IMG-LOGO
Jumat

Apakah Pelaksanaan Ibadah Jumat Harus Izin Pemerintah?

Jumat 7 Desember 2018 8:30 WIB
Share:
Apakah Pelaksanaan Ibadah Jumat Harus Izin Pemerintah?
(Foto: @reuters)
Idealnya, pelaksanaan Jumat dilakukan dalam satu tempat, satu masjid. Setiap sepekan sekali seluruh penduduk desa berkumpul bersama-sama untuk melaksanakan ibadah Jumat atau sebagian ulama menyebutnya muktamar mingguan. Yang demikian itu sesuai dengan hikmah pensyariatan Jumat, yaitu untuk mempersatukan dan mengharmoniskan umat.

Namun, tidak semua pelaksanaan Jumat di beberapa daerah berjalan dengan mulus. Nyatanya masih ditemukan beberapa kendala untuk menyatukan pelaksanaan Jumat. Misalkan daya tampung masjid yang tidak memadai, tempat yang terlalu jauh dijangkau atau karena ada konflik internal di antara masyarakat.

Dampaknya, masing-masing mendirikan Jumatan baru, sebab tidak memungkinkan dilaksanakan dalam satu tempat. Saat mendirikan jumatan tandingan, sebagian meminta izin pemerintah setempat, namun ada juga yang tidak melakukannya.

Secara hukum fiqih, berbilangnya Jumat karena faktor-faktor tersebut diperbolehkan karena ada hajat. Kami sudah mengupasnya dalam tema khusus tentang hukum melaksanakan dua Jumatan dalam satu desa. Fokus tulisan ini adalah mengenai keharusan izin pemerintah dalam pelaksanaan Jumat, apakah hal tersebut diwajibkan?

Dalam masalah ini, ulama berbeda pendapat. Menurut tiga mazhab, Syafi’iyyah, Malikiyyah, dan Hanabilah tidak wajib izin pemerintah. Menurut pendapat ini, Jumat tetap sah meski tanpa izin penguasa, namun hukumnya sunah meminta izin terlebih dahulu sebelum mendirikan Jumat.

Sedangkan menurut kalangan Hanafiyyah wajib izin, pendapat ini menegaskan tidak sah pelaksanaan Jumat tanpa izin pemerintah. Sebelum masjid digunakan untuk pelaksanaan Jumat, pihak takmir wajib meminta rekomendasi terlebih dahulu kepada pemerintah daerah setempat.

Keterangan ini sebagaimana ditegaskan dalam referensi berikut ini:

قال الأئمة الثلاثة بصحة الجمعة بغير إذن السلطان ولكن المستحب استئذانه وقال أبو حنيفة إنها لا تنعقد إلا بإذنه قاله الشعراني في الميزان.

Artinya, “Tiga imam mengatakan sahnya Jumat tanpa izin penguasa, namun yang disunahkan adalah meminta izinnya. Abu Hanifah berkata Jumat tidak sah kecuali dengan izin pemerintah. Hal ini dikatakan Imam As-Sya’rani dalam kitab Al-Mizan,” (Lihat Syekh Umar bin Muhammad As-Saqaf, Mukhtashar Tasyyid Al-Bunyan, halaman 160).

Selain wajib izin pemerintah, ulama Hanafiyyah juga mensyaratkan pemerintah, stafnya atau departemen yang diberi wewenang mendirikan Jumat, harus bertindak sebagai imam dan khatib Jumat. Mereka berpandangan, syarat ini untuk mengantisipasi adanya perebutan imam atau khatib.

Uama selain Hanafiyyah tidak mensyaratkan izin imam dan bertindaknya pemerintah sebagai khatib dan imam Jumat karena perilaku para sahabat.

Pernah suatu ketika Khalifah Utsman berhalangan untuk menghadiri Jumat, kemudian Sahabat Ali menggantikannya tanpa izin dari Sahabat Utsman, hal ini tidak ada satu pun sahabat yang mengingkarinya.

Pertimbangan lainnya, Jumat sama dengan Zuhur sehingga tidak memerlukan dua syarat di atas. Syekh Wahbah Az-Zuhayli mengatakan:

اشترط الحنفية هذين الشرطين: الأول ـ أن يكون السلطان ولو متغلباً أو نائبه، أو من يأذن له بإقامة الجمعة كوزارة الأوقاف الآن هو إمام الجمعة وخطيبها؛ لأنها تقام بجمع عظيم، وقد تقع منازعة في شؤون الجمعة، فلا بد منه تتميماً لأمره، ومنعاً من تقدم أحد

Artinya, “Ulama Hanafiyyah mensyaratkan dua syarat ini. Pertama, penguasa, penggantinya atau orang yang diberi izin untuk mendirikan Jumat seperti departemen wakaf sekarang harus menjadi Imam dan khatib Jumat, sebab Jumat didirikan dengan kelompok besar, terkadang terjadi perselisihan dalam urusan Jumat, maka wajib terpenuhi syarat ini, untuk menyempurnakan pelaksanaannya dan mencegah berebut majunya siapapun.”

والثاني ـ الإذن العام: وهو أن تفتح أبواب الجامع ويؤذن للناس بالدخول إذناً عاماً، بأن لا يمنع أحد ممن تصح منه الجمعة عن دخول الموضع الذي تصلى فيه؛ لأن كل تجمع يتطلب الإذن بالحضور، ولأنه لا يحصل معنى الاجتماع إلا بالإذن، ولأنها من شعائر الإسلام، وخصائص الدين، فلزم إقامتها على سبيل الاشتهار والعموم.

Artinya, “Kedua, izin umum, yaitu pintu-pintu masjid Jami’ dibuka dan pemerintah mengizinkan manusia untuk memasukinya secara umum, dengan sekira orang yang mengesahkan jumat tidak dicegah untuk memasuki tempat pelaksanaan Jumat, sebab setiap perkumpulan menuntut untuk izin untuk menghadirinya dan karena tidak hasil makna perkumpulan kecuali dengan izin, alasan lain Jumat adalah termasuk syi’arnya Islam dan kekhasan agama, maka pendiriannya wajib disebarluaskan dan diumumkan.”

ولم يشترط غير الحنفية هذين الشرطين، فلا يشترط إذن الإمام لصحة الجمعة، ولا حضوره؛ لأن علياً صلى بالناس، وعثمان محصور، فلم ينكره أحد، وصوبه عثمان ، ولأن الجمعة فرض الوقت، فأشبهت الظهر في عدم هذين الشرطين

Artinya, “Selain Hanafiyyah tidak mensyaratkan dua syarat ini, maka tidak disyaratkan izin imam untuk keabsahan Jumat dan tidak pula disyaratkan kehadiran imam. Sebab Sayyidina Ali pernah shalat Jumat mengimami manusia saat Khalifah Utsman tertahan, kemudian tidak ada satu pun orang yang mengingkarinya, Khalifah Utsman juga membenarkan tindakan Sahabat Ali. Alasan lain, Jumat adalah shalat fardhu yang harus dilaksanakan di dalam waktunya, sehingga menyerupai shalat Zuhur dalam sisi tidak adanya dua syarat ini,” (Lihat Syekh Wahbah Az-Zuhayli, Al-Fiqhul Islami wa Adillatuhu, juz II, halaman 436).

Demikian penjelasan mengenai kedudukan izin pemerintah berkaitan dengan pelaksanaan Jumat. Afdhalnya tetap meminta izin terlebih dahulu kepada pemerintah atau aparat setempat, untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Semoga bermanfaat. Wallahu a'lam. (M Mubasysyarum Bih)
Tags:
Share:
Selasa 4 Desember 2018 17:45 WIB
Apakah Ujaran Kebencian Batalkan Keabsahan Khutbah Jumat?
Apakah Ujaran Kebencian Batalkan Keabsahan Khutbah Jumat?
(Foto: @wikipedia)
Khutbah Jumat dimaksudkan untuk memberi mauizhah, pesan menyejukkan dan mendamaikan. Namun, esensi khutbah ini mulai tercerabut dari akarnya. Di beberapa tempat banyak dijumpai pesan khutbah yang disampaikan justru mengarah pada caci maki dan ujaran kebencian. Padahal keabsahan Jumat bergantung pada keabsahan khutbahnya.

Pertanyaannya adalah apakah caci maki, ujaran kebencian dan yang sejenis dapat membatalkan keabsahan Jumat?

Ujaran kebencian, menggunjing, dan mencaci maki bukan ajaran Nabi. Meski kaumnya menyimpang dan biadab, Nabi tetap sabar. Nabi tidak mengeluarkan caci maki atau kata-kata kotor. Khutbah yang disampaikan Nabi tetap tenang menyejukan penuh kasih sayang. 

Hal ini tergambar jelas dalam sebuah hadits:

إني لم أبعث لعانا وانما بعثت رحمة

Artinya, “Sesungguhnya aku tidak diutus sebagai pelaknat. Aku diutus sebagai rahmat,” (HR Muslim).

Nabi berpesan agar di antara Muslim jangan saling mendengki, membenci dan berpaling muka. Khatib yang gemar mencaci maki, mengujarkan kebencian dan menggunjing sesungguhnya bertolak belakang dengan pesan Nabi ini.

Caci maki, ujaran kebencian dan menggunjing hukumnya haram, termasuk saat disampaikan di dalam khutbah Jumat.

Dalam kajian ushul fiqih, ibadah yang terdapat unsur keharaman, tidak selamanya dinyatakan batal. Salah satu kasusnya, orang shalat memakai pakain hasil curian atau di tempat ghasaban. Shalatnya tetap sah, namun haram dari sisi memakai harta atau tempat orang lain tanpa seizin pemiliknya. Pun demikian dalam kasus ini.

Secara hukum taklifi (hukum berdasarkan pertimbangan halal-haram), khutbah berisikan ujaran kebencian dan caci maki adalah haram, sebab agama melarang keras akan hal tersebut. Banyak dalil yang menjelaskan mengenai keharamannya.

Fokus pembahasan di tulisan ini adalah mengenai status keabsahan khutbahnya. Dalam kajian ushul fiqih disebut dengan hukum wadh’i (hukum berdasarkan pertimbangan sah dan batal).

Untuk mengukur pertimbangan sah dan tidaknya sebuah ibadah prinsipnya adalah kembali pada syarat dan rukun ibadah itu sendiri. Bila semua terpenuhi, maka ibadahnya sah. Bila tidak terpenuhi, maka ibadahnya batal.

Salah satu syarat yang harus terpenuhi dalam khutbah adalah berkesinambungan, sambung menyambung tanpa ada pemisah di antara rukun-rukunnya. Tidak boleh ada jeda atau pemisah yang lama berupa pembicaraan lain yang menyimpang dari isi khutbah.

Tidak termasuk pemisah yang memutus kesinambungan khutbah, materi yang masih berkaitan dengan khutbah, meski panjang dan lama, karena hal tersebut tergolong kemaslahatan khutbah. Yang dimaksud materi yang berkaitan dengan khubah adalah materi yang memuat mau’izhah.

Syekh Sulaiman Al-Bujairimi mengatakan:

قال المؤلف (وولا) بينهما وبين أركانهما وبينهما وبين الصلاة (قوله وبين أركانهما) ولا يقطعها الوعظ وإن طال لأنه من مصالح الخطبة فالخطبة الطويلة صحيحة كما قرره شيخنا

Artinya, “Dan disyaratkan terus menerus di antara dua khutbah, di antara rukun-rukunnya dan di antara dua khutbah dan shalat Jumat. Ucapan di antara rukun-rukunnya, maksudnya tidak dapat memutus syarat berkesinambungan, mauizhah khutbah meski panjang karena termasuk kemaslahatan khutbah, maka khutbah yang panjang hukumnya sah sebagaimana ditegaskan oleh guru kami,” (Lihat Syekh Sulaiman Al-Bujairimi, Hasyiyatul Bujairami ‘ala Fathil Wahhab, juz IV, halaman 94).

Termasuk perkara yang tidak dapat memutus kesinambungan di antara rukun-rukun khutbah adalah bacaan ayat suci Al-Qur’an, namun disyaratkan harus memuat mau’izhah. Syekh Abu Bakr bin Syatha menegaskan:

فإن فصل بما له تعلق بها لم يضر، فلا يقطع الموالاة الوعظ وإن طال، وكذا قراءة وإن طالت حيث تضمنت وعظا

Artinya, “Bila dipisah dengan perkara yang berhubungan dengan khutbah, maka tidak bermasalah, maka tidak dapat memutus kesinambungan yaitu mau’izhah meski panjang, demikian pula Al-Qur’an meski panjang bila memuat mau’izhah,” (Lihat Syekh Abu Bakr Bin Syatha, I’anatut Thalibin, juz II, halaman 83).

Dari referensi di atas dapat dipahami bahwa ujaran kebencian dan caci maki bukan termasuk hal-hal yang berkaitan dengan khutbah sehingga keberadaannya bukan termasuk kemasalahatan khutbah. Bila demikian adanya, hal tersebut dapat memutus kesinambungan khutbah bila disampaikan lama dan panjang. 

Batasan pemisah yang lama adalah sekira cukup untuk dibuat melaksanakan shalat dua rakaat yang ringan, tidak terlalu dipanjangkan pelaksanaannya. Syekh Muhammad Nawawi bin Umar Al-Jawi mengatakan:

قال المؤلف (وولاء) بين الخطبتين وبين أركانهما وبعضها وبينهما وبين الصلاة وضابط الموالاة أن لا يتخلل ما يسع ركعتين بأخف ممكن

Artinya, “Disyaratkan berkesinambungan di antara dua khutbah, di antara rukun-rukunnya, sebagiannya, di antara khutbah dan shalat Jumat. Batasan berkesinambungan adalah tidak disela oleh waktu yang cukup melaksanakan shalat dua rakaat dengan durasi yang paling ringan dan memungkinkan,” (Lihat Syekh Nawawi bin Umar Al-Jawi, Nihayatuz Zain, halaman 138).

Simpulannya, materi caci maki dan ujaran kebencian dapat membatalkan keabsahan khutbah bila disampaikan dalam durasi yang lama, sekiranya cukup dibuat melakukan shalat dua rakaat dengan durasi yang paling ringan dan memungkinkan.

Dalam titik ini, khutbah harus diulang, karena tidak memenuhi persyaratan khutbah, yaitu sambung menyambung di antara rukun-rukun khutbah. Bila tidak memenuhi perincian ini, khutbahnya tetap sah, namun tetap haram, sebab materi yang disampaikan mengarah kepada keharaman.

Meski khutbahnya sah, namun bagaimana pun khatib adalah pemimpin jamaah. Sakralitas mimbar hendaknya ia jaga dengan baik dengan memberikan pesan yang menyejukkan, bukan justru menjadi ajang merundung (mem-bully) pihak lain yang dapat membatalkan pahala ibadah. Demikian semoga bermanfaat. Wallahu a'lam. (M Mubasysyarum Bih)
Ahad 25 November 2018 15:0 WIB
Kafarat atau Denda Meninggalkan Jumat tanpa Uzur
Kafarat atau Denda Meninggalkan Jumat tanpa Uzur
Hukum melaksanakan Jumat bagi laki-laki adalah wajib. Kewajiban tersebut berlaku bagi mereka yang telah memenuhi syarat-syarat kewajiban Jumat. Kewajiban Jumat secara langsung ditegaskan Allah subhanahu wata'ala dalam firman-Nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ

“Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum'at, Maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli.” (QS. Al-Jumu’ah, ayat 9).

Nabi memperingatkan keras kepada mereka yang meninggalkan Jumat tanpa uzur. Nabi menjelaskan orang yang meninggalkan tiga kali Jumatan, hatinya keras, tersumbat, sehingga menyebabkan lalai dan tidak dapat menerima kebaikan. Nabi bersabda:

عَنْ عَبْدِ الله بْنِ عُمَرَ وَأَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ الله عَنْهُمْ، - أَنَّهُمَا سَمِعَا رَسُولَ الله- صلى الله عليه وسلم - يَقُولُ -عَلَى أَعْوَادِ مِنْبَرِهِ- "لَيَنْتَهِيَنَّ أَقْوَامٌ عَنْ وَدْعِهِمُ اَلْجُمُعَاتِ، أَوْ لَيَخْتِمَنَّ اللهُ عَلَى قُلُوبِهِمْ، ثُمَّ لَيَكُونُنَّ مِنَ اَلْغَافِلِينَ 

“Dari Abdillah bin Umar dan Abi Hurairah, beliau beruda mendengar Rasulullah Saw bersabda di atas kayu mimbarnya, sungguh berhentilah kelompok dari meninggalkan beberapa Jumat atau sungguh Allah menutup hati mereka, kemudian mereka sungguh termasuk orang-orang yang lalai.” (HR. Muslim).

Dalam riwayat lain disebutkan:

مَنْ تَرَكَ ثَلَاثَ جُمَعٍ تَهَاوُنًا طَبَعَ اللهُ عَلَى قَلْبِهِ

“Barangsiapa meninggalkan tiga kali Jumat karena meremehkan, Allah menutupi hatinya.” (HR. Abu Daud dan lainnya).

Yang dimaksud menutupi hati adalah memenuhinya dengan karat. Kalimat ini adalah sebagai kata kiasan dari mentiadakan sifat halus dan sebab-sebab kebaikan. Syekh Abdurrauf al-Manawi mengatakan:

أي يطبع عليها ويغطيها بالرين كناية عن اعدام اللطف وأسباب الخير فان تركها يغلب الرين على القلب وذلك يجر الى الغفلة

“Maksudnya mengecap dan menutupinya dengan karat, ini adalah kata kiasan dari mentiadakan sifat halus dan sebab-sebab kebaikan, sesungguhnya meninggalkan Jumat menyebabkan hati penuh karat, hal yang demikian dapat mengantarkan kepada kelalaian.” (Syekh Abdurrauf al-Manawi, al-Taisir Bisyarh al-Jami’ al-Shaghir, juz 2, hal. 647).

Orang yang meninggalkan Jumat sesungguhnya telah melakukan dosa, maka yang paling inti adalah secepatnya bertobat dengan cara menyesal, menyudahi kemaksiatan dan bertekad kuat tidak akan mengulanginya lagi. Tidak lupa untuk memperbanyak bacaan istighfar.

Selain itu, dianjurkan pula untuk bersedekah senilai satu dinar atau setengah dinar. Satu dinar bila dikonversikan ke dalam mata uang adalah nominal harga emas murni seberat 3,879 gram, sedangkan setengah dinar adalah emas 1,939 gram. Anjuran bersedekah ini menurut Imam al-Mawardi sebagaimana dikutip al-Imam al-Nawawi, karena hadits riwayat Samurah. Menurut al-Mawardi, karena lemahnya riwayat hadits ini, anjuran bersedekah tidak sampai kepada derajat perintah wajib, namun tetap bisa dipakai bila dikaitkan dengan fadlail al-a’mal (keutamaan amal).

Mengenai anjuran bersedekah ini, Syekh al-Nawawi menegaskan:

قال صاحب الحاوى يستحب لمن ترك الجمعة بلا عذر ان يتصدق بدينار أو نصف دينار لحديث سمرة ان النبي صلى الله عليه وسلم قال " من ترك الجمعة فليتصدق بدينار أو نصف دينار " قال ولا يلزمه ذلك لان الحديث ضعيف وهذا الحديث رواه أحمد في مسنده وأبو داود والنسائي وابن ماجه 

“Pengarang kitab al-Hawi (Imam al-Mawardi) berkata, disunahkan bagi orang yang meninggalkan Jumat tanpa uzur, bersedekah dengan satu atau setengah dinar, karena haditsnya Samurah bahwa Nabi berkata, barang siapa meninggalkan Jumat, maka bersedekahlah dengan satu atau setengah dinar. Pengarang al-Hawi berkata, hal tersebut tidak wajib karena haditsnya dla’if. Hadits ini diriwayatkan imam Ahmad dalam kitab musndanya, demikian pula Abu Daud, al-Nasa’i dan Ibnu Majah.” (Syekh Syarafuddin Yahya al-Nawawi, al-Majmu’ Syarh al-Muhadzzab, juz 4, hal. 591)

Kafarat (denda) bersedekah ini menurut sebagian ulama juga berlaku untuk setiap setiap perbuatan kemaksiatan, semisal menggunjing, berkata bohong dan lain-lain. Syekh al-Qalyubi mengatakan:

ـ ( فرع ) قال في المجموع ، ومن ترك الجمعة بلا عذر يندب له أن يتصدق بدينار أو نصفه ، وعممه بعضهم في إتيان كل معصية 

“Cabangan permasalahan. Al-Imam al-Nawawi berkata dalam kitab al-Majmu’, barang siapa meninggalkan Jumat tanpa uzur, disunahkan baginya bersedekah satu atau separuh dinar. Sebagian ulama memberlakukan umum anjuran ini dalam setiap perbuatan maksiat.” (Syekh al-Qalyubi, Hasyiyah al-Qalyubi ‘ala al-Mahalli, juz 2, hal. 9)

Demikianlah penjelasan mengenai kafarat meninggalkan Jumat tanpa uzur. Semoga bermanfaat. Semoga kita diberi kekuatan untuk istiqamah melaksanakan Jumat. Wallahu a’lam.

(M. Mubasysyarum Bih)

Jumat 23 November 2018 11:0 WIB
Ini Lafal Niat Shalat Sunnah Ba‘diyyah Jumat
Ini Lafal Niat Shalat Sunnah Ba‘diyyah Jumat
(Foto: @prayerinislam.com)
Shalat sunnah ba‘diyyah adalah shalat sunnah rawatib yang dilakukan setelah shalat wajib. Khusus untuk shalat Subuh dan Ashar, tiada kesunnahan shalat ba‘diyyah. Bahkan shalat ba‘diyyah Subuh dan Ashar terbilang makruh yang mendekati haram.

Adapun kesunnahan shalat ba‘diyyah Jumat tetap berlaku sebagaimana shalat sunnah rawatib yang mengiringi shalat Zuhur.

قَوْلُهُ (نَفْلُ يَوْمِ الْجُمُعَةِ) أَيْ سُنَّتُهَا الْقَبْلِيَّةُ وَأَمَّا الْبَعْدِيَّةُ فَفِعْلُهَا فِي الْبَيْتِ أَفْضَلُ

Artinya, “Redaksi (shalat nafilah hari Jumat), maksudnya shalat sunnah qabliyyah Jumat. Sedangkan shalat sunnah ba‘diyyah Jumat dikerjakan lebih utama di rumah,” (Lihat Syekh Sulaiman Al-Bujairimi, Hasyiyatul Bujairimi ‘alal Manhaj, juz II, halaman 458).

Syekh Sulaiman Al-Bujairimi dari Mazhab Syafi‘i mengatakan bahwa shalat ba‘diyyah Jumat dianjurkan dikerjakan di rumah. Pandangan ini didasarkan pada asumsi bahwa jarak masjid dan rumah cukup dekat. Menurut hemat kami, kalau masjid tempat ibadah Jumat itu jauh dari rumah, shalat ba‘diyyah Jumat sebaiknya dilakukan di masjid.

Berikut ini adalah lafal niat shalat sunnah ba‘diyyah Jumat:

أُصَلِّيْ سُنَّةَ الجُمُعَةِ رَكْعَتَيْنِ بَعْدِيَّةً لِلهِ تَعَالَى

Ushalli sunnatal Jumu‘ati rak‘ataini ba‘diyyatan lillāhi ta‘ālā.

Artinya, “Aku menyengaja sembahyang sunnah ba‘diyyah Jumat dua rakaat karena Allah SWT,” (Lihat Perukunan Melayu, ikhtisar dari karya Syekh M Arsyad Banjar, [Jakarta, Al-Aidarus: tanpa tahun], halaman 13).

Hari Jumat tidak menghilangkan kesunnahan shalat sunnah ba‘diyyah setelah shalat Jumat. Shalat ba‘diyyah Jumat tetap disunnahkan sebagai kesunnahan shalat sunnah rawatib setelah Zuhur. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)