IMG-LOGO
Trending Now:
Tasawuf/Akhlak

Pola dan Cara Makan Rasulullah (3)

Sabtu 31 Agustus 2019 12:15 WIB
Share:
Pola dan Cara Makan Rasulullah (3)
Rasulullah ﷺ mengajarkan kepada kita untuk selalu berbagi makanan dengan siapa saja.
Pada tulisan sebelumnya telah disampaikan sembilanbelas pola dan cara makan Rasulullah ﷺ Di antaranya tak mencela makanan, makan dengan tangan kanan, membaca basmalah sebelum makan, makan dengan tiga jari, tidak duduk bersandar, dan sebagainya. Kali ini akan dipaparkan sejumlah pola dan cara makan Rasulullah ﷺ lainnya.
Kedua puluh, Rasulullah ﷺ mengajarkan agar kita tidak mengambil napas atau mengeluarkannya dalam gelas minum, sebagaimana dalam hadits, “Jika salah seorang kalian minum, maka janganlah bernapas di dalam gelas. Namun, jauhkanlah gelas itu dari mulutnya,” (HR Ibnu Majah). 
 
Ibnu ‘Abbâs meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ melarang mengambil atau mengeluarkan napas dalam gelas minum (HR al-Tirmidzi). Dalam riwayat selanjutnya, Ibnu Abbas menyebutkan bahwa Nabi ﷺ juga melarang mengeluarkan napas pada makanan dan minuman kecuali ada kebutuhan (HR Ahmad dan al-Thabrani). 
 
Kemudian jika minum dengan satu napas tidak puas, lakukan sampai tiga kali, selain cara itu lebih mampu menghapus rasa haus. Anas ibn Malik meriwayatkan bahwa di saat minum, Rasulullah ﷺ mengambil napas sampai tiga kali. Beliau juga bersabda, “Cara ini lebih baik dan lebih mampu menghilangkan rasa haus,” (HR Ahmad). 
 
Ibnu al-Qayyim berkomentar, maksud bernapas saat minum adalah memisahkan gelas dari mulut lalu mengambil napas di luar gelas. Lalu kembali menempelkan gelas pada mulut. 
 
Hal itu juga pernah ditanyakan oleh seorang pria, “Wahai Rasul, aku tidak merasa puas minum dengan satu napas.” Beliau menjawab, “Pisahkanlah gelas air minummu dari mulut, lalu ambillah napas,” (HR al-Baihaqi). 
 
Kedua puluh satu, makan dan minumlah dengan tidak berlebihan (HR Ibnu Majah). Hal ini juga sudah diperingatkan dalam Al-Qur’an, Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan, (QS al-A’raf [7]:31). 
 
Kedua puluh dua, melumat sisa-sia makanan yang masih menempel pada jari-jari. Hal ini diriwayatkan oleh Anas. Riwayat ini menyebutkan bahwa bila makan sesuatu, Rasulullah ﷺ selalu melumat ketiga jarinya (HR al-Tirmidzi).
 
Dalam riwayat lain, beliau bersabda, “Ketika salah seorang dari kalian makan, maka lumatlah (semua) jari-jarinya. Sebab dia tidak tahu di jari manakah keberkahan itu berada,” (HR Muslim). 
 
Dijelaskan oleh Ibnu Hajar, keberkahan itu tidak diketahui di jari yang mana ia berada. Karena itu, hendaknya seseorang melumat seluruh jarinya secara berurutan. Ketiga jarinya dilumat sampai tiga kali (jika makannya dengan tiga jari). Dimulai dari jari tengah, sebab ia paling panjang jadi mungkin paling kotor dan paling banyak makanan yang menempel. Setelah itu, jari telunjuk, lalu ibu jari. Dan itu bukan perbuatan yang kotor, sebagaimana anggapan sebagian orang (lihat: Asyraf al-Wasa’il, h. 203). 
 
Kedua puluh tiga, jika dibawakan makanan oleh seseorang atau mungkin oleh pelayan, hendaknya kita menerima makanan itu dengan senang hati dan menikmatinya. Jika perlu ajak pula ia memakannya. Kendati ia tidak mau duduk bersama kita, ambillah satu atau dua suap makanan darinya sebagai penghormatan, sebagaimana yang disampaikan Rasulullah ﷺ, “Jika pelayanmu datang membawa makanan maka terima dan nikmatilah. Duduklah engkau bersamanya. Jika engkau tidak duduk bersamanya, maka ambillah satu atau dua suap darinya,” (HR al-Bukhari). 
 
Kedua puluh empat, Rasulullah ﷺ mengajarkan kepada kita untuk selalu berbagi makanan dengan siapa saja, sebagaimana sabdanya, “Jika kalian memasak dalam sebuah wajan, maka perbanyaklah airnya agar tetangga kalian dapat turut menikmatinya,” (HR al-Bukhari). 
 
Kedua puluh lima, hendaknya kita menghabiskan makanan yang sudah dalam piring kita. Anas meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ pernah terkejut karena al-tsufl. Maksud dari al-tsufl adalah makanan yang tersisa (HR Ahmad dan al-Hakim). 
 
Kedua puluh enam, Rasulullah ﷺ mengajarkan bilamana makanan kita terkena lalat, maka celupkanlah seluruh lalat itu, “Ketika ada lalat masuk ke dalam minuman kalian, maka celupkanlah seluruh tubuh lalat itu lalu angkat kembali. Sebab, dalam salah satu sayapnya ada penyakit, sedangkan pada sayap yang lain ada penawarnya,” (HR al-Bukhari). 
 
Kedua puluh tujuh, Rasulullah ﷺ mengajarkan kepada kita agar menghindari makanan-makanan berbau, seperti bawang, kecuali setelah dimasak sempurna sehingga hilang baunya. “Siapa yang makan bawang merah atau bawang putih, hendaklah dia menjauhi kami, menjauhi masjid kami, dan tetap berada di rumahnya,” (HR al-Bukhari). 
 
Dalam riwayat lain, beliau bersabda, “Siapa yang makan sayuran ini, yakni bawang merah, bawang putih, dan bawang bakung, hendaklah dia tidak mendekati masjid kami. Sebab para malaikat terganggu seperti halnya terganggunya keturunan Adam,” (HR Muslim). 
 
Dalam riwayat berikutnya, beliau bersabda, “Siapa yang makan keduanya, maka sempurnakanlah memasaknya.” (HR Abu Dawud). 
 
Selain masjid, juga tentu tempat-tempat umum atau keramaian lainnya, seperti pasar, tempat resepsi, dan sebagainya. 
 
Demikian pula semua makanan yang beraroma tidak sedap dan mengganggu orang banyak dapat diperlakukan seperti bawang merah dan bawang putih. Contohnya jengkol dan petai (lihat: Abdul Basith Muhammad al-Sayyid, al-I’jâz al-‘Ilmi fî al-Tasyrî‘ al-Islâmî, [Darul Kutub: Beirut], hal. 353). Wallahu‘lam ‘alam
 
Bersambung....
 
 
Ustadz M. Tatam Wijaya, Alumni PP Raudhatul Hafizhiyyah Sukaraja-Sukabumi, Pengasuh Majelis Taklim “Syubbanul Muttaqin” Sukanagara-Cianjur, Jawa Barat. 

 
Share:

Baca Juga

Sabtu 31 Agustus 2019 9:15 WIB
Pola dan Cara Makan Rasulullah (4-Habis)
Pola dan Cara Makan Rasulullah (4-Habis)
Rasulullah mencontohkan bila menggilir makanan atau minuman kepada orang lain, maka dirinya mengambil giliran yang terakhir.
Jika pada tulisan sebelumnya telah disampaikan bahwa beliau melarang makan dengan tangan kiri, melarang mencela makanan, melarang mengacak makanan, dan seterusnya, maka pada bagian ini akan disampaikan bagaimana beliau menyudahi makannya. 
Kedua puluh delapan, Rasulullah ﷺ melarang makan atau minum sambil berdiri kecuali dalam keadaan darurat, sebagaimana yang diriwayatkan dari Abu Sa‘id. Dalam hadits ini disebutkan bahwa Nabi ﷺ melarang minum sambil berdiri (HR. Muslim).
 
Bahkan, dalam hadits yang diriwayatkan Muslim dari Abu Hurairah, siapa saja yang lupa makan atau minum sambil berdiri, disuruh memutahkannya, “Siapa saja yang lupa, maka muntahkanlah.” (HR Muslim). 
 
Kedua puluh sembilan, Rasulullah ﷺ mencontohkan bila menggilir makanan atau minuman kepada orang lain, maka dirinya mengambil giliran yang terakhir. Abdullah ibn Ubayy Aufa menuturkan, “Sewaktu bersama Rasulullah saw, para sahabat kehausan. Beliau pun memberikan minum kepada mereka. Salah seorang sahabat bertanya, ‘Apakah engkau tidak minum, wahai Rasul?’ Dijawabnya, ‘Pemberi mimum suatu kaum adalah yang paling terakhir,’” (HR al-Baihaqi). 
 
Ketiga puluh, yang makan makanan kita adalah orang-orang yang saleh. Sebab, selain sebagai bentuk syukur, juga tentu akan menolong ketaatan mereka. Anas meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Hendaklah yang makan makanan kalian adalah orang yang baik, orang yang sedang berbuka puasa, dan orang yang bershalawat.” 
 
Dalam riwayat lain, beliau bersabda, “Siapa yang tidak bersyukur kepada sesama manusia, tidak dianggap bersyukur kepada Allah,” (HR al-Hakim). 
 
Ketiga puluh satu, Rasulullah ﷺ mengajarkan agar selalu membersihkan sisa-sisa makanan yang ada di mulut, sebagaimana yang diriwayatkan Abu Hurairah, “Siapa saja yang makan suatu makanan dan mendapati sisa-sisanya dari mulut, maka buanglah segera. Dan jika makanan itu masih bisa terkunyah, maka telanlah. Siapa saja yang melakukannya, itu lebih baik. Dan siapa saja yang tidak melakukannya, maka tidak ada salahnya.”
 
Ketiga puluh dua, bersiwak setelah makan. Dalam hal ini, Rasulullah ﷺ bersabda, “Bersiwak itu membersihkan mulut dan menarik keridaan Tuhan,” (HR al-Nasai). 
 
Ketiga puluh tiga, mencuci tangan setelah makan. Nabi ﷺ menyatakan, “Siapa yang tidur di malam hari, sedangkan dalam tangannya terdapat kotoran, (seperti bekas lemak) maka dia akan ditimpa sesuatu. Dan janganlah dia menyalahkan siapa-siapa kecuali kepada dirinya sendiri.” 
 
Ketiga puluh empat, berdoa setelah makan, sebab hal itu mengundang ampunan dari Allah swt. Itu pula yang diajarkan dan biasa dilakukan Rasulullah ﷺ, sebagaimana dalam sabdanya, “Siapa saja yang makan suatu makanan, lalu membaca doa berikut: 
 
الْحَمْدُ لِلهِ الَّذِى أَطْعَمَنِى هَذَا الطَّعَامَ وَرَزَقَنِيهِ مِنْ غَيْرِ حَوْلٍ مِنِّى وَلاَ قُوَّةٍ
 
"Segala puji hanya milik Allah, Zat yang telah memberikan makanan ini kepadaku dan memberikanya sebagai rezeki bagiku tanpa daya dan kekuatan dariku." 
 
Maka dia akan diampuni dosanya yang telah lalu,” (HR Abu Dawud). 
 
Usai makan, beliau juga selalu berdoa dengan doa ini: 
 
الْحَمْدُ لِلهِ الَّذِي يُطْعِمُ وَلَا يُطْعَمُ، مَنَّ عَلَيْنَا فَهَدَانَا، وَأَطْعَمَنَا وَسَقَانَا، وَكُلَّ بَلَاءٍ حَسَنٍ أَبْلَانَا . الْحَمْدُ لِلَّهِ غَيْرَ مُوَدَّعٍ رَجَاءَ رَبِّي وَلَا مُكَافَئٍ وَلَا مَكْفُورٍ ، وَلَا مُسْتَغْنًى عَنْهُ . الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَطْعَمَ مِنَ الطَّعَامِ، وَسَقَى مِنَ الشَّرَابِ، وَكَسَى مِنَ الْعُرْيِ، وَهَدَى مِنَ الضَّلَالَةِ ، وَبَصَّرَ مِنَ الْعَمَى، وَفَضَّلَ عَلَى كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقَهُ تَفْضِيلًا . الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
 
"Segala puji hanya milik Allah, Dzat yang selalu memberi makanan dan tak pernah diberi makanan, Dzat yang telah memberi anugerah kepada kami, lalu memberi petunjuk, Dzat yang telah memberi makanan dan minuman kepada kami, Dzat yang telah memberikan ujian yang baik kepada kami. Segala puji hanya Allah, dengan pujian yang tidak pernah berakhir, dengan penuh harapan kepada Tuhanku, dengan pujian yang tak tertandingi, pujian yang tak bisa diingkari. Segala puji hanya milik Allah, Dzat yang telah memberikan makanan dan minuman, Dzat yang telah memberi pakaian kepada hamba yang telanjang, Dzat yang telah memberikan petunjuk dari kesesatan, Dzat yang telah memberikan penglihatan kepada hamba-Nya yang tunanetra, Dzat yang telah memberikan banyak karunia kepada makhluk yang telah dicipta-Nya. Segala puji hanya bagi Allah, Tuhan semesta alam" (HR al-Baihaqi). 
 
Dalam riwayat lain, Rasulullah ﷺ menyabdakan, “Sesungguhnya Allah akan senantiasa rida kepada hamba-Nya yang apabila menyantap suatu makanan, dia lalu memuji-Nya atas nikmat makanan tersebut. Dan apabila minum suatu minuman, dia memuji-Nya atas nikmat minuman tersebut,” (HR Muslim). Wallahu a’lam. Inilah bagian akhir tentang pola dan cara makan yang dicontohkan Rasulullah ﷺ Semoga bermanfaat (Abdul Basith Muhammad al-Sayyid, al-I’jâz al-‘Ilmi fî al-Tasyrî‘ al-Islâmî, [Darul Kutub: Beirut], hal. 353). Wallahu a’lam
 
 
Ustadz M. Tatam Wijaya, Alumni PP Raudhatul Hafizhiyyah Sukaraja-Sukabumi, Pengasuh Majelis Taklim “Syubbanul Muttaqin” Sukanagara-Cianjur, Jawa Barat. 
Kamis 29 Agustus 2019 19:30 WIB
Keutamaan Belajar dan Mengajarkan Ilmu Menurut KH Hasyim Asy’ari (1)
Keutamaan Belajar dan Mengajarkan Ilmu Menurut KH Hasyim Asy’ari (1)
Menurut KH Hasyim Asy’ari, puncak dari ilmu terletak pada pengamalannya dalam sehari-hari. (Ilustrasi: NU Online)
Dalam kitab Adab al-Alim wa al-Muta’allim, Hadratussyekh Muhammad Hasyim Asy’ari mengawali pembahasan dengan ulasan tentang keutamaan ilmu, ulama, belajar, dan mengajarkan ilmu. Beliau memaparkan beberapa dalil Al-Qur’an dan al-Hadits serta pernyataan para sahabat Nabi dan ulama yang menjelaskan hal itu. 
 
Tentang keutamaan ulama, di antaranya beliau mencantumkan ayat Al-Qur’an:
 
يَرْفَعِ اللهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجاتٍ
 
Allah mengangkat derajat orang-orang yang beriman diantara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu” (QS Al-Mujadalah ayat 11).
 
Menurut KH Hasyim Asy’ari, alasan Allah mengangkat derajat para ahli ilmu adalah karena mereka dapat mengaplikasikan ilmu mereka dalam kehidupannya. Beliau memberikan tafsir (interpretasi) ayat di atas sebagai berikut:
 
أي ويرفع العلماء منكم درجات بما جمعوا من العلم والعمل
 
Maksudnya Allah mengangkat derajat ulama dari kalian sebab mereka mampu menggabungkan ilmu dan amal.” 
 
Selanjutnya KH Hasyim Asy’ari menjelaskan selisih derajat ulama dibandingkan orang Muslim pada umumnya dengan mengutip sabda Sahabat Ibnu ‘Abbas:
 
درجات العلماء فوق المؤمنين بسبعمائة درجة درجة ما بين الدرجتين خمسمائة عام
 
Para ulama mempunyai derajat yang lebih tinggi daripada orang-orang mukmin pada umumnya dengan selisih 700 derajat dan di antara dua derajat terpaut selisih 500 tahun.” 
 
Apa yang disampaikan KH Hasyim Asy’ari ini senada dengan penjelasan al-Habib Zain bin Ibrahim bin Smith dalam kitab al-Manhaj al-Sawi. Habib Zain menjelaskan alasan terpautnya selisih derajat yang sangat jauh antara orang berilmu dan selainnya dalam statemen beliau sebagai berikut: 
 
قلت وذلك لأن العلم أساس العبادات ومنبع الخيرات كما أن الجهل رأس كل شر وأصل جميع البليات.
 
Aku berkata. Demikian itu karena ilmu adalah asasnya ibadah-ibadah dan sumber beberapa kebaikan, sebagaimana kebodohan adalah pangkal setiap keburukan dan sumber seluruh musibah” (al-Habib Zain bin Ibrahim bin Smith, al-Manhaj al-Sawi, hal. 77).
 
Hadratussyekh selanjutnya mengutip ayat “Allah, para malaikat dan orang-orang yang berilmu bersaksi bahwa tiada tuhan selain-Nya.” (QS Ali Imran ayat 18). Dalam ayat tersebut Allah Swt telah mengawali dengan penyebutan Allah sendiri, selanjutnya menyebutkan para malaikat-Nya dan terakhir menyebutkan para ahli ilmu, penyebutan ini sangat cukup untuk menyimpulkan bahwa ulama memiliki kedudukan yang tinggi di sisi-Nya.
 
KH Hasyim Asy’ari menegaskan bahwa ada dua ayat yang menunjukan bahwa ulama adalah makhluk Allah terbaik. Pertama firman Allah: 
 
إِنَّما يَخْشَى اللهَ مِنْ عِبادِهِ الْعُلَماءُ
 
Hamba Allah yang takut kepada Allah hanyalah para ulama” (QS Fathir ayat 28). 
 
Kedua firman Allah dalam surat al-Bayyinah:
 
إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحاتِ أُولئِكَ هُمْ خَيْرُ الْبَرِيَّةِ
 
Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih, merekalah makhluk yang terbaik” (QS Al-Bayyinah ayat 7). 
 
Setelah mengutip dua ayat di atas, Hadratussyekh memberi kesimpulan:
 
فاقتضت الآيتان أن العلماء هم الذين يخشون الله تعالى والذين يخشون الله هم خير البرية فينتج أن العلماء هم خير البرية
 
Dua ayat di atas menuntut bahwa para ulama adalah mereka yang takut kepada Allah, orang-orang yang takut kepada Allah adalah makhluk terbaik. Maka menyimpulkan bahwa para ulama adalah makhluk terbaik.”
 
KH Hasyim Asy’ari juga mendasari pendapatnya tentang keutamaan ulama dengan beberapa hadits Nabi, di antaranya: “Barangsiapa yang dikehendaki baik oleh Allah Swt, maka Allah akan memberikan pemahaman kepadanya dalam permasalahan agama.” (HR al-Bukhari dan Muslim).
 
Dalam hadits lain disebutkan “Para ulama merupakan pewaris para Nabi.” (HR al-Tirmidzi dan lainnya). KH Hasyim Asy’ari mengungkapkan bahwa derajat sebagai pewaris para nabi yang disebutkan dalam hadits memberikan indikasi kuat bahwa ulama memiliki kedudukan yang sangat agung dan mulia, bahkan merupakan derajat yang terbaik sepeninggal para Nabi. Beliau menyampaikan kesimpulan tersebut dengan argumentasi sebagai berikut:
 
وإذا كان لا رتبة فوق النبوة فلا شرف فوق شرف الوراثة لتلك الرتبة
 
“Ketika tidak ada derajat yang lebih mulia daripada derajat kenabian, maka tidak ada kemuliaan yang dapat mengalahkan kemuliaan para pewaris derajat kenabian tersebut (yaitu para ulama).”
 
Selanjutnya KH Hasyim Asy’ari menyatakan bahwa puncak dari keilmuan seseorang adalah pengamalan ilmu tersebut dalam kehidupan sehari-hari, sebab hal itu merupakan buah dari ilmu dan faedah kebaikan dari umur seseorang serta merupakan bekal yang akan berguna di akhirat kelak, maka siapa saja yang dapat menggapai itu semua maka ia akan berbahagia baik di dunia maupun di akhirat, dan barangsiapa yang tidak dapat menggapainya maka ia akan berada dalam kerugian.
 
Hadratussyekh juga menyampaikan hadits Nabi tentang perbandingan ahli ibadah dan ulama. Disebutkan dalam sebuah riwayat bahwa ada dua orang sowan menghadap baginda Nabi Muhammad Saw, salah seorang di antara mereka merupakan ahli ibadah, sedang yang lain merupakan ahli ilmu. Nabi mengatakan tentang perbandingan keduanya dalam sabda beliau “Keutamaan orang yang berilmu berada di atas orang yang ahli ibadah layaknya keutamaanku atas orang-orang yang paling rendah derajatnya di antara kalian” (HR al-Tirmidzi).
 
Belajarlah!
Berkait dengan keutamaan mencari ilmu, KH Hasyim Asy’ari menyebut hadits Nabi “Barangsiapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah subhanahu wata’ala akan memberinya jalan menuju surga” (HR Ahmad, Abu Daud dan lainnya). Dalam hadits lain Nabi bersabda “Mencari ilmu merupakan kewajiban bagi setiap orang Islam, laki-laki dan perempuan. Setiap sesuatu yang di dunia ini akan memintakan pengampunan kepada Allah Swt untuk para pencari ilmu, hingga ikan di laut pun ikut memintakan pengampunan baginya.” (HR Abu Daud, al-Tirmidzi dan Ibnu Majah).
 
Sebagai catatan tambahan, doa pengampunan ikan-ikan di laut untuk orang berilmu tidak hanya dipanjatkan saat mereka hidup, namun juga berlaku setelah wafat hingga akhir kiamat, sebab ilmu ulama akan senantiasa bermanfaat setelah mereka wafat hingga hari kiamat. Al-Habib Zain bin Ibrahim bin Smith menegaskan:
 
قلت واستغفار حيتان البحر للعالم يكون في حياته وبعد مماته إلى يوم القيامة لأن العلم ينتفع به بعد موت العالم إلى يوم القيامة وفي هذا دليل على شرف العلم وتقدم أهله وأن من أوتيه فقد أوتي فضلا عظيما
 
“Aku berkata, pengampunan ikan-ikan laut untuk orang alim terjadi di masa hidup dan setelah kewafatannya hingga hari kiamat. Sebab ilmu akan terus dimanfaatkan setelah kematian orang alim hingga hari kiamat. Ini adalah petunjuk atas kemuliaan ilmu dan unggulnya ahli ilmu, sesungguhnya orang yang diberi ilmu, maka sungguh diberi keutamaan yang agung.” (al-Habib Zain bin Ibrahim bin Smith, al-Manhaj al-Sawi, hal. 77).
 
Dalam riwayat lain disebutkan, “Barangsiapa berangkat di pagi hari untuk mencari ilmu, malaikat memintakan ampunan untuknya dan diberkahi hidupnya” (HR Abu Umar al-Qurthubi). Riwayat lain menyebutkan “Barangsiapa yang bergegas pergi ke Masjid dalam keadaan tidak menginginkan kecuali untuk belajar ilmu maka ia akan mendapatkan pahala layaknya pahala orang yang berhaji secara sempurna” (HR al-Thabrani). 
 
Kedekatan orang alim dan pembelajar diibaratkan Nabi seperti dua jari telunjuk dan jari tengah, keduanya saling menempel, derajat mereka berdua jauh meninggalkan manusia yang lain. Dalam sebuah riwayat Nabi bersabda “Orang alim dan pembelajar layaknya jari ini dan jari yang ini (beliau mengumpulkan antara jari telunjuk dan jari tengah yang berada di sampingnya), keduanya bersekutu dalam pahala, tiada kebaikan untuk segenap manusia selain kedua orang tersebut" (HR Ibnu Majah, Abu Nu’aim dan lainnya).
 
Nabi berpesan agar umatnya tidak melepaskan diri dari salah satu lima status, yaitu ahli ilmu, pembelajar, pendengar dan pecinta mereka. Dalam sebuah riwayat beliau bersabda “Jadilah orang yang alim ataupun orang yang belajar keilmuan ataupun orang yang senantiasa mendengarkan ilmu atau orang yang suka akan hal itu dan jangan sampai kamu menjadi orang yang ke lima, sebab kamu akan menjadi orang yang rusak” (HR al-Thabrani, al-Darimi dan lainnya).
 
Orang kelima yang dimaksud dalam hadits di atas adalah mereka yang membenci ilmu dan ulama. Syekh Abdurrauf al-Manawi mengatakan:
 
قال عطاء وقال لي مسعر زدتنا خامسة لم تكن عندنا والخامسة أن تبغض العلم وأهله فتكون من الهالكين وقال ابن عبد الله البر: هي معاداة العلماء أو بغضهم ومن لم يحبهم فقد أبغضهم أو قارب وفيه الهلاك
 
“Atha’ berkata, berkata kepadaku Mis’ar, tambahkanlah yang kelima yang tidak ada di sisi kami, yaitu engkau membenci ilmu dan ahlinya, maka akibatnya engkau termasuk orang-orang yang rusak. Berkata Ibnu Abd al-Barr, yang kelima adalah memusuhi ulama atau membencinya. Barangsiapa tidak cinta ulama maka ia telah membencinya atau mendekati benci dan di situlah kebinasaan” (Syekh Abdurrauf al-Manawi, Faidl al-Qadir, juz 2, hal. 17).
 
 
Ustadz M. Mubasysyarum Bih, Dewan Pembina Pondok Pesantren Raudlatul Quran, Geyongan, Arjawinangun, Cirebon, Jawa Barat.
 
Rabu 28 Agustus 2019 20:30 WIB
Pola dan Cara Makan Rasulullah (2) 
Pola dan Cara Makan Rasulullah (2) 
Jangan mencela makanan, serakah, bermewah-mewah, atau kotor ketika hendak makan!
Pada tulisan sebelumnya telah dijelaskan tujuh pola dan cara makan yang diteladankan Rasulullah. Beberapa poin yang dianjurkan antara lain tentang sikap bijak memperlakukan perut, tidak tamak terhadap makanan, serta posisi yang baik dan etika sosial saat makan. Dalam kesempatan ini, ulasan serupa akan dipaparkan sebagai kelanjutan dari keterangan tersebut.
 
Kedelapan, duduklah dengan rendah hati dan makanlah dari bagian pinggir makanan. Abdullah ibn Basar meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ memiliki sebuah mangkuk besar yang disebut dengan al-gharrâ’ dan cukup untuk dipakai makan oleh berempat. Usai shalat dhuha dan setelah mangkuk diisi makanan, sejumlah sahabat berkerumun di sekitar mangkuk tersebut, dan Rasulullah ﷺ pun terlihat duduk berlutut. 
 
Seorang Arab pedesaan bertanya, “Duduk apa ini?” Beliau menjawab, “Sesungguhnya Allah menjadikanku sebagai hamba yang mulia dan tidak menjadikanku sebagai hamba yang sombong dan penentang.” Setelah itu beliau memerintah para sahabat, “Makanlah makanan yang ada di pinggir mangkuk ini dan biarkanlah bagian tengahnya. Dengan begitu, makanan itu akan berkah” (HR Abu Dawud). 
 
Kesembilan, membasuh kedua tangan sebelum makan. Siti ‘Asiyah meriwayatkan bahwa ketika hendak tidur dalam keadaan junub, Rasulullah ﷺ selalu berwudhu; dan sewaktu hendak makan, beliau selalu mencuci tangan (HR al-Nasai dan Ahmad). 
 
Kesepuluh, jangan pernah mencela makanan. Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ sama sekali tidak pernah mencela makanan. Jika menyukai suatu makanan, beliau memakannya. Namun ketika tidak menyukainya, beliau meninggalkannya. (HR al-Bukhari). 
 
Kesebelas, Rasulullah melarang makan atau minum dalam wadah emas atau perak. Dalam kaitan ini, Hudzaifah menyebutkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Janganlah kalian minum dalam wadah emas atau perak. Janganlah pula kalian makan dalam wadah emas atau perak. Jangan memakai pakaian berbahan sutera, sebab sutera adalah pakaian mereka (orang-orang kufur) di dunia, tapi pakaian kalian di akhirat” (HR al-Bukhari). 
 
Keduabelasmembaca basmalah sebelum makan. Dan jika lupa membacanya, bacalah di saat ingat. Ibnu Mas‘ûd meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda, “Siapa yang lupa mengucap nama Allah sebelum makan, maka bacalah setelah ingat, bismillâhi fî awwalihi wa âkhirihî, sebab doa itu menyambut makanan yang baru dan mencegah keburukan yang menimpa makanan yang masuk” (HR Ibnu Hibban). 
 
Siti ‘Aisyah meriwayatkan, Rasulullah ﷺ pernah makan bersama keenam sahabatnya. Tiba-tiba datanglah seorang warga Arab pedesaan. Akibatnya beliau hanya makan dua suap saja. Beliau lantas bersabda, “Seandainya dia membaca basmalah, tentu makanan itu cukup bagi kalian.” 
 
Ketigabelas, Rasulullah ﷺ juga selalu makan dan minum dengan tangan kanannya. Hafshah meriwayatkan bahwa beliau menggunakan tangan kanannya untuk makan, minum, wudhu, berpakaian, mengambil sesuatu, memberi sesuatu, dan menggunakan tangan kirinya untuk selain itu (HR Ahmad). 
 
Jabir juga meriwayatkan, Rasulullah ﷺ melarang makan dan minum menggunakan tangan kiri.. Dalam riwayat al-Akwa‘ disebutkan ada seorang pria yang makan dengan tangan kirinya di hadapan Rasulullah ﷺ Beliau pun langsung menegur, “Makanlah dengan tangan kananmu.” Pria itu menjawab, “Aku tidak bisa.” Beliau menjawab, “Tidak. Engkau sesungguhnya mampu. Sebab, tidak ada yang menghalangi hal itu kecuali kesombongan.” Namun, sang pria tetap menggunakan tangan kirinya. Beliau akhirnya bersabda, “Jika salah seorang kalian makan, maka makanlah dengan tangan kanan. Jika minum, maka minumlah dengan tangan kanan. Sesungguhnya setan, selalu makan dan minum dengan tangan kiri” (HR Muslim).
 
Keempatbelas, makan dengan tiga jari. Dalam kaitan ini, Ka‘b ibn Mâlik meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ biasanya makan dengan tiga jari (HR Muslim). 
 
Menurut Ibnu Hajar tiga jari yang dimaksud adalah ibu jari, jari telunjuk, dan jari tengah. Kemudian, Ibnu al-Qayyim menjelaskan, Rasulullah ﷺ selalu makan dengan tiga jarinya dan cara ini lebih baik. Sebab, makan dengan banyak jari atau dengan dua jari tidak memberikan kenikmatan kepada pelakunya, tidak pula memberikan rasa kenyang kecuali setelah waktu lama. Selain itu, makan dengan lima jari, misalnya, membuat makanan yang diambil terlalu banyak atau penuh, sehingga tidak memberikan rasa nikmat dan nyaman. Karenanya, cara makan yang paling baik adalah cara makan ala Rasulullah ﷺ dan orang-orang yang mengikutinya, yakni dengan tiga jari ( Asyraf al-Wasail, hal. 204; dan Jadul Maad, jilid 4, hal. 322). 
 
Kelimabelas, tidak mengambil bagian pucuk makanan. Dalam riwayat Salmâ disebutkan, Rasulullah ﷺ tidak suka diambilkan pucuk makanan. Kemudian, seorang pelayan Rasulullah ﷺ bernama ‘Umar ibn Abu Salamah mengisahkan, “Sewaktu aku menjadi pelayan di rumah beliau, tanganku tak sengaja merogoh mangkuk. Beliau lalu menegurku, ‘Wahai sang pelayan, sebutlah nama Allah. Makanlah dengan tangan kananmu. Dan makanlah makanan yang ada di dekatmu” (HR al-Bukhari). Ibnu ‘Abbas juga meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Keberkahan itu turun di tengah makanan. Karenanya, makanlah di pinggir-pinggirnya, jangan tengah-tengahnya” (Abu Dawud dan al-Tirmidzi). 
 
Keenambelas, Rasulullah ﷺ mengajarkan agar makan makanan sampai habis. Anas meriwayatkan, “Rasulullah ﷺ memerintah kami untuk tidak menyisakan makanan di wadah. Sebab, beliau pernah menyampaikan, ‘Sesungguhnya kalian tidak tahu pada makanan manakah keberkahan itu berada,’” (HR Al-Tirmidzi). 
 
Ketujuhbelas, mengambil makanan yang terjatuh. Jabir meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Ketika suapmu terjatuh, ambillah. Buanglah kotoran yang ada padanya. Dan janganlah engkau menyisakannya untuk setan” (HR Muslim). 
 
Kedelapanbelas, tidak bersendawa di saat makan. Ibnu ‘Umar meriwayatkan, ada seorang pria yang bersendawa di hadapan Nabi ﷺ Beliau lalu menegurnya, “Hentikan serdawamu. Sebab orang yang paling sering kenyangnya di dunia adalah orang yang paling lama laparnya di hari Kiamat,” (HR al-Tirmidzi dan Ibnu Majah). 
 
Kesembilanbelas, di antara petunjuk Nabi ﷺ adalah menunggu makanan yang panas sampai dingin. Ketika memberi kuah suatu makanan, Asma binti Abu Bakar selalu menunggu rasa panas dan asapnya menghilang. Kemudian, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Cara itu adalah cara yang lebih agung untuk memperoleh keberkahan,’” (HR Ahmad). (Lihat: Abdul Basith Muhammad al-Sayyid, al-I’jâz al-‘Ilmi fî al-Tasyrî‘ al-Islâmî, [Darul Kutub: Beirut], hal. 359). 
 
Bersambung ...
 
Ustadz M. Tatam Wijaya, Alumni PP Raudhatul Hafizhiyyah Sukaraja-Sukabumi, Pengasuh Majelis Taklim “Syubbanul Muttaqin” Sukanagara-Cianjur, Jawa Barat.