IMG-LOGO
Shalawat/Wirid

Ibnu Taimiyah dan Imam Nawawi Mengarang Wirid Sendiri

Kamis 15 November 2018 18:0 WIB
Share:
Ibnu Taimiyah dan Imam Nawawi Mengarang Wirid Sendiri
Ilustrasi (via abudhabi2.com)
Di antara ulama yang biasanya paling ketat dalam hal penentuan dzikir/wirid dengan jumlah tertentu dan dengan khasiat tertentu adalah Syekh Ibnu Taimiyah. Darinya banyak para pendaku Salafi menyangka bahwa penentuan dzikir/wirid dengan jumlah tertentu dan dengan khasiat tertentu tanpa adanya petunjuk ayat atau hadits adalah termasuk dalam kategori bid’ah. Yang tak banyak orang tahu, ternyata Syekh Ibnu Taimiah juga mempunyai amalan mujarab yang tak berdasar ayat atau hadits. Silakan baca testimoni dari Syekh Ibnu Qayyim, murid kesayangan Syekh Ibnu Taimiyah, berikut ini:

وَمِنْ تَجْرِيبَاتِ السَّالِكِينَ الَّتِي جَرَّبُوهَا فَأَلْفَوْهَا صَحِيحَةً أَنَّ مَنْ أَدْمَنَ يَا حَيُّ يَا قَيُّومُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ أَوْرَثَهُ ذَلِكَ حَيَاةَ الْقَلْبِ وَالْعَقْلِ. وَكَانَ شَيْخُ الْإِسْلَامِ ابْنُ تَيْمِيَّةَ قَدَّسَ اللَّهُ رُوحَهُ شَدِيدَ اللَّهْجِ بِهَا جِدًّا، وَقَالَ لِي يَوْمًا: لِهَذَيْنِ الِاسْمَيْنِ وَهُمَا الْحَيُّ الْقَيُّومُ تَأْثِيرٌ عَظِيمٌ فِي حَيَاةِ الْقَلْبِ، وَكَانَ يُشِيرُ إِلَى أَنَّهُمَا الِاسْمُ الْأَعْظَمُ، وَسَمِعْتُهُ يَقُولُ: مَنْ وَاظَبَ عَلَى أَرْبَعِينَ مَرَّةً كُلَّ يَوْمٍ بَيْنَ سُنَّةِ الْفَجْرِ وَصَلَاةِ الْفَجْرِ يَا حَيُّ يَا قَيُّومُ، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيثُ حَصَلَتْ لَهُ حَيَاةُ الْقَلْبِ، وَلَمْ يَمُتْ قَلْبُهُ

"Sebagian percobaan para ahli ibadah yang telah mereka uji coba lalu ternyata benar-benar terjadi (mujarrab) adalah bahwa siapa pun yang terus-menerus membaca Yâ Hayyu Yâ Qayyûm lâ ilâha illâ Anta, maka hal itu akan membuat hidupnya hati dan akal (lapang dada dan cerdas). Syekhul Islam Ibnu Taimiyah—semoga Allah menyucikan ruhnya—sangat gemar dengan hal ini. Ia berkata padaku pada suatu hari: Dua nama ini, yaitu al-Hayyu al-Qayyûm, punya pengaruh yang besar dalam hidupnya hati. Dan, beliau mengisyaratkan bahwa keduanya adalah Ismul A'dham dan aku mendengarnya berkata: Siapa yang terus-menerus membaca sebanyak 40 kali setiap hari di antara salat sunnah subuh dan salat subuh bacaan Yâ Hayyu Yâ Qayyûm lâ ilâha illâ Anta birahmatika astaghîtsu, maka akan dia dapati hatinya hidup dan tak mati." (Ibnu Qayyim, Madârik as-Sâlikîn, juz I, halaman 446)

Amalan wirid yang sangat disukai dan disarankan oleh Syekh Ibnu Taimiyah di atas dengan jumlah, waktu, dan khasiat seperti itu tak disebutkan dalam satu pun hadits Nabi. Ibnu Qayyim pun tak bertanya mana dalilnya atau berlagak hebat dengan berkata bahwa guru kita Ibnu Taimiyah tidak maksum sehingga dalam hal ini tidak perlu diikuti sebab ini semua bid'ah. Tetapi beliau malah mengajarkannya di kitab Madârik as-Sâlikîn yang dijadikan kitab akhlak standar oleh para pendaku Salafi. 

Di kitabnya yang lain, Syekh Ibnu Qayyim menjelaskan:

رب اغْفِر لي ولوالدي وللمسلمين وَالْمُسلمَات وَلِلْمُؤْمنِينَ وَالْمُؤْمِنَات وَقد كَانَ بعض السّلف يسْتَحبّ لكل احد ان يداوم على هَذَا الدُّعَاء كل يَوْم سبعين مرّة فَيجْعَل لَهُ مِنْهُ وردا لَا يخل بِهِ وَسمعت شَيخنَا يذكرهُ وَذكر فِيهِ فضلا عَظِيما لَا احفظه وَرُبمَا كَانَ من جملَة اوراده الَّتِي لَا يخل بهَا وسمعته يَقُول ان جعله بَين السَّجْدَتَيْنِ جَائِز

"Rabbi ighfir lî wa liwalidayya wa lil-muslimîna wal-muslimât wal-mu'minîna wal-mu'minât. Sebagian ulama salaf menyunnahkan setiap orang untuk terus-menerus membaca doa ini setiap hari 70 kali dan dijadikan wirid yang tak pernah ditinggal. Saya mendengar guru kita (Ibnu Taimiyah) menyebutkannya dan beliau menjelaskan bahwa di dalamnya ada keutamaan besar yang saya tidak ingat. Seringkali ini jadi sebagian wirid yang tak pernah beliau tinggal. Saya mendengar Beliau berkata: membacanya di antara dua sujud diperbolehkan." (Ibnu Qayyim, Miftâh Dâr as-Sa’âdah, juz I, halaman 298)

Simak pernyataan di atas yang sepertinya tak akan Anda temukan dalam satu hadits pun. Ibnu Taimiyah menentukan batasan bacaan 70 kali setiap hari dan bahkan memperbolehkan wirid ini untuk dibaca dalam duduk di antara dua sujud ketika shalat. Adakah pendaku Salafi yang mau mengatakan ini bid'ah? Atau malah berkelit mengatakan bahwa ini maslahah mursalah sebab yang berkata adalah Syekh Ibnu Taimiyah dan Ibnu Qayyim? Sepertinya tidak akan ada yang menyimpulkan demikian.

Kalau mau objektif, wirid-wirid semacam ini memang tidak termasuk dalam cakupan makna bid'ah sebab sejak awal memang tidak dianggap sebagai syariat baru atau diyakini berasal dari anjuran Rasulullah akan tetapi hanya kalam hikmah saja. Statusnya sama seperti nasihat seseorang "Sebelum tidur bacalah Al-Qur'an satu maqra' biar kamu nanti hidup enak". Nasihat hikmah semacam ini sama sekali bukan bid'ah meskipun tak ada haditsnya dan melibatkan ibadah sebab unsur ibadahnya adalah yang berkategori mutlak atau bebas dibaca kapan pun dalam jumlah berapa pun. Kalam hikmah semacam ini urusannya hanya dengan manjur/mujarrab atau tidak, bukan dengan sesat atau tidak. Bagaimana mungkin bacaan yang nyata-nyata baik akan dinilai sesat? Siapa pun penganjurnya, baik itu Syekh Ibnu Taimiyah, Syekh Ibnu Qayyim, atau ulama besar mana pun sama saja dan tak boleh dibeda-bedakan sebab mereka tak akan menganjurkan sesuatu yang haram.

Sebagai penutup, penulis akan menukilkan suatu wirid yang sangat banyak khasiatnya dan sudah diamalkan oleh sekian banyak ulama dari generasi ke generasi, khususnya di kalangan pengikut mazhab Syafi'iyah. Wirid ini panjang sekali, biasanya rangkaian wirid panjang disebut dengan istilah hizb. Untuk menyingkat, penulis akan menukil bagian awalnya saja sebagai berikut:

بسم الله ، اللّه أكبر ، اللّه أكبر ، اللّه أكبر ، أقول على نفسي ، وعلى دِيني ، وعلى أهلي ، وعلى مالي ، وعلى أصحابي ، وعلى أديانهم ، وعلى أموالهم ؛ ألف ألف ألف لا حول ولا قوة إلاّ باللّه العلي العظيم . بسم الله ، وبالله ، ومن الله ، وإلى الله ، وعلى الله ، وفي الله ، ولا حول ولا قوة إلاّ بالله العلي العظيم .بسم الله على دِيني وعلى نفسي ، بسم الله على مالي وعلى أهلي وعلى أولادي وعلى أصحابي ، بسم الله على كلِّ شيءٍ أعطانيه ربي ، بسم الله ربِّ السموات السبع ، ورب الأرضين السبع ، ورب العرش العظيم بسم الله الذي لا يضرُّ مع اسمه شيءٌ في الأرض ولا في السماء وهو السميع العليم (3 مرات)ـ

Wirid di atas dalam versi lengkapnya sangat populer dibaca para ulama besar dan para kiai di Indonesia. Pengarangnya adalah seorang Imam Mujtahid dalam mazhab Syafi'i yang ilmunya terlalu luas dan terlalu hebat untuk diabaikan begitu saja, bahkan oleh mereka yang biasanya anti-mazhab sekalipun. Beberapa ulama menyebut beliau sebagai Wali Quthub, gelar kewalian tertinggi yang hanya dimiliki satu orang di setiap masa, sama seperti gelarnya Syekh Abdul Qadir al-Jilani. Beliau adalah Yahya bin Syaraf an-Nawawi yang biasa kita kenal sebagai Imam an-Nawawi, pengarang kitab Syarh Muslim, Riyâdl as-Shâlihîn, al-Majmû’ dan segudang rujukan monumental lainnya. Wirid panjang atau hizb yang bagian awalnya seperti di atas dikenal dengan nama Hizb an-Nawawi.

Silakan siapa pun berkata bahwa nama-nama di atas bukan orang maksum yang tak bisa salah sehingga ucapan mereka atau wirid yang mereka karang bisa saja ditolak. Namun dengan demikian maka tentu saja ucapan pengkritik itulah yang lebih layak ditolak sebab dia sendiri juga tak maksum dan levelnya jauh berada di bawah tokoh-tokoh di atas. Wallahu a'lam.


Abdul Wahab Ahmad, Wakil Katib PCNU Jember dan Peneliti di Aswaja NU Center Jember.
 
Share:
Kamis 15 November 2018 19:30 WIB
Allah, Malaikat, dan Nabi Bershalawat kepada Pembaca Shalawat
Allah, Malaikat, dan Nabi Bershalawat kepada Pembaca Shalawat
Ada banyak keistimewaan dan fadhilah dalam membaca shalawat kepada Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam. Menurut Syekh Abdullah Sirajudin Al-Husaini di dalam kitab As-Shalâtu ‘alan Nabiyyi Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam ada banyak keutamaan dan keistimewaan membaca shalawat di mana pena tak akan mampu menuliskannya dan buku tak akan bisa mengungkapkannya. Berkaitan dengan topik bahasan tulisan ini ada 3 (tiga) keutamaan shalawat yang disebut oleh Al-Husaini yang menunjukkan bahwa orang yang bershalawat kepada Nabi pada hakikatnya ia bershalawat untuk dirinya sendiri. Ketiga keutamaan dan keistimewaan itu adalah:

Pertama, orang yang bershalawat sekali kepada Nabi akan dishalawati oleh Allah sepuluh kali.

Dalam sebuah hadits riwayat Imam An-Nasai Rasulullah bersabda:

مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَاةً وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرَ صَلَوَاتٍ

Artinya: “Barangsiapa yang bershalawat kepadaku satu kali maka Allah bershalawat kepadanya sepuluh kali.” 

Kedua, orang yang betshalawat kepada Nabi akan dishalawati oleh beliau. Rasulullah akan membalas shalawatnya orang yang bershalawat kepadanya.

Sahabat Anas meriwayatkan sebuah hadits di mana Rasulullah bersabda:

مَنْ صَلَّى عَلَيَّ بَلَغَتْنِي صَلَاتُهُ وَصَلَّيْتُ عَلَيْهِ وَكُتِبَ لَهُ سِوَى ذَلِكَ عَشْرُ حَسَنَاتٍ

Artinya: “Barangsiapa yang bershalawat kepadaku maka shalawatnya sampai kepadaku dan aku bershalawat kepadanya dan ditulis baginya selain itu sepuluh kebaikan.” (HR. Thabrani)

Ketiga, orang yang bershalawat kepada Nabi akan dishalawati oleh para malaikat.

Dalam sebuah hadits riwayat Imam Ahmad dituturkan bahwa Abdullah bin Amr pernah berkata:

مَنْ صَلَّى عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاحِدَةً صَلَّى الله عَلَيْهِ وَمَلَائِكَتُهُ سَبْعِينَ صَلَاةً

Artinya: “Barangsiapa yang bershalawat kepada Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam sekali maka Allah dan para malaikatnya bershalawat kepadanya tujuh puluh kali.” (Abdullah Sirajudin Al-Husaini, As-Shalâtu ‘alan Nabiyyi Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam, [Damaskus: Maktabah Darul Falah, 1990], hal. 97-98)

Dari ketiga keutamaan shalawat di atas menujukkan bahwa orang yang membaca shalawat maka ia akan dishalawati oleh Allah, Rasulullah dan para malaikat. Shalawat yang dibacanya untuk Rasulullah akan berbalas shalawat untuk dirinya. Lebih dari itu satu shalawat yang ia baca untuk Rasulullah bahkan berbalas sepuluh sampai tujuh puluh shalawat untuk dirinya sendiri.

Bila shalawat bermakna rahmat maka orang yang membaca shalawat pada hakekatnya sedang memohon rahmat Allah untuk dirinya sendiri jauh lebih banyak dari rahmat yang ia mohonkan untuk Rasulullah. Semakin banyak ia bershalawat maka akan semakin banyak dan berlimpah pula rahmat Allah yang dianugerahkan kepadanya. Bisa dibayangkan, betapa dalam keadaan yang sangat baik orang yang membiasakan diri memperbanyak shalawat kepada Rasulullah Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam.

Bila demikian adanya maka perintah Allah kepada orang-orang mukmin untuk bershalawat kepada Nabi sesungguhnya bukan saja untuk mewajibkan mereka memenuhi hak-hak Rasulullah dengan bershalawat namun juga sebagai sarana bagi mereka untuk mendapatkan limpahan kebaikan dan keberkahan, juga dengan shalawat.

Adalah sebuah keistimewaan luar biasa ketika seorang hamba dishalawati oleh para malaikat, Rasulullah dan lebih-lebih oleh Allah. Ketika seorang hamba mendapatkan shalawat dari Allah maka ia telah mendapatkan keistimewaan yang luar biasa yang patut disyukuri. Mengapa demikian?

Sebuah ilustrasi sederhana. Pernahkah Anda mendapat hadiah dari seorang kekasih yang Anda cinta? Pernahkah Anda mendapat hadiah dari seorang pejabat penting, seorang yang tinggi kedudukan dan sangat dihormati oleh masyarakat karena kebaikannya? Bagaimana perasaan Anda ketika mendapatkan hadiah dari orang-orang seperti itu? Tidakkah Anda merasa tersanjung dan bangga mendapatkannya?

Bisa jadi mendapatkan hadiah adalah hal yang biasa dan lumrah bagi setiap orang yang menerimanya. Tapi mendapatkan hadiah dari orang-orang istimewa adalah satu keistimewaan tersendiri. Bukan karena rupa hadiahnya yang membuat si penerima tersanjung dan bangga, tapi siapa pemberinya yang membuat hadiah itu menjadi lebih istimewa.

Alhasil, bila menerima hadiah dari orang-orang istimewa adalah sebuah keistimewaan, lalu bagaimana bila pemberi hadiah itu adalah Allah Tuhan semesta yang maha segalanya? Bagaimana pula istimewanya bila seorang menerima hadiah shalawat dari para malaikat, makhluk Allah yang hanya melakukan ketaatan saja? Juga, bagaimana senang dan bahagianya orang yang dishalawati oleh Rasulullah, mengingat bershalawatnya beliau kepada orang yang membaca shalawat menunjukkan bahwa beliau mengenali orang tersebut. Tidakkah bangga bila dikenali oleh Rasulullah?

Maka tidaklah heran mereka yang benar-benar memahami hal ini selalu membiasakan diri membaca beribu shalawat kepada Nabi di siang dan malam hari. Bagaimana dengan Anda, sudahkah banyak bershalawat hari ini? Allâhumma shalli wa sallim ‘alâ sayyidinâ Muhammad

Wallâhu a’lam.

(Yazid Muttaqin)




Rabu 14 November 2018 20:30 WIB
Makna ‘Keluarga Muhammad’ dalam Redaksi Shalawat
Makna ‘Keluarga Muhammad’ dalam Redaksi Shalawat
Ketika membaca shalawat, kita dianjurkan mendoakan keluarga Nabi. Karena makna shalawât (bentuk plural dari shalâh) di antaranya adalah doa. Seperti disebutkan oleh al-Qâdhi ‘Iyâdh dalam kitabnya, ash-Shalâtu ‘âla an-Nabi, Ma’ânîhâ Ahkâmuhâ Fadhâiluhâ:

والصلاة في لسان العرب الترحم والدعاء

“Kata shalâh dalam lisan orang arab bermakna memberi rahmat dan doa. (Al-Qâdhi ‘Iyâdh, ash-Shalâtu ‘âla an-Nabi, Ma’ânîhâ Ahkâmuhâ Fadhâiluhâ, al-Mukhtar al-Islami, Kairo, halaman 60)

Doa untuk keluarga Nabi lazimnya dilafalkan setelah doa (shalawat) untuk Nabi Muhammad. Tak jarang pula dirangkai dengan doa untuk seluruh sahabat beliau usai redaksi doa untuk Nabi dan keluarganya dipanjatkan. Misalnya dalam kalimat shalawat:

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ

“Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepada Baginda Nabi Muhammad dan kepada keluarga Baginda Nabi Muhammad.”

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَي سَيِّدِنَا محمدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْنَ

“Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepada Baginda Nabi Muhammad, kepada keluarga, juga kepada para sahabat secara keseluruhan.”

Ada satu riwayat yang termaktub dalam kitab al-Qâdhi ‘Iyâdh di atas mengenai makna آلِ (keluarga) dalam redaksi shalawat:

وفي رواية أنس: سئل النبي ﷺ من آل محمّد؟ قال: كلُّ تقِيٍّ

“Terdapat dalam raiyat Anas, Nabi ﷺ ditanya mengenai siapakah keluarga Muhammad? Beliau menjawab: Semua orang yang bertakwa.” (HR ad-Dailami dan ath-Thabrani)

Jika berpatokan pada riwayat di atas, tentu makna keluarga tersebut seperti ikatan persaudaraan seluruh Muslim, padahal makna آلِ sendiri lebih akrab dengan keluarga. Dari sana kita perlu melihat pendapat para ulama mengenai hal ini.

Imam Syafi’i mengatakan bahwa makna dari keluarga Nabi adalah kerabat-kerabatnya yang beriman dari Bani Hasyim dan Bani Muthallib. Sedang menurut Imam an-Nawawi maknanya adalah seluruh orang Muslim. Sebagaimana disebutkan oleh Syekh Ibnu Qâsim al-Ghazi dalam Syarah Dathul Qarîb:

وعلى (آله الطاهرين) هم كما قال الشافعي: أقاربه المؤمنون من بني هاشم وبني المطلب. وقيل - واختاره النووي: أنهم كل مسلم

“Kepada para keluarga Nabi yang suci—mereka adalah sebagaimana yang dikatakan oleh Imam asy-Syafi’i yaitu kerabat-kerabat Nabi yang beriman dari Bani Hasyim dan Bani Muthallib. Dikatakan juga, dan Imam an-Nawawi memilih makna yaitu, yaitu mereka seluruh orang Muslim. (Syekh Muhammad bin Qasim, Fathul Qarîb al-Mujîb fî Syarh Alfâdhit Taqrîb, Beirut, Daar Ibn Hazm, 2005, halaman 21)

Demikian pemaparan terkait makna yang dipegang oleh ulama mengenai lafaz آلِ atau keluarga shalawat yang sering kita baca sehari-hari. Wallahu a’lam. 


(Amien Nurhakim)
Rabu 14 November 2018 15:0 WIB
Hukum Baca Shalawat kepada Selain Nabi Muhammad
Hukum Baca Shalawat kepada Selain Nabi Muhammad
Shalawat umumnya identik dengan Nabi Muhammad ﷺ. Meskipun, shalawat juga tak jarang diucapkan kepada nabi-nabi lain. Semisal ketika tahiyyat dalam shalat, umat Islam tak hanya bershalawat kepada Nabi Muhammad tapi juga bershalawat kepada Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Dengan demikian, shalawat hampir selalu dikaitkan dengan doa kepada nabi-nabi. Lantas bagaimana pendapat ulama soal membaca shalawat kepada selain para nabi?

Al-Qâdhi ‘Iyâdh mengatakan dalam kitabnya, ash-Shalâtu ‘âla an-Nabi: Ma’ânîhâ Ahkâmuhâ Fadhâiluhâ:

عامّة أهل العلم متّفقون على جواز الصّلاة على غير النبي صلى الله عليه وسلّم

“Kebanyakan ulama sepakat membolehkan shalawat kepada selain Nabi ﷺ.”

Sementara itu, terkait hal ini, Ibnu ‘Abbas mengeluarkan dua riwayat; yang pertama menegaskan ketidakbolehan membaca shalawat kepada selain Nabi Muhammad ﷺ, dan riwayat kedua menegaskan tidak selayaknya shalawat itu kecuali untuk para nabi. 

Sedangkan Imam Sufyan berpendapat makruh shalawat kecuali pada Nabi. Begitupun dalam kitab al-Mabsûthah, Imam Malik berkata kepada Yahya bin Ishaq bahwa “makruh bershalawat kepada selain para nabi, dan tidak patut bagi kita untuk melampaui sesuatu yang diperintahkan bagi kami.”

Abdur Razzâq meriwayatkan dari Abu Hurairah radliyallahu ‘anh, Rasulullah ﷺ bersabda:

صلوا على أنبياء الله ورسله، فإنّ الله بعثهم كما بعثني 

“Bershalawatlah kalian kepada para nabi Allah dan rasul-Nya, maka sesungguhnya Allah mengutus mereka sebagaimana Allah mengutusku.”

Dari beberapa pendapat dan riwayat, kita dapat menyimpulkan bahwa ulama berbeda pendapat dalam masalah ini. Ada yang membolehkan bershalawat kepada selain nabi, ada menganggapnya makruh, dan ada pula yang melarangnya.

Perlu kita ketahui juga, bahwa kata shalawat dalam lisan orang Arab bermakna memberi rahmat dan doa, dan makna ini sudah mutlak sebagaimana disebutkan dalam beberapa ayat dalam Al-Qur`an, di antaranya ayat 43 dalam Surat al-Ahzâb:

هُوَ الَّذِي يُصَلِّي عَلَيْكُمْ وَمَلَائِكَتُهُ لِيُخْرِجَكُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ ۚ وَكَانَ بِالْمُؤْمِنِينَ رَحِيمًا

"Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman." (QS al-Ahzâb: 43)

Lantas, pendapat mana yang baiknya kita ambil. Al-Qâdhi Abu al-Fadhl mengatakan:

أنّه لا يصلَّى على غير الأنبياء عند ذكرهم، بل هو شيء يختصّ به الأنبياء توقيرا لهم وتعزيزا، كما يخصّ الله تعالى عند ذكره بالتنزيه والتقديس والتعظيم، ولا يشاركه فيه غيره، كذلك يجب تخصيص النبيّ صلّى الله عليه وسلّم وسائر الأنبياء بالصلاة والتسليم، ولا يشارك فيه سواهم، كما أمر الله به بقوله: (صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا). ويذكر من سواهم من الأئمّة وغيرهم بالغفران والرّضا

“Hendaknya tidak membaca shalawat kepada selain para nabi ketika menyebut nama mereka, karena ia khusus untuk para nabi sebagai penghormatan dan pengagungan bagi mereka. Sebagaimana kekhususan Allah ketika disebut, dengan penyucian dan pengagungan, dan tak ada yang mengikutinya dalam hal tersebut. Begitupun wajib mengkhususkan Nabi Muhammad ﷺ dan seluruh nabi dengan shalawat dan salam, dan tak ada yang mengikutinya selain para nabi dalam hal itu, sebagaimana Allah berfirman, ‘Bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.’ Juga menyebut selain nabi, para imam (ulama dan orang-orang shalih) dengan (doa) pengampunan dan keridhaan.”

Baca juga:
Apa Makna Allah dan Malaikat Bershalawat kepada Nabi?
Jumlah Minimal dalam Memperbanyak Bacaan Shalawat
Shalawat Nariyah, Tuduhan Syirik, dan Ilmu Sharaf Dasar

Ringkasnya, Allah memiliki penyebutan tersendiri yaitu subhânahu wa ta’âlâ, Nabi memiliki penyebutan tersendiri ketika nama mereka disebut yaitu dengan shalawat, dan begitupun selain para nabi seperti ulama, awliya (para wali), dan lainnya memiliki sebutan tersendiri yaitu radliyallâhu ‘anhu (semoga Allah meridhainya), rahimahullâh (semoga Allah merahmatinya), ghafarahullâh (semoga Allah mengampuninya), dan lain-lain.

Sekian penjelasan mengenai perbedaan ulama mengenai shalawat kepada selain nabi. Semoga kita dapat melanggengkan shalawat kita kepada para nabi dan juga melafalkan doa kepada para wali serta orang-orang shalih agar kita senantiasa mendapatkan rahmat dari Allah. Amiin…

(Amien Nurhakim)

Disarikan dari (Al-Qâdhi ‘Iyâdh, ash-Shalâtu ‘âla an-Nabi, Ma’ânîhâ Ahkâmuhâ Fadhâiluhâ, al-Mukhtar al-Islami, Kairo, halaman 60-66)