IMG-LOGO
Ramadhan

Lailatul Qadar, Perbanyak Baca Doa Sapu Jagat

Senin 3 Juni 2019 14:30 WIB
Share:
Lailatul Qadar, Perbanyak Baca Doa Sapu Jagat
Pada hitungan sepuluh malam terakhir bulan ramadhan, Nabi Muhammad SAW menyambut malam mulia itu dengan mengajarkan kepada umatnya agar melakukan i’tikaf. Walaupun i’tikaf bisa dilakukan kapan saja dan selama apapun.

Bahkan dalam pandangan Imam Syafi’i, walaupun hanya sesaat selama dibarengi oleh niat yang suci, Nabi Muhammad selalu melakukannya pada sepuluh hari dan malam terakhir bulan puasa.

Di sanalah beliau bertadarus dan merenung sambil berdoa. Muhammad Quraish Shihab dalam Membumikan Al-Qur’an: Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat (1999) mengungkapkan bahwa salah satu doa yang paling sering beliau baca dan hayati maknanya adalah:

ِرَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّار

Rabbana atina fiddunya hasanah, wa fil akhirati hasanah wa qina ‘adzabannar.

(Wahai Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami kebajikan di dunia dan kebajikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa api neraka).

Doa yang sering dipanjatkan oleh Nabi Muhammad tersebut bukan sekadar berarti permohonan untuk memperoleh kebajikan di dunia dan akhirat, tetapi juga untuk memantapkan langkah dalam berupaya meraih kebajikan yang dimaksud. Artinya daya atau kemampuan untuk mendapatkan kebajikan tersebut. Sebab doa sendiri mengandung arti permohonan yang disertai usaha.

Terlihat dampak dari doa tersebut tidak hanya untuk mendapatkan kebajikan di dunia, tetapi juga bagaimana kebajikan tersebut berlanjut hingga di hari kemudian. Hal ini sesuai dengan hakikat malam lailatul qadar itu sendiri yang kebaikan dan kemuliaannya bersifat tanazzalul (berkesinambungan).

Kalau yang demikian itu dapat diraih oleh manusia, maka jelaslah ia telah memperoleh kemuliaan dunia dan akhirat. Karena itu, tidak heran jika kita mendengar jawaban Rasulullah SAW yang menunjuk pada doa tersebut ketika istri beliau menanyakan doa apa yang harus dibaca jika ia merasakan kehadiran malam lailatul qadar?

Di atas telah dikemukakan bahwa Nabi Muhammad menganjurkan sambil mengamalkan i’tikaf di masjid dalam rangka melakukan perenungan dan penyucian jiwa. Masjid adalah tempat suci, tempat segala aktivitas kebajikan bermula. Di masjid, seseorang diharapkan merenung tentang diri dan masyarakatnya.

Di masjid juga, seseorang dapat menghindar dari hiruk pikuk yang menyesakkan jiwa dan pikiran guna memperoleh tambahan pengetahuan dan pengayaan iman. Itulah sebabnya ketika melakukan i’tikaf, seseorang dianjurkan untuk memperbanyak doa dan bacaan Al-Qur’an, atau bahkan bacaan-bacaan lain yang dapat memperkaya iman dan ketakwaan.

Perihal turunnya malaikat seperti dijelaskan dalam Surat Al-Qadr ayat 4, tanazzalul malaikatu war ruhu fiha bi idzni rabbihim minkulli amr (Pada malam itu turun malaikat-malaikan dan malaikan Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan), ketika malam lailatul qadar menemui orang yang mempersiapkan diri menyambutnya berarti bahwa ia akan disertai oleh malaikat.

Hal tersebut membuat hatinya selalu didorong untuk melakukan kebaikan-kebaikan. Jiwanya akan selalu merasakan salam (rasa aman dan kedamaian) yang tidak terbatas sampai fajar malam lailatul qadar, tetapi hingga akhir hayat menuju fajar kehidupan baru di hari kehidupan kelak.

Hal penting yang harus diperhatikan yaitu seseorang jangan hanya pasif menunggu malam Lailatul Qadar tiba, tetapi keistimewaan malam tersebut harus direngkuh secara aktif dengan sejumlah ibadah dan amal kebaikan.

Dengan demikian, untuk bertemu malam Lailatul Qadar, seseorang sesungguhnya bisa mempersiapkan diri sedari awal Ramadhan tiba. Ini menunjukkan bahwa kebaikan harus bersifat kontinu atau terus-menerus sebagaimana kemulian yang ditunjukkan pada malam lailatul qadar dan dampaknya terhadap kehidupan di masa-masa yang akan datang.

Poin penting yang harus diperhatikan terkait malam Lailatul Qadar ialah selain bertemu malam lailatul qadar, manusia juga mendapatkannya. Kata ‘mendapatkan’ mempunyai konsekuensi bahwa seseorang harus melakukan ibadah dan amal kebaikan sehingga mendapatkan kemuliaan malam tersebut. (Fathoni)
Share:
Senin 3 Juni 2019 11:45 WIB
Fenomena Alam pada Malam Lailatul Qadar
Fenomena Alam pada Malam Lailatul Qadar
Malam kemuliaan di bulan Ramadhan, Lailatul Qadar bisa dinekali lewat tanda-tandanya. Namun, datangnya malam lailatul qadar tidak seorang pun yang mengetahui tepatnya kapan.

Selama ini umat Islam hanya membaca tanda-tanda malam yang menurut Al-Qur’an lebih baik dari 1000 bulan ini. Betapa mulianya malam lailatul qadar karena mampu membawa seorang hamba pada ketakwaan yang hakiki.

Lalu, benarkah pertanda malam lailatul qadar di antaranya membekunya air, heningnya malam, dan menunduknya pepohonan, dan sebagainya?

Dijelaskan oleh Muhammad Quraish Shihab dalam Membumikan Al-Qur’an: Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat (1999) bahwa fenomena alam tersebut harus diimani oleh setiap muslim berdasarkan pernyataan Al-Qur’an, bahwa “Ada suatu malam yang bernama Lailatul Qadar” (QS Al-Qadr: 1) dan malam itu merupakan “malam yang penuh berkah di mana dijelaskan atau ditetapkan segala urusan besar dengan kebijaksanaan” (QS Ad-Dukhan: 3).

Ditegaskan dalam Al-Qur’an, malam tersebut adalah malam mulia, tidak mudah diketahui betapa besar kemuliaannya. Ini diisyaratkan oleh adanya “pertanyaan” dalam bentuk pengagungan, yaitu “Wa ma adraka ma laylatul qadar.”

Untuk memperoleh pemahaman yang jernih terkait malam lailatul qadar, Quraish Shihab memberikan sejumlah keterangan terkait arti kata qadar. Mufassir kenamaan tersebut memaparkan tiga arti pada kata qadar tersebut.

Pertama, qadar berarti penetapan atau pengaturan sehingga lailatul qadar dipahami sebagai malam penetapan Allah bagi perjalanan hidup manusia. Pendapat ini dikuatkan oleh penganutnya dengan Firman Allah pada Surat Ad-Dukhan ayat 3. Ada ulama yang memahami penetapan itu dalam batas setahun.

Al-Qur’an yang turun pada malam lailatul qadar diartikan bahwa pada malam itu Allah SWT mengatur dan menetapkan khiththah dan strategi bagi Nabi-Nya, Muhammad SAW guna mengajak manusia kepada agama yang benar yang pada akhirnya akan menetapkan perjalanan sejarah umat manusia, baik sebagai individu maupun kelompok.

Kedua, qadar berati kemuliaan. Malam tersebut adalah malam mulia yang tiada bandingnya. Ia mulia karena terpilih sebagai malam turunnya Al-Qur’an serta karena ia menjadi titik tolak dari segala kemuliaan yang dapat diraih.

Kata qadar yang berarti mulia ditemukan dalam ayat ke-91 Surat Al-An’am yang berbicara tentang kaum musyrik: Ma qadaru Allaha haqqa qadrihi idzqalu ma anzalallahu ‘ala basyarin min syay’i (mereka itu tidak memuliakan Allah sebagaimana kemuliaan yang semestinya, tatkala mereka berkata bahwa Allah tidak menurunkan sesuatu pun kepada manusia).

Ketiga, qadar berati sempit. Malam tersebut adalah malam yang sempit, karena banyaknya malaikat yang turun ke bumi, seperti yang ditegaskan dalam Surat Al-Qadar: Pada malam itu turun malikat-malaikat dan ruh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan.
 
Kata qadar yang berarti sempit digunakan oleh Al-Qur’an antara lain dalam ayat ke-26 Surat Ar-Ra’du: Allah yabsuthu al-rizqa liman yasya’ wa yaqdiru (Allah melapangkan rezeki bagi yang dikehendaki dan mempersempitnya [bagi yang dikehendakinya]).

Hal penting yang harus diperhatikan yaitu seseorang jangan hanya pasif menunggu malam Lailatul Qadar tiba, tetapi keistimewaan malam tersebut harus direngkuh secara aktif dengan sejumlah ibadah dan amal kebaikan.

Dengan demikian, untuk bertemu malam Lailatul Qadar, seseorang sesungguhnya bisa mempersiapkan diri sedari awal Ramadhan tiba. Ini menunjukkan bahwa kebaikan harus bersifat kontinu atau terus-menerus sebagaimana kemulian yang ditunjukkan pada malam lailatul qadar dan dampaknya terhadap kehidupan di masa-masa yang akan datang.

Poin penting yang harus diperhatikan terkait malam Lailatul Qadar ialah selain bertemu malam lailatul qadar, manusia juga mendapatkannya. Kata ‘mendapatkan’ mempunyai konsekuensi bahwa seseorang harus melakukan ibadah dan amal kebaikan sehingga mendapatkan kemuliaan malam tersebut. (Fathoni)
Ahad 2 Juni 2019 15:45 WIB
Sperma Keluar Setelah Fajar akibat Seks Sebelum Fajar, Puasanya Sah?
Sperma Keluar Setelah Fajar akibat Seks Sebelum Fajar, Puasanya Sah?
Berhubungan seksual merupakan kebutuhan alamiah manusia. Karenanya, Islam mensyariatkan aktivitas ini melalui pintu pernikahan. sebagaimana ia memberikan kebebasan bagi orang yang sudah menikah untuk melakukannya pada waktu dan dengan cara yang mereka kehendaki.

Hanya saja, ada ketentuan khusus terkait hubungan seksual di bulan Ramadhan. Allah subhanahu wata’ala berfirman dalam Surat Al-Baqarah ayat 187:

أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَى نِسَائِكُمْ هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ عَلِمَ اللَّهُ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَخْتَانُونَ أَنْفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنْكُمْ فَالْآَنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُوا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ.

“Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan istri-istri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi ma'af kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan Makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, Yaitu fajar. kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam.”

Ayat di atas menegaskan kebolehan berhubungan badan di malam hari bulan Ramadhan, yaitu waktu antara terbenamnya matahari sampai terbitnya fajar. Sedangkan, setelah terbit fajar, seiring dimulainya waktu berpuasa, berhubungan badan menjadi haram. Sebab hal itu bisa membatalkan puasa, sebagaimana keluarnya sperma secara sengaja juga dapat membatalkan puasa.

Suami-istri yang batal puasanya karena hubungan badan wajib menggantinya di hari lain. Sedangkan bagi suami, di samping mengqadha, ia juga diwajibkan membayar kafarat yang sangat berat berupa memerdekakan budak mukminah. Jika tidak mampu, dia wajib berpuasa selama dua bulan berturut-turut. Jika masih tidak mampu, ia wajib memberi makan enam puluh fakir miskin, setiap fakir miskin enam ons bahan makanan pokok. (Lihat: Musthafa al-Khin. dkk, Al-Fiqhul Manhaji ala Mazhabil Imam al-Syafi’i, Damaskus: Darul Qalam, 2005,  juz 1, halaman 353).

Baca juga:
Kafarat atau Denda Hubungan Badan saat Puasa Ramadhan
Penjelasan Umum tentang Kafarat, Fidyah, dan Dam (1)
Penjelasan Umum tentang Kafarat, Fidyah, dan Dam (2)
Pada kenyataannya, melakukan hubungan badan di malam hari bulan Ramadhan bukanlah perkara mudah; mungkin karena banyaknya ritual ibadah di malam hari atau karena kondisi tubuh yang lelah akibat berpuasa di siang hari. Maka, berhubungan badan di waktu sahur atau menjelang terbit fajar merupakan pilihan yang menarik. 

Hanya saja, berhubungan badan di waktu itu juga tidak mudah. Sebab, pasangan suami-istri dituntut untuk menyelesaikan atau menyudahi aktivitas seksual saat terbit fajar. Karenanya bisa dikatakan bahwa berhubungan badan menjelang terbit fajar mengandung risiko, yaitu kemungkinan fajar terbit sebelum aktivitas seksual selesai. 

Dari sini muncul persoalan, bagaimana hukum puasa suami yang menggauli istrinya di malam hari (sebelum terbit fajar), lalu sekian menit atau sekian detik sebelum terbit fajar ia mencabut kemaluannya. Akan tetapi, spermanya justru keluar setelah terbit fajar. Apakah puasanya batal?

Para ulama dari mazhab Hanafi, Maliki, dan Syafi’i menegaskan bahwa keluarnya sperma setelah terbit fajar akibat kegiatan seksual sebelum fajar tidak membatalkan puasa. Dengan demikian, suami tidak kewajiban mengqadha puasanya, dan juga tidak kewajiban membayar kafarat.

Imam Abu Bakar Az-Zabidy dari mazhab Hanafi dalam karyanya Al-Jauharah an-Nayyirah Syarh Mukhtashar Al-Qudury juz 1 halaman 138 menyebutkan:

وَلَوْ خَشِيَ الْمُجَامِعُ طُلُوعَ الْفَجْرِ فَنَزَعَ فَأَمْنَى بَعْدَ الْفَجْرِ لَمْ يُفْطِرْ

“Jika seorang suami yang menggauli istri khawatir akan terbitnya fajar, lalu ia mencabut kemaluannya, kemudian sperma keluar setelah fajar, maka puasanya tidak batal.”
 
Sedangkan ulama mazhab Maliki bernama Imam Ad-Dasyuqi dalam kitabnya Hasyiyah Ad-Dasyuqi juz 1 halaman 523 menegaskan:

لَوْ جَامَعَ لَيْلا وَنَزَلَ مَنِيُّهُ بَعْدَ الْفَجْرِ، الظَّاهِرُ أَنَّهُ لا شَيْءَ عَلَيْهِ، كَمَنْ اكْتَحَلَ لَيْلا ثُمَّ هَبَطَ الْكُحْلُ لِحَلْقِهِ نَهَارًا

“Jika suami menggauli istri di malam hari, lalu spermanya keluar setelah fajar, maka menurut pendapat yang kuat, ia tidak terkena kewajiban apapun. Sebagaimana orang yang memakai celak di malam hari, lalu celak itu turun ke tenggorokan pada siang harinya.”
  
Imam Nawawi dalam kitab al-Majmu’ juz 6 halaman 348 menyebutkan:

إذَا جَامَعَ قَبْلَ الْفَجْرِ ثُمَّ نَزَعَ مَعَ طُلُوعِهِ أَوْ عَقِبَ طُلُوعِهِ وَأَنْزَلَ لَمْ يَبْطُلْ صَوْمُهُ؛ لأَنَّهُ تَوَلَّدَ مِنْ مُبَاشَرَةٍ مُبَاحَةٍ فَلَمْ يَجِبْ فِيهِ شَيْءٌ، كَمَا لَوْ قَطَعَ يَدَ رَجُلٍ قِصَاصًا فَمَاتَ مِنْهُ

“Jika suami menggauli istri sebelum fajar, kemudian mencabut kemaluannya saat terbit fajar atau segera setelah terbit fajar, lalu keluar sperma, maka puasanya tidak batal. Sebab sperma itu berasal dari hubungan badan yang diperbolehkan. Maka ia tidak mewajibkan apa pun. Sebagaimana jika seseorang memotong tangan orang lain karena qishas, kemudian ia mati karena hal itu.”
  
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa keluarnya sperma setelah terbit fajar akibat kegiatan seksual sebelum fajar tidak membatalkan puasa. Artinya, suami tidak kewajiban mengqadha puasanya, dan juga tidak kewajiban membayar kafarat.

Akan tetapi, untuk kehati-hatian perlu kiranya kita mencari waktu yang tepat untuk berhubungan seksual di malam hari bulan Ramadhan. Apalagi, berhubungan seksual merupakan aktivitas yang menyenangkan lagi menyehatkan, maka perlu dilakukan di waktu yang menyenangkan, dan dengan cara yang menyenangkan pula; tidak khawatir dikejar waktu terbitnya fajar. Wallahu a’lam.


Ustadz Husnul Haq, Ketua Yayasan Mamba’ul Ma’arif Tulungagung dan dosen IAIN Tulungagung. 

Kamis 30 Mei 2019 19:0 WIB
Nasihat Kontemplatif Menyambut Idul Fitri
Nasihat Kontemplatif Menyambut Idul Fitri
Sebentar lagi lebaran. Sebelum itu, kita simak nasihat Sayyid Abdul Aziz al-Darani dalam kitab Thahârah al-Qulûb wa al-Khudlû’ li ‘Allâm al-Ghuyûb. Sayyid Abdul Aziz al-Darani akan berbicara tentang cara terbaik menyambut Idul Fitri, yaitu dengan tidak terlalu tenggelam dalam kehidupan dunia, dan lebih memahami makna yang terkandung dalam Idul Fitri. Beliau mengutip beberapa perkataan salaf al-shalih terdahulu:

قال لقمان لابنه: يا بنيّ إن الدنيا بحر عميق قد غرق فيه ناس كثير فلتكن فيه سفينتك تقوي الله تعالي وحشوها الإيمان بالله وشراعها التوكل علي الله لعلك ناج ولا أراك ناجيا. وقال الإمام مالك بن أنس رضي الله عنه: حب الدنيا يخرج حلاوة الإيمان من القلب.
وقال حاتم الأصم: الدنيا مثل ظلك إن تركته تراجع وإن تبعته تباعد

“Berkata Sayyidina Luqman kepada anaknya: ‘wahai anakku, dunia adalah samudera yang dalam. Telah banyak orang yang tenggelam di dalamnya, maka jadikanlah takwa sebagai perahumu, iman kepada Allah sebagai bahan bakarnya, dan tawakkal sebagai dayungnya, semoga saja kau selamat, meski kecil kemungkinanmu untuk selamat.”

“Imam Malik bin Anas berkata: ‘cinta kepada dunia dapat mengeluarkan manisnya iman dari hati.”

“Imam Hatim al-Asham berkata: ‘dunia seumpama bayanganmu, jika kau berhenti, ia berhenti pula, dan jika kau mengikutinya, ia akan semakin menjauh.” (Sayyid Abdul Aziz al-Darani, Thahârah al-Qulûb wa al-Khudlû’ li ‘Allâm al-Ghuyûb, Beirut: Darul Kutub al-‘Ilmiyyah, 2003, h. 174)

Kemudian Sayyid Abdul Aziz al-Darani mengutip perkataan ulama lainnya:

من عمل لآخرته كفاه الله أمر دنياه، ومن أصلح سريرته أصلح الله علانيته، ومن أصلح ما بينه وبين الله تعالي أصلح الله ما بينه وبين الناس

“Barangsiapa yang beramal untuk akhiratnya, Allah akan cukupkan urusan dunianya. Barangsiapa yang memperbagus jiwanya (mentalnya), Allah akan perbagus zahirnya. Barangsiapa yang memperbagus hubungannya dengan Allah, Allah akan perbagus hubungannya dengan manusia.” (Sayyid Abdul Aziz al-Darani, Thahârah al-Qulûb wa al-Khudlû’ li ‘Allâm al-Ghuyûb, 2003, h. 174)

Dengan sisa Ramadhan yang hanya beberapa hari lagi, masih belum terlambat untuk kita memulai membersihkan diri, atau mempersiapkan diri agar hidup kita dipenuhi keberkahan dan kemanfaatan di kemudian hari; agar kita menjadi pribadi yang berbeda setelah menjalankan puasa Ramadhan; agar kita tidak tenggelam dalam samudera dunia seperti yang diwasiatkan Sayyidina Luqman al-Hakim; agar kita tidak terperangkap dengan kecintaan kepada dunia yang berlebih. Karena itu, mari kita renungkan nasihat panjang Sayyid Abdul Aziz al-Darani berikut ini:

وودعوا شهر رمضان بكثرة الإستغفار من التقصير والعزم علي دوام الجد والتشمير، ألا وإن من كان يعبد محمدا فحمد فد مات ومن كان يعبد رب محمد فإن رب محمد حيّ لا يموت

“Ucapkan selamat tinggal pada bulan Ramadhan dengan memperbanyak istighfar karena kurangnya melaksakanan ibadah dengan baik, dan (jagalah) kesungguhan keinginan beribadah dan cekatan dalam menunaikannya. Ingatlah barangsiapa yang menyembah Muhammad, sesungguhnya Muhammad telah mati, tapi barangsiapa yang menyembah Tuhannya Muhammad, sesungguhnya Tuhannya Muhammad Maha Hidup dan tidak akan pernah mati.” (Sayyid Abdul Aziz al-Darani, Thahârah al-Qulûb wa al-Khudlû’ li ‘Allâm al-Ghuyûb, 2003, h. 175-176)

وروي أن الله تعالي يقول للملائكة إذا اجتمعوا لصلاة العيد: (يا ملائكتي ما جزاء من وفّي عمله؟ فيقولون يا ربنا يوفّي أجرته, فيقول: أشهدكم يا ملائكتي أني قد غفرت لهم) ـ

“Diriwayatkan bahwa Allah SWT berkata kepada para malaikat ketika orang-orang berkumpul untuk melakukan shalat ‘Id: ‘wahai para malaikatKu, apa balasan bagi orang yang telah memenuhi amalnya?’ Para malaikat menjawab: ‘wahai Tuhan kami, hendaknya ia dipenuhi ganjarannya’. Allah berkata: ‘Aku bersaksi kepada kalian, wahai para malaikatKu, sungguh telah Kuampuni dosa-dosa mereka.” (Sayyid Abdul Aziz al-Darani, Thahârah al-Qulûb wa al-Khudlû’ li ‘Allâm al-Ghuyûb, 2003, h. 177)

فإذ رأيت يوم العيد خروج الناس من الدور فاذكر خروج الأموات من الأجداث يوم النشور وآخر يتزين بأفخر ثيابه وآخر حزين لأجل مصابه وآخر يتعطر بأطيب الروائح وآخر يسمع في داره النوائح, وهم ما بين ماش وراكب, مصحوب ومصاب، ومطلوب وطالب، وكذلك يخرجون يوم القيامة، واحد يأتي فرحا مسرورا، وآخر يدعو وبلا وثبورا (يَوْمَ نَحْشُرُ الْمُتَّقِيْنَ إلَي الرَّحْمنِ وَفْدًا وَنَسُوقُ الْمُجْرِمِيْنَ إلي جَهَنَّمَ وِرْدًا) ـ

“Jika kau melihat di hari ‘Id banyak manusia yang keluar dari rumah-rumahnya, ingatlah (peristiwa) keluarnya semua manusia yang telah mati dari kuburannya di hari berbangkit. Sebagian berhias dengan pakaiannya yang paling indah; sebagian sedih karena musibah (ketidakmampuan mereka); sebagian memakai wewangian dengan parfum yang paling harum; sebagian lainnya terdengar meratap dan menjerit di persinggahannya. Sebagian dari mereka berjalan dan berkendaraan, ditemani dan menemani, diminta dan meminta. Begitulah mereka dibangkitkan kelak di hari kiamat, dimana sebagian datang dengan wajah gembira dan senang, sementara sebagian lain berdoa agar dibinasakan dan dimatikan saja. (Allah berfirman [Q.S. Maryam 85-86]: [Ingatlah!] hari ketika Kami mengumpulkan orang-orang yang takwa kepada Tuhan yang Maha Pemurah sebagai perutusan yang terhormat, dan Kami akan menghalau orang-orang yang durhaka ke neraka jahannam dalam keadaan dahaga).” (Sayyid Abdul Aziz al-Darani, Thahârah al-Qulûb wa al-Khudlû’ li ‘Allâm al-Ghuyûb, 2003, h. 177)

وإذا رأيت أنواع الخلائق إلي الفضاء قد برزت فاذكر نشر الأعلام للسعداء إذا ساروا إلي دار السلام، وإذا رأيت الخلائق قد اجتمعت وللأذان قد استمعت فاذكر وقت الوقوف بين يدي الملك الديان إذا شخصت الأبصار

“Jika kau melihat bermacam-macam makhluk (manusia) menuju beberapa penjuru saat ‘Id, ingatlah ketika orang-orang yang beruntung diberi panji saat mereka menuju Darussalam. Jika kau melihat manusia telah berkumpul dan panggilan telah terdengarkan, ingatlah waktu berbangkit menghadap yang Maha Membalas ketika penglihatan manusia dibuka (kembali).” (Sayyid Abdul Aziz al-Darani, Thahârah al-Qulûb wa al-Khudlû’ li ‘Allâm al-Ghuyûb, 2003, h. 177)

وإذا رأيت تفرق الناس من المصلّي كل يذهب إلي منزله ومأواه فاذكر يوم يصدر الناس أشتاتا عن مورد القيامة، كل إلي محله ومثواه. ليس الطيب في العيدين تطييبا بريح العود وإنما الطيب أن تتوب فلا تعود، وتتعري من لباس السمعة والرياء وتلبس ثياب الورع والحياء، وتتطيب بطيب الصدق والوفاء، وتركب مركب الود والصفاء، وتتحلي بالعبادة وترتدي بالزهادة، وتتمنطق بالصيانة وتتختم بالأمانة وتخرج إلي المصلي خروج وجل من الرد, وتمشي مشي خجل من الصد، وتخاف أن تكون أعمالك مرعودة معلولة، وطاعتك غير مقبولة 

“Jika kau melihat manusia berpencaran dari tempat shalat (‘Id) pulang ke rumah dan kediamannya, ingatlah ketika manusia saling terpisah (berpencaran) saat kiamat dibangkitkan, masing-masing menuju ke tempat tinggal dan kediamannya. Bukanlah hal yang baik di hari raya ‘Id berwangi-wangian dengan hembusan angin berpulang. Yang paling baik adalah kau bertobat dan tidak kembali melakukan perbuatan dosa. Kau lepaskan pakaian sum’ah dan riya’, serta gantilah dengan pakaian wara’ dan malu. Berwangi-wangianlah dengan wangian kejujuran dan memenuhi janji. Kendarailah kendaraan cinta dan kesucian. Hiasilah diri dengan hiasan ibadah dan pakailah pakaian kezuhudan. Pakailah jubah pengendalian diri dan bercincin amanah. Berangkatlah menuju tempat shalat (‘Id) dengan hati yang penuh kegelisahan, (jangan-jangan kau) akan tertolak. Berjalanlah dengan perasaan malu, (jangan-jangan amalmu) akan terintang, dan kau takut (jangan-jangan) amalmu terancam dipersoalkan, dan ketaatanmu tidak diterima.” (Sayyid Abdul Aziz al-Darani, Thahârah al-Qulûb wa al-Khudlû’ li ‘Allâm al-Ghuyûb, 2003, h. 177-178)

وتكبر تكبير من عظم ربه، وتصاغرت عنده نفسه وتذكر ذنبه، وتقف في الصلاة وقوف خاشع, وتركع ركوع خاضع، وتسجد سجود طامع، وتجلس لسماع الخطبة كمن أحضر للحساب وهو ينتظر ما يرد عليه من الخطاب، وإلا فما ينفع التزين باللباس البيض، والقلب في وهم الدنيا مريض وما يفيد التزين باللباس ولم تنزع رداء الإلباس

“Agungkanlah Tuhan (takbir) dengan takbirnya orang yang (sungguh-sungguh) mengagungkan Tuhan, dengan merendahkan dirinya sendiri di hadapan Tuhannya dan mengingat-ingat dosa-dosanya. Berdirilah untuk shalat dengan khusyu’, ruku’ dengan penuh ketundukan, dan sujud dengan penuh pengharapan. Duduklah mendengarkan khutbah seperti orang yang hadir untuk dihisab sementara menunggu interogasi yang akan dihadapkan kepadanya. Jikalau tidak, lantas apa manfaat menghias diri dengan pakaian putih sementara hati masih dalam bayangan duniawi yang sarat penyakit? Apa gunanya kau berhias dengan pakaian sedangkan kau tidak melepas selendang kerancuan?” (Sayyid Abdul Aziz al-Darani, Thahârah al-Qulûb wa al-Khudlû’ li ‘Allâm al-Ghuyûb, 2003, h. 177-178)

Semoga kita bisa merenungkan nasihat panjang yang diberikan Sayyid Abdul Aziz al-Darani, agar kita bisa lebih mampu menjadi manusia yang terus bertambah baik seiring berjalannya waktu. Semoga amal ibadah kita tidak hanya diterima, tapi membuat kita menjadi pribadi yang lebih baik. Amin. Wallahu a’lam bish shawwab...


Muhammad Afiq Zahara, alumni Pondok Pesantren Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan