IMG-LOGO
Tasawuf/Akhlak

Ini Tiga Pendusta Agama

Ahad 2 Desember 2018 20:30 WIB
Share:
Ini Tiga Pendusta Agama
(Foto: @isqw.us)
Kata “pendusta agama” dapat ditemukan di Al-Quran pada awal Surat Al-Ma‘un. Kata ini masuk ke dalam kalimat pertanyaan yang segera dijawab pada ayat selanjutnya. Pendusta agama pada ayat ini bukan ia yang abai dengan simbol-simbol formal agama, tetapi ia yang tidak berjiwa sosial. Surat ini mengingatkan kita yang cenderung beragama lebih secara formal.

Kata “pendusta agama” pada ayat ini dikaitkan dengan ketidakpedulian seseorang yang mengaku beragama terhadap masyarakat yang terbelakang secara ekonomi dan unsur masyarakat yang terlantar.

Berikut ini adalah tiga ayat pertama Surat Al-Ma‘un.

أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ.فَذَلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ.وَلَا يَحُضُّ عَلَى طَعَامِ الْمِسْكِينِ

Artinya, “Tahukah kau (wahai Muhammad) siapa orang yang mendustakan agama? Dia adalah orang yang menghardik anak yatim, tidak menganjurkan untuk memberi makan orang miskin,” (Surat Al-Ma‘un ayat 1-3).

Sementara Imam Hatim bin Ulwan Al-Asham juga mengaitkan bukti pengakuan cinta agama seseorang dan perilaku keseharian yang bersangkutan. Pasalnya, banyak orang yang mengaku cinta Allah, cinta Rasulullah SAW, dan cinta surga memiliki perilaku yang berjauhan dengan semangat agama itu sendiri.

وقال حاتم بن علوان قدس سره من ادعى ثلاثا بغير ثلاث فهو كذاب: من ادعى حب الله تعالى من غير ورع عن محارمه فهو كذاب، ومن ادعى محبة النبي من غير محبة الفقر فهو كذاب ومن ادعى حب الجنة من غير إنفاق ماله فهو كذاب.

Artinya, “Hatim bin Ulwan Al-Asham mengatakan, ‘Siapa saja yang mengaku tiga hal tanpa disertai tiga hal, maka ia pendusta. Pertama, siapa saja yang mengaku cinta Allah tanpa sikap wara’ dari yang diharamkan, maka ia pendusta. Kedua, siapa saja yang mengaku cinta Nabi Muhammad SAW tanpa sikap ‘mencintai’ kefakiran, maka ia pendusta. Ketiga, siapa saja yang mengaku cinta surga tanpa menginfakkan hartanya, maka ia pendusta,’” (Lihat Syekh M Nawawi Banten dalam Syarah Qami'ut Thughyan, [Indonesia, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah: tanpa catatan tahun], halaman 5).

Agama Islam memiliki tuntutan formal yaitu shalat, zakat, puasa, haji, muamalah, perkawinan, dan sebagainya. Tanggung jawab umat Islam tidak selesai hanya dengan menunaikan tuntutan formal tersebut. Agama Islam juga memiliki tuntutan sosial yang sama wajibnya dengan tuntutan formal.

Adapun orang yang mencintai Nabi Muhammad SAW secara formal bisa dibuktikan dengan jumlah bacaan shalawat. Tetapi cinta kepada Nabi Muhammad SAW dapat dibuktikan dengan kepedulian terhadap anak yatim dan fakir miskin.

Mereka yang menderita kefakiran diharuskan tetap menjaga sunnah nabi, yaitu pergi ke pasar untuk berikhtiar, tidak bersikap pasif, dan tidak berbuat kalap karena kefakirannya.

Sebagaimana diketahui Imam Abu Abdirrahman Hatim bin Ulwan yang wafat pada tahun 237 H dijuluki Imam Hatim Al-Asham. Secara harfiah Imam Hatim Al-Asham berarti Syekh Hatim yang tuli karena pernah berpura-pura tuli karena menyelamatkan muka tamunya.

Ia merupakan seorang ulama yang menjadi kiblat masyarakat Khurasan di zamannya karena keilmuan dan kezuhudannya. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)
Share:
Jumat 30 November 2018 17:30 WIB
Pesan Imam Syafi‘i soal Jaga Ujaran
Pesan Imam Syafi‘i soal Jaga Ujaran
Zaman sekarang ini ujaran kerap menjadi masalah antarindividu, sosial, politik tentu saja, pendidikan, dunia kesehatan, dan lain-lain. Pemerintah demi menjaga ketertiban umum membuat undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) yang juga berkaitan dengan ujaran.

Soal ujaran ini menarik perhatian Imam Syafi‘i. Syekh M Nawawi Banten mengutip perkataan ulama besar di bidang hukum ini yang mengajak masyarakat untuk tidak ceroboh dalam berujar. Menurut Imam Syafi‘i, seseorang harus menimbang gagasan sebelum diucapkannya.

إذا أراد أحدكم الكلام فعليه أن يفكر في كلامه فإن ظهرت المصلحة تكلم وإن شك لم يتكلم حتى تظهر

Artinya, “Jika kau ingin berbicara, maka kau harus menimbang ucapanmu. Jika itu mengandung maslahat, maka bicaralah. Tetapi jika kau ragu, maka tahan ucapanmu hingga kau benar-benar yakin itu akan mengandung maslahat,” (Lihat Syekh M Nawawi Banten dalam Syarah Qamiut Thughyan, [Indonesia, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah: tanpa catatan tahun], halaman 11).

Pesan Imam Syafi‘i terkait menahan ujaran yang tidak layak secara etika ini dimasukkan oleh Syekh M Nawawi Banten ke dalam cabang-cabang keimanan dalam Islam. Ujaran dan keimanan memiliki hubungan yang sangat rapat sebagaimana sabda Rasulullah SAW riwayat Imam Bukhari berikut ini:

عن أبي هريرة قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم من كان يؤمن بالله واليوم الآخر فلا يؤذ جاره ومن كان يؤمن بالله واليوم الآخر فليكرم ضيفه ومن كان يؤمن بالله واليوم الآخر فليقل خيرا أو ليصمت

Artinya, “ Dari Abu Hurairah RA, ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, ‘Siapa saja yang beriman kepada Allah da hari akhir, maka jangan ia menyakiti tetangganya. Siapa saja yang beriman kepada Allah da hari akhir, maka muliakan tamunya. Siapa saja yang beriman kepada Allah da hari akhir, maka berkatalah yang baik atau diam,’” (HR Bukhari).

Al-Qur’an juga memberikan perhatian terhadap ujaran. Al-Qur’an memberikan isyarat bahwa setiap ujaran yang keluar dari seseorang akan dicatat oleh malaikat khusus dan akan dimintakan pertanggungjawabannya kelak.

مَّا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

Artinya, “Tiada yang terucap pada perkataan selain padanya terdapat malaikat Raqib dan Atid,” (Surat Qaf ayat 18).

Walhasil, pertimbangan atas ujaran ini sangat diperhatikan dalam Islam. Pertimbangan ini menjadi sebuah keharusan karena ujaran tanpa pertimbangan berdaya rusak luar biasa atas hubungan antardividu, kelompok, dan lain sebagainya.

Tidak heran kalau Syekh M Nawawi Banten mengutip hadits Rasulullah SAW yang menyebut diam sebagai puncak kebijaksanaan. Sabda Rasulullah SAW bukan menganjurkan orang untuk selalu diam, tetapi mendorong ujaran yang sejalan dengan kemaslahatan.

أفضل أخلاق الإسلام الصمت حتى يسلم الناس

Artinya, “Akhlak yang paling utama dalam Islam adalah diam hingga orang lain selamat (dari ujarannya yang menyakitkan),” (Lihat Syekh M Nawawi Banten dalam Syarah Qami‘ut Thughyan, [Indonesia, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah: tanpa catatan tahun], halaman 11). Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)
Rabu 28 November 2018 20:45 WIB
Empat Catatan Bijak pada Tongkat Nabi Musa AS
Empat Catatan Bijak pada Tongkat Nabi Musa AS
Syekh M Nawawi Banten menceritakan bahwa panjang tongkat Nabi Musa AS mencapai sepuluh hasta. Tongkat ini bercabang dua. Tongkat ini merupakan salah satu bentuk mukjizat yang dianugerahkan Allah SWT kepada Nabi Musa AS.

Tongkat Nabi Musa AS ini tersebut di dalam Al-Qur’an. Awalnya tongkat hanya berfungsi sebagai tongkat penggembala biasa, yaitu menggiring kambing. Tetapi berkat kuasa Allah, tongkat ini memiliki banyak fungsi yang membantu Nabi Musa AS dalam menghadapi kedurhakaan umatnya.

Konon tongkat Nabi Musa AS ini dapat menyala di kegelapan. Tentu saja hal ini sangat membantu Nabi Musa AS dalam menempuh perjalanan di malam hari.

Adapun catatan bijak tersebut terukir pada tongkat Nabi Musa AS. Catatan ini mengajarkan sikap wajar bagi penguasa, kaum ulama dan cendekia, orang kaya, dan orang miskin. Catatan itu secara lengkap dikutip oleh Syekh M Nawawi Banten dalam Syarah Barzanji berikut ini:

كل سلطان لا يعدل في سلطانه هو وفرعون سواء وكل عالم لا يعمل بعلمه هو وإبليس سواء وكل غني لا ينتفع بماله هو وقارون سواء وكل فقير لا يصبر على فقره هو والكلب سواء

Artinya, “Setiap penguasa yang tidak adil dalam kekuasaannya tiada bedanya dengan Firaun. Setiap ulama dan ilmuan yang tidak mengamalkan ilmunya tiada bedanya dengan Iblis. Setiap orang kaya yang tidak bermanfaat hartanya (bagi orang lain dan dirinya) tiada bedanya dengan Qarun. Setiap orang miskin yang tidak sabar atas kemiskinannya tiada bedanya dengan anjing,” (Lihat Syekh M Nawawi Banten, Madarijus Shu’ud ila Iktisa'il Burud, [Surabaya, Maktabah Ahmad bin Sa’ad bin Nabhan wa Auladuh: tanpa catatan tahun], halaman 33).

Semua catatan ini mendorong penguasa untuk bersikap adil, kaum terpelajar untuk tidak mengkhianati pengetahuannya, orang kaya untuk bersikap dermawan, dan orang miskin untuk bersikap sabar. Semua sikap proporsional itu diperlukan untuk menjaga kehidupan sosial dan politik yang sehat.

Sikap sabar di sini tentu saja bukan dalam pengertian pasif. Anjuran sabar itu bukan berarti menuntut orang miskin berdiam diri. Mereka yang miskin harus bergerak aktif untuk memperbaiki nasibnya di tengah kesabaran.

Yang jelas, sikap sabar di sini bermakna pengendalian diri agar tidak kalap di tengah kemiskinan. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)
Selasa 27 November 2018 11:30 WIB
Islam Damai dan Rahmatan lil Alamin
Islam Damai dan Rahmatan lil Alamin
Hakikat Islam
Secara harfiah, islam berarti ‘damai’, ‘selamat’, ‘aman’, atau ‘tenteram’, (Lihat Ismail bin Hammad Al-Jauhari, As-Shihhah: Tajul Lughah Washihahul Arabiyyah, [Beirut, Darul Ilmi: 1990 M], cetakan keempat, halaman 1951) yang semua itu mengacu pada situasi yang sangat didambakan setiap orang.

Situasi ini tidak hanya oleh umat Islam, tetapi juga oleh semua umat manusia di mana pun, bahkan hewan dan tumbuhan sekalipun. Kemudian, secara konseptual, Islam merupakan agama yang mengajarkan monoteisme tauhid yang harus diwujudkan dalam bentuk kepasrahan diri dan ketaatan kepada Allah dan rasul-Nya sebagai utusan pembawa rahmah guna meraih kebahagiaan dan keselamatan, baik di dunia maupun di akhirat (Surat Al-Baqarah ayat 201).

Namun, kebahagiaan itu tidak akan pernah terwujud tanpa kedamaian dan kasih sayang di antara sesama.Intinya, dengan membawa misi damai dan kasih sayang itulah risalah Islam diturunkan ke seluruh alam (Surat Al-Anbiya ayat 107).

Secara tekstual, Al-Qur’an juga mengajarkan kepada kita agar senantiasa mengamalkan nilai-nilai kedamaian secara total. Bahkan, salah satu ayatnya menyebutkan, “Masuklah kalian ke dalam Islam secara utuh,” (Surat Al-Baqarah ayat 208).

Jika kita mengacu pada Islam yang berarti ‘damai’, maka sesungguhnya ayat itu ingin mengatakan, “Masuklah kalian ke dalam kedamaian secara total.” Totalitas dalam pengertian, tidak saja memberikan kedamaian kepada orang yang sekelompok, seormas, atau seakidah dengan kita, tetapi kepada sesama manusia yang berlainan keyakinan, hatta kepada sesama ciptaan-Nya.

Sementara Islam dalam pengertian ‘selamat’ dapat kita baca dalam sabda Rasulullah SAW yang menyatakan bahwa Muslim sejati adalah yang komitmen sepenuh hati menjaga keselamatan saudaranya. (Lihat selengkapnya hadits tersebut yang menyebutkan, “Muslim sejati adalah Muslim yang orang Muslim lainnya selamat dari lisan dan tangannya,”  (HR Al-Bukhari dan Muslim).

Sebaliknya, orang yang yang paling buruk adalah yang tidak bisa diharapkan kebaikannya dan justru ditakuti keburukannya. (Dalam hadits dimaksud, dikatakan, “Orang yang terburuk di antara kalian adalah yang tidak bisa diharapkan kebaikannya dan justru orang lain tidak bisa dirasa aman dari keburukannya,” (HR Tirmidzi). Sungguh sebuah ajaran luhur dan mulia yang telah diajarkan Rasulullah SAW kepada kita.

Ajaran Islam Sarat dengan Damai 
Selama ini, damai masih dipahami sebagai hidup rukun berdampingan antara dua pihak atau dua kekuatan besar yang semula berseteru. Padahal, nyatanya tidaklah demikian. Dalam Islam, jiwa dan individu  umat pun diciptakan sedemikian rupa agar damai dan tenteram, dan keduanya merupakan situasi mendasar.

Ketika beraktivitas atau melaksanakan ritual ibadah, kita kerap diperintah melakukannya dengan cara tenang dan damai. Bahkan, dalam beberapa hal, tujuan ritual itu sendiri adalah ketenangan dan kedamaian. 

Dalam berinteraksi dengan Sang Pencipta (hablum minallah), misalnyakita diperintahkan berzikir mengingat Allah, yang salah satu tujuannya adalah menjalin kedekatan (taqarrub) sekaligus menciptakan jiwa yang damai dan tenteram(Surat Ar-Ra’du ayat 28).

Kemudian, ketika menunaikan shalat, kita diwajibkan melakukannya dengan tuma’ninah alias tenang dan tidak tergesa-gesa.Di akhir shalat,kita diharuskan mengucap salam. Setelahnya, kita dianjurkan berdoa, di antara doa yang kita panjatkan adalah doa selamat dan doa khusus kedamaian, allahumma antassalam waminkassalam.... Dan masih banyak lagi tradisi yang tidak dapat dilepaskan dari semangat perdamaian dan keselamatan.

Bahkan, kelak di akhirat, yang dipanggil oleh Yang Maha Kuasa untuk bergabung dengan kelompok hamba-hamba-Nya dan masuk ke dalam surga-Nya adalah jiwa-jiwa yang damai dan tenang (Surat Al-Fajr ayat 27-30).

Selanjutnya, dalam bermuamalah dengan sesama (hablum minannas), dua insan laki-laki dan perempuan disatukan dalam tali pernikahan yang bertujuan untuk membina keluarga yang sakinah, mawaddah,wa rahmah, alias keluarga yang penuh ketenangan, kecintaan, dan kasih sayang (Surat Ar-Rum ayat 21).

Lantas, sesama Muslim diwajibkan membangun persaudaraan agar terbangun kedekatan, kekuatan, dan keharmonisan (Surat Al-Hujurat ayat 10). Dan dalam lingkup lebih luas, kita juga diajarkan saling menghormati dan menghargai keyakinan orang lain agar tercipta kerukunan di antara sesama umat beragama (Surat Al-Kafirun ayat 6).

Masih dalam rangka hablum minnas, Islam juga mengajarkan kepada kita menebarkan salam alias as-salamu ‘alaikum, baik sewaktu bertamu, bertegur sapa, berjabat tangan, maupun mengawali dan mengakhiri pembicaraan formal, setidaknya kepada sesama Muslim.

Pentingnya menebarkan salam di antara sesama Muslim bukan tanpa dasar dalil yang jelas. Hal itu dapat kita lihat dalam salah satu hadits, “Demi Dzat Yang menggenggam jiwaku, kalian tidak akan masuk surga sampai kalian beriman, dan tidaklah kalian beriman sampai kalian saling mencintai. Maukah aku tunjukkan kepada kalian sesuatu yang membuat kalian jadi saling mencintai? Tebarkanlah salam di antara kalian,” (HR Muslim).

Dalam hadits lain, disebutkan, “Orang-orang yang penyayang akan disayang oleh Zat Yang Maha Penyayang. Karenanya, sayangilah siapa pun yang ada di muka bumi, niscaya akan disayang oleh yang di langit,” (HR Abu Dawud).

Keselamatan adalah sebuah tradisi yang telah berlangsung lama dalam tubuh umat Muslim. Namun, mengapa tradisi itu seolah sirna dari semangat dan substansi yang sesungguhnya, yaitu sebuah doa dan pengharapan yang terpanjatkan untuk kedamaian dan keselamatan orang-orang yang disapa.

Berbicara ajaran, rujukannya tentu Al-Quran dan Sunnah. Dalam Al-Quran sendiri, kata salam atau kata salm,dengan segala derivasinya, disebutkan tidak kurang dari 120 kali, (Lihat Fathurrahman Li Thalibil Quran, [Semarang, CV Diponegoro: tt], halaman 218) yang salah satunya menjadi asma Allah, As-Salam yang berarti zat pemberi keselamatan dan kedamaian.

Ini menunjukkan, Allah adalah sumber kedamaian dan keselamatan, yang mengharuskan para hamba-Nya meraih keduanya. Alhasil, berlandaskan keimanan dan kasih sayang, Islam begitu menekankan pentingnya menyayangi sesama manusia, bahkan sesama makhluk, agar tercipta kedamaian dan keselamatan di dunia dan akhirat. Wallahu a‘lam. (Tatam Wijaya)