IMG-LOGO
Quote Islami

Masalah Pelestarian Lingkungan Bagian dari Pendidikan Islam

Senin 16 April 2018 6:4 WIB
Share:
Masalah Pelestarian Lingkungan Bagian dari Pendidikan Islam
"Tantangan seperti pengentasan kemiskinan, pelestarian lingkungan hidup dan sebagainya,
adalah respon yang tak kalah bermanfaatnya bagi pendidikan Islam, yang perlu kita renungkan secara mendalam."

(Abdurrahman Wahid, “Pendidikan Islam Harus Beragam” dalam Kedaulatan Rakyat, 21 Desember 2002)


KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur tampak tengah memperluas makna dan lingkup perhatian pendidikan Islam yang umumnya sekadar dipahami sebagai belajar "ilmu-ilmu keislaman". Ketika disebut "ilmu keislaman" maka yang terbayang tak jauh-jauh dari berbagai disiplin fiqih, teologi, akhlak dalam pengertian sangat terbatas.

Ketum PBNU tahun 1984-1999 ini mengingatkan bahwa pendidikan Islam juga perlu memperhatikan hal-hal diluar makna sempit itu, dan menegaskan bahwa kepedulian kita pada berbagai krisis di sekitar, seperti kemiskinan dan kerusakan lingkungan, sebagai bagian dari cakupan pendidikan Islam. 
Tags:
Share:
Kamis 12 April 2018 16:30 WIB
Makan Silakan, Merusak Jangan!
Makan Silakan, Merusak Jangan!

كُلُوا وَاشْـرَبُوا مِنْ رِزْقِ اللَّهِ وَلَا تَعْثَوْا فِي الْأَرْضِ مُفْسِدِينَ

“Makan dan minumlah rezeki dari Allah, dan janganlah kamu berkeliaran di muka bumi dengan berbuat kerusakan. (Al-Baqarah [2]: 60)

Al-Qur’an mempersilakan manusia untuk menikmati karunia Allah. Namun, hal itu mesti dilakukan dalam batas kewajaran. Memanfaatkan kekayaan alam, misalnya, diperbolehkan sepanjang tindakan tersebut tak menimbulkan mudarat, baik bagi orang lain maupun alam itu sendiri. Manusia adalah makhluk, dan alam pun makhluk dari rabbul ‘alamin (Dzat Pemilik Seluruh Ciptaan). Yang satu tidak diciptakan untuk menumpas yang lainnya, melainkan berhubungan saling menunjang dalam keseimbangan. Wallahu a‘lam.

Selasa 10 April 2018 5:32 WIB
Jangan Rusak Bumi!
Jangan Rusak Bumi!

 وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا إِنَّ رَحْمَتَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ

“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya.” (QS al-A’raf: 56)



Prof Quraish Shihab dalam Tafsir al-Mishbah menafsirkan ayat ini dengan bahasa lain: Jangan kalian membuat kerusakan di muka bumi yang telah dibuat baik dengan menebar kemaksiatan, kezaliman dan permusuhan. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut akan siksa-Nya dan berharap pahala-Nya. Kasih sayang Allah sangat dekat kepada setiap orang yang berbuat baik, dan pasti terlaksana.

Aksi perusakan di muka bumi sebenarnya selaras dengan kekhawatiran malaikat ketika Allah mendeklarasikan akan menjadikan manusia sebagai khalifah, sebagaimana tercantum dalam Surat al-Baqarah. Dari keterangan di atas, Quraish Shihab memaparkan tiga model usaha perusakan, yakni kemaksiatan, kezaliman, dan permusuhan. Para aktivis lingkungan umumnya menjadikan ayat ini sebagai seruan untuk mencegah langkah-langkah destruktif terhadap alam, seperti pencemaran lingkungan, pembakaran atau penggundulan hutan, eksploitasi, dan lain-lain.
Selasa 23 Januari 2018 19:2 WIB
Tanda Jauh dari Allah
Tanda Jauh dari Allah


وقال أبو يزيد رضى الله تعالى عنه أَبْعَدُهُمْ مِنَ اللهِ أَكْثَرُهُمْ اِشَارَةً اِلَيْه

Abu Yazid berkata, “Mereka yang paling jauh dari Allah adalah mereka yang paling banyak isyarat atas-Nya.”

Ucapan Syekh Abu Yazid ini dikutip oleh Syekh Ibnu Abbad dalam Syarhul Hikam, Semarang, Maktabah Al-Munawwir, tanpa catatan tahun, juz I, halaman 63. Orang yang disebut merujuk pada mereka yang dihinggapi keraguan terhadap Allah. Mereka yang ragu mencari semakin banyak bukti akan keesaan-Nya.

Bahkan, meskipun bukti kuasa-Nya sudah di depan mata, mereka tetap merasa kekurangan. Kalau sudah dihinggapi banyak keraguan, ini merupakan sebuah tanda bahaya. Sebaiknya dala kondisi ini kita memperbanyak baca tahlil, Lâ ilâha illallâh (tiada tuhan selain Allah).

Bukti kuasa atau isyarat atas keberadaan Allah mengambil banyak bentuk. Ia bisa merupakan “keajaiban dunia” yang langsung menunjuk secara tersirat pada kuasa-Nya. Ia bisa juga berupa temuan ilmu pengetahuan yang sesuai dengan kabar pada ayat Al-Quran maupun hadits. Ia bisa juga berbentuk gejala atau fenomena alam yang terjadi sesuai menurut hitungan “primbon” ayat Al-Quran.

Sebaliknya para sahabat rasul yang keimanannya sudah mapan tidak lagi membutuhkan isyarat atas keberadaan-Nya. Mereka adalah orang-orang beriman yang tidak lagi memerlukan isyarat atau bukti kuasa-Nya. Mereka sudah cukup dengan kehadiran Allah, tanpa mencari-cari bukti lain. Wallahu a‘lam.