IMG-LOGO
Ilmu Al-Qur'an

Siapa yang Menyusun Urutan Surat-surat dalam Al-Qur’an?

Ahad 7 Oktober 2018 19:15 WIB
Share:
Siapa yang Menyusun Urutan Surat-surat dalam Al-Qur’an?
Ilustrasi (Freepik)
Urutan surat dalam Al-Qur’an yang kita jumpai sekarang telah melewati proses penertiban yang tidak mudah. Dapat dimaklum bahwa Al-Qur’an adalah sumber nomor wahid bagi umat Islam dalam pengambilan hukum-hukum, dan lebih dari itu, ia adalah pedoman hidup kita semua.

Terkait pembahasan tentang penertiban surat-surat ini, kita akan menemukan istilah tawqifi dan ijtihadi. Tawqifi berarti berdasarkan tuntunan dari Nabi langsung, adapun ijtihadi berarti berdasarkan ijtihad dan usaha para sahabat Nabi dalam menentukan urutan-urutan ini.

Ada tiga pendapat mengenai penertiban surat-surat dalam Al-Qur’an. Pertama, berpendapat bahwa urutan surat-surat dalam Al-Qur’an semuanya bersifat ijtihadi. Kedua, semuanya bersifat tawqifi. Ketiga, sebagian tawqifi, sebagian ijtihadi. Kita akan membahas satu persatu pendapat tadi, serta dalil dan sanggahannya.

Semuanya Ijtihadi

Pertama, urutan surat-surat dalam Al-Qur’an bersifat ijtihadi dari para sahabat Nabi. Pendapat ini dinisbatkan kepada jumhur ulama (mayoritas ulama), di antaranya Imam Malik dan al-Qadhi Abu Bakar. Ibnu Faris mengatakan, terdapat dua proses dalam  penghimpunan Al-Qur’an. Pertama, urutan surat Al-Qur’an, ini diserahkan pada sahabat, Kedua, penghimpunan ayat dalam surat Al-Qur’an, ini ditentukan oleh Nabi ﷺ langsung.

Ada dua alasan yang mendasari pendapat yang pertama ini. Pertama, mushaf yang dimiliki para Sahabat berbeda-beda urutannya sebelum masa kekhalifahan Utsman radliyallahu ‘anh, meskipun mereka mengurutkan surat-surat di dalamnya berdasarkan apa yang mereka dapatkan dari Nabi. 

Beberapa mushaf yang berbeda itu di antaranya milik Ubay bin Ka’ab, yang mana didahului dengan surat al-Fatihah, kemudian al-Baqarah, kemudian an-Nisa`, kemudian Ali Imran, kemudian al-An’âm. Mushaf Ibnu Mas’ud yang diawali dengan surat al-baqarah, kemudian an-Nisa`, kemudian Ali Imran, dan seterusnya. Mushaf Ali yang urutannya sesuai dengan surat yang turun pada Nabi ﷺ, yaitu diawali dengan Iqra`, kemudian al-Mudattsir, kemudian Qâf, kemudian al-Muzammil, kemudian al-Lahhab, kemudian at-Takwir, dan seterusnya.

Dalil kedua, yaitu riwayat dari Ibnu Asytah dari jalur Ismail bin ‘Abbas, dari Hibban bin Yahya, dari Abu Muhammad al-Qurasyi:

أَمَرَهُمْ عُثْمَانُ أَنْ يُتَابِعُوا الطِّوَالَ فَجَعَلَ سُوْرَةَ الْأَنْفَالِ وَسُوْرَةَ التَّوْبَةِ فِي السَّبْعِ وَلَمْ يُفَصَّلْ بَيْنَهُمَا بِبِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

“Utsman memerintahkan para sahabat untuk mengikuti surat Sab’u at-Thiwal (tujuh surat yang panjang), kemudian Utsman menjadikan surat al-Anfal dan at-Taubah pada urutan ketujuh dengan tanpa memisahkan keduanya dengan basmalah. Kemudian al-Qurasyi berkata:

قلت لعثمان ما حملكم على أن عمدتم إلى الأنفال وهي من المثاني وإلى براءة وهي من المئين فقرنتم بينهما ولم تكتبوا بينهما سطر {بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ} ووضعتموها في السبع الطوال؟

“Aku mengatakan pada Utsman, apa yang membawamu untuk menyatukan surat al-Anfal yang mana ia tergolong surat al-Matsâni dengan surat al-Barâ`ah (at-Taubah) sedangkan ia dari golongan surat al-Mi`un, kemudian engkau meletakan keduanya dalam Sab’u ath-Thiwal.” 

Kemudian Utsman menjawab: “Pernah turun beberapa surat Al-Qur’an kepada Rasulullah, dan Beliau, apabila turun ayat kepadanya, memanggil sebagian sahabat yang menulis Al-Qur’an dan mengatakan, “Letakanlah ayat-ayat ini dalam surah yang disebutkan di dalamnya ayat ini dan itu.” 

“Dan surat al-Anfal termasuk dari surat-surat awal yang turun di Madinah, adapun at-Taubah termasuk yang terakhir turunnya. Kisah yang terdapat dalam surat al-Anfal mirip dengan yang ada di at-Taubah, maka aku mengira surat al-Anfal bagian dari at-Taubah. Hingga Rasulullah wafat, dan belum menerangkan pada kami hal tadi, karena itulah aku gabung keduanya, dan tidak aku tuliskan Basmalah di antara keduanya, serta aku letakan keduanya dalam Sab’u ath-Thiwal.”

Terdapat beberapa sanggahan terhadap pada pendapat ini. Di antaranya adalah, bahwa perbedaan yang terdapat dalam mushaf para sahabat, itu terjadi sebelum mereka mengetahui bahwa surat-surat dalam Al-Qur’an urutannya secara tawqif.

Semuanya Tauqifi

Kedua, urutan surat-surat dalam Al-Qur’an semuanya tawqifi dari Rasulullah ﷺ sebagaimana urutan ayat-ayat Al-Qur’an. Dalil yang dipegang oleh ulama yang berpendapat demikian, yaitu para sahabat bersepakat atas mushaf pada masa Utsman, di mana ketika itu semua mushaf yang berbeda sudah dilenyapkan agar tak terjadi fitnah di kalangan Muslim.

Selain itu, mereka juga memiliki riwayat yang menguatkan pendapat mereka. Di antaranya: 

فقال لنا رسول الله صلى الله عليه وسلم: "طرأ علي حزب من القرآن فأردت ألا أخرج حتى أقضيه" فسألنا أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم قلنا: كيف تحزبون القرآن؟ قالوا: نحزبه ثلاث سور وخمس سور وسبع سور وتسع سور وإحدى عشرة سورة وثلاث عشرة وحزب المفصل من ق حتى نختم. 

Rasulullah bersabda pada kami, “Telah turun kepadaku hizb (bagian) Al-Qur’an, sehingga aku tidak ingin keluar sampai selesai.” (Aus bin Hudzaifah) berkata, “Kami bertanya kepada para sahabat Rasulullah ﷺ, ‘Bagaimana kalian membagi pengelompokan Al-Qur’an?’ Mereka menjawab, ‘Kami membaginya menjadi tiga surat, lima surat, tujuh surat, sembilan surat, sebelas surat, tiga belas surat, dan hizb Al-Mufashshal yaitu dari surat Qaf sampai akhir’.” (HR Ahmad)

Riwayat ini menunjukan bahwa penertiban surat-surat dalam Al-Qur’an telah ada pada zaman Rasulullah ﷺ. Namun kendati demikian, pendapat ini pun memiliki beberapa sanggahan. Di antaranya, bahwa riwayat yang mereka gunakan terkait urutan surat tidak terjadi pada semua surat, namun hanya sebagiannya saja. Maka tak dapat disimpulkan juga bahwa urutan surat-surat dalam Al-Qur’an semuanya tawqifi.

Sebagian Ijtihadi Sebagian Tauqifi

Ketiga, urutan surat-surat dalam Al-Qur’an sebagian tawqifi, sebagian ijtihadi. Sebagaimana yang dituturkan al-Qadhi Abu Muhammad bin ‘Athiyyah, “Sesungguhnya kebanyakan surat-surat dalam Al-Qur’an sudah diketahui urutannya pada masa Nabi, seperti surat Sab’u ath-Thiwal, dan al-Mufasshal. Adapun selainnya, urutannya kemungkinan diserahkan kepada generasi selanjutnya.”

Pengarang kitab Manahil al-‘Irfan, az-Zarqâni berpendapat bahwa pendapat ketiga ini lebih utama, karena ia melihat kedua pendapat awal, yakni dalil yang mereka gunakan berindikasi sebagiannya ijtihadi, sebagiannya tawqifi. Hanya saja di sini terjadi perbedaan pendapat mengenai mana saja surat-surat yang tawqifi, dan mana saja yang ijtihadi. Wallahu a’lam. (Amien Nurhakim)

Share:
Sabtu 15 September 2018 18:0 WIB
Bagaimana Cara Membaca Basmalah di Antara Dua Surat?
Bagaimana Cara Membaca Basmalah di Antara Dua Surat?
Ilustrasi (Freepik)
Membaca basmalah atau bismillah merupakan aktivitas yang dianjurkan, utamanya bagi seorang qari’ yang hendak membaca Al-Qur’an. Bahkan dalam salah satu riwayat hadits Nabi menegaskan bahwa bagi orang yang meninggalkan membaca basmalah dalam suatu aktivitas kebaikan, maka akan berkurang barokahnya.

Para ulama qira’at sepakat menetapkan membaca basmalah untuk mengawali bacaan Al-Qur’an pada awal surat kecuali Surat Al-Taubah. Penetapan membaca basmalah pada awal surat adalah karena mengikuti petunjuk penulisan mushaf dan bertabarruk dengan dengan asma Allah. Sayyidah Aisyah berkata: “bacalah Al-Qur’an sesuai yang tertera dalam mushaf.” (Makki bin Abi Thalib Al-Qisiy, Al-Kasyfu ‘an Wujuh Al-Qira’at Al-Sab’I wa Ilaliha wa Hujajiha, Beirut: Muassasah Al-Risalah, 1997. hlm 15. 

Adapun membaca basmalah di antara dua surat atau yang lebih populer dengan sebutan “al-jam’ baina al-suratain”, menyambung antara dua surat, para ulama qira’at bebeda pendapat. Perbedaan ini dapat diklasifikasi ke dalam tiga pendapat: (1) menetapkan bacaan basmalah, (2) meninggalkan bacaan basmalah, (3) menetapkan sekaligus meninggalkan bacaan basmalah. (Abdul Fattah Al-Qadhiy, Abdul Fattah, Al-Buduruzzahirah fi Al-Qira’at Al-Asyrah Al-Mutawatirah, Bairut: Dar Al-Kitab Al-Arabiy, tt. hlm 13) 

Pertama, Imam Qalun, Imam Ibnu Katsir, Imam Ashim, Imam Ali Al-Kisa’I, dan Imam Abi Ja’far menyambung antara dua surat dengan basmalah. Adapun cara menyambung basmalah di antara dua surat ini adalah sebagai berikut : 

1. Berhenti pada setiap ayat, atau tidak menyambung akhir surat, basmalah dan awal ayat surat. Metode ini dikenal dalam ilmu qira’at dengan “Qat’a Al-Jami’.” Berikut contohnya:
 

قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

فِيْ جِيْدِهَا حَبْلٌ مِنْ مَسَدٍ



2. Berhenti di akhir surat dan menyambung basmalah dengan awal surat. Metode ini dalam ilmu qira’a’t dikenal dengan “Qat’u Al-Awal wa Washl Al-Tsaniy.” Berikut contohnya:

 

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ

فِيْ جِيْدِهَا حَبْلٌ مِنْ مَسَدٍ



3. Menyambung akhir surat yang pertama dengan awal surat yang kedua tanpa berhenti, namun tetap membaca basmalah. Metode ini dalam ilmu qira’at dikenal dengan “Wash Al-jami’.” Berikut contohnya: 

 

فِيْ جِيْدِهَا حَبْلٌ مِنْ مَسَدٍ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ



Ketiga metode di atas, berlaku dan dapat dioprasionalkan, baik pada surat yang berurutan, seperti surat Ali Imran dengan surat Al-Nisa’, atau pada surat yang tidak berurutan, seperti akhir surat Al-Fatihah dengan surat Al-Maidah. (Abdul Fattah ‘Ajamiy Al-Murshifiy, Hidayat Al-Qari’ Ila Tajwid Kalam Al-Bariy’, Al-Madinah Al-Munawwarah: Maktabah Thoyyibah, tth), hlm, 569.

Sementara menyambung antara akhir surat dan basmalah, dan memulai awal surat berikutnya tidak diperbolehkan, karena basmalah bukan akhir dari surat dan supaya terhindar dari persangkaan bahwa basmalah termasuk akhir surat.

Kedua, Imam Hamzah Al-Zayyat dan Imam Khalaf memilih menyambung antara dua surat dengan metode “washal” tanpa basmalah, yaitu menyambung akhir kata pada surat pertama dengan awal kata pada surat berikutnya tanpa basmalah. Menurutnya, seluruh Al-Qur’an adalah satu kesatuan. Jadi tidak perlu untuk membaca basmalah bila menyambung antara dua surat. Sebab penulisan basmalah dalam sebuah mushaf tidak lain hanyalah sebagai pertanda berakhirnya sebuah surat.

Ketiga, Imam Warsy, Abi Amr, Ibnu Amir dan  Ya’kub Al-Hadramiy menyambung antara dua surat dengan tiga varian; 1) menyambung antara dua surat dengan basmalah (dengan tiga metode pertama), 2) menyambung tanpa basmalah dengan metode “washal” (seperti bacaan Imam Hamzah dan Khalaf) , 3) menyambung dua surat dengan metode “sakt.” Yang dimaksud dengan “sakt” adalah berhenti sejenak di akhir surat tanpa menarik nafas kira-kira dua ketukan kemudian melanjutkan pada awal surat berikutnya tanpa basmalah. 

Tiga varian bacaan di atas, dapat dioprasionalkan pada surat yang berurutan seperti surat Al-Baqarah dengan surat Ali Imran, atau tidak berurutan, seperti surat Al-A’raf dengan surat Yusuf dengan catatan surat yang kedua merupakan surat selanjutnya pada surat pertama sesuai urutan mushaf. 

Apabila menyambung antara dua surat yang tidak beraturan sesuai urutan mushaf, seperti menyambung antara surat Al-Ra’d dengan awal surat Yunus, atau surat Al-Nas dengan surat Al-Fatihah, maka dalam hal ini harus disambung dengan bacaan basmalah. Tidak boleh menggunakan metode “washal” maupun “sakt.” Demikian pula, harus disambung dengan bacaan basmalah apabila seseorang membaca satu surat yang diulang-ulang, seperti mengulang-ulang bacaan surat Al-Ikhlas. 

Demikian itu merupakan tata cara menyambung antara dua surat menurut ulama qira’at. Bacaan dan tata cara ini merupakan bacaan yang sahih dan mutawatir, baik yang membaca basmalah atau meninggalkannya. 

Imam Ali Al-Dhabba’ menegaskan bahwa perbedaan bacaan antara membaca basmalah atau meninggalkannya merupakan bagian dari tujuh huruf. Sebab bacaan ini diturunkan berulang-ulang, kadang diturunkan dengan basmalah kadang tanpa basmalah. Kedua-duanya adalah bacaan yang sahih dan mutawatir. Barang siapa yang membaca dengan basmalah, maka bacaan itu adalah sahih dan mutawatir hingga sampai kepada kita, dan barang siapa yang tidak membaca basmalah, maka bacaan itu juga sahih dan mutawatir hingga sampai kepada kita. (Al-Dhabba’, Al-Idha’at fi Ushul Al-Qira’at, Mesir: Al-Maktabah Al-Azhariyah li Al-Turats,1999) hlm 9.

Oleh karena itu, dengan mengetahui dan memahami varian bacaan; antara membaca basmalah dan meninggalkannya, maka kita menjadi tahu betapa luas perbedaan bacaan dalam Al-Qur’an. Perbedaan itu mengajarkan kepada kita untuk toleran dan moderat dalam segala hal. 


Moh. Fathurrozi, Pecinta Ilmu Qira’at, Kaprodi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir IAI Al Khoziny Buduran Sidoarjo 

Senin 6 Agustus 2018 21:0 WIB
Empat Metode Membaca Ta’awudz-Basmalah yang Disusul Ayat
Empat Metode Membaca Ta’awudz-Basmalah yang Disusul Ayat
Ilustrasi (Freepik)
Dalam mengawali bacaan Al-Qur’an, seorang qari’ dianjurkan memulai dengan membaca isti’adzah/ta'awudz dan basmalah, sebab keduanya (isti’adzah dan basmalah) memiliki hubungan yang sangat erat, ibarat dua sisi mata uang.

Hal ini disampaikan oleh Ibnu Jarir Al-Thabariy, sebagaimana dikutip oleh Al-Allusy, bahwa ayat pertama yang dibawa oleh Jibril kepada Nabi Muhammad disertai kalimat isti’adzah dan basmalah. Artinya, Jibril ketika menyampaikan risalah wahyu pertama kali kepada Nabi, ia memulainya dengan membaca isti’adzah dan basmalah. 

Kalimat pertama, isti’adzah, sebagai ungkapan permohonan untuk dihindarkan dari godaan dan gangguan setan, sedangkan yang kedua, basmalah, sebagai ungkapan pujian dan pengagungan Dzat Maha Kasih dan Penyayang. Selain sebagai anjuran dalam memulai bacaan Al-Qur’an, ia juga sebagai adab dalam berinteraksi dengan kalam ilahi.

Diceritakan dari Ibnu Abbas, bahwa Jibril berkata kepada Nabi Muhammad: “Wahai Muhammad, bacalah ta’awwudz!” Kemudian Nabi membaca “ أَسْتَعِيْذُ بِاللهِ السَّمِيْعُ الْعَلِيْم مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْم ”. Jibril berkata kembali: “bacalah basmalah”. Nabi pun membaca basmalah “ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ ”. Kemudian dilanjutkan membaca surat Al-Alaq 1-5 (lihat: Jalaluddin Al-Allusy, Dirasat fi Al-Tafsir wa Ulumihi, Tunisia, Muassasah bin Asyur, 2006, halaman 182).

Oleh karena itu, dalam riwayat di atas, ada tiga potongan kalimat; isti’adzah, basmalah, dan ayat Al-Qur’an. Dalam ilmu qira’at, untuk membaca ketiga potongan kalimat di atas, ada empat metode; metode ini juga dikenal dengan metode qiyasiy. Berikut contoh dan cara bacanya:

Pertama, berhenti di setiap potongan kalimat: isti’adzah, basmalah, dan ayat Al-Qur’an. Metode ini dalam ilmu qira’at dikenal dengan qat’ul jami’, misalnya:

  

اِقْرَأْ بِاسمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

 

Kedua, berhenti pada kalimat isti’adzah, kemudian menyambung basmalah dengan ayat Al-Qur’an. Metode ini dikenal dengan qat’ul ûlâ wa washluts tsânî, misalnya: 

  

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ اِقْرَأْ بِاسمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

 

Ketiga, menyambungkan kalimat isti’adzah dengan basmalah dan berhenti pada kalimat basmalah, kemudian memulai awal ayat. Metode ini dikenal dengan washlul ûlâ wa qat’uts tsânî, misalnya:

   

اِقْرَأْ بِاسمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

  

Keempat, menyambungkan semua komponen kalimat; isti’adzah, basmalah dan awal ayat. Metode ini dikenal dengan “ washl Al-Jami’”, misalnya:

    

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ اقْرَأْ بِاسمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ


Keempat metode di atas dapat dioprasionalkan apabila seorang qari’ memulai bacaan Al-Qur’an di awal surat kecuali Surat Al-Taubah atau Al-Bara’ah.

Baca: Mengapa Surat at-Taubah Tak Dimulai dengan Basmalah?
Sedangkan apabila seorang qari’ memulai bacaan Al-Qur’an di tengah-tengah surat, seperti awal rubu’, atau awal kisah dalam Al-Qur’an, maka bagi seorang qari’ boleh membacanya dengan basmalah atau meninggalkannya (tak membaca basmalah). Apabila seorang qari’ memulai bacaan Al-Qur’an di tangah-tengah surat dengan membaca basmalah, maka ia boleh membacanya dengan menggunakan empat metode seperti di atas, tapi apabila tidak membaca basmalah, maka baginya hanya boleh dua metode saja, yaitu menyambung isti’adzah dengan ayat Al-Qur’an atau berhenti pada kalimat isti’adzah dan memulai pada awal ayat. Berikut contoh dan cara bacanya:

Contoh cara menyambung:

 

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ  قَالَ فَمَا خَطْبُكُمْ أَيُّهَا اْلمــُرْسَلُوْنَ

 

Contoh cara berhenti:

  

قَالَ فَمَا خَطْبُكُمْ أَيُّهَا اْلمــُرْسَلُوْنَ

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

 

Sementara itu, apabila seorang qari’ memulai membaca Al-Qur’an dengan isti’adzah kemudian berhenti di tengah-tengah ayat karena percakapan atau menjawab salam, maka dianjurkan baginya untuk mengulang bacaan isti’adzah. Tapi apabila seorang qari’ berhenti (memutuskan bacaan) karena sesuatu yang terpaksa, seperti bersin, percakapan yang berhubungan dengan kemaslahatan bacaan, seperti ragu akan bacaannya (tepat atau tidak) kemudian ia bertanya kepada orang lain untuk memantapkan bacaannya atau belajar kepada orang lain, maka dalam hal ini seorang qari’ tidak perlu mengulang bacaan isti’adzahnya (lihat: Abdul Fattah Al-Qadhiy, Al-Budur Al-Zahirah fi Al-Qira’at Al-Asyr Al-Mutawatirah, Bairut, Dar al-Kitab al-Arabiy, tt., halaman 13).


Moh. Fathurrozi, Pecinta Ilmu Qira’at, Kaprodi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir IAI Al Khoziny Buduran Sidoarjo 


Selasa 31 Juli 2018 18:0 WIB
Pentingnya Asbabun Nuzul dalam Memahami Al-Qur’an
Pentingnya Asbabun Nuzul dalam Memahami Al-Qur’an
Ilustrasi (pixabay)
Memahami Al-Qur’an tidak semudah membalikkan telapak tangan. Kesulitan tersebut tidak hanya dirasakan oleh kalangan non-Arab yang secara kasat mata bahasa ibunya bukan bahasa Arab, tetapi juga melanda masyarakat Arab sendiri yang keseharian menggunakan bahasa Arab.

Permasalah utama ialah karena Al-Qur’an adalah wahyu Allah yang mempunyai nilai suci, sehingga tidak ada seorang pun dapat memahami dengan kebenaran mutlak tanpa adanya petunjuk dan hidayah. Pada saat yang sama, bahasa yang digunakan Al-Qur’an secara eksplisit adalah bahasa Arab yang merupakan bahasa ibu dari wilayah Timur Tengah.

Penggunaan bahasa Arab adalah suatu keniscayaan, melihat konteks turunnya wahyu Al-Qur’an yang berada di wilayah Arab. Sehingga secara historis Al-Qur’an terkait erat dengan peradaban Arab, tetapi hal ini tidak menjadi bagian penting secara menyeluruh dalam memahami Al-Qur’an, meskipun secara redaksional dan historis mempunyai hubungan. Karena, turunnya Al-Qur’an tidak selalu berhubungan dengan suatu peristiwa maupun pertanyaan yang berkaitan dengan kehidupan Arab.

Meski demikian, dalam memahami Al-Qur’an seorang harus mengetahui asbabun nuzul (konteks turunnya ayat). Latar belakang turunnya tidak hanya merespons masalah yang mengitari kehidupan Nabi dan masyarakat sekitar, tetapi juga mengandung pelajaran bahwa wahyu Al-Qur’an turun melalui proses dan melatih kesabaran.

Baca juga: Memahami Makna Wahyu dan Proses Turunnya Al-Qur’an
Begitu pentingnya asbabun nuzul dalam memahami ayat Al-Qur’an ditegaskan oleh Imam al-Wahidi:

لا يمكن معرفة تفسير الأية دون الوقوف على قصتها وبيان نزولها

 “Seorang tidak akan mengetahui tafsir (maksud) dari suatu ayat tanpa berpegang pada peristiwa dan konteks turunnya ayat. (Jalalud Din as-Syuyuti, Lubâb an-Nuqûl fî Asbâbin Nuzûl, Beirut: Darl al-Kutub al Ilmiah, 1971, hal. 3)

Pandangan al-Wahidi memberikan pengertian bahwa asbabun nuzul yang melatarbelakangi turunnya ayat adalah salah satu komponen penting yang harus diperhatikan bagi orang yang ingin memahami maksud Al-Qur’an, dan peringatan bahwa belajar Al-Qur’an tidak cukup hanya membaca terjemahan atau belajar sendiri dari teks-teks terjemahan. Karena tidak semua terjamahan atau kitab tafsir memuat asbabun nuzul secara keseluruhan, sehingga potensi untuk salah paham akan besar.

Imam al Syathibi dalam kitabnya yang berjudul al-Muwâfaqât fi Ushul asy-Syarî’ah memberikan peringatan keras kepada orang yang hanya belajar dan memahami al Qur’an hanya dari teksnya. Lebih lanjut, beliau berkatan bahwa seorang tidak boleh memahami al Qur’an hanya terpaku pada teksnya saja, tanpa melihat atau memperhatikan konteks turunnya ayat, karena asbab al nuzul adalah komponen dasar dalam memahami al Qur’an (Abi Ishaq al Syathibi, al-Muwâfaqât fî Ushûl asy-Syari’ah, vol. III Beirut: Bar al-Kutub al-Ilmiah, 2005, hal. 258).

Pendapat al Wahidi diperkuat oleh imam Ibn Daqiq al-Aid yang berpendapat bahwa salah satu yang penting dalam memahami ayat Al-Qur’an adalah mengetahui asbabun nuzul dari ayat itu sendiri, karena hal tersebut adalah cara untuk memperkuat dalam mengetahui makna Al-Qur’an. Beliau mengatakan:

بيان سبب النزول طريق قوي في فهم معاني القرأن

“Keterangan konteks turunnya ayat merupakan cara untuk memperkuat dalam memahami makna Al-Qur’an.” (Jalalud Din as-Syuyuti, al-Itqan fi Ulum al-Qur’an, Beirut: Darl al Fikr, 2012, hal. 41)

Kedua argumentasi ulama tersebut mengingatkan kita untuk selalu berhati-hati dalam menafsirkan ayat Al-Qur’an, karena Al-Qur’an bukan kitab biasa yang semua orang dapat memahami, tetapi setiap orang dapat mempelajari kepada ahlinya. Salah satu pelajaran dari Imam Ibnu Taimiyah bercerita bahwa pada jaman dahulu terdapat satu jemaah yang berselisih pandang tentang makna ayat dan bertanya kepada Ulama, lalu disebutkan satu peristiwa yang berkaitan dengan ayat tersebut sehingga semua memahaminya.

Lantas bagaimana cara mengetahui asbabun nuzul dari suatu ayat, dan kepada siapa kita bisa merujuknya?

Para ulama bersepakat ada dua metode untuk mengetahui asbabun nuzul; pertama, melalui jalur riwayat (transmisi). Kedua, melalui jalur mendengarkan riwayat langsung dari para sahabat yang menyaksikan peristiwa turunnya wahyu (Jalalud Din as-Syuyuti, Lubâb an-Nuqûl fî Asbâbin Nuzûl, Beirut: Darl al Kutub al Ilmiah, 1971, hal. 4). Metode pertama menunjukkan bahwa setiap orang dapat mengetahui peristiwa konteks turunnya Al-Qur’an tetapi dengan periwayatan yang panjang, dan hanya bisa didapatkan dari orang yang tsiqah, dlabith dan ‘adil. 

Sedangkan metode kedua, hanya orang tertentu yang bisa mengetahui, karena berkaitan dengan masa sahabat. Sehingga dapat dipastikan hanya sahabat awal yang mengetahui peristiwa wahyu, seperti turunnya QS al-Baqarah 120 yang menjelaskan tentang jima’. Sahabat Jabir meriwayatkan bahwa orang Yahudi mempunyai anggapan bahwa laki-laki yang mendatangi (bersetubuh dengan) istrinya dari belakang akan mendapatkan anak cacat (mata juling), sehingga turun ayat tersebut. Wallahu A’lam bi al Shawab


Moh. Muhtador, Dosen Ushuluddin IAIN Kudus