IMG-LOGO
Trending Now:
Tasawuf/Akhlak

Sejumlah Bentuk Rendah Hati Nabi Muhammad SAW

Selasa 6 November 2018 13:00 WIB
Sejumlah Bentuk Rendah Hati Nabi Muhammad SAW
Nabi Muhammad SAW menyandang segala gelar kehormatan manusia. Ia merupakan makhluk mulia di langit dan di bumi. Selain pemimpin agama, Nabi Muhammad SAW juga seorang kepala “negara”. Meski demikian, Rasulullah SAW tidak bersikap tinggi hati seperti kelompok feodal pada abad pertengahan di Eropa.

Rasulullah SAW bersikap rendah hati dan menaruh hormat kepada semua anak manusia tanpa memandang kelas sosial. Ia tidak bersikap tinggi yang bertangan halus sebagaimana lazimnya kelas priayi di zaman lampau.

Syekh Ibrahim Al-Baijuri menyebut sejumlah bentuk sikap rendah hati Rasulullah SAW ini. Ia mengatakan bahwa sikap rendah hati Rasulullah SAW ini patut diteladani oleh umatnya.

والزم التواضع فقد كان من تواضعه صلى الله عليه وسلم أن يحمل بضاعته من السوق إلى أهله ويصافح الغني والفقير ويبدأ من لقيه بالسلام إلى غير ذلك

Artinya, “Lazimkan sikap tawadu atau rendah hati. Salah satu sikap tawadu Rasulullah SAW adalah kemandirian Nabi Muhammad SAW dalam membawa pulang sendiri barang belanjaannya dari pasar ke rumah, keterbukaannya dalam menjabat tangan orang kaya dan orang miskin, kesediaannya dalam memulai salam terhadap siapa pun yang dijumpai olehnya, dan banyak lainnya,” (Lihat Syekh Ibrahim Al-Baijuri, Tahqiqul Maqam ala Kifayatil Awam, [Surabaya, Maktabah M bin Ahmad Nabhan wa Auladuh: tanpa catatan tahun], halaman 78).

Dari keteladanan ini, kita dapat menyaksikan di sekitar kita bagaimana para kiai menerima tamu dengan pelbagai macam bentuknya baik disukai umat maupun dibenci umat. Contohnya, para kiai pesantren menerima kunjungan salah seorang jenderal Orba non-muslim yang mengadakan kunjungan keliling pesantren.

Bahkan Kiai Abdul Wahid Hasyim membantu membawakan tas atau kopor KH Saifuddin Zuhri seketika Kiai Saifuddin tiba di stasiun Jombang. Padahal, Kiai Saifuddin Zuhri datang atas permintaan Kiai Wahid yang kelak menjadi sekretaris dan besan Kiai Wahid. Sebagaimana kita ketahui bahwa Kiai Wahid Hasyim adalah putra kiai besar di tanah Jawa, KH Hasyim Asyari.

Kerendahan hati Nabi Muhammad SAW dan para kiai ini tidak mengurangi kebesaran mereka. Kerendahan hati yang dituangkan dalam praktik sehari-hari ini justru menambah ketinggian derajat mereka di sisi Allah.

Nabi Muhammad SAW sadar bahwa derajatnya tinggi di sisi Allah dan ia adalah pemimpin umat manusia. Tetapi ia tidak enggan untuk membawa sendiri keperluan rumah tangganya dan tidak sungkan untuk menjabat tangan orang lain dari golongan mana saja.

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم أنا سيد ولد آدم ولا فخر

Artinya, “Rasulullah SAW bersabda, ‘Aku penghulu anak Adam, dan tidak sombong,’” (HR Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah).

Semua bentuk kerendahan hati ini adalah merupakan sikap seseorang menghormati anak manusia, dan sesama manusia. Kerendahan hati tidak membawa seseorang menjadi hina. Sebaliknya, sikap tawadhu itu membawa tinggi derajat seseorang di sisi Allah. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)
Share: