnahan keseluruhan alam semesta, ditinjau dari segi qudrah Allah dan segi kemungkinan secara akal. Namun, mereka (Ahlussunnah wal Jama’ah) berpendapat tentang keabadian surga, dan keabadian neraka dan siksanya itu dari segi agama (syara’).


Yusuf Suharto, Tim Narasumber Aswaja NU Center Jatim, dosen Aswaja Institut KH Abdul Chalim, Mojokerto
Jumat 23 Februari 2018 19:45 WIB
Sumber Ilmu Tauhid dan Kedudukannya di Antara Ilmu-ilmu Lain
Sumber Ilmu Tauhid dan Kedudukannya di Antara Ilmu-ilmu Lain
Kategori Ilmu

Imam Al-Ghazali dalam Ar-Risalah Al-Laduniyyah menyatakan bahwa ilmu itu terbagi menjadi dua kategori utama, yaitu  ilmu syar’iy (ilmu keagamaan) dan ilmu ‘aqliy (ilmu rasionalitas). 

Ilmu syar’iy (keagamaan) kemudian terbagi menjadi dua bagian, yaitu ilmu al-ushul (ilmu pokok-pokok keagamaan), dan ilmu al-furu’ (ilmu cabang-cabang keagamaan).

Yang masuk kategori dalam ilmu al-ushul sebagai bagian dari ilmu syar’iy adalah ilmu tauhid, ilmu tafsir (ilmu yang mengkaji tentang Al-Quran dan penafsirannya), dan ilmu al-akhbar (ilmu yang mengkaji tentang hadits Rasulullah dan pemahamannya). Ilmu al-ushul terkategori sebagai ilmu teoritis (ilmiyyan).

Ilmu al-furu’ (ilmu cabang-cabang keagamaan) sebagai bagian dari ilmu syar’iy itu terkategori ilmu aplikatif (‘amaliyy). Ilmu ini mencakup tiga hak. Pertama, hak Allah yang meliputi  rukun-rukun ibadah semisal thaharah, shalat, zakat, haji, jihad, dzikir, dan lain-lain perkara yang wajib dan sunnah. Kedua, hak sebagai hamba Allah, yang mencakup interaksi bisnis, relasi sosial, dan transaksi antarmanusia. Jenis pertama dan kedua ini disebut sebagai ilmu fiqih. Ilmu ini mulia karena manusia tidak akan bisa terlepas darinya. Ketiga, hak diri, yang disebut juga sebagai ilmu akhlak. Akhlak itu ada yang tercela, dan manusia harus menghilangkannya; dan ada yang terpuji, yang mesti menjadi hiasan jiwa manusia.

Ilmu ‘aqliyy (ilmu rasionalitas) termasuk ilmu yang rumit. Ilmu ini terbagi menjadi tiga tahapan.  Pertama adalah ilmu ar-riyadhy (matematika, atau ilmu hitungan) dan ilmu mantiqiy (logika). Kedua adalah ilmu at-tabiiyy (ilmu alam atau biologi). Ketiga adalah ilmu nadhar fil mawjud (ilmu penelitian tentang segala hal yang ada).

Objek Ilmu Tauhid dan Sumbernya 

Sebagai ilmu syar’iy, ilmu tauhid mengaji tentang zat dan sifat Allah, perihal kenabian, kematian, dan kehidupan, kiamat dan segala hal yang terjadi di hari kiamat. Kajian utama ilmu tauhid adalah tentang Allah Yang Qadim (terdahulu, tanpa ada pemulaan). Syekh Al-Khatib al-Baghdady meriwayatkan bahwa Imam Junaid al-Baghdady berkata:

التَّوْحِيد إفْرَادُ القَدِيْمِ مِن المحدث 

“Tauhid adalah pengesaan Allah Yang Qadim dari menyerupai makhluk-Nya.”

Ilmu tauhid adalah ilmu yang paling utama, karena yang dikaji adalah Allah, Sang Pencipta, Yang Maha Esa. Ilmu ini wajib dipelajari oleh setiap yang berakal. Ulama ilmu ini adalah ulama yang paling utama.

(Baca: Perihal Kewajiban Mempelajari Ilmu Tauhid)
Pembahasan ilmu tauhid menurut Ahlussunnah wal Jama'ah harus dilandasi dalil dan argumentasi yang definitif (qath'i) dari al-Qur'an, hadits, ijma' ulama, dan argumentasi akal yang sehat. Imam al-Ghazali dalam Ar-Risalah al-Laduniyyah mengatakan:

وَأَهْلُ النَّظَرِ فِيْ هَذَا الْعِلْمِ يَتَمَسَّكُوْنَ أَوَّلاً بِآيَاتِ اللهِ تَعَالَى مِنَ اْلقُرْآنِ، ثُمَّ بِأَخْبَارِ الرَّسُوْلِ، ثُمَّ بِالدَّلاَئِلِ الْعَقْلِيَّةِ وَالْبَرَاهِيْنِ الْقِيَاسِيَّةِ.

Ahli nadhar (nalar) dalam ilmu akidah ini pertama kali berpegangan pada ayat-ayat Al-Qur'an, kemudian dengan hadits-hadits Rasul, dan terakhir pada dalil-dalil rasional dan argumentasi-argumentasi analogis.

Berikut adalah rincian dalil-dalil tersebut secara hirarkis:

1. Al-Qur'an

Al-Qur'an al-Karim adalah pokok dari semua argumentasi dan dalil. Al-Qur'an adalah dalil yang membuktikan kebenaran risalah Nabi Muhammad dan dalil yang membuktikan benar dan tidaknya suatu ajaran. Al-Qur'an juga merupakan kitab Allah terakhir yang menegaskan pesan-pesan kitab-kitab samawi sebelumnya. Allah memerintahkan dalam al-Qur'an agar kaum Muslimin senantiasa mengembalikan persoalan yang diperselisihkan kepada Allah dan Rasul-Nya:

فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللهِ وَالرَّسُولِ

Artinya: “Kemudian jika kalian  berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (al-Qur'an) dan Rasul (sunnahnya).” (QS. al-Nisa' : 59).

Mengembalikan persoalan kepada Allah, berarti mengembalikannya kepada Al-Qur'an. Sedangkan mengembalikan persoalan kepada Rasul, berarti mengembalikannya kepada sunnah Rasul  yang shahih.

2. Hadits

Hadits adalah dasar kedua dalam penetapan akidah-akidah dalam Islam. Tetapi tidak semua hadits dapat dijadikan dasar dalam menetapkan akidah. Hadits yang dapat dijadikan dasar dalam menetapkan akidah adalah hadits yang perawinya disepakati, dan dapat dipercaya oleh para ulama. Sedangkan hadits yang perawinya masih diperselisihkan oleh para ulama, tidak dapat dijadikan dasar dalam menetapkan akidah sebagaimana kesepakatan para ulama ahli hadits dan fuqaha yang mensucikan Allah dari menyerupai makhluk. Menurut mereka, dalam menetapkan akidah tidak cukup didasarkan pada hadits yang diriwayatkan melalui jalur yang dha'if, meskipun diperkuat dengan perawi yang lain.

Al-Hafizh al-Khathib al-Baghdadi  sebagaimana dikutip Syekh Abdullah Al-Harary dalam kitabnya Sharihul Bayan menyatakan:

لاَ تَثْبُتُ الصِّفَةُ ِللهِ بِقَوْلِ صَحَابِيٍّ اَوْ تَابِعِيٍّ إِلاَّ بِمَا صَحَّ مِنَ اْلاَحَادِيْثِ النَّبَوِيَّةِ الْمَرْفُوْعَةِ الْمُتَّفَقِ عَلَى تَوْثِيْقِ رُوَاتِهَا، فَلاَ يُحْتَجُّ بِالضَّعِيْفِ وَلاَ بِالْمُخْتَلَفِ فِيْ تَوْثِيْقِ رُوَاتِهِ حَتَّى لَوْ وَرَدَ إِسْنَادٌ فِيْهِ مُخْتَلَفٌ فِيْهِ وَجَاءَ حَدِيْثٌ آخَرُ يَعْضِدُهُ فَلاَ يُحْتَجُّ بِهِ

Artinya: Sifat Allah tidak dapat ditetapkan berdasarkan pendapat seorang sahabat atau tabi'in. Sifat Allah hanya dapat ditetapkan berdasarkan hadits-hadits Nabi  yang marfu', yang perawinya disepakati dapat dipercaya. Jadi hadits dha'if dan hadits yang perawinya diperselisihkan tidak dapat dijadikan hujjah dalam masalah ini, sehingga apabila ada sanad yang diperselisihkan, lalu ada hadits lain yang menguatkannya, maka hadits tersebut tidak dapat dijadikan hujjah.

Al-Hafizh al-Baihaqi juga mengutip dalam kitabnya al-Asma' wa al-Shifat dari al-Hafizh Abu Sulaiman al-Khaththabi, bahwa sifat Allah itu tidak dapat ditetapkan kecuali berdasarkan nash al-Qur'an atau hadits yang dipastikan keshahihannya.

Hadits yang dapat dijadikan dasar dalam menetapkan akidah adalah hadits mutawatir, yaitu hadits yang mencapai peringkat tertinggi dalam keshahihan. Hadits mutawatir ialah hadits yang disampaikan oleh sekelompok orang yang banyak dan berdasarkan penyaksian mereka serta sampai kepada penerima hadits tersebut, baik penerima kedua maupun ketiga, melalui jalur kelompok yang banyak pula. Hadits yang semacam ini tidak memberikan peluang terjadinya kebohongan.

Di bawah hadits mutawatir, adalah hadits masyhur. Hadits masyhur dapat dijadikan argumentasi dalam menetapkan akidah karena dapat menghasilkan keyakinan sebagaimana halnya hadits mutawatir. Hadits masyhur ialah hadits yang diriwayatkan oleh tiga orang atau lebih dari generasi pertama hingga generasi selanjutnya. Al-Imam Abu Hanifah dan pengikutnya menetapkan syarat bagi hadits yang dapat dijadikan argumentasi dalam hal-hal akidah harus berupa hadits masyhur. Dalam risalah-risalah yang ditulisnya dalam hal-hal akidah, Abu Hanifah membuat hujjah dengan sekitar empat puluh hadits yang tergolong hadits masyhur. Risalah-risalah tersebut dihimpun oleh al-Imam Kamaluddin al-Bayadhi al-Hanafi dalam kitabnya, Isyarat al-Maram min 'Ibarat al-Imam. Sedangkan hadits-hadits yang peringkatnya di bawah hadits masyhur, maka tidak dapat dijadikan argumentasi dalam menetapkan sifat Allah.

3. Ijma' Ulama

Ijma' ulama yang mengikuti ajaran Ahlul Haqq dapat dijadikan argumentasi dalam menetapkan akidah. Dalam hal ini seperti dasar yang melandasi penetapan bahwa sifat-sifat Allah itu qadim (tidak ada permulaannya) adalah ijma' ulama yang qath'i. Dalam konteks ini, al-Imam al-Subki berkata dalam kitabnya Syarh 'Aqidah Ibn al-Hajib:

اِعْلَمْ أَنَّ حُكْمَ الْجَوَاهِرِ وَاْلأَعْرَاضِ كُلِّهَا الْحُدُوْثُ فَإِذًا الْعَالَمُ كُلُّهُ حَادِثٌ، وَعَلَى هَذَا إِجْمَاعُ الْمُسْلِمِيْنَ بَلْ كُلِّ الْمِلَلِ وَمَنْ خَالَفَ فِيْ هَذَا فَهُوَ كَافِرٌ لِمُخَالَفَتِهِ اْلإِجْمَاعَ الْقَطْعِيَّ اهـ

Artinya: "Ketahuilah sesungguhnya hukum jauhar dan 'aradh (Jauhar adalah benda terkecil yang tidak dapat terbagi lagi. Sedangkan 'aradh adalah sifat benda yang keberadaannya harus menempati benda lain) adalah baru. Oleh karena itu, semua unsur-unsur alam adalah baru. Hal ini telah menjadi ijma' kaum Muslimin, bahkan ijma' seluruh penganut agama-agama (di luar Islam). Barangsiapa yang menyalahi kesepakatan ini, maka dia dinyatakan kafir, karena telah menyalahi ijma' yang qath'i." 

4. Akal

Dalam ayat-ayat al-Qur'an Allah Ta’ala telah mendorong hamba-hamba-Nya agar merenungkan semua yang ada di alam jagad raya ini, agar dapat mengantar pada keyakinan tentang kemahakuasaan Allah. Dalam konteks ini Allah berfirman:

أَوَلَمْ يَنْظُرُوا فِي مَلَكُوتِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ 

Dan apakah mereka tidak memperhatikan kerajaan langit dan bumi. (QS. al-A'raf : 185).

Allah juga berfirman:

سَنُرِيهِمْ آيَاتِنَا فِي الْآفَاقِ وَفِي أَنْفُسِهِمْ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُ الْحَقُّ 

Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan)Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa al-Qur'an itu adalah benar. (QS. Fushshilat: 53).

Dalam membicarakan sifat-sifat Allah, sifat-sifat Nabi, paraMalaikat dan lain-lain, para ulama tauhid tidak hanya bersandar pada penalaran akal semata. Mereka membicarakan hal tersebut dalamkonteks membuktikan kebenaran semua yang disampaikan olehNabi dengan akal. Jadi, menurut ulama tauhid, akal difungsikan sebagai sarana yang dapat membuktikan kebenaran syara', bukan sebagai dasar dalam menetapkan akidah-akidah dalam agama. Meski demikian, hasil penalaran akal yang sehat tidak akan keluar dan tidak mungkin bertentangan dengan ajaran yang dibawa oleh syara'.

Demikianlah faktanya bahwa masalah tauhid yang bersumber dari Quran dan Hadits itu juga diperkuat dengan dalil-dalil aqli (rasional). Hal demikian setidak-tidaknya karena dengan dua tujuan. Pertama, agar sesiapa yang menentang masalah tauhid itu agar dapat menerima dan segera meyakininya, atau setidaknya menghentikan penentangannya tersebut. Mereka yang menentang ini adalah kelompok anti Tuhan atau kelompok di luar Ahlussunnah wal Jama’ah yang cenderung mempertanyakan dengan nada memojokkan. Kedua, agar mereka yang masih ragu-ragu dapat segera hilang keraguannya, kemudian tumbuh dalam dirinya suatu keyakinan yang mantap.     

Terkait dengan metode Ahlussunnah wal Jama'ah yang menggabungkan antara naql dengan akal tersebut, para ulama memberikan perumpamaan berikut ini. Akal diumpamakan dengan mata yang dapat melihat. Sedangkan dalil-dalil syara' atau naql diumpamakan dengan Matahari yang dapat menerangi. Orang yang hanya menggunakan akal tanpa menggunakan dalil-dalil syara' seperti halnya orang yang keluar pada waktu malam hari yang gelap gulita. Ia membuka matanya untuk melihat apa yang ada di sekelilingnya, antara benda yang berwarna putih, hitam, hijau dan lain-lain. Ia berusaha untuk melihat semuanya. Tetapi selamanya ia tidak akan dapat melihatnya, tanpa ada Matahari yang dapat meneranginya, meskipun ia memiliki mata yang mampu melihat. Sedangkan orang yang menggunakan dalil-dalil syara' tanpa menggunakan akal, seperti halnya orang yang keluar di siang hari dengan suasana terang benderang, tetapi dia tuna netra, atau memejamkan matanya. Tentu saja ia tidak akan dapat melihat mana benda yang berwarna putih, hijau, merah dan lain-lainnya. Ahlussunnah Wal-Jama'ah laksana orang yang dapat melihat dan keluar di siang hari yang terang benderang, sehingga semuanya tampak kelihatan dengan nyata, dan akan selamat dalam berjalan mencapai tujuan.


Yusuf Suharto, Tim Narasumber Aswaja NU Center Jatim, dosen Aswaja Institut KH Abdul Chalim, Mojokerto

Rabu 14 Februari 2018 20:15 WIB
Perihal Kewajiban Mempelajari Ilmu Tauhid
Perihal Kewajiban Mempelajari Ilmu Tauhid
Definisi Tauhid

Makna dasar tauhid adalah pengetahuan bahwa sesuatu itu satu. Adapun dalam kaca pandang agama, tauhid ialah ilmu yang mengaji tentang penetapan aqidah keagamaan dengan menggunakan dalil-dalil yang meyakinkan.

Syekh Ibrahim ibn Muhammad al-Baijuri dalam Tuhfatul Murid ‘ala Jawharatit Tauhid mendefinisikannya sebagai:

هُوَ عِلْمٌ يقتدر بهِ عَنْ إِثْبَابِ الْعَقَائِدِ الدِّيْنِيَّةِ مُكْتَسَب مِنْ أَدِلَّتِهَا الْيَقِيْنِيَّةِ

Artinya: “Ilmu Tauhid adalah ilmu yang dengannya mampu menetapkan aqidah-aqidah keagamaan yang diperoleh dari dalil-dalil meyakinkan.” 

Dinamakan ilmu tauhid karena bagian utama ilmu ini adalah mengenai keesaan Allah yang menjadi dasar ajaran Islam. Ilmu ini disebut juga sebagai ilmu ushul (fundamen agama) atau ilmu aqidah. Terkait penggunaan dalil aqliyah (akal) dan dalil naqliyah (Al-Quran dan Hadits), ilmu ini juga disebut dengan ilmu kalam.

Kewajiban Mempelajarinya

Tujuan mempelajari ilmu tauhid adalah mengenal Allah dan rasul-Nya dengan dalil dalil yang pasti, dan menetapkan sesuatu yang wajib bagi Allah—sifat-sifat yang sempurna; dan menyucikan Allah dari sifat-sifat kekurangan yang dimiliki makhluk, serta dan membenarkan risalah seluruh rasul-rasul-Nya. 

Dengan ilmu Tauhid kita terhindar dari pengaruh aqidah-aqidah yang menyeleweng dari kebenaran. Dan dengan demikian semakin mengukuhkan paham aqidah mayoritas umat Islam di dunia, yakni Ahlussunnah wal Jamaah, dengan dua imamnya yang utama, Imam Abul Hasan Al-Asyari (w. 324 H), dan Imam Abu Manshur Al-Maturidy (w. 333 H). 

Adapun hal yang dibicarakan atau objek pembahasan dalam ilmu tauhid adalah dzat Allah dan dzat para rasul-Nya, dilihat dari segi apa yang wajib (harus) untuk Allah dan Rasul-Nya, apa yang mungkin, dan apa yang jaiz (bisa atau tidak bisa).

Kemuliaan ilmu dinilai dari materi yang dibahas. Ilmu tauhid memiliki kedudukan istimewa daripada ilmu lainnya karena pembahasan ilmu ini berkaitan dengan dzat Allah dan Rasul-Nya.

Hukum mempelajari ilmu tauhid adalah fardhu ‘ain bagi setiap orang mukallaf, meskipun hanya mengetahuinya dengan dalil-dalilnya yang global. Adapun mempelajari ilmu tauhid dengan dalil yang terperinci hukumnya adalah fardhu kifayah.

Apabila ilmu tauhid sudah meresap ke dalam jiwa, maka akan tumbuh perasaan puas, rela, dan bahagia atas pemberian dan ketentuan Allah, sehingga jiwa menjadi tenang dan tenteram. Jiwa juga memiliki harga diri dan menghargai orang lain, dan memiliki rasa kasih sayang kepada sesama manusia.
Aqidah Warisan Rasulullah

عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ قَالَ إِنِّي عِنْدَ النَّبِيِّ إِذْ جَاءَهُ قَوْمٌ مِنْ بَنِي تَمِيمٍ فَقَالَ اقْبَلُوا الْبُشْرَى يَا بَنِي تَمِيمٍ قَالُوا بَشَّرْتَنَا فَأَعْطِنَا فَدَخَلَ نَاسٌ مِنْ أَهْلِ الْيَمَنِ فَقَالَ اقْبَلُوا الْبُشْرَى يَا أَهْلَ الْيَمَنِ إِذْ لَمْ يَقْبَلْهَا بَنُو تَمِيمٍ قَالُوا قَبِلْنَا جِئْنَاكَ لِنَتَفَقَّهَ فِي الدِّينِ وَلِنَسْأَلَكَ عَنْ أَوَّلِ هَذَا اْلأَمْرِ مَا كَانَ قَالَ كَانَ اللهُ وَلَمْ يَكُنْ شَيْءٌ قَبْلَهُ وَكَانَ عَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ ثُمَّ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَاْلأَرْضَ وَكَتَبَ فِي الذِّكْرِ كُلَّ شَيْءٍ

Dari Imran bin Hushain, berkata: "Aku bersama Nabi, tiba-tiba datanglah kaum dari golongan Bani Tamim (penduduk Najd). Nabi berkata kepada mereka: "Terimalah kabar gembira wahai Bani Tamim!" Mereka menjawab: "Engkau telah memberi kami kabar gembira kepada kami, oleh karena itu berilah kami [harta benda]!" Lalu datanglah orang-orang dari penduduk Yaman. Nabi berkata kepada mereka: "Terimalah kabar gembira wahai penduduk Yaman, karena Bani Tamim tidak mau menerimanya!" Penduduk Yaman menjawab: "Kami menerima kabar gembira itu wahai Rasulullah dengan senang hati. Kami datang kemari untuk mempelajari ilmu agama dan untuk menanyakan perihal permulaan apa yang ada di dunia ini!" Nabi menjawab: "Allah itu ada, pada saat sesuatu apa pun belum ada. Arasynya Allah itu ada di atas air. Kemudian Allah menciptakan langit dan bumi dan mencatat segala sesuatu dalam lauh mahfuzh." (HR. al-Bukhari [6868]).

Teks hadits di atas memberikan gambaran yang sangat jelas kepada kita, bahwa para sahabat nabi (dalam hadits itu direpresentasi oleh Penduduk Yaman) memiliki kemauan yang keras untuk mengetahui dan menanyakan persoalan penting dalam pandangan agama, yaitu seputar keesaan Allah yang bersifat qadim (tidak ada permulaannya) dan eksistensi alam yang bersifat baru (huduts) yang merupakan materi penting dalam pembahasan ilmu tauhid. 

Berdasarkan hadits tersebut, para ulama ahli hadits seperti al-Imam al-Hafizh al-Baihaqi dan lain-lain berpandangan, bahwa karakter al-Imam Abu al-Hasan al-Asy'ari yang gemar mendalami ilmu tauhid atau aqidah dan mengantarnya menjadi pemimpin Ahlussunnah wal Jama'ah dalam bidang aqidah, merupakan karakter bawaan dari leluhurnya yang memiliki cita-cita yang luhur untuk menguasai ilmu pengetahuan dan mendalami persoalan aqidah yang sangat penting dengan bertanya secara langsung kepada Nabi. Dalam hal ini al-Imam al-Hafizh al-Baihaqi berkata:

قَالَ أَبُوْ بَكْرٍ الْبَيْهَقِيُّ: وَفِيْ سُؤَالِهِمْ دَلِيْلٌ عَلَى أَنَّ الْكَلاَمَ فِيْ عِلْمِ اْلأُصُوْلِ وَحَدَثِ الْعَالَمِ مِيْرَاثٌ ِلأَوْلاَدِهِمْ عَنْ أَجْدَادِهِمْ. 

Al-Hafizh Abu Bakar al-Baihaqi berkata: "Pertanyaan penduduk Yaman kepada Nabi tersebut, menjadi bukti bahwa kajian tentang ilmu aqidah dan barunya alam telah menjadi warisan keluarga al-Asy'ari dari leluhur mereka secara turun temurun." (Al-Hafizh Ibn Asakir, Tabyin Kidzb al-Muftari, [Damaskus: Percetakan al-Taufiq, 1347 H], halaman 66).

Berdasarkan keterangan di atas, tidak aneh apabila di kemudian hari, dari kalangan suku al-Asy'ari lahir seorang ulama yang menjadi pemimpin Ahlussunnah wal Jama'ah dalam memahami dan mempertahankan aqidah yang diajarkan oleh Nabi dan sahabatnya, yaitu al-Imam Abu al-Hasan al-Asy'ari.

Tauhid atau aqidah Ahlussunnah wal Jama'ah tiada lain adalah aqidah Islam itu sendiri, yaitu aqidah yang diyakini oleh Rasulullah, para sahabat, ulama penerusnya hingga sekarang, yang terhindar dari berbagai macam bid'ah aqidah yang menyimpang darinya. Meskipun dalam lingkungan Ahlussunnah wal Jama'ah terkenal dua ulama yang dijadikan panutan dalam aqidah, yaitu Abu al-Hasan al-Asy'ari (260-324 H/874-936 M) dan Abu Manshur al-Maturidi (238-333 H/852-944 M), bukan berarti keduanya merupakan penggagas aqidah baru dalam Islam, tetapi merupakan ulama yang telah berjasa besar menjaga aqidah sesuai tantangan zamannya, sebagaimana penjelasan Tajuddin bin Ali as-Subki (727-771 H/1327-1370 M) dan Muhammad Zahid al-Kautsari (1296-1371 H/1879-1952 M) secara berurutan berikut ini:

اِعْلَمْ أَنَّ أَبَا الْحَسَنِ لَمْ يُبْدِعْ رَأْيًا وَلَمْ يُنْشِ مَذْهَبًا. وَإِنَّمَا هُوَ مُقَرِّرٌ لِمَذَاهِبِ السَّلَفِ مُنَاضِلٌ عَمَّا كَانَتْ عَلَيْهِ صَحَابَةُ رَسُولِ اللهِ. فَالْاِنْتِسَابُ إِلَيْهِ إِنَّمَا هُوَ بِاعْتِبَارِ أَنَّهُ عَقَدَ عَلَى طَرِيقِ السَّلَفِ نِطَاقًا وَتَمَسَّكَ بِهِ وَأَقَامَ الْحُجَّجَ وَالْبَرَاهِينِ عَلَيْهِ، فَصَارَ الْمُقْتَدِى بِهِ فِي ذَلِكَ السَّالِكُ سَبِيلَهُ فِي الدَّلَائِلِ يُسَمَّى أَشْعَرِيًّا

“Ketahuilah, sungguh Abu al-Hasan al-Asy'ari tidak menyampaikan pendapat baru dan membuat mazhab. Beliau hanya menetapkan pendapat-pendapat ulama salaf dan membela aqidah yang dipedomani para sahabat Rasulullah, maka penisbatan kepadanya hanyalah karena mempertimbangkan beliau berperan mengokohkan kajiannya, memedomaninya, dan menetapkan hujjah dan argumentasinya, sehingga orang yang mengikutinya dan menempuh metodenya dalam dalil-dalil aqidah disebut orang yang bermazhab Asy’ari.” 

وَإِمَامُ الْهُدَى أَبُو مَنْصُورِ الْمَاتُرِيدِيُّ وَعَنْ سَائِرِ الْأَئِمَّةِ بَنَى تَوْضِيحَ الدَّلَائِلِ عَلَى تِلْكَ الرَّسَائِلِ كَمَا جَرَى عَلَى ذَلِكَ الْإِمَامُ الْمُجْتَهِدِ أَبُو جَعْفَرِ الطَّحَاوِيُّ فِي كِتَابِ بَيَانِ الْاِعْتِقَادِ أَهْلِ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ عَلَى مَذْهَبِ فُقَهَاءِ الْمِلَّةِ: أَبِي حَنِيفَةَ وَ أَبِي يُوسُفَ وَمُحَمَّدِ بْنِ الْحَسَنِ الْمَعْرُوفُ بِعَقِيدَةِ الطَّحَاوِيَّةِ.

“Imam al-Huda Abu Manshur al-Maturidi radhiyallahu 'anhu wa 'an sairil aimmah membangun penjelasan dalil-dalil aqidah berdasarkan risalah-risalah karya Abu Hanifah tersebut, seperti halnya yang dilakukan Imam Abu Ja'far at-Thahawi dalam kitabnya Bayan al-I'tiqad Ahl as-Sunnah wa al-Jama'ah 'ala Mazhab Fuqaha al-Millah, Abi Hanifah wa Abi Yusuf wa Muhammad bin al-Hasan yang terkenal dengan judul 'aqidah at-thahawiyyah.”

Dari keterangan ini menjadi jelas, aqidah Ahlussunnah wal Jama'ah merupakan aqidah Islam yang diwarisi dari Rasulullah, para sahabat, dan ulama penerusnya.

Dalam ranah keimanan kepada Allah secara umum setiap mukallaf wajib meyakini sifat wajib, mustahil, dan jaiz bagi-Nya. Para ulama dalam kitab-kitabnya secara global menyebutkan beberapa kewajiban keimanan seorang muslim sebagai berikut:

• Meyakini secara mantap tanpa keraguan bahwa Allah pasti bersifat dengan segala kesempurnaan yang layak bagi keagungan-Nya.

• Meyakini secara mantap tanpa keraguan bahwa Allah mustahil bersifat dengan segala sifat kekurangan yang tidak layak bagi keagungan-Nya.

• Meyakini secara mantap tanpa keraguan bahwa Allah boleh saja melakukan atau meninggalkan segala hal yang bersifat jaiz (mumkin), seperti menghidupkan manusia dan membinasakannya.


Yusuf Suharto, Dewan Pakar Aswaja NU Center Jombang; anggota tim penulis buku "Khazanah Aswaja"