IMG-LOGO
Sirah Nabawiyah

Kisah Rasulullah Menghibur Sahabat saat Hijrah ke Madinah

Selasa 11 September 2018 9:0 WIB
Share:
Kisah Rasulullah Menghibur Sahabat saat Hijrah ke Madinah
Rasulullah mengalami tahun-tahun yang sulit usai ditinggal wafat sang paman Abu Thalib (619) dan istri Khadijah (620 M). Dua orang yang sebelumnya menjadi pelindung Rasulullah dalam mendakwahkan ajaran Islam. Wafatnya dua Khadijah dan Abu Thalib membuat kafir Quraish semakin terang-terangan memusuhi Rasulullah. Berbagai upaya dilakukan untuk menghentikan dakwah Rasulullah. Mulai dari boikot Muhammad dan pengikutnya hingga upaya pembunuhan.

Hingga kemudian pada 622 M Rasulullah dan para pengikutnya diperintahkan untuk berhijrah (bermigrasi) ke Yatsrib –kota ini kemudian diubah namanya oleh Rasulullah menjadi Madinah. Sebuah kota yang terletak 450 kilometer ke arah utara Makkah. Mereka berhijrah secara sembunyi-sembunyi dan berpencar agar tidak diketahui kafir Quraish. 

Proses hijrah dari Makkah ke Madinah tidak lah ringan. Bahkan, Rasulullah dan Abu Bakar as-Siddiq bahkan harus bersembunyi di Gua Tsur selama kurang lebih tiga hari untuk menghindari kejaran kafir Quraisy. 

Tidak sampai di situ, ketika Rasulullah dan para pengikutnya tiba di Madinah mereka juga menghadapi persoalan-persoalan yang tidak kalah beratnya. Banyak sahabat yang terkena penyakit seperti Abu Bakar dan Bilal yang demam berat. Tidak sedikit pula sahabat Rasulullah yang mulai kangen dengan Makkah sebagai kampung halamannya. Mereka juga harus meninggalkan sanak saudara dan sahabatnya di Makkah. Pun harta benda yang selama ini mereka kumpulkan.

Untuk meringankan beban dan menghibur para sahabatnya, ada beberapa langkah yang dilakukan Rasulullah sebagaimana dikutip dari buku Madinah: Kota Suci, Piagam Madinah, dan Teladan Muhammad saw. Pertama, berdoa untuk kesembuhan sahabatnya. Ketika mendengar Abu Bakar dan Bilal sakit berat, Rasulullah langsung berdoa kepada Allah agar segera mengangkat penyakitnya. Tidak lama setelah itu, kedua sahabat Rasulullah itu langsung sembuh dari penyakitnya.

Kedua, memberikan keyakinan kepada para sahabat. Rasulullah meminta kepada para sahabatnya untuk bersabar dalam menghadapi cobaan dan tantangan. Para sahabat juga diminta untuk terus memperjuangkan dakwah Islam di Madinah. 

“Aku akan menjadi jaminan dan saksi bagi siapapun yang bersabar di Madinah dan Tuhan akan memberikan yang terbaik kepada mereka,” kata Rasulullah.

Ketiga, memberikan makanan kepada para sahabat. Rasulullah seringkali membagikan buahan-buahan kepada para sahabat. Tidak lain, tujuannya adalah sebagai bentuk perhatian dan dorongan moril yang diberikan Rasulullah kepada para sahabatnya yang telah meninggalkan saudara dan sahabatnya di Makkah.

Keempat, mempersaudarakan dengan penduduk Madinah. Rasulullah sadar betul bahwa para sahabat yang ikut berhijrah dari Makkah ke Madinah (kaum Muhajirin) tidak memiliki apapun. Baik kerabat atau pun harta benda. Oleh sebab itu, Rasulullah menghibur mereka dengan mempersaudarakan kaum Muhajirin tersebut dengan penduduk Madinah (kaum Anshar). Hingga kemudian kaum Muhajirin dan Anshar merasakan betapa manisnya persaudaraan mereka. Sebuah persaudaraan yang dilandasi dengan iman. 

Selain itu, Rasulullah berdoa agar Allah menganugerahkan kebaikan, memberkahi rizki, dan menjauhkan segala macam penyakit bagi penduduk Madinah –baik Anshar maupun Muhajirin- dianugerahi kebaikan. Tidak tanggung-tanggung, Rasulullah juga memohon kepada Allah agar Allah memberikan cinta kepada dirinya dan sahabatnya pada kota Madinah sebagaimana cinta kepada Makkah, dan bahkan lebih. (A Muchlishon Rochmat)
Share:
Selasa 11 September 2018 19:0 WIB
Tentang Qashwa, Unta yang Ditunggangi Rasulullah saat Hijrah ke Madinah
Tentang Qashwa, Unta yang Ditunggangi Rasulullah saat Hijrah ke Madinah
Ilustrasi: iexplore.com
Qashwa. Nama unta yang ditunggangi Rasulullah ketika hijrah dari Makkah ke Madinah. Seekor unta yang dimiliki Abu Bakar as-Siddiq. Awalnya, unta tersebut diberikan cuma-cuma kepada Rasulullah, tapi ditolak. Hingga akhirnya Rasulullah membeli unta itu dari tangan Abu Bakar. Seekor unta yang nantinya menjadi kesayangan Rasulullah. Sebagaimana keterangan dalam buku Muhammad: Kisah Hidup Nabi Berdasarkan Sumber Klasik.

Qashwa dilahirkan di kampung Bani Qusyair. Ketika Rasulullah membelinya dari Abu Bakar dengan harga 400 dirham, Qashwa baru berumur empat tahun. Ia mati dalam usia 15 tahun. Sehingga Qashwa ‘menemani’ Rasulullah selama kurang lebih 11 tahun. 

Rasulullah pertama kali ‘ditemani’ Qashwa ketika beliau hendak hijrah ke Madinah. Bahkan, sejak beliau keluar dari rumah Abu Bakar untuk meninggalkan Makkah. Rasullullah menunggangi Qashwa menuju arah sebuah gua di Gunung Tsur, sebuah rute ke selatan atau jalan ke arah Yaman. Ini untuk mengelabuhi musuh. Karena apabila Rasulullah langsung menuju rute Madinah, ke arah utara, maka sudah pasti kafir Quraish menemukannya.

Ketika tiba di Gua Tsur, Rasulullah dan Abu Bakar –tentunya Qashwa juga- tinggal selama kurang lebih tiga hari. Hal ini untuk memantau situasi terkini di Makkah usai kabar kepergian Rasulullah. Setelah situasinya dianggap mereda, Rasulullah kembali menaiki Qashwa menyusuri rute yang tidak biasa dilalui para pedagang ketika hendak menuju Madinah. Setelah keluar Makkah, Rasulullah dan Abu Bakar menuju ke barat dan agak ke selatan hingga mereka sampai di Pantai Laut Merah. Mereka menempuh rute barat laut dan menghabiskan beberapa hari untuk sampai ke Madinah. 

Mereka terus ke arah utara hingga melewati sepanjang seberang Gurun Nubian. Berjalan menyusuri pedalaman dan pantai, lalu ke timur laut hingga sampai di Lembah Aqiq. Untuk mencapai Madinah, perjuangan mereka masih panjang. Mereka harus menaiki satu lembah ke lembah lainnya, satu bukit ke bukit lainnya. Hingga akhirnya mereka tiba di Quba dan tiga hari berselang sampai di Madinah. Sebuah tempat yang dinanti-nantikan.

Senin, 22 September 622 M menjadi hari yang bersejarah bagi umat Islam. Iya, pada hari itu Rasulullah tiba di Madinah. Masyarakat Madinah menyambutnya dengan penuh suka cita. Semua orang menghendaki agar Rasulullah bersedia tinggal di rumahnya. Namun, Rasulullah menyatakan akan tinggal di rumah yang dipilih Qashwa, unta kesayangannya. 

Sambil menaiki Qashwa, Rasulullah menyusuri jalan kota Madinah. Ketika sampai di ruangan sempit yang dijadikan As’ad –orang yang berbaiat kepada Rasulullah pada tahun sebelum Aqabah Pertama- sebagai tempat shalat, Qashwa tiba-tiba berhenti dan berlutut. Namun demikian, Rasulullah tidak turun. 

Qashwa kembali berjalan kembali, tapi tidak lama kemudian ia kembali ke tempat pertama ia berlutut. Kali ini, Qashwa tidak hanya berhenti berlutut. Ia juga merapatkan dadanya ke sebidang tanah itu. Rasulullah yakin bahwa itu lah tempat yang dipilih Qashwa dan akan dijadikan sebagai tempat tinggalnya di Madinah. 

Setelah ditanyakan, ternyata tempat itu milik Sahl dan Suhail, dua orang anak yatim piatu yang diasuh As’ad. Mulanya, Sahl dan Suhail hendak memberikan tanah tersebut kepada Rasulullah sebagai hadiah. Tapi, Rasulullah menolaknya. Hingga kemudian, tanah itu dibeli Rasulullah dengan harga yang telah disepakati.

Selain menaiki untuk hijrah ke Madinah, Rasulullah juga menunggangi Qashwa dalam beberapa peristiwa penting lainnya seperti Perang Badar, Fathu Makkah, Perdamaian Hudaibiyah, dan Haji Wada’. (A Muchlishon Rochmat)
Selasa 11 September 2018 14:0 WIB
Amir bin Fuhayra, Penghapus Jejak Kaki Rasulullah saat Hijrah ke Madinah
Amir bin Fuhayra, Penghapus Jejak Kaki Rasulullah saat Hijrah ke Madinah
Setelah mendapatkan tekanan yang begitu hebat dari kafir Quraish Makkah, akhirnya Rasulullah dan para pengikutnya mendapatkan perintah untuk berhijrah (bermigrasi) ke Madinah. Sebuah perpindahan yang tidak biasa. Bukan hanya untuk menghindari ancaman dan penindasan kafir Quraish Makkah, tapi juga sebagai upaya untuk menyelamatkan dan menyebarkan agama Islam.

Akan tetapi, perjalanan Rasulullah dari Makkah ke Madinah sangat berat. Nyawa taruhannya. Para musuh terus memburu bahkan hingga Rasulullah meninggalkan Makkah. Untuk itu, berbagai upaya dilakukan untuk ‘mengelabuhi’ pihak musuh. Salah satunya menghapus jejak kaki Rasulullah ketika tengah berhijrah ke Madinah. Maklum, orang Arab padang pasir sangat pandai dan ahli mencari jejak-jejak kaki di gurun pasir.

Adalah Amir bin Fuhayra yang ditugaskan untuk menghapus jejak kaki Rasulullah dan Abu Bakar as-Siddiq. Dulunya dia adalah seorang penggembala. Lalu dibeli Abu Bakar sebagai budak dan disuruh menggembala domba-dombanya. Nantinya, Abu Bakar memerdekakannya dari statusnya sebagai budak. Hingga akhirnya ia menjadi salah satu sahabat Rasulullah.

Seperti dikutip buku Muhammad: Kisah Nabi Berdasarkan Sumber Klasik, Amir bin Fuhayra diperintahkan Abu Bakar untuk mengikuti perjalanan mereka. Sambil menggembala kambing, Amir bin Fuhayra menghapus jejak kaki Rasulullah, Abu Bakar, serta Abdullah bin Abu Bakar dan hewan tunggangannya dari mulai rumah Abu Bakar hingga Gua Tsur. 

Sesampainya di Gua Tsur, Abu Bakar menyuruh anaknya, Abdullah, untuk kembali ke Makkah, bersama dengan Amir bin Fuhayra. Ia ditugaskan untuk menghimpun informasi tentang apa rencana dan strategi kafir Quraish setelah mengetahui bahwa Rasulullah telah meninggalkan Makkah. 

Selama Abdullah mencari informasi terkait pihak musuh, Amir bin Fuhayra kembali bertugas menggembala domba-domba Abu Bakar bersama dengan teman-temannya yang lain. Keesokan harinya, setelah mendapatkan informasi yang valid Abdullah bersama Amir bin Fuhayra berangkat ke Gua Tsur, tempat dimana Rasulullah dan ayahnya tinggal sementara. Lagi-lagi, Amir bin Fuhayra ditugaskan untuk menutupi jejak Abdullah. 

Kepada Rasulullah dan ayahnya, Abdullah melaporkan bahwa kafir Quraish membuat sayembara. Siapapun yang berhasil menemukan dan membawa Rasulullah kembali ke Makkah, maka ia akan mendapatkan hadiah 100 ekor unta. Berkat Allah, Rasulullah dan Abu Bakar selamat dari kejaran pihak musuh. (A Muchlishon Rochmat)
Ahad 9 September 2018 21:0 WIB
Abdullah bin Salam, Rasulullah, dan '3 Pertanyaan Langit'
Abdullah bin Salam, Rasulullah, dan '3 Pertanyaan Langit'
Ilustrasi: Shutterstock.com
Nama aslinya Husain bin Salam. Ia adalah Kepala Rabi Yahudi terkemuka dari Bani Qainuqo’ Madinah. Ia dikenal sebagai seorang yang alim. Ia sehari-hari membaca, merenungi, dan mengajarkan ajaran Taurat kepada Yahudi Madinah kala itu. Ia juga terkenal jujur, baik hati, dan istiqamah. Oleh sebab itu, masyarakat Madinah umumnya dan umat Yahudi khususnya sangat menghormati dan segan kepada Husain bin Salam.

Husain bin Salam juga orang yang tahu bahwa akan ada seorang nabi baru. Informasi itu didapatkannya dari kitab Taurat. Ia sangat tertarik dengan kabar kedatangan nabi baru tersebut. Sehingga ia mempelajari berbagai hal tentang sang nabi baru. Mulai dari ciri, sifat, dan pengetahuan sang nabi baru akan hal-hal yang bersifat ilahiyah. Di samping itu, Husain bin Salam selalu berdoa kepada Tuhan agar umurnya dipanjangkan  sehingga bisa bertemu dengan nabi baru tersebut.

Ibarat peribahasa pucuk dicinta ulam pun tiba. Apa yang menjadi harapan Husain bin Salam seolah menjadi kenyataan. Kabar tentang kedatangan nabi Allah dan Rasulullah Muhammad saw. ke Madinah sampai di telinga Husain bin Salam. Husain bin Salam kemudian mencari informasi tentang siapa Muhammad. Mencocokkan sifat-sifat dan ciri-ciri, serta melihat wajah Muhammad dengan informasi yang ada di Taurat. Benar saja, apapun yang ada pada Muhammad sesuai dengan keterangan yang ada pada Taurat.

Namun demikian, keyakinan Husain bin Salam bahwa Muhammad adalah nabi baru belum seratus persen. Merujuk buku Kisah-kisah Romantis Rasulullah, untuk membuktikkan kebenaran bahwa Muhammad adalah seorang nabi baru maka Husain bin Salam mengajukan tiga pertanyaan kepadanya. Pertama, apa tanda pertama hari kiamat? Sebuah pertanyaan yang hanya bisa dijawab oleh nabi atau orang yang mendapatkan wahyu dari langit saja. 

“Wahai saudaraku, penanda pertama akan terjadinya hari kiamat adalah adanya api yang menggiring manusia dari timur ke barat,” kata Muhammad saw. yang mengaku mendapatkan informasi itu dari malaikat Jibril.

Kedua, apa menu makanan yang pertama kali dinikmati penghuni surga? Rasulullah pun menjawab bahwa cuping hati ikan adalah makanan pertama yang dinikmati penghuni surga. Tidak puas dengan dua pertanyaan di atas, Husain bin Salam kembali melontarkan sebuah pertanyaan terakhir untuk menguji kenabian Muhammad. 

Ketiga, mengapa seorang anak mirip dengan bapaknya? Dan mengapa seorang anak mirip dengan ibunya? Jika kedua pertanyaan sebelumnya bernuansa ‘ghaib’ karena belum terjadi, maka pertanyaan yang ketiga ini lebih bernuansa ‘ilmiah-akademik.’ Rasulullah menjawab, seorang anak akan mirip bapaknya jika bapaknya yang mencapai orgasme dulu pada saat berhubungan badan, dari pada ibunya. Sebaliknya, jika orgasme ibunya mendahului suami maka sang anak akan mirip ibunya.

Setelah mendengar jawaban Rasulullah, seketika itu juga Husain bin Salam langsung berikrar menyatakan diri masuk Islam. Ia juga mengakui kalau Muhammad adalah benar-benar utusan Allah. Atas kesaksiannya tersebut, Allah mengabadikan Husain bin Salam dalam Al-Qur’an Surat al-Ahqaf ayat 10. 

Rasulullah lalu mengganti nama Husain dengan Abdullah bin Salam. Abdullah bin Salam pun senang dengan nama baru pemberian Rasulullah itu. Ia lalu mengajak keluarga dekatnya untuk memeluk Islam. Mereka menyambut baik ajakan Abdullah bin Salam. Namun, kabar keislaman Abdullah bin Salam itu membuat berang umat Yahudi Madinah. Mereka tidak lagi respect dengan Abdullah bin Salam, bahkan menentangnya. Seolah mereka tidak terima kalau salah satu tokoh mereka menjadi pengikut Muhammad saw. (A Muchlishon Rochmat)