IMG-LOGO
Ramadhan

Hukum Gosok Gigi dengan Pasta bagi Orang Berpuasa

Selasa 22 Mei 2018 16:30 WIB
Share:
Hukum Gosok Gigi dengan Pasta bagi Orang Berpuasa
Ilustrasi (eyeni.info)
Sudah maklum, orang yang berpuasa dilarang memasukkan benda apa pun ke dalam tubuh (jauf) melalui lubang tujuh yang dimiliki setiap manusia. Namun bagaimana apabila masuknya benda tersebut merupakan efek samping dari hal yang diwajibkan atau disunnahkan oleh agama? 

Efek samping dalam perintah syara’ memang terdapat konskuensi toleransi. Seperti orang yang berwudhu disunahkan berkumur tiga kali. Bagi orang yang berpuasa, selama berkumurnya hanya sampai batas tiga kali saja pada setiap akan wudhu, itu masih tetap disunahkan oleh syara’.  Efek sampingnya, apabila ada air yang tertelan secara tidak sengaja, tidak membatalkan wudhu asalkan berkumurnya tidak berlebih-lebihan.

Begitu pula mandi wajib atau sunnah, selama tidak berlebihan dalam menghentakkan, jika tidak sengaja, kemudian ada air yang masuk, puasanya tidak batal.

Baca juga: Hukum Menyelam saat Puasa
Lalu bagaimana orang yang bersiwak atau gosok gigi dengan pasta yang kemudian menyebabkan pasta atau ada air yang masuk melalui mulut? 

Imam Nawawi, dalam al-Majmu’, syarah al-Muhadzdzab menjelaskan: 

لو استاك بسواك رطب فانفصل من رطوبته أو خشبه المتشعب شئ وابتلعه افطر بلا خلاف صرح به الفورانى وغيره

Artinya: Jika ada orang yang memakai siwak basah. Kemudian airnya pisah dari siwak yang ia gunakan, atau cabang-cabang (bulu-bulu) kayunya itu lepas kemudian tertelan, maka puasanya batal tanpa ada perbedaan pendapat ulama. Demikian dijelaskan oleh al-Faurani dan lainnya. (Abi Zakriya Muhyiddin bin Syaraf an-Nawawi, al-Majmu’, Maktabah al-Irsyad, Jeddah, juz 6, halaman 343)

Dari redaksi di atas dapat kita pahami, apabila air yang bukan barang inti atau bahkan bulu kayu yang merupakan salah satu bagian inti dari siwak itu sendiri membatalkan puasa apalagi pasta gigi yang sama-sama tidak diperintahkan syara’?

Oleh karena itu, orang yang berpuasa dengan gosok gigi menggunakan pasta, jika tidak ada air atau pasta yang masuk tenggorokan sama sekali, puasanya tidak batal. Namun apabila ada sedikit saja dari air atau pasta yang tertelan walaupun tanpa sengaja, puasanya batal. 

Solusinya, bagi orang yang berpuasa, demi kehati-hatian hendaknya menggosok gigi dahulu sebelum waktu imsak tiba. Jika sudah siang, cukup gosok gigi dengan kayu siwak (arok) atau dengan sikat gigi tanpa menggunakan pasta. 

Jika ingin menutupnya dengan air, sambungkan gosok gigi yang seperti demikian beriringan dengan berkumur sebelum wudhu selama tiga kali. Sehingga masing-masing aman. Demikian solusinya.  Wallahu a’lam. (Ahmad Mundzir) 

Share:
Selasa 22 Mei 2018 15:30 WIB
Tentukan Awal Bulan, Nabi Tak Bisa Hisab atau Tak Mau Hisab?
Tentukan Awal Bulan, Nabi Tak Bisa Hisab atau Tak Mau Hisab?
Ilustrasi (Pinterest)
Nahdlatul Ulama sebagai organisasi, dalam penetapan awal bulan hijriyah berpegang pada standar rukyatul Hilal. Hal ini didasarkan pada hadits:


قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ فَإِنْ غُبِّيَ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا عِدَّةَ شَعْبَانَ ثَلَاثِينَ


Nabi Muhammad ﷺ bersabda: “Berpuasalah kalian karena melihat hilal Dan berhari-rayalah kalian karena melihat hilal Apabila terhalang dari kamu sekalian, maka sempurnakanlah bilangan bulan Sya’ban menjadi tiga puluh (HR. Bukhari)

Baca: Memahami Dalil Rukyat Hilal Melalui Bahasa
Walaupun demikian sebagai sebuah mazhab klasik, pendukung rukyat mendapat tantangan dari pendukung hisab sebagai mazhab yang datang kemudian. Hujjah mazhab hisab ini didasarkan pada hadits (selain juga ayat-ayat kawniyyah tentang peredaran matahari dan bulan) yang menjelaskan tentang status ke-ummi-an Nabi Muhammad ﷺ dan para umat beliau. Hadits tersebut adalah 

إنا أمة أمية ، لا نكتب ولا نحسب ، الشهر هكذا وهكذا . يعني مرة تسعة وعشرين ، ومرة ثلاثين

Kita adalah umat yang ummi, tidak menulis dan tidak menghitung. Bulan itu demikian dan demikian, yakni suatu kali 29 hari dan suatu 30 hari. (HR. Bukhari)

Aliran Hisab beralasan bahwa pada zaman dahulu umat islam tidak bisa menghitung sebagai pemaknaan dari kata ummi, jadi wajar jika Nabi ﷺ memerintahkan untuk menggunakan rukyatul hilal untuk menentukan awal bulan hijriyah. Sedangkan pada masa kini, umat Islam sudah bisa menghitung dengan berbagai teknologi yang semakin canggih. Jadi seharusnya umat Islam harus beralih pada hisab.

Kedua adalah hadits

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَكَرَ رَمَضَانَ فَقَالَ لَا تَصُومُوا حَتَّى تَرَوْا الْهِلَالَ وَلَا تُفْطِرُوا حَتَّى تَرَوْهُ فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدُرُوا لَهُ

Sesungguhnya Rasulullah ﷺ menyebut-nyebut ramadhan kemudian bersabda, “janganlah kalian berpuasa sehingga kalian melihat hilal (tanggal satu Ramadan). Dan janganlah kalian berhari raya sehingga kalian melihatnya. Apabila  terhalang dari kalian, maka perkirakanlah. (HR. Bukhari) 

Baca: Tahap-tahap Penentuan Awal Bulan Qamariah Perspektif NU
Hadits di atas menurut mazhab hisab menunjukkan dibolehkan menggunakan hisab (uqdurulah) apabila langit mendung.

Jika ditelusuri, terkait makna ummi, dalam Tafsir al-Qurtubi, Ibn Abbas menyatakan bahwa:

الأميون العرب كلهم، من كتب منهم ومن لم يكتب؛ لأنهم لم يكونوا أهل كتاب

“Orang-orang ummi adalah semua bangsa Arab, baik yang menulis ataupun tidak. Karena mereka bukan ahli kitab.” 

Jadi konteks kata ummi di sini adalah orang Arab yang bukan golongan Yahudi atau Nasrani yang oleh orang-orang Arab disebut sebagai ahli kitab. Orang Yahudi pun sebaliknya menyebut orang Arab sebagai ummi. (QS Ali ‘Imran: 75)

Adapun makna lâ (tidak) menulis (mencatat) dan tidak menghitung, berdasarkan pemaknaan kata ummi di atas berarti “tidak mau” dan bukan “tidak bisa”. Sebagai pembanding coba lihat pernyataan Arab yang konon berasal dari khalifah Umar bin al-Khattab.

نحن أمة لا تنتصر بالعدة والعتاد ولكن ننتصر بقلة ذنوبنا وكثرة ذنوب الأعداء فلو تساوت الذنوب انتصروا علينا بالعدة والعتاد

Kita adalah umat yang ‘tidak’ mengandalkan jumlah dan peralatan perang. Tetapi kami mengandalkan sedikitnya dosa kami dan banyaknya dosa musuh kami. Jika jumlah dosa sama, mereka bisa mengandalkan jumlah dan peralatan perang untuk mengalahkan kita.

نحن قومٌ لا نأكل حتى نجوع، وإذا أكلنا لا نشبع

“Kami adalah kaum yang ‘tidak’ makan sampai kami lapar. Dan apabila kami makan tidak sampai kenyang.”

Pernyataan tersebut di atas menurut sejarawan, al-Halbi, adalah penyataan Nabi ﷺ kepada dokter yang dikirimkan raja Muqawqis kepada beliau. 

Baca: Beda Pendapat Ulama soal Penetapan Awal Ramadhan
Dalam dua pernyataan tersebut kata ‘’ bukan bermakna tidak bisa, tetapi bermakna tidak mau. Dalam konteks penentuan awal bulan hijriyah, maksud hadits tersebut adalah bahwa umat Islam tidak menggunakan hisab sebagaimana orang ahli kitab. 

Terkait dengan hadits yang membolehkan digunakannya hisab pada saat mendung, maka perlu mempertimbangkan hadits ini.
  
عَنْ عُمَيْرِ بْنِ أَنَسٍ عَنْ عُمُومَةٍ لَهُ مِنْ الْأَنْصَارِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ قَالُوا غُمَّ عَلَيْنَا هِلَالُ شَوَّالٍ فَأَصْبَحْنَا صِيَامًا ، فَجَاءَ رَكْبٌ مِنْ آخِرِ النَّهَارِ فَشَهِدُوا عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُمْ رَأَوْا الْهِلَالَ بِالْأَمْسِ ، فَأَمَرَ النَّاسَ أَنْ يُفْطِرُوا مِنْ يَوْمِهِمْ ، وَأَنْ يَخْرُجُوا لَعِيدِهِمْ مِنْ الْغَدِ

“Hilal bulan Shawwal tidak tampak bagi kami, maka kami puasa keesokan harinya. Kemudian datanglah para pelancong di akhir siang, dan bersaksi kepada Rasulullah ﷺ bahwa mereka melihat hilal kemarin. Maka Nabipun memerintahkan orang-orang untuk berbuka pada hari itu juga dan melaksanakan shalat hari raya pada keesokan harinya.” (HR Ahmad)

Hadits tersebut menunjukkan bahwa ketika hilal tidak terlihat, maka Nabi ﷺ tidak menggunakan hisab tetapi menyempurnakan bulan Ramadan menjadi tiga puluh hari. Dengan demikian perkirakanlah (uqdurulah), seharusnya tidak bermakna hitunglah, tetapi bermakna sempurnakanlah tiga puluh hari.

Jadi penggunaan rukyat sebagai penentuan awal bulan Hijriyah masih relevan walaupun sains dan teknologi semakin berkembang. Sebab rukyatul hilal sebagai penciri khas umat sehingga tidak menyerupai (tasyabbuh) dengan umat agama yang lain. 


Ahmad Musonnif, Pengurus Lembaga Falakiyah NU PCNU Tulungagung

Selasa 22 Mei 2018 13:30 WIB
Beda Pendapat Ulama tentang Niat Puasa Ramadhan
Beda Pendapat Ulama tentang Niat Puasa Ramadhan
Niat secara bahasa berarti menyengaja. Secara istilah, Imam Mawardi dalam kitab Al-Mantsur fil Qawa’id mengatakan, niat adalah bermaksud melakukan sesuatu disertai pelaksanaannya. Sedangkan Imam Nawawi dalam kitab Al-Majmu’ mengartikannya sebagai “tekad hati untuk melakukan amalan fardhu atau yang lain.”

Al-Hafidz Ibnu Rajab Al-Hambali menyebutkan bahwa fungsi niat adalah untuk membedakan antara satu ibadah dengan ibadah lainnya, atau membedakan antara ibadah dengan adat kebiasaan. Di samping itu, untukmembedakan tujuan seseorang dalam beribadah; apakah seorang beribadah karena mengharap ridha Allah subhanahu wa ta’ala ataukah ia beribadah karena selain Allah, seperti mengharapkan pujian manusia. (Lihat: Ahmad Ibnu Rajab al-Hambali, Jami’ul-‘Ulum wal Hikam, Beirut: Darul Ma’rifah, 1408 H. , Halaman 67). 

Para ulama sepakat bahwa niat merupakan syarat sah (rukun) ibadah, termasuk puasa. Artinya, sebuah ibadah tidak dianggap sah dan berpahala manakala tidak disertai niat. Karenanya, para ulama memberikan perhatian cukup besar terhadap perkara niat ini. Bahkan, Imam Syafi’i, Ahmad, Ibnu Mahdi, Ibnu al-Madini, Abu Dawud dan al-Daruquthni menuturkan bahwa niat merupakan sepertiga ilmu. 

Terkait niat puasa, ada dua permasalahan yang sering diperbincangkan oleh para ulama, yaitu waktu pelaksanaan niat dan hukum memperbaharui niat. Berkenaan dengan waktu pelaksanaan niat, imam madzhab empat sepakat bahwa puasa yang menjadi tanggungan seseorang, seperti puasa nazar, puasa qadha’, dan puasa kafarah, niatnya harus dilaksanakan pada malam hari sebelum fajar. Kemudian imam madzhab – selain Malik – juga sepakat bahwa niat puasa sunnah tidak harus dilaksanakan pada malam hari. 

Adapun puasa Ramadhan, para ulama berbeda pendapat tentang waktu niatnya. Pertama, Imam Syafi’i, Malik, Ahmad bin Hambal dan para pengikutnya menyatakan bahwa niat puasa harus dilakukan di malam hari, yaitu antara terbenamnya matahari sampai terbitnya fajar. Jika niat dilaksanakan di luar waktu tersebut, maka hukumnya tidak sah. Akibatnya, puasa pun juga tidak sah. Mereka berpegangan pada haditsriwayat Hafshah, bahwa Nabi shallallahu ala’ihi wasallam bersabda:

مَنْ لَمْ يُبَيِّتْ الصِّيَامَ قَبْلَ الْفَجْرِ فَلَا صِيَامَ لَهُ

Barangsiapa yang tidak berniat di malam hari sebelum fajar, maka tidak ada puasa baginya. (HR. Baihaqi dan Daruquthni). 

Hadits di atas secara jelas menegaskan ketidakabsahan puasa bagi orang yang tidak berniat di malam hari. 

Di samping hadits, mereka juga berpedoman pada qiyas (analogi). Mereka mengqiyaskan puasa Ramadhan dengan puasa nazar, kafarah, dan qadha’, di mana keduanya sama-sama wajib. Jika niat puasa nazar, kafarah, dan qadha’ harus dilakukan di malam hari, begitu juga niat puasa Ramadhan. 

Kedua, Abu Hanifah dan para pengikutnya mengatakan bahwa niat puasa dapat dilakukan mulai terbenamnya matahari sampai pertengahan siang. Artinya, tidak wajib melakukan niat di malam hari. Mereka berpedoman pada firman Allah subhanahu wa ta’ala surat al-Baqarah ayat 187: 

أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَى نِسَائِكُمْ هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ عَلِمَ اللَّهُ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَخْتَانُونَ أَنْفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنْكُمْ فَالْآنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُوا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ

Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan istri-istri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi ma'af kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan Makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, Yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam. (Al-Baqarah: 187). 

Pada ayat tersebut, Allah memperbolehkan kaum Mukminin untuk makan, minum, dan bersenggama pada malam bulan Ramadhan sampai terbit fajar. Lalu setelah terbit fajar, Allah memerintahkannya berpuasa, dimulai dengan niat terlebih dahulu. Dengan demikian, niat puasa tersebut terjadi setelah terbit fajar. Sehingga dapat disimpulkan bahwa niat puasa boleh dilakukan setelah terbit fajar, tidak harus di malam hari. 

Mereka juga berpegangan pada hadits Nabi shallallahu ala’ihi wasallam:

عَنْ سَلَمَةَ بْنِ الْأَكْوَعِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، أَنَّهُ قَالَ: بَعَثَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلًا مِنْ أَسْلَمَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ، فَأَمَرَهُ أَنْ يُؤَذِّنَ فِي النَّاسِ: مَنْ كَانَ لَمْ يَصُمْ فَلْيَصُمْ، وَمَنْ كَانَ أَكَلَ فَلْيُتِمَّ صِيَامَهُ إِلَى اللَّيْلِ 

Dari Salamah bin Al-Akwa’ radhiyallaahu ‘anhu, ia berkata: (Pada hari ‘Asyura, Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan seorang laki-laki dari suku Aslam’ agar memberitahukan kepada orang-orang bahwa siapa saja yang tidak berpuasa maka hendaklah ia berpuasa, dan siapa saja yang telah makan, hendaklah ia menyempurnakan puasanya sampai malam). (HR. Muslim, No. 1136). 

Baca juga: Lafal Niat Puasa: Ramadlana atau Ramadlani?
Pada hadits di atas, Nabi shallallahu ala’ihi wasallam menganggap puasa orang yang tidak melakukan niat di malam hari Asyura’ hukumnya tetap sah. Padahal, saat itu puasa Asyura’ hukumnya wajib. Dengan demikian dapat difahami bahwa niat puasa wajib tidak harus dilakukan di malam hari. 

Adapun permasalahan kedua, yaitu hukum memperbaharui niat puasa Ramadhan, para ulama juga berbeda pendapat. Kelompok pertama yang terdiri dari imam Hanafi, Syafi’i, dan Hambali mewajibkan untuk memperbaharui atau melakukan niat puasa setiap hari. Mereka berargumen bahwa hari-hari dalam bulan Ramadhan itu bersifat independen dan tidak saling berkaitan antara satu dengan yang lain. Batalnya satu hari puasa tidak berpengaruh pada batalnya hari yang lain. Karenanya, setiap akan memasuki hari baru diperlukan niat baru. 

Sementara kelompok kedua yang terdiri dari imam Malik dan para pengikutnya tidak mensyaratkan pengulangan niat setiap hari. Bagi mereka, niat puasa Ramadhan cukup dilakukan di malam hari pertama bulan Ramadhan. Mereka beralasan, puasa Ramadhan wajib dilaksanakan secara terus menerus, sehingga hukumnya sama seperti satu ibadah. Dansatu ibadah hanya membutuhkan satu niat. (Lihat: Muhammad Ramadhan al-Buthi, Muhadharat fil Fiqhil Muqaran, Damaskus: Darul Fikr, 1981, halaman 28-34). 

Baca juga: Beda Pendapat Ulama soal Penetapan Awal Ramadhan 
Untuk keperluan berhati-hati dalam beribadah, tidak ada salahnya mengamalkan kedua pendapat di atas sekaligus, yaitu mengamalkan pendapat imam Malik dengan berniat untuk puasa sebulan penuh, dan mengamalkan pendapat mayoritas ulama dengan memperbaharui niat setiap malam. Berniat untuk puasa sebulan penuh dimaksudkan untuk berjaga-jaga agar puasa tetap sah ketika suatu saat lupa tidak niat. Di dalam kitab Hasyiyata Qalyubi Wa Umairah, juz 2, halaman 52, disebutkan:

وَيُنْدَبُ أَنْ يَنْوِيَ أَوَّلَ لَيْلَةٍ صَوْمَ شَهْرِ رَمَضَانَ أَوْ صَوْمَ رَمَضَانَ كُلَّهُ لِيَنْفَعَهُ تَقْلِيدُ الْإِمَامِ مَالِكٍ فِي يَوْمٍ نَسِيَ النِّيَّةَ فِيهِ مَثَلًا لِأَنَّهَا عِنْدَهُ تَكْفِي لِجَمِيعِ الشَّهْرِ، وَعِنْدَنَا لِلَّيْلَةِ الْأُولَى فَقَطْ. 

“Dan pada malam pertama, disunnahkan bagi seseorang untuk niat puasa bulan Ramadhan atau puasa Ramadhan seluruhnya, agar dapat mengambil manfaat dari bertaqlid pada Imam Malik terkait kekhawatiran lupa tidak melakukan niat pada suatu malam. Sebab menurutnya, niat itu sudah mencukupi selama sebulan. Sedangkan menurut pandangan mazhab kami, yang demikian itu hanya cukup untuk malam pertama saja”. 


Husnul Haq, Dosen IAIN Tulungagung dan Pengurus LDNU Jombang. 

Selasa 22 Mei 2018 9:0 WIB
Tradisi Unik Ramadhan di Seluruh Dunia
Tradisi Unik Ramadhan di Seluruh Dunia
Bagi umat Islam, Ramadhan adalah bulan istimewa. Bulan dimana umat Nabi Muhammad saw. menjalankan rukun Islam yang keempat, puasa Ramadhan. Juga bulan dimana peristiwa-peristiwa penting dalam Islam terjadi seperti turunnya Al-Qur’an (nuzul Al-Qur’an), perang Badar, pembebasan kota Makkah (Fathu Makkah), dan lainnya.  

Sebagai bulan spesial, Muslim di seluruh dunia memiliki berbagai macam perayaan untuk menyambut atau menandai bulan suci Ramadhan. Perayaan-perayaan tersebut sudah mengakar sehingga akhirnya menjadi sebuah tradisi. 

Dihimpun dari berbagai macam sumber, berikut adalah beberapa perayaan unik atau tradisi yang dilakukan Muslim di seluruh dunia saat bulan Ramadhan:

Maroko

Muslim Maroko menandai fajar dengan musik. Menjelang fajar, masyarakat Muslim Maroko berjalan menyusuri jalan-jalan sambil meniup nafar –sejenis alat musik seperti terompet- guna membangunkan saudaranya untuk sahur. Alat ini dipilih masyarakat Muslim sana karena mereka meyakini suara yang ditimbulkan nafar mengandung kejujuran dan empati.  

Tradisi ini berawal sejak abad ke-7 Masehi silam ketika salah seorang sahabat Nabi Muhammad saw. menyusuri jalan pada saat fajar dengan menyanyikan doa-doa merdu. Pada akhir bulan Ramadhan, sahabat tersebut mendapatkan imbalan dari masyarakat karena telah membangunkan yang lainnya untuk sahur.  

Mayoritas penduduk Maroko adalah Muslim. Dari total penduduk Maroko 33,8 juta jiwa, 98,9 persennya adalah Muslim.

Irak

Setelah berbuka puasa bersama-sama, Muslim Irak memainkan sebuah permainan tradisional. Mheibes namanya. Sebagian besar dimainkan oleh pria selama bulan Ramadan, permainan ini melibatkan dua kelompok yang terdiri dari 40 hingga 250 pemain. Para pemain bergantian menyembunyikan Mihbes atau cincin. Sementara, lawan harus menebak dimana cincin tersebut disembunyikan dengan menggunakan bahasa tubuh.

Mereka yang dapat menebak dengan benar dimana cincin itu disembunyikan, maka dia akan diarak seperti pahlawan. Sementara mereka yang salah menebak akan diolok-olok.

Mesir

Orang Mesir sangat bersemangat ketika Ramadhan tiba. Mereka menyambut bulan suci dengan lentera (fanus) yang berwarna-warni. Bagi mereka, lentera yang sulit dibuat itu melambangkan melambangkan kesatuan, sukacita sepanjang Ramadhan, serta simbol harapan untuk menerangi jalan dari kegelapan. Lentera-lentera dengan berbagai macam bentuk itu digantung di seluruh kota; mulai dari kafe, jalan, depan toko, dan rumah-rumah.

Ada banyak cerita tentang sejarah lentera dan Ramadhan di Irak. Salah satunya adalah cerita tentang Khalifah Fatimiyyah Al-Hakim Bi-Amr Billah. Suatu ketika sang khalifah memeriksa bulan untuk menandai awal bulan Ramadhan ditemani anak-anak yang membawa lentera. Pada saat itu, orang-orang senang menunggu sang khalifah berjalan-jalan di jalan Kairo dengan menggunakan lentera. 

Kemudian sang khalifah terpikat dengan gagasan lentera yang dinyalakan di jalan-jalan. Ia memerintahkan semua Imam Masjid di Mesir untuk menggantung lentera yang bisa dinyalakan dengan lilin saat terbenamnya matahari sebagai tanda waktu berbuka puasa dan untuk mencerahkan jalanan.

Turki

Di Turki juga ada tradisi membangunkan sahur. Lebih dari dua ribu pemukul drum (drummer) akan berkeliaran di jalan-jalan Turki menjelang fajar guna membangunkan saudaranya untuk sahur. Tidak hanya itu, mereka juga memukul drumnya pada saat matahari terbenam sebagai tanda waktu buka puasa telah tiba.

Baru-baru ini pemerintah Turki telah memberikan sebuah kartu khusus untuk para pemukul drum sebagai upaya untuk mengapresiasi mereka. Hal ini juga dimaksudkan untuk mendorong generasi muda untuk menjaga tradisi ini, terutama di kota-kota metropolitan.

Pakistan

Setelah berbuka puasa, perempuan-perempuan Pakistan pergi ke pasar membeli gelang berwarna-warni dan melukis tangan serta kaki mereka dengan pola yang rumit. Menyambut wanita Pakistan berduyun-duyun ke pasar, para penjaga toko menghias toko mereka. Mereka membuka toko-tokonya hingga larut malam.  

Indonesia

Masyarakat Muslim Indonesia juga ada tradisi membangunkan orang untuk sahur. Akan tetapi Muslim Indonesia tidak menggunakan terompet (nafar) seperti di Maroko atau drum seperti di Turki. Biasanya Muslim di Indonesia menggunakan peralatan seadanya –seperti galon air kosong, botol, bambu, dan lainnya- untuk membangunkan sahur.

Pada akhir bulan Ramadhan atau malam Idul Fitri, masyarakat Muslim Indonesia menggelar takbir keliling. Biasanya anak-anak, pemuda, hingga orang tua akan berkeliling di jalan-jalan dengan berjalan kaki, berkendara motor atau mobil bak terbuka dengan mengumandangkan takbir. Dalam iring-iringan takbir keliling, biasanya dilengkapi juga dengan lampion atau maskot seperti replika masjid atau sesuatu yang bertemakan islami lainnya. (Muchlishon)