IMG-LOGO
Sirah Nabawiyah

Enam Cara Rasulullah Merayakan Idul Fitri

Ahad 9 Juni 2019 6:0 WIB
Enam Cara Rasulullah Merayakan Idul Fitri
Di Indonesia, Idul Fitri adalah hari raya terbesar dan termeriah bagi umat Islam. Hal ini sedikit berbeda dengan sebagian besar negara-negara Islam lainnya, dimana hari perayaan terbesar adalah Idul Adha.  

Sebagai hari raya terbesar, umat Islam Indonesia menggelar berbagai macam perayaan, seperti takbir keliling misalnya. Di samping itu, Idul Fitri juga telah membentuk tradisi dan budaya bagi Muslim Indonesia, yaitu mudik atau pulang kampung untuk bersilaturahim dengan handai taulan. Semua itu merupakan upaya Muslim dalam menyambut dan merayakan hari raya Idul Fitri.

Lalu, bagaimana Rasulullah saw. merayakan hari raya yang jatuh pada satu Syawal itu? Apa saja yang dilakukan Rasulullah saw. di hari kemenangan umat Islam itu?

Merujuk buku How Did the Prophet & His Companions Celebrate Eid?, Rasulullah saw. dan umat Islam pertama kali menggelar perayaan hari raya Idul Fitri pada tahun kedua Hijriyah (624 M) atau usai Perang Badar.

Dari beberap riwayat disebutkan bahwa ada beberapa hal yang dilakukan Rasulullah saw. untuk menyambut dan merayakan hari Idul Fitri. Pertama, takbir. Diriwayatkan bahwa Rasulullah saw. mengumandangkan takbir pada malam terakhir Ramadhan hingga pagi hari satu Syawal. Hal ini sesuai dengan apa yang difirmankan Allah dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 185:

“Dan hendaklah kamu sempurnakan bilangan puasa serta bertakbir (membesarkan) nama Allah atas petunjuk yang telah diberikan-Nya kepadamu, semoga dengan demikian kamu menjadi umat yang bersyukur.”

Kedua, memakai pakaian terbaik. Pada hari raya Idul Fitri, Rasulullah mandi, memakai wangi-wangian, dan mengenakan pakaian terbaik yang dimilikinya. Kisah ini terekam dalam hadist yang diriwayatkan Al-Hakim.

Ketiga, makan sebelum shalat Idul Fitri. Salah satu hari yang diharamkan berpuasa adalah hari raya Idul Fitri. Bahkan, dalam kitab-kitab fiqih disebutkan bahwa berniat tidak puasa pada saat hari Idul Fitri itu pahalanya seperti orang yang sedang puasa di hari-hari yang tidak dilarang. 

Sebelum shalat Idul Fitri, Rasulullah saw. biasa memakan kurma dengan jumlah yang ganjil; tiga, lima, atau tujuh. Dalam sebuah hadist disebutkan bahwa: "Pada waktu Idul Fitri Rasulullah saw. tidak berangkat ke tempat shalat sebelum memakan beberapa buah kurma dengan jumlah yang ganjil.” (HR. Ahmad dan Bukhari) 

Keempat, shalat Idul Fitri. Rasulullah menunaikan shalat Idul Fitri bersama dengan keluarga  dan sahabat-sahabatnya –baik laki-laki, perempuan, atau pun anak-anak. Rasulullah memilih rute jalan yang berbeda ketika berangkat dan pulang dari tempat dilangsungkannya shalat Idul Fitri. 

Rasulullah juga mengakhirkan pelaksanaan shalat Idul Fitri, biasanya pada saat matahari sudah setinggi tombak atau sekitar dua meter. Hal ini dimaksudkan agar umat Islam memiliki waktu yang cukup untuk menunaikan zakat fitrah.

Kelima, mendatangi tempat keramaian. Suatu ketika saat hari raya Idul Fitri, Rasulullah menemani Aisyah mendatangi sebuah pertunjukan atraksi tombak dan tameng. Bahkan saking asyiknya, sebagaimana hadist riwayat Ahmad, Bukhari dan Muslim, Aisyah sampai menjengukkan (memunculkan) kepala di atas bahu Rasulullah sehingga dia bisa menyaksikan permainan itu dari atas bahu Rasulullah dengan puas. 

Keenam, mengunjungi rumah sahabat. Tradisi silaturahim saling mengunjungi saat hari raya Idul Fitri sudah ada sejak zaman Rasulullah. Ketika Idul Fitri tiba, Rasulullah mengunjungi rumah para sahabatnya. Begitu pun para sahabatnya. Pada kesempatan ini, Rasulullah dan sahabatnya saling mendoakan kebaikan satu sama lain. Sama seperti yang dilakukan umat Islam saat ini. Datang ke tempat sanak famili dengan saling mendoakan. (A Muchlishon Rochmat)

Catatan: Naskah ini terbit pertama kali di NU Online pada Kamis, 14 Juni 2018 pukul 21:00. Redaksi mengunggahnya ulang tanpa mengubah isi tulisan.  
Selasa 4 Juni 2019 9:14 WIB
Saat Nabi Muhammad Rindu Kampung Halamannya, Makkah
Saat Nabi Muhammad Rindu Kampung Halamannya, Makkah
Nabi Muhammad saw lahir di Makkah pada 12 Rabi’ul Awwal tahun gajah. Beliau tinggal di Makkah selama kurang lebih 53 tahun sebelum akhirnya hijrah (pindah) ke Madinah. Selama tinggal di Makkah, setidaknya ada tiga fase yang dilalui Nabi Muhammad. Fase pertama, fase anak-anak hingga menikah atau usia 25 tahun. Pada fase ini, Nabi Muhammad tumbuh bersama dengan keluarga dan teman-temannya. Kendati demikian, beliau tidak menyembah berhala –sesuatu yang lazim dilakukan masyarakat Makkah pada saat itu, termasuk oleh kerabat dekat Nabi sendiri.

Fase kedua, menikah sampai menerima wahyu atau usia 40 tahun. Nabi Muhammad mulai merasakan ‘kegelisahan’ pada fase ini. Beliau merasa ‘ada yang salah’ dengan masyarakat Makkah yang menyembah berhala. Nabi Muhammad kemudian mulai menyendiri (ber-khalwat atau ber-tahannus) di Gua Hira untuk menenangkan pikiran dan hati. Di Gua Hira, ia bermunajat, bertaqarrub, dan bermujahadah kepada Sang Maha Pencipta. Kegiatan ini berlangsung selama beberapa bulan hingga suatu ketika malaikat Jibril mendatangai dan memberinya wahyu dari Allah. Sejak saat ini, Nabi Muhammad dikukuhkan menjadi Rasul Allah. Beliau kemudian mendakwahkan Islam kepada keluarga dekatnya secara sembunyi-sembunyi.

Hingga saat ini, kehidupan Nabi Muhammad di Makkah masih ‘aman-aman’ dan baik-baik saja. Dalam artian, belum ada yang menentang, memusuhi, dan berbuat kasar kepadanya. Kendati demikian, para elit musyrik Quraisy mulai tidak terima dengan dakwah yang disampaikan Nabi Muhammad.

Fase ketiga, turunnya wahyu untuk berdakwah secara terang-terangan hingga hijrah ke Madinah atau usia 53 tahun. Ini menjadi fase terakhir Nabi Muhammad tinggal di Makkah. Pada fase ini, Nabi Muhammad mulai menyebarkan ajaran Islam kepada penduduk Makkah secara terang-terangan. Tidak sedikit yang menjadi pengikut Nabi, namun juga banyak yang memusuhi dakwahnya. Karena motif tertentu –seperti ekonomi, takut kehilangan pengaruh, kekuasaan, dan kehormatan jika masuk Islam- mereka menentang dakwah Nabi Muhammad. Berbagai macam upaya dilakukan untuk menghentikan dakwah Islam. Mulai dari menyuap Nabi, melakukan tindak kekerasan kepada Nabi dan pengikutnya, hingga memboikot umat Islam. Namun semuanya gagal membuat Nabi Muhammad berhenti mendakwahkan Islam. 

Dari hari ke hari, kaum musyrik Makkah semakin berani menentang, menghalangi, dan bertindak kasar kepada Nabi Muhammad dan para pengikutnya. Beliau kemudian mendapatkan perintah dari Allah untuk berhijrah ke Madinah –setelah berdakwah selama 13 tahun di Makkah. Maka sejak saat itu, Nabi Muhammad meninggalkan kampung halamannya, Makkah, dan menetap di Madinah. Hingga akhir hayatnya, Nabi tinggal di Madinah selama 10 tahun.

Di Madinah, keadaan Nabi Muhammad dan umat Islam membaik. Tidak ada lagi penindasan dan kekerasan kepada mereka. Malah, banyak penduduk Madinah yang berbondong-bondong masuk Islam dan menjadi pengikut Nabi Muhammad. Di sana, Nabi Muhammad dan umat Islam juga mendapatkan keluarga baru, yaitu kaum Anshar (penduduk Madinah yang memeluk Islam). 

Kendati demikian, Nabi Muhammad terkadang rindu dengan kampung halamannya, Makkah. Kota dimana beliau menghabiskan masa anak-anak, remaja, dan dewasanya. Kota yang banyak menyimpang kenangan. Kota dimana Ka'bah berada. Ia berharap bisa berkunjung ke sana –walau sebentar, namun keadaan belum memungkinkan. Salah satu kisah kerinduan Nabi Muhammad pada Makkah terekam dalam kitab Syarah Az-Zarqani Ala Mawahib Laduniyah karya Muhammad Az-Zarqani.

Dikisahkan, suatu ketika seorang sahabat yang bernama Ashil al-Ghifari baru saja datang dari Makkah. Ia kemudian berkunjung ke rumah Nabi Muhammad setiba di Madinah. Ketika hendak menemui Nabi Muhammad, Sayyidah Aisyah bertanya kepada Ashil al-Ghifari perihal keadaan terbaru Makkah.

“Aku melihat Makkah subur wilayahnya dan menjadi bening aliran sungainya,” jawab Ashil al-Ghifari. Sayyidah Aisyah kemudian mempersilahkan Ashil duduk untuk menunggu Nabi menyelesaikan pekerjaannya di dalam kamar.

Tidak berselang lama, Nabi Muhammad keluar kamar dan menanyakan hal yang sama kepada Ashil al-Ghifari, yaitu ‘Bagaimana keadaan Makkah sekarang?’ Beliau sangat ingin tahu bagaimana kondisi Makkah terkini. Kali ini, Ashil al-Ghifari menjawab dengan jawaban yang lebih panjang dan detail dari sebelumnya. 

"Aku melihat Mekkah subur wilayahnya, telah bening aliran sungainya, telah banyak tumbuh idzkirnya (nama sejenis pohon), telah tebal rumputnya, dan telah ranum salamnya (sejenis tanaman yang biasa digunakan untuk menyamak kulit)," kata Ashil al-Ghifari.

“Cukup wahai Ashil. Jangan kau buat kami bersedih,” sela Nabi Muhammad dengan penuh rindu.

Demikianlah tabiat manusia, dia akan merindukan kampung halamannya. Begitupun dengan Nabi Muhammad. Beliau sangat merindukan Makkah setelah sekian tahun meninggalkannya. Nabi Muhammad dan umat Islam baru bisa berkunjung ke kampung halamannya, Makkah, ketika terjadi peristiwa Fathu Makkah (Pembebasan Kota Makkah) pada 10 Ramadhan tahun ke-8 Hijriyah. Iya, Nabi dan umat Islam baru bisa melunasi kerinduannya pada kampung halamannya 8 tahun setelah beliau meninggalkan kota itu. (Muchlishon)
Kamis 23 Mei 2019 23:15 WIB
Mencontoh Jihad Nabi Muhammad
Mencontoh Jihad Nabi Muhammad
Ilustrasi (NU Online)
Teladan terbaik bagi umat Islam ialah Nabi Muhammad. Secara umum, dakwah Rasulullah SAW dalam menyampaikan Islam penuh dengan ajakan, bukan pemaksaan. Ia mengedepankan akhlak baik, tutur kata santun dan ramah walaupun kerap mendapat perlakuan tidak baik. Simpul sederhana yang bisa menjadi pelajaran, Nabi Muhammad berjihad dengan akhlak dan perbuatan baik.

Rasulullah memahami betul ketika Islam disampaikan dengan cara yang keras dan kasar, niscaya umat akan menjauh. Kita semua memang bukan Nabi, tetapi setidaknya mempunyai pijakan moral dan syariat dalam menyampaikan dan menunjukkan wajah Islam yang rahmatan lil ‘alamin seperti yang diajarkan Rasulullah SAW.

Jauh sebelum diangkat menjadi utusan Allah SWT, Muhammad muda sudah mendapat gelar al-amin (orang yang dapat dipercaya) oleh masyarakat Arab. Perangainya yang baik dan adil kerap mendapat kepercayaan orang-orang Arab untuk menengahi segala konflik yang muncul di tengah masyarakat kala itu.

Terkati dengan jihad, lalu bagaimana dengan sejumlah peperangan yang dilakukan oleh Nabi dan para sahabatnya? Pertanyaan tersebut penting dijelaskan agar mindset perang bukan satu-satunya fakta sejarah Islam yang mendapat perhatian penuh karena sejarah Nabi Muhammad ialah kehidupan mulia penuh dengan kebaikan dan pelajaran hidup.

Dalam Al-Qur’an tidak kurang dari 33 ayat yang membahas tentang jihad sesuai konteks turunnya ayat dengan makna beragama dan berbeda. Ayat-ayat jihad bisa dipetakan berdasarkan periode Makkah dan Madinah. Keduanya akan sangat nampak membedakan pemaknaan ayat-ayat tentang jihad.

Al-Qur’an menunjukkan kepada umatnya bahwa jihad harus dilakukan di segala lini kehidupan sesuai dengan peran dan keahlian masing-masing manusia untuk mewujudkan kehidupan yang lebih baik bagi sesama. Kontekstualisasi makna jihad ini sekaligus menepis pandangan sejumlah kelompok yang memaknai jihad hanya sebagai perang dan kekerasan fisik belaka melalui pemahaman tekstual ayat-ayat Al-Qur’an.

Khamami Zada dalam Meluruskan Pandangan Keagamaan Kaum Jihadis (2018) mencatat bahwa terlalui sulit ditemukan bukti bahwa Rasulullah melakukan dan menganjurkan jihad ofensif terhadap para sahabatnya. Dari 22 perang yang diikuti Nabi—mengacu pada keterangan Ibnu Katsir—hampir tidak ditemukan bentuk peperangan dalam rangka ekspansi kekuasaan.

Jihad yang banyak terjadi—meski berupa jihad fisik—adalah peperangan dalam rangka mempertahankan kedaulatan atas hak hidup. Dalam kaidah ushul dikenal ada kedaulatan harta, kedaulatan harta benda, kedaulatan beragama, kedaulatan melanjutkan keturunan serta hak dalam hal harga diri. Nabi Muhammad dan umatnya tidak akan berperang jika tidak diperangi. Apalagi kaum musyrikin terus melakukan ancaman pembunuhan bagi umat Islam untuk menutup dakwah Rasulullah.

Sejarah mencatat, Rasulullah SAW tidak pernah bosan menghampiri umatnya untuk melakukan dakwah Islam dengan cara yang santun dan kesabaran yang tinggi. Karena tidak jarang Rasulullah mendapat perlakuan jauh dari kata ramah meskipun Nabi menyampaikannya secara ramah. Namun, berkat kesabaran dan kesejukan yang ditunjukkannya, tidak jarang pula akhirnya mereka memeluk agama Islam.

Meskipun Rasulullah tidak bisa membaca dan menulis, beliau amat cerdas memilih Zaid bin Tsabit sebagai sekretaris pribadi yang terkenal sebagai ahli bahasa-bahasa asing dunia kala itu. Gagasan Nabi ditulis oleh Zaid bin Tsabit lalu dikirim ke pusat-pusat kerajaan strategis.

Bukan hanya memilih Zaid bin Tsabit yang cerdas, Nabi juga memilih para diplomat ulungnya untuk menyampaikan langsung surat dakwah yang berisi ajakan memeluk Islam. Seperti diketahui, tradisi kerajaan terdahulu ialah suatu keberanian dan tentu sebuah penghormatan tinggi ketika ada utusan resmi menghampiri kerajaan untuk menyampaikan sebuah pesan. Apalagi pesan tersebut disampaikan secara damai dan tidak mudah karena harus mengarungi lautan dan melewati bentangan jarak yang sangat panjang bagi para utusan.

Ajaran dan seruan Nabi melalui surat direspon positif oleh kerajaan. Hasilnya menakjubkan, banyak raja dan orang-orang penting lainnya memeluk Islam. Raja-raja tersebut bukan tanpa alasan serta merta mengikuti seruan Nabi, karena mereka sebelumnya telah mendengar kabar soal utusan Allah bernama Muhammad, manusia terpercaya, jujur, dan menyampaikan kebenaran di setiap ucapannya.

Guru Besar bidang Tafsir Prof KH Nasaruddin Umar dalam Khutbah-khutbah Imam Besar (2018) mengungkapkan di antara surat-surat Rasulullah ialah kepada Muqawqis, Raja Qibthi di Mesir sekitar akhir tahun 6 H atau awal tahun 7 H sebagai berikut:

“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dari Muhammad hamba Allah dan utusan-Nya kepada Muqawqis, Raja Qibthi. Keselamatan semoga tercurah kepada orang yang mengikuti Petunjuk-Nya, amma ba’du: aku mengajakmu dengan ajakan kedamaian. Masuklah Islam maka engkau akan selamat. Masuklah Islam maka engkau akan diberikan Allah pahala dua kali. Jika engkau menolak maka atasmu dosa penduduk Qibthi.”

Sebagai sebuah penyampai kebenaran, tentu saja seruan Nabi Muhammad disambut gembira oleh Raja Muqawqis. Surat berisi seruan yang sama juga disampaikan Rasulullah kepada Kaisar Heraclius Raja Romawi, Raja Najasyi Penguasa Habasyah, Raja Gassan Jabalah bin Aiham, Raja Thaif, dan raja-raja besar lainnya.

Dakwah Nabi Muhammad melalui surat membuahkan teladan luhur bagi umat Islam bahwa kebenaran harus disampaikan dengan ajakan dan cara yang baik. Selain itu, dakwah juga menuntut kearifan akhlak penyampainya sehingga antara hati dan perkataan merupakan satu-kesatuan. Itulah bentuk integritas Nabi yang teguh dan berani tapi tetap ramah, berakhlak baik, dan menghormati.

Teladan dakwah tersebut merupakan jihad luar biasa dari junjungan ‘alam. Dalam khotbah haji Wada’, Rasulullah SAW telah jelas-jelas menjamin segenap nyawa, harta, dan kehormatan setiap manusia, apapun agama maupun sukunya. (Fathoni)
Rabu 22 Mei 2019 21:0 WIB
Pelajaran di Balik Nabi Muhammad Melewatkan Shalat Ashar saat Perang Khandaq
Pelajaran di Balik Nabi Muhammad Melewatkan Shalat Ashar saat Perang Khandaq
Ilustrasi shalat (viata-libera.co)
Perang Khandaq atau Perang Ahzab adalah salah satu peperangan yang diikuti langsung oleh Nabi Muhammad. Sebelum peperangan berkecamuk, sesuai usulan Salman al-Farisi, Nabi Muhammad memimpin para sahabatnya menggali parit di luar Kota Madinah. Tujuannya adalah untuk menghalau pasukan musuh dengan jumlah besar yang hendak menyerbu Kota Madinah. 

Disebutkan, ada 10 ribu pasukan aliansi -yang digalang Yahudi Madinah- dari kaum musyrik Makkah, kabilah Ghatafan, Bani Sulaim, dan beberapa suku lainnya yang siap menyerang umat Islam di Madinah. Jumlah tersebut bahkan lebih banyak daripada keseluruhan pendudukan Madinah pada saat itu. 

Nabi Muhammad memerintahkan setiap 10 orang laki-laki untuk menggali parit sepanjang 40 hasta. Beliau terus memantau mereka setiap harinya. Menurut riwayat Anas, Nabi Muhammad pergi ke parit pada pagi hari yang sangat dingin untuk mengecek sudah sejauh mana proyek tersebut berjalan. Bahkan, Nabi Muhammad ikut mencangkul manakala ada sahabatnya menemui tanah yang sangat keras dan tidak bisa digali. Dengan membaca doa, Nabi Muhammad berhasil menghancurkan tanah keras itu dengan sekali hantaman.

Merujuk buku Sirah Nabawiyah (Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, 2012), Nabi Muhammad dan pasukan umat Islam yang berjumlah tiga ribu personil keluar rumah manakala 10 ribu pasukan musuh sudah berada di luar Kota Madinah. Ketika pasukan musyrik hendak melancarkan serbuan ke arah pasukan Muslim, mereka terkaget karena di depannya ada parit yang besar dan panjang. Mereka akhirnya tidak jadi langsung menyerang dan memutuskan untuk mengepung pasukan Islam.   

Pasukan musyrik Quraisy tidak tinggal diam. Mereka terus mencari cara agar bisa melewati parit tersebut sehingga bisa menyerbu pasukan umat Islam secara langsung, namun usaha mereka selalu gagal. Kejadian pengepungan itu berjalan hingga beberapa hari. Hal itu membuat pasukan Muslim sibuk melakukan serangan balik manakala ada yang mencoba menyeberang parit. Akibatnya, Nabi Muhammad dan pasukan Muslim tidak sempat melaksanakan Shalat Ashar.

“Ya Rasulullah, aku tidak sempat Shalat Ashar hingga matahari hampir terbenam,” kata Sayyidina Umar bin Khattab.

“Demi Allah, aku juga belum shalat,” jawab Nabi Muhammad. Beliau kemudian berwudhu dan mengerjakan Shalat Ashar ketika matahari sudah benar-benar terbenam atau di waktu Shalat Maghrib. Setelah itu, beliau langsung menyambungnya dengan Shalat Maghrib. 

Ada ‘pelajaran’ tersendiri di balik Nabi Muhammad melewatkan Shalat Ashar saat Perang Khandaq tersebut. Menurut Said Ramadhan al-Buthi dalam bukunya The Great Episodes of Muhammad saw (2017), tindakan Nabi Muhammad itu menjadi dalil wajibnya meng-qadha (mengganti) shalat yang tertinggal atau terlewatkan. Kata al-Buthy, penetapan dalil ini tidak dapat dibantah oleh sebagian pendapat ulama yang menyebutkan bahwa penundaan shalat karena kesibukan seperti itu hanya berlaku pada saat itu saja, dengan dalil ketetapan itu sudah dihapus (nasakh) ketika shalat khauf disyariatkan.

Karena bagaimanapun, nasakh shalat khauf diberlakukan untuk untuk menghapus ketetapan diperbolehkannya menunda shalat karena kesibukan tertentu, bukan untuk menghapus ketatapan qadha shalat. Dengan kata lain, di-nasakh-nya kebolehan menunda shalat tidak serta merta me-nasakh kewajiban qadha shalat yang telah diwajibkan sebelumnya dan memiliki  hukum tetap. Di samping itu, shalat khauf sudah disyariatkan sebelum Perang Khandaq meletus, yaitu pada Perang Dzat al-Riqa'. 

Dalam Musnad Ahmad dan Asy-Syafi’i, Nabi Muhammad dan pasukan Muslim disebutkan tidak sempat melaksanakan Shalat Ddzuhur, Shalat Ashar, Shalat Maghrib, dan Shalat Isya pada saat Perang Khandaq. Lalu kemudian Nabi Muhammad mengerjakan shalat-shalat wajib yang terlewatkan tersebut secara sekaligus atau men-jama’-nya.

“Bahwa Perang Khandaq berjalan selama beberapa hari. Memang pada sebagian hari ada cara men-jama’ shalat seperti yang pertama dan sebagian hari yang lain ada cara menjama’ seperti yang kedua,” kata an-Nawawi dalam kitabnya Sharh Muslim, mengompromikan beberapa riwayat di atas. (A Muchlishon Rochmat)