IMG-LOGO
Ilmu Tauhid

Siapakah yang Berkata Allah Ada di Mana-mana?

Selasa 18 September 2018 9:0 WIB
Share:
Siapakah yang Berkata Allah Ada di Mana-mana?
Ilustrasi (Freepik)
Ada banyak misinformasi yang sengaja diedarkan oleh para kritikus manhaj Aqidah Asy’ariyah-Maturidiyah yang nota bene menjadi manhaj aqidah representatif Ahlusunnah wal Jama’ah selama satu milenium terakhir. Di antara informasi yang disebar oleh para kritikus itu, biasanya dari kalangan pendaku Salafi modern, adalah bahwa Asy’ariyah menyatakan Allah ada di mana-mana sehingga dalam setiap kesempatan dialog aqidah dengan Asy’ariyah, selalu saja mereka melontarkan kritik terhadap orang yang berkata bahwa Allah di mana-mana. Tak lupa, mereka menukil sekian banyak pernyataan ulama yang menolak pernyataan bahwa Allah ada di mana-mana. Benarkah Asy’ariyah berkeyakinan demikian?

Sebenarnya adanya anggapan tersebut disebabkan karena minimnya pengetahuan tentang manhaj aqidah  Asy’ariyah sehingga mereka salah paham. Tak ada satu pun ulama Asy’ariyah yang mengatakan bahwa Allah ada di mana-mana sebab ini bertolak belakang dengan aqidah mereka. Dalam keyakinan Ahlussunnah wal Jama’ah yang diperjuangkan oleh Asy’ariyah, Allah bukanlah jism sehingga Ia terlepas dari seluruh sifat-sifat jismiyah. Bertempat di mana pun, di atas, di bawah, di depan, di belakang, di samping dan apalagi di mana-mana adalah sifat khas jism sehingga ditiadakan sepenuhnya oleh para Ulama Asya’irah. Ini adalah pernyataan mereka di kitab-kitab aqidah yang tersebar di seluruh penjuru dunia. Banyak kutipan mereka dinukil di NU Online ini pada sub-kajian ilmu tauhid dan tak perlu dikutip ulang kali ini.

Lalu siapakah yang berkata bahwa Allah ada di mana-mana yang ditolak keras oleh para ulama itu? Nukilah berikut ini akan menjawabnya:

كان الجعد بن درهم من أهل الشام وهو مؤدب مروان الحمار، ولهذا يقال له: مروان الجعدي، فنسب إليه، وهو شيخ الجهم بن صفوان الذي تنسب إليه الطائفة الجهمية الذين يقولون: إن الله في كل مكان بذاته تعالى الله عما يقولون علوا كبيرا،

“Ja'd bin dirham adalah warga Syam, dia adalah gurunya Jahm bin Sofwan yang kepadanya dinisbatkan golongan Jahmiyah yang berkata, ‘Sesungguhnya Allah ada di tiap tempat dengan Dzat-Nya’.”  (Ibnu Katsir, al-Bidâyah wan-Nihâyah, juz X, halaman 19)

أَنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ فِي السَّمَاءِ عَلَى الْعَرْشِ مِنْ فوق سبع سموات كَمَا قَالَتِ الْجَمَاعَةُ وَهُوَ مِنْ حُجَّتِهِمْ عَلَى الْمُعْتَزِلَةِ وَالْجَهْمِيَّةِ فِي قَوْلِهِمْ إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ فِي كُلِّ مَكَانٍ وَلَيْسَ عَلَى الْعَرْشِ

“Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla di langit di atas Arasy  di atas tujuh lapis langit seperti yang dikatakan oleh Jamaah ulama. Pernyataan ini adalah argumen mereka untuk melawan Muktazilah dan Jahmiyah yang berkata bahwa sesungguhnya Allah Azza wa Jalla ada di mana-mana  dan tidak [istiwâ’] di atas Arasy.” (Ibnu Abdil Barr, at-Tamhîd, juz VII, halaman 129).

Jadi, perkataan bahwa Allah ada di mana-mana adalah pendapat resmi dari kelompok Jahmiyah yang kemudian diikuti oleh Muktazilah. (Jahmiyah merupakan pengikut Jahm bin Shafwan yang mengatakan bahwa Allah tak mempunyai sifat apa pun, red). Mereka mengatakan itu sebab menolak sifat istiwâ’ sebagaimana difirmankan Allah. Ahlussunnah wal Jama’ah (Asy’ariyah-Maturidiyah) sepakat bahwa Allah bersifat istiwâ’ atas Arasy dan senantiasa demikian. Tak ada satu pun dari mereka yang menolak sifat ini. Sebab itulah, sejarah mencatat bahwa Asy’ariyah-Maturidiyah  adalah rival terkuat bagi Muktazilah yang akhirnya memusnahkan ajaran Muktazilah secara total di masa lalu setelah sebelumnya menjadi ajaran resmi dinasti Abbasiyah di bawah pemerintahan Al-Makmun, Al-Mu’tashim dan Al-Watsiq.

Sungguh aneh apabila dewasa ini justru sebagian masyarakat menganggap Asy’ariyah-Maturidiyah  sebagai Jahmiyah atau Muktazilah yang berkata bahwa Allah ada di mana-mana, padahal faktanya justru mereka yang terdepan memusnahkan keyakinan ini dan keyakinan Jahmiyah-Muktazilah lainnya. Kitab-kitab Asy’ariyah hingga kini seluruhnya menempatkan Jahmiyah atau pun Muktazilah di kategori aliran menyimpang dan ini adalah fakta yang tak terbantahkan. Sayangnya, beberapa orang dewasa ini tak mempelajari aqidah Asy’ariyah dari kitab resmi mereka sendiri melainkan hanya mendengar dari kitab-kitab golongan anti-Asy’ariyah yang penuh misinformasi sehingga menganggap itu adalah fakta sehungguhnya, padahal tidak. Wallahu a'lam.


Abdul Wahab Ahmad, Wakil Katib PCNU Jember & Peneliti Aswaja NU Center Jember.

Tags:
Share:
Selasa 18 September 2018 20:30 WIB
Kapan Kita Dianggap Menyerupakan Allah dengan Makhluk?
Kapan Kita Dianggap Menyerupakan Allah dengan Makhluk?
Ilustrasi (sufism247.blog)
Hampir seluruh kajian aqidah salaf disertai dengan ungkapan “tanpa menyerupakan atau menyamakan Allah” (tanpa tasybîh atau tamtsîl). Namun, tak banyak orang yang paham apa sebenarnya yang dimaksud tanpa menyerupakan Allah itu. Ada yang berkata bahwa Allah mempunyai tangan, mata dan bentuk dalam arti sebenarnya tetapi tidak serupa dengan makhluk, apakah perkataan ini masuk dalam kategori tidak menyerupakan ataukah justru telah menyerupakan Allah?

Ada dua kaidah batasan penyerupaan (tasybîh) di kalangan ulama yang digunakan untuk memutuskan mana yang masuk kategori tasybih dan mana yang tidak. Berikut ini akan penulis sajikan keduanya lalu mengaplikasikannya pada golongan yang disepakati sebagai Mujassimah-Musyabbihah (kelompok yang percaya Allah berfisik atau menyerupai makhluk) untuk melihat kaidah mana yang valid.

Kaidah pertama adalah kaidah dari Imam Ahmad bin Hanbal. Sebagaimana dinukil oleh Ibnu Hamdan al-Hanbali, beliau berkata:

وقال أحمد: أحاديث الصفات تمر كما جاءت من غير بحث على معانيها، وتخالف ماخطر في الخاطر عند سماعها، وننفي التشبيه عن الله تعالی عند ذكرها مع تصديق النبي ، والإيمان بها، وكلما يعقل ويتصور فهو تكييف وتشبيه، وهو محال

“Imam Ahmad berkata: Hadits-hadits sifat harus dibaca ulang seperti sedia kala tanpa dibahas makna-maknanya. Ia berbeda dengan apa yang terbesit dalam hati seseorang ketika mendengarnya. Dan, kami menafikan penyerupaan dengan Allah ketika Allah menyebutkannya serta membenarnya [ucapan] Nabi dan mengimaninya. Setiap kali ia dipahami dan tergambar di benak, maka itulah membagaimanakan (takyîf) dan menyerupakan (tasybîh). Itu adalah mustahil.” (Ibnu Hamdan al-Hanbali, Nihâyat al-Mubtadi’în, halaman 33).

Dalam kaidah pertama ini, yang disebut penyerupaan adalah segala gambaran yang muncul di kepala dan dapat dipahami. Ketika misalnya membaca kata yadullah kemudian tergambar di benak kita adanya organ tubuh Allah yang dipakai untuk mengerjakan macam-macam hal, maka itulah tasybîh. Ketika membaca kata nuzûl lalu tergambar di benak bahwa Allah bergerak turun dari atas ke bawah, maka itulah tasybîh. Ketika membaca kata “istiwâ’” lalu tergambar dalam benak bahwa Allah bertempat di atas Arasy, maka itulah tasybîh. Dan demikian seterusnya untuk kata-kata lain, apabila kata yang dinisbatkan pada Allah tersebut dipahami seperti makna yang di kamus-kamus, maka itulah tasybîh. Mau diiringi dengan penjelasan “seperti makhluk” atau “tak seperti makhluk”, sama sekali tak berarti dalam kaidah ini sebab yang menjadi intinya adalah penetapan makna seperti yang dipahami manusia.

Kaidah kedua adalah kaidah dari Imam Ishaq bin Rahawaih, salah satu pakar hadits klasik yang semasa dengan Imam Ahmad. Beliau berkata:

وقَالَ إِسْحَاقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ: " إِنَّمَا يَكُونُ التَّشْبِيهُ إِذَا قَالَ: يَدٌ كَيَدٍ، أَوْ مِثْلُ يَدٍ، أَوْ سَمْعٌ كَسَمْعٍ، أَوْ مِثْلُ سَمْعٍ

Ishaq bin Ibrahim (Rahawaih) berkata: Sesungguhnya hanya terjadi tasybîh apabila berkata tangan [Allah] seperti tangan atau mirip tangan [makhluk], pendengaran [Allah] seperti atau mirip pendengaran [makhluk]. (At-Turmudzi, Sunan at-Turmudzi, juz III, halaman 42)

Senada dengan beliau, Syekh Adz-Dzahabi juga berkata:

فإن التشبيه إنما يقال: يدٌ كيدنا ... وأما إذا قيل: يد لا تشبه الأيدي، كما أنّ ذاته لا تشبه الذوات، وسمعه لا يشبه الأسماع، وبصره لا يشبه الأبصار ولا فرق بين الجمع، فإن ذلك تنزيه

"Tasybîh hanya terjadi apabila dikatakan ‘Tangan seperti tangan kita’ …. Apabila dikatakan: ‘tangan yang tak sama dengan tangan-tangan lain’, seperti halnya Dzat-Nya tak sama dengan Dzat lain, pendengaran-Nya tak sama dengan pendengaran yang lain, penglihatan-Nya tak sama dengan penglihatan yang lain, dan tak ada bedanya di antara semua, maka itu adalah menyucikan (tanzîh)". (Adz-Dhahabi, al-Arba’în min Shifât Rabb al-‘Âlamîn, halaman 104).

Menurut kaidah kedua ini, penyerupaan Tuhan (tasybîh) dengan makhluk hanya terjadi apabila mengatakan kata “seperti” atau “mirip” dengan makhluk atau yang dimiliki makhluk. Apabila tak mengatakan demikian, maka itu bukan tasybîh tetapi masih menyucikan Allah dari keserupaan.

Sekarang mari kita aplikasikan kedua kaidah di atas pada perkataan seorang Mujassimah (orang yang meyakini bahwa Allah adalah jism) yang dikenal juga di antara umat islam sebagai kalangan Musyabbihah (orang yang menyerupakan Allah dengan makhluk). Di antara mereka, ada Muqatil bin Sulaiman yang berkata:

أن الله جسم وأن له جمة وأنه على صورة الإنسان لحم ودم وشعر وعظم له جوارح وأعضاء من يد ورجل ورأس وعينين مصمت وهو مع هذا لا يشبه غيره ولا يشبهه.

“Sesungguhnya Allah adalah jism (bentuk yang bervolume) dan Ia mempunyai rambut menjuntai, berbentuk manusia, punya daging, darah, bulu, tulang, punya organ tubuh seperti tangan, kaki, kepala, dua mata, tak berongga, meski demikian Dia tak menyerupai selainnya dan selainnya tak menyerupainya.” (Abu Hasan al-Asy’ari, Maqâlât al-Islâmiyyîn, halaman 153)

Semua golongan umat Islam sudah sepakat bahwa Muqatil bin Sulaiman dengan perkataannya itu adalah Mujassimah-Musyabbihah. Dia telah menganggap Allah seperti halnya manusia dan mempunyai organ-organ dan susunan tubuh seperti halnya manusia. Bila kita memakai kaidah pertama dari Imam Ahmad di atas, maka Muqatil ini jelas sudah melakukan tasybîh dan cocok dengan realitas yang diyakini kaum muslimin pada umumnya. Namun apabila kita memakai kaidah kedua di atas, maka Muqatil ini masih belum melakukan tasybîh sebab di akhir ucapannya itu dia memberi keterangan bahwa meski punya tubuh dan berbentuk manusia, Allah tak mirip dan tak menyerupai makhluk apapun. 

Dengan demikian kita bisa tahu bahwa kaidah kedua tadi tak akurat untuk membatasi pelaku tasybîh bahkan yang paling parah seperti Muqatil di atas. Pada dasarnya, seluruh kaum muslim di dunia, tak terkecuali kaum Mujassimah-Musyabbihah seluruhnya meyakini bahwa Allah tak seperti makhluk sehingga semua meyakini bahwa Dzat-Nya tak seperti makhluk. Apabila batasan tasybîh hanya bergantung pada pernyataan “seperti makhluk”, maka takkan ada satu pun orang di dunia ini yang bisa disebut Mujassimah – Musyabbihah. Ini tak realistis sebab mereka itu benar-benar ada dan dikenal luas sejak masa lalu.

Karena itulah, untuk memudahkah penilaian dan langsung fokus pada titik persoalan, maka Syaikh al-Bajuri al-Asy’ari menegaskan batas pembeda antara tasybîh dan bukan sebagai berikut:

وَالْمُمَاثَلَةُ لِلْحَوَادِثِ وَهُوَ ضِدُّ الْمُخَالَفَةِ لِلْحَوَادِثِ. وَالْمُمَاثَلَةُ مُصَوَّرَةٌ بِأَنْ يَكُوْنَ جِرْمًا سَوَاءٌ كَانَ مُرَكَّبًا وَيُسَمَّى حِيْنَئِذٍ جِسْمًا أَوْ غَيْرَ مُرَكَّبٍ وَيُسَمَّى حِيْنَئِذٍ جَوْهَرًا فَرْدًا

“Serupa dengan hal baru adalah lawan dari berbeda dengan hal baru. Keserupaan ini tergambarkan dengan terjadinya Allah dari materi fisikal, baik materi itu tersusun yang kemudian disebut jism atau tidak tersusun yang kemudian disebut partikel tunggal.” (Ibrahim al-Baijuri, Hâsyiyat al-Imâm al-Baijûri ‘Alâ Jawharat al-Tawhîd, halaman 163)

Dengan penjelasan Imam al-Baijuri ini, maka pedomannya akan jauh lebih sederhana. Apabila meyakini Allah sebagai jism (punya jasad, badan, volume), maka itulah tasybîh yang terlarang itu. Seluruh makna yang ada di kamus hanya berlaku bagi jism ini. Demikian pula seluruh bayangan di benak manusia hanya berlaku bagi jism semata. Sebab itulah, maka keyakinan ini harus dibuang sejauh-jauhnya untuk menyucikan Tuhan (tanzîh). Wallahu a'lam.


Abdul Wahab Ahmad, Wakil Katib PCNU Jember & Peneliti Aswaja NU Center Jember

Senin 17 September 2018 17:30 WIB
Konteks Penolakan Imam Syafi’i terhadap Ilmu Kalam
Konteks Penolakan Imam Syafi’i terhadap Ilmu Kalam
Imam Syafi’i adalah seorang Imam dengan reputasi yang tak diragukan lagi. Beliau menjadi pendiri Mazhab Syafi’iyah dan sekaligus peletak pertama dasar-dasar ilmu ushul fiqh sehingga seluruh ulama ahli fiqih di dunia dapat dianggap berutang budi padanya. Dalam hal aqidah, Imam Syafi’i adalah salah satu tokoh yang dijadikan rujukan oleh manhaj aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah (Asy’ariyah-Maturidiyah). Namun ada banyak pernyataan beliau yang jelas-jelas menolak ilmu kalam dan bahkan memerintahkan agar orang yang menyelami ilmu kalam dipukul dengan pelepah kurna lalu diarak.

Di sisi lain, sejarah menegaskan bahwa tokoh-tokoh besar dari mazhab Syafi’iyah, seperti al-Baihaqi, Imam al-Haramain, al-Ghazali dan lain-lain, justru adalah para pakar ilmu kalam. Benarkah anggapan sebagian orang bahwa Imam Syafi’i menolak Ilmu Kalam secara mutlak sedangkan para pengikutnya tidak patuh pada beliau? Untuk menjawab pertanyaan ini, kita harus tahu bagaimana sebenarnya konteks larangan Imam Syafi’i tersebut sehingga bisa menilai secara komprehensif. 

Ibnu Khaldun (808 H), ulama besar, sosiolog sekaligus sejarawan muslim terkemuka yang disegani di dunia Timur dan Barat, menjelaskan perkembangan Ilmu Kalam dalam kitab Tarîkh-nya yang fenomenal tersebut. Beliau bercerita bahwa para ulama di era salaf, dari kalangan Sahabat dan Tabi’in, menetapkan sifat ketuhanan dan kesempurnaan pada Allah dan men-tafwîdh seluruh hal yang seolah menunjukkan kekurangan, semisal kesan-kesan jismiyah.

Kemudian datanglah Muktazilah yang menetapkan sifat-sifat Allah semata sebagai kesan dalam hati saja, bukan sebagai sifat dari Dzat Allah sendiri. Mereka menjadikan manusia sebagai pencipta perbuatan mereka sendiri tanpa ada kaitannya dengan takdir. Tokoh-tokoh Muktazilah bermunculan mulai Ma’bad al-Juhani yang semasa dengan Abdullah bin Umar, Washil bin Atha’ murid Hasan al-Bashri yang hidup di era Abdul Malik bin Marwan, juga ada Abu Hudzail al-‘Allaf yang menjadi guru besar Muktazilah dan kemudian muncul Ibrahim an-Naddham  yang sangat terpengaruh filsafat hingga sepenuhnya menafikan adanya sifat Tuhan dan membangun pondasi mazhab Muktazilah.

Setelah itu muncullah al-Jahidh, al-Ka’bi dan al-Jubba’i. Metode mereka itulah yang dikenal dengan ilmu kalam sebab menimbulkan perdebatan atau sebab pokok aqidahnya adalah menolak sifat Kalamullah. Karena itulah, Imam Syafi’i kemudian berkata: “Mereka seharusnya dipukul dengan pelepah kurma lalu diarak”. Para ulama meneliti asal muasal metode para ahli kalam itu kemudian menolaknya, hingga muncullah Abu Hasan al-Asy’ari yang mendebat mereka dan menguatkan pendapat ulama salaf Ahlussunnah dengan argumen kalamiyah dan menetapkan sifat-sifat Allah. (Ibnu Khaldun, Târîkh Ibnu Khaldûn, juz 1, halaman 602-604).

Dari paparan Ibnu Khaldun di atas, kita tahu bahwa ilmu kalam yang berkembang di era Imam Syafi’i adalah ilmu kalam yang dikembangkan oleh Muktazilah yang terpengaruh oleh ajaran filsafat Yunani. Inilah yang ditolak keras oleh Imam Syafi’i dan para ulama salaf sebab menghasilkan kesimpulan yang bertentangan dengan al-Qur’an dan Hadits. Pemaparan Ibnu Khaldun ini sejalan dengan keterangan ulama di era sebelumnya. Imam al-Baihaqi (458 H) misalnya, sebagaimana dinukil oleh Imam Ibnu Asakir (571 H), menjelaskan secara lebih mendetail hingga ke tokoh Ahli Kalam yang berhubungan langsung dengan Imam Syafi’i:

دخل حَفْص الْفَرد على الشَّافِعِي فَقَالَ لنَا لِأَن يلقِي اللَّه العَبْد بذنوب مثل جبال تهَامَة خير لَهُ من أَن يلقاه باعتقاد حرف مِمَّا عَلَيْهِ هَذَا الرجل وَأَصْحَابه وَكَانَ يَقُول بِخلق الْقُرْآن

“Hafsh al-Fard datang menemui Imam Syafi’i, kemudian Imam berkata pada kami: ‘Seorang hamba yang menemui Allah dengan membawa dosa sebesar Gunung Tuhamah masih lebih baik daripada meyakini adanya huruf (bagi kalamullah) yang diyakini lelaki ini dan kawan-kawannya’. Hafsh al-Fard berpendapat bahwa al-Qur’an itu makhluk”.  (Ibnu Asakir, Tabyîn Kadzib al-Muftarî, halaman 341)

Dari riwayat Imam Baihaqi di atas makin jelas bahwa konteks Kalam yang ditentang keras oleh Imam Syafi’i adalah kalangan Muktazilah yang berpendapat bahwa Kalamullah adalah suara dan merupakan makhluk, bukan sifat Allah. Imam Ibnu Asakir kemudian bertanya-tanya bagaimana mungkin Imam Syafi’i mengharamkan ilmu kalam secara mutlak sedangkan beliau sendiri justru memakai ilmu kalam untuk mendebat para ahli kalam yang menyimpang seperti Muktazilah dan lain-lain itu, misalnya seperti mendebat Hafsh dalam hal bertambah tidaknya Iman, mendebat pengingkar ru’yah (melihat Allah di akhirat) dan mendebat penganut Murji’ah. Bahkan, kemahiran  Imam Syafi’i dalam ilmu kalam diakui sendiri oleh beliau, sebagaimana ditulis oleh Imam Ibnu Asakir berikut ini:

وقرأت فِي كتاب أَبِي نُعَيْمِ الأَصْبَهَانِيِّ حِكَايَةً عَنِ الصَّاحِبِ بْنِ عَبَّادٍ أَنَّهُ ذَكَر فِي كِتَابِهِ بِإِسْنَادِهِ عَن اسحق أَنَّه قَالَ قَالَ أَبِي كَلَّمَ الشَّافِعِيُّ يَوْمًا بَعْضَ الْفُقَهَاءِ فَدَقَّقَ عَلَيْهِ وَحَقَّقَ وَطَالَبَ وَضَيَّقَ فَقُلْتُ يَا أَبَا عَبْدِ اللَّهِ هَذَا لأَهْلِ الْكَلامِ لَا لأَهْلِ الْحَلالِ وَالْحَرَامِ فَقَالَ أَحْكَمْنَا ذَلِكَ قَبْلَ هَذَا

“Aku membaca kitabnya Abu Nu’aim yang berkisah dari Shahib bin ‘Abbad bahwasanya dia menulis di kitabnya beserta sanadnya dari Ishaq, bahwa Ishaq berkata “Ayahku berkata: Suatu hari Imam Syafi’i berbicara pada sebagian Ahli Fiqih. Beliau mengurai hingga rinci, memverifikasi hingga detail, menuntut, dan mempersempit argumen lawan. Lalu aku berkata: ‘Wahai Abu Abdillah (as-Syafi’i), ini adalah gaya ahli kalam bukan gaya ahli halal dan haram (ulama fiqih). Ia menjawab: Saya sudah menguasai itu dulu (kalam) sebelum yang ini (fiqih)”. (Ibnu Asakir, Tabyîn Kadzib al-Muftarî, halaman 341-342)

Karena fakta itulah, maka seperti ditegaskan oleh Imam Ibu Hajar al-Haitami as-Syafi’i (974 H), anggapan bahwa ilmu kalam adalah bid’ah dengan alasan bahwa hal itu tak dipikirkan oleh kalangan Salaf dan menyebabkan perdebatan dan kerancuan adalah anggapan yang tertolak. Bahkan Ibnu Hajar memastikan bahwa ulama salaf mengetahui hal itu, di antaranya adalah Umar, Ibnu Umar, Ibnu Abbas dari kalangan Sahabat. Dari kalangan Tabi’in dan setelahnya ada Umar bin Abdul Aziz, Rabi’ah, Ibnu Hurmuz, Imam Malik dan Imam Syafi’i. Bahkan menurutnya, Imam Malik sudah mengarang risalah Ilmu Kalam sebelum Imam Syafi’i dilahirkan. Ilmu Kalam kemudian dinisbatkan pada Imam al-Asy’ari tak lain hanyalah karena beliau menjelaskan metode-metode orang-orang sebelumnya dan mengurai dalil-dalilnya. Tak ada yang baru kecuali hanya istilahnya saja, dan ini terjadi dalam semua cabang ilmu pengetahuan. Yang dicela oleh ulama Salaf seperti Imam Syafi’i yang lain-lain adalah kalam yang berkembang di kalangan Muktazilah, Qadariyah dan ahli bid’ah lainnya. (Ibnu Hajar al-Haitami, al-Fatâwâ al-Hadîtsiyah, halaman 147-148)

Dengan ini menjadi jelas bahwa sebenarnya Imam Syafi’i atau ulama salaf tak pernah mencela ilmu kalam secara mutlak. Yang mereka cela adalah ilmu kalam yang menyimpang dari Ahlussunah, bukan yang malah menguatkan keyakinan Ahlussunnah seperti yang dilakukan Asy’ariyah-Maturidiyah. Bahkan, kitab ilmu kalam karya Imam Abu Hanifah (150 H) yang berjudul al-Fiqh al-Akbar sampai kepada kita di masa ini dan beredar luas. Ini bukti bahwa ilmu kalam ala Ahlussunnah telah dikenal luas di era Salaf. Wallahu a'lam.


Abdul Wahab Ahmad, Wakil Katib PCNU Jember & Peneliti Aswaja NU Center Jember

Ahad 16 September 2018 15:30 WIB
Bagaimana Perasaan Menyembah Tuhan yang Tak Bertempat?
Bagaimana Perasaan Menyembah Tuhan yang Tak Bertempat?
Ilustrasi (islamveateizm)
Penganut teologi Hasyawiyah (golongan yang meyakini bahwa Tuhan juga mempunyai karakter fisikal) biasanya tak mampu menjangkau bagaimana rasanya menyembah Tuhan yang tak bertempat. Bagi nalar mereka, sosok yang tak bertempat di ruang mana pun berarti sosok yang tak wujud alias sama sekali tak ada. Nalar mereka membayangkan bahwa Tuhan sekalipun harus ada dalam batasan arah atau ruang sehingga kita bisa menghadap padanya dan bisa menunjuk jari terhadap lokasinya. Jadi tak heran apabila mereka sibuk menyanggah Ahlussunnah wal Jama'ah (Asy'ariyah-Maturidiyah) yang malah menafikan adanya ruang dan waktu bagi Tuhan sebab Tuhan memang telah ada sebelum waktu dan tempat ada.

Kali ini saya akan berusaha menjelaskan bagaimana rasanya menyembah Tuhan yang wujudnya tak berada di dalam ruang tertentu di semesta alam ini sehingga dengan sendirinya juga berada di luar putaran waktu. Tentu usaha ini hanya dalam batasan makna yang dapat dijangkau sebuah kata. Pada hakikatnya, keberadaan Allah tak bisa diungkapkan dengan kata apa pun. Keberadaan-Nya lebih jelas dari apa pun, lebih nyata dari apa pun, dan lebih kuat getarannya dalam hati dari rasa apa pun, tetapi dalam waktu yang sama Dia juga lebih misterius dari apa pun. Maha Suci Allah dari segala batasan sifat yang dapat digambarkan atau dilukiskan oleh keterbatasan manusia.

1. Dengan meyakini bahwa Tuhan tak bertempat, rasanya kita sedang berhadapan dengan kekuatan yang tak terbatas apa pun, yang keberadaannya sepenuhnya tak tergantung pada apa pun, seperti firman-Nya: فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ, Allah Maha-tak butuh apa pun selain diri-Nya (QS. Ali Imran: 97), termasuk ruang dan waktu sekalipun. Dia ada tanpa sekat jarak, sekat arah, sekat ruang, sekat batasan fisikal. Kita hanya akan tenggelam dalam pesona kebesaran-Nya, kehebatan-Nya, kekuasaan-Nya, kedekatan-Nya, pengawasan-Nya tanpa batasan apa pun yang mengganggu pikiran.

2. Ketika kita shalat menghadapnya, kita bisa merasa bahwa Dia ada bersama kita, seperti Firman-Nya:  وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ, Dia bersama kalian di mana pun kalian berada (QS. Al-Hadid: 4) dan mengetahui semua gerakan badan dan hati kita, seperti firman-Nya: يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَيَعْلَمُ مَا تُسِرُّونَ وَمَا تُعْلِنُونَ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ , Dia mengetahui apa yang di langit dan di bumi dan mengetahui apa yang kalian tampakkan dan kalian sembunyikan. Allah Maha mengetahui isi hati (QS. At-Taghabun: 4), tanpa pernah terbesit di pikiran bahwa Dia ada di atas dan sedang melihat dari arah kepala kita saja. 

3. Ketika kita sujud, kita bisa menghayati betul sabda Rasul bahwa kita sedang dalam posisi terdekat kita dengan Allah, seperti sabda Nabi: أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ، وَهُوَ سَاجِدٌ, posisi terdekat seorang hamba dari Tuhannya adalah ketika sujud (HR. Muslim) tanpa terganggu dengan pikiran bahwa jangan-jangan Tuhan berada di bawah lantai.

4. Ketika kita menghadap ke arah mana pun, kita akan merasa bahwa kita sedang menghadap "wajah"-Nya seperti firman-Nya: فَأَيْنَمَا تُوَلُّوا فَثَمَّ وَجْهُ اللَّهِ, ke mana pun kalian menghadap maka di sanalah "wajah" Allah (QS. Al-Baqarah: 115) tanpa terganggu pikiran bahwa Dia hanya ada di arah tertentu saja sehingga kita dapat berpaling menyembunyikan wajah kita dari-Nya.

5. Ketika kita bermunajat sendirian di tengah belantara antah berantah, kita dengan mantap meyakini bahwa kita tak perlu berteriak memanggil-Nya sebab kita tahu bahwa Dia selalu mendengar dengan amat jelas di mana pun, seperti firman-Nya: وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ, ketika hamba-Ku menanyakan tentang-Ku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku menjawab panggilan orang yang memanggilku (QS. Al-Baqarah: 186) tanpa pernah terbesit pikiran bahwa kita sendirian.

6. Ketika kita menaiki kuda atau kendaraan apa pun, kita bisa dengan mudah menyadari bahwa Tuhan lebih dekat kepada kita daripada ujung depan kendaraan kita sendiri, seperti sabda Rasul: وَالَّذِي تَدْعُونَهُ أَقْرَبُ إِلَى أَحَدِكُمْ مِنْ عُنُقِ رَاحِلَةِ أَحَدِكُمْ, Tuhan yang kalian sembah lebih dekat pada kalian daripada leher hewan tunggangan kalian (HR. Muslim).

7. Ketika kita melihat ke atas sana, melihat jauh ke batas terluar galaksi kita hingga ke milyaran galaksi lain yang kini bisa dijangkau teleskop manusia, kita akan melihat kekuasaan Tuhan mencakup seluruh jagad raya bahkan Arasy sekalipun tak mampu kita lihat, seperti firman-Nya: وَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِ, Dia Maha berkuasa penuh atas hamba-hambanya (QS. Al-An’am: 18); الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى, Yang Maha Pengasih istawa atas Arasy (QS. Thaha: 5) tanpa sedikit pun merasa kontradiktif dengan kesadaran bahwa kita dapat merasakan-Nya di dekat kita bersama kita setiap waktu, baik kita di sedang di ruang terdalam planet ini atau sedang menjelajah di luar angkasa sana bersama para astronot.

8. Ketika kita berada di dasar lembah atau di lantas dasar gedung pencakar langit, kita tak perlu merasa lebih jauh dari Tuhan dibanding mereka yang berdiri di puncak gunung atau berada di lantas atas kita, seperti yang  dibayangkan oleh Syaikh Utsman ad-Darimy dalam kitabnya yang menjadi rujukan para pendaku salafi saat ini.

9. Ketika ada orang bertanya bagaimana bisa Tuhan ada di atas sekaligus bersama kita? Kita tak perlu repot mencontohkan keberadaan Tuhan seperti matahari atau bulan yang ada di atas tapi sekaligus ikut kemana pun langkah kita, seperti yang dilakukan oleh Ibnu Taymiyah, sebab orang itu akan menggugat keheranan "bukankah matahari atau bulan itu jauh? Apakah bisa dibilang Tuhan itu jauh juga?". 

10. Kita pun tak perlu repot berapologetik tentang fitrah seolah memahami tempat Tuhan di atas sana memang  fitrah manusia sebab itu tak sesuai realitas. Realitasnya, keyakinan seperti itu adalah "fitrahnya" para Mujassimah dari berbagai agama saja. Adapun "fitrahnya" para Jahmiyah adalah menganggap Tuhan di mana-mana. Lain lagi dengan "fitrahnya" ateis yang menganggap Tuhan sama sekali tak ada. Ketika bangun tidur, ketika senang, ketika susah, ketika apa pun juga semua pihak ini akan merujuk pada "fitrahnya" masing-masing. Inilah realitanya. Saya sengaja menulis kata fitrah dalam tanda kutip sebab yang demikian itu bukanlah fitrah yang sesungguhnya. Fitrah manusia yang sejati adalah meyakini adanya Tuhan tetapi bersih polos dari keyakinan tambahan apa pun tentangnya. Lingkungannyalah yang membentuk berbagai keyakinan tambahan tersebut di kemudian hari.

11. Kita pun akan terbebas dari pertanyaan kontradiksi yang ditujukan pada kaum Jahmiyah "Firman Allah yang mana atau hadits Nabi yang mana yang membuat anda mentakwil semua nash yang mengatakan bahwa Allah berada di atas tetapi memahami semua nash yang mengatakan bahwa Allah berada di bawah sesuai makna literal?". Di saat yang sama kita juga akan terbebas dari pertanyaan kontradiksi yang ditujukan pada kaum Mujassimah "Firman Allah yang mana atau hadits Nabi yang mana yang membuat anda mentakwil semua nash yang mengatakan bahwa Allah berada di bumi tetapi memahami semua nash yang mengatakan bahwa Allah berada di langit sesuai makna literal?". 

12. Kita tak perlu juga bertindak bodoh seperti Fir'aun ketika mengingkari keberadaan Tuhannya Nabi Musa. Ketika raja yang mengaku sebagai Tuhan ini menyadari bahwa Tuhannya Nabi Musa tak terlihat ada di sekitarnya dan bahkan di tempat mana pun di bumi, maka dia berkesimpulan bahwa Tuhannya itu pasti berada di langit sehingga dia membangun bangunan sangat tinggi sebagai pembuktian. Dengan itu, Fir'aun berusaha membuktikan pada masyarakatnya bahwa Nabi Musa berbohong mengenai keberadaan Tuhan sebab di atas sana juga tak terlihat apa pun.

13. Semua pertanyaan yang mungkin terbesit dalam hati dan bahkan diperdebatkan sepanjang sejarah manusia semisal: Bagaimana bisa Tuhan mengetahui segala kejadian yang terjadi di ujung dunia mana pun?. Bagaimana bisa Tuhan mengetahui masa lalu, masa kini dan masa depan?. Bagaimana bisa Tuhan mengetahui apa yang berada dalam hati? Bagaimana bisa secara bersamaan Dia digambarkan di atas Arasy, sekaligus bersama kita, sekaligus lebih dekat dari urat leher, sekaligus berada di mana pun kita menghadap, sekaligus di langit dunia tiap akhir malam (yang berarti setiap saat sebab tiap detik selalu ada wilayah yang mengalami akhir malam), sekaligus menjadi pihak keempat dari tiga orang yang sedang menjalin kerja sama?  Semua pertanyaan itu akan mudah terjawab bila tahu bahwa sejatinya Allah ada di luar ruang dan waktu (tak bertempat). 

Demikianlah, segala pikiran yang aneh tentang Allah akan mudah sirna bila kita meyakini Allah ada tanpa tempat. Kita hanya akan fokus untuk beribadah kepadanya dan merasakan kemahakuasaan Allah setiap waktu. Wallahu a'lam.


Abdul Wahab Ahmad, Wakil Katib PCNU Jember & Peneliti Aswaja NU Center Jember.