IMG-LOGO
Trending Now:
Shalawat/Wirid

20 Waktu yang Disunahkan Membaca Shalawat (Bagian II)

Senin 19 November 2018 20:30 WIB
Share:
20 Waktu yang Disunahkan Membaca Shalawat (Bagian II)
Ilustrasi (via Pinterest)
Berikut adalah kelanjutan dari artikel bagian sebelumnya tentang 20 (dua puluh) waktu yang disunahkan untuk membaca shalawat sebagaimana disampaikan oleh Sirajudin Al-Husaini di dalam kitabnya As-shalâtu ‘alan Nabiyyi Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam (Damaskus: Maktabah Darul Falah, 1990).
Kesebelas, sunah membaca shalawat bagi orang yang baru saja bangun dari tidur malamnya.

Imam Nasai dalam kitab As-Sunan Al-Kubra meriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud:

يَضْحَكُ اللهُ إِلَى رَجُلَيْنِ: ....وَرَجُلٍ قَامَ فِي جَوْفِ اللَّيْلِ لَا يَعْلَمُ بِهِ أَحَدٌ، فَتَوَضَّأَ فَأَسْبَغَ الْوُضُوءَ، ثُمَّ حَمِدَ اللهَ وَمَجَّدَهُ، وَصَلَّى عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَاسْتَفْتَحَ الْقُرْآنَ، فَذَلِكَ الَّذِي يَضْحَكُ اللهُ إِلَيْهِ يَقُولُ: انْظُرُوا إِلَى عَبْدِي قَائِمًا لَا يَرَاهُ أَحَدٌ غَيْرِي

Artinya: “Allah 'tertawa' terhadap 2 orang; .... dan orang yang bangun di tengah malam di mana tak ada seorang pun yang mengetahuinya, lalu ia berwudlu dan menyempurnakannya, kemudian memuji kepada Allah dan bershalawat kepada Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam dan memulai membuka Al-Qur’an. Yang demikian itu Allah 'tertawa' kepadanya. Ia berfirman, “Lihatlah hamba-Ku sedang berdiri shalat, tak ada seorang pun yang melihatnya selain Aku.”

Kedua belas, membaca shalawat kepada Nabi disunahkan ketika telinga berdengung.

Abu Rofi’ meriwayatkan sabda Rasulullah:

إِذا طَنَّتْ أُذُنُ أحدِكُمْ فَلْيَذْكُرْنِي ولْيُصَلِّ عَلَيَّ ولْيَقُلْ ذَكَرَ الله مَنْ ذَكَرَنِي بِخَيْرٍ

Artinya: “Apabila telinga salah seorang di antara kalian berdengung maka ingatlah aku dan bershalawatlah kepadaku serta ucapkan dzakarallâhu man dzakaranî bi khair (semoga Allah mengingat orang yang mengingatku dengan kebaikan).”

Al-Munawi di dalam kitab Faidlul Qadîr menjelaskan bahwa yang dimaksud “ingatlah aku” pada hadits tersebut adalah mengucapkan kalimat Muhammad Rasulullâh.

Ketiga belas, sunah membaca shalawat ketika lupa akan suatu perkataan.

Ibnu Sunni dengan sanad dari Usman bin Abi Harb Al-Bahili meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda:

مَنْ أَرَادَ أَنْ يُحَدِّثَ بِحَدِيثٍ فَنَسِيَهُ، فَلْيُصَلِّ عَلَيَّ؛ فَإِنَّ صَلَاتَهُ عَلَيَّ خَلَفًا مِنْ حَدِيثِهِ، وَعَسَى أَنْ يَذْكُرَهُ

Artinya: “Barang siapa yang hendak mengatakan suatu perkataan kemudian ia lupa akan perkataan itu maka bershalawatlah kepadaku, karena shalawatnya kepadaku itu sebagai pengganti ucapannya, semoga ia bisa mengingatnya.”

Keempat belas, membaca shalawat juga disunahkan stelah selesai melakukan shalat.

Sebuah hikayat menceritakan, satu hari Muhammad bin Umar bersama Abu Bakr bin Mujahid. Kemudian datang Syekh As-Syibli. Melihat kedatangan As-Syibli ini Abu Bakr bin Mujahid segera bangkit menyambutnya. Ia peluk As-Syibli dan mencium di tengah kedua matanya.

Melihat hal ini Muhammad bin Umar bertanya kepada Abu Bakr, “Tuan, engkau lakukan ini kepada As-Syibli, sedangkan engkau dan orang-orang menggambarkan ia sebagai orang yang gila?”

Abu Bakr menjawab bahwa ia lakukan ini meniru apa yang dilakukan oleh Rasulullah kepada As-Syibli. Ia menceritakan bahwa ia telah bermimpi Rasulullah bangun menyambut kedatangan As-Syibli lalu memeluk dan mencium di tengah kedua matanya. Dalam mimpinya itu Abu Bakr bertanya kepada Rasul, “Ya Rasul, engkau lakukan ini kepada As-Syibli?”

Rasulullah menjawab, “Orang ini setelah shalat selalu membaca ayat laqad jâakum rasûlun min anfusikum..... kemudian meneruskannya dengan bershalawat kepadaku.”

Kelima belas, disunahkan membaca shalawat kepada Nabi ketika khatam membaca Al-Qur’an.

Ketika khatam membaca Al-Qur’an dianjurkan untuk bershalawat kepada Nabi mengingat saat itu adalah saatnya berdoa di mana doa setelah khatam Al-Qur’an akan dikabulkan.

Keenam belas, disunahkan membaca shalawat ketika sedang mengalami kegundahan, keresahan, dan hal-hal yang berat.

Suatu waktu Ubay bin Ka’b menyampaikan beberapa kalimat kepada Rasulullah. Di antaranya ia menyampaikan:

أَجْعَلُ لَكَ صَلَاتِي كُلَّهَا قَالَ: «إِذًا تُكْفَى هَمَّكَ، وَيُغْفَرُ لَكَ ذَنْبُكَ

Artinya: “Aku jadikan seluruh doaku sebagai shalawat kepadamu, wahai Rasulullah.” Rasulullah bersabda, “Kalau begitu akan dicukupi keresahanmu dan akan diampuni dosamu.” (HR. Imam Turmudzi)

Ketujuh belas, sunah membaca shalawat ketika berdoa tentang suatu hajat.

من كان له الى الله عز وجل حاجة أو الى احد من بني أدم فليتوضأ وليحسن وضوءه وليصل ركعتين ثم ليثن على الله عز وجل وليصل على النبي صلى الله عليه وسلم ثم ليقل لا اله الا الله الحليم الكريم لا اله الا الله سبحان الله رب العرش العظيم والحمد لله رب العالمين أسألك موجبات رحمتك وعزائم مغفرتك والغنيمة من كل بر والسلامة من كل ذنب لا تدع لي ذنبا الا غفرته ولا هما الا فرجته ولا حاجة هي لك رضا الا قضيتها يا أرحم الراحمين

Artinya: “Barang siapa yang memiliki hajat kepada Allah atau kepada seseorang maka berwudlulah dan baguskanlah wudlunya serta lakukanlah shalat dua rakaat. Kemudian pujilah Allah dan bershalawatlah kepada Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam, lalu ucapkanlah: lâ ilâha illallâh al-halîmul karîm, lâ ilâha illallâh subhânallâhi rabbil ‘arsyil ‘adhîm, walhamdu lillâhi rabbil ‘âlamîn, as-aluka mûjibâti rahmatika, wa ‘azâima maghfiratika, wal ghanîmata min kulli birin, was salâmata min kulli dzanbin, lâ tada’ lî dzanban illâ ghafartahu, wa lâ hamman illâ farrajtahu, wa lâ hâjatan hiya laka ridlan illâ qadlaitahâ, yâ arhamar râhimîn.

Kedelapan belas, disuahkan membaca shalawat ketika seorang laki-laki meminang seorang perempuan untuk dinikahi.

Imam Nawawi di dalam kitab Al-Adzkâr menuturkan, disunahkan orang yang meminang mengawalinya dengan mengucapkan hamdalah dan memuji kepada Allah serta bershalawat kepada Rasulullah Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam, kemudian mengucapkan asyhadu allâ ilâha illallâhu wahdahû lâ syarîkalah wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhû wa rasûluhû...

Kesembilan belas, disunahkan memberpanyak membaca shalawat kepada Nabi pada hari dan malam Jum’at. 

Ada banyak hadits dari banyak sahabat di mana Rasulullah menganjurkan untuk memperbanyak membaca shalawat pada hari dan malam Jum’at. Beliau juga menjelaskan bahwa pada hari Jumat shalawat dilaporkan kepada beliau secara khusus dan hari Jum’at memiliki kondisi khusus pula.

Kedua puluh, disunahkan memperbanyak membaca shalawat ketika sedang melaksanakan ibadah haji dan umrah.

Orang yang sedang melaksanakn ibadah haji dan umrah dianjurkan untuk memperbanyak membaca shalawat nabi di berbagai kegiatan manasik haji, baik setelah membaca talbiyah, ketika thawaf, sa’i, wukuf dan lain sebagainya. Wallâhu a’lam.

(Yazid Muttaqin)

Share:
Senin 19 November 2018 13:15 WIB
20 Waktu yang Disunahkan Membaca Shalawat (Bagian I)
20 Waktu yang Disunahkan Membaca Shalawat (Bagian I)
Sebagaimana diketahui bahwa membaca shalawat kepada Nabi merupakan kewajiban bagi orang mukmin. Hanya saja para ulama berbeda pendapat kapan kewajiban bershalawat dilakukan. Di antara mereka ada yang berpendapat kewajiban bershalawat minimal sekali seumur hidup. Ada juga yang berpendapat setiap kali membaca tasyahud akhir di dalam shalat. Juga ada yang berpendapat setiap kali disebutkan nama Rasulullah.

Selain kewajiban bershalawat ada juga waktu-waktu tertentu di mana seseorang dianjurkan untuk membaca shalawat. Pun para ulama juga berbeda pendapat saat kapan saja kesunahan bershalawat itu dilakukan.

Berikut adalah 20 (dua puluh) waktu yang disunahkan untuk membaca shalawat sebagaimana disampaikan oleh Sirajudin Al-Husaini di dalam kitabnya As-Shalâtu ‘alan Nabiyyi Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam (Damaskus: Maktabah Darul Falah, 1990).

Pertama, sunah membaca shalawat setelah selesai dikumandangkannya adzan.

Ada beberapa hadits yang menuturkan tentang hal ini di antaranya hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim:

إِذَا سَمِعْتُمُ الْمُؤَذِّنَ، فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ ثُمَّ صَلُّوا عَلَيَّ، فَإِنَّهُ مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَاةً صَلَّى الله عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا

Artinya: “Bila kalian mendengar orang yang mengumandangkan adzan maka ucapkanlah seperti apa yang ia ucapkan, lalu bershalawatlah kepada karena orang yang bershalawat kepaku sekali maka dengan shalawat itu Allah bershalawat kepadanya sepuluh kali.”

Kedua, disunahkan membaca shalawat di awal, tengah dan akhir doa. Dengan membaca shalawat di ketiga tempat itu saat berdoa maka akan lebih kuat potensi dikabulkannya doa tersebut dan lebih banyak lipatan pahalanya.

Sebuah hadits riwayat Imam Turmudzi menjelaskan tentang membaca shalawat di dalam berdoa:

عَنْ فَضَالَةَ بْنِ عُبَيْدٍ، قَالَ: بَيْنَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَاعِدٌ إِذْ دَخَلَ رَجُلٌ فَصَلَّى فَقَالَ: اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي وَارْحَمْنِي، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: عَجِلْتَ أَيُّهَا الْمُصَلِّي، إِذَا صَلَّيْتَ فَقَعَدْتَ فَاحْمَدِ اللَّهَ بِمَا هُوَ أَهْلُهُ، وَصَلِّ عَلَيَّ ثُمَّ ادْعُهُ. قَالَ: ثُمَّ صَلَّى رَجُلٌ آخَرُ بَعْدَ ذَلِكَ فَحَمِدَ اللَّهَ وَصَلَّى عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَيُّهَا الْمُصَلِّي ادْعُ تُجَبْ

Artinya: “Dari Fudlalah bin Ubaid ia berkata, ketika Rasulullah sedang duduk tiba-tiba masuk seorang lelaki kemudian melakukan shalat dan berkata, “Ya Allah, ampuni aku dan kasihani aku.” Maka Rasulullah bersabda, “Engkau terburu-buru wahai orang yang shalat. Bila engkau selesai shalat kemudian duduk maka pujilah Allah sebagaimana mestinya dan bershalawatlah kepadaku kemudian berdoalah kepada Allah.” Fudlalah berkata, kemudian seorang laki-laki lain melakukan shalat, lalu memuji kepada Allah dan bershalawat kepada Nabi. Maka Rasulullah bersabda, “Wahai orang yang shalat, berdoalah maka engkau akan diijabahi.”

Imam Al-Ghazali di dalam kitab Ihya-nya mengutip penjelasan dari Abu Sulaiman Ad-Darani yang mengatakan disunahkannya menjadikan doa berada di tengah-tengah antara dua shalawat (awal dan akhir) karena doa yang demikian tidak akan ditolak. Kiranya Allah yang mulia tak layak baginya mengabulkan dua sisi awal dan akhir sementara menolak sisi tengahnya.

Lebih lanjut Al-Husaini menegaskan bahwa yang lebih disukai dan lebih utama di dalam berdoa adalah dengan membaca shalawat di awal, tengah dan akhirnya, serta tidak meringkas bacaan shalawat hanya di akhir doa saja.

Ketiga, disunahkan membaca shalawat ketika memasuki masjid dan ketika keluar darinya.

Sebuah hadits riwayat Imam Turmudzi dari Sayyidatina Aisyah radliyallâhu ‘anhâ:

كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ الْمَسْجِدَ صَلَّى عَلَى مُحَمَّدٍ وَسَلَّمَ وَقَالَ: رَبِّ اغْفِرْ لِي ذُنُوبِي وَافْتَحْ لِي أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ، وَإِذَا خَرَجَ صَلَّى عَلَى مُحَمَّدٍ وَسَلَّمَ وَقَالَ: رَبِّ اغْفِرْ لِي ذُنُوبِي وَافْتَحْ لِي أَبْوَابَ فَضْلِكَ

Artinya: “Adalah Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam ketika memasuki masjid beliau bershalawat dan bersalam untuk Muhammad dan berdoa Rabbi ighfir lî dzunûbî waftah lî abwâba rahmatika. Dan ketika keluar beliau bershalawat dan bersalam kepada Muhammad serta berdoa Rabbi ighfir lî dzunûbî waftah lî abwâba fadllika.”

Keempat, disunahkan membaca shalawat ketika bertemunya seorang muslim dengan sesama muslim.

Abu Ya’la Al-Mushili meriwayatkan sebuah hadits dari Rasulullah:

مَا مِنْ عَبْدَيْنِ مُتَحَابَّيْنِ فِي اللَّهِ يَسْتَقْبِلُ أَحَدُهُمَا صَاحِبَهُ فَيُصَافِحُهُ وَيُصَلِّيَانِ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَّا لَمْ يَفْتَرِقَا حَتَّى تُغْفَرَ ذُنُوبُهُمَا مَا تَقَدَّمَ مِنْهُمَا وَمَا تَأَخَّرَ

Artinya: “Tidaklah dua orang hamba yang saling mencintai di jalan Allah salah satunya menemui saudaranya kemudian menyalaminya dan keduanya bershalawat kepada Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam kecuali keduanya tidak berpisah sampai diampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan yang kemudian.”

Kelima, membaca shalawat disunahkan ketika berkumpul di suatu majelis.

Disunahkan bagi kaum muslimin ketika mereka berkumpul di suatu majelis untuk menghiasi majelis mereka dengan membaca shalawat.

Ibnu Umar meriwayatkan sebuah hadits dari Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda:

زينوا مجالسكم بالصلاة علي فان صلاتكم علي نور لكم يوم القيامة

Artinya: “Hiasilah majelis-majelis kalian dengan bershalawat kepadaku. Karena shalawat kalian kepadaku adalah cahaya bagi kalian di hari kiamat.”

Adapun hadits yang mengingatkan untuk tidak meninggalkan bacaan shalawat di majelis di antaranya hadits riwayat Imam Ahmad:

مَا قَعَدَ قَوْمٌ مَقْعَدًا لَا يَذْكُرُونَ فِيهِ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ، وَيُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، إِلَّا كَانَ عَلَيْهِمْ حَسْرَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَإِنْ دَخَلُوا الْجَنَّةَ لِلثَّوَابِ

Artinya: “Tidaklah sekelompok orang duduk di suatu tempat di mana mereka tidak berdzikir kepada Allah dan tidak bershalawat kepada Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam kecuali hal itu menjadi kerugian bagi mereka di hari kiamat meskipun mereka masuk surga, karena besarnya pahala (bershalawat ketika berkumpul, penulis).”

Keenam, disunahkan menuliskan shalawat ketika menulis nama Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam.

Di antara dalil yang menganjurkan hal ini adalah hadits riwayat Imam Thabrani dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah pernah bersabda:

مَنْ صَلَّى عَلَيَّ فِي كِتَابٍ لَمْ تَزَلِ الْمَلَائِكَةُ تَسْتَغْفِرُ لَهُ مَا دَامَ اسْمِي فِي ذَلِكَ الْكِتَابِ

Artinya: “Barang siapa yang bershalawat kepadaku di dalam sebuah buku (tulisan) maka para malaikat tidah henti-hentinya memintakan ampun baginya selama namaku masih ada di dalam buku itu.”

Ketujuh, membaca shalawat disunahkan ketika membuka setiap ucapan baik yang memiliki tujuan tertentu disamping juga disunahkan membukanya dengan hamdalah dan pujian kepada Allah.

Sebuah riwayat dari Ibnu Mandah menyatakan:

كل أمر ذي بال لا يبدأ فيه بذكر الله ثم بالصلاة عليّ فهو أقطع أكتع ممحوق البركة

Artinya: “Setiap perkara yang memiliki tujuan yang tidak diawali dengan dzikir kepada Allah dan shalawat kepadaku maka perkara itu terputus terhapus keberkahannya.”

Kedelapan, disunahkan membaca shalawat dalam membuka nasehat, peringatan dan mengajarkan ilmu, terlebih ketika membaca sebuah hadits.

Imam Nawawi di dalam kitab Al-Adzkâr menuturkan bahwa disunahkan bagi orang yang membaca hadits dan selainnya ketika menyebut Rasulullah untuk mengeraskan suaranya dalam bershalawat, namun kerasnya suara itu jangan sampai berlebihan.

Kesembilan, sunah membaca shalawat di waktu pagi dan sore hari.

Sebuah riwayat dari Abu Darda bahwa Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam pernh bersabda:

من صلى علي حين يصبح عشرا وحين يمسي عشرا أدركته شفاعتي يوم القيامة 

Artinya: “Barang siapa yang bershalawat kepadaku di waktu pagi sepuluh kali dan di waktu sore sepuluh kali maka syafaatku akan mendapatinya di hari kiamat.”

Kesepuluh, Membaca shalawat juga disunahkan ketika hendak tidur.

Dari Abu Qirshafah, ia mengatakan pernah mendengar Rasulullah bersabda bahwa barang siapa yang menuju tempat tidurnya (hendak tidur) kemudian ia membaca surat Tabâraka (Al-Mulk) kemudian ia membaca sebanyak empat kali:

اللَّهُمَّ رَبَّ الْحِلِّ وَالْحَرَامِ، وَرَبَّ الْبَلَدِ الْحَرَامِ وَرَبَّ الرُّكْنِ وَالْمَقَامِ، وَرَبَّ الْمَشْعَرِ الْحَرَامِ، وَبِحَقِّ كُلِّ آيَةٍ أَنْزَلْتَهَا فِي شَهْرِ رَمَضَانَ، بَلِّغْ رُوحَ مُحَمَّدٍ مِنِّي تَحِيَّةً وَسَلَامًا

Maka Allah akan mewakilkan kepada dua malaikat hingga keduanya datang kepada Nabi Muhammad dan mengatakan kepada beliau perihal yang dilakukan orang tersebut. Maka kemudian Rasulullah menjawab, “untuk Fulan bin Fulan salam dariku dan rahmat serta keberkahan Allah.”

(Yazid Muttaqin)

Bersambung...
Sabtu 17 November 2018 18:0 WIB
Mereka Berkata ‘Nabi Sudah Sempurna, Tidak Perlu Didoakan’
Mereka Berkata ‘Nabi Sudah Sempurna, Tidak Perlu Didoakan’
Ilustrasi (Twitter)
Memasuki bulan Maulid, mulai bermunculan berbagai syubhat (propaganda) yang mengkritik tentang berbagai tradisi yang sudah mengakar di Nusantara ini. Mulai dari mengkritik perayaan Maulid, tawassul, ziarah kubur, serta tradisi peribadatan lain yang menurut cara pandang mereka bukan merupakan bagian dari ajaran Islam sebab tidak adanya dalil khusus yang menjelaskannya.

Salah satu hal yang dijadikan bahan kritikan dari berbagai tradisi ini adalah tradisi mendoakan Nabi Muhammad ﷺ, baik yang terlafalkan dalam doa-doa atau berupa ihda’ tsawab (pemberian hadiah pahala) kepada Nabi Muhammad ﷺ. Menurut mereka Nabi Muhammad adalah pribadi yang sempurna, tidak perlu didoakan atau diberi hadiah pahala, sebab selain belum ditemukan dalil yang menjelaskan diperintahkannya hal ini, pelaksanaan hal ini juga akan merendahkan nilai keluhuran Nabi Muhammad ﷺ dan memunculkan persepi seolah-olah Nabi Muhammad ﷺ sama dengan manusia lain yang membutuhkan panjatan doa dan zikir-zikir dari orang lain yang masih hidup. 

Pandangan demikian selintas terkesan logis dan masuk akal, banyak sekali orang yang terkecoh dengan hujjah-hujjah seperti ini hingga berimbas pada penolakan terhadap berbagai tradisi yang sama. Namun jika dicermati secara mendalam, segala bantahan dan sanggahan tentang pelaksanaan tradisi ini sangat mudah sekali untuk dijawab dan dimentahkan.

Sebenarnya kritik tentang masalah ini tidak hanya muncul di zaman sekarang. Adalah Imam Ibnu Taimiyah, salah satu pembesar mazhab Hanbali sekaligus “kiblat” penganut puritanisme, juga pernah mengkritik pelaksanaan doa dan ihda’ tsawab yang ditujukan pada Nabi Muhammad ﷺ. Beliau berpandangan bahwa tidak boleh ada yang berani bersikap pada Nabi Muhammad ﷺ yang derajatnya luhur kecuali dengan sesuatu yang diizinkan secara langsung oleh Nabi seperti mendoakan shalawat pada Nabi dan memohon wasilah (perantara) kepada Nabi Muhammad ﷺ, sehingga mendoakan Nabi selain dengan lafal shalawat serta ihda’ tsawab pada Nabi adalah sesuatu yang terlarang.

Pandangan Ibnu Taimiyah ini dibantah habis-habisan oleh para ulama yang tidak sependapat dengannya seperti Imam Subki serta ulama-ulama lain. Penulis akan sedikit mengulas berbagai bantahan yang disampaikan para ulama dalam menyikapi berbagai syubhat dari kelompok yang menolak permasalahan ini. 

Dalam Al-Qur’an dijelaskan:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS. Al-Ahzab, Ayat 56)

Makna shalawat Allah pada Nabi dalam ayat di atas adalah Allah senantiasa merahmati dan meridhai Nabi, sedangkan makna shalawat malaikat adalah malaikat mendoakan dan meminta permohonan ampun untuk Nabi Muhammad ﷺ.

Berdasarkan ayat di atas, jika Allah dan Malaikat bershalawat pada Nabi yang salah satu kandungan artinya adalah mendoakan Nabi, lalu mengapa kita masih dilarang untuk mendoakan Nabi? Bahkan Mendoakan Nabi adalah salah satu wujud pelaksanaan perintah yang tercantum dalam akhir ayat di atas.

Imam Ibnu Abidin dalam Radd al-Mukhtar menjelaskan bahwa anjuran menghadiahkan pahala untuk orang lain juga mencakup terhadap Nabi Muhammad ﷺ, bahkan Nabi Muhammad ﷺ lebih berhak untuk dihadiahi pahala sebab jasanya yang telah menyelamatkan kita dari berbaga kesesatan (jahiliyah), oleh karenanya dalam menghadiahkan pahala pada Nabi Muhammad ﷺ terkandung rasa syukur dan pemberian yang baik (Ibnu Abidin, Radd al-Mukhtar, Juz 2, hal. 243).

Sifat kesempurnaan yang ada pada Nabi Muhammad ﷺ bukan berarti nabi tidak perlu lagi berdoa untuk kebaikan dirinya sendiri dan tidak butuh didoakan oleh orang lain, sebab dalam pepatah Arab dijelaskan “al-kamil qabilun li ziyadati al-kamal” yang memiliki arti hal yang sempurna masih dapat bertambah sempurna. Berdasarkan hal ini, mendoakan pada Nabi Muhammad ﷺ dengan doa kemuliaan, keagungan dan ketinggian derajat bukan menafikan sifat kesempurnaan yang ada pada Nabi, tapi justru menjadikan kesempurnaan yang ada pada Nabi menjadi bertambah sempurna.

Pembuktian hal ini misalnya seperti doa Nabi yang terdapat dalam Al-Qur’an:

وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا

“Dan katakanlah (wahai Muhammad): ‘Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan’.” (QS. Al-Ahzab, Ayat 114)

Dan juga doa Nabi Muhammad ﷺ yang terdapat dalam hadits:

كان يقول في دعائه واجعل الحياة زيادة لي في كل خير

“Rasulullah ﷺ berkata dalam doanya “Jadikanlah hidupku bertambah dalam segala kebaikan.”

Berdasarkan dua dalil di atas sangat nyata bahwa derajat dan kesempurnaan yang ada pada Nabi Muhammad ﷺ dapat semakin bertambah.

Sedangkan dalil dari segi amaliyah atas legalnya melaksanakan tradisi ini, ditunjukkan oleh para sahabat dan para ulama yang melakukan sebuah amal yang pahalanya ditujukan kepada Nabi Muhammad ﷺ seperti yang dijelaskan dalam Radd al-Mukhtar:

أن ابن عمر كان يعتمر عنه -ﷺ - عمرا بعد موته من غير وصية وحج ابن الموفق وهو في طبقة الجنيد عنه سبعين حجة وختم ابن السراج عنه - صلى الله عليه وسلم - أكثر من عشرة آلاف ختمة وضحى عنه مثل ذلك اهـ

“Sesungguhnya Ibnu Umar melaksanakan ibadah umrah yang pahalanya ditujukan untuk Nabi Muhammad ﷺ tanpa adanya wasiat dari beliau, Ibnu al-Muwaffiq yang derajatnya setara dengan sufi terkemuka, Imam Junaid, melaksanakan haji untuk Nabi Muhammad ﷺ sebanyak 70 kali. Ibnu as-Suraij mengkhatamkan Al-Qur’an lebih dari 10 ribu khataman dan menyembelih hewan sebanyak 10 ribu lebih yang pahalanya ditujukan untuk Nabi Muhammad ﷺ” (Ibnu Abidin, Radd al-Mukhtar, Juz 2, hal. 243)

Dengan demikian, tradisi masyarakat yang berupa mendoakan Nabi Muhammad ﷺ dan menghadiahkan pahala untuk Nabi Muhammad ﷺ merupakan tradisi yang sebenarnya sudah dilaksanakan oleh para ulama terdahulu dengan dalil yang sangat jelas sekaligus tidak terbantahkan dengan hujjah manapun, dalil dan penalaran yang sama juga berlaku dalam mendoakan dan menghadiahkan pahala kepada para wali dan ulama yang memilki derajat yang luhur di sisi Allah SWT. Wallahu a’lam.

(Ali Zainal Abidin)


Jumat 16 November 2018 18:0 WIB
Penentuan Jumlah Bilangan Suatu Wirid
Penentuan Jumlah Bilangan Suatu Wirid
Ilustrasi (via azhan.co)
Beberapa orang menganggap bahwa seluruh bilangan wirid haruslah ada tuntunan teks ayat atau hadits yang secara literal menunjukkan jumlah tertentu. Mereka menyangka bahwa jumlah bacaan wirid sama saja dengan jumlah rakaat shalat yang sudah ditentukan tanpa sedikit pun boleh dikurangi atau ditambah, apalagi ditentukan sendiri bilangannya. Anggapan seperti ini akan bertentangan dengan kebiasaan yang berlaku di kalangan kaum muslimin di seluruh dunia di mana terdapat banyak bacaan wirid yang disarankan agar dibaca dalam jumlah tertentu yang tak ditemukan dasar haditsnya, misalnya anjuran membaca shalawat Nariyah sebanyak 4.444 kali. Tak pelak, banyak tuduhan bid’ah yang keluar dari orang-orang yang belum mengerti.

Sebenarnya, penentuan bilangan suatu wirid tak harus berdasarkan hadits semata, namun bisa juga ditentukan melalui petunjuk ilham yang didapat hamba Allah yang shalih. Ini bisa terjadi secara akal dan tidak berlawanan dengan syariat. Dan, kenyataannya hal semacam ini memang terjadi bahkan di masa para sahabat. Simak riwayat berikut yang diceritakan dan dijadikan dalil pembenar oleh Syekh Ibnu Qayyim al-Jauziyah dalam kitabnya yang berjudul Jilâ' al-Afhâm:

عَن زيد بن وهب قَالَ لي ابْن مَسْعُود رَضِي الله عَنهُ يَا زيد بن وهب لَا تدع إِذا كَانَ يَوْم الْجُمُعَة أَن تصلي على النَّبِي صلى الله عَلَيْهِ وَسلم ألف مرّة تَقول اللَّهُمَّ صل على مُحَمَّد النَّبِي الْأُمِّي صلى الله عَلَيْهِ وَسلم

"Dari Zain bin Wahb, Sahabat Ibnu Mas'ud berkata padaku: Wahai Zaid, bila hari jumat jangan engkau tinggalkan membaca shalawat atas nabi 1000 kali, katakan allahumma shalli ala Muhammad an-nabiyyi al-ummiyyi shallallahu alaihi wasallam." (Ibnu Qayyim, Jilâ' al-Afhâm, halaman 87)
Amaliyah wirid yang dianjurkan sahabat Ibnu Mas'ud di atas sama sekali tidak ada haditsnya, tidak redaksinya dan tidak pula jumlahnya. Yang bisa kita dapati hanyalah sebuah hadits dlaif (lemah) yang memerintahkan untuk membaca shalawat sebanyak 1000 kali tanpa pengkhususan hari tertentu dan hadits dlaif lain yang memerintahkan agar banyak-banyak membaca shalawat di hari Jumat. Bila kedua hadits dlaif ini digabung, maka hasilnya adalah sunnah memperbanyak shalawat di hari jumat, tanpa ada pembatasan bahwa jumlahnya harus seribu dan tak ada penentuan bagaimana redaksi shalawatnya. Bila memakai konsep bid'ah ala sebagian kelompok yang berlebihan dalam memahami tema bid'ah, maka tindakan Sahabat Ibnu Mas'ud ini tergolong bid'ah dan demikian juga dengan tindakan Syekh Ibnu Qayyim yang menukil dan berhujjah dengan itu. Namun teori mereka ini salah dan gegabah sehingga tak layak diperhitungkan. Tentu bukan suatu yang sederhana menganggap amalan seorang sahabat besar sekaliber Ibnu Mas’ud sebagai bid’ah.

Soal pembatasan jumlah bacaan wirid ini, harus diketahui bahwa ada dua jenis wirid yang berbeda:

Jenis pertama, adalah bacaan wirid yang jumlahnya telah ditentukan secara khusus (muqayyad) oleh Rasulullah ﷺ dalam bilangan tertentu tanpa ada satu pun hadits lain yang menunjukkan kemutlakan jumlahnya. Bacaan tipe ini tak boleh kita modifikasi jumlahnya, jangan dikurangi atau ditambahi bila ingin mendapat keutamaan sunnah. Contohnya adalah bacaan tasbih, tahmid dan takbir sehabis shalat yang masing-masing berjumlah 33 kali. Penentuan bilangan 33 kali ini disebutkan secara literal oleh Nabi Muhammad sendiri sehingga tak layak kita modifikasi. 

Jenis kedua, adalah bacaan yang jumlahnya dimutlakkan tanpa ada batasan khusus dari Rasulullah atau ada batasannya namun longgar. Jenis wirid ini kita bebas membacanya berapa kali sesuka dan sekuat kita setiap harinya. Dalil dari kebebasan penentuan bilangan ini dapat dilihat dari hadits berikut:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " مَنْ قَالَ: حِينَ يُصْبِحُ وَحِينَ يُمْسِي: سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ، مِائَةَ مَرَّةٍ، لَمْ يَأْتِ أَحَدٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، بِأَفْضَلَ مِمَّا جَاءَ بِهِ، إِلَّا أَحَدٌ قَالَ مِثْلَ مَا قَالَ أَوْ زَادَ عَلَيْهِ

"Dari Abi Hurairah, dia berkata: Rasulullah bersabda: Siapa pun yang membaca ketika pagi dan sore Subhânallah wa bihamdihi seratus kali, maka tak akan datang seorang pun di hari kiamat yang membawa amal melebihinya kecuali seseorang yang membaca semisal itu atau lebih dari itu." (HR. Muslim)

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: " مَنْ قَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، فِي يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ، كَانَتْ لَهُ عَدْلَ عَشْرِ رِقَابٍ، وَكُتِبَتْ لَهُ مِائَةُ حَسَنَةٍ وَمُحِيَتْ عَنْهُ مِائَةُ سَيِّئَةٍ، وَكَانَتْ لَهُ حِرْزًا مِنَ الشَّيْطَانِ، يَوْمَهُ ذَلِكَ، حَتَّى يُمْسِيَ وَلَمْ يَأْتِ أَحَدٌ أَفْضَلَ مِمَّا جَاءَ بِهِ إِلَّا أَحَدٌ عَمِلَ أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ

"Dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah bersabda: Siapa pun yang membaca la ilaha illallah wahdahu lâ syarîka lahu lahu al-mulku walahu al-hamdu wahua 'ala kulli syai'in qadîr dalam sehari seratus kali, maka pahalanya menyamai memerdekakan sepuluh budak dan dicatat seratus kebaikan dan dihapus darinya seratus kesalahan dan dijaga dari setan di hari itu sampai sore. Dan, tidak ada seorang pun yang datang [di hari kiamat] dengan amal yang lebih utama dari orang itu kecuali orang yang membaca lebih banyak dari jumlah itu." (HR. Muslim)

Dari redaksi kedua hadits di atas kita bisa tahu bahwa jumlah seratus kali setiap hari yang diajarkan Rasulullah ternyata bukanlah batasan tetapi hanyalah sebuah pilihan. Bila ada orang yang setiap hari malah membaca 200, 300, atau semakin banyak wirid yang disebutkan dalam hadits, maka pahalanya juga semakin banyak sesuai jumlahnya. Karena jumlahnya tidak ditentukan, maka tidak dibenarkan adanya orang yang menuduh bahwa jumlah tertentu setiap hari adalah bid'ah. 

Harus dipahami bahwa kemutlakan jumlah itu artinya bebas sebebas-bebasnya mau dibaca dengan jumlah berapa pun setiap waktunya, mau bilangannya selalu sama atau tidak. Mau tiap hari dibaca 5 kali, 10 kali 1000 kali, 2000 kali atau berapa pun bebas. Mau dibaca kadang 100 kali, kadang 50 kali, kadang 20 kali juga terserah. Tak ada alasan untuk menyatakan bahwa konsisten akan jumlah tertentu semisal selalu seratus kali, selalu seribu kali atau jumlah lain setiap hari termasuk tindakan bid'ah atau membuat-buat syariat baru. Justru vonis bid’ah itulah yang malah bid'ah itu sendiri sebab pelakunya telah menyempitkan makna kemutlakan yang diberikan oleh Rasulullah ﷺ tanpa adanya izin spesifik dari Rasulullah ﷺ.

Sebab itulah, para ulama sering sekali memberikan nasihat untuk membaca bacaan tertentu dengan jumlah tertentu yang nanti akan berkhasiat tertentu pula. Penentuan redaksi, khasiat, waktu dan jumlah ini biasanya berdasarkan ilham yang sudah diuji coba berulang kali, bukan berdasarkan hadits. Yang harus dicatat, tak ada satu pun jumlah bacaan yang ditentukan ulama berdasarkan ilham tersebut yang tergolong muqayyad atau sudah ditentukan oleh Rasulullah sehingga memang mubah hukumnya menentukan jumlah tertentu sendiri. 

Pertimbangan lainnya, dalam berbagai hadits dijelaskan bahwa kaum muslimin diperintah agar menjaga keistiqamahan (konsistensi dalam beramal baik). Juga disebutkan bahwa Allah kurang menyukai apabila seseorang melakukan suatu amal kebaikan lantas kendor atau putus di tengah jalan. Salah satu redaksi haditsnya demikian:

فَإِنَّ اللهَ لَا يَمَلُّ حَتَّى تَمَلُّوا، وَأَحَبُّ الدِّينِ مَا دُوِمَ عَلَيْهِ

“Maka sesungguhnya Allah tidaklah kendor [dalam memberi pahala] hingga kalian menjadi kendor [untuk melakukan amal] dan amal agama yang paling disukai adalah apa yang dilakukan terus-menerus (istiqamah).” (HR. al-Baihaqi)

Untuk mengukur kadar keistiqamahan atau kekendoran suatu wirid tentu saja harus dihitung dengan jelas berapa jumlahnya setiap hari. Tanpa hitungan yang jelas, tak mungkin hal ini dapat diketahui pengamalnya. Tentu saja penentuan jumlah bilangan dengan niat semacam ini tak bisa masuk dalam kategori bid’ah menurut teori manapun atau perspektif siapa pun. Justru inilah cara untuk merealisasikan perintah agar istiqamah dalam berdzikir tersebut. Wallahu a'lam.


Abdul Wahab Ahmad, Wakil Katib PCNU Jember dan Peneliti di Aswaja NU Center Jember.