IMG-LOGO
Trending Now:
Tasawuf/Akhlak

Pengertian Kata Al-Habib dalam Qashidah Burdah

Ahad 15 Juli 2018 6:0 WIB
Share:
Pengertian Kata Al-Habib dalam Qashidah Burdah
Kata ‘al-habib’ dalam Qashidatul Burdah dapat ditemukan pada larik “Hual habîbulladzî turjâ syafâ’atuhû/li kulli haulin minal ahwâli muqtahimi.” Sebagian orang membacanya muqatahami. Sebelum melihat varian arti kata ‘al-habib’, ada baiknya dikutip larik tersebut dan terjemahannya.

هُوَ الحَبيبُ الذي تُرْجَى شَفاعَتُهُ ** لِكُلِّ هَوْل من الأهوال مُقْتَحِمِ

Artinya, “Dialah al-habib, sang kekasih yang diharapkan syafaatnya/bagi setiap huru-hara yang menyergap tiba-tiba.”

Kata ‘al-habib’ pada larik di sini merujuk pada kata ‘Muhammadun' pada 'Muhammadun sayyidu kaunaini was tsaqalain’ atau ‘Nabiyyuna' pada 'Nabiyunal amirun nahi’ yang terdapat pada larik sebelumnya. Ke mana pun rujukan tekstualnya, kata ‘al-habib’ di sini merujuk pada sosok pribadi Nabi Muhammad SAW.

Syekh Ibrahim Al-Baijuri menyebutkan sejumlah varian arti kata ‘al-habib’, sang kekasih, sebagai berikut ini:

الضمير راجع لمحمد أو لنبينا والحبيب إما بمعنى محبّ فيكون اسم فاعل أو بمعنى محبوب فيكون اسم مفعول. وعلى كل فالمراد هو الحبيب لله أو لأمته لأنه أعظم محبّ لله وأفضل محبوب له وهو أيضا محبّ لأمته ومحبوب لها إذ من شرط كمال الإيمان أن يكون أحبّ من المال والولد والنفس

Artinya, “Dhamir atau kata ganti (hual habib) merujuk pada kata ‘Muhammadun’ atau kata ‘Nabiyunal amiru’. Kata ‘al-habib’ bisa jadi bermakna orang yang mencintai, berarti dibaca sebagai ism fa‘il, tetapi bisa jadi bermakna orang yang dicintai, berarti dibaca sebagai ism maf‘ul. Tetapi dibaca apapun, yang dimaksud dengan kata itu adalah orang yang mencintai Allah atau mencintai umatnya karena Rasulullah adalah orang yang paling mencintai Allah dan paling dicintai oleh-Nya. Rasulullah SAW juga orang yang sangat mencintai umatnya dan dicintai oleh umatnya karena syarat kesempurnaan iman umatnya adalah mencintai Rasulullah SAW melebihi harta, anak, bahkan diri mereka sendiri,” (Lihat Syekh Ibrahim Al-Baijuri, Hasyiyatul Baijuri ala Matnil Burdah, [Surabaya, Al-Hidayah: tanpa catatan tahun], halaman 22).

Salah satu varian arti kata ‘al-habib’ atau sang kekasih adalah orang yang seharusnya paling dicintai di muka bumi ini dibandingkan siapapun. Rasulullah SAW harus menjadi orang pertama yang dicintai oleh umat Islam.

Bahkan cinta kepada Rasulullah SAW menjadi syarat kesempurnaan iman seorang Muslim. Hal ini tercatat dalam riwayat hadits yang sangat terkenal berikut ini:

فقد قال عمر رضي الله عنه لرسول الله صلى الله عليه وسلم لأنت أحبّ إليّ من مالي وولدي والناس أجمعين دون نفسي فقال له عليه الصلاة والسلام لا يكمل إيمانك حتّى أكون أحبّ إليك من نفسك التى بين جنبيك فقال عمر رضي الله عنه لأنت أحب إليّ من نفسي فقال له عليه الصلاة والسلام قد كمل إذا إيمانك وهذا ترق لسيّدنا  عمر في الحال ببركته صلى الله عليه وسلم

Artinya, “Sayyidina Umar RA pernah berkata kepada Rasulullah, ‘Kau lebih kucintai daripada hartaku, anakku, dan seluruh manusia, kecuali diriku sendiri.’ ‘Keimananmu belum sempurna sehingga aku lebih kaucintai dibandingkan dirimu sendiri yang berada di antara sisi kanan-kirimu,’ jawab Rasulullah. Sayyidina Umar RA  menjawab ‘Kau lebih kucintai melebihi diriku sendiri.’ ‘Kalau demikian, keimananmu telah sempurna,’ jawab Rasulullah SAW. Seketika derajat keimanan Sayyidina Umar RA meningkat sebab keberkahan Rasulullah SAW,” (Lihat Syekh Ibrahim Al-Baijuri, Hasyiyatul Baijuri ala Matnil Burdah, [Surabaya, Al-Hidayah: tanpa catatan tahun], halaman 23).

Allahumma shalli wa sallim 'ala Sayyidina Muhammad wa alihi wa shabihi ajma'in. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)
Share:
Sabtu 14 Juli 2018 17:0 WIB
Pengertian Syair 'Muhammadun Sayyidul Kaunain was Tsaqalain'
Pengertian Syair 'Muhammadun Sayyidul Kaunain was Tsaqalain'
Muadzin di mushalla dan masjid di desa dan di kota kerap menyenandungkan sebelum azan atau iqamah shalawat kutipan Qashidah Burdah karya Imam Al-Bushiri yang berbunyi, “Muhammadun sayyidul kaunaini was tsaqalai/ni wal fariqaini min urbin wa min ajami/nabiyyunal amirun nahi fa la ahadun/abarra fi qauli la minhu wa la na'ami.”

Banyak orang tua juga masih menyenandungkan kutipan larik ini di hadapan anak-anaknya yang masih di bawah 10 tahun. Kutipan ini juga menjadi pembuka forum keagamaan seperti majelis taklim.

محمدٌ سيدُ الكونينِ والثَّقَلَيْ ** ينِ والفريقينِ من عُربٍ ومن عجمِ

Artinya, “Muhammad penghulu dua semesta, dua makhluk mulia, dan dua kelompok besar dari Arab dan ajam.”

Syekh Ibrahim Al-Baijuri memberikan arti kata larik ini secara harfiah. Dalam Hasyiyatul Baijuri ala Matnil Burdah, Syekh Ibrahim Al-Baijuri menyebut bangsa manusia dan jin sebagai kelompok ciptaan yang paling banyak memberatkan dunia baik karena populasi maupun karena dosa mereka.

وقوله سيد الكونين أي أشرف أهل الكونين... والمراد بالكونين الدنيا والآخرة وقوله والثقلين أي الإنس والجن وإنما سميا ثقلين لاثقالهما الإرض أو لثقلهما بالذنوب

Artinya, “Kata ‘Sayyidul kaunain’ adalah penduduk termulia di kaunain. ‘Kaunain’ sendiri adalah dunia dan akhirat. Kata ‘tsaqalain’ bermakna manusia dan jin. Kedua jenis makhluk itu disebut demikian karena keduanya membebani bumi atau bobot keduanya luar biasa karena dosa,” (Lihat Syekh Ibrahim Al-Baijuri, Hasyiyatul Baijuri ala Matnil Burdah, [Surabaya, Al-Hidayah: tanpa catatan tahun], halaman 22).

Syekh Khalid bin Abdullah Al-Azhari menyebut bangsa manusia dan jin sebagai makhluk paling mulia di atas muka bumi. Sementara Nabi Muhammad SAW sebagai penghulu dunia dan akhirat, kata Syekh Khalid, adalah makhluk yang agung dan mulia karena kalau bukan karena dirinya dunia ini takkan diciptakan oleh Allah.

العدم المراد به هنا التقدم على الممكنات قبل وجودها والسيد الجليل العظيم والكونان الدنيا والآخرة والثقلان الإنس والجن والثقل بالفتح النفيس من الشيء وأنفس ما على وجه الأرض الإنس والجن فلذلك سميا ثقلين والفريقان العرب والعجم والفريق الجماعة الكثيرة والعربي ما فصح بلغة العرب والعجم بخلافه

Artinya, “Maksud kata ‘ketiadaan’ di sini adalah keberadaan yang lebih dahulu dibandingkan alam semesta. Kata ‘sayyid’ bermakna orang mulia dan agung. Kata ‘al-kaunain’ bermakna dunia dan akhirat. Kata ‘tsaqalain’ adalah bangsa manusia dan jin. Kata ‘tsaqal’ yang ditulis dengan fathah bermakna yang berharga dari suatu barang. Sedangkan yang paling berharga di atas muka bumi adalah bangsa manusia dan jin. Oleh karena itu, kedua jenis makhluk ini dinamai tsaqalain. Yang dimaksud oleh kata ‘al-fariqain’ di sini adalah bangsa Arab dan ajam. Kata ‘al-fariq’ secara harfiah bermakna jamaah yang berisi banyak orang. Kata ‘Arab’ adalah orang yang fasih melafalkan bahasa Arab. Sedangkan ajam adalah bangsa yang sebaliknya, tidak fasih melafalkan bahasa Arab,” (Lihat Syekh Khalid bin Abdullah Al-Azhari, Syarah Khalid Al-Azhari ala Matnil Burdah, [Surabaya, Al-Hidayah: tanpa catatan tahun], halaman 22).

Karena dunia ini takkan diciptakan kalau bukan karena dirinya, maka Rasulullah SAW diciptakan terlebih dahulu sebelum alam semesta. Ini menunjukkan kedudukannya yang mulia sebagai sayyid atau penghulu dunia dan akhirat sebagai disebutkan dalam Barzanji Natsar berikut ini:

وأصلّي وأسلم على النور الموصوف بالتقدم والأوّليّة

Artinya, “Aku mengucap shalawat dan salam untuk cahaya yang disifatkan dahulu dan awal.”

Dalam larik Qashidatul Burdah berikut ini, Imam Al-Bushiri menyatakan bahwa Nabi Muhammad SAW yang menjadi “sebab” atau “asal” penciptaan dunia takkan mungkin berhajat kepada dunia karena beliau SAW sendiri adalah penghulu dunia:

وَكَيفَ تَدْعُو إلَى الدُّنيا ضَرُورَةُ مَنْ ** لولاهُ لم تخرجِ الدنيا من العدمِ
محمدٌ سيدُ الكونينِ والثَّقَلَيْ ** ينِ والفريقينِ من عُربٍ ومن عجمِ

Artinya, “Bagaimana orang yang kalau bukan karena dirinya niscaya dunia ini takkan keluar dari ketiadaannya berkepentingan terhadap dunia/Muhammad penghulu dua semesta, dua makhluk mulia, dan dua kelompok besar dari Arab dan ajam.”

Allahumma shalli wa sallim 'ala Sayyidina Muhammad wa alihi wa shabihi ajma'in. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)
Jumat 13 Juli 2018 22:2 WIB
Rasulullah SAW Sebab Penciptaan Alam Semesta dalam Qashidah Burdah
Rasulullah SAW Sebab Penciptaan Alam Semesta dalam Qashidah Burdah

Qashidatul Burdah karya Muhammad Sa‘id Al-Bushiri menyebut Nabi Muhammad SAW sebagai semacam sebab penciptaan alam semesta. Oleh karena itu, Al-Bushiri menyimpulkan bahwa Nabi Muhammad SAW tidak mungkin berambisi mengejar duniawi.

Dalam larik Qashidatul Burdah berikut ini, Imam Al-Bushiri menyatakan bahwa Nabi Muhammad SAW yang menjadi sebab penciptaan dunia takkan mungkin berhajat kepada dunia karena beliau SAW sendiri adalah penghulu dunia:

وَكَيفَ تَدْعُو إلَى الدُّنيا ضَرُورَةُ مَنْ ** لولاهُ لم تخرجِ الدنيا من العدمِ

Artinya, “Bagaimana orang yang kalau bukan karena dirinya niscaya dunia ini takkan keluar dari ketiadaannya berkepentingan terhadap dunia?”

Pernyataan Imam Al-Bushiri tidak berlebihan. Pernyataan Al-Bushiri cukup beralasan  karena didasarkan pada hadits qudsi riwayat Al-Hakim dan Al-Baihaqi yang menyatakan bahwa kalau bukan karena Nabi Muhammad SAW, Allah takkan menciptakan Nabi Adam AS.

والأصل في ذلك ما رواه الحاكم والبيهقي من قول الله تعالى لآدم لما سأله بحق محمد أن يغفر له ما اقترفه من صورة الخطيئة وكان رأى على قوائم العرش مكتوبا لا إله إلا الله محمد رسول الله سألتني بحقه أن أغفر لك ولولاه ما خلقتك فوجود آدم عليه السلام متوقف على وجوده صلى الله عليه وسلم

Artinya, “Dasar atas pernyataan ini adalah hadits riwayat Al-Hakim dan Al-Baihaqi perihal jawaban Allah SWT kepada Nabi Adam AS yang meminta dengan nama Nabi Muhammad SAW ampunan terkait kekeliruannya. Nabi Adam AS ketika itu melihat catatan ‘Lâ ilâha illallâh, Muhammadur Rasûlullâh’ pada tiang-tiang Arasy. Allah menjawab, ‘Kau meminta dengan namanya (Nabi Muhammad SAW) agar Aku mengampunimu. Sungguh, kalau bukan karenanya, Aku tidak akan menciptakanmu.’ Jadi, ujud Nabi Adam AS bergantung pada ujud Nabi Muhammad SAW,” (Lihat Syekh Ibrahim Al-Baijuri, Hasyiyatul Baijuri ala Matnil Burdah, [Surabaya, Al-Hidayah: tanpa catatan tahun], halaman 21).

Kalau bukan karena Nabi Muhammad SAW, niscaya Allah takkan menciptakan Nabi Adam AS. Kalau Nabi Adam AS tidak diciptakan oleh Allah, niscaya anak Adam atau bani Adam takkan diciptakan. Sedangkan nyatanya, Allah menciptakan Nabi Adam AS dan anak keturunannya. Allah juga menciptakan alam semesta ini hanya untuk keperluan manusia. Jadi, hanya karena Nabi Muhammad SAW Allah menciptakan alam semesta raya ini.

Syekh Ibrahim Al-Baijuri yang pernah memimpin Universitas Al-Azhar di zamannya mencoba membangun logika ini dalam Hasyiyatul Burdah berikut ini:

وآدم أبو البشر وقد خلق الله لهم ما في الأرض  وسخر لهم الشمس والقمر والليل والنهار وغير ذلك كما هو نص القرآن قال تعالى خَلَقَ لَكُمْ مَّا فِي الأَرْضِ جَمِيعاً وَسَخَّرَ لَكُمُ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ دَائِبَيْنِ وَسَخَّرَ لَكُمُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ وإذا كانت هذه الأمور إنما خلقت لأجل البشر وأبو البشر إنما خلق لأجله صلى الله عليه وسلم كانت الدنيا إنما خلقت لأجله فيكون صلى الله عليه وسلم هو السبب في وجود كل شيء

Artinya, “Nabi Adam AS memang bapak manusia. Allah menciptakan apa yang ada di bumi untuk anak manusia. Allah juga menundukkan matahari, bulan, malam, siang, dan lain sebagainya untuk anak manusia sebagaimana tercantum dalam Al-Quran, 'Dia menciptakan untukmu apa yang ada di bumi semuanya,’ (Surat Al-Baqarah ayat 29) dan ‘Dia menundukkan bagimu matahari dan bulan silih berganti dan Dia menundukkan bagimu malam dan siang,’ (Surat Ibrahim ayat 33). Jadi, ketika semesta alam raya itu diciptakan untuk manusia, sementara Nabi Adam AS adalah bapak manusia diciptakan karena Nabi Muhammad SAW, maka dunia ini diciptakan karena Nabi Muhammad SAW. Jadi, Nabi Muhammad SAW adalah sebab bagi segala ujud,” (Lihat Syekh Ibrahim Al-Baijuri, Hasyiyatul Baijuri ala Matnil Burdah, [Surabaya, Al-Hidayah: tanpa catatan tahun], halaman 21-22).

Syekh Khalid bin Abdullah Al-Azhari dalam Syarah Burdah menyatakan bahwa karena Rasulullah SAW sendiri adalah sebab atas penciptaan alam semesta, maka beliau SAW tidak berhajat dan berhasrat pada kesenangan duniawi yang fana:

ومعنى البيتين أنه صلى الله عليه وسلم لا تدعوه الضرورة الى حطام الدنيا الفانية فإن الدنيا ما أخرجت من العدم إلى الوجود إلا لأجله وكيف يكون كذلك وهو سيد أهل الدنيا والآخرة وسيد الانس والجن وسيد العرب والعجم

Artinya, “Makna bait ini adalah bahwa Nabi Muhammad SAW tidak berkepentingan untuk mengumpulkan harta benda duniawi yang fana karena dunia tidak diciptakan dari ketiadaan menjadi ada kecuali karena dirinya. Lalu bagaimana bisa demikian (haus harta duniawi) dengan Rasulullah SAW, sedangkan beliau adalah penghulu (pangkal atau permulaan) penduduk dunia dan akhirat, penghulu manusia dan jin, dan penghulu bangsa Arab dan bangsa ajam,” (Lihat Syekh Khalid bin Abdullah Al-Azhari, Syarah Khalid Al-Azhari ala Matnil Burdah, [Surabaya, Al-Hidayah: tanpa catatan tahun], halaman 22).

Logika yang dibangun oleh Imam Al-Bushiri, Syekh Ibrahim Al-Baijuri, dan Syekh Khalid Al-Azhari merupakan refleksi dari Surat Al-Baqarah ayat 29, Surat Ibrahim ayat 33, dan hadits berikut ini:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم أنا سيد ولد آدم ولا فخر

Artinya, “Rasulullah SAW bersabda, ‘Aku penghulu anak Adam, dan tidak sombong,’” (HR Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah).

Dari pelbagai keterangan ini, tidak berlebihan ketika Sayyid Bakri Syatha dalam mukaddimah I‘anatut Thalibin menganjurkan kita untuk bersyukur kepada Rasulullah SAW karena jasanya yang mengajarkan kita mengenal dan bersyukur kepada Allah.

Sayyid Bakri Syatha menyebut Rasulullah SAW tidak lain adalah asal penciptaan bagi semua makhluk Allah. Sayyid Bakri menganjurkan kita untuk membaca banyak shalawat. Hanya saja "asal" dan kata "sebab" penciptaan di sini mesti dipahami sebagai asal atau sebab secara majazi karena pada hakikatnya perbuatan Allah tidak tergantung pada illat atau sebab.

Meskipun demikian, shalawat terhadap Nabi Muhammad SAW merupakan bentuk terima kasih atau syukur kita umat manusia terhadap Rasulullah SAW sebagai penghulu segenap manusia sebagaimana sabdanya yang mulia. Allahumma shalli wa sallim 'ala Sayyidina Muhammad wa alihi wa shabihi ajma'in. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)

Jumat 13 Juli 2018 9:0 WIB
Tata Krama Anak dan Orang Tua yang Berbeda Agama
Tata Krama Anak dan Orang Tua yang Berbeda Agama

Perbedaan keyakinan, dalam hal ini perbedaan agama, bukan alasan seorang anak untuk meninggalkan tata krama terhadap kedua orang tuanya. Agama Islam tidak mempersoalkan perbedaan agama sebagai alasan seorang anak untuk bersikap kurang ajar terhadap kedua orang tua.

Syekh Nawawi Banten mengatakan bahwa seorang anak sebaiknya tetap berinteraksi dengan kedua orang tuanya yang berbeda keyakinan sejauh interaksi tersebut tidak terkait dengan masalah keagamaan.

Singkatnya, Syekh Nawawi Banten mengatakan bahwa seorang anak harus bercengkerama secara hangat dengan kedua orang tuanya meskipun keduanya adalah non-Muslim pada urusan duniawi yang terlepas dari soal keyakinan dan pengamalan agama.

وأما الوالدان الكافران فأدب الولد معهما مصاحبتهما في الأمور التى لا تتعلق بالدين ما دام حيا ومعاملتهما  بالحلم والاحتمال وما تقتضيه مكارم الأخلاق والشيم

Artinya, “Perihal kedua orang tua yang kafir, maka tata krama anak terhadap keduanya adalah berbakti kepada mereka pada masalah-masalah yang tidak terkait dengan urusan agama selama mereka masih hidup, berinteraksi dengan keduanya dengan santun dan ‘nerima’, serta apa yang sesuai dengan tuntutan akhlak dan perilaku yang mulia,” (Lihat Syekh Nawawi Banten, Syarah Maraqil Ubudiyyah, [Indonesia, Daru Ihya’il Kutubuil Arabaiyyah: tanpa catatan tahun], halaman 89).

Sikap yang baik dan tetap menunjukkan bakti kepada kedua orang tua yang berbeda agama ini tidak lain merupakan perintah Allah SWT dalam Surat Luqman berikut ini:

وَوَصَّيْنَا الْأِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْناً عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلَى أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفاً

Artinya, “Kami berwasiat kepada manusia terhadap kedua orang tuanya, ibunya telah mengandungnya dalam keadaan amat payah dan menyapihnya dalam waktu dua tahun agar ‘Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada-Ku tempat kembali. Jika keduanya memaksamu untuk menyekutukan-Ku, sesuatu yang kamu tidak ketahui, janganlah kamu patuhi keduanya, tetapi bergaullah dengan keduanya dengan baik,’” (Surat Luqman ayat 14-15).

Tetapi secara umum, seorang anak sebaiknya memperhatikan 12 sikap ini yang dianjurkan oleh Imam Al-Ghazali terhadap kedua orang tuanya.

وإن كان لك والدان، فآداب الولد مع الوالدين: أن يسمع كلامهما، ويقوم لقيامهما؛ ويمتثل لأمرهما، ولا يمشي أمامهما، ولا يرفع صوته فوق أصواتهما، ويلبي دعوتهما، ويحرص على مرضاتهما، ويخفض لهما جناح الذل، ولا يمن عليهما بالبر لهما ولا بالقيام لأمرهما، ولا ينظر إليهما شزراً، ولا يقطب وجهه في وجههما، ولا يسافر إلا بإذنهما

Artinya, “Jika kau memiliki kedua orang tua, maka adab seorang anak terhadap keduanya adalah mendengarkan ucapan keduanya, berdiri ketika keduanya berdiri, mematuhi perintah keduanya, tidak berjalan di depan keduanya (kecuali terpaksa karena keadaan), tidak mengeraskan suara melebihi suara keduanya, menjawab panggilan keduanya, berupaya keras mengejar ridha keduanya, bersikap rendah hati terhadap keduanya, tidak mengungkit kebaktian terhadap keduanya atau kepatuhan atas perintah keduanya, tidak memandang keduanya dengan pandangan murka, tidak memasamkan wajah di hadapan keduanya, dan tidak melakukan perjalanan tanpa izin keduanya,” (Lihat Al-Ghazali, Bidayatul Hidayah, [Indonesia, Daru Ihya’il Kutubuil Arabaiyyah: tanpa catatan tahun], halaman 89).

Perbedaan agama tidak boleh menjadi alasan bagi anak untuk membenci atau menjauhi kedua orang tua. Seorang anak dapat menunjukkan bakti luar biasa kepada kedua orang tua meskipun berbeda agama. Rasulullah SAW memberikan keteladanan kepada umat Islam perihal ini dengan baktinya kepada pamannya yang mendidik dan mengasuhnya sejak kecil, yaitu Abu Thalib. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)