IMG-LOGO
Trending Now:
Doa

Doa Rasulullah SAW pada Jumat Pagi

Jumat 23 November 2018 6:0 WIB
Share:
Doa Rasulullah SAW pada Jumat Pagi
Jumat merupakan hari istimewa. Pada hari mulia ini, pintu rahmat dan ampunan Allah terbuka secara istimewa. Banyak kemurahan yang diberikan Allah pada hari ini. Rasulullah SAW sendiri menganjurkan doa yang perlu dibaca di pagi hari Jumat.

Salah satu doa pagi yang dianjurkan untuk dibaca adalah doa berikut ini:

أَسْتَغْفِرُ اللهَ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الحَيُّ القَيُّومُ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ

Astaghfirullāhalladzī lā ilāha illā huwal hayyul qayyūmu, wa atūbu ilaihi.

Artinya, “Aku memohon ampun kepada Allah, Zat yang tiada tuhan selain Dia yang maha hidup, lagi maha tegak. Aku bertobat kepada-Nya.”

Doa ini dapat ditemukan pada Kitab Al-Azkar karya Imam An-Nawawi. Doa ini dianjurkan dibaca sebanyak tiga kali, sebuah amalan yang tidak berat tetapi memiliki keutamaan yang luar biasa sebagai riwayat hadits berikut ini:

وروينا في كتاب ابن السني، عن أنس رضي الله عنه، عن النبي صلى الله عليه وسلم قال من قال صبيحة يوم الجمعة قبل صلاة الغداة : أستغفر الله الذي لا إله إلا هو الحي القيوم وأتوب إليه ثلاث مرات غفر الله ذنوبه ولو كانت مثل زبد البحر

Artinya, “Diriwayatkan kepada kami dari Ibnu Sinni dari Anas RA, dari Nabi Muhammad SAW bahwa ia bersabda, ‘Siapa saja yang berdoa di pagi hari Jumat sebelum shalat pagi dengan, ‘Astaghfirullāhalladzī lā ilāha illā huwal hayyul qayyūmu, wa atūbu ilaihi’ sebanyak tiga kali, niscaya Allah mengampuni dosanya meski sebanyak buih di lautan,’” (Lihat Imam An-Nawawi, Al-Adzkar, [Damaskus: Darul Mallah, 1971 M/1391 H], halaman 71).

Semoga kita termasuk orang mendapatkan rahmat dan ampunan Allah SWT berkat kemuliaan hari Jumat. Amin. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)
Share:
Jumat 16 November 2018 20:30 WIB
Doa Minta Kebaikan Sepanjang Hari, Dibaca Pagi dan Sore
Doa Minta Kebaikan Sepanjang Hari, Dibaca Pagi dan Sore
Ilustrasi (mqaal.com)
Menjalani hari-hari dalam kehidupan tentunya tidak selamanya baik. Adakalanya kita mengalami nasib baik, dan adakalanya buruk. Begitulah suratan takdir yang telah ditetapkan oleh Allah ﷻ.

Segala sesuatu tentunya memiliki hikmah. Tak ada satu pun yang terjadi dan yang ada di muka bumi ini, kecuali semuanya memiliki manfaat dan pelajaran bagi kita, termasuk keadaan yang menimpa manusia, entah baik maupun buruk.

Kendati demikian alangkah sebaiknya kita senantiasa meminta kebaikan kepada Allah ﷻ dengan berdoa kepada-Nya supaya dikaruniai kebaikan di setiap harinya, dan dicegah dari keburukan. Sebagaimana disebutkan dalam zikir pagi dan sore, Wirdul Lathif, yang disusun oleh Imam al-Haddad. Kami kutipkan sebagian dari wirid yang cukup panjang itu:

اَللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ خَيْرَ هَذَا الْيَوْمَ فَتْحَهُ وَنَصْرَهُ وَنُوْرَهُ وَبَرَكَتَهُ وَهُدَاهُ. اَللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ خَيْرَ هَذَا الْيَوْمَ وَخَيْرَ مَا فِيْهِ وَخَيْرَ مَا قَبْلَهُ وَخَيْرَ مَا بَعْدَهُ. وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ هَذَا الْيَوْمِ وَشَرِّ مَا فِيْهِ وَشَرِّ مَا قَبْلَهُ وَشَرِّ مَا بَعْدَهُ

“Allâhumma innî as’aluka khaira hâdzal yaum, fathahu, wa nashrahu, wa nûrahu, wa barakatahu, wa hudâhu. Allâhumma innî as’aluka khaira hâdzal yaum wa khaira mâ fîhi wa khaira mâ qablah, wa khaira mâ ba’dah. Wa a‘ûdzubika min syarri hâdzal yaum, wa syarri mâ fîhi wa syarri mâ qablah, wa syarri mâ ba’dah”

“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu agar memperoleh kebaikan, pembuka (rahmat), pertolongan, cahaya, berkah, dan petunjuk di hari ini. Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu kebaikan hari ini, kebaikan apa yang ada di dalamnya, kebaikan hari sebelumnya, dan kebaikan hari setelahnya. Dan Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan hari ini, keburukan apa yang ada di dalamnya, keburukan hari sebelumnya, dan keburukan hari sesudahnya.”

Meski doa ini berasal dari hadits yang dha’if, namun tidak mengapa jika diamalkan dalam hal yang bersifat afdhaliyyah atau keutamaan, mengingat isi kandungan di dalamnya yang baik. Selain itu, bukankah para waliyullah dan ulama banyak yang telah mengamalkan doa ini di setiap harinya?

Semoga kita dapat mengamalkan doa ini di pagi dan sore hari, supaya kita dapat meraih kebaikan dan manfaat di setiap waktu yang kita miliki, juga terhindar dari keburukan-keburukan di setiap harinya. Amiin.

(Amien Nurhakim)

Selasa 13 November 2018 11:15 WIB
Doa Mohon Dijauhkan dari Maksiat
Doa Mohon Dijauhkan dari Maksiat
(Foto: @mqaal.com)
Umat Islam berkewajiban untuk menjauhi dosa besar dan dosa kecil. Mereka perlu mengetahui mana perbuatan yang mengandung kemaksiatan untuk dihindari. Mereka juga dianjurkan untuk berdoa sebagai bagian dari ikhtiar untuk menjauhi masiat tersebut.

اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْئَلُكَ التَوْبَةَ وَدَوَامَهَا وَنَعُوْذُ بِكَ مِنَ المَعْصِيَةِ وَأَسْبَابِهَا وَذَكِّرْنَا بِالخَوْفِ مِنْكَ قَبْلَ هُجُومِ خَطَرَاتِهَا، وَاحْمِلْهُ عَلَى النَّجَاةِ مِنْهَا وَمِنْ التَّفَكُّرِ فِي طَرَائِقِهَا وَامْحُ مِنْ قُلُوبِنَا حَلَاوَةَ مَا اجْتَبَيْنَاهُ مِنْهَا، وَاسْتَبْدِلْهَا بِالكَرَاهَةِ لَهَا وَالطَّمَعِ لِمَا هُوَ بِضِدِّهَا 

Allāhumma innā nas’alukat taubata wa dawāmahā, wa na‘ūdzu bika minal ma‘shiyati wa asbābihā, wa dzakkirnā bil khaufi mina qabla hujūmi khatharātihā, wahmilhu alān najāti minhā wa minat tafakkuri fī tharā’iqihā, wamhu min qulūinā halāwata majtabaināhu minhā, wastabdilhā bil karāhati lahā wat thama‘I li mā huwa bi dhiddihā.

Artinya, “Ya Allah, kepada-Mu kami meminta pertobatan dan kelanggengannya. Kepada-Mu, kami berlindung dari maksiat dan sebab-sebabnya. Ingatkan kami agar takut kepada-Mu sebelum datang bahaya maksiat. Bawakan ketakutan itu untuk menyelamatkan kami dari maksiat dan dari pikiran di jalanan maksiat. Hapuskan kelezatan maksiat yang kami pilih dari hati kami. Gantikan kenikmatan itu dengan rasa tidak suka dan keinginan terhadap lawanan maksiat,” (Lihat Perukunan Melayu, ikhtisar dari karya Syekh M Arsyad Banjar, [Jakarta, Al-Aidarus: tanpa tahun], halaman 100).

Doa ini diawali dengan permohonan tobat dan istiqamah di dalamnya. Doa ini juga berisi harapan agar Allah mengenyahkan kenikmatan maksiat dari dalam hati. Semoga Allah memberikan manfaat kepada kita melalui doa ini. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)
Senin 5 November 2018 18:30 WIB
Doa Menjaga Lisan
Doa Menjaga Lisan
Menjaga lisan merupakan kewajban yang mesti dipelihara oleh seorang mukmin. Ia merupakan wasilah yang menyampaikan apa yang ada dalam hati kita. Jika lisan ini tidak dijaga, maka bisa jadi akan banyak orang yang tersakiti karena ucapan kita.

Imam al-Muhâsibi dalam kitabnya Risâlah al-Mustarsyidîn menjelaskan tentang apa yang wajib lisan jalankan:

وَفَرْضُ اللِّسَانِ الصِّدْقُ فِي الرِّضَا وَالْغَضَبِ وَكَفِّ الْأَذَى فِي السِّرِّ وَالْعَلَانِيَةِ وَتَرْكُ التَّزَيُّدِ بِالْخَيْرِ وَالشَّرِّ 

“Dan kewajiban lisan yaitu jujur dalam keadaan senang maupun marah, menahan dari menyakiti dalam keadaan sendirian maupun ramai, dan meninggalkan berlebihan dalam perkataan baik maupun buruk.” (al-Hârits al-Muhasiby, Risâlah al-Mustarsyidîn, Dar el-Salam, halaman 116)

Membaca penjelasan Imam al-Muhasibi, banyak dari kita yang masih jauh dari ketentuan-ketentuan di atas. Oleh karena itu, seraya memperbaiki diri, kita mesti melatih untuk menjaga lisan kita. 

Setelah berusaha dan berikhtiar, jangan lupa untuk meminta pada Sang Khaliq agar memberikan kita hidayah dan kekuatan untuk menjaga lisan. Sebagaimana disebutkan oleh Syekh Abdul Fattah Abu Ghuddah dalam komentar kitab Risâlah al-Mustarsyidîn:

اَللَّهُمَّ اجْعَلْ صَمْتِي فِكْراً وَنُطْقِي ذِكْراً

Allâhumma-j‘al shamtî fikran wa nuthqî dzikran

“Wahai Allah, jadikanlah diamku berpikir, dan bicaraku berdzikir.”

Semoga dengan doa ini kita terjaga dari keburukan lisan kita dan semakin dekat dengan Allah ﷻ dengan wasilah ucapan-ucapan baik yang kita lontarkan kepada seluruh manusia di muka bumi. Amiin…

(Amien Nurhakim)