IMG-LOGO
Sirah Nabawiyah

Praktik Politik Ekonomi ala Rasulullah

Rabu 14 November 2018 20:0 WIB
Share:
Praktik Politik Ekonomi ala Rasulullah
Selain sebagai seorang nabi dan utusan Allah, Rasulullah adalah seorang pemimpin ‘negara Islam.’ Ia menjadi pucuk pimpinan negara Madinah. Kemudian wilayahnya semakin luas setelah menaklukkan Makkah dalam peristiwa Fathu Makkah dan wilayah lainnya. Dengan demikian tugas Rasulullah tidak hanya mendakwahkan agama Islam, akan tetapi juga mensejahterakan kehidupan umat Islam di bawah naungan negara yang ia pimpin.  

Apapun yang menjadi urusan dan kebutuhan masyarakat Muslim pada saat itu, secara otomatis juga menjadi tanggung jawab Rasulullah. Setidaknya ada lima langkah politik dan ekonomi yang ditempuh Rasulullah untuk mewujudkan kesejahteraan dan memenuhi kebutuhan umat Islam tersebut, sebagaimana keterangan dalam kitab Syakshiyah Ar-Rasul.

Pertama, memanfaatkan kekayaan alam secara optimal. Rasulullah adalah orang yang sangat jeli dalam memanfaatkan kekayaan alam demi kesejahteraan bersama. Dalam mengoptimalkan kekayaan alam, Rasulullah membuat beberapa kebijakan seperti menyerukan kepada umat Islam untuk menghidupkan lahan-lahan yang mati dengan cara suatu tanaman atau menabur benih di atasnya. Rasulullah tidak membiarkan ada lahan sejengkal pun di wilayah kekuasaan umat Islam yang mati atau tidak dikelola.

Dalam mengoptimalkan pemanfaatan kekayaan alam, Rasulullah juga tidak segan-segan menempuh politik ekonomi bagi hasil dengan orang yang ahli di bidangnya. Misalnya, suatu ketika Rasulullah hendak mengusir kaum Yahudi dari Khaibar karena mereka mengkhianati perjanjian bersama. Namun, kaum Yahudi meminta kepada Rasulullah agar mereka tetap diizinkan untuk tinggal di Khaibar dengan alasan mereka lah orang yang lebih mengetahui cara mengelola tanah Khaibar. 

Rasulullah akhirnya membiarkan mereka untuk tinggal di Khaibar dan mengolah tanahnya. Namun Rasulullah memberikan syarat, yaitu setengah hasil kekayaan tanah Khaibar untuk kaum Muslim. Mereka juga diizinkan tinggal di sana dalam waktu tertentu hingga kaum Muslim pandai mengelola tanah Khaibar sendiri.

Kedua, fasilitas umum tidak boleh dikuasai individu. Dalam rangka mewujudkan kesejahteraan bersama, Rasulullah juga menerapkan kebijakan yang ketat dalam dalam hal kepemilikan. Rasulullah tidak mengizinkan fasilitas yang memiliki manfaat umum seperti tambang garam, tempat menggembala, jalan, sumur, dan lainnya dimiliki dan dikuasai oleh satu dua orang saja. 

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Abu Daud dan Tirmidzi, Abyadh bin Hammal meminta Rasulullah sebuah kapling tambang garam di Ma’rib. Rasulullah pun memberikannya. Namun beberapa saat kemudian, ada seseorang yang protes kepada Rasulullah. Ia menginformasikan kepada Rasulullah kalau apa yang telah diberikan Rasullah kepada Abyadh bin Hammal ada sumber air yang mengalir terus menerus. Seketika itu juga Rasulullah langsung mencabut hak kepemilikan Abyadh bin Hammal atas kapling tambang garam tersebut.

Ketiga, mendorong masyarakat untuk bekerja keras dan kreatif. Rasulullah sadar bahwa untuk mendirikan negeri yang kuat maka harus ditopang dengan ekonomi yang kuat pula. Sementara ekonomi yang kuat hanya bisa diwujudkan manakala masyarakatnya bekerja secara keras dan kreatif. Untuk itu, Rasulullah selalu mendorong umat Islam untuk bekerja keras dengan tangan-tangan mereka sendiri, bukan dengan tangan-tangan budak atau tenaga kerja asing. 

“Tidak ada makanan yang lebih baik dimakan oleh seseorang selain makanan yang dimakan dari hasil tangannya sendiri. Dan sesungguhnya nabi Allah Daud memakan dari hasil tangannya sendiri,” kata Rasulullah dalam hadits riwayat Bukhari.

Keempat, menjaga harga agar stabil. Rasulullah menjaga betul stabilitas harga bahan-bahan, terutama bahan pokok. Rasulullah melarang seseorang membeli barang tanpa mengetahui harga yang ada di pasar. Rasulullah juga mewanti-wanti agar seseorang yang tidak mencegat para petani atau pemasok barang di tengah jalan sebelum sampai pasar dan kemudian menimbunnya. Rasulullah sangat melarang praktik-praktik seperti ini. Mengapa? Jika ini terjadi, maka harga di pasar akan melambung tinggi. 

Dalam sebuah hadits, Rasulullah menegaskan bahwa siapa pun yang menimbun barang atau makanan selama 40 malam, maka ia telah melepaskan diri dari Allah. Begitu pun sebaliknya. Allah juga telah melepaskan diri darinya. 

Terakhir, redistribusi aset. Rasululla tidak membiarkan yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin. Oleh sebab itu, Rasulullah menjalankan politik ekonomi redistribusi kekayaan secara adil. Misalnya pada tahun-tahun pertama hijriyah, Rasulullah banyak mengirim tentara kaum Muhajirin dari pada Anshar dalam sebuah peperangan. Tidak lain alasannya adalah agar kaum Muhajirin bisa mendapatkan harta rampasan perang dan memperbaiki kondisi perekonomian mereka yang terpuruk setelah hijrah ke Madinah. Bahkan, dalam beberapa peperangan dan ekspedisi Rasulullah hanya mengirim tentara dari kaum Muhajirin saja.

Begitu pun dengan ajaran Islam yang bersifat sosial seperti zakat mal, zakat fitrah, sedekah, infak, dan lainnya. Semestinya hal tersebut menjadi kontribusi efektif dalam mengikis gap antara yang kaya dan yang miskin. (A Muchlishon Rochmat)
Share:
Selasa 13 November 2018 17:0 WIB
Sejumlah Peristiwa Menakjubkan Menjelang Kelahiran Rasulullah
Sejumlah Peristiwa Menakjubkan Menjelang Kelahiran Rasulullah
“Bahagialah engkau, wahai Aminah dengan lahirnya Nabi yang agung ini, Nabi pemilik cahaya yang terang benderang, Nabi pemilik keutamaan, Nabi pemilik kemuliaan, dan Nabi pemilik segala bentuk pujian,” kata Nabi Ibrahim as.

Tidak sedikit kitab dan buku yang menerangkan bagaimana mengangumkan dan menakjubkannya detik-detik menjelang kelahiran Nabi Muhammad saw. Nabi dan rasul terakhir Allah. Banyak kejadian ajaib dan luar biasa terjadi, baik pada saat-saat sebelum dan sesaat setelah Rasulullah lahir. 

Pada malam menjelang kelahiran Rasulullah misalnya, pintu-pintu surga dibuka lebar. Sementara pintu-pintu neraka ditutup rapat-rapat. Ribuan malaikat turun ke bumi sehingga memenuhi seluruh gunung di Makkah. Bulan terbelah. Bintang bersinar begitu terang. Burung-burung yang penuh cahaya memenuhi ruangan rumah Aminah. 

Tidak hanya itu, Aminah juga mengalami hal-hal yang luar biasa dan tidak lazim selama mengandung Rasulullah. Berbeda dengan wanita hamil lainnya, Aminah tidak pernah merasakan rasa letih, payah, dan lesu ketika mengandung Rasulullah. 

Di dalam kitab An-Ni’matul Kubra ‘Alal ‘Alam karya Syihabuddin Ahmad bin Hajar al-Haitami  Asy-Syafii sebagaimana diuraikan buku Happy Birthday Rasulullah, banyak kejadian mengagumkan dan menarik yang menimpa Aminah selama mengandung, utamanya selama 12 hari sebelum kelahiran Rasulullah atau mulai dari malam tanggal 1 hingga malam tanggal 12 Rabi’ul Awwal.

Pada malam tanggal pertama Rabi’ul Awwal, Aminah mendapatkan kedamaian dan ketenteraman dari Allah sehingga ia merasa begitu tenang dan damai. Pada malam tanggal kedua, Aminah menerima seruan berita dari Allah kalau ia akan segera mendapatkan anugerah yang agung dan mulia.

Pada malam ketiga, lagi-lagi Aminah menerima pesan dari Allah (hatif) bahwa ia sebentar lagi akan melahirkan nabi paling agung dan paling mulia, Nabi Muhammad saw. Pada malam keempat, suara dzikir malaikat terdengar dengan jelas hingga ke telinga Aminah.

Memasuki malam kelima bulan Rabi’ul Awwal, Aminah mimpi bertemu dengan Nabi Ibrahim. Dalam mimpi tersebut, Nabi Ibrahim as. meminta Aminah untuk bergembira karena telah mengandung Nabi Muhammad, nabi pemilik keutamaan.

“Bahagialah engkau, wahai Aminah dengan lahirnya Nabi yang agung ini, Nabi pemilik cahaya yang terang benderang, Nabi pemilik keutamaan, Nabi pemilik kemuliaan, dan Nabi pemilik segala bentuk pujian,” kata Nabi Ibrahim as. kepada Aminah.

Pada malam keenam, Aminah melihat cahaya memenuhi sudut-sudut alam semesta hingga tidak ada kegelapan padanya. Tidak lain, ini adalah untuk menyambut kedatangan Rasulullah. Pada malam ketujuh, Aminah melihat malaikat ramai-ramai mendatangi rumahnya. Mereka menyampaikan kabar gembira bahwa waktu kelahiran Rasulullah semakin dekat.  

Pada malam kedelapan, Aminah mendengar berita (hatif) yang menyerukan kepada seluruh penghuni alam semesta untuk berbagai karena kelahiran nabi kekasih Allah telah semakin dekat. Pada malam kesembilan, Aminah begitu tenang dan damai. Tidak ada rasa susah dan sedih sedikit pun padanya lantaran Allah telah menganugerahi Aminah kasih sayang yang begitu berlimpah.

Malam kesepuluh, Aminah melihat kalau tanah Mina dan Khaif bergembira menyambut kelahiran Rasulullah. Malam kesebelas, Aminah melihat seluruh penghuni langit begitu senang menyambut detik-detik kelahiran Rasulullah.   

Malam kedua belas, Aminah yang ada di rumah melihat langit begitu cerah, tidak ada mendung sama sekali. Mulanya Aminah menangis tersedu-sedu karena pada malam ini ia sendirian di rumah. Abdul Muthalib, sang kakek Rasulullah, tengah bermunajat di Ka’bah. Namun kemudian Allah mengutus empat wanita utama untuk menemani Aminah selama proses kelahiran Rasullah. Mereka adalah Hawa istri Nabi Adam as., Sarah istri Nabi Ibrahim as., Asiyah binti Muzahim, dan Maryam binti Imran ibunda Nabi Isa as.

Pun sesaat setelah kelahiran Rasulullah, banyak peristiwa tidak lazim juga terjadi. Arsy bergetar hebat. Seluruh langit dipenuhi cahaya sehingga menjadi terang. Istana Kisra berguncang begitu dahsyat sehingga menyebabkan 14 balkonnya roboh. Api abadi yang disembah oleh umat Majusi padam. Gereja di sekitar Buhaira roboh. Bahkan, Ka’bah juga ikut bergetar selama tiga hari karena bahagia menyambut kehadiran Rasulullah. (A Muchlishon Rochmat)
Senin 12 November 2018 6:0 WIB
Empat Wanita Mulia yang Menemani Proses Kelahiran Rasulullah
Empat Wanita Mulia yang Menemani Proses Kelahiran Rasulullah
Mayoritas ulama sepakat bahwa Rasulullah lahir pada hari Senin tanggal 12 Rabi’ul Awwal tahun Gajah atau bertepatan dengan 22 April 575 M. Banyak kitab dan buku yang mengulas bagaimana mengangumkan dan menakjubkannya detik-detik kelahiran Muhammad, nabi dan rasul terakhir Allah. Banyak kejadian ajaib terjadi.

Pintu-pintu surga dibuka lebar. Sementara pintu-pintu neraka ditutup rapat-rapat. Ribuan malaikat turun ke bumi sehingga memenuhi seluruh gunung di Makkah. Bulan terbelah dan bintang bersinar begitu terang. Dan sejumlah ‘kejadian ajaib’ lainnya menyambut kelahiran Rasulullah. 

Namun di samping, ada satu kejadian yang tidak kalah menarik. Yakni perihal siapa yang menemani Aminah ketika melahirkan Rasulullah. Pada malam ke-12 bulan Rabi’ul Awwal, Abdul Muthalib, kakek Rasulullah, tengah bermunajat Ka’bah. Sementara Aminah sendirian di rumah. Tidak ada satu pun orang yang menemaninya. Di dalam kesendiriannya, Aminah menangis karena tidak ada satu orang pun yang menemani dan membantunya –di saat-saat ia hendak melahirkan. 

Di tengah kegalauannya itu, tiba-tiba saja muncul empat orang perempuan di dalam rumah Aminah. Merujuk kitab An-Ni’matul Kubra ‘Alal ‘Alam karya Syihabuddin Ahmad bin Hajar al-Haitami  Asy-Syafii sebagaimana diuraikan buku Happy Birthday Rasulullah, Mereka begitu cantik, anggun, harum, dan diliputi dengan cahaya yang memancar kemilauan. Wanita pertama datang menghampiri Aminah. Ia kemudian berkata kepada Aminah: “Sungguh berbahagia lah engkau wahai Aminah!” 

Wanita pertama melanjutkan kalau Aminah adalah perempuan yang paling beruntung dan mulia di dunia ini karena telah mengandung Muhammad, pemimpin setiap insan. Wanita ini kemudian duduk di sebelah kanan Aminah. 

“Siapa engkau?” tanya Aminah kepada wanita pertama tersebut.

“Kenalkan, aku adalah Hawa istri Nabi Adam as., ibunda seluruh umat manusia. Aku diperintahkan Allah untuk menemanimu,” jawab wanita pertama tersebut.

Wanita kedua juga mendekat kepada Aminah. Ia kurang lebih sama menyampaikan pujian kepada Aminah, sebagaimana wanita pertama. Tidak ada di dunia ini wanita yang mendapatkan kemuliaan dan keberuntungan dari pada Aminah. Aminah mengandung Nabi Muhammad, seorang yang begitu istimewa, mulia, agung, cerdas, dermawan, dan sangat berwibawa.

Setelah ditanya Aminah, wanita kedua menjawab kalau dirinya adalah Sarah, istri Nabi Ibrahim. Ia juga diperintah Allah untuk menemani proses kelahiran Rasulullah Muhammad. Sarah kemudian duduk di sebelah kiri Aminah.

Giliran wanita ketiga yang menghampiri Aminah. Ia menyebut kalau Aminah begitu beruntung karena telah mengandung kekasih Allah. Setelah menyampaikan pujiannya, ia kemudian duduk di belakang Aminah. 

Lagi-lagi Aminah bertanya siapa gerangan wanita ketiga tersebut. Wanita tersebut kemudian menjawab kalau dirinya adalah Asiyah binti Muzahim. Ia juga diutus Allah untuk menemani Aminah.

Kini wanita terakhir yang maju mendekat Aminah. Sama seperti wanita-wanita sebelumnya, wanita keempat ini juga menyanjung Aminah sebagai wanita yang sangat beruntung karena telah mengandung Nabi Muhammad. Seseorang yang dianugerahi Allah banyak mukjizat. Seseorang yang menjadi junjungan seluruh penghuni bumi dan langit. 

Wanita keempat lalu duduk di depan Aminah. Aminah semakin kagum karena wanita keempat ini lebih anggun, berwibawa, dan cantik. Ia meminta agar Aminah untuk tersenyum, tidak lagi menangis. 

“Sesungguhnya aku adalah Maryam binti Imran, ibunda Nabi Isa as.,” kata wanita keempat tersebut menjawab pertanyaan dari Aminah. 

Aminah menjadi tenang dan damai setelah ditemani oleh wanita-wanita mulia tersebut. Pada saat tanda-tanda kelahiran sudah dirasakan, Aminah menyandarkan tubuhnya kepada empat wanita utama tersebut. (A Muchlishon Rochmat)
Selasa 6 November 2018 18:0 WIB
Saat Seorang Pemuda Meminta Izin Rasulullah untuk Berzina
Saat Seorang Pemuda Meminta Izin Rasulullah untuk Berzina
Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk. (QS. Al-Isra: 32)

Rasulullah merupakan rujukan utama umat Islam dalam menjalani kehidupan di dunia ini sebagai seorang hamba Allah. Semua yang dikatakan, menjadi pedoman. Apapun yang dilakukan, menjadi teladan. Begitu pun dengan semua ketetapannya, itu menjadi penuntun bagi umat Islam.    

Rasulullah juga menjadi tempat bertanya. Mengapa? Karena sumber pengetahuan Rasulullah adalah wahyu Allah, Tuhan alam raya. Siapapun, terutama sahabat, akan menanyakan hal-hal yang tidak diketahuinya kepada Rasulullah. Mulai dari bab akidah, keimanan, akhlak, hukum Islam,  kisah-kisah umat terdahulu, kehidupan akhirat, hingga hal-hal ghaib. 

Sebagai seorang nabi dan utusan Allah terakhir di dunia ini, Rasulullah memiliki legitimasi yang absolut. Apa-apa yang dibolehkannya menjadi mubah, mandzub, atau bahkan wajib. Begitu pun apapun yang dilarangnya menjadi sesuatu yang makruh dan bahkan haram. 

Kedudukan Rasulullah ini menyebabkan orang-orang pada masanya, terutama para sahabat, untuk bertanya atau pun sekedar meminta izin untuk melakukan sesuatu. Apakah boleh atau tidak. Singkatnya, Rasulullah juga menjadi tempat mengadu atau meminta izin untuk melakukan suatu hal.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Ahmad dikisahkan bahwa suatu ketika ada seorang pemuda yang mendatangi Rasulullah. Tanpa tedeng aling-aling, pemuda tersebut meminta izin kepada Rasulullah untuk melakukan zina dengan seorang perempuan. Mendengar hal itu, para sahabat yang berada di samping Rasulullah murka. Bahkan, mereka hendak membunuh pemuda tersebut karena dianggap lancang, tidak sopan, dan tidak tahu tata krama.

Namun respons Rasulullah berbeda. Ia tidak marah sama sekali. Malah Rasulullah menasihati pemuda tersebut dengan tutur kata lembut dan bijak. Rasulullah kemudian melontarkan sebuah pertanyaan yang menohok sang pemuda. 

“Apakah kamu rela kalau ibumu dizinai orang lain?” tanya Rasulullah. Pemuda itu langsung menjawab “tidak rela.” 

“Wanita yang akan kamu zinai itu adalah ibu dari anak-anak orang lain, istri dari orang lain,” kata Rasulullah menasihati pemuda tersebut.

Tidak hanya memberikan nasehat, Rasulullah juga mendoakan pemuda tersebut agar dirahmati Allah swt., dosa-dosanya diampuni, hatinya disucikan, dan dijaga kemaluannya. Benar saja, sebagaimana keterangan dalam buku Agar di Surga Bersama Nabi, pemuda tersebut akhirnya menjadi orang yang paling membenci zina. 

Rasulullah merangkul pemuda ‘yang dianggap kurang ajar’ itu. Mengajaknya berpikir. Membimbingnya. Dan mengasihaninya. Rasulullah tidak memusuhinya. Memaki-maki dan menyalahkannya. 

Hal seperti ini lah yang seharusnya ditampilkan seorang Muslim manakala ia melihat ada saudara seagama dan seimannya yang salah dan melenceng seperti pemuda tersebut di atas. Bukan malah ramai-ramai menghakiminya. Mencemoohnya. Dan memukulnya. (A Muchlishon Rochmat)