IMG-LOGO
Trending Now:
Hikmah

Dua Kiai dengan Dua Solusi

Jumat 19 Oktober 2018 9:0 WIB
Share:
Dua Kiai dengan Dua Solusi
Kejadiannya sekitar tahun 86. Suatu ketika saya terkena musibah; Kehilangan dompet dengan sejumlah uang di dalamnya. Saya cukup terpukul karena uang itu untuk kebutuhan sekolah, bayar imtihan dan lain-lain.

Di tengah kesedihan itu, seorang teman menawarkan solusi,

“Gimana kalau kita sowan ke Mbah Hasyim?” ajak si teman menawarkan solusi.

“Maksudmu?” Balik saya yg bertanya.

“Nanti saya yang matur soal kehilangan itu. Kita minta wirid dan doa agar bisa menemukan orang yang mengambil atau setidaknya uang temuan itu dikembalikan orang yang nemu.”

Saya terdiam. Agak lama saya menalar solusi teman saya yg rajin sowan mbah kiai minta berbagai ijazah doa itu.

Akhirnya saya menerima solusinya.

Kami berdua sowan. Setelah Mbah Hasyim mempersilakan duduk, si Fulan, teman saya itu langsung matur dengan mimik yg fasih menceritakan kronologi kejadiannya.

Seperti biasa, ekspresi Mbah Hasyim selalu meneduhkan dan memberi asa bagi siapapun yg berkeluh kesah. Dan seperti tahu apa yang kami minta, beliau mengambil secarik kertas dan menulis doa-doa, sebagaimana permintaan Fulan, teman saya.

Setelah dirasa cukup, kami pun pamitan. Tak lupa saya menciumi tangan lembut beliau, berharap berkah kemuliaannya.

Sesampai di asrama. Kami sepakat untuk berbagi tugas. Fulan, yang jago riyadhoh, bertanggung jawab menjalankan wirid sesuai petunjuk Mbah Hasyim. Saya sendiri memilih menjadi detektif, mencari tahu sebab musabab dan berbagai kemungkinan hilangnya si dompet.

Setelah seminggu berselang, saat imtihan sudah dekat, saya sudah mulai tak sabar. Harus ada plan B untuk bisa mengatasi keuangan yang cukup mendesak.

Saya pun diam-diam mencari solusi lain. Kali ini saya sowan sendirian. Bukan ke Mbah Hasyim, tapi Ke Mbah Kiai Habib.

Sesampai di Ndalem, saya utarakan segala hal yang berkaitan dengan problem saya. Selesai matur. Beliau masuk ke kamar. Agak lama saya menunggu dengan harap2 cemas, sampai akhirnya Mbah Habib keluar dengan amplop di tangan dan diberikannya kepada saya seraya berkata,

“Iki nggo mbayar imtihan (ini untuk membayar imtihan).”

Dengan tangan gemetaran saya menerima amplop itu. Sementara Mbah Habib tetap dengan senyum khasnya, seakan menampar kebodohan dan keteledoran saya. Saya cuma bisa mringis kecut, tapi diam-diam bahagia bisa keluar dari persoalan keuangan..

Saat ketemu Fulan, saya buru-buru memujinya.

“Wah, solusi kamu warbiyasah. Duit itu sudah kembali dengan jumlah sama persis dengan yang hilang.”

Dengan heran setengah tidak percaya, Fulan nampak ikut gembira. Belum sempat menanyakan sesuatu, saya langsung potong,

“Coba saya mau tahu, doa apa yang kamu wiridkan!”

Dia kemudian menyodorkan secarik kertas pemberian Mbah Hasyim. Setelah saya amati, doa itu sebenarnya lebih tepat untuk mengikhlaskan apa-apa yang hilang atau lepas dari kita.

“Gimana?” tanya Fulan.

“Sudah, nggak usah tanya apa pun. Tuhan punya banyak cara untuk mengabulkan permintaan hambanya,” jawab saya untuk melegakan Fulan.

Kami pun kemudian merayakan kegembiraan itu di sebuah warung kopi. Dalam hati, saya tak henti-hentinya mengagumi dua solusi cerdas itu. Meski berbeda arah, kedua solusi itu seperti memiliki benang merah yang menghubungkan antara ikhtiar dan tawakal yang kami lakukan. Lahumal Fatihah. (Ade Ahmad)

Tags:
Share:
Jumat 19 Oktober 2018 20:0 WIB
Resep Jitu Sayyidina Ali saat Mengobati Sakit Perut
Resep Jitu Sayyidina Ali saat Mengobati Sakit Perut
Saat kita membaca kitab-kitab sirah, Sahabat Ali tidak dikenal sebagai dokter. Beliau tidak biasa mengobati pasien yang sakit. Beliau lebih dikenal sebagai sosok tangguh yang berpengetahuan luas, sang cendekia kelas kakap di zamannya, juga sang pemimpin yang tegas. Karena keluasan ilmunya, Nabi memberinya gelar “bab madinah al-Ilmi”, pintunya kota ilmu. “Aku adalah kotanya ilmu, sedangkan Ali adalah pintunya,” demikian sabda Nabi yang populer itu.

Bukan Sahabat Ali kalau tidak dapat memecahkan masalah, termasuk di dunia medis. Suatu ketika Ali didatangi seorang laki-laki yang mengadukan sakit perut. Ia meminta Ali untuk mengobatinya. Laki-laki ini tidak berpikir bahwa Ali bukan dokter, yang ia tahu adalah Sahabat Ali adalah orang yang multi talenta, apa pun masalahnya dapat diatasi.

“Aku memohon petunjuk dari engkau untuk mengobati sakit perutku ini,” pinta laki-laki tadi. Tanpa pikir panjang, Ali bin Abi Thalib segera memberikan resepnya. Beliau mengatakan:

خُذْ مِنْ صِدَاقِ امْرَأَتِكَ دِرْهَمَيْنِ وَاشْتَرِ بِهِمَا عَسَلًا وَأَذِبْ الْعَسَلَ فِيْ مَاءِ مَطَرٍ نَازِلٍ لِسَاعَتِهِ أَيْ قَرِيْبِ عَهْدٍ بِاللهِ وَاشْرَبْهُ

“Ambilah dari mahar istrimu sebanyak dua dirham dan belilah madu. Campurlah madu itu dengan air hujan yang baru turun dari langit, lalu minumlah.” Laki-laki tadi penasaran, dari mana Ali mengetahui resep itu. Sebelum sempat menanyakan, Ali sudah menjawabnya dengan penjelasan selanjutnya. Sang mantu Nabi ini mengatakan: 

“Sesungguhnya aku mendengar firman Allah ﷻ tentang air hujan:

وَنَزَّلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً مُبَارَكاً

“Dan kami turunkan dari langit air yang memberkati.” (QS. Qaaf ayat 9).

Aku mendengar Allah berfirman tentang madu:

فِيهِ شِفَاءٌ لِلنَّاسِ

“Di dalam madu terdapat obat bagi manusia.” (QS. Al-Nahl, ayat 69).

Dan aku mendengar Allah berfirman tentang mahar istri:

فَإِنْ طِبْنَ لَكُمْ عَنْ شَيْءٍ مِنْهُ نَفْساً فَكُلُوهُ هَنِيئاً مَرِيئاً

“Kemudian jika mereka menyerahkan kepadamu sebagian dari maskawin itu dengan senang hati, Maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya.” (QS.al-Nisa’, ayat 4).

Dalam riwayat lain, versi Syekh Abd bin Humaid dan lainnya disebutkan redaksi yang senada, bahwa Sayyidina Ali berkata:

إِذَا اشْتَكَى أَحَدُكُمْ فَلْيَسْأَلْ اِمْرَأَتَهُ ثَلَاثَةَ دَرَاهِمَ أَوْ نَحْوَهَا فَلْيَشْتَرِ بِهَا عَسَلاً وَلْيَأْخُذْ مِنْ مَاءِ السَّمَاءِ فَيَجْمَعُ هَنِيْأً مَرِيْئاً وَشِفَاءً وَمُبَارَكاً

“Bila kalian merasakan sakit, maka mintalah kepada istrimu tiga dirham atau lainnya, belikan darinya madu dan campurlah dengan air hujan, ia telah mengumpulkan antara sedap, baik akibatnya, obat dan keberkahan.”

Sayyidina Ali memadukan tiga unsur keberkahan untuk mengobati sakit perut pasiennya tadi. Air hujan, madu, dan mahar istri. Layaknya seorang dokter yang meracik obat dari beberapa unsur yang berbeda. Sayyidina Ali berhasil mengobati pasiennya. Beliau memadukan resep-resepnya dari ayat al-Qur’an dengan sangat piawai. Beliau mengumpulkan antara keberkahan (air hujan), obat (madu), sedap (hanî’) dan baik akibatnya (marî’a).

Mahar istri sebagaimana dijelaskan oleh para ulama memang mengandung banyak keberhakan. Meski mahar adalah hak istri, namun bila istri merelakannya untuk digunakan suami, maka dalam pandangan fiqih boleh digunakan. Sebagian ulama bahkan menyebutkan bahwa mahar istri baik sekali untuk digunakan modal usaha suami, tentu setelah melalui proses musyawarah dengan istri.

Demikianlah resep obat sakit perut menurut Sayyidina Ali radliyallahu ‘anh, sebelum dicoba, penulis sarankan untuk mengonsultasikan terlebih dahulu dengan dokter, untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Wallahu a’lam.

(M. Mubasysyarum Bih)


Referensi: Syekh Mutawalli al-Sya’rawi, Qashshs al-Shabat wa al-Shalihin, hal. 49 dan Syekh Mahmud bin Abdillah al-Husaini al-Alusi, Tafsir al-Alusi, juz.3, hal. 424.
Rabu 17 Oktober 2018 8:0 WIB
Cerita Nabi Sulaiman Gelar Syukuran dan Sedekah Laut
Cerita Nabi Sulaiman Gelar Syukuran dan Sedekah Laut
(Foto: beritablitar.com)
Kisah ini berawal dari kesuksesan Nabi Sulaiman AS. Nabi Sulaiman AS telah memperoleh bermacam kenikmatan duniawi. Semua tunduk di bawah perintahnya. Manusia, jin, hewan liar, aneka burung, dan bahkan angin. Ketika itu tumbuh rasa bangga di dalam hatinya.

“Tuhanku, perkenankan hamba menyediakan makan untuk semua makhluk hidup setahun penuh,” kata Nabi Sulaiman AS memohon izin kepada Allah SWT.

“Kau tak mungkin sanggup,” jawab Allah SWT.

“Kalau begitu, izinkan hamba barang sehari,” kata Nabi Sulaiman AS.

Ketika mendapat izin sehari dari Allah, Nabi Sulaiman AS memerintahkan pasukannya baik kalangan jin dan manusia untuk menyebar mendata semua makhluk yang ada di muka bumi. Ia juga meminta mereka untuk memasak dan menyiapkan hidangan selama 40 hari.

Kepada angin, Nabi Sulaiman AS memerintahkan agar tidak bergerak selama itu agar tidak menerbangkan makanan yang sedang disiapkannya untuk memberi makan sehari semua makhluk Allah di muka bumi.

Nabi Sulaiman AS meminta pasukannya untuk mengumpulkan makanan hari demi hari di sebuah padang luas. Pasukannya bekerja keras memenuhi permintaan rajanya. Sampai tiba waktunya, makanan yang disiapkan itu menggunung.

“Sulaiman, siapa duluan yang akan kau beri makan?” kata Allah SWT setelah genap 40 hari persiapan hidangan.

“Makhluk-Mu yang di darat dan di laut,” jawab Nabi Sulaiman AS.

Allah SWT kemudian memerintahkan ikan paus, salah satu penghuni samudera yang luas untuk memenuhi undangan makan Nabi Sulaiman AS. Ikan itu pun mengangkat kepalanya dan bergerak maju ke arah makanan yang menggunung itu.

“Wahai Sulaiman, hari ini Allah menjadikan rezekiku melalui tanganmu,” kata ikan paus tersebut.

“Silakan makan,” kata Nabi Sulaiman AS yang diberi anugerah mukjizat dapat berbicara dengan hewan dan makhluk halus.

Setelah diizinkan, ikan paus itu pun melahap hidangan Nabi Sulaiman AS yang menggunung tersebut. Belum genap sekejap, ikan itu melahap semua hidangan yang disiapkan 40 hari lamanya. Ludes. Sementara itu Nabi Sulaiman AS dan pasukannya terperangah melihat ikan paus itu melahap semua persedian makanan.

“Sulaiman, kenyangkan aku. Aku masih lapar,” kata ikan paus.

“Kau belum kenyang?”

“Hingga kini aku belum kenyang,” kata ikan paus.

Nabi Sulaiman AS tidak sanggup menjawab. Ia menyerah takluk di hadapan kuasa Allah SWT. Ia duduk bersimpuh lalu bersujud.

Subhāna man takaffala bi rizqi kulli marzūqin min haitsu lā yasy‘uru. (Mahasuci Tuhan yang menjamin rezeki semua makhluk-Nya dari jalan yang tak terpikirkan,” sembah puji Nabi Sulaiman AS sebagai pengakuan.

***

Kisah ini disarikan dari Kitab Durratun Nasihin fil Wa‘zhi wal Irsyad karya Syekh Utsman bin Hasan bin Ahmad As-Syakir Al-Khaubawi, [Mushtafa Al-Babi al-Halabi, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah: tanpa catatan tahun], halaman 229-230.

Kisah ini menyarankan kerendahan hati atas segala capaian, syukuran atas suatu capaian, sedekah terhadap semua makhluk baik di darat maupun di laut, kepercayaan bahwa Allah penjamin rezeki, dan juga pengakuan atas kuasa Allah SWT. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)
Selasa 16 Oktober 2018 15:0 WIB
Tanda Hati Sehat, Hati Sakit, dan Hati Mati
Tanda Hati Sehat, Hati Sakit, dan Hati Mati
Detak jarum jam terdengar sangat keras memenuhi kedua gendang telinga. Suara motor sayup-sayup terdengar dari kejauhan. Tiada kata terucap dari insan bernyawa. Semua terlelap menikmati anugerah tuhan yang Maha-kuasa. Mengistirahatkan badan setelah seharian mencari berkah dan rezeki di hamparan bumi-Nya. Inilah kondisi tengah malam yang sepertinya tinggal menunggu berapa menit saja menuju pagi.

Bergegas ambil air wudhu dan memakai sandal menuju tempat ibadah. Begitulah para guru telah mengajarkan agar lebih hati-hati dalam urusan najis. Karena suci dari najis merupakan salah satu dari syarat sahnya shalat. Saya perhatikan lantai dimana kami sekeluarga shalat terlihat bercak-bercak kotor karena air yang mengering. Dipikir-pikir bukankan baru saja mengambil air wudhu, seharusnya kondisi kaki justru lebih bersih. Kenapa kok mengotori lantai? Ternyata bukan air, kaki, atau sandalnya yang kotor, tapi justru lantai yang berdebu. Lantai tampak menjadi lebih kotor walaupun sebenarnya terkena air bersih.

Begitulah barangkali kondisi hati seseorang, terkadang semua yang terlihat, nampak sebagai sesuatu yang salah, walaupun sebenarnya adalah benar. Subjektivitas manusiapun terjadi akibat kondisi hati. Sebagaimana Amin Syukur dalam bukunya Terapi Hati, mengutip pendapatnya Imam al-Ghazali menjelaskan bahwa hati terdiri dari 3 macam:

Pertama, hati yang sehat dan menyebabkan keselamatan. Hati yang sehat memiliki beberapa tanda, yaitu, imannya kokoh, ahli bersyukur, tidak serakah, kehidupan tenteram, khusyuk dalam beribdah, banyak berdzikir, kebaikan selalu dinamis, segera sadar jika melakukan kesalahan, suka bertobat dan sebagainya.

Kedua, hati yang sakit. Hati yang sakit adalah hati yang masih memiliki keimanan, ada ibadah, ada pahala, namun ada pula noda-noda maksiat dan dosa. Tanda-tanda hati yang sakit antara lain: hati selalu gelisah jauh dari ketenangan, mudah marah, tidak pernah puas dengan apa yang dimiliki, susah menghargai orang lain, kehidupan tidak nyaman, mengalami penderitaan lahir batin, dan sebagainya.

Ketiga, hati yang mati. Hati yang mati berarti hati yang telah mengeras dan membatu karena terlalu banyak kotoran akibat dosa-dosa yang diperbuat. Sebagaimana firman Allah:

وَمَا يُكَذِّبُ بِهِ إِلا كُلُّ مُعْتَدٍ أَثِيمٍ، إِذَا تُتْلَى عَلَيْهِ آيَاتُنَا قَالَ أَسَاطِيرُ الأوَّلِينَ، كَلا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Artinya: “Dan tidak ada yang mendustakan hari pembalasan itu melainkan Setiap orang yang melampaui batas lagi berdosa, yang apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, ia berkata: "Itu adalah dongengan orang-orang yang dahulu", sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka. (QS Al-Muthaffifin [83]: 12-14)

Hati yang bersih dan sehat bisa saja menjadi sakit bahkan kotor dan menjadi mati disebabkan karena dosa. Sehingga ketika hati sudah mati tiada sesuatu pun yang indah dalam dirinya. Sebagaimana potongan hadits mengatakan “.....jika baik hati seseorang maka baik pula seluruh anggota badan...”.

Setidaknya ada 5 hal yang dapat mengobati hati, sebagaimana dijelaskan dalam kitab Kifayatul Atqiya karya Sayid Abu Bakr. Pertama, membaca Al-Qur’an dengan penghayatan arti dan maknanya. Kedua, membiasakan diri dalam kondisi tidak kenyang atau dengan banyak berpuasa. Ketiga, beribadah di waktu malam, baik dengan shalat, membaca Al-Qur’an, berdzikir dan sebagainya. Keempat, mendekatkan diri kepada Allah sedekat dekatnya di waktu sahur. Kelima, berkumpul dengan orang-orang yang shalaeh, yang dapat membimbing dan menjadi cermin kehidupan yang lebih baik.


Jaenuri, Dosen Fakultas Agama Islam UNU Surakarta