IMG-LOGO
Ramadhan

Lailatul Qadar, Perbanyak Baca Doa Sapu Jagat

Senin 3 Juni 2019 14:30 WIB
Lailatul Qadar, Perbanyak Baca Doa Sapu Jagat
Pada hitungan sepuluh malam terakhir bulan ramadhan, Nabi Muhammad SAW menyambut malam mulia itu dengan mengajarkan kepada umatnya agar melakukan i’tikaf. Walaupun i’tikaf bisa dilakukan kapan saja dan selama apapun.

Bahkan dalam pandangan Imam Syafi’i, walaupun hanya sesaat selama dibarengi oleh niat yang suci, Nabi Muhammad selalu melakukannya pada sepuluh hari dan malam terakhir bulan puasa.

Di sanalah beliau bertadarus dan merenung sambil berdoa. Muhammad Quraish Shihab dalam Membumikan Al-Qur’an: Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat (1999) mengungkapkan bahwa salah satu doa yang paling sering beliau baca dan hayati maknanya adalah:

ِرَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّار

Rabbana atina fiddunya hasanah, wa fil akhirati hasanah wa qina ‘adzabannar.

(Wahai Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami kebajikan di dunia dan kebajikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa api neraka).

Doa yang sering dipanjatkan oleh Nabi Muhammad tersebut bukan sekadar berarti permohonan untuk memperoleh kebajikan di dunia dan akhirat, tetapi juga untuk memantapkan langkah dalam berupaya meraih kebajikan yang dimaksud. Artinya daya atau kemampuan untuk mendapatkan kebajikan tersebut. Sebab doa sendiri mengandung arti permohonan yang disertai usaha.

Terlihat dampak dari doa tersebut tidak hanya untuk mendapatkan kebajikan di dunia, tetapi juga bagaimana kebajikan tersebut berlanjut hingga di hari kemudian. Hal ini sesuai dengan hakikat malam lailatul qadar itu sendiri yang kebaikan dan kemuliaannya bersifat tanazzalul (berkesinambungan).

Kalau yang demikian itu dapat diraih oleh manusia, maka jelaslah ia telah memperoleh kemuliaan dunia dan akhirat. Karena itu, tidak heran jika kita mendengar jawaban Rasulullah SAW yang menunjuk pada doa tersebut ketika istri beliau menanyakan doa apa yang harus dibaca jika ia merasakan kehadiran malam lailatul qadar?

Di atas telah dikemukakan bahwa Nabi Muhammad menganjurkan sambil mengamalkan i’tikaf di masjid dalam rangka melakukan perenungan dan penyucian jiwa. Masjid adalah tempat suci, tempat segala aktivitas kebajikan bermula. Di masjid, seseorang diharapkan merenung tentang diri dan masyarakatnya.

Di masjid juga, seseorang dapat menghindar dari hiruk pikuk yang menyesakkan jiwa dan pikiran guna memperoleh tambahan pengetahuan dan pengayaan iman. Itulah sebabnya ketika melakukan i’tikaf, seseorang dianjurkan untuk memperbanyak doa dan bacaan Al-Qur’an, atau bahkan bacaan-bacaan lain yang dapat memperkaya iman dan ketakwaan.

Perihal turunnya malaikat seperti dijelaskan dalam Surat Al-Qadr ayat 4, tanazzalul malaikatu war ruhu fiha bi idzni rabbihim minkulli amr (Pada malam itu turun malaikat-malaikan dan malaikan Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan), ketika malam lailatul qadar menemui orang yang mempersiapkan diri menyambutnya berarti bahwa ia akan disertai oleh malaikat.

Hal tersebut membuat hatinya selalu didorong untuk melakukan kebaikan-kebaikan. Jiwanya akan selalu merasakan salam (rasa aman dan kedamaian) yang tidak terbatas sampai fajar malam lailatul qadar, tetapi hingga akhir hayat menuju fajar kehidupan baru di hari kehidupan kelak.

Hal penting yang harus diperhatikan yaitu seseorang jangan hanya pasif menunggu malam Lailatul Qadar tiba, tetapi keistimewaan malam tersebut harus direngkuh secara aktif dengan sejumlah ibadah dan amal kebaikan.

Dengan demikian, untuk bertemu malam Lailatul Qadar, seseorang sesungguhnya bisa mempersiapkan diri sedari awal Ramadhan tiba. Ini menunjukkan bahwa kebaikan harus bersifat kontinu atau terus-menerus sebagaimana kemulian yang ditunjukkan pada malam lailatul qadar dan dampaknya terhadap kehidupan di masa-masa yang akan datang.

Poin penting yang harus diperhatikan terkait malam Lailatul Qadar ialah selain bertemu malam lailatul qadar, manusia juga mendapatkannya. Kata ‘mendapatkan’ mempunyai konsekuensi bahwa seseorang harus melakukan ibadah dan amal kebaikan sehingga mendapatkan kemuliaan malam tersebut. (Fathoni)
Share: