IMG-LOGO
Syariah

Enam Prinsip Hubungan Umat Islam dengan Pemeluk Agama Lain

Selasa 31 Juli 2018 19:10 WIB
Share:
Enam Prinsip Hubungan Umat Islam dengan Pemeluk Agama Lain
Konferensi Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Timur yang digelar pada 28-29 Juli 2018 atau bertepatan dengan 15-16 Dzulqa’dah 1439 H menyoroti sejumlah masalah keagamaan. Salah satu materi bahtsul masail dalam forum tertinggi NU tingkat wilayah di Pondok Pesantren Lirboyo Kediri itu adalah soal kerukunan antarumat beragama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Baca juga: Serunya Bahtsul Masail Konferwil Hingga Jelang Subuh
Berikut ini adalah di antara hasil diskusi Komisi Bahtsul Masail Maudhu’iyah. Berbeda dari Komisi Bahtsul Masail Waqi’iyah, komisi ini lebih fokus pada paparan konseptual tentang masalah tertentu, ketimbang kesimpulan hukum “halal-haram”. Pembahasan dilakukan oleh para utusan dari berbagai Pengurus Cabang NU di Jatim, serta dirumuskan oleh KH Ahmad Asyhar Shofwan, K Fauzi Hamzah Syam, KH Shamthon Mashduqi, dan KH Abd. Rozaq Sholeh. Selanjutnya, hasil tersebut di-tashih kembali oleh KH  Romadlon Khotib, KH Muhibbul Aman Aly, dan KH Azizi Hasbulloh.
_______________

Prinsip Menjalin Kerukunan bagi Umat Islam Terhadap Pemeluk Agama Lain

1. Dasar hubungan antara umat Islam dan pemeluk agama lain

Realitas keberagaman manusia dalam agama dan keyakinannya merupakan sunatullah yang tidak bisa dihilangkan. Andaikan Allah subhanahu wata’ala mempersatukan manusia dalam satu agama misalnya tentu Dia kuasa, namun realitasnya tidak demikian.

وَلَوْ شاءَ رَبُّكَ لَجَعَلَ النَّاسَ أُمَّةً واحِدَةً وَلا يَزالُونَ مُخْتَلِفِينَ ، إِلاَّ مَنْ رَحِمَ رَبُّكَ وَلِذلِكَ خَلَقَهُمْ وَتَمَّتْ كَلِمَةُ رَبِّكَ لَأَمْلَأَنَّ جَهَنَّمَ مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

“Dan jika Tuhan-mu menghendaki, tentu Dia jadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih (pendapat), kecuali orang yang diberi rahmat oleh Tuhan-mu. Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka. Kalimat (keputusan) Tuhan-mu telah tetap, "Aku pasti akan memenuhi neraka Jahannam dengan jin dan manusia (yang durhaka) semuanya." (QS. Hud: 118–119)

Perbedaan agama tidak bisa dijadikan alasan untuk berperilaku buruk, memusuhi dan memerangi pemeluk agama lain. Dengan demikian asas hubungan antara umat Islam dengan non-Muslim bukanlah peperangan dan konflik, melainkan hubungan tersebut didasari dengan perdamaian dan hidup berdampingan secara harmonis. Islam memandang seluruh manusia, apa pun agama dan latar belakangnya, terikat dalam persaudaraan kemanusian (ukhuwwah insaniyyah) yang mengharuskan mereka saling menjaga hak-hak masing, mengasihi, tolong-menolong, berbuat adil dan tidak menzalimi yang lain. Allah subhanahu wata’ala. berfirman:

لا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوْكُم مِّنْ دِيَارِكُمْ أنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوْا إلَيْهِمْ إنَّ اللهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِيْنَ

“Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu dalam urusan agama dan tidak mengusir kamu dari kampong halamanmu. Sesungguhnya Alloh mencintai orang-orang yang berlaku adil.” (QS Al-Mumtahanah: 8)

2. Mengedepankan budi pekerti yang baik

Di manapun berada, terlebih di lingkungan yang plural, seorang Muslim tidak dapat melepaskan dirinya dari hubungan sosial dengan pemeluk agama lain. Islam mengajarkan, dalam setiap menjalin hubungan dan interaksi sosial dengan siapa pun baik Muslim maupun non-Muslim, setiap Muslim harus tampil dengan budi pekerti yang baik (Akhlaq al-Karīmah), tutur kata yang  lembut, dan sikap yang penuh kesantunan dan kasih sayang (rahmah). Sebagaimana perintah Allah subhanahu wata’ala. kepada Nabi Musa As. dan nabi Harun As. untuk bertutur kata lembut kepada Fir’aun:

فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَيِّنًا لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى

“Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut.” (QS. Thaha: 44)

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. juga bersabda:

أَوْحَى اللهُ إِلَى إِبْرَاهِيْمَ  يَا إِبْرَاهِيْمُ حَسِّنْ خُلُقَكَ وَلَوْ مَعَ الْكُفَّارِ تَدْخُلْ مَدَاخِلَ الْأَبْرَارِ

"Allah menyampaikan wahyu kepada Nabi Ibrahim As: 'Perbaikilah budi pekertimu meskipun terhadap orang-orang non-Muslim, maka engkau akan masuk (surga) tempat tinggal orang-orang yang baik'." (HR. Al Hakim at Tirmidzi)

Sikap seperti ini merupakan refleksi kebeningan spiritual pada diri seorang Muslim.

3. Internalisasi semangat persaudaraan nasional (ukhuwwah wathaniyyah)

Kerukunan antarumat beragama tidak dapat terjalin sempurna hanya dengan sikap saling toleransi saja, namun diperlukan adanya keterbukaan diri untuk terlibat dalam kerjasama demi meraih kebaikan bersama. Bangsa Indonesia disatukan oleh kehendak, cita-cita, atau tekad yang kuat untuk membangun masa depan dan hidup bersama sebagai warga negara di bawah naungan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Seluruh elemen bangsa Indonesia disatukan dan meleburkan diri dalam satu ikatan kebangsaan atau persaudaraan sebangsa setanah air (Ukhuwwah Wathaniyyah), terlepas dari perbedaan agama dan latar belakang primordial lainnya. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Menyatukan seluruh penduduk madinah dalam satu ikatan kebangsaan:

وَإِنَّ يَهُودَ بَنِي عَوْفٍ أُمَّةٌ مَعَ الْمُؤْمِنِينَ، لِلْيَهُودِ دِينُهُمْ، وَلِلْمُسْلِمِينَ دِينُهُمْ، مَوَالِيهِمْ وَأَنْفُسُهُمْ، إِلَّا مَنْ ظَلَمَ وَأَثِمَ، فَإِنَّهُ لَا يُوْتِغُ إِلَّا نَفْسَهُ، وَأَهْلَ بَيْتِهِ

“Kaum Yahudi dari Bani ‘Auf adalah satu umat dengan mukminin. Bagi kaum Yahudi agama mereka, dan bagi kaum Muslimin agama mereka. Juga (kebebasan ini berlaku) bagi sekutu-sekutu dan diri mereka sendiri. Kecuali bagi yang zalim dan jahat, maka hal demikian akan merusak diri dan keluarganya.”

إنَّهُمْ أُمَّةٌ وَاحِدَةٌ مِنْ دُونِ النَّاسِ

“Sesungguhnya mereka adalah umat yang satu, bukan dari komunitas yang lain.”

Ikatan persaudaran ini meniscayakan kewajiban bersama untuk saling bahu-membahu bekerjasama dalam membela, memajukan dan memakmurkan negaranya, mengesampingkan segala bentuk perbedaan primordial. Sebagaimana tercantum dalam salah satu butir piagam Madinah:

وَإِنَّ عَلَى الْيَهُودِ نَفَقَتَهُمْ وَعَلَى الْمُسْلِمِينَ نَفَقَتَهُمْ، وَإِنَّ بَيْنَهُمْ النَّصْرَ عَلَى مَنْ حَارَبَ أَهْلَ هَذِهِ الصَّحِيفَةِ، وَإِنَّ بَيْنَهُمْ النُّصْحَ وَالنَّصِيحَةَ، وَالْبِرَّ دُونَ الْإِثْمِ وإنه لم يأثم امرؤ بحليفه وإن النصر للمظلوم

“Bagi kaum Yahudi ada kewajiban biaya dan bagi umat Islam ada kewajiban biaya. Mereka (Yahudi dan Muslimīn) bantu-membantu dalam  menghadapi musuh piagam ini. Mereka saling memberi saran, nasehat dan berbuat baik tidak boleh berbuat jahat. Seseorang tidak menanggung hukuman akibat kesalahan sekutunya. Pembelaan diberikan pada pihak yang teraniaya.”

4. Kebebasan beragama, beribadah dan mendirikan rumah ibadah

Agama Islam menjamin kebebasan beragama bagi setiap pemeluk agama lain, dalam arti memaksakan non-Muslim untuk memeluk agama Islam merupakan sebuah larangan.

لاَ إِكْرَاهَ فِي الدِّيْنِ

“Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (Islam).” (QS Al-Baqarah: 256)

Di sisi lain, problematika pendirian rumah ibadah di tengah-tengah masyarakat yang plural merupakan persoalan yang sensitif. Setiap peristiwa pengerusakan, atau gangguan terhadap rumah ibadah ataupun aktivitas peribadatan selalu menimbulkan dampak kerenggangan antar pemeluk agama yang dapat merusak kerukunan di antara mereka, bahkan rawan menyulut konflik. Islam memberikan toleransi dan menjamin kebebasan terhadap pemeluk agama lain untuk melakukan kegiatan keagamaan dan beribadah sesuai keyakinannya. Begitu pula terhadap pendirian tempat ibadah, namun kebebasan tersebut tetap harus mempertimbangkan kebutuhan terhadap rumah ibadah serta harus sesuai perundang-undang dan peraturan pemerintah yang berlaku.

5. Tidak mengganggu, merendahkan, menistakan atau menghina simbol-simbol agama lain

Allah subhanahu wata’ala berfirman:

وَلَا تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ كَذَلِكَ زَيَّنَّا لِكُلِّ أُمَّةٍ عَمَلَهُمْ ثُمَّ إِلَى رَبِّهِمْ مَرْجِعُهُمْ فَيُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Dan janganlah kamu memaki sesembahan yang mereka sembah selain Alloh, karena mereka nanti akan memaki Alloh dengan melampaui batas dasar pengetahuan.Demikianlah kami jadikan setiap ummat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada tuhan tempat kembali mereka, lalu dia akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan”. (QS. Al-An’am: 108)

6. Menghormati hak-hak mereka sebagai warga negara Indonesia, seperti hak memilih pekerjaan, memeluk agama dan beribadah sesuai keyakinannya, berpolitik, keadilan hukum dan sebagainya


(Red: Mahbib)
Share:
Jumat 27 Juli 2018 9:0 WIB
Penjelasan Haram, Makruh Tahrim, Khilaful Aula, dan Makruh Tanzih
Penjelasan Haram, Makruh Tahrim, Khilaful Aula, dan Makruh Tanzih
Kita sering mendengar kata “haram”. Kita juga sering mendengar kata “makruh”. Tetapi kita sesekali menemukan kata makruh tahrim atau karahatut tahrim, makruh tanzih atau karahatut tanzih, dan khilaful aula dalam literatur fiqih. Apa yang dimaksud oleh ulama fiqih dengan semua istilah ini?

Secara umum, semua istilah ini merujuk pada perbuatan yang dilarang dalam agama Islam. Syekh Ibrahim Al-Baijuri menerangkan tiga istilah ini yang dimulai dari makruh tahrim dan makruh tanzih:

والفرق بين كراهة التحريم وكراهة التنزيه أن الأولى تقتضي الإثم والثانية لا تقتضيه

Artinya, “Perbedaan antara karahatut (makruh) tahrim dan karahatut (makruh) tanzih, adalah yang pertama perbuatan (makruh tahrim) meniscayakan dosa dan yang kedua (makruh tanzih) tidak meniscayakan dosa,” (Lihat Syekh Ibrahim Al-Baijuri, Hasyiyatul Baijuri ala Syarah Allamah ibni Qasim, [Beirut, Darul Fikr: tanpa catatan tahun], cetakan pertama, halaman 197).

Syekh Ibrahim Al-Baijuri juga menyebutkan bahwa perbuatan makruh tanzih juga perbuatan terlarang yang menyebabkan pelakunya berdosa.

وإنما أثم هنا حتى على القول بأن الكراهة للتنزيه للتلبس بالعبادة الفاسدة

Artinya, “Hanya seseorang berdosa di sini–meskipun menurut salah satu pendapat ulama–karena makruh tanzih menyerupai ibadah yang rusak,” (Lihat Syekh Ibrahim Al-Baijuri, Hasyiyatul Baijuri ala Syarah Allamah ibni Qasim, [Beirut, Darul Fikr: tanpa catatan tahun], cetakan pertama, halaman 197).

Perbuatan yang hukumnya makruh tanzih adalah perbuatan terlarang tanpa dosa yang menyalahi adab, yaitu memulai sesuatu dengan sesuatu serba kiri, minum sambil berdiri, mengipasi makanan yang masih panas, atau meninggalkan amalan yang dianjurkan, untuk menyebut sejumlah contoh perbuatan makruh tanzih.

Perbuatan makruh tanzih atau karahah tanzih ini yang juga kemudian diistilahkan oleh ulama fiqih sebagai perbuatan khilaful aula, sebuah perbuatan menyalahi yang utama atau yang afdhal.

Sedangkan makruh tahrim adalah perbuatan terlarang yang ditetapkan oleh dalil yang mengandung multitafsir. Syekh Ibrahim Al-Baijuri menyebut shalat sunnah mutlak setelah shalat Subuh dan Shalat Ashar sebagai contoh makruh tahrim atau karahah tahrim.

Al-Baijuri menyebut riwayat Imam Muslim yang menceritakan bahwa Rasulullah SAW melarang sejumlah shahabatnya untuk shalat di tiga waktu, salah satunya adalah shalat setelah shalat Subuh.

لما رواه مسلم عن عقبة بن عامر رضي الله عنه قال ثلاث ساعات كان رسول الله صلى الله عليه وسلم ينهانا أن نصلي فيهن أو نقبر فيهن موتانا حين تطلع الشمس بازغة حتى ترتفع وحين يقوم قائم الظهيرة حتى تميل الشمس وحين تضيف الشمس للغروب

Artinya, “Seperti diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Sahabat Uqbah bin Amir RA, ia berkata, ‘Terdapat tiga waktu di mana Rasulullah SAW melarang kami shalat atau memakamkan jenazah kami di dalamnya, yaitu ketika matahari terbit hingga naik, ketika unta berdiri (karena panas atau istiwa) hingga matahari sedikit miring, dan ketika matahari miring hingga terbenam,’” (Lihat Syekh Ibrahim Al-Baijuri, Hasyiyatul Baijuri ala Syarah Allamah ibni Qasim, [Beirut, Darul Fikr: tanpa catatan tahun], cetakan pertama, halaman 197).

Jadi, shalat sunnah mutlak, yaitu shalat sunnah atau shalat tanpa sebab tertentu setelah shalat Subuh atau shalat Ashar termasuk ke dalam kategori makruh tahrim sebagaimana riwayat Imam Muslim. Pandangan ini dipegang oleh Madzhab Syafi’i.

Al-Baijuri terakhir menjelaskan perbedaan makruh tahrim dan haram. Ketika menemukan kata “makruh tahrim” dan kata “haram”, maka kita perlu mengingat bahwa orang yang melakukan perbuatan makruh tahrim dan perbuatan haram akan terkena dosa.

والفرق بين كراهة التحريم والحرام مع أن كلا يقتضي الإثم أن كراهة التحريم ما ثبتت بدليل يحتمل التأويل والحرام ما ثبت بدليل قطعي لا يحتمل التأويل من كتاب أو سنة أو إجماع أو قياس

Artinya, “Perbedaan antara makruh tahrim dan haram–sekalipun keduanya menuntut dosa–adalah makruh tahrim adalah perbuatan terlarang yang didasarkan pada dalil yang mengandung ta’wil. Sedangkan haram adalah perbuatan terlarang yang didasarkan pada dalil qath‘i yang tidak mengandung kemungkinan penakwilan baik dalil Al-Qur‘an, sunnah, ijmak, atau qiyas,” (Lihat Syekh Ibrahim Al-Baijuri, Hasyiyatul Baijuri ala Syarah Allamah ibni Qasim, [Beirut, Darul Fikr: tanpa catatan tahun], cetakan pertama, halaman 197).

Dari penjelasan Al-Baijuri, kita dapat menarik simpulan bahwa pembeda antara makruh tahrim dan haram adalah karakter sumber dalilnya.

Kalau larangan atas sebuah perbuatan datang dari dalil yang memungkinkan takwil, maka perbuatan terlarang itu termasuk makruh tahrim. Tetapi ketika larangan atas sebuah perbuatan datang dari dalil qath’i yang tidak dapat ditakwil, maka perbuatan terlarang itu termasuk haram.

Contoh perbuatan haram sebagaimana dimaklum adalah minum khamar, perjudian, perzinaan, praktik riba, pembunuhan, dan perbuatan lain dengan karakter dalil yang serupa. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)
Senin 23 Juli 2018 17:0 WIB
Hukum Tato, Rajah Kulit
Hukum Tato, Rajah Kulit
(Foto: instructables)
Kita berjumpa dengan banyak orang ketika memasuki ruang publik, yaitu stasiun, pasar tradisional, bandara, pelabuhan, kantor-kantor layanan pemerintah, terminal, pasar swalayan, dan lain sebagainya. Kita menemukan gambar pada bagian tubuh tertentu dari sebagian mereka.

Gambar yang dimaksud di sini adalah apa yang kita kenal sebagai tato, bukan gambar yang dibuat dari pewarna merah dari daun inai atau yang disebut pacar kuku, atau tato nonpermanen. Tato sendiri adalah gambar atau lukisan pada kulit tubuh yang dibuat dengan cara menusuki kulit dengan jarum halus kemudian memasukkan zat warna ke dalam bekas tusukan itu.

Gambar tato ini dihukumi haram oleh para ahli hukum fiqih. Gambar tato ini disebut al-wasymu. Aktivitas menggambar dengan cara menato ini yang juga disinggung oleh Rasulullah SAW dalam haditsnya berikut ini:

ذَهَبَ جُمْهُورُ الْفُقَهَاءِ إِلَى أَنَّ الْوَشْمَ حَرَامٌ لِلأَحَادِيثِ الصَّحِيحَةِ فِي لَعْنِ الْوَاشِمَةِ وَالْمُسْتَوْشِمَةِ، وَمِنْهَا حَدِيثُ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَال لَعَنَ رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْوَاصِلَةَ وَالْمُسْتَوْصِلَةَ وَالْوَاشِمَةَ وَالْمُسْتَوْشِمَةَ. وَعَدَّهُ بَعْضُ الْمَالِكِيَّةِ وَالشَّافِعِيَّةِ مِنَ الْكَبَائِرِ يُلْعَنُ فَاعِلُهُ. وَقَال بَعْضُ مُتَأَخِّرِي الْمَالِكِيَّةِ بِالْكَرَاهَةِ، قَال النَّفْرَاوِيُّ وَيُمْكِنُ حَمْلُهَا عَلَى التَّحْرِيمِ

Artinya, “Mayoritas ahli fiqih berpendapat bahwa tato adalah haram berdasarkan sejumlah hadits shahih yang melaknat orang yang membuat tato atau orang yang minta ditato. Salah satu haditsnya adalah riwayat Ibnu Umar RA. Ia berkata bahwa Rasulullah SAW melaknat orang yang menyambung rambut, orang yang meminta rambut disambung, orang yang membuat tato, dan orang yang membuat tato disambung. Sebagian ulama Malikiyah dan Syafi’iyah memasukkan tato sebagai dosa besar yang pelakunya dilaknat (oleh Allah). Sebagian ulama Malikiyah mutaakhirin menganggapnya makruh. An-Nafrawi menjelaskan bahwa makruh yang dimaksud adalah haram,” (Wizaratul Auqaf was Syu’unul Islamiyyah, Mausu’atul Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah, [Kuwait, Wizaratul Auqaf: 2005 M/1425 H], cetakan pertama, juz XXXXIII, halaman 158 ).

Syekh Wahbah Az-Zuhayli menyebut kata al-wasymu dengan sebuah praktik pembuatan gambar dengan cara menusuki kulit dengan jarum halus kemudian memasukkan zat warna ke dalam bekas tusukan itu hingga warna itu menjadi kehijauan atau kebiruan. Praktik ini yang kita temukan padanannya dalam bahasa Indonesia adalah tato atau rajah.

ويحرم … ووشْم (وهو غرز الجلد بإبرة حتى يخرج الدم ثم حشوه كحلاً أو نيلة ليخضر أو يزرق بسبب الدم الحاصل بغرز الإبرة)، … لقوله صلّى الله عليه وسلم لعن الله الواشمات والمستوشمات، والنامصات والمتنمصات، والمتفلجات للحسن، المغيرات خلق الله أي الفاعلة، والمفعول بها ذلك بأمرها، واللعنة على الشيء تدل على تحريمه؛ لأن فاعل المباح لا تجوز لعنته

Artinya, “Haram…menato, yaitu menusuk kulit dengan jarum sehingga keluar darah lalu diisi dengan zat warna atau zat warna biru dari pohon nila agar menjadi hijau atau biru karena bercampur darah yang keluar karena tusukan jarum… berdasarkan sabda Rasulullah SAW, ‘Allah melaknat orang yang membuat tato, orang yang meminta dibuatkan tato, orang yang menghilangkan bulu dirinya atau bulu orang lain, orang yang meminta orang lain menghilangkan bulu dari dirinya, dan orang yang membelah giginya untuk keelokan,’ yaitu mereka yang mengubah ciptaan Allah, baik penyedia jasanya maupun pengguna jasanya. Laknat atau kutukan Allah terhadap orang atas suatu perbuatan menunjukkan keharaman perbuatan tersebut karena orang yang berbuat mubah tidak mungkin dikutuk,” (Lihat Syekh Wahbah Az-Zuhayli, Al-Fiqhul Islami wa Adillatuhu, [Beirut, Darul Fikr: 1985 M/1405 H], cetakan kedua, juz I, halaman 312-313).

Dari pelbagai keterangan ini, kita dapat menyimpulkan bahwa pembuatan tato merupakan sesuatu yang diharamkan. Orang yang membuat maupun orang yang minta ditato tubuhnya mendapat laknat dari Allah SWT sebagaimana keterangan di atas.

Kami menyarankan mereka yang ingin mengekpresikan gagasannya dan menuangkan idenya ke tubuh cukup menggunakan pacar atau pewarna merah yang berasal dari batang atau daun inai seperti lazimnya dibawa oleh tetangga sepulang haji atau yang disebut henna. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)
Jumat 18 Mei 2018 21:0 WIB
Bagaimana Penerapan Ayat-ayat Jihad?
Bagaimana Penerapan Ayat-ayat Jihad?
Menjelang Ramadhan, bangsa Indonesia dikagetkan dengan berbagai aksi teror yang melanda di berbagai kota. Mirisnya lagi, para teroris ini mengklaim dalil-dalil agama untuk melegitimasi aksi-aksinya, sebagaimana kutipan Al-Qur’an Surat At-Taubah ayat 38-39 dan Al-Maidah ayat 12 ditemukan dalam sepucuk surat yang dibawa oleh salah seorang teroris pelaku penyerangan Mapolda Riau (16/5/18).

Bila mau meluangkan waktu sejenak saja untuk melihat-lihat dan membaca akun-akun media sosial (FB, Twitter dan semisalnya) pendukung radikalisme dan terorisme, kita akan menyimak betapa dalil-dalil agama bertebaran digunakan untuk membenarkan aksi-aksi teror itu. Tentu penyalahgunaan dalil-dalil agama di luar konteksnya ini salah dan telah terbukti membawa kerusakan yang sangat besar.

Sebenarnya dalam Islam, perang militer merupakan bagian dari hukum-hukum kenegaraan. Tidak ada perbedaan pendapat ulama bahwa siasat perang, deklarasi, gencatan senjata, analisis straregi dan dampaknya, semuanya masuk dalam hukum kenegaraan.

Rakyat, siapapun itu tidak boleh secara ilegal tanpa izin dan persetujuan pemimpin negara ikut campur atas kebijakannya. Rakyat, siapapun itu, tidak boleh memerangi orang yang berbeda agama hanya berdasarkan menuruti hawa nafsu. Dalam konteks ini Syekh Muhammad Sa’id Ramadhan Al-Buthi menegaskan:

وَيُعَدُّ الْجِهَادُ الْقِتَالِي فِي مُقَدِّمَةِ أَحْكَامِ الْإِمَامَةِ، بَلْ لَا يُعْلَمُ أَيُّ خِلَافٍ فِي أَنَّ سِيَاسَةَ الْجِهَادِ إِعْلَانًا وَتَسْيِيرًا وَإِنْهَاءً وَنَظَرًا لِذُيُولِهِ وَآثَرِهِ، كُلُّ ذَلِكَ دَاخِلٌ فِي أَحْكَامِ الْإِمَامَةِ، وَأَنَّهُ لَا يَجُوزُ لِأَيٍّ مِنْ أَفْرَادِ الْمُسْلِمِينَ أَنْ يَسْتَقِلَّ دُونَ إِذْنِ الْإِمَامِ وَمُشَاوَرَتِهِ فِي إِبْرَامِ شَيْءٍ مِنْ هَذِهِ الْأُمُورِ.

Artinya, “Jihad militer termasuk dalam mukadimah hukum-hukum Imamah (pemerintahan). Bahkan tidak diketahui perbedaan pendapat sedikitpun di kalangan ulama bahwa kebijakan perang, dari sisi mendeklarasikan perang, memberangkatkan pasukan, memberhentikan perang, mempertimbangkan efek dan dampaknya, semuanya masuk dalam hukum-hukum Imamah, dan sungguh bagi siapapun orangnya dari pribadi-pribadi kaum muslimin tidak boleh melakukan berbagai aktivitas perang ini secara sendiri tanpa izin dan bermusyawarah dengan Imamnya,” (Lihat Syekh Sa’id Ramadhan Al-Buthi, [Damaskus-Beirut: Darul Fikr dan Darul Fikr Al-Mu’ashir], 1414 H/1993 M], halaman 112).

Dalam bahasa lain salah satu ulama besar mazhab Hanbali, Al-Muwaffiq Ibn Qudamah Al-Maqdisi (541-620 H/1146-1223 M), menegaskan bahwa komando perang militer hanya merupakan kewenangan pemimpin pemerintahan dan rakyat harus menaati kebijakannya. Dalam salah satu kitabnya ia menegaskan:

وَأَمْرُ الْجِهَادِ مَوْكُولٌ إِلَى الْإِمَامِ وَاجْتِهَادِهِ وَيَلْزَمُ الرَّعِيَّةَ طَاعَتُهُ فِيمَا يَرَاهُ مِنْ ذَلِكَ.

Artinya, “Urusan jihad dipasrahkan kepada pemimpin negara dan ijtihadnya, dan rakyat wajib menaati kebijakannya dalam urusan tersebut,” (Lihat Abdullah bin Ahmad bin Qudamah Al-Maqdisi, Al-Mughni, [Beirut: Darul Fikr, 1405 H], juz X, halaman 368).

Karenanya, ayat-ayat jihad yang banyak dijumpai dalam Al-Qur’an, begitu juga hadits-hadits nabi, tidak boleh diambil dan dipraktikkan secara serampangan, apalagi dijadikan legitimasi bagi aksi-aksi teror yang tidak bertanggung jawab. Berkaitan dengan penyalahgunaan ajaran agama yang tidak pada tempatnya ini, jauh-jauh hari Sayyidina Ali bin Abi Thalib RA telah memberi peringatan:

كَلِمَةُ حَقٍّ أُرِيدَ بِهَا بَاطِلٌ.

Artinya: “Itu kalimat kebenaran yang digunakan untuk tujuan kebatilah.”

Demikianlah, menjadi jelas bukan bahwa ayat-ayat dan hadits-hadits nabi tidak dapat diterapkan secara serampangan, terlebih digunakan sebagai pembenaran aksi-aksi teror yang sangat jauh dari nilai-nilai agama. Wallahu a‘lam. (Ahmad Muntaha AM, Wakil Sekretaris PW LBM NU Jawa Timur)