IMG-LOGO
Trending Now:
Ilmu Tauhid

Menjawab Trilemma Epicurus, Tiga Pertanyaan Dilematis dari Ateis

Kamis 8 November 2018 15:30 WIB
Share:
Menjawab Trilemma Epicurus, Tiga Pertanyaan Dilematis dari Ateis
Sejak dulu, para Ateis atau pengingkar keberadaan Tuhan selalu berusaha membuat kaum beragama kebingungan dan ragu akan keberadaan Tuhan. Mereka meminta bukti keberadaan Tuhan, meminta untuk memperlihatkan wujud Tuhan dan aneka permintaan lain yang memang dibuat supaya orang yang ditanya kesulitan menjawabnya sehingga dia ragu. Namun kebanyakan pertanyaan atau permintaan mereka mudah untuk dijawab. Bukti adanya Tuhan dapat dilihat dalam keberadaan alam semesta yang begitu luar biasa dan dalam sebuah sistem yang rumit. Tak mungkin hal seperti itu ada dengan sendirinya tanpa ada yang merancang. Demikian juga ketidakmampuan manusia melihat Tuhan bukan berarti dapat disimpulkan bahwa Tuhan itu tak ada sebab banyak hal yang secara pasti dapat disebut ada meskipun kita tak bisa melihatnya.

Di antara pertanyaan yang barangkali agak sulit dijawab oleh kebanyakan orang adalah rangkaian pertanyaan yang dikenal sebagai Trilemma Epicurus. Trilemma Epicurus adalah tiga gugatan yang dirancang sedemikian rupa untuk membuat orang yang ditanya merasa serba salah atau berada dalam dilema. Tiga pertanyaan itu adalah :
 
• Apakah Tuhan mau, tapi tidak mampu melenyapkan kejahatan (evil)? Kalau ya, berarti Dia tidak Maha-Kuasa. 
• Apakah Tuhan mampu, tapi tidak mau melenyapkan kejahatan? Kalau ya, berarti Dia tidak Maha-Pengasih.
• Jika Tuhan mampu dan mau melenyapkan kejahatan, mengapa masih ada keja-hatan sampai sekarang? Dan, jika Tuhan tidak mampu dan tidak mau melenyap-kan kejahatan, kenapa masih disebut Tuhan?
 
Itulah tiga dilema yang menjadi argumen para ateis untuk menyerang orang yang beragama. Mereka mengajukan pertanyaan semacam itu sebab tak memahami sifat kesempurnaan Tuhan.  Bila kita memahami sifat Kemahakuasaan (Qudrah) dan Kehendak Bebas (Irâdah) Allah, maka pertanyaan mereka itu mudah sekali dijawab. Sifat Kemahakuasaan Tuhan meniscayakan kekuasaan yang tak terbatas bagi Tuhan. Bila sosok yang dipertuhankan masih mempunyai batasan bagi kekuasaan/kemampuannya atau perlu kompromi dengan pihak lain atau merasa berat untuk melakukan sesuatu, maka pasti sosok itu bukan Tuhan sejati. Demikian juga dengan sifat Kehendak Bebas yang meniscayakan adanya kehendak yang tak terbatas oleh apa pun jua sehingga tak perlu melakukan kompromi atau penyesuaian dengan pihak maupun.

Dengan memahami konsep ini, maka jawaban Trilemma Epicurus di atas akan mudah terpecahkan, yakni sebagai berikut:
 
• Apakah Tuhan mau, tapi tidak mampu melenyapkan kejahatan (evil)? Tuhan sangat mampu melakukan hal itu sebab kemampuan Tuhan memang tak terbatas. Hanya saja memang Tuhan membiarkan kejahatan tetap ada untuk tujuan tertentu. Bahkan bukan hanya membiarkan, kejahatan atau segala musibah adalah justru ciptaan Tuhan itu sendiri.

• Kalau mampu tapi tak mau melenyapkannya berarti Tuhan tidak Maha-Pengasih? Tuhan punya kehendak mutlak yang tak terbatas. Kehendak Tuhan tak bisa diatur-atur manusia. Terserah Tuhan mau mengasihi siapa dan mau mencelakakan siapa. Sifar Pengasih sendiri bukanlah sifat yang wajib bagi sosok Tuhan. Tuhan bebas sebebas-bebasnya untuk mengasihi siapa yang dikehendakinya dan menghukum siapa yang dikehendaki. Meski demikian, Dia tetaplah Tuhan. 

Bila Tuhan “wajib” untuk mengasihi semua orang, maka berarti kekuasaan dan kehendak-Nya tidaklah bebas sebab masih diatur-atur oleh pihak yang mewajibkan itu. Jadi, justru penanya yang berusaha mengesankan bahwa Tuhan wajib mengasihi seluruh manusia itulah yang mendegradasi kemuliaan Tuhan.

• Jika Tuhan mampu dan mau melenyapkan kejahatan, mengapa masih ada keja-hatan sampai sekarang? Pertanyaan ini tidak relevan sebab mau tidaknya Tuhan melakukan hal itu adalah hak prerogatifnya sebagai Tuhan. Manusia tak bisa mengatur Tuhan harus melenyapkan kejahatan. Terserah Tuhan mau menciptakan Iblis, kejahatan, penyakit, kematian atau kecelakaan sebagai ujian bagi para hambanya. 

Keberadaan semua yang jahat dan tidak enak itu bukan karena Tuhan tak mampu menghilangkannya tetapi karena Dia menggunakan hak prerogatifnya untuk berbuat apa pun yang Ia mau. Pada akhirnya, yang sabar dan lulus ujian tetap akan mendapat balasan yang terbaik di Surga kelak. Kasih sayang Tuhan tak hanya bisa diukur di dunia tetapi juga nanti di akhirat. Boleh jadi Tuhan membuat seseorang sengsara di dunia, tetapi memuliakannya nanti di akhirat.

• Jika Tuhan tidak mampu dan tidak mau melenyapkan kejahatan, kenapa masih disebut Tuhan? Pertanyaan ini gugur dengan sendirinya sebab status ketuhanan tak bergantung pada adanya kejahatan. Tuhan bebas menciptakan kejahatan atau kebaikan dan meski begitu Ia tetap Tuhan. Demikian juga yang bukan Tuhan, tetap tak akan menjadi Tuhan hanya gara-gara dia melenyapkan kejahatan.

Wallahu a'lam.


Abdul Wahab Ahmad, Wakil Katib PCNU Jember dan Peneliti di Aswaja Center Jember.

Tags:
Share:
Selasa 6 November 2018 21:45 WIB
Sikap Umat Islam atas Pertikaian Sahabat Rasulullah SAW
Sikap Umat Islam atas Pertikaian Sahabat Rasulullah SAW
Pertikaian di kalangan sahabat Rasulullah SAW terjadi untuk pertama kali ketika Rasul wafat. Pertikaian terjadi ketika mereka membahas siapa yang berhak mengambil tongkat estafet kepemimpinan setelah Rasulullah SAW wafat.

Guru besar Ahlussunnah wal Jamaah Syekh Abul Hasan Al-Asy‘ari menyebut pertikaian pertama yang terjadi di tengah umat Islam sepeninggal Rasulullah SAW. Pertikaian ini dipicu oleh persoalan politik.

واول ما حدث من الاختلاف بين المسلمين بعد نبيهم صلى الله عليه و سلم اختلافهم في الإمامة وذلك أن رسول الله صلى الله عليه و سلم لما قبضه الله عز و جل ونقله إلى جنته ودار كرامته

Artinya, “Pertikaian pertama yang terjadi di kalangan umat Islam sepeninggal Rasulullah SAW adalah pertikaian mereka perihal kepemimpinan (politik). Peristiwa itu terjadi ketika Rasulullah SAW wafat dan beralih ke sisi-Nya yang mulia,” (Lihat Abul Hasan Ali bin Ismail Al-Asy’ari, Maqalatul Islamiyyin wa Ikhtilaful Mushallin, [Beirut, Al-Maktabah Al-Ashriyah: 1990 M/1411 H], juz I, halaman 39).

Pertikaian yang melibatkan massa besar beberapa tahun kemudian juga terjadi, yaitu antara Sayyidina Ali RA dan Muawiyah RA. Di sini para sahabat terbelah menjadi tiga blok. Satu blok di pihak Sayyidina Ali RA. Blok lainnya membela Muawiyah RA. Sementara sekelompok sahabat mengambil sikap nonblok.

وقد تشاجر بين علي ومعاوية رضي الله تعالى وقد افترقت الصحابة ثلاث فرق فرقة اجتهدت فظهر لها أن الحق مع علي  فقاتلت معه و فرقة اجتهدت فظهر لها أن الحق مع معاوية فقاتلت معه وفرقة وقفت

Artinya, “Pertikaian terjadi antara Sayyidina Ali RA dan Muawiyah RA. Para sahabat terbelah menjadi tiga. Sekelompok berijtihad dan hasilnya mengatakan bahwa kebenaran berada di pihak Sayyidina Ali RA, lalu mereka berdiri di barisan Sayyidina Ali RA. Sekelompok lagi berijtihad dan hasilnya mengatakan bahwa kebenaran berada di pihak Muawiyah RA, lalu mereka berdiri di blok Muawiyah RA. Sedangkan kelompok lainnya mengambil sikap nonblok,” (Lihat Syekh M Ibrahim Al-Baijuri, Tuhfatul Murid ala Jauharatit Tauhid, [Indonesia, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah: tanpa catatan tahun] halaman 88-89).

Atas pertikaian ini, ulama ahlussunnah wal jamaah menyatakan bahwa tiga sikap politik sahabat ini didasarkan pada ijtihad. Mereka semua adalah ahli ijtihad dan mendapat penyaksian keadilan dari Allah dan rasul-Nya.

Umat Islam yang datang kemudian, dalam pandangan ulama ahlussunnah wal jamaah, perlu mencari penafsiran yang moderat agar tidak terjebak pada bela-membela dan tuding-menuding yang melewati batas.

وقد قال العلماء المصيب بأجرين والمخطئ بأجر وقد شهد الله ورسوله لهم بالعدالة والمراد من تأزيل ذلك أن يصرف إلى محمل حسن لتحسين الظن بهم فلم يخرج واحد منهم عن العدالة بما وقع بينهم لأنهم مجتهدون

Artinya, “Para ulama mengatakan bahwa pihak yang benar mendapatkan dua pahala. Sedangkan pihak yang salah mendapatkan satu pahala. Allah dan rasul-Nya bersaksi atas keadilan mereka. Yang dimaksud dengan takwil di sini adalah memalingkan pandangan pada kemungkinan baik agar menjaga baik sangka terhadap para sahabat Rasulullah karena tiada satu pun dari mereka yang keluar dari sikap adil atas apa yang mereka alami. Mereka adalah para mujtahid,” (Lihat Syekh M Ibrahim Al-Baijuri, Tuhfatul Murid ala Jauharatit Tauhid, [Indonesia, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah: tanpa catatan tahun] halaman 89).

Para ulama ahlussunnah wal jamaah menganjurkan umat Islam sepeninggal peristiwa berdarah itu untuk mengabaikan perbincangan berlarut-larut perihal pertikaian tersebut. Kalau pun terlanjur membahas, umat Islam sesudahnya perlu menjauhi sikap dengki dalam membincangkan peristiwa itu.

وأول التشاجر الذي ورد إن خضت فيه واجتنب داء الحسد

Artinya, “Awal pertikaian di antara mereka adalah apa yang tersebut. Jika kau tenggelam di dalamnya, jauhilah penyakit dengki,” (Lihat Syekh M Ibrahim Al-Laqqani, Jauharatut Tauhid pada Hamisy Tuhfatul Murid, [Indonesia, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah: tanpa catatan tahun] halaman 89).

Penyakit dengki yang dimaksud di sini adalah sikap pemihakan berlebihan yang tidak diridhai oleh Allah dan rasul-Nya. Pasalnya, banyak orang terjebak pada sikap ekstrem di satu pihak dan menyalahkan pihak lain ketika membicarakan masalah ini.

والمراد داء الحسد الحامل على الميل مع أحد الطرفين على وجه غير مرضي وقد قال صلى الله عليه وسلم الله الله في أصحابي لا تتخذوهم غرضا من بعدي من آذاهم فقد آذاني ومن آذاني فقد آذى الله ومن آذى الله يوشك أن يأخذه

Artinya, “Yang dimaksud dengan penyakit dengki adalah membawa penfsiran cenderung pada salah satu pihak atau blok yang bertikai secara berlebihan yang tak diridhai. Rasulullah SAW bersabda, ‘(Takutlah) kepada Allah. (Takutlah) kepada Allah perihal sahabatku. Jangan jadikan mereka bulan-bulanan sepeninggalku. Siapa saja yang menyakiti mereka, maka ia menyakitiku. Siapa saja yang menyakitiku, maka ia ‘menyakiti’ Allah. Siapa saja yang ‘menyakiti’ Allah, maka ia cukup dekat dengan siksa-Nya,’” (Lihat Syekh M Ibrahim Al-Baijuri, Tuhfatul Murid ala Jauharatit Tauhid, [Indonesia, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah: tanpa catatan tahun] halaman 89).

Ulama ahlussunnah wal jamaah kemudian menyimpulkan bahwa umat Islam harus berhati-hati atas konflik atau perbedaan yang melibatkan umat Islam termasuk dalam hal politik.

Ulama ahlussunnah wal jamaah telah mengambil banyak pelajaran dari sejarah dan mengingatkan umat Islam sesudahnya untuk bersikap wajar dalam bersikap, tidak fanatik menyikapi perbedaan pilihan di kalangan umat Islam agar tidak melahirkan keretakan di tengah umat Islam bahkan ekstremnya saling mengafirkan atau menafikan keimanan muslim lainnya.

Bagi ulama ahlussunnah wal jamaah, pembahasan kembali pertikaian politik di masa lalu, dan termasuk juga di masa kini yang berlarut-larut dan melahirkan sikap fanatik dengan penyakit dengki merupakan tindakan berlebihan yang tidak produktif. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)
Jumat 2 November 2018 21:0 WIB
Peristiwa Mi'raj Bukan Dalil Lokasi Allah Ada di Atas
Peristiwa Mi'raj Bukan Dalil Lokasi Allah Ada di Atas
Ilustrasi (islamveateizm)
Dalam berbagai kitab aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah yang dipelajari di pesantren, banyak sekali penjelasan bahwa peristiwa Mi’raj atau naiknya Nabi Muhammad ke langit untuk menerima wahyu shalat tak menunjukkan bahwa Dzat Allah bertempat di atas, atau di arah manapun. Namun seiring maraknya penulis-penulis konten keislaman yang tak paham khazanah pesantren, marak pula informasi yang tidak tepat perihal Mi’raj yang kemudian dianggap sebagai bukti bahwa Allah berada secara fisik di atas langit. Bertebaran pula meme-meme salah paham seperti itu. Bagaimana sebenarnya kita harus memahami kejadian Mi’raj?

Mi'raj adalah berangkatnya Nabi Muhammad ke atas sidratul muntaha. Beliau menerima perintah shalat di sana. Sepanjang penelurusan penulis, tak ada penyebutan Arasy dalam ayat atau hadits-hadits Mi’raj. Kejadian Mi’raj ini sebenarnya sama dengan peristiwa ketika Nabi Musa mendapat perintah langsung dari Allah di puncak gunung Tursina (QS. Thaha: 10-36). Semua kisah ini berbicara tentang tempat hamba Allah menerima wahyu, bukan tentang tempat Allah.

Dikisahkan bahwa Nabi bolak balik dari tempatnya di atas sidratul muntaha ke tempatnya Nabi Musa di langit ke tujuh lalu ke atas lagi untuk memohon keringanan. Dalam riwayat-riwayat sahih kita dapati bahwa yang naik turun adalah Nabi Muhammad. Beliau naik ke tempat ia menerima wahyu dan turun ke tempat Nabi Musa lalu naik lagi ke tempat menerima wahyu sebelumnya dan itu terjadi berulang-ulang. Tempat yang kita bicarakan ini adalah tempat Nabi sendiri, bukan tempat Allah. Kalau Allah mau, Dia bisa memberikan wahyunya secara langsung di manapun hambanya berada seperti yang terjadi pada JIbril yang menerima wahyu dari Allah di mana pun ia berada secara langsung.

Sama sekali tak ada bahasan tentang tempat Allah dalam riwayat-riwayat itu kecuali dalam persangkaan orang yang salah paham yang menyangka bahwa bagi Allah juga berlaku hukum alam sebagaimana yang kita kenal di dunia ini. Dalam benak mereka, tatkala kita berbicara dengan seorang manusia, maka pastilah orang itu berada di suatu tempat sebagaimana kita juga berada di suatu tempat. Maka ketika Allah berfirman pada hamba-Nya di langit kemudian disimpulkan bahwa Allah juga berada dalam suatu tempat, yang dalam hal ini adalah langit. Tak pernahkah mereka membaca sekian banyak riwayat yang berisi tentang tempat Malaikat Jibril menerima wahyu di mana saja? Lalu apa yang mereka pikirkan tentang itu? Tak ingatkah bahwa Nabi Musa "bertemu" dan berdialog dengan Allah di gunung Tursina? maka apa yang bisa disimpulkan dari itu? Apakah berarti Allah sering berpindah tempat dari langit ke bumi dan muat di dalamnya?

Padahal, kita sendiri juga sering bolak-balik pergi masjid hanya untuk menyampaikan untaian doa yang kita panjatkan ke Allah. Bahkan banyak dari kita menabung supaya bisa bolak-balik ke Masjidil Haram untuk melakukannya. Apakah dari sini lantas bisa disimpulkan bahwa kita meyakini Dzat Allah berada di dalam Masjid atau di dalam Ka'bah? Tentu tidak demikian.

Kita juga mengenal arti istilah "mendekatkan diri kepada Allah" atau taqarrub yang sama sekali tak bermakna mendekat secara fisik. Lalu kenapa dalam peristiwa Mi'raj kata mendekatkan diri lantas berubah menjadi mendekat secara fisik? Tentu hal ini tak beralasan.

Demikianlah para ulama Ahlussunnah seluruhnya memahami peristiwa Isra’-Mi’raj. Ketika mereka menceritakan kisah “tawar menawar” jumlah shalat sebagaimana riwayat Imam Bukhari berikut ini:

فَالْتَفَتَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى جِبْرِيلَ كَأَنَّهُ يَسْتَشِيرُهُ فِي ذَلِكَ، فَأَشَارَ إِلَيْهِ جِبْرِيلُ: أَنْ نَعَمْ إِنْ شِئْتَ، فَعَلاَ بِهِ إِلَى الجَبَّارِ، فَقَالَ وَهُوَ مَكَانَهُ: يَا رَبِّ خَفِّفْ عَنَّا فَإِنَّ أُمَّتِي لاَ تَسْتَطِيعُ هَذَا

“Kemudian Nabi menoleh ke arah Jibril seakan bermusyawarah tentang hal itu. Kemudian Jibril mengisyaratkan pada beliau: “Ya, bila Anda menghendaki [permohonan untuk dikurangi].” Lalu Nabi naik pada Tuhan sedangkan ia di tempatnya dan berkata: Ya Tuhan, ringankanlah dari kami. Sesungguhnya umatku tak mampu melakukan ini...” (HR. Bukhari)

Para ulama menjelaskan bahwa kalimat “Wahuwa makânahu” dalam hadits di atas, bukan berarti bahwa Allah ada di tempat itu, tetapi Nabi-lah yang berada di tempatnya semula meneriwa wahyu shalat 50 kali sehari. Imam al-Hafidz Al-Qasthalani menjelaskan:

 فقال) عليه الصلاة والسلام (وهو مكانه) أي في مقامه الأوّل الذي قام فيه قبل هبوطه

“Dia berada di tempatnya, maksudnya Nabi Muhammad berada di tempatnya yang awalnya di tempati sebelum turunnya.” (al-Qasthalani, Irsyâd as-Sârî Lisyarh Shahîh al-Bukhârî, juz X, halaman 449)

Demikian juga Imam al-Hafidz Ibnu Hajar menegaskan makna “tempat” di hadits Mi’raj itu dengan menukil pernyataan Imam al-Khattabi lalu menguatkannya sebagaimana berikut:

قَالَ الْخَطَّابِيُّ  ... وَالْمَكَانُ لَا يُضَافُ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى إِنَّمَا هُوَ مَكَانُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي مَقَامِهِ الْأَوَّلِ الَّذِي قَامَ فِيهِ قَبْلَ هُبُوطِهِ انْتَهَى وَهَذَا الْأَخِيرُ مُتَعَيَّنٌ وَلَيْسَ فِي السِّيَاقِ تَصْرِيحٌ بِإِضَافَةِ الْمَكَانِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى

“Al-Khattabi berkata: ... Tempat itu tak disandarkan pada Allah Ta’ala, sesungguhnya itu tak lain adalah tempat Nabi ﷺ di tempat berdirinya sebelumnya sebelum turun. Ini akhir nukilan al-Khattabi. Keterangan terakhir ini sudah pasti dan dalam konteks hadits sama sekali tak ada penjelasan penisbatan tempat itu pada Allah Ta’ala.” (Ibnu Hajar, Fath al-Bârî, juz XIII, halaman 484)

Lalu untuk apa Nabi dipanggil ke langit untuk Isra’-Mi’raj? Jawabannya dapat kita lihat dalam surat al-Isra’: 1, yaitu untuk memperlihatkan sebagian tanda-tanda kebesaran-Nya (linuriyahu min âyâtinâ). Sedangkan saat Nabi telah naik ke langit, maka Allah juga memperlihatkan tanda-tanda kebesaran Allah yang jauh lebih besar lagi (laqad ra'â min âyâti rabbihi al-kubrâ), QS. An-Najm: 18. Demikianlah penuturan al-Qur'an yang seharusnya kita terima bulat-bulat bahwa isra' dan mi'raj itu hanya soal memperlihatkan tanda-tanda kebesaran Allah, bukan dalam rangka membawa Nabi ke “tempat Allah.” Selain itu, para ulama menunjukkan hikmah bahwa peristiwa ini untuk menunjukkan keagungan shalat sehingga perintahnya diberikan di langit sana, bukan di bumi seperti perintah lainnya.

Mereka yang memaksakan diri barkata bahwa Mi'raj adalah pembuktian keberadaan Allah secara fisik di langit akan mengalami kontradiksi dengan keyakinan mereka sendiri. Di antara kontradiksinya adalah:

1. Apabila dimaknai bahwa Nabi Muhammad menemui Allah di Arasy, maka bukankah itu berarti mengatakan bahwa ketinggian Allah bisa dicapai juga oleh makhluk? Lalu apa spesialnya sifat ‘uluw yang biasa mereka maknai sebagai ketinggian fisik untuk Allah kalau akhirnya bisa juga dicapai oleh seorang manusia? 

2. Mereka yang menganggap Allah bertempat di atas langit juga mengatakan bahwa lokasi Allah terpisah dari makhluknya (bâ'inun min khalqihi) dalam arti terpisah lokasinya dari makhluk, namun kenapa dalam kasus mi'raj mengatakan bahwa Allah berada dalam satu tempat dengan Nabi?

3. Sebagian orang yang menganggap Allah bertempat di atas langit juga mengatakan bahwa tempat Allah itu pada hakikatnya adalah tempat ketiadaan (al-makân al-'adami) yang tak ada batasnya, tapi kenapa dalam kasus Mi'raj justru menyatakan berada dalam satu tempat dengan Nabi? Apakah Nabi yang keberadaannya berbetuk fisik itu juga juga bisa berada di tempat ketiadaan itu?

4. Di sisi lain Allah dianggap turun setiap sepertiga malam terakhir ke langit dunia (langit pertama) secara hakikat, lalu kenapa saat itu Allah ada di atas sana padahal di bumi sedang ada lokasi yang mengalami sepertiga malam terakhir? Memangnya Allah ada berapa? Kenapa tak menemui Allah di langit dunia saja kalau demikian?

Itulah sederet inkonsistensi mereka yang memahami peristiwa mi'raj dengan cara sederhana dengan mengira bahwa hukum alam yang sejatinya khusus bagi manusia juga harus berlaku pada Allah. Semua inkonsistensi di atas akan terpecahkan ketika mengikuti pemahaman Ahlussunnah Wal Jama’ah bahwa Allah tak bertempat, tak terbatas ruang, tak bergerak, dan kemahatinggiannya tidak boleh dipahami secara fisik. Berbagai dalil-dalil dan paparan ulama dalam hal ini telah dipaparkan dalam kajian-kajian sebelumnya di kanal Tauhid NU Online ini. Wallahu a'lam.


Abdul Wahab Ahmad, Wakil Katib PCNU Jember dan Peneliti di Aswaja Center Jember.

Kamis 1 November 2018 6:0 WIB
Keimanan Rasulullah SAW dan Tauhid Anti-Kekerasan
Keimanan Rasulullah SAW dan Tauhid Anti-Kekerasan
Keimanan, keyakinan, dan tauhid kerap ditunjukkan oleh sebagian umat Islam dengan wajah kekerasan. Hal ini membuat persepsi di muka publik bahwa tingkat keimanan atau ketauhidan seseorang diukur dari kekerasan yang ditunjukkan di muka umum.

Imam Al-Bukhari dalam Kitab Adabul Mufrad meriwayatkan hadits Rasulullah SAW yang mengajak umatnya untuk menghormati manusia meski hanya seorang budak.

عن أبى هريرة قال لا تقولن قبح الله وجهك ووجه من أشبه وجهك فإن الله عز و جل خلق آدم صلى الله عليه و سلم على صورته

Artinya, “Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda, ‘Kalian jangan berkata, ‘Semoga Allah membuat buruk wajahmu dan wajah orang yang mirip denganmu,’ karena Allah menciptakan Nabi Adam AS sesuai ‘bentuk-Nya,’’” (HR Bukhari).

Sementara pada riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW juga bersabda dengan ucapan serupa, yaitu menjauhi kekerasan terutama pada bagian wajah manusia.

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ - رضي الله عنه - قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - - " إِذَا ضَرَبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَتَّقِ اَلْوَجْهَ" - مُتَّفَقٌ عَلَيْه

Artinya, “Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda, ‘Jika salah seorang kau memukul yang lain, hindari bagian wajah,’” (HR Bukhari dan Muslim).

Rasulullah SAW secara lebih eksplisit untuk menjauhi kekerasan terutama pada bagian wajah manusia karena wajah bukan sekadar organ mulia karena akal pikiran di sana tetapi karena bentuk manusia meniru model “bentuk” Allah sebagaimana penjelasan Syekh Ibrahim Al-Baijuri berikut ini.

ومما يوهم الصورة ما رواه أحمد والشيخان أن رجلا ضرب عبده فنهاه النبي صلى الله عليه وسلم وقال إن الله تعالى خلق آدم على صورته فالسلف يقولون صورة لا نعلمها والخلف يقولون المراد بالصورة الصفة من سمع وبصر وعلم وحياة 

Artinya, “Salah satu jenis waham adalah bentuk Allah sebagaimana Ahmad dan Bukhari-Muslim bahwa seorang sahabat memukul budaknya. Rasulullah lalu melarangnya, ‘Sungguh Allah menciptakan Nabi Adam AS sesuai bentuk-Nya.’ Ulama salaf memahaminya sebagai bentuk yang kita tidak mungkin mengerti. Sementara ulama khalaf memahaminya sebagai sifat sejenis pendengaran, penglihatan, pengetahuan, dan sifat hidup,” (Lihat Syekh Ibrahim Al-Baijuri, Tuhfatul Murid ala Jauhartit Tauhid, [Indonesia, Daru Ihayil Kutubil Arabiyyah: tanpa catatan tahun], halaman 55).

Menurut Al-Baijuri, pandangan ulama semacam itu tidak mengada-ada. Padangan mereka didasarkan riwayat hadits lain yang menyebut “Ar-Rahman” atau Allah secara eksplisit.

فهو على صفته في الجملة وإن كانت صفته تعالى قديمة وصفة الإنسان حادثة وهذا بناء على أن الضمير في صورته عائد على الله تعالى كما يقتضيه ما ورد في بعض الطرق فإن الله خلق آدم على صورة الرحمن

Artinya, “Sifat anak manusia secara umum sesuai dengan sifat Allah. Hanya saja sifat Allah qadim. Sifat manusia hadits/baru. Pandangan ini didasarkan pada kata ganti/dhamir pada lafal ‘shuratihī’ merujuk pada Allah SWT sebagaimana petunjuk melalui sebagian riwayat lain, ‘Sungguh Allah menciptakan Nabi Adam AS sesuai bentuk Zat maha rahman,’” (Lihat Syekh Ibrahim Al-Baijuri, Tuhfatul Murid ala Jauhartit Tauhid, [Indonesia, Daru Ihayil Kutubil Arabiyyah: tanpa catatan tahun], halaman 55).

Sementara sebagian ulama memahami hadits tersebut secara berbeda. Mereka beranggapan bahwa manusia harus menjauhi kekerasan terhadap saudaranya karena alasan kesamaan jenis sebagai manusia.

وبعضهم جعل الضمير عائدا على الأخ المصرح به في الطريق التي رواها مسلم بلفظ فإذا قاتل أحدكم أخاه فليجتنب الوجه فإن الله خلق آدم على صورته أي وإذا كان كذالك فينبغي احترامه باتقاء الوجه

Artinya, “Sebagian ulama memahami rujukan dhamir itu pada kata ‘saudara’ yang disebut secara lugas pada riwayat Muslim, ‘Jika salah seorang kalian memusuhi saudaranya, maka hindarilah wajah karena sungguh Allah menciptakan Nabi Adam AS sesuai bentuknya.’ Jika demikian, maka seyogianya manusia itu menghindari wajah,” (Lihat Syekh Ibrahim Al-Baijuri, Tuhfatul Murid ala Jauhartit Tauhid, [Indonesia, Daru Ihayil Kutubil Arabiyyah: tanpa catatan tahun], halaman 55).

Dari sini dapat dipahami bahwa orang yang beriman kepada Allah atau dan mereka yang memegang tauhid sesungguhnya perlu menjauhkan kekerasan karena manusia merupakan makhluk Allah yang mulia di mana sifat mereka dan sifat Allah serupa meski tak sama pada banyak sisi.

Keimanan dan tauhid kepada Allah mengajarkan umat Islam untuk mencintai sesama manusia, bukan mengajak umat Islam untuk saling menghancurkan sesamanya, dan umat manusia secara umum karena mereka yang mengagungkan Allah sudah seharusnya mencintai manusia sebagai makhluk-Nya. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)