IMG-LOGO
Trending Now:
Ilmu Tauhid

Bolehkah Menghubungkan Gempa Bumi dengan Teguran Tuhan?

Rabu 3 Oktober 2018 15:45 WIB
Share:
Bolehkah Menghubungkan Gempa Bumi dengan Teguran Tuhan?
Ilustrasi (mainichi.jp)
Maraknya gempa akhir-akhir ini membuat respons masyarakat terbagi menjadi dua kelompok. Pertama, kelompok yang mengatakan bahwa gempa ini adalah fenomena alam biasa tanpa perlu disangkut pautkan dengan ajaran agama atau teguran dari Tuhan. Kedua, kelompok yang mengatakan bahwa gempa adalah tindakan Tuhan untuk menghukum manusia yang lalai dari ajarannya. Tampaknya sulit bagi kedua kelompok ini bertemu dalam satu titik sepakat sebab perbedaan paradigma yang saling bertolak belakang. Namun, sebenarnya hal ini dapat digabungkan menjadi suatu pemahaman yang komprehensif

Dari segi ilmiah, Indonesia adalah wilayah rawan gempa sebab beberapa faktor; Keberadaannya di wilayah Cincin Api Pasifik membuat negara ini menjadi ladang gempa bumi. Bukan hanya itu, Sabuk Alpide yang melewati Indonesia juga menyumbang potensi gempa. Tak ketinggalan, posisi Indonesia juga berada tepat di tengah tumbukan lempeng tiga benua, yaitu Pasifik di arah timur, Indo-Australia di arah selatan dan Eurasia di utara. Satu faktor saja sudah cukup untuk menjadikan suatu kawasan sebagai wilayah rawan gempa, dan kebetulan Indonesia memiliki tiga faktor sekaligus. Bila melihat fakta ilmiah ini, terlihat bahwa gempa bumi di Indonesia adalah hal wajar dan sama sekali tak berhubungan dengan kejadian apa pun yang dilakukan manusia. 

Namun kesimpulannya akan berbeda bila kita melihat dari sudut pandang teologis. Dari sudut pandang ini, peristiwa yang dialami manusia seluruhnya adalah bagian dari kehendak Allah yang sudah tercatat seluruhnya di Lauh Mahfudz. Allah berfirman:

مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍۢ فِي ٱلْأَرْضِ وَلَا فِيْ أَنفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَٰبٍۢ مِّن قَبْلِ أَن نَّبْرَأَهَآ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرٌۭ

"Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah." (QS. Al-Hadid: 22)

Dalam hal ini, gempa bumi tak mempunyai status khusus yang berbeda dengan seluruh kejadian lainnya. Tak ada bedanya antara gempa bumi dan tersandung, jatuh, pegal-pegal, tertusuk duri dan seterusnya. Semuanya terjadi atas izin Allah (qadar) dan sudah tercatat proses kejadiannya sejak sebelum alam semesta tercipta (qadla’). Ini adalah konteks teologis murni yang letaknya ada dalam hati sebagai bagian dari keimanan seorang Muslim.

Pertanyaan selanjutnya, apakah ada keterkaitan antara gempa bumi dengan ulah manusia (maksiat)? Dari sisi teologis, jawabannya bisa saja demikian sebab banyak sekali ayat atau hadits yang memberitakan bahwa kejadian-kejadian yang menimpa manusia bisa diakibatkan sebab ulah buruk manusia itu sendiri. Allah mengingatkan hambanya dengan banyak cara, salah satunya adalah gempa bumi ini. Lihat misalnya kisah kaum Nabi Luth yang membangkanghinggamendapat bencana alam hebat sebagaimana digambarkan dalam ayat berikut:

فَلَمَّا جَآءَ أَمْرُنَا جَعَلْنَا عَٰلِيَهَا سَافِلَهَا وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهَا حِجَارَةًۭ مِّن سِجِّيلٍۢمَّنضُودٍۢ

“Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi.” (QS. Hud: 82)

Di beberapa ayat lainnya, Allah juga memerintahkan kita untuk memperhatikan kaum-kaum terdahulu yang berakhir tragis sebab tidak mematuhi ajaran Tuhan. Lihat misalnya:

 قَدْ خَلَتْ مِن قَبْلِكُمْ سُنَنٌۭ فَسِيرُوا۟ فِي ٱلْأَرْضِ فَٱنظُرُوا۟ كَيْفَ كَانَ عَٰقِبَةُ ٱلْمُكَذِّبِينَ

"Sesungguhnya telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunnah Allah; Karena itu berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).” (QS. Ali Imran: 137)

Namun, apakah setiap bencana gempa bumi atau bencana alam lainnya bisa ditafsirkan sebagai teguran Tuhan? Jawabannya dengan tegas adalah tidak!, sama sekali tidak!. Sebagaimana dijelaskan sebelumnya, dari aspek teologis tak ada kekhususan dalam hal bencana alam dari kejadian apapun. Bila bicara soal teguran Tuhan, maka teks-teks agama Islam menegaskan bahwa semua hal bisa menjadi bentuk teguran Tuhan. Sakit, rezeki yang sulit, gagal panen, kematian, dan segala ketidaknyamanan bisa menjadi bentuk teguran Tuhan agar seorang hamba kembali mengingat-Nya. Rasa berat dan enggan untuk beribadah juga bentuk teguran yang paling nyata. 

Selain itu, ada juga teguran yang tampak sebagai kenikmatan, misalnya: Kekayaan, kesuksesan dan umur panjang yang disertai meningkatnya jumlah maksiat. Ini semua adalah teguran paling parah yang diberikan Allah kepada hambanya yang sudah terkunci mata hatinya. Dalam istilah Islam, teguran semacam ini disebut sebagai istidrâj dan ini banyak disinggung dalam Al-Qur’an dan hadits yang menjelaskan kesuksesan orang-orang kafir dan orang-orang dhalim di dunia dan bahwa hukuman bagi mereka ditangguhkan hingga mereka mati.

Jadi, jangan gegabah memvonis bahwa korban gempa bumi adalah orang-orang yang mendapat teguran (azab) dari Allah. Vonis semacam ini dilarang sebab hanya Allah yang tahu rahasia di balik setiap kejadian. Dulu kita bisa tahu bahwa suatu bencana merupakan teguran Tuhan terhadap suatu kaum sebab ada seorang Nabi yang menjelaskannya. Namun di era ketiadaan Nabi seperti sekarang, kita hanya bisa berprasangka (dhann) dan Al-Qur’an sudah menegaskan bahwa kebanyakan prasangka itu adalah dosa (QS. Al-Hujurat: 12). 

Justru dalam hadits dijelaskan bahwa orang yang tertimba reruntuhan dan tenggelam adalah orang yang mendapat pahala syahid. Nabi Muhammad ﷺBersabda:

الشُّهَدَاءُ خَمْسَةٌ: الْمَطْعُوْنُ وَالْمَبْطُوْنُ وَالْغَرِقُ وَصاَحِبُ الْهَدْمِ وَالشَّهِيْدُ فِي سَبِيْلِ اللهِ

“Para syahid itu ada lima, yaitu orang yang mati karena wabah pes (tha’un), orang yang mati karena penyakit perut, orang yang mati tenggelam, orang yang meninggal karena tertimpa reruntuhan, dan orang yang gugur di jalan Allah.” (HR. Bukhari-Muslim)

Sikap kita terhadap sebuah musibah harus dipilah menjadi dua; sikap terhadap diri sendiri dan sikap terhadap orang lain. Ketika diri kita sendiri mendapat musibah, apa pun itu mulai yang ringan hingga berat, maka seyogianya kita introspeksi jangan-jangan itu adalah teguran Tuhan kepada kita sehingga kita bisa berubah menjadi lebih baik dan bersemangat dalam beribadah. Namun ketika orang lain yang mendapatkan musibah, apa pun itu, maka kita harus melihatnya sebagai fenomena alami (sunnatullah) yang terjadi sebab faktor-faktor natural tanpa membumbuinya dengan aneka prasangka yang menyakitkan bagi korban atau keluarganya, apalagi bila yang terkena musibah bukanlah pelaku maksiat, seperti kebanyakan kasus gempa di Indonesia selama ini. 

Dalam hal gempa di Indonesia, kita harus melihat faktor alami penyebab gempa itu apa dan bagaimana cara meminialisasi risiko di masa depan dengan cara-cara yang ilmiah seperti membuat bangunan tahan gempa, penataan pemukiman dan lain sebagainya. Kita juga harus membantu saudara-saudara kita yang tertimpa musibah dengan cara apa pun yang kita bisa, minimal mendoakan kebaikan. Jangan sampai ada yang gegabah menghubungkan suatu musibah sebagai azab, sebab bisa saja para korban itu mendapat pahala syahid dan justru penonton yang tak tertimpa musibah itulah yang terkena azab Allah berupa istidrâj yang harus dibayar mahal kelak di akhirat. Wallahua'lam.


Abdul Wahab Ahmad, Wakil Katib PCNU Jember dan Peneliti di Aswaja Center Jember.

Share:
Ahad 30 September 2018 0:0 WIB
Ini Jawaban Singkat di Mana, Bagaimana, Kapan, dan Berapa Allah
Ini Jawaban Singkat di Mana, Bagaimana, Kapan, dan Berapa Allah
Orang yang beriman merindukan Allah. Bahkan sebagian tradisi tasawuf menyatakan bahwa Allah memerintahkan manusia untuk beribadah hanya karena Allah tahu bahwa manusia merindukan-Nya. Tetapi di tengah kerinduan itu, manusia mungkin saja membayangkan Allah sesuai dengan imajinasinya.

Yang paling mungkin, manusia membayangkan Allah dengan sifat-sifat makhluk sebagai model yang dikenalnya. Ketika pikiran tentang Allah sudah mengembara kian kemari, maka sebaiknya kita membatasi diri dan meminta ampun karena telah menyifatkan Allah dengan sifat-sifat makhluk yang tidak layak bagi-Nya.

Syekh M Nawawi Banten menawarkan jawaban ringkas atas empat pertanyaan terkait Allah, yaitu pertanyaan tempat, kualitas, waktu, dan jumlah bagi Allah. Empat jawaban ringkas ini sudah memadai bagi mereka yang menghadapi pertanyaan ini.

فإن قال لك قائل أين الله فجوابه ليس في مكان ولا يمر عليه زمان وإن قال لك كيف الله فقل ليس كمثله شيء وإن قال لك متى الله فقل له أول بلا ابتداء وآخر بلا انتهاء وإن قال لك كم الله فقل له واحد لا من قلة قل هو الله أحد

Artinya, “Jika seseorang bertanya kepadamu, ‘Allah di mana?’ maka jawablah, ‘Ia tidak bertempat dan tidak mengalami waktu.’ Jika kau ditanya, ‘Bagaimana Allah?’, jawablah, ‘Allah tidak serupa dengan sesuatu apa pun itu.’ Jika kau ditanya, ‘Kapan Allah (ada)?’, jawablah, ‘Dia awal yang tidak memiliki permulaan dan (Dia) akhir yang tidak memiliki penghabisan.’ Jika kau ditanya, ‘Allah berapa?’ jawablah, ‘Allah esa, bukan karena sedikit (kekurangan). Katakanlah Allah itu esa,’” (Lihat Syekh M Nawawi Banten, Kasyifatus Saja, [Indonesia, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah], halaman 9).

Ini merupakan jawaban singkat yang perlu diyakini oleh umat Islam secara umum. Mereka yang tidak memiliki kesempatan untuk mempelajari ilmu tauhid, ilmu aqidah, atau ilmu kalam secara detil cukup berpegang pada empat jawaban ringkas ini dan tidak menambahkannya.

Adapun penjelasan rincinya dapat dipelajari di dalam ilmu, tauhid, ilmu aqidah atau ilmu kalam. Mereka yang masih menyimpan penasaran atau memiliki waktu luang untuk mempelajarinya dapat merujuk pada buku atau kitab ilmu tauhid, ilmu aqidah, atau ilmu kalam yang berhaluan Ahlussunnah wal Jamaah.

Adapun mereka yang tidak lagi mempersoalkan empat masalah ini adalah mereka yang mencapai kesempurnaan iman. Keimanan mereka ini sudah cukup mapan tanpa keterangan dalil aqli. Mereka bisa jadi adalah ahli makrifat atau orang yang telah mencapai derajat makrifatullah.

من ترك أربع كلمات كمل إيمانه أين وكيف ومتى وكم

Artinya, “Siapa saja yang meninggalkan empat kalimat ini, maka keimanannya kepada Allah telah sempurna, yaitu di mana, bagaimana, kapan, dan berapa Allah,” (Lihat Syekh M Nawawi Banten, Kasyifatus Saja, [Indonesia, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah], halaman 9).

Yang perlu diingat adalah bahwa tingkat keimanan dan makrifat orang berbeda-beda. Oleh karenanya, kita tidak perlu tercengang dengan orang yang masih mengangkat empat pertanyaan tersebut dan mencoba memecahkannya. Tetapi ada juga orang yang tidak lagi memerlukan dalil aqli atau pembuktian apa pun perihal Allah.

Semoga Allah membimbing jalan pikiran kita dari penisbatan sifat-sifat yang tidak layak bagi Allah SWT. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)
Sabtu 29 September 2018 20:30 WIB
Salaf sebagai Realitas dan Fiksi (2-Habis)
Salaf sebagai Realitas dan Fiksi (2-Habis)
Ilustrasi (The Independent)
Salaf sebagai Sebuah Fiksi
 
Makna lain dari kata “salaf” adalah salaf yang tidak jelas siapa tokohnya dan bagaimana pendapatnya serta bagaimana bangunan argumennya secara utuh dalam berbagai hal. Dengan kata lain, salaf dalam arti kedua ini adalah tokoh fiksi. Hanya saja selalu diklaim bahwa “salaf” ini hidup di era yang mulia (tiga kurun pertama) hijriah. 
 
Salaf dalam arti kedua ini biasanya dianggap sebagai sebuah manhaj yang menjadi kesepakatan (ijmak) seluruh generasi terbaik umat Islam. Karenanya, salaf dalam pengertian ini selalu diklaim sebagai satu-satunya representasi kebenaran dan tidak mengandung perbedaan pendapat. Akibatnya, seluruh pendapat yang ternyata berbeda dari "salaf" ini akan otomatis dianggap menyimpang  dari kebenaran. Dalam praktiknya, salaf dalam makna kedua ini tidak punya tokoh rujukan definitif yang hidup di masa salaf sehingga tidak jelas bangunan pendapat yang dirujuk dari “salaf” tersebut. 

Para pengikut “salaf” yang fiksi ini biasanya bersikap eklektik, kadang mengikuti imam A dan menyerang pendapat imam B, tetapi kadang memilih imam B dan menyerang pendapat imam A. Di satu sisi mereka beralasan bahwa para imam salaf harus diikuti sebab mereka pasti benar, tapi di sisi lain mereka mengatakan bahwa semuanya harus kembali pada dalil sedangkan para Imam itu hanyalah sosok yang tak terjaga dari salah. Ini adalah sebuah kontradiksi yang nyata dari golongan ini.

Bila dilihat secara objektif, mereka sama sekali tak mengikuti ulama salaf mana pun, tetapi mengikuti hasil pendapatnya sendiri yang dipakainya untuk “menghakimi” pendapat ulama salaf. Hanya saja, pendapat ulama klasik yang cocok dengan mereka lantas dilabeli sebagai “pendapat salaf” sedangkan pendapat yang kebetulan tidak sesuai dengan penalaran mereka lantas dilabeli dengan “menyalahi dalil.” Dari ciri-cirinya, konsep pemikiran ini lebih tepat disebut sebagai sebuah mazhab baru daripada sebuah manhaj yang konsisten. Syekh Ibnu Taymiyah (661-728 H) dikenal sebagai salah satu konseptor "mazhab” salaf ini. 
 
Sebagai contoh, dalam hal akidah para pengikut salaf dalam arti kedua ini selalu mengklaim bahwa sifat khabariyah Allah haram ditakwil dan ini adalah kesepakatan seluruh ulama salaf. Mereka yang menakwil sifat khabariyah itu biasanya divonis sebagai ahli bid'ah sebab dianggap berbeda dengan manhaj salaf dalam memperlakukan sifat Allah. Untuk memperkuat argumennya, biasanya mereka menukil pendapat Imam Malik yang populer berikut:
 
الاستواء معلوم والكيف مجهول والإيمان به واجب والسؤال عنه بدعة

"Istiwa' itu sudah diketahui, kaifiyahnya tidak diketahui dan mengimaninya adalah wajib.  Sedangkan bertanya tentang itu adalah bid'ah.” 
 
Selain itu, mereka juga menukil pendapat beberapa tokoh salaf yang menolak bahkan mencela takwil. Meskipun benar bahwa para tokoh ulama yang dinukil itu menolak takwil, namun apakah seluruh tokoh salaf sepakat menolaknya? Tentu saja tidak demikian sebab sebagaimana dijelaskan sebelumnya, ada juga ulama salaf yang menakwil sifat khabariyah yang salah satunya justru Imam Malik itu sendiri. Dari sini menjadi jelas bahwa mereka tak sepenuhnya mengikuti Imam Malik.

Contoh lainnya adalah dalam pembahasan makna istiwa'. Pendapat "mazhab salaf" ini adalah dilarang menakwil dan wajib dimaknai secara literal (dhâhir). Untuk mendukung pendapatnya, maka biasanya mereka menukil pernyataan Imam al-Qurthubi dalam tafsirnya yang mengatakan:

ولم ينكر أحد من السلف الصالح أنه استوى على عرشه حقيقة , وانما جهلوا كيفية الاستواء
 
"Tak ada satu pun dari Salafus Shalih yang mengingkari bahwa Allah istiwa di atas arahnya secara hakikat. Mereka hanya tidak mengetahui tata cara istiwa’-nya saja.” (al-Qurthubi, Tafsîr al-Qurthubi, juz VII, halaman 219).
 
Tetapi di waktu yang sama, mereka mengingkari sebuah kaidah dari Imam al-Qurthubi sendiri yang beliau pakai ketika membahas ayat-ayat yang menyebutkan istiwa' atau "di langit" seperti berikut:
 
يستحيل على الله أن يكون في السماء أو في الأرض، إذ لو كان في شيء لكان محصورا أو محدودا ، ولو كان ذلك لكان محدثا ، وهذا مذهب أهل الحق والتحقيق

"Mustahil atas Allah untuk berada [secara fisik] di langit atau di bumi karena apabila ia berada dalam sesuatu maka berarti ia dikepung atau terbatasi. Apabila itu terjadi berarti Allah itu bersifat baru (dan ini mustahil).  Ini adalah mazhab orang-orang yang benar dan ahli tahqiq." (al-Qurthubi, at-Tadzkâr fî Afdlal al-Adzkâr, 18).
 
Pendapat Imam al-Qurthubi yang menyatakan ulama salaf tidak mengingkari makna istiwa' secara hakikat diambil secara literal sebab dianggap sesuai dengan mazhab mereka, namun kaidah beliau yang menafikan adanya tempat bagi Allah ditolak mentah-mentah sebab berlawanan dengan mazhab mereka. Padahal seharusnya semua pernyataan itu dikompromikan menjadi satu kesatuan utuh bila memang berniat mengikuti Imam al-Qurthubi. Bila pernyataan beliau dikompromikan maka akan diketahui bahwa maksud beliau tak lain adalah Allah istiwa' di atas arasy secara hakikat yang hanya diketahui Allah, namun bukan dalam makna bertempat secara fisik di atas Arasy. Ini adalah ungkapan lain dari tafwîdh yang menjadi pilihan mayoritas ulama salaf yang riil. 

Dalam masalah fikih, ketika pengikut salaf dalam kategori kedua ini membahas qunut subuh, maka banyak di antara mereka yang mengatakan bahwa qunut subuh itu bid'ah. Sepertinya sama sekali tak ada peluang kebenaran bagi siapapun yang mengatakan bahwa qunut subuh itu sunnah sebab seluruh dalilnya menurut mereka lemah. Para ulama salaf seperti Imam Abu Hanifah dan Imam Syafi'i yang menyunnahkannya dianggap tergelincir dalam kesalahan dan pendapatnya harus dilempar ke tembok sebab dianggap menyelisihi sunnah sebagaimana yang mereka pahami. Pernyataan seperti ini bertebaran di internet. 
 
Dari sini terlihat jelas adanya inkonsistensi dalam klaim mengikuti salaf dalam arti kedua ini. Dalam makna ini, kata “salaf” tidak lagi konkrit sebab pendapat para tokoh salaf itu sendiri dipilih sebagian yang dianggap cocok dengan pemikirannya lalu sisanya dibuang, bahkan tanpa ragu dianggap menyimpang dari kebenaran (baca: menyelisihi sunnah). 
 
Bila memang konsisten dengan klaimnya untuk mengikuti ulama salaf dalam arti para Sahabat Rasul, Tabi'in dan Tabi'ut Tabi'in, maka tentu seluruh perbedaan pendapat di kalangan mereka akan diakomodir dan tidak dipertentangkan secara diametral sebagai benar (baca: mengikuti sunnah) dan sesat (baca: menyelisihi sunnah) sebab pada realitanya semua perbedaan pendapat itu muncul dari ijtihad dalam memahami sunnah Rasulullah. Inkonsistensi ini seringkali menyebabkan adanya satu ulama dirujuk dalam satu kasus secara berlebihan sebagai representasi salaf yang sejati namun di kasus yang berbeda ulama yang dimaksud malah ditolak dan dianggap menyelisihi sunnah. Wallahu a'lam.


Abdul Wahab Ahmad, Wakil Katib PCNU Jember dan Peneliti di Aswaja Center Jember
 

Sabtu 29 September 2018 9:30 WIB
Salaf sebagai Realitas dan Fiksi (1)
Salaf sebagai Realitas dan Fiksi (1)
Seluruh umat Islam sepakat bahwa generasi terbaik dan ideal yang layak menjadi rujukan adalah generasi Salaf atau generasi tiga abad pertama.  Dalam hal aqidah dan fiqih, seluruh umat Islam sepakat untuk menjadikan pendapat dan tindakan ulama salaf sebagai rujukan. Namun dalam realitasnya, ada pemaknaan yang berbeda tentang kata salaf ini. Ketika seorang Muslim menyebut kata "Salaf" di era modern ini, maka artinya terbagi menjadi dua macam, yaitu: Salaf sebagai realitas dan salaf sebagai fiksi.
 
Salaf sebagai sebuah realitas
 
Salaf sebagai sebuah realitas artinya adalah tokoh yang nyata dalam realitas sejarah di tiga abad pertama. Dalam arti ini, ketika seseorang mengatakan bahwa dia mengikuti ulama salaf, maka dia dapat dengan mudah menyebutkan tokoh salaf mana yang dia ikuti, misalnya dalam bidang fiqih adalah salah satu dari keempat imam mazhab atau dalam bidang aqidah adalah Imam Abu Hasan al-Asy'ari atau Imam Abu Manshur al-Maturidi. Kesemua nama itu adalah ulama salaf yang nyata yang keilmuannya diakui seluruh dunia serta pendapat-pendapatnya terdokumentasikan dengan baik dalam mazhabnya masing-masing sehingga bisa diuji validitasnya.
 
Ketika ternyata didapati ada perbedaan pendapat antara ulama salaf yang satu dan yang lain, maka pengikut ulama salaf dalam arti riil ini akan mengakui bahwa ada ikhtilaf antara para imam salaf serta dapat dengan mudah menyebutkan perbedaannya. Akhirnya, pengikut salaf dalam makna ini akan mudah untuk saling mengerti landasan dari masing-masing kelompok dan akan jauh dari sikap fanatisme. Itulah mengapa, dalam tradisi penganut salaf dalam kategori pertama ini, kerap kali dimunculkan beberapa pendapat ulama sekaligus tentang satu hal yang sama sebagai penghargaan dan kejujuran bahwa para ulama salaf tak memahami masalah tersebut dalam satu versi pendapat saja, melainkan ada beberapa pendapat yang bertolak belakang.
 
NU sebagaimana digariskan oleh Hadratussyekh Hasyim Asy'ari mengakui empat mazhab fiqih salaf sekaligus, yakni Hanafiyah, Malikiyah, Syafi'iyah dan Hanabilah. Sebagai implementasinya, dalam tradisi Bahtsul Masa'il di kalangan NU biasa disebutkan pendapat dari berbagai mazhab terlebih dahulu sebelum suatu masalah dirumuskan jawabannya. Bahkan dalam rumusan akhir pun tak jarang diputuskan dengan dua atau tiga pendapat yang berbeda dari para ulama sehingga pembaca bisa memilih pendapat mana yang dia anggap paling baik.

Adapun dalam hal aqidah, NU juga merujuk pada imam salaf, yakni Abu Hasan al-Asy'ari dan Abu Manshur al-Maturidi. Keduanya adalah tokoh Ahlussunnah wal Jama’ah yang memurnikan kembali ajaran aqidah ulama salaf setelah sebelumnya didistorsi oleh berbagai aliran seperti Jahmiyah, Mujassimah, Syi’ah, Muktazilah dan banyak lainnya. Meskipun ajaran kedua tokoh ulama salaf ini identik, namun kedua madrasah aqidah ini juga mempunyai beberapa perpedaan pendapat di level detail, seperti bagaimana seharusnya menyikapi sifat-sifat mutasyabihat apakah wajib ditafwidh ataukah ditakwil saja? Perbedaan semacam ini seluruhnya diakomodir sebagai bentuk penghargaan terhadap ulama salaf, tanpa perlu dipertentangkan secara diametral mana yang benar dan mana yang sesat, tetapi dipahami bahwa ini hanyalah antara siapa yang diperkirakan mendapat dua pahala karena pendapatnya tepat dan siapa yang mendapat satu pahala saja sebab tidak tepat.
 
Sebagai contoh, dalam masalah aqidah, ketika memahami ayat وجاء ربك (dan datanglah Tuhanmu) pada surat al-Fajr:22, Sahabat Ibnu Abbas menakwilnya sebagai kedatangan urusan dan putusan Allah (‘amruhu wa qadlâ’uhu), bukan kedatangan Allah sendiri. (Lihat: An-Nasafi, Tafsir an-Nasafi, juz III, halaman 641).

Demikian juga dalam memahami hadits turunnya Allah pada sepertiga malam terakhir, Imam Malik dan al-Auza’i justru menakwilnya. Dalam hal ini Imam Malik mengartikan turunnya Allah sebagai turunnya rahmat, urusan dan malikat Allah (rahmatuhu wa amruhu wa malaikatuhu). (Lihat: an-Nawawi, Syarh an-Nawawi 'ala Muslim, juz VI, halaman 37).

Namun sebagian ulama salaf lainnya memilih untuk tidak menakwil sifat-sifat khabariyah seperti itu tetapi memilih memasrahkan makna sejatinya kepada Allah dengan meyakini bahwa makna tersebut pastilah makna yang layak bagi keagungan-Nya, bukan makna jismiyah. Perbedaan pendapat seperti ini semuanya diakui benar dan dapat dipilih. Siapa yang paling benar di sisi Allah akan mendapat dua pahala dan siapa yang kurang benar akan mendapat satu pahala.
 
Dalam masalah fiqih, ketika membahas masalah qunut subuh misalnya, didapati kenyataan bahwa para Imam dari kalangan ulama salaf berbeda pendapat. Mazhab Malikiyah dan Syafi'iyah berpendapat bahwa qunut subuh adalah sunnah berdasarkan beberapa dalil yang disebutkan dalam mazhab mereka. Sedangkan Mazhab Hanafiyah dan Hanabilah menyatakan bahwa tidak ada qunut dalam salat subuh berdasarkan beberapa dalil yang disebutkan dalam mazhab mereka. Perbedaan semacam ini juga diakomodasi oleh para pengikut salaf dalam pengertian pertama ini, yang salah satunya adalah para Nahdliyyin, sehingga mereka terbiasa hidup rukun dalam perbedaan pendapat para ulama.

Para pengikut salaf dalam arti ini akan sadar betul bahwa ulama salaf seringkali berbeda pendapat dalam hampir semua hal, mulai dari detail-detail akidah hingga detail-detail masalah fiqhiyah. Konsistensi mereka pada mazhab salaf membuat mereka toleran dan tak mudah menjatuhkan vonis sesat atau bid’ah pada Muslim lainnya yang juga mengikuti imam dari kalangan salaf.


Abdul Wahab Ahmad, Wakil Katib PCNU Jember dan Peneliti di Aswaja Center Jember


Bersambung pada bagian selanjutnya...