IMG-LOGO
Trending Now:
Doa

Doa saat Galau dan Risau

Jumat 23 Agustus 2019 18:0 WIB
Share:
Doa saat Galau dan Risau
Ilustrasi orang berdoa. (NU Online)
Galau dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti kacau tidak keruan (pikiran). Sementara risau dalam KBBI berarti gelisah atau rusuh hati. Kegalauan dan kerisauan sekali waktu hinggap. Pada saat seperti itu dunia terasa berhenti berputar karena suasana batin yang sedang kalut dan cemas.

Pada saat seperti ini kita dianjurkan untuk membaca doa riwayat Ibnu Sinni sebagai berikut:

أعُوذُ بِكَلِماتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ مِنْ غَضَبِهِ وَعِقابِهِ وَشَرِّ عِبَادِهِ، وَ مِنْ هَمَزَاتِ الشَّياطِينِ وأنْ يَحْضُرُونِ‏

A‘ūdzu bi kalimātillāhit tāmmāti min ghadhabihī, wa ‘iqābihī, wa syarri ‘ibādihī, wa min hamazātis syayāthīni wa an yahdhurūn.

Artinya, “Aku berlindung dengan kalimat Allah yang sempurna dari murka-Nya, siksa-Nya, keburukan hamba-Nya, gangguan setan, dan setan yang hadir.”

Doa ini dapat dibaca ketika galau dan risau serta cemas menyergap di malam hari sehingga tidak bisa tidur. Doa ini pernah diajarkan oleh Rasulullah saw kepada sahabat Al-Walid Ibnul Walid:

روينا في كتاب ابن السني، عن الوليد بن الوليد رضي اللّه عنه أنه قال‏:‏ يارسول اللّه‏!‏ إني أجدُ وحشةً، قال‏:‏‏"‏إذَا أخَذْتَ مَضْجَعَكَ فَقُلْ‏:‏ أعُوذُ بِكَلِماتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ مِنْ غَضَبِهِ وَعِقابِهِ وَشَرِّ عِبَادِهِ، وَ مِنْ هَمَزَاتِ الشَّياطِينِ وأنْ يَحْضُرُونِ‏.‏ فإنَّها لا تَضُرُّكَ أوْ لا تَقْرَبُكَ‏"

Artinya, “Diriwayatkan kepada kami di Kitab Ibnu Sinni dari Al-Walid Ibnul Walid ra., ia berkata, ‘Wahai Rasulullah, saya merasa gelisah.’ ‘Bila kau naik ke tempat tidur, hendaklah berdoa, ‘A‘ūdzu bi kalimātillāhit tāmmāti min ghadhabihī, wa ‘iqābihī, wa syarri ‘ibādihī, wa min hamazātis syayāthīni wa an yahdhurūn.’ Niscaya ia tidak membahayakanmu atau tidak mendekatimu,’” (HR Ibnu Sinni).

Adapun berikut ini adalah lafal doa yang juga dapat dibaca di kala seseorang dipenjara oleh rasa cemas. Doa ini diriwayatkan oleh Imam At-Thabarani.

سُبْحَانَ المَلِكِ القُدُّوْسِ رَبِّ المَلَائِكَةِ وَالرُّوْحِ  جَلَّلْتَ السَّمَوَاتِ وَ الأرْضَ بالعِزَّةِ والجبَرُوتِ

Subhānal malikil quddūs, rabbil malā’ikati war rūh, jallaltas samāwāti wal ardha bil ‘izzati wal jabarūt.

Artinya, “Mahasuci Tuhan yang Kudus, Tuhan para malaikat dan Jibril. Kau besarkan langit dan bumi dengan kemuliaan dan kekuasaan-Mu.”

Doa ini dikutip oleh Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah dalam karyanya yang membahas doa, Al-Wabilus Shayyib minal Kalimit Thayyib, [Kairo, Darur Rayyan lit Turats: 1987 M/1408 H], cetakan pertama, halaman 225).

عن البراء بن عازب أن رجلا اشتكى إلى رسول الله  - صلى الله عليه وسلم -  الوحشة، فقال قل : سُبْحَانَ المَلِكِ القُدُّوْسِ رَبِّ المَلَائِكَةِ وَالرُّوْحِ  جَلَّلْتَ السَّمَوَاتِ وَ الأرْضَ بالعِزَّةِ والجبَرُوتِ، فقالها الرجل فذهب عنه الوحشة

Artinya, “Dari Al-Barra bin Azib bahwa seseorang mengadu kepada Rasululah saw perihal kerisauannya. Rasulullah memerintahkan, ‘Bacalah, ‘Subhānal malikil quddūs, rabbil malā’ikati war rūh, jallaltas samāwāti wal ardha bil ‘izzati wal jabarūt.’ Orang itu kemudian mematuhinya sehingga kerisauan itu pergi,’”

Kedua lafal doa ini dapat dibaca ketika seseorang dirundung galau dan risau berat sehingga kadang tidak tahu harus berbuat apa karena cemasnya. Semoga doa ini bermanfaat bagi mereka yang sedang galau dan risau. Wallahu a’lam. (Alhafiz Kurniawan)
Share:

Baca Juga

Sabtu 17 Agustus 2019 7:0 WIB
Doa agar Mudah Menerima Kenyataan
Doa agar Mudah Menerima Kenyataan
Foto: nu online
Sebagian orang terkadang tidak mudah menerima kenyataan politik, hukum, ekonomi-bisnis, sosial, dan juga pribadi yang tidak sesuai dengan harapan. Mereka menilai kenyataan yang tidak sesuai dengan harapan dapat membawa mafsadat baginya. Padahal, kenyataan yang tidak sesuai harapan bisa jadi membuka banyak pintu kemaslahatan baru baginya.

Mereka yang tengah dihadapkan pada kenyataan pahit kehidupan yang tidak sesuai harapan harus tetap menjaga situasi batin dan kekuatan mental. Mereka dianjurkan untuk mengucap kalimat sebagai berikut:

حَسْبِىَ اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ

Hasbiyallāhu wa ni‘mal wakīl.

Artinya, “Cukuplah Allah bagiku dan ia sebaik-baik wakil.” 

Anjuran ini didasarkan pada hadits riwayat Imam Abu Dawud, An-Nasai, dan Al-Baihaqi. Semangat anjuran ini bukan hanya terletak pada pelafalan kalimat “Hasbiyallāhu wa ni‘mal wakīl,” tetapi pada penguasaan emosi dan penguatan mental serta mengembalikan persoalan berat kepada Allah ketika menerima sebuah kenyataan meski pahit sekalipun.

عَنْ عَوْفِ بْنِ مَالِكٍ رَضِىَ اللَّهُ أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- قَضَى بَيْنَ رَجُلَيْنِ فَقَالَ الْمَقْضِىُّ عَلَيْهِ لَمَّا أَدْبَرَ حَسْبِىَ اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ فَقَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- إِنَّ اللَّهَ جَلَّ ثَنَاؤُهُ يَلُومُ عَلَى الْعَجْزِ وَلَكِنْ عَلَيْكَ بِالْكَيْسِ فَإِذَا غَلَبَكَ أَمْرٌ فَقُلْ حَسْبِىَ اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ 

Artinya, “Dari Auf bin Malik RA bahwa Rasulullah SAW memutuskan perkara di antara dua orang. Orang yang berperkara ketika berpaling mengucap, ‘Hasbiyallāhu wa ni‘mal wakīl.’ Rasulullah kemudian bersabda, ‘Allah mencela kelemahan. Sebaliknya, kau harus kuat. Jika kau dirundung oleh suatu masalah, hendaknya mengucap, ‘Hasbiyallāhu wa ni‘mal wakīl,’’” (HR Abu Dawud, An-Nasai, dan Al-Baihaqi).

Uraian ini diangkat oleh Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah perihal menerima qadha dan qadar pada karyanya Al-Wabilus Shayyib minal Kalimit Thayyib.

Menurutnya, agama melarang kita untuk mengumpat dengan kalimat-kalimat yang buruk dan membawa mudharat serta tidak bermanfaat. Agama menuntut seseorang untuk melakukan upaya maksimal sebelum akhirnya kenyataan tiba.

Jika takdir berkata lain, maka ia dapat mengucap “Hasbiyallāhu wa ni‘mal wakīl.” Kalimat ini cukup terpuji bila seseorang mengerahkan upaya maksimal sebelum kenyataan tiba.

Adapun seseorang menjadi tercela menurut agama kalau hanya mengandalkan kalimat tersebut tanpa didahului oleh upaya maksimal/ikhtiar. (Lihat Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, Al-Wabilus Shayyib minal Kalimit Thayyib, [Kairo, Darur Rayyan lit Turats: 1987 M/1408 H], cetakan pertama, halaman 228-229).

Tetapi lafal ini dapat dimaknai sebagai sebuah doa agar hati kita dimudahkan dalam menerima kenyataan pahit yang sudah ditakdirkan oleh Allah. Wallahu a’lam. (Alhafiz K)
Ahad 11 Agustus 2019 21:0 WIB
Doa ‘Menjinakkan’ Gunung dan Kidung Kacer Mbah Marijan
Doa ‘Menjinakkan’ Gunung dan Kidung Kacer Mbah Marijan
Ilustrasi (Instragram @nubackpacker)
Banyak dari warga Indonesia yang tinggal di lereng gunung. Juga tren wisata pendakian ke gunung semakin meningkat seiring masifnya publikasi foto-foto yang instagrammable dengan spot gunung.
 
Sebagaimana kita tahu juga, Indonesia adalah salah satu negara yang memiliki gunung terbayak dan teraktif di dunia. Sesekali, gunung itu kadang batuk, erupsi, memuntahkan laharnya. Fakta ini kadang membuat kita khawatir, selain hal-hal lain soal gunung, tentang mistik, misalnya.
 
KH Achmad Chalwani, Pengasuh Pondok Pesantren An-Nawawi, sekaligus Mursyid tarekat Qadiriyyah/Naqsyabandiyyah Berjan Purworejo, dalam bukunya Risalah Doa dan Shalawat yang diterbitkan oleh KESAPP (2017), pada hal. 34 memuat "Doa Menjinakkan Gunung". Berikut doanya:
 
لَوْ أَنزَلْنَا هَٰذَا الْقُرْآنَ عَلَىٰ جَبَلٍ لَّرَأَيْتَهُ خَاشِعًا مُّتَصَدِّعًا مِّنْ خَشْيَةِ اللَّهِ ۚ وَتِلْكَ الْأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ 
 
Lau anzalnâ hâdzal qur’âna 'alâ jabalin lara-aitahû khâsyi‘an mutashaddi'an min khasy-yatillâh, watilkal amtsâlu nadlribuhâ lin nâsi la’allahum yatafakkarûn
 
Artinya, “Kalau sekiranya Kami turunkan Al-Qur’an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan ketakutannya kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berpikir” (QS. Al-Hasyr: 21).
 
وَإِذْ نَتَقْنَا الْجَبَلَ فَوْقَهُمْ كَأَنَّهُ ظُلَّةٌ وَظَنُّوا أَنَّهُ وَاقِعٌ بِهِمْ خُذُوا مَا آتَيْنَاكُم بِقُوَّةٍ وَاذْكُرُوا مَا فِيهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ 
 
Wa idz nataqnal jabala fauqahum ka-annahu dhullatun wa dhannû wâqi'un bihim. Khudzû mâ âtainâkum biquwwatin wadzkurû mâ fîhi la'allakum tattaqûn.
 
Artinya, “Dan (ingatlah), ketika Kami mengangkat bukit ke atas mereka seakan-akan bukit itu naungan awan dan mereka yakin bahwa bukit itu akan jatuh menimpa mereka. (Dan Kami katakan kepada mereka): "Peganglah dengan teguh apa yang telah Kami berikan kepadamu, serta ingatlah selalu (amalkanlah) apa yang tersebut di dalamnya supaya kamu menjadi orang-orang yang bertakwa" (QS. Al-A'raf:171).
 
Dalam bukunya, Kiai Chalwani tidak memberikan keterangan lebih lanjut berapa kali dan kapan dibaca. Hal ini—hemat penulis—bisa diartikan penting dibaca sesering mungkin bagi yang tinggal di lereng gunung, atau ketika gunung erupsi. Bagi pendaki, seperti penulis yang kadang mendaki bersama sobat NU Backpacker, misalnya, dibaca ketika hendak dan atau sewaktu melakukan pendakian.
 
Sebagai tambahan, KH Ahmad Muwafiq (Gus Muwafiq) pernah bercerita dalam suatu ceramahnya pada Haul Syekh Subakir di lereng Gunung Tidar beberapa bulan lalu, bahwa ia penasaran dengan Si Pawang Gunung Merapi, almarhum Mbah Marijan, perihal apa yang ia lakukan ketika Gunung Merapi erupsi.
 
Usut-punya usut, kiai gondrong dari Yogyakarta itu menemukan fakta yang agak mencengangkan: Mbah Marijan (ketika dulu masih hidup) mengambil kendang kemudian merapalkan Kidung Kacer. Setelah disimak dengan seksama, arti dari Kidung Kacer tersebut ternyata terjemah Jawa dari Surat al-Hasyr: 21 di atas.
 
"Karena lidah orang Jawa dulu sulit melafalkan Al-Hasyr, maka jadilah Kacer," jelas mantan asisten Gus Dur tersebut. Wallahu A'lam.
 
 
(Ahmad Naufa)
 
 
 
Ahad 14 Juli 2019 15:0 WIB
Nasihat Nabi Isa untuk Orang yang Hendak Berdoa
Nasihat Nabi Isa untuk Orang yang Hendak Berdoa
Ilustrasi (via mawdoo3com)
Dalam kitab al-Durru al-Mantsûr fî al-Tafsîr al-Ma’tsûr, Imam Jalaluddin Abdurrahman bin Abi Bakr al-Suyuthi mencatat sebuah riwayat dari Imam Wahb bin Munabbih tentang nasihat Nabi Isa ‘alaihissalam untuk orang yang hendak berdoa. Berikut riwayatnya:

وأخرج وهب بن منبه قال: قال المسيح عليه السلام: أكثروا ذكر الله، وحمده، وتقديسه، وأطيعوه فإنما يكفي أحدكم من الدعاء إذا كان الله تبارك وتعالي راضيا عليه أن يقول: اللهم إِغْفِرْ لِي خَطِيْئَتِي وَاصْلِحْ لِي مَعِيْشَتِي وَعَافِنِي مِنَ الْمَكَارِهِ, يَا إِلَهِي

Dikeluarkan oleh Wahb bin Munabbih, ia berkata: Al-Masih (Isa ‘alaihisslam) berkata: 

“Perbanyaklah berdzikir (mengingat) kepada Allah, (perbanyaklah) memuji-Nya dan menyucikan-Nya. Ta’atlah kepada-Nya, karena sesunguhhnya cukup bagi seorang dari kalian sebuah doa ketika Allah tabâraka wa ta’âla ridha atasnya, yaitu mengucapkan (doa): “allahummaghfir lî khathî’atî wa’ashlih lî ma’îsyatî wa ‘âfinî minal makârihi, yâ ilahî” (Ya Allah, ampunilah kesalahanku, baguskanlah kehidupanku, dan bebaskanlah aku dari tipu daya setan, wahai Tuhanku).” (Imam Jalaluddin Abdurrahman bin Abi Bakr al-Suyuthi, al-Durru al-Mantsûr fî al-Tafsîr al-Ma’tsûr, Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2015, juz 2, h. 54)

****

Nasihat Nabi Isa di atas perlu kita renungkan dalam-dalam, terutama bagi orang-orang yang hendak berdoa kepada Allah. Untuk memahaminya lebih jauh, kita akan membahasnya satu persatu. Berikut uraian singkatnya.

Dalam nasihatnya, Nabi Isa memerintahkan orang yang hendak berdoa untuk memperbanyak dzikir (mengingat), pujian (tahmid), dan pensucian (taqdis/tasbih) kepada Allah Swt. Beliau juga menekankan pentingnya menaati Allah. Ketaatan menjadi penting karena ia merupakan pintu menuju keridhaan Allah, sehingga Nabi Isa memerintahkan seseorang yang hendak berdoa memenuhi kedua aspek itu. Jika kedua aspek itu tidak terpenuhi, maka jangan salahkan siapa-siapa jika doanya tidak kunjung dikabulkan.

Kemudian Nabi Isa mengajarkan sebuah doa yang sangat menarik untuk dikaji. Teks doanya adalah: “Allahummaghfir lî khathî’atî wa’ashlih lî ma’îsyatî wa ‘âfinî minal makârihi, yâ ilahî” (Ya Allah, ampunilah kesalahanku, baguskanlah kehidupanku, dan bebaskanlah aku dari tipu daya setan, wahai Tuhanku). Menurut Nabi Isa, doa ini dapat membuka pintu keridhaan Allah. Tentu saja setelah berdzikir, bertahmid, bertasbih dan taat kepada-Nya. Lafadnya mengandung makna yang sangat luas dan mendalam. Dalam arti tidak hanya berhenti pada makna permohonan, tapi juga makna penerapan.

Yang pertama, lafad, “allahummaghfir lî khathî’atî” (Ya Allah, ampunilah kesalahanku). Tidak ada satupun manusia di dunia ini yang tidak pernah bersalah, kecuali para nabi. Semua manusia pernah berbuat salah dan dosa, meskipun orang tersebut adalah seorang ahli ibadah dan berilmu, dia tetap pernah melakukan kesalahan, sehingga memohon ampunan kepada Allah adalah kebutuhan setiap manusia sepanjang hidup.

Di sisi lain, memohon ampun juga termasuk bentuk mengingat (dzikir), memuji (tahmid) dan menyucikan (taqdis/tasbih) Allah. Dengan memohon ampunan-Nya, kita sedang mengingat Allah, karena tak mungkin memohon ampun tanpa mengingat Tuhan yang Maha-pengampun. Kita juga sedang memuji-Nya, karena dengan memohon ampun, kita sedang mengakui sifat-sifat-Nya yang Al-Ghafûr (Maha-mengampuni) dan Al-Tawwab (Maha-menerima tobat). Begitu pun dengan menyucikan-Nya. Ketika kita memohon ampun kepada-Nya, kita menghindarkan diri kita dari mengakui tuhan selain-Nya. Dengan memohon ampun hanya kepada-Nya, kita berada dalam tauhid (pengesaan), menyucikan Allah dari sesembahan lainnya.

Kedua, lafad, “wa’ashlih lî ma’îsyatî” (baguskanlah kehidupanku). “Bagus” di sini berarti “bagus” menurut Allah. Lafad, “ashlih” (bagus, baik, patut dan indah) berakar kata sama dengan “shâlih”, yang dalam Alquran sering didahului oleh lafad “’amal” (perbuatan). Artinya, “bagus” dalam doa ini adalah permohonan agar hidup selalu diliputi amal baik, dan terhindar dari perbuatan tercela.

Di samping itu, memohon dibaguskan hidupnya termasuk bentuk ketaatan kepada Allah, karena selalu mengharapkan kebaikan dalam hidupnya. Seperti penjelasan sebelumnya, “bagus” di sini berarti bagus menurut Allah. Dan, agar di“bagus”kan kehidupannya, seseorang harus mentaati perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, sehingga ia laik menyandang gelar “shâlih” (orang yang saleh).

Ketiga, lafad, “‘âfinî minal makârihi” (bebaskanlah aku dari tipu daya setan). Tipu daya setan sangat menggoda karena memanfaatkan kerakusan, syahwat dan watak buruk lainnya dari manusia. Karena itu Nabi Isa ‘alaihissalam berkata:

إن الشيطان مع الدنيا ومكره مع المال، وتزيينه عند الهوي واستكماله عند الشهوات

“Sesungguhnya setan bersama dunia, dan tipu dayanya bersama harta benda. Dia menghias di sekitar hawa nafsu, dan menyempurnakan (hiasan)nya di sekitar syahwat.” (Imam Jalaluddin Abdurrahman bin Abu Bakr al-Suyuthi, al-Durru al-Mantsûr fî al-Tafsîr al-Ma’tsûr, 2015, juz 2, h. 53)

Artinya, setan memanfaatkan ragam sisi lemah manusia; dunia, harta benda, hawa nafsu dan syahwat. Empat sisi ini digarap oleh setan dengan tampilan yang apik dan menggoda. Maka, tidak sedikit yang terjerumus ke dalam bujuk rayu setan. Karena itu, memohon kepada Allah agar diselamatkan dari tipu daya setan memang harus terus dilakukan. Karena semua orang pasti pernah mengalami dahsyatnya rayuan setan. Dia (setan) mempersembahkan hal buruk terlihat lezat dan nikmat dengan cara yang sangat halus, sehingga manusia tidak menyadari keburukan yang sedang dan akan dilakukannya.

Jadi, secara sistematis setan menyerang manusia dengan iming-iming dunia, merayunya dengan harta benda. Kemudian mulai mengipas-ngipasi hawa nafsunya, dan membelai-belai syahwatnya agar bergerak. Jika syahwat sudah bergerak, manusia akan menghalalkan segala cara untuk mencapai keinginannya, dan setan sangat pintar mengemas keinginan buruk itu seakan-akan mengasyikkan dan menyenangkan. Perasaan bersalah pun perlahan-lahan mengecil, sampai kemudian tak terdengar lagi. Inilah empat strategi setan yang terus dilakukan hingga akhir jaman. 

Karena itu, Nabi Isa mengajari kita rangkaian doa yang lengkap, yang telah mencakup segala aspek kehidupan, dari mulai ampunan dosa, kebaikan hidup dan terbebas dari tipu daya setan. Jika kita bisa dengan istiqamah mengamalkan doa tersebut, baik secara ritual (berdoa mengangkat tangan) maupun mengamalkan maknanya dalam perilaku sehari-hari, maka ridha Allah sangat dekat dengan kita. Mungkinkah dilakukan? Semoga saja.

Wallahu a’lam bish shawwab...


Muhammad Afiq Zahara, alumni PP. Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen