IMG-LOGO
Trending Now:
Sirah Nabawiyah

Yang Membuat Nabi Muhammad Menangis

Senin 15 Juli 2019 6:0 WIB
Share:
Yang Membuat Nabi Muhammad Menangis
Sama seperti manusia pada umumnya, Nabi Muhammad juga menangis. Tidak hanya sekali atau dua kali, beliau menangis berkali-kali. Bahkan dalam beberapa keadaan tertentu, tangisan Nabi Muhammad pecah hingga air matanya mengalir deras dan dadanya bergetar. 

Lantas apa yang membuat Nabi Muhammad sampai menangis? Apakah penyebabnya sama seperti manusia umumnya? Atau ada hal-hal tertentu? Setidaknya ada beberapa hal yang membuat Nabi Muhammad sampai menangis –bahkan hingga tersedu-sedu. Pertama, orang yang dikasihi meninggal dunia. Ketika anak-anaknya wafat, Nabi Muhammad tidak kuasa menahan diri sehingga menangis tersedu-sedu.

Dikisahkan, ketika Abdullah wafat misalnya, air mata Nabi Muhammad bercucuran di pipinya hingga membasahi janggutnya. Hatinya begitu sedih. Namun demikian, Nabi Muhammad sadar batasan-batasannya sehingga dirinya tidak sampai larut pada kesedihan itu. Karena bagaimanapun, semua itu adalah kehendak Allah. 

“Air mata mengalir, bercucuran tidak menetap di mata. Hatipun bersedih. Namun, kami tidak pernah durhaka kepada Allah,” kata Nabi Muhammad saat ada seorang sahabat yang bertanya ‘Apakah Nabi Muhammad menangis’ ketika Abdullah meninggal dunia, seperti keterangan dalam buku Tertawa Bersama Al-Qur’an, Menangis Bersama Al-Qur’an (Hasan Tasleden, 2014).

Hal yang sama juga terjadi ketika anak Nabi Muhammad yang lainnya, Ibrahim, wafat. Saat itu, Nabi Muhammad meratapi kepergian Ibrahim. Air mata Nabi Muhammad mengalir deras hingga membasahi wajahnya. Melihat hal itu, sahabat Abdurrahman bin Auf bertanya 'Kau menangis Rasulullah? Bukankan kau sendiri melarang menangisi kematian seseorang?'. 

“Ibnu Auf, aku tidak melarang menangis. Yang ku larang adalah dua teriakan dosa; nyanyian yang tak bermakna dan dan melalaikan serta ratapan histeris saat tertimpa musibah dengan menampari wajah dan merobek-robek pakaian. Sedang yang terjadi padaku ini adalah ungkapan kasih sayang,” jawab Nabi Muhammad, merujuk buku Sahabat-sahabat Cilik Rasulullah (Nizar Abazah, 2011).

Nabi Muhammad juga menangis ketika ada sahabatnya meninggal dalam peperangan. Saat Hamzah meninggal ketika perang Uhud misalnya, beliau menangis tersedu-sedu ketika mendengar kabar kepergian pamannya itu. Tangisan Nabi kembali pecah saat melihat jenazah Hamzah. Begitu pun ketika Ja’far, Ibnu Ruwahah, dan Zaid bin Haritsah yang wafat dalam perang Mu’tah, kedua mata Nabi mencucurkan air mata kesedihan.  

Kedua, membaca atau mendengar ‘ayat-ayat tertentu.’ Hati Nabi Muhammad begitu lembut=, sehingga ketika beliau membaca atau ada seorang sahabat yang membaca ‘ayat-ayat tertentu’, maka air mata Nabi bercucuran.

Diceritakan, suatu ketika Nabi Muhammad meminta Abdullah bin Mas’ud untuk membaca sebagian ayat Al-Qur’an. Lantas Abdullah bin Mas’ud membaca Surat an-Nisa’. Ketika sampai pada ayat 41 (Dan bagaimanakah (keadaan orang kafir), jika Kami datangkan seorang saksi (rasul) dari setiap umat dan Kami mendatangkanmu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka), tiba-tiba Nabi Muhammad meminta Abdullah bin Mas’ud berhenti. Cukup, kata Nabi Muhammad. Abdullah bin Mas’ud kemudian menoleh ke arah Nabi. Ia mendapati kalau pada saat itu Nabi Muhammad tengah menangis dan air matanya bercucuran.

Al-Qur'an Surat an-Nisa ayat 41 menjelaskan tentang posisi Nabi Muhammad yang di akhirat nanti menjadi saksi bagi umatnya yang durhaka. Tangisan Nabi menjadi penanda bahwa hati beliau yang begitu lembut hingga tak sampai hati kalau-kalau umatnya nanti menerima penderitaan—meski akibat ulah mereka sendiri.

Ketiga, rindu kampung halamannya. Saat itu Aban bin Said baru saja datang dari Makkah. Sesampai di Madinah, dia menemui Nabi Muhammad. Nabi kemudian bertanya tentang keadaan Makkah saat ini. Kata Aban bin Said, saat dirinya meninggalkan Makkah, hujan sedang turun, rumput izhir tumbuh, dan jewawut liat baru saja berdaun. Mendengar hal itu, mata Nabi Muhammad tiba-tiba digayuti air mata.

Di samping itu, Nabi Muhammad juga menangis setelah ‘menceramahi’ kaum Anshar. Alkisah, setelah perang Hunani, Nabi Muhammad membagikan harta rampasan perang kepada kaum Muhajirin dan mualaf. Kaum Anshar yang tidak menerima rampasan perang marah dan kesal dengan kebijakan Nabi Muhammad tersebut. 

Nabi kemudian mengumpulkan kaum Anshar dan menceramahi mereka. Kepada kaum Anshar, Nabi Muhammad menjelaskan bahwa harta rampasan dari perang Hunain sengaja dibagikan kepada kaum Muhajirin dan mualaf agar mereka semakin kuat keimanan dan keislamannya. Nabi berdalih, kaum Anshar tidak diberi rampasan perang karena mereka sudah kokoh imannya. Setelah mendengar ceramah Nabi, kaum Anshar menangis tersedu-sedu. Begitu pun dengan Nabi Muhammad. (A Muchlishon Rochmat)
Share:
Ahad 14 Juli 2019 17:0 WIB
Kesaksian Raja Oman Atas Sosok Nabi Muhammad
Kesaksian Raja Oman Atas Sosok Nabi Muhammad
“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak,” kata Nabi Muhammad. 

Seorang sahabat pernah mengatakan bahwa Nabi Muhammad saw adalah manusia terbaik, baik secara lahiriah (khalq), maupun batiniyah (khuluq). Dalam artian, perawakan Nabi Muhammad begitu sempurna; wajahnya bercahaya, tubuh tinggi sedang, kulit terang, hidung mancung, gigi putih tersusun rapi, mata hitam, mulut sedang, dan lainnya. 

Di samping itu, akhlak Nabi Muhammad juga begitu luhur dan agung. Dalam sebuah kesempatan, Nabi Muhammad menegaskan bahwa dirinya diutus Allah ke dunia ini untuk menyempurnakan akhlak yang mulia. Ungkapan yang disampaikan Nabi Muhammad ini penuh dengan akhlak. Iya, kata yang digunakan adalah menyempurnakan, bukan mengoreksi, menghakimi apalagi menyalahkan akhlak yang dipraktikkan umat manusia sebelumnya.

Dikatakan Sayyidah Aisyah bahwa akhlak Nabi Muhammad adalah Al-Qur’an. Mengapa demikian? Karena yang menjadi sumber utama akhlak Nabi Muhammad adalah Al-Qur’an. Perbuatan dan perkataan Nabi Muhammad adalah cerminan Al-Qur’an. Maka tidak salah jika Nabi Muhammad adalah Al-Qur’an yang berjalan di atas bumi ini. 

Yang menarik adalah sifat akhlak Nabi Muhammad yang serasi dan integral. Maksudnya, satu sisi dari akhlaknya tidak mengalahkan sisi yang lainnya. Misalnya, kesabaran Nabi Muhammad tidak mengalahkan keberaniannya, kejujurannya sama dengan kesantunannya, amanahnya sama dengan kedermawanannya, dan seterusnya.

Maka tidak heran banyak orang yang terpesona dengan akhlak yang ditampilkan Nabi Muhammad. Bahkan banyak dari mereka yang akhirnya memeluk Islam setelah mengetahui akhlak Nabi Muhammad. Diantara orang yang kagum dan memuji akhlak Nabi Muhammad yang begitu luhur adalah al-Julandi, Raja Oman yang sezaman dengan Nabi. 

Dalam buku Rasulullah Teladan Untuk Semesta Alam (Raghib as-Sirjani, 2011) disebutkan, al-Julandi menyatakan bahwa Nabi Muhammad adalah orang yang bukan hanya memerintahkan untuk mengerjakan sesuatu, melainkan dirinya juga melakukannya. Juga melarang meninggalkan sesuatu, kecuali dirinya menjauhinya. Dikatakan pula bahwa Nabi Muhammad adalah orang sangat memegang teguh perjanjian.

“Demi Allah. Nabi yang ummi (buta huruf) ini tidaklah memerintahkan sesuatu, kecuali ia pasti yang pertama kali melakukannya. Dan tidaklah ia melarang sesuatu kecuali ia yang pertama kali meninggalkannya,” kata al-Julandi.


“Sesungguhnya jika ia menang, ia tidak merendahkan dan jika ia kalah, ia tidak gelisah. Ia penuhi semua perjanjian dan ia lakukan semua yang dijanjikan, dan aku mengakui bahwa ia adalah seorang nabi,” lanjutnya.


Ketika kedudukan umat Islam yang bermarkas di Madinah semakin kokoh, Nabi Muhammad mengirimkan surat kepada para raja di sekitar jazirah Arab. Mulai dari Raja Romawi Timur, Heraklius, hingga Raja Persia, Kisra. Termasuk Raja Oman saat itu, al-Julandi. Adalah Amru bin al-Ash yang diutus Nabi Muhammad untuk menyampaikan surat kepada al-Julandi. 

Melalui surat-surat tersebut, Nabi Muhammad mengajak mereka untuk memeluk Islam. Ada raja yang menolak ajakan Nabi Muhammad. Ada juga yang menerimanya, Raja Oman al-Julandi misalnya. Al-Julandi tidak ragu mengakui Muhammad sebagai seorang nabi. Ia juga tidak segan-segan memberikan pujian atas sosok Nabi Muhammad yang akhlaknya begitu mulia. (Muchlishon)
Kamis 11 Juli 2019 13:0 WIB
Kecintaan Nabi Muhammad pada Cucu Perempuannya, Umamah
Kecintaan Nabi Muhammad pada Cucu Perempuannya, Umamah
“Rasulullah saw. pernah shalat dengan Umamah binti Amr bin al-Ash di pundaknya. Beliau meletakkan ketika rukuk dan mengangkatnya kembali ketika beliau berdiri,” kata Abdullah bin Harits bin Naufal dan Abu Qatadah dalam sebuah riwayat.

Nabi Muhammad begitu sayang kepada cucu-cucunya. Beliau kerap kali membawa mereka di atas punggungnya. Memeluk, membelai, dan mencium mereka dengan penuh kasih sayang. Bahkan, Nabi Muhammad beberapa kali memosisikan dirinya ‘seperti kuda’, sementara cucu-cucunya naik di atas punggungnya. Kasih sayang dan perlakuan seperti itu tidak hanya ditujukan Nabi Muhammad kepada Hasan dan Husain, tapi juga dengan cucu perempuannya, Umamah. 

Umamah adalah anak dari Sayyidah Zainab, putri sulung Nabi Muhammad dengan Sayyidah Khadijah. Sementara bapaknya adalah Amr bin al-Ash bin Rabi’, biasanya dikenal Abul Ash bin Rabi’. Seorang yang masih kerabat dengan Nabi Muhammad. Abul Ash adalah anak dari Halah binti Khuwailid, saudara perempuan dari Sayyidah Khadijah binti Khuwailid.

Sebagaimana riwayat Abdullah bin Harits bin Naufal dan Abu Qatadah, Nabi Muhammad juga pernah mengajak Umamah ketika sedang shalat; beliau menggendong Umamah di pundaknya, meletakkannya ketika rukuk, dan mengangkatnya lagi saat berdiri. Persis ketika Nabi Muhammad mengajak Hasan dan Husain ketika shalat.

Tidak hanya itu, kecintaan Nabi Muhammad kepada cucu perempuannya itu juga terlihat ketika beliau memberikan hadiah kepada Umamah. Dalam buku Purnama Madinah: 600 Sahabat Wanita Rasulullah saw. yang Menyemarakkan Kota Nabi (Ibn Sa’ad, 1997) dikisahkan, suatu ketika Negus memberikan perhiasan kepada Nabi Muhammad, termasuk sebuah cincin emas. Setelah menerima hadiah itu, Nabi Muhammad kemudian memberikannya kepada cucunya, Umamah.

“Hiasilah dirimu dengan ini, gadis kecil,” kata Nabi Muhammad kepada Umamah.

Pada kesempatan lain, sebagaimana riwayat Ali bin Zaid bon Jid’an, Nabi Muhammad pulang ke rumah dengan membawa sebuah kalung batu onyx. Kepada para anak dan istrinya, Nabi mengatakan bahwa dirinya akan memberikan kalung batu onyx tersebut kepada orang yang paling dicintainya. 

Mendengar hal itu, para keluarga Nabi semula menyangka bahwa kalung tersebut akan diberikan kepada Sayyidah Aisyah. Namun dugaan mereka meleset. Nabi Muhammad malah memanggil Umamah dan meletakkan kalung itu di tangannya, bukan Sayyidah Aisyah. Pada saat itu, Nabi yang melihat ada kotoran di mata Umamah langsung membersihkannya dengan tangannya.

Sikap Nabi Muhammad terhadap Umamah dan cucu-cucunya yang lain tentu ‘aneh’ bagi masyarakat Makkah pada saat itu. Mengapa? Karena pada saat itu hubungan seorang kakek dengan cucunya sangat lah kaku dan keras, tidak luwes sebagai sikap yang ditunjukkan Nabi Muhammad; mencium, membelai, bermain-main bersama dengan cucu-cucunya.

Umamah adalah anak kedua –anak terakhir- dari Abul Ash dan Sayyidah Zainab. Kakaknya, Ali meninggal saat masih kecil. Nantinya, Umamah dipersunting oleh Sayyidina Ali bin Abi Thalib setelah wafatnya Sayyidah Fathimah az-Zahra. (A Muchlishon Rochmat)
Selasa 9 Juli 2019 17:0 WIB
Shalat Terakhir Nabi Muhammad
Shalat Terakhir Nabi Muhammad
“Mungkin aku tidak akan bertemu lagi dengan kalian setelah tahun ini dan aku tidak akan berhaji lagi setelah tahun ini,” kata Nabi Muhammad di hadapan para sahabatnya saat haji wada’ pada tahun ke-10 Hijriyah. 

Nabi Muhammad merasakan sakit pada kepalanya setelah menghadiri penguburan jenazah di kuburan Baqi'. Kejadian itu terjadi pada hari Senin di akhir bulan Safar tahun ke-10 Hijriyah dan dinilai sebagai awal mula sakit yang diderita Nabi Muhammad sebelum wafat. Adalah istrinya, Sayyidah Aisyah, yang menceritakan hal tersebut. Semula Sayyidah Aisyah mengeluh kepada Nabi Muhammad kalau kepalanya sakit. Kepada Sayyidah Aisyah, Nabi Muhammad kemudian mengaku kalau kepalanya juga sakit.

Menurunnya kondisi kesehatan Nabi Muhammad juga dipengaruhi oleh efek racun dalam daging domba hadiah Zainab binti al-Harits setelah Perang Khaibar lalu atau akhir tahun ke-6 H. Zainab binti al-Harits adalah salah satu Yahudi Khaibar yang tidak terima dengan hasil perang Khaibar. Ia tidak rela dengan kaum Muslim karena telah membunuh orang-orang terkasihnya. Ia mencari berbagai macam cara untuk membalas dendam dan membunuh Nabi Muhammad.

Ia kemudian berpura-pura memberikan hadiah makanan kesukaan Nabi Muhammad, daging domba panggang. Naasnya, hidangan tersebut ditaburi dengan racun yang paling mematikan.  Nabi Muhammad bersama para sahabat memakan domba panggang tersebut dengan lahap. Hingga ketika hendak menyantap bagian paha depan, Nabi Muhammad baru menyadari kalau hidangan itu mengandung racun setelah melihat kaki domba. Riwayat lain menyebutkan bahwa Nabi Muhammad diberi tahu oleh tulang domba yang berada di tangannya (setelah mendapatkan wahyu Allah) kalau makanan itu beracun. 

Nabi Muhammad beserta pasukan umat Islam pergi ke Khaibar. Beliau meminta penduduknya menyerah karena sebelumnya diketahui kalau Khaibar dijadikan tempat konsolidasi untuk menyerang Madinah. Penduduk Khaibar yang mayoritas kaum Yahudi menolak seruan Nabi Muhammad. 

Kondisi kesehatan Nabi Muhammad semakin menurun beberapa bulan setelah kepalanya sakit usai dari Baqi'. Beliau menderita sakit yang cukup parah sehingga membuat para keluarga dan sahabatnya bersedih dan khawatir. Mereka tidak rela kalau Nabi Muhammad akan secepat itu meninggalkannya. 

Meski sudah sakit parah, Nabi Muhammad masih tetap menjadi imam shalat lima waktu. Merujuk buku Sirah Nabi (Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, 2012), pada hari-hari terakhirnya Nabi Muhammad hendak pergi ke masjid untuk mengimami Shalat Isya. Namun karena kondisinya yang tidak memungkinkan, beliau akhirnya pingsan. Setelah bangun, beliau berupaya untuk berangkat ke masjid lagi. Namun Lagi-lagi pingsan. Hal ini berlangsung hingga tiga kali. 

Akhirnya Nabi Muhammad meminta Sayyidina Abu Bakar as-Shiddiq untuk menjadi imam shalat, menggantikan posisis beliau yang tidak sanggup mengimami lagi. Maka sejak saat itu, Sayyidina Abu Bakar menjadi imam shalat di Masjid Nabawi. Total ada 17 shalat dimana Sayyidina Abu Bakar menjadi imam dan Nabi Muhammad masih hidup. 

Pada hari terakhir, Nabi Muhammad merasakan kalau kondisinya membaik. Demam yang menyergap tubuhnya selama ini menjadi reda. Beliau kemudian menuju ke masjid untuk mengerjakan Shalat Shubuh. Sebagaimana keterangan dalam buku Tarikh Muhammad saw: Teladan Perilaku Umat (Tahia al-Ismail, 1996), Nabi Muhammad dibopong Sayyidina Ali bin Abi Thalib dan al-Fadhl bin Abbas ketika hendak menuju masjid. Para sahabat gembira sekali ketika melihat kondisi Nabi Muhammad yang membaik sehingga bisa datang ke masjid. 

Sayyidina Abu Bakar yang sudah mengambil posisi imam shalat hendak mundur setelah melihat kedatangan Nabi Muhammad. Ia mempersilahkan Nabi Muhammad untuk mengimami Shalat Shubuh, namun Nabi Muhammad tidak berkenan. Beliau meletakkan tangannya di pundak Sayyidina Abu Bakar dan memintanya tetap menjadi imam shalat. Dan Shalat Shubuh ini menjadi shalat terakhir Nabi Muhammad bersama para sahabatnya. Peristiwa ini terjadi pada hari Sabtu atau Ahad di hari-hari terakhir wafatnya Nabi.

Setelah shalat, Nabi Menyampaikan ceramah. Para sahabat duduk mengelilingi Nabi Muhammad dan mendengarkan ceramah dengan seksama. Kata Nabi Muhammad, “Api terus berkobar dan godaan datang seperti potongan-potongan malam yang gelap. Aku tidak menghalalkan kecuali yang dihalalkan oleh Al-Qur’an dan aku tidak akan mengharamkan kecuali yang diharamkan oleh Al-Qur’an.”

“Sepeninggalku kalian akan banyak berselisih. Apa saja yang sesuai dengan Al-Qur’an itu berasal dariku, apa saja yang tidak sesuai dengan Al-Qur’an itu bukan dariku,” lanjut Nabi Muhammad.

Kemudian pada hari Senin waktu shubuh Nabi Muhammad menyingkap biliknya. Beliau melihat Sayyidina Abu Bakar mengimami Shalat Shubuh di masjid dan memperhatikan para jamaah. Ia kemudian tersenyum. 

Mengetahui hal itu, Sayyidina Abu Bakar hendak mundur ke belakang di shaf makmum. Ia mengira Nabi Muhammad akan menuju ke masjid dan mengimami mereka. Namun, Nabi Muhammad memberikan isyarat agar Sayyidina Abu Bakar menyempurnakan shalatnya. Beliau kemudian menutup biliknya dan masuk kembali ke dalam kamar. Setelah kejadian itu, Nabi Muhammad tidak memperoleh kesempatan untuk melaksanakan shalat lagi karena ajalnya sudah datang. (A Muchlishon Rochmat)