Indonesia di Ujung Tanduk? Ini Bahaya Serius Jika Jabatan Diisi Orang Tak Kompeten!
NU Online ยท Kamis, 10 April 2025 | 11:15 WIB
Ahmad Maimun Nafis
Kolumnis
Setiap pergantian pemerintahan pasti diikuti oleh pengangkatan pejabat-pejabat baru. Fenomena ini sering menjadi sorotan, terutama ketika kelayakan individu yang diangkat dipertanyakan. Dalam konteks modern, konsep meritokrasiโyakni pengangkatan berdasarkan kemampuan dan prestasiโmenjadi penting untuk dibahas, terutama dalam bingkai ajaran Islam.
ย
Apakah Islam mendukung meritokrasi sebagai prinsip dalam pengelolaan pemerintahan?
ย
โโโโโBagaimana Islam memandang pengangkatan pejabat yang tidak kompeten hanya demi kepentingan politik?
ย
Pertanyaan-pertanyaan ini menjadi relevan untuk dijawab guna memahami hubungan antara prinsip Islam dan praktik pemerintahan yang berkeadilan.
ย
Baca Juga
Adab Pejabat Jawab Pertanyaan Publik
Meritokrasi dalam Islam
Meritokrasi, atau pengangkatan seseorang berdasarkan kompetensi, merupakan implementasi dari konsep amanah dalam Islam. Dalam hadis Rasulullah sawย disebutkan:
ย
ูููููููู
ู ุฑูุงุนู ูููููููููู
ู ู
ูุณูุฆูููู ุนููู ุฑูุนููููุชูููุ ููุงููุฃูู
ููุฑู ุฑูุงุนู
ย
Artinya, "Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Seorang pemimpin adalah pemimpin atas rakyatnya". (HR Al-Bukhari dan Muslim).
ย
Artinya, setiap pemimpin bertanggung jawab atas rakyatnya. Prinsip ini menegaskan pentingnya pemimpin yang mampu memenuhi tanggung jawabnya dengan adil dan kompeten.
Selain itu, kaidah fiqhiyah menyatakan:
ย
ุชูุตูุฑูููู ุงููุฅูู
ูุงู
ู ุนูููู ุงูุฑููุนููููุฉู ู
ููููุทู ุจูุงููู
ูุตูููุญูุฉู
ย
Artinya, "Tindakan seorang pemimpin terhadap rakyatnya bergantung pada kemaslahatan."
ย
Kebijakan seorang pemimpin terhadap rakyat harus didasarkan pada kemaslahatan. Maka, meritokrasi adalah sarana untuk memastikan bahwa mereka yang menduduki jabatan adalah orang-orang yang berkompeten dan dapat membawa kemaslahatan.
ย
Akibat Mengangkat Pejabat yang Tidak Kompeten
Ketika amanah diabaikan dan jabatan diberikan kepada orang yang tidak layak, maka ini adalah bentuk pengkhianatan. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairahย ra, Nabi saw bersabda:
ย
ุนููู ุฃูุจูู ููุฑูููุฑูุฉู ููุงูู: ุจูููููู
ูุง ุงููููุจูููู ๏ทบ ููุญูุฏููุซู ุฅูุฐู ุฌูุงุกู ุฃูุนูุฑูุงุจููููุ ููุงูู: ู
ูุชูู ุงูุณููุงุนูุฉูุ ููุงูู: ููุฅูุฐูุง ุถููููุนูุชู ุงููุฃูู
ูุงููุฉู ููุงููุชูุธูุฑู ุงูุณููุงุนูุฉู. ููุงูู: ูููููู ุฅูุถูุงุนูุชูููุงุ ููุงูู: ุฅูุฐูุง ููุณููุฏู ุงููุฃูู
ูุฑู ุฅูููู ุบูููุฑู ุฃููููููู ููุงููุชูุธูุฑู ุงูุณููุงุนูุฉู
ย
Artinya, "Dari Abu Hurairah, beliau berkata: Ketika Nabi ๏ทบ sedang berbicara, tiba-tiba datang seorang Arab badui dan bertanya, โKapan hari kiamat?โ Nabi ๏ทบ menjawab, โApabila amanah disia-siakan, maka tunggulah kiamat.โ Orang itu bertanya lagi, โBagaimana amanah itu disia-siakan?โ Beliau menjawab, โApabila suatu urusan diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya, maka tunggulah kiamat.โ (HR Al-Bukhari).
ย
Ibnu Baththalย menjelaskan bahwa pemimpin yang mengabaikan amanah dengan mengangkat orang yang tidak berkompeten berarti telah melanggar kewajiban syarโi. Beliau menyatakan:
ย
ุฃูููู ุงููุฃูุฆูู
ููุฉู ููุฏู ุงุฆูุชูู
ูููููู
ู ุงูููููู ุนูููู ุนูุจูุงุฏูููุ ููููุฑูุถู ุนูููููููู
ู ุงููููุตููุญูุฉู ููููู
ูุ ูููููููููู ๏ทบ: ูููููููู
ู ุฑูุงุนู ูููููููููู
ู ู
ูุณูุฆูููู ุนููู ุฑูุนููููุชูููุ ููููููุจูุบูู ููููู
ู ุชูููููููุฉู ุฃููููู ุงูุฏููููู ููุงููุฃูู
ูุงููุฉู ููููููุธูุฑู ููู ุฃูู
ูุฑู ุงููุฃูู
ููุฉูุ ููุฅูุฐูุง ูููููุฏููุง ุบูููุฑู ุฃููููู ุงูุฏูููููุ ููุงุณูุชูุนูู
ููููุง ู
ููู ููุนููููููู
ู ุนูููู ุงููุฌูููุฑู ููุงูุธููููู
ู ููููุฏู ุถููููุนููุง ุงููุฃูู
ูุงููุฉู ุงูููุชูู ููุฑูุถู ุงูููููู ุนูููููููู
ู
ย
Artinya, "Sesungguhnya para pemimpin telah diamanahi oleh Allah atas hamba-hamba-Nya dan diwajibkan kepada mereka untuk memberikan nasihat kepada rakyatnya, sebagaimana sabda Rasulullah ๏ทบ: 'Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya.'
ย
Karena itu, mereka wajib menunjuk orang-orang yang beragama dan amanah untuk mengurus urusan umat. Jika mereka menyerahkan kepemimpinan kepada orang yang tidak beragama dan menggunakan orang-orang yang membantu mereka dalam kezaliman dan ketidakadilan, maka mereka telah menyia-nyiakan amanah yang telah Allah tetapkan atas mereka". (Syarh Shahih Al-Bukhari, [Riyadh, Maktabah Ar-Rusyd: 2003], jilid I, halamanย 148).
ย
Hal ini senada dengan perkataan Sahabat Hudzaifahย ra:
ย
ุฅูุฐูุง ููุงูู ููุงููู ุงููููููู
ู ุฎูููุฑูุง ู
ูููููู
ู ููู
ู ููุฒููููุง ููู ุนูููููุงุกูุ ููุฅูุฐูุง ููุงูู ููุงููููููู
ู ุดูุฑููุง ู
ูููููู
ู - ุฃููู ููุงูู: ุดูุฑููููู
ู - ููู
ู ููุฒูุฏูุงุฏููุง ุฅููููุง ุณูููุงููุง
ย
Arttinya, "Apabila pemimpin suatu kaum lebih baik daripada mereka, mereka akan tetap berada dalam kemuliaan. Namun, apabila pemimpin mereka lebih buruk daripada mereka โ atau ia berkata: pemimpin mereka adalah yang terburuk โ mereka tidak akan bertambah kecuali dalam kehinaan." (Ibnu Abdil Barr, ,At-Tamhid li Ma filย Muwaththaโ minalย Maโani walย Asanid, [London, Muassasah Al-Furqan litย Turats Al-Islami: 2017, jilid XIII, halamanย 526).
ย
Tanda Akhir Zaman
Pengkhianatan terhadap amanah menjadi salah satu tanda akhir zaman. Imam Al-Qasthalani menulis:
ย
ุฃูููู ุงูุณููุงุนูุฉู ููุง ุชููููู
ู ุญูุชููู ููุคูุชูู
ููู ุงููุฎูุงุฆูููุ ููููุฐูุง ุฅููููู
ูุง ููููููู ุฅูุฐูุง ุบูููุจู ุงููุฌููููุงูู ููุถูุนููู ุฃููููู ุงููุญูููู ุนููู ุงููููููุงู
ู ุจููู ููููุตูุฑููู
ย
Artinya, "Sesungguhnya hari kiamat tidak akan terjadi hingga orang yang khianat diberi kepercayaan (jabatan), dan hal ini hanya terjadi ketika orang-orang bodoh mendominasi dan orang-orang yang berada di pihak kebenaran melemah untuk menegakkan serta membelanya". (Irsyadus Sari, [Mesir, Al-Mathbaโah Al-Kubra Al-Amiriyah:1323 H], jilid I, halamanย 154).
ย
Meritokrasi adalah bentuk amanah yang harus dijunjung tinggi dalam pemerintahan. Mengangkat orang yang kompeten sesuai prinsip syariat adalah kunci untuk menciptakan keadilan dan kemaslahatan. Sebaliknya, mengabaikan prinsip ini adalah awal dari kehancuran umat. Sebagai Muslim, kita memiliki tanggung jawab untuk menegakkan amanah ini demi keberkahan dunia dan akhirat.ย Wallahuย a'lam.
ย
Ustadz Ahmad Maimun Nafis, Pengajar di Pondok Pesantren Darul Istiqamah, Batuan, Sumenep.
Terpopuler
1
Khutbah Jumat: Kemarau Panjang, Saatnya Muhasabah dan Ikhtiar
2
Kemenag Buka Program Persiapan Studi ke Luar Negeri, Ini Syarat dan Cara Daftarnya
3
Ngaji Al-Hikam, Kiai Miftach Ungkap Makna Keramat dalam Perjalanan Spiritual
4
Khutbah Jumat: Jangan Biarkan Rakyat Berjuang Sendiri Saat Bencana
5
Baca Doa Ini untuk Jaga Kesehatan Mental
6
Banjir Landa Sejumlah Pemukiman di 7 Kecamatan Abdya, Warga Diminta Tetap Waspada
Terkini
Lihat Semua