IMG-LOGO
Sirah Nabawiyah

Kebijaksanaan Nabi Muhammad Menghadapi Tokoh Munafik, Abdullah bin Ubay

Sabtu 20 Juli 2019 17:0 WIB
Share:
Kebijaksanaan Nabi Muhammad Menghadapi Tokoh Munafik, Abdullah bin Ubay
null
Abdullah bin Ubay bin Salul dikenal sebagai gembong kaum munafik. Dia begitu dengki dan membeci Nabi Muhammad karena menganggapnya sebagai penghalang dirinya untuk menjadi penguasa Madinah. Iya, semula Abdullah bin Ubay direncanakan akan diangkat sebagai tokoh dan penguasa Madinah karena menjadi salah satu tokoh yang berhasil meredam ketegangan antara kabilah Aus dan Khazraj. 

Namun setelah Nabi Muhammad datang ke Madinah, pengaruh Abdullah bin Salul menjadi pudar. Hingga akhirnya Nabi lah yang menjadi pemimpin Kota Madinah. Karena itu lah, Abdullah bin Ubay menaruh kebencian dan kedengkian terhadap Nabi Muhammad

Abdullah bin Ubay kemudian masuk Islam, sebagaimana kabilah Aus dan kabilah Khazraj lainnya, setelah Nabi Muhammad tiba di Madinah. Namun, dia hanya berpura-pura menjadi pengikut Nabi Muhammad. Sejatinya, dia memendam kebencian dan permusuhan terhadap Nabi. Tidak seperti umumnya musuh Nabi, seperti keterangan dalam buku Para Penentang Muhammad saw. (Misran dan Armansyah, 2018), Abdullah bin Ubay memusuhi Nabi Muhammad dengan cara-cara halus dan konspiratif. Ia kerap kali menghasut, memfitnah, dan mengadu domba antara satu sahabat dengan yang lainnya –bahkan dengan Nabi Muhammad sendiri. 

Diantara bukti kemunafikan Abdullah bin Ubay adalah melakukam propaganda dan mengajak mundur 300 pasukan diri dari pasukan Nabi Muhammad saat Perang Uhud, menyebarkan fitnah keji bahwa Sayyidah Aisyah telah melakukan serong dengan Shafwan (hadits al-ifki), berkonspirasi untuk membunuh Nabi Muhammad dalam Perang Dzatu Riqa, memerintahkan budaknya untuk melacurkan diri, dan lainnya. 

Kisah Abdullah bin Ubay berbeda dengan anak-anaknya. Mereka semua masuk Islam dan menjadi sahabat Nabi Muhammad yang setia. Hubab atau Abdullah adalah salah satu anak Abdullah bin Ubay yang paling menonjol. Ia ikut dalam Perang Badar, Uhud, dan lainnya. 

Suatu ketika Hubab atau Abdullah sangat kesal dengan kemunafikan bapaknya, Abdullah bin Ubay. Sehingga Hubab atau Abdullah meminta izin Rasulullah untuk memenggal kepala bapaknya itu. Namun, Rasulullah melarangnya dan menyuruh Hubab atau Abdullah untuk tetap berbuat kepada bapaknya.

“Kalau engkau bermaksud membunuhnya, maka perintahkanlah aku yang melakukannya, nanti kuantar kepalanya kepadamu,” kata Hubab atau Abdullah.

“Tidak, kita akan tetap bergaul baik dengannya selama dia masih hidup bersama kita,” jawab Nabi Muhammad.

Dalam kesempatan lain, merujuk buku Membaca Sirah Nabi Muhammad Dalam Sorotan Al-Qur’an dan Hadis-hadis Shahih (M Quraish Shihab, 2018), Abdullah bin Ubay menyebarkan propagranda dan api kebencian terhadap kaum Muhajir di hadapan kelompoknya. Kata Abdullah bin Ubay, kaum Muhajir telah membenci penduduk Madinah dan banyak dari mereka yang bermukim di Kota Madinah. 
 
“Demi Allah, kita dengan mereka tidak lain kecuali seperti ungkapan, ‘Engkau menggemukkan anjingmu, lalu dia menerkammu.’ Demi Allah, kalau kita kembali ke Madinah, pastilah orang-orang mulia akan mengusir orang-orang hina,” kata Abdullah bin Salul kepada kelompoknya.

Perkataan Abdullah bin Ubay itu didengar Zaid bin Arqam. Zaid kemudian menyampaikan informasi itu kepada pamannya, dan pamannya melanjutkannya kepada Nabi Muhammad. Mendengar hal itu, Sayyidina Umar bin Khattab yang saat itu bersama Nabi Muhammad meminta izin agar diperbolehkan membunuh Abdullah bin Ubay. Nabi menolak permintaan Sayyidina Umar tersebut.

“Bagaimana kalau orang berkata ‘Muhammad membunuh sahabatnya’? Tidak,” kata Nabi Muhammad menjawab permintaan Sayyidina Umar. 

Abdullah bin Ubay kemudian datang menghadap Nabi Muhammad, setelah mendengar bahwa Nabi mengetahui ucapannya itu. Ia mengelak telah mengucapkan hal demikian. Di hadapan Nabi, Abdullah bin Ubay bahkan bersumpah bahwa dirinya tidak pernah mengucapkan hal itu. Ia berdalih, Zaid lah yang salah dengar ucapannya. 

Tidak lama setelah kejadian itu, Nabi Muhammad menerima wahyu Al-Qur’an Surat al-Munafiqun ayat 8-10. Dengan turunnya ayat ini, maka Allah membenarkan kabar yang disampaikan Zaid bin Arqam dan menunjukkan kemunafikan Abdullah bin Ubay. (A Muchlishon Rochmat)
Share:
Jumat 19 Juli 2019 6:0 WIB
Ketika Nabi Muhammad Mendamaikan Dua Orang yang Bertikai
Ketika Nabi Muhammad Mendamaikan Dua Orang yang Bertikai
“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih)….(al-Hujurat: 10)

Nabi Muhammad adalah juru damai yang handal. Terbukti, beliau berhasil mendamaikan dua kelompok –Bani Aus dan Bani Khazraj- yang sudah lama bertikai. Iya, kedua bani itu terlibat peperangan selama puluhan tahun sebelum Nabi Muhammad hijrah ke Madinah. Banyak korban berjatuhan dalam perang saudara tersebut. Bahkan, semua pemimpin Bani Aus dan Bani Khazraj gugur dalam perang Bu’ats –perang ini terjadi lima tahun sebelum Nabi hijrah ke Madinah.

Ketika Nabi Muhammad di Madinah, keadaan menjadi damai. Bani Aus dan Khazraj tidak lagi berperang. Malah keduanya menjadi saudara seiman yang saling mendukung dan menghormati. Tidak ada lagi kebencian. Tidak ada lagi dendam di antara mereka. Yang ada adalah kerukunan dan perdamaian. Semuanya berbait kepada Nabi Muhammad.  

Namun demikian, ada kejadian dimana ‘api konflik’ itu masih tersulut. Dikisahkan, suatu ketika Bani Aus dan Khazraj sedang berkumpul dalam satu majelis untuk mendiskusikan suatu hal. Tiba-tiba ada seorang pemuda dari Bani Aus melantunkan sebait syair yang mengandung celaan terhadap Bani Khazraj. Tidak terima dengan ejekan tersebut, seseorang dari Bani Khazraj membalasnya. 

Mereka kemudian saling serang. Tidak cukup sampai di situ, mereka pulang ke rumah dan mengambil senjatanya masing-masing untuk berperang. Tidak lama berselang, kabar pertikaian antara dua orang dari Bani Aus dan Bani Khazrah tersebut sampai ke telinga Nabi Muhammad. Dan pada saat bersamaan, Nabi Muhammad menerima wahyu Al-Qur’an Surat Ali Imrah ayat 102. 

Beliau kemudian bergegas menemui mereka untuk melerainya. Merujuk buku Hayatush Shahabah (Syaikh Muhammad Yusuf al-Kandahlawi, 2019), betis Nabi Muhammad sampai terluka karena saking cepatnya beliau berjalan menuju tempat pertikaian. 

Ketika melihat kedua orang yang hendak berperang itu, Nabi Muhammad langsung membacakan wahyu yang baru saja diterimanya. Kata Nabi Muhammad, ‘Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya, dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam (Yā ayyuhallażīna āmanuttaqullāha ḥaqqa tuqātihī wa lā tamụtunna illā wa antum muslimụn),” kata Nabi Muhammad. Mendengar hal itu, mereka yang sudah bersiap berperang langsung membuang senjatanya, saling berpelukan, dan menangis tersedu-sedu. 

Dalam sebuah hadits riwayat Bukhari dan Muslim, Nabi Muhammad menyatakan bahwa mendamaikan dua orang yang sedang bersengketa adalah termasuk sedekah. Oleh sebab itu, Nabi Muhammad dalam berbagai kesempatan selalu mengingatkan agar mempererat hubungan antarmanusia dan mendamaikan dua pihak yang bertikai dengan cara yang adil.  

Dikutip dari buku Akhlak Rasul Menurut Al-Bukhari dan Muslim (Abdul Mun’im al-Hasyimi, 2018), Nabi Muhammad pernah bersabda bahwa mendamaikan dua pihak yang berkonflik itu memiliki derajat yang lebih tinggi dari pada shalat, puasa, dan sedekah. 

“Maukah kalian saya beri tahu tentang amal yang derajatnya lebih tinggi dari shalat, puasa, dan sedekah?” tanya Nabi Muhammad kepada sahabatnya.

“Mau wahai Rasul,” jawab mereka.

“Mendamaikan dua pihak yang bermusuhan. Karena sesungguhnya bila dua orang yang bermusuhan itu sudah rusak (nalar dan perilakunya) maka dia akan memangkas (agama mereka),” balas Nabi. 

Saking pentingnya mendamaikan orang yang bertikai, Islam memberikan keringanan kepada orang yang melakukannya. Yakni dibolehkannya berbohong demi mewujudkan perdamaian di antara mereka. “Tidak termasuk pembohong orang yang mendamaikan dua orang (yang bermusuhan), dan berkata baik kepada pihak sini dan pihak sana,” kata Nabi Muhammad dalam sebuah hadits riwayat Bukhari, Muslim, dan Abu Dawud. (A Muchlishon Rochmat)
Kamis 18 Juli 2019 6:0 WIB
10 Fakta Menarik ketika Nabi Muhammad Melaksanakan Haji Wada’
10 Fakta Menarik ketika Nabi Muhammad Melaksanakan Haji Wada’
Ilustrasi orang melaksanakan haji.
Nabi Muhammad bersama ratusan ribu sahabat melaksanakan ibadah haji pada tahun ke-10 Hijriyah. Haji yang dilakukan Nabi Muhammad ini dikenal dengan haji wada’, karena pada haji ini Nabi Muhammad sekaligus ‘berpamitan’ dengan para sahabatnya. Ini sekaligus menjadi haji pertama dan terakhir yang dilaksanakan Nabi Muhammad sepanjang hidupnya. Karena pada musim haji berikutnya, Nabi Muhammad sudah tiada. 

Merujuk buku Membaca Sirah Nabi Muhammad Dalam Sorotan Al-Qur’an dan Hadis-hadis Shahih (M Quraish Shihab, 2018), ada beberapa hal dan fakta menarik yang terjadi -dan yang dilakukan Nabi- sepanjang pelaksanaan haji wada’ tersebut. Pertama, niat haji. Para ulama berbeda pendapat mengenai niat haji Nabi Muhammad. Ada yang berpendapat Nabi berniat haji ifrad (melaksanakan haji saja, tidak umrah). Ada yang mengatakan Nabi berniat haji tamattu’ (melaksanakan umrah dahulu, kemudian baru haji).  Dan sebagian lainnya menyebut Nabi berniat haji qiran (berniat haji dan umrah sekaligus).

Kedua, tidak shalat tahiyatal masjid. Nabi Muhammad tiba di Makkah pada Ahad pagi, 4 Dzul Hijjah dengan mengendarai untanya, al-Qashwa. Ketika sampai di Masjidil Haram, Nabi Muhammad tidak menunaikan shalat tahiyatal masjid, alias langsung melaksanakan tawaf.

Ketiga, tawaf dengan menunggang unta. Pada saat melaksanakan ibadah haji wada’, Nabi Muhammad bertawaf dengan mengendarai untanya, al-Qashwa. Hal ini sesuai dengan riwayat Ibnu Abbas, Abu Thufail, dan Amir bin Watsilah. Kata mereka, Nabi Muhammad tawaf di atas tunggangannya.

Keempat, tidak mencium langsung hajar aswad. Saat tawaf, Nabi Muhammad mengendarai untanya dan memegang sebuah tongkat. Setiap kali melewati hajar aswad, Nabi Muhammad mengayunkan tongkatnya ke arah batu hitam tersebut sebagai isyarat penghormatan. Beliau tidak turun dari untanya dan berdesak-desakan dengan jamaah lainnya untuk mencium langsung hajar aswad.

Kelima, menyampaikan khutbah. Ketika di Arafah, Nabi Muhammad menyampaikan khutbah di hadapan ratusan ribu sahabatnya yang juga ikut berhaji. Dalam khutbah tersebut, Nabi Muhammad menyinggung tentang prinsip-prinsip dasar ajaran Islam, hak asasi manusia, pembatalan praktik riba, penegasan makna jihad, sejumlah adat kebiasaan jahiliyah, dan lainnya.

Keenam, turunnya Al-Qur’an Surat al-Maidah ayat 3. Nabi Muhammad menerima wahyu dari Allah saat wuquf di Arafah. Yakni QS al-Maidah ayat 3; ‘Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agama kamu, yakni tekah Ku-turunkan semua yang kamu butuhkan dari prinsip-prinsip petunjuk agama yang berkaitan dengan halal dan haram, dan telah Ku-cukupkan kepada kamu nikmat-Ku, sehingga kamu tidak butuh lagi kepada petunjuk agama selainnya, dan telah Ku-ridhai Islam itu, yakni penyerahan diri sepenuhnya kepada-Ku menjadi agama bagi kamu).

Ketujuh, mempercepat langkah ketika tiba di Wadi al-Muhassar. Wadi al-Muhassar merupakan lembah atau lokasi yang terletak di antara Mina dan Muzdalifah. Di lokasi inilah, tentara bergajah pimpinan Abrahah –yang hendak menyerang Ka’bah- dibinasakan oleh Allah. Oleh sebab itu, Nabi Muhammad mempercepat langkah untanya ketika sampai di lokasi Wadi al-Muhassar.

Kedelapan, menyembelih 63 ekor unta. Nabi Muhammad menyembelih 63 ekor unta dengan tangannya sendiri setelah melontar jumrah. Sebetulnya, ada sekitar 100-an ekor unta yang dibawa dari Madinah, namun Nabi hanya menyembelih 63 ekor. Sementara sisanya -atas instruksi Nabi- disembelih oleh Sayyidina Ali bin Abi Thalib. Jumlah 63 ekor sesuai dengan usia Nabi Muhammad saat itu, yakni 63 tahun. 

Kesembilan, bermalam di Mina selama tiga malam. Sesuai dengan Al-Qur’an Surat al-Baqarah ayat 103, para jamaah haji diizinkan bermalam di Mina hanya dua malam saja. Namun demikian, Nabi Muhammad tinggal di Mina selama tiga malam.

Terakhir, memberikan ‘kemudahan’ kepada para sahabatnya dalam melaksanakan haji. Setelah kembali dari Mina, banyak sahabat yang bertanya kepada Nabi Muhammad mengenai persoalan haji. Ada sahabat yang bertanya kalau dirinya lupa melempar jumrah, lupa tawaf, lupa mencukur rambut sebelum menyembelih, dan lain sebagainya.

Nabi Muhammad kemudian menjawab hampir semua persoalan sahabatnya itu dengan jawaban ‘tidak mengapa’ (la haraja). Jika ada yang lupa melontar jumrah, Nabi Muhammad menyuruh orang tersebut untuk pergi pada saat itu juga dan melontar. Begitu pun sahabat yang lupa tawaf, mencukur rambut, dan lainnya. Mereka disuruh untuk segera melaksanakan ritual haji yang lupa dikerjakan tersebut. (A Muchlishon Rochmat)
Rabu 17 Juli 2019 6:0 WIB
Kenapa Nabi Muhammad Baru Haji pada Tahun Ke-10 Hijriyah?
Kenapa Nabi Muhammad Baru Haji pada Tahun Ke-10 Hijriyah?
Selama sembilan tahun tinggal di Madinah, Nabi Muhammad tidak pernah melaksanakan ibadah haji di Makkah. Beliau baru mengumumkan kepada para sahabatnya akan melaksanakan ibadah haji pada tahun ke-10 Hijriyah. Para sahabat menyambut pengumuman Nabi Muhammad itu dengan begitu antusias. Mereka beramai-ramai mempersiapkan diri untuk ikut haji bersama Nabi Muhammad.

Maka jadilah tahun itu, tahun ke-10 H, Nabi Muhammad bersama para sahabatnya melaksanakan ibadah haji. Haji yang dilakukan Nabi Muhammad itu kemudian dikenal dengan haji wada’, haji pertama dan terakhir yang pernah dilakukan Nabi sepanjang hidupnya. Karena pada musim haji berikutnya, Nabi Muhammad sudah tiada.

Lalu, apa yang membuat Nabi Muhammad baru melaksanakan ibadah haji pada tahun ke-10 Hijriyah? Mengapa beliau tidak menunaikan rukun Islam kelima itu pada tahun-tahun sebelumnya?

Sebetulnya keinginan Nabi Muhammad untuk berhaji sudah sejak tahun ke-9 H. Saat itu, setelah kembali ke Madinah dari pertempuran Tabuk pada bulan Ramadhan tahun ke-9 H, Nabi Muhammad mengungkapkan keinginannya untuk melaksanakan ibadah haji. Namun, beliau kemudian mengurungkan niatnya karena pada saat itu masih ada orang musyrik yang tawaf di Ka’bah dalam keadaan telanjang. Nabi Muhammad dengan tegas menyatakan bahwa selama praktik itu masih ada, maka dirinya tidak akan menunaikan ibadah haji.

“Orang-orang musyrik melakukan tawaf dalam keadaan telanjang. Sungguh aku tidak akan melakukan ibadah haji sampai tidak ada lagi hal seperti itu,” kata Nabi Muhammad, seperti dikutip dari buku The Great Episodes of Muhammad saw (Said Ramadhan al-Buthy, 2017).

Di samping itu, bacaan dan doa yang mereka lafalkan dalam ibadah haji mengandung kemusyrikan yang nyata. Misalnya ketika membaca talbiyah, mereka mengucapkan ‘Huwa laka tamlikuhu wama malaka labbaika la syarika laka’. Artinya,  Kuperkenankan panggilan-Mu. Tiada sekutu bagi-Mu kecuali milik-Mu yang Engkau miliki dan dia (sekutu itu) tidak memiliki kuasa. 

Merujuk buku Membaca Sirah Nabi Muhammad Dalam Sorotan Al-Qur’an dan Hadis-hadis Shahih (M Quraish Shihab, 2018), situasi dan kondisi yang belum kondusif seperti itulah yang membuat Nabi Muhammad enggan melaksanakan ibadah haji. Di samping itu, menurut pendapat sementara ulama, Nabi Muhammad baru haji pada tahun ke-10 H karena baru tahun itulah turun kewajiban melaksanakan haji. 

Namun demikian, keadaan semacam itu tidak membuat Nabi Muhammad melarang para sahabatnya berhaji. Pada tahun ke-9 itu, beliau mengutus Sayyidina Abu Bakar menjadi Amir al-Hajj, memimpin rombongan umat Islam dari Madinah ke Makkah untuk melaksanakan haji. Setelah Sayyidina Abu Bakar dan rombongan berangkat, Nabi Muhammad menerima wahyu QS at-Taubah yang berkaitan dengan pembatalan perjanjian antara dirinya dengan kaum musyrik Makkah.

Nabi Muhammad lantas mengutus Sayyidina Ali bin Abi Thalib pergi ke Makkah. Misinya adalah untuk mengumumkan pembatalan perjanjian Nabi Muhammad, sesuai wahyu yang baru saja turun, kepada semua pihak, terutama kepada kaum musyrik Makkah. Sayyidina Ali bertemu dengan rombongan Sayyidina Abu Bakar di sebuah wilayah bernama Dzy al-Halifah. Mereka kemudian menuju ke Makkah secara bersama-sama. Sayyidina Abu Bakar masih tetap sebagai Amir al-Hajj, sementara Sayyidina Ali berposisi sebagai utusan khusus Nabi yang bertugas menyampaikan wahyu yang baru saja turun itu.

Pada tanggal 9 atau 10 Dzul Hijjah tahun ke-9 H, Sayyidina Ali bin Abi Thalib menyampaikan pesan Nabi Muhammad kepada para kaum musyrik yang tengah melaksanakan haji di Ka’bah. Atas nama Nabi Muhammad, Sayyidina Ali menegaskan bahwa orang musyrik tidak boleh lagi melaksanakan haji pada tahun berikutnya. Mereka juga tidak diperkenankan lagi melaksanakan tawaf dalam keadaan telanjang. Dia juga menyatakan, siapapun yang menjalin perjanjian dengan Nabi Muhammad maka itu sudah berakhir. 

“Ditetapkan empat bulan sejak saat ini bagi semua orang untuk kembali ke kampung halamannya dan memperoleh jaminan keamanan, setelah masa itu berlalu, maka tidak ada lagi perjanjian dan tidak ada lagi jaminan keamanan, kecuali bagi siapa yang mempunyai ikatan perjanjian dengan Nabi yang berlaku sampai masanya,” kata Sayyidina Ali.

Setelah mendengar pengumuman dari Sayyidina Ali bin Abi Thalib, kaum Muslim melanjutkan ibadah haji sesuai dengan tuntunan ajaran Islam. Sementara kaum musyrik melakukan haji sesuai dengan adat kebiasaannya. Mereka kemudian kembali ke tempat asalnya setelah selesai melaksanakan haji. (A Muchlishon Rochmat)