IMG-LOGO
Haji, Umrah, dan Kurban

Pelaksanaan Haji Sebelum dan Sesudah Datangnya Islam

Jumat 3 Agustus 2018 18:0 WIB
Share:
Pelaksanaan Haji Sebelum dan Sesudah Datangnya Islam
Ilustrasi (via delfi.ee)
“Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah SWT.” (QS al-Baqarah: 196)

Haji merupakan rukun Islam yang kelima. Sebagaimana yang disebutkan dalam Al-Qur’an, haji diwajibkan kepada setiap umat Islam yang memiliki kemampuan (istitho’ah) untuk mengerjakannya, baik kemampuan materi (biaya untuk berangkat dan keluarga yang ditinggalkan) atau pun kemampuan fisik (sehat). Dengan demikian, istitho’ah menjadi syarat utama dalam pelaksanaan ibadah haji.

Ada banyak pendapat tentang kapan haji pertama kali diwajibkan bagi umat Islam. Pertama, haji menjadi syariat Islam dan wajib dilaksanakan pada tahun ke-9 Hijriyah. Kelompok pertama mendasarkan pendapatnya dengan turunnya QS. Ali-Imran ayat 97 tentang kewajiban menjalankan ibadah haji. Kedua, haji diwajibkan pada tahun ke-6 Hijriyah. Pendapat kedua ini merujuk QS. Al-Baqarah ayat 196 yang turun pada tahun ke-6 Hijriyah.

Di samping kedua pendapat di atas, ada yang berpandangan kalau haji diwajibkan bagi umat Islam sejak tahun ke-4 Hijriyah. Bahkan, ada yang berpendapat kalau pensyariatan haji terjadi pada tahun ke-10 Hijriyah. 

Namun yang pasti, jauh sebelum umat Islam diwajibkan melaksanakan haji, banyak umat terdahulu yang juga sudah mengerjakan praktik ibadah haji. Masyarakat Mekkah dan sekitarnya berbondong-bondong menunaikan haji di Ka’bah. Mereka juga menjadikan bulan Dzulhijjah sebagai salah satu bulan yang suci, selain bulan Rajab, dan tidak diperkenankan melakukan perang selama bulan suci tersebut. 

Tapi, apa perbedaan dan persamaan pelaksanaan ibadah haji antara sebelum ada Islam dan sesudah datangnya Islam?  

Merujuk buku Mekkah: Kota Suci, Kekuasaan, dan Teladan Ibrahim, setidaknya ada dua  perbedaan dalam pelaksanaan ibadah haji pada periode pra-Islam dan periode Islam. Pertama, tempat haji. Pada periode pra-Islam, orang yang mengerjakan ibadah haji hanya berpusat di Ka’bah. Mereka menganggap bahwa hanya Ka’bah lah yang sakral, sementara tempat lainnya tidak.

Sementara pada periode Islam, ibadah haji tidak hanya berpusat di Ka’bah, tapi juga di tempat-tempat lainnya seperti Arafah. Rasulullah menyebutkan secara eksplisit bahwa haji adalah Arafah. Maka tidak heran jika puncak dari pelaksanaan haji umat Islam (periode Islam) adalah menetap (wukuf) dan berdoa di Padang Arafah pada sembilan Dzulhijjah. Haji mereka tidak sempurna kalau tidak menetap di Padang Arafah.  

Selain itu, haji pada periode Islam juga mengunjungi situs-situs lainnya seperti Mina untuk melempar jumrah, Muzdalifah untuk daerah menginap (mabit), bukit Safa dan Marwah sebagai tempat Sa'i.

Kedua, waktu haji. Umat sebelum Islam melaksanakan ibadah haji pada saat musim panen. Alasannya, mereka bisa menunaikan ibadah haji sekaligus menjual hasil panennya di Mekkah. Perlu diketahui bahwa dulu orang datang ke Mekkah dengan berbagai macam tujuan; ada yang ingin berhaji, ada yang ingin berhaji dan berdagang, ada yang ingin menyebarkan agamanya, ada ada pula yang datang ke Mekkah untuk membaca puisi. Mereka yang berhaji pada musim panen biasanya datang dari wilayah Yaman dimana sektor pertaniannya lumayan berkembang.

Adapun haji pada periode Islam dilaksanakan pada bulan Dzulhijjah. Yakni mulai dari tanggal delapan hingga 13 Dzulhijjah. Ini adalah waktu yang pakem dan sudah ditentukan oleh Allah. Tidak bisa dirubah-rubah lagi.

Selama itu, jamaah haji melaksanakan serangkaian ritual ibadah haji seperti tawaf di Ka`bah, berjalan-jalan kecil (sa`i) di Mas`a (Safa dan Marwa), menetap (wukuf) di Padang Arafah, menginap (mabit) di Muzdalifah, dan melempar jumrah di Mina. Singkatnya, pada saat Islam datang, ritual ibadah haji mengalami penyempurnaan. 

Sedangkan persamaannya adalah –haji pra-Islam dan periode Islam sama-sama, mampu membangkitkan gairah perekonomian, terutama masyarakat yang tinggal di sekitar Mekkah. Selain itu, haji juga menjadi ajang pertemuan umat Islam dari seluruh penjuru dunia. Meski beda bahasa, budaya, ras, etnik, dan warna kulit, namun mereka berkumpul di satu titik untuk menunaikan ibadah haji. (A Muchlishon Rochmat)
Share:
Jumat 27 Juli 2018 17:0 WIB
Mana Lebih Baik, Berkurban dengan Hewan Jantan atau Betina?
Mana Lebih Baik, Berkurban dengan Hewan Jantan atau Betina?
Ilustrasi (farmonline)
Saat membeli hewan kurban, kita diharuskan untuk memilih dan memastikan sendiri bahwa hewan yang akan kita jadikan sebagai hewan kurban tersebut memenuhi syarat-syarat sebagai hewan kurban, baik sapi, kambing, maupun unta (jika ada).

Namun beberapa orang terkadang bingung untuk memilih jenis kelamin hewan yang akan dijadikan kurban, baik jantan maupun betina. Terlebih, semua orang pasti menginginkan untuk melaksanakan keutamaan beribadah kurban.

Lalu bagaimana dengan jenis kelamin hewan yang akan dijadikan sebagai hewan kurban, mana yang lebih baik, jantan atau betina?

Secara eksplisit tidak dijelaskan dalam suatu nash, baik Al-Qur’an maupun hadits terkait pilihan dan keutamaan jenis kelamin tertentu untuk hewan kurban. Namun para ulama mengqiyaskan kasus jenis kelamin hewan kurban ini dengan hewan untuk aqiqah.

Imam An-Nawawi dalam Al-Majmū’ Syarḥ al-Muhadzzab juga pernah menjelaskan terkait hal ini. Menurut An-Nawawi, jenis kelamin hewan kurban ini dianalogikan dengan hadits yang menjelaskan kebolehan untuk memilih jenis kelamin jantan maupun betina untuk aqiqah.

ويجوز فيها الذكر والانثى لما روت أم كرز عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال: على الغلام شاتان وعلى الجارية شاة لا يضركم ذكرانا كن أو أناثا 

Artinya: “Dan diperbolehkan dalam berkurban dengan hewan jantan maupun betina. Sebagaimana mengacu pada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ummu Kuraz dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, bahwa beliau pernah bersabda “(aqiqah) untuk anak laki-laki adalah dua kambing dan untuk perempuan satu kambing. Baik berjenis kelamin jantan atau betina, tidak masalah.” (Lihat: An-Nawawi, al-Majmū’ Syarḥ Muhazzab, Beirut: Dār al-Fikr, tt., j. 8, h. 392)

Menurut An-Nawawi, jika jenis kelamin jantan maupun betina dalam hal aqiqah saja tidak dipermasalahkan maka dalam konteks kurban juga sama. Tidak ada masalah.

وإذا جاز ذلك في العقيقة بهذا الخبر دل على جوازه في الاضحية ولان لحم الذكر أطيب ولحم الانثى أرطب

Artinya: “Jika dalam hal aqiqah saja diperbolehkan dengan landasan hadits tersebut, maka hal ini menunjukkan kebolehan untuk menggunakan hewan berjenis kelamin jantan maupun betina dalam kurban. Karena daging jantan lebih enak dari daging betina, dan daging betina lebih lembab.” (Lihat: An-Nawawi, al-Majmū’ Syarḥ Muhazzab, Beirut, Dār al-Fikr, tt., j. 8, h. 392)

Oleh karena itu, tidak ada keutamaan dalam memilih jenis kelamin untuk hewan kurban, baik jantan maupun betina, tidak ada yang lebih diutamakan. Karena yang paling penting adalah kesesuaian hewan-hewan yang akan digunakan untuk kurban dengan syarat-syarat sahnya hewan kurban. Wallahu a’lam. (M Alvin Nur Choironi)

Kamis 26 Juli 2018 21:0 WIB
Bolehkah Berkurban dengan Hewan Selain Unta, Sapi, dan Kambing?
Bolehkah Berkurban dengan Hewan Selain Unta, Sapi, dan Kambing?
Ilustrasi (via Pinterest)
Berkurban termasuk salah satu ibadah yang sunnah untuk ditunaikan. Disunnahkan tentunya karena tidak semua orang bisa dan mampu untuk membeli atau memiliki hewan-hewan kurban.

Sebagaimana yang kita ketahui, kurban biasanya menggunakan tiga hewan ternak, seperti kambing, sapi dan unta, tentunya dengan syarat-syarat tertentu. Namun, bolehkah berkurban dengan selain tiga hewan tersebut?

Dalam menanggapi hal ini, Imam an-Nawawi dalam al-Majmu Syarh Muhadzzab-nya menjelaskan bahwa hewan yang diperbolehkan adalah hanya hewan ternak, yakni unta, sapi dan kambing serta hewan-hewan yang sejenis.

Dalam hal ini, Imam an-Nawawi berpedoman pada Al-Qur’an surat al-Hajj ayat 34:

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنْسَكًا لِيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَى مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ

“Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap bahimatul an’am (binatang ternak) yang telah direzekikan Allah kepada mereka” (QS. Al Hajj: 34).

Untuk menjelaskan ayat tersebut, Imam an-Nawawi kemudian menyebutkan:

فشرط المجزئ في الاضحية أن يكون من الانعام وهي الابل والبقر والغنم سواء في ذلك جميع أنواع الابل من البخاتي والعراب وجميع أنواع البقر من الجواميس والعراب والدربانية وجميع أنواع الغنم من الضأن والمعز وانواعهما ولا يجزئ غير الانعام من بقر الوحش وحميره والضبا وغيرها بلا خلاف

Artinya, “Syarat diperbolehkannya hewan kurban adalah hewan tersebut merupakan hewan ternak, yaitu unta, sapi dan kambing. Termasuk segala jenis unta, seperti al-bakhati (unta yang memiliki dua punuk) atau al-‘irab (berpunuk satu), juga segala jenis sapi, seperti kerbau, al-‘irab, al-darbaniyah (sapi yang tipis kuku dan kulitnya serta memiliki punuk), begitu juga dengan segala jenis kambing, seperti domba/biri-biri, atau kambing lain. Dan tidak diperbolehkan berkurban selain dengan hewan-hewan ternak yang telah disebutkan, baik berupa hasil kawin silang antara sapi dan keledai ataupun hewan lain. Hal ini tidak diperdebatkan oleh para ulama.” (Lihat: An-Nawawi, al-Majmū’ Syarḥ Muhazzab, Beirut, Dâr al-Fikr, tt., j. 8, h. 392)

Dari pernyataan Imam An-Nawawi tersebut sudah dijelaskan bahwa menyembelih kurban selain tiga hewan tersebut dan jenis-jenisnya tidak diperbolehkan.

Lalu bagaimana dengan ayam, bukankah ayam termasuk hewan ternak? Bolehkah berkurban dengan ayam?

Dalam bahasa Arab, sebenarnya ayam bukanlah termasuk kategori al-an’âm. Dalam beberapa Mu’jam Al-Qur'an, seperti Mu’jam Kalimat al-Qur'an  dijelaskan bahwa kata al-anʽâm dalam ayat Al-Quran hanya mencakup al-Ibil (unta), al-baqar (sapi), dha’n (domba atau biri-biri) dan al-maʽiz (kambing). 

Namun dalam riwayat lain disebutkan bahwa Ibnu Abbas mengatakan cukup menyembelih dengan ayam jika tidak memiliki kambing di saat hari raya dan hari tasyrik. Sebenarnya pendapat Ibn Abbas ini dalam konteks aqiqah, namun menurut al-Maidani hukum kurban dalam hal menggunakan ayam diqiyaskan dengan kasus aqiqah. (Lihat: al-Baijuri, Hasyiyah al-Baijuri, Beirut, Dâr al-Kutb, 1999, j. 2, h. 555). Wallahu a’lam. (M Alvin Nur Choironi)

Senin 23 Juli 2018 22:0 WIB
Hukum Ibadah Kurban dengan Uang
Hukum Ibadah Kurban dengan Uang
(Foto: thoughtco.com)
Kurban merupakan ibadah tahunan yang dianjurkan untuk mereka yang mampu membeli hewan ternak minimal satu kambing untuk dirinya. Tetapi agama tidak memberikan batas maksimal berapa ekor hewan ternak untuk kurban satu orang. Artinya, seseorang boleh saja berkurban 5, 10, 100, 1000, atau lebih ekor hewan ternak untuk satu orang.

Lalu bagaimana dengan kurban dengan uang?

Kurban dengan uang ini bisa dipahami sebagai ibadah kurban dengan bersedekah uang seharga hewan ternak dan bisa juga dipahami sebagai ibadah kurban dengan menitipkan uang seharga hewan ternak kepada lembaga, institusi, panitia kurban, atau takmir masjid yang melayani penitipan dan penyaluran kurban.

Kalau yang dimaksud praktik kurban dengan uang ini adalah bersedekah uang seharga hewan ternak tanpa membeli dan menyembelih hewan ternak, maka ibadah kurban ini tidak sah.

Dengan kata lain, orang yang berkurban dengan praktik seperti ini tidak mendapatkan pahala atau keutamaan ibadah kurban sebagaimana yang dimaksud dalam syariat Islam. Meskipun demikian, orang yang bersangkutan hanya mendapatkan pahala atau keutamaan sedekah biasa.

Masalah ini pernah diangkat dalam forum bahtsul masail di Situbondo pada Muktamar Ke-27 NU 1984 M. Para kiai peserta forum bahtsul masail yang ketika itu dipimpin oleh KH Ali Yafie memutuskan bahwa kurban tidak boleh dengan nilai uang, tetapi dengan hewan ternak yang sifatnya ditentukan di dalam kitab-kitab fiqih.

Forum Muktamar NU di Situbondo pada 1984 M ini mengutip Kitab Riyadhul Badi’ah karya Syekh M Nawawi Al-Bantani yang kami kutip sebagai berikut:

لاَ تَصِحُّ التَّضْحِيَّةُ إِلاَّ بِاْلأَنْعَامِ وَهِيَ اْلإِبِلُ وَالْبَقَرُ اْلأَهْلِيَّةُ وَالْغَنَمُ لأَنَّهَا عِبَادَةٌ تَتَعَلَّقُ بِالْحَيَوَانِ فَاخْتُصَّتْ بِالنَّعَمِ كَالزَّكَاةِ فَلاَ يُجْزِئُ بِغَيْرِهَا

Artinya, “Kurban tidak sah kecuali dengan hewan ternak, yaitu unta, sapi, atau kerbau dan kambing. Hal ini, karena kurban itu terkait dengan hewan, maka dikhususkan dengan ternak sama seperti zakat, sehingga tidak sah selain dengan hewan ternak,” (Lihat Syekh Muhammad Nawawi Al-Bantani, Riyadhul Badi’ah, [Mesir, Al-Amiratus Syarafiyah: 1326 H], jilid IV, halaman 695).

Kami menyarankan mereka yang ingin melangsungkan ibadah kurban untuk memastikan integritas lembaga atau panitia kurban yang membuka penerimaan ibadah kurban melalui transfer ke rekening tertentu. Kami juga menyarankan orang yang ingin berkurban untuk mengetahui di mana hewan kurbannya dititipkan dan disembelih.

Sebaiknya orang yang berkurban mendatangi tempat penyembelihan hewan kurbannya pada hari H. Semoga Allah menerima segenap amal ibadah kurban kita tahun ini. Amiiin. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)