IMG-LOGO
Trending Now:
Bahtsul Masail

Makmum Belum Selesaikan Fatihah, Imam Keburu Ruku’, Bagaimana?

Sabtu 13 April 2019 8:0 WIB
Share:
Makmum Belum Selesaikan Fatihah, Imam Keburu Ruku’, Bagaimana?
Assalaamu'alaikum Wr Wb.

Sebelumnya kami mohon maaf, izinkan kami bertanya tentang bab shalat. Pertanyaan kami: dalam shalat apakah makmum wajib melengkapi bacaan Fatihah-nya? Misal saya shalat Isya’ bermakmum kepada Zaid dan ketika rakaat ketiga bacaan Fatihah saya tidak selesai, hanya sampai iyyâka na'budu wa iyyâka nasta'in dan imam langsung ruku’, apakah Fatihah saya tetap dilanjutkan atau setelah iyyâka na'budu wa iyyâka nasta'in langsung mengikuti ruku’? Terima kasih. (Sri Suharto)

Jawaban:

Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh,

Penanya yang budiman, semoga Anda senantiasa mendapatkan rahmat dan hidayah dari Allah subhanahu wata’ala.

Imam dalam shalat jamaah memiliki fungsi yang begitu penting bagi makmum. Wajib bagi makmum untuk mengikuti segala gerakan imam. Tidak boleh ada perbedaan gerakan dengan imam. Hal ini sesuai dengan hadits:

إنما جعل الإمام ليؤتم به فلا تختلفوا عليه فإذا كبّر فكبّروا وإذا ركع فاركعوا

“Imam itu dijadikan hanya untuk diikuti, maka janganlah kalian menyelisihi imam. Jika imam telah takbir maka takbirlah kalian. Jika imam telah ruku’ maka ruku’lah kalian.” (HR Bukhari Muslim)

Terkait bacaan Fatihah-nya, makmum terbagi dalam dua jenis. Pertama, makmum muwafiq, yakni mereka yang mendapati imam pada saat berdiri sebelum ruku’ dan menemukan waktu yang cukup untuk menyempurnakan bacaan Fatihah-nya sendiri sebelum imam beranjak untuk ruku’. Maka dalam keadaan demikian wajib bagi makmum untuk menyempurnakan bacaan Fatihah-nya.

Kedua, makmum masbuq, yaitu mereka yang mendapati imam pada saat berdiri sebelum ruku’ tapi tidak menemukan waktu yang cukup untuk menyempurnakan bacaan Fatihah-nya dirinya sendiri karena imam sudah ruku’ terlebih dahulu sebelum bacaan Fatihah-nya ia baca secara komplet. Dalam keadaan demikian wajib baginya untuk langsung mengikuti ruku’ imam, tanpa perlu melanjutkan secara komplet bacaan Fatihah-nya. Sebab Fatihah-nya sejatinya telah ditanggung oleh imam. Dua pembagian makmum ini secara tegas dijelaskan dalam kitab Nihayah az-Zein:

وإن وجد الإمام في القيام قبل أن يركع وقف معه فإن أدرك معه قبل الركوع زمنا يسع الفاتحة بالنسبة للوسط المعتدل فهو موافق فيجب عليه إتمام الفاتحة ويغتفر له التخلف بثلاثة أركان طويلة كما تقدم 
وإن لم يدرك مع الإمام زمنا يسع الفاتحة فهو مسبوق يقرأ ما أمكنه من الفاتحة ومتى ركع الإمام وجب عليه الركوع معه

“Jika makmum menemukan imam pada saat berdiri sebelum ruku’, maka makmum berdiri bersamanya. Jika makmum menemukan waktu yang cukup untuk membaca Fatihah dengan bacaan yang tengah-tengah, maka ia disebut makmum muwafiq, wajib baginya untuk menyempurnakan bacaan Fatihah dan dimaafkan baginya muundur dari imam tiga rukun yang panjang. Seperti penjelasan yang telah lalu. 

Dan jika makmum tidak menemukan waktu yang cukup untuk membaca Fatihah maka ia dinamakan makmum masbuq. Ia wajib membaca Fatihah yang masih mungkin untuk dibaca, dan ketika imam ruku’ maka wajib baginya untuk ruku’ bersama dengan imam.” (Syekh Muhammad Nawawi al-Jawi, Nihayah az-Zein, hal. 124) 

Sedangkan pertanyaan yang diajukan oleh penanya di atas konteksnya ketika terjadi pada rakaat ketiga, berarti makmum tidak dapat menyempurnakan bacaan Fatihah secara komplet di pertengahan rakaat. Maka dalam keadaan tersebut jika bacaan Fatihah imam memang terlalu cepat—sekiranya makmum yang bacaannya tengah-tengah (tidak terlalu cepat dan tidak terlalu lamban) tidak dapat menemukan waktu yang cukup untuk menyempurnakan Fatihah-nya—maka ia dihukumi makmum masbuq, sehingga ia langsung ruku’ mengikuti imam tanpa perlu melanjutkan bacaan Fatihah-nya, sebab bacaan Fatihah-nya telah ditanggung oleh imam. Ketentuan  ini juga berlaku ketika hal yang sama (bacaan imam terlalu cepat) terjadi di rakaat-rakaat lainnya. Seperti yang dijelaskan dalam Hasyiyah I’anah at-Thalibien:

وأما لو أسرع الامام حقيقة بأن لم يدرك معه المأموم زمنا يسع الفاتحة للمعتدل فإنه يجب على المأموم أن يركع مع الامام ويتركها لتحمل الامام لها، ولو في جميع الركعات.

“Jika Imam membaca Fatihah dengan cepat, sekiranya makmum tidak menemukan waktu yang cukup untuk membaca Fatihah secara komplet dengan bacaan yang tengah-tengah (tidak terlalu cepat dan tidak terlalu lamban) maka wajib bagi makmum untuk ruku’ bersama dengan imam dan meninggalkan bacaan Fatihah-nya, sebab Imam sudah menanggung bacaan Fatihah makmum, meskipun hal ini terjadi di semua rakaat.” (Syekh Abu Bakar Muhammad Syatha, Hasyiyah I’anah at-Thalibien, Juz 2, hal. 40)

Sedangkan ketika bacaan imam biasa-biasa saja, hanya saja bacaan makmum terlalu lamban hingga ia tidak dapat menyelesaikan bacaan Fatihah-nya secara komplet maka dalam keadaan demikian makmum tetap wajib melanjutkan bacaannya sampai selesai selama ia tidak tertinggal dari imam melebihi tiga rukun yang panjang. Sekiranya bacaan Fatihah-nya sudah selesai sebelum imam beranjak dari sujudnya yang kedua. Ketertinggalan makmum dalam hal ini merupakan uzur yang dimaafkan, sebab ia tergolong makmum muwafiq yang mestinya mendapatkan waktu yang cukup untuk menyempurnakan Fatihah. Hal ini ditegaskan dalam kitab Fath al-Wahab:

ـ (والعذر كأن أسرع إمام قراءة وركع قبل إتمام موافق) له (الفاتحة) وهو بطئ القراءة (فيتمها ويسعى خلفه ما لم يسبق بأكثر من ثلاثة أركان طويلة) ـ

“Contoh uzur seperti imam membaca Fatihah dengan cepat dan ruku’ sebelum makmum muwafiq menyempurnakan Fatihah-nya, karena faktor bacaan dia yang pelan. Maka makmum wajib menyempurnakan bacaannya dan melanjutkan rukunnya di belakang imam selama imam tidak mendahuluinya lebih dari tiga rakaat yang panjang.” (Syekh Zakaria al-Anshari, Fath al-Wahab, juz 1, hal. 117)

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa hal yang menjadi pijakan adalah apakah ditemukan waktu yang cukup untuk membaca Fatihah secara komplet atau tidak. Ketika bacaan imam terlalu cepat sampai-sampai makmum yang bacaannya tengah-tengah (kecepatan sedang) tidak selesai membaca Fatihah secara komplet maka makmum dalam keadaan ini langsung mengikuti imam tanpa perlu meneruskan Fatihah-nya. Sedangkan ketika bacaan imam tengah-tengah yang mestinya para makmum biasanya dapat menyempurnakan Fatihah-nya secara komplet, tapi karena bacaan salah satu makmum yang terlalu lamban maka dalam keadaan demikian wajib bagi makmum tersebut untuk meneruskan dan dimaafkan baginya tertinggal dari imam dengan tiga rukun yang panjang. Sedangkan standar bacaan dianggap cepat atau lamban disesuaikan dengan penilaian masyarakat di wilayah sekitar (‘urf). Wallahu a’lam.


Ustadz M. Ali Zainal Abidin, pengajar di Pondok Pesantren Annuriyah Kaliwining Rambipuji Jember 

Tags:
Share:
Sabtu 13 April 2019 19:0 WIB
Duduk Melipat Jari Kaki Kanan ke Arah Kiblat dalam Shalat, Wajibkah?
Duduk Melipat Jari Kaki Kanan ke Arah Kiblat dalam Shalat, Wajibkah?
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Redaksi Bahtsul Masa’il NU yang terhormat. Saya ingin bertanya mengenai tata cara duduk di antara dua sujud dan tahiyyat, apakah melipat jari kaki kanan menghadap ke kiblat adalah suatu keharusan (wajib)? Dan bagaimana hukumnya jika hal tersebut tidak dilakukan, baik tanpa sebab ataupun karena alasan sakit. Mohon jawabannya terima kasih. (Imam Wahyuddin)

Jawaban:

Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh,
Penanya yang budiman, semoga Anda senantiasa mendapat rahmat dan hidayah Allah. Dalam fiqih shalat dikenal dua cara duduk: iftirasy dan tawaruk. Duduk iftirasy dilakukan dengan menegakkan kaki kanan dan meletakkan kaki kiri menempel lantai kemudian menduduki kaki kiri tersebut. Sedangkan duduk tawarruk mirip dengan duduk iftirasy hanya saja kaki kiri tak diduduki melainkan dijulurkan ke bawah kaki kanan, sementara pantat menempel lantai.  

Bila duduk tawaruk sunnah dilakukan saat tasyahud/tahiyyat akhir, maka duduk dengan posisi iftirasy sunnah dilaksanakan antara lain saat duduk di antara dua sujud, tasyahud awal, duduk istirahat, dan tasyahud akhir jika setelahnya masih melakukan sujud sahwi

Penjelasan tentang duduk iftirasy ini dapat dijumpai dalam Fath al-Mu’in:

ـ (وسن فيه) الجلوس بين السجدتين، (و) في (تشهد أول) وجلسة استراحة، وكذا في تشهد أخير إن تعقبه سجود سهو. (افتراش) بأن يجلس على كعب يسراه بحيث يلي ظهرها الارض

“Disunnahkan duduk iftirasy saat duduk di antara dua sujud, tasyahud awal, duduk istirahat, dan tasyahud akhir jika setelahnya masih melakukan sujud sahwi. Gambaran duduk Iftirasy adalah dengan cara duduk di atas mata kaki kiri sekiranya bagian kaki kiri yang atas menempel pada lantai” (Syekh Zainuddin al-Maliabari, Fath al-Mu’in, juz 1, hal. 195)

Dalam melaksanakan duduk iftirasy, di antara ketentuannya adalah melipat jari-jari kaki kanan menghadap arah kiblat. Hal ini seperti yang dijelaskan dalam Hasyiyah I’anah at-Thalibin:

ويسن الافتراش فيجلس على كعب يسراه بعد أن يضجعها بحيث يلي ظهرها الارض، وينصب يمناه – أي قدمه اليمنى – ويضع أطراف بطون أصابعها منها على الارض متوجها للقبلة.

“Disunnahkan duduk Iftirasy yakni duduk di atas mata kaki yang kiri setelah menyandarkan kaki kiri tersebut sekiranya bagian kaki kiri yang atas menempel pada lantai dan menegakkan kaki kanan dan meletakkan ujung jari-jari kaki kanan di lantai dengan menghadapkannya pada arah kiblat.” (Syekh Abu Bakar Muhammad Syatha, Hasyiyah I’anah at-Thalibin, juz 1, hal. 195)

Namun demikian, ketentuan melipatkan jari kaki kanan menuju arah kiblat hukumnya mengikut pada duduk iftirasy itu sendiri, yakni sunnah. Sehingga ketika seseorang sengaja tidak melipat jari kaki kanannya menuju arah kiblat, maka tidak berpengaruh pada keabsahan shalatnya, hanya saja ia dianggap tidak melaksanakan salah satu kesunnahan dalam shalat. 

Hikmah dianjurkannya duduk iftirasy pada berbagai rukun-rukun dan kesunnahan dalam shalat adalah dikarenakan duduk dengan cara tersebut merupakan cara yang paling sopan sebab melambangkan kerendahan diri dari orang yang shalat. Hal ini seperti yang dijelaskan dalam Hasyiyah I’anah at-Thalibin:

والحكمة في ذلك منع يديه من العبث، وأن هذه الهيئة أقرب إلى التواضع

“Hikmah dari pelaksanaan duduk Iftirasy adalah mencegah kedua tangan dari bermain-main dan duduk dengan keadaan demikian lebih dekat untuk merendahkan diri” (Syekh Abu Bakar Muhammad Syatha, Hasyiyah I’anah at-Thalibin, juz 1, hal. 196)

Sedangkan duduk yang dianjurkan pada tahiyyat akhir yang diiringi oleh salam adalah dengan cara tawarruk. Dalam duduk tawarruk seseorang juga dianjurkan untuk melipat jari kaki kanan menuju arah kiblat. Namun, seperti halnya pada duduk iftirasy, melipat jari kaki kanan ini bukanlah suatu kewajiban. Hukumnya mengikut pada duduk tawarruk itu sendiri, yakni sunnah. Sehingga ketika pada saat tahiyyat akhir seseorang tidak melipat jari kaki kanannya menuju kiblat maka shalatnya tetap dihukumi sah, hanya saja dia dianggap tidak melakukan salah satu kesunnahan itu.

Bagi seseorang punya uzur (misalnya, sakit) melipat jari kaki kanan menuju arah kiblat, baik dalam duduk iftirasy ataupun tawarruk, sebaiknya duduk dengan cara yang paling memungkinkan. Shalatnya tetap dihukumi sah, sebab melipat jari kaki kanan menuju kiblat bukanlah termasuk syarat sahnya shalat.

Cara duduk dalam shalat sebenarnya tidak ditentukan secara pasti, sehingga duduk dengan cara bagaimanapun dianggap cukup. Hanya saja orang yang shalat dianjurkan untuk duduk tawarruk pada tahiyyat akhir yang dilanjutkan salam dan duduk iftirasy pada selainnya. Penjelasan demikian seperti yang dijelaskan dalam kitab al-Majmu’ ala Syarh al-Muhadzab:

ـ (فرع) قال أصحابنا لا يتعين للجلوس في هذه المواضع هيئة للإجزاء بل كيف وجد أجزأه سواء تورك أو افترش أو مد رجليه أو نصب ركبتيه أو احداهما أو غير ذلك لكن السنة التورك في آخر الصلاة والافتراش فيما سواه

“Cabang permasalahan. Para ashab (ulama Syafi’iyah) berkata ‘duduk pada keadaan-keadaan ini tidak ditentukan cara yang dapat mencukupi. Bahkan, bagaimanapun dia duduk maka dianggap cukup, baik dengan duduk tawarruk, iftirasy, menyelonjorkan kakinya, mengangkat kedua lutut atau salah satunya, ataupun dengan cara duduk yang lain. Tetapi cara yang disunnahkan adalah duduk tawarruk di akhir shalat (tahiyyat akhir) dan duduk iftirasy pada duduk selain tahiyyat akhir’.” (Syekh Yahya bin syaraf an-Nawawi, al-Majmu’ ala Syarh al-Muhadzab, juz 3, hal. 450)

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa melipatkan jari-jari kaki kanan menuju arah kiblat pada saat duduk di antara dua sujud dan tahiyyat akhir termasuk bagian dari ketentuan duduk Iftirasy dan tawarruk yang hukumnya adalah sunnah, sehingga ketika hal tersebut tidak dilakukan maka tidak berpengaruh terhadap keabsahan shalat, bahkan tidak perlu untuk sujud sahwi untuk menggantinya, karena melipat jari kaki kanan bukanlah tergolong sunnah ab’ad  yang disunnahkan untuk sujud sahwi ketika ditinggalkan. Wallahu a’lam.


Ustadz M. Ali Zainal Abidin, pengajar di Pondok Pesantren Annuriyah Kaliwining Rambipuji Jember 


Selasa 9 April 2019 21:35 WIB
Imam Salah Baca Al-Quran, Apakah Sah Shalat Jamaahnya?
Imam Salah Baca Al-Quran, Apakah Sah Shalat Jamaahnya?
(Foto: @3ageeb.com)
Assalamu alaikum wr. wb.
Redaksi bahtsul masail NU Online, seorang imam keliru membaca salah satu surat di Juz Amma setelah Al-Fatihah dalam sebuah shalat berjamaah belakangan ini. Kesalahan atau kekeliruan ini menjadi perbincangan publik karena dilaksanakan di stadion nasional dan di tahun politik. Pertanyaannya, bagaimana dengan status shalat berjamaahnya? Terima kasih. Wassalamu alaikum wr. wb. (Romdoni/Jakarta)

Jawaban
Penanya yang budiman, semoga dirahmati Allah SWT. Para ulama berbeda pendapat perihal status shalat berjamaah lantaran kesalahan bacaan surat oleh imam. Perbedaan pandangan ulama perihal ini akan dikemukakan sebagai berikut.

Kesalahan bacaan surat Al-Quran dalam shalat dalam pandangan Imam Abu Hanifah dan muridnya Syekh Muhammad berimplikasi pada keabsahan shalat. Menurut keduanya, kesalahan bacaan Al-Quran lalu kesalahan bacaan melahirkan makna yang jauh dapat membatalkan shalat.

وتبطل أيضاً عند أبي حنيفة ومحمد بما له مثل في القرآن، والمعنى بعيد، ولم يكن متغيراً تغيراً فاحشاً. ولا تبطل عند أبي يوسف؛ لعموم البلوى

Artinya, “Ibadah shalat menjadi batal menurut Imam Abu Hanifah dan Syekh Muhammad karena bacaan yang memiliki kemiripan dalam Al-Quran, sedangkan makna yang muncul karena salah bacaan tersebut cukup jauh meski tidak fatal. Tetapi ibadah shalat itu tidak batal menurut Syekh Abu Yusuf karena umumul balwa,” (Lihat Syekh Wahbah Az-Zuhayli, Al-Fiqhul Islami wa Adillatuh, [Beirut, Darul Fikr: 1985 M/1405 H], cetakan kedua,  juz II, halaman 20). 

Adapun ulama madzhab Maliki menganggap kesalahan bacaan Al-Quran tanpa sengaja oleh seorang imam dalam shalat tidak mempengaruhi keabsahan shalat. Tetapi makmum yang mengikutinya berdosa bila ada orang lain yang masih layak menjadi imam.

وَ) صَحَّتْ (بِلَحْنٍ) فِي الْقِرَاءَةِ (وَلَوْ بِالْفَاتِحَةِ) إنْ لَمْ يَتَعَمَّدْ، (وَأَثِمَ) الْمُقْتَدِي بِهِ (إنْ وَجَدَ غَيْرَهُ) مِمَّنْ يُحْسِنُ الْقِرَاءَةَ وَإِلَّا فَلَا

Artinya, “Shalat (dengan) bacaan (salah meski itu adalah Al-Fatihah) tetap sah jika dilakukan secara tidak sengaja. Makmum yang mengikuti imam yang salah baca (berdosa jika mendapati imam lain) yang baik bacaannya. Tetapi jika tidak ada imam lain yang baik bacaannya, maka makmum tidak berdosa,” (Lihat Syekh Ahmad bin Muhammad As-Shawi, Hasyiatus Shawi alas Syarhis Shaghir, juz II, halaman 230).

Pandangan mazhab Syafi’i berbeda lagi. Menurut mazhab ini, kesalahan bacaan Al-Quran selain Al-Fatihah yang tidak mengubah makna tidak membatalkan shalat dan tidak merusak status shalat berjamaah. Tetapi kesalahan bacaan Al-Quran yang mengubah makna bila dilakukan karena lupa juga tidak membatalkan shalat dan tidak merusak status shalat berjamaah meski makruh.

وأما السورة فإن كان اللحن لا يغير المعنى صحت صلاته والقدوة به لكنه مع التعمد والعلم حرام وإن كان يغير المعنى فإن عجز عن التعلم أو كان ناسيا أو جاهلا صحت صلاته والقدوة به مطلقا مع الكراهة

Artinya, “Adapun surat [selain Al-Fatihah], jika kesalahan itu tidak mengubah makna, maka sah lah shalatnya dan sah juga bermakmum kepadanya. Tetapi jika kesalahan itu dilakukan dengan sengaja dan sadar [akan larangan demikian], maka haram. Sementara jika seseorang tidak sanggup belajar, lupa atau tidak tahu, maka sah lah shalatnya dan sah juga bermakmum kepadanya secara mutlak meski makruh,” (Lihat Syekh M Nawawi Banten, Nihayatuz Zein, [Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyyah: 2002 M/1422 H] cetakan pertama, halaman 126).

Adapun Mazhab Hanbali berpendapat bahwa kesalahan bacaan surat Al-Quran selain Al-Fatihah tanpa sengaja di dalam shalat berjamaah tidak masalah. Tetapi jika kesalahan bacaan terjadi pada surat Al-Fatihah dalam shalat, itu menjadi masalah.

وقال الحنابلة : إن أحال اللحان المعنى في غير الفاتحة لم يمنع صحة الصلاة ولا الائتمام به إلا أن يتعمده، فتبطل صلاتهما. أما إن أحال المعنى في الفاتحة فتبطل الصلاة مطلقاً

Artinya, “Mazhab Hanbali mengatakan bahwa jika imam yang salah itu mengubah makna pada surat selain Al-Fatihah, maka [kesalahan] itu tidak mencegah keabsahan shalat dan keabsahan bermakmum kepadanya kecuali jika dilakukan dengan sengaja sehingga [dengan sengaja] batal shalat keduanya. Adapun jika ia mengubah makna pada surat Al-Fatihah, maka batal shalatnya secara mutlak,” (Lihat Syekh Wahbah Az-Zuhayli, Al-Fiqhul Islami wa Adillatuh, [Beirut, Darul Fikr: 1985 M/1405 H], cetakan kedua,  juz II, halaman 22).

Kesalahan bacaan karena lupa sebaiknya tidak perlu menjadi masalah publik karena tiada satu pu imam yang menginginkan demikian. Tetapi kami menyarankan agar pihak masjid atau pihak mana pun yang ingin menyelenggarakan shalat berjamaah yang melibatkan massa besar untuk memilih imam yang memang terbiasa mengimami makmum dalam jumlah besar.

Demikian jawaban singkat kami. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka dalam menerima kritik dan saran dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwathih thariq,
Wassalamu ’alaikum wr. wb.


(Alhafiz Kurniawan)
Ahad 7 April 2019 12:30 WIB
Hukum Intimidasi Orang Lain untuk Kepentingan Politik
Hukum Intimidasi Orang Lain untuk Kepentingan Politik
(Foto: @islamicity.org)
Assalamu alaikum wr. wb.
Redaksi bahtsul masail NU Online, di tahun politik banyak cara dilakukan untuk kepentingan politik. Beberapa waktu lalu sejumlah sahabat kami didatangi seseorang dengan senjata tajam agar sahabat kami menghentikan kegiatan politiknya (intimidasi). Mohon penjelasannya atas praktik intimidasi untuk tujuan politik seperti ini. Terima kasih. Wassalamu alaikum wr. wb. (Irsyad /Jakarta)

Jawaban
Penanya yang budiman, semoga dirahmati Allah SWT. Tindakan mengancam, mengintimidasi, dan menakut-nakuti orang lain untuk kepentingan apapun termasuk kepentingan politik tidak dibenarkan dalam Islam. Selain juga bentuk pelanggaran UU Pemilu di Indonesia, cara-cara ini termasuk tindakan tercela dalam Islam.

Rasulullah SAW dalam banyak sabdanya melarang umat Islam untuk melakukan intimidasi, teror, atau ancaman terhadap orang lain. Tulisan ini akan menyebutkan beberapa hadits terkait tindakan intimidasi dan teror yang tercela.

Berikut ini adalah hadits riwayat Imam Bukhari dan Muslim.

وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يُشِيرُ أَحَدُكُمْ إِلَى أَخِيهِ بِالسِّلَاحِ فَإِنَّهُ لَا يَدْرِي أَحَدُكُمْ لَعَلَّ الشَّيْطَانَ يَنْزِعُ فِي يَدِهِ فَيَقَعُ فِي حُفْرَةٍ مِنْ النَّارِ

Artinya, “Rasulullah SAW bersabda, ‘Janganlah salah seorang kalian mengarahkan [mengacungkan] senjata ke saudaranya karena ia tidak tahu bisa jadi setan mencabut senjata itu dari tangannya sehingga ia jatuh ke lubang neraka,’” HR Bukhari dan Muslim.

Pada riwayat Imam Muslim, tindakan intimidasi dengan pengacungan senjata atau cara-cara lain yang menciptakan suasana mencekam dapat mendatangkan laknat malaikat hingga pelaku meninggalkan praktik tercela tersebut.

عَنْ ابْنِ سِيرِينَ سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ يَقُولُ قَالَ أَبُو الْقَاسِمِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أَشَارَ إِلَى أَخِيهِ بِحَدِيدَةٍ فَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ تَلْعَنُهُ حَتَّى يَدَعَهُ وَإِنْ كَانَ أَخَاهُ لِأَبِيهِ وَأُمِّهِ

Artinya, “Dari Ibnu Sirin, aku mendengar Abu Hurairah RA berkata, ‘Abul Qasim Rasulullah SAW bersabda, ‘Siapa yang mengarahkan [mengacungkan] senjata ke saudaranya, sungguh malaikat akan melaknatnya hingga ia menyudahinya sekalipun ia adalah saudaranya satu ayah dan satu ibu [sekandung],’’” HR Muslim.

Sebagaimana diketahui, intimidasi masih menjadi cara-cara alternatif untuk kepentingan politik. Intimidasi untuk tujuan politik melalui simbol-simbol, ekspresi-ekspresi lisan, dan artikulasi secara fisik masih saja digunakan untuk memuluskan tujuan politik tertentu.

Imam An-Nawawi memberikan anotasi atas hadits riwayat Imam Muslim di atas. Menurutnya, hadits tersebut mengandung larangan Islam atas praktik intimidasi terhadap sesama warga negara atas alasan apapun dan latar belakang apapun.

فيه تأكيد حرمة المسلم والنهي الشديد عن ترويعه وتخويفه والتعرض له بما قد يؤذيه وقوله صلى الله عليه و سلم وإن كان أخاه لأبيه وأمه مبالغة في ايضاح عموم النهي في كل أحد سواء من يتهم فيه ومن لا يتهم وسواء كان هذا هزلا ولعبا أم لا لأن ترويع المسلم حرام بكل حال ولأنه قد يسبقه السلاح كما صرح به في الرواية الاخرى ولعن الملائكة له يدل على أنه حرام

Artinya, “Hadits ini menegaskan kehormatan seorang Muslim, keharaman keras untuk menakuti dan mengintimidasinya, serta menunjukkan sikap yang menyakitinya. Redaksi ‘sekalipun ia adalah saudaranya satu ayah dan satu ibu [sekandung]’ ini menunjukkan secara hiperbolis penjelasan keumuman larangan tersebut terhadap siapa pun baik ia yang dituduh maupun yang tidak dituduh, dan sama saja baik intimidasi itu bersifat gurauan atau main-main maupun serius. Pasalnya, tindakan menakut-nakuti [intimidasi] seorang Muslim haram dalam segala kondisi dan itu didahului senjata sebagaimana riwayat lain. Laknat malaikat atas tindakan tersebut menunjukkan keharaman,” (Lihat Imam An-Nawawi, Minhajul Muslim bi Syarhi Shahih Muslim, [Kairo, Darul Hadits: 2001 M/1422 H], cetakan keempat, juz VIII, halaman 417-418).

Rasulullah SAW mengingatkan betapa tercelanya tindakan intimidasi terhadap orang lain. Riwayat Imam At-Thabarani berikut ini menyebut dengan jelas ganjaran pahit bagi pelaku intimidasi.

عن عبد الله بن عمر قال سَمِعْتُ رسولَ الله صلى الله عليه و سلم يقول مَنْ أَخَافَ مُؤْمِنًا بِغَيْرِ حَقٍّ كَانَ حَقًّا عَلَى اللهِ أَنْ لَا يُؤَمِّنَهُ مِنْ أَفْزَاعِ يَوْمِ القِيَامَةِ

Artinya, “Dari Ibnu Umar RA, aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, ‘Siapa saja yang menakut-nakuti [intimidasi atau meneror] orang yang beriman tanpa hak, maka Allah berhak untuk tidak menjamin keamanan baginya dari ketakutan di hari kiamat,’”  HR At-Thabarani.

Intimidasi atau cara-cara lain yang menciptakan suasana mencekam dan menakutkan dilarang dalam Islam. Bahkan keusilan dan keisengan terhadap sahabat yang diekspresikan dengan cara menakut-nakuti tetap dilarang Islam meski pada dasarnya gurauan dan candaan sesama sahabat tidak dilarang dalam Islam.

عن عبد الرحمن بن أبي ليلى قال حدثنا أصحاب محمد صلى الله عليه وسلم أنهم كانوا يسيرون مع النبي صلى الله عليه وسلم فنام رجل منهم فانطلق بعضهم إلى حبل معه فأخذه ففزع فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم لا يحل لمسلم أن يروع مسلما

Artinya, “Dari Abdurrahman bin Abu Laila, ia berkata, kami dikisahkan oleh paa sahabat Rasulullah SAW bahwa mereka suatu kali bepergian dengan Rasul. Ketika salah seorang dari mereka tertidur, seorang lainnya [karena usil bercanda] membawakan tali kepadanya, lalu dipegangkannya sehingga yang tertidur tadi kaget ketakutan [karena mengira tali tersebut adalah ular]. Rasulullah SAW lalu bersabda, ‘Seorang Muslim tidak halal untuk menakut-nakuti seorang Muslim lainnya,’” HR Abu Dawud.

Secara lugas Rasulullah SAW mengatakan bahwa intimidasi merupakan perbuatan aniaya. Intimidasi untuk tujuan politik tertentu dan kepentingan lainnya merupakan musuh bersama yang harus dihentikan.

قال رسول الله صلى الله عليه و سلم لا تروعوا المسلم فإن روعة المسلم ظلم عظيم

Artinya, “Rasulullah SAW bersabda, ‘Jangan kalian menakut-nakuti [intimidasi] seorang Muslim karena tindakan menakut-nakuti [intimidasi] seorang Muslim adalah sebuah kezaliman besar,’” HR Al-Bazzar dan At-Thabarani.

Semua riwayat dan keterangan ini cukup sebagai pandangan Islam atas intimidasi demi tujuan-tujuan politik. Dengan demikian, praktik intimidasi dan cara-cara kasar seperti ini harus segera dihentikan karena cara demikian tercela dalam agama dan melanggar UU pemilu yang berlaku.

Tujuan-tujuan politik sebaiknya diwujudkan dengan cara-cara yang konstitusional dan nilai-nilai kesantunan yang berlaku di Indonesia, serta tidak bertentangan dengan ajaran Islam.

Tujuan politik tidak boleh diraih dengan cara-cara kasar seperti intimidasi, hoaks, fitnah, atau ujaran kebencian yang menciptakan suasana sosial dan politik menjadi bising, tegang, mencekam, saling curiga, dan retakan-retakan yang tidak perlu.

Tujuan politik dapat dicapai dengan jalan-jalan kreatif dan santun. Banyak cara-cara kreatif dan menghibur dapat ditempuh untuk kepentingan dan tujuan politik tertentu tanpa harus melanggar norma hukum dan norma dalam Islam agar pemilu tidak mengganggu persatuan warga negara yang memiliki perbedaan aspirasi politik.

Demikian jawaban singkat kami. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka dalam menerima kritik dan saran dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwathih thariq,
Wassalamu ’alaikum wr. wb.


(Alhafiz Kurniawan)