IMG-LOGO
Trending Now:
Hikmah

Kisah Orang yang Berlebihan dalam Beribadah (I)

Selasa 4 Desember 2018 22:00 WIB
Kisah Orang yang Berlebihan dalam Beribadah (I)
Ilustrasi (via Pinterest)
Semua manusia dan jin memang diciptakan oleh Allah untuk beribadah. Namun Allah ﷻ  dan Baginda Nabi Agung Muhammad ﷺ tidak menyuruh orang-orang untuk beribadah melebihi kemampuan masing-masing, agar tidak memberatkan.

طه مَا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْقُرْآنَ لِتَشْقَى

Artinya: “Thâhâ. Kami tidak menurunkan Al-Qur’an ini kepada-Mu (Muhammad) supaya engkau menjadi susah.” (QS Thâhâ: 1-2). 

Ayat lain menyebutkan:
 
يُرِيدُ اللهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

Artinya: “Allah menghendaki kalian kemudahan, dan Dia tidak menghendaki kalian kesulitan.” (QS Al-Baqarah: 185)

Dalam hal menjalankan ibadah, Nabi Muhammad ﷺ menyuruh umatnya untuk melakukan perintah agama semampunya. Berbeda jika berupa larangan, kita harus meninggalkan larangan secara total. Shalat wajib kita lakukan, tapi pada batas semampunya. Mampu berdiri, dengan berdiri; mampu duduk, dengan duduk; dan seterusnya. Orang puasa hanya bagi yang mampu. Orang yang sakit, kalau sampai tidak mampu, tidak wajib berpuasa.  Begitu pula zakat dan haji dan lain sebagainya. Semuanya berdasarkan kemampuan. 

Berikut contoh kisah tentang orang yang berlebihan dalam melakukan ibadah. 

Satu ketika, ada tiga kelompok orang yang datang ke rumah istri-istri Nabi. Mereka menanyakan bagaimana ihwal ibadah yang dilakukan Rasulullah ﷺ. Saat mereka dikasih tahu, seolah-olah mereka menganggap bahwa yang dilakukan Rasulullah itu sedikit. 

“Terus di antara kita ini, mana coba yang termasuk seperti Nabi? Padahal Nabi adalah orang yang diampuni segala kesalahannya baik masa silam maupun yang akan datang,” tanya salah seorang di antara mereka kepada komunitasnya. 

Ada yang menjawab, “Aku shalat sepanjang malam penuh.”

“Aku puasa sepanjang tahun, tidak pernah bolong,” jawab yang lain. 

Yang satunya lagi mengatakan, “Kalau aku menghindari wanita. Aku tidak pernah menikah selamanya.”

Setelah mereka mengutarakan usahanya untuk bisa mirip dengan Rasulullah, Nabi kemudian datang seraya menanyakan, “Hai, apakah kalian tadi yang mengatakan demikian, kamu menyebutkan begini, begini? Perlu aku jelaskan, aku ini adalah orang yang paling takut kepada Allah jika dibanding dengan kalian. Aku juga orang yang paling taat kepada Allah. Meski begitu, aku terkadang berpuasa, kadang juga tidak. Aku juga melaksanakan ibadah, shalat malam, namun aku tidur juga. Aku juga menikahi wanita. Barangsiapa yang membenci sunnahku, ia bukan dari golonganku,” tandas Rasulullah ﷺ. (HR Bukhari Muslim. Lihat: Muhammad bin Ismail al-Bukhâri, Shahih Bukhâri, [Dâru Thûqin Najâh, 1422 H], juz 7, halaman 2)

Dari cerita di atas, perlu kita garisbawahi, setiap sesuatu yang penting adalah konsistensi (istiqamah), bukan sekali gebyar, capai, kemudian menghilang. Sebab, yang dihitung pahala banyak itu konsistensinya. Jika hanya sekali, kemudian berhenti, pahalanya juga akan berhenti. Berbeda kalau terus-menerus, selama ibadah itu dilakukan, ibadahnya akan mengalirkan pahala. Wallâhu a’lam. (Ahmad Mundzir) 

Share: