IMG-LOGO
Trending Now:
Sirah Nabawiyah

Rasulullah dan Puasa Asyura

Ahad 8 September 2019 0:0 WIB
Share:
Rasulullah dan Puasa Asyura
foto: ilustrasi
“Puasalah kalian pada hari Asyura dan berbedalah dengan orang Yahudi. Kerjakan puasa dari satu hari sebelumnya sampai satu hari sesudahnya,” kata Nabi Muhammad SAW kepada umat Islam dalam hadits riwayat Ahmad.
 
Puasa Asyura atau puasa pada tanggal 10 Muharram memiliki sejarah yang panjang. Puasa ini sudah dipraktikkan umat Yahudi, jauh sebelum datangnya Islam. Mereka berpuasa pada Hari Raya Yom Kippur tanggal 10 bulan Tishri atau 10 Muharram karena pada hari itu Allah menyelamatkan Bani Israel dari musuh-musuhnya. 
 
Sebagai rasa syukur, Nabi Musa as. berpuasa pada hari itu, atau 10 Muharram. Setelah kejadian itu, jadilah puasa Asyura menjadi ‘syariat’ bagi umat Yahudi. 
Dalam perkembangannya, puasa Asyura tidak hanya diamalkan umat Yahudi namun juga kaum Quraisy pada masa Jahiliyah, bahkan hingga setelah masa-masa awal kelahiran Islam. Menariknya, Nabi Muhammad dan umat Islam juga menjalankan puasa Asyura. 
 
Lantas bagaimana awal mula Nabi Muhammad dan umat Islam juga ‘ikut’ berpuasa Asyura? Juga bagaimana ‘status’ puasa Asyura setelah pensyariatan puasa Ramadhan?
 
Merujuk buku Puasa pada Umat-umat Dulu dan Sekarang (Sismono, 2010), sebelum turunnya perintah puasa Ramadhan, Nabi Muhammad dan umat Islam menjalankan puasa Asyura dan puasa pada tiap-tiap tanggal 13, 14, dan 15 bulan-bulan Qamariyah. 
 
Sebagaimana riwayat Ahmad, Nabi Muhammad melaksanakan puasa Asyura mungkin untuk menyertai kaum Quraisy yang juga berpuasa pada hari itu karena mengikuti syariat umat terdahulu. Atau Nabi Muhammad berpuasa Asyura karena mendapatkan izin dari Allah. 
 
Mengingat puasa juga merupakan amal kebajikan, sama seperti ibadah haji. 
Nabi Muhammad dan umat Islam terus menjalankan puasa Asyura. Hingga suatu ketika, beliau tiba di Madinah dan mendapati umat Yahudi merayakan hari ke-10 Tishri atau 10 Muharram; mereka berpuasa Asyura, mengenakan pakaian yang indah, serta berbelanja makanan dan minuman. 
 
Mendapati hal seperti itu, Nabi Muhammad kemudian bertanya kepada umat Yahudi mengapa mereka berpuasa pada hari itu. “Ini adalah hari yang baik bagi kami. Ini adalah hari dimana Allah menyelamatkan Bani Israel dari gempuran musuh-musuh mereka. Karena itu, sebagai ungkapan rasa syukur, Musa as. berpuasa pada hari ini,” kata mereka.
 
“Kalau begitu, kita (umat Islam) sangat patut mengikuti jejak Musa as.,” kata Nabi merespons jawaban Yahudi tersebut.
 
Nabi Muhammad kemudian memerintahkan umat Islam untuk berpuasa pada hari itu; siapa yang sudah makan, maka bisa berpuasa pada sisa hari itu dan siapa yang belum hendaklah berpuasa –jangan makan. 
 
Agar tidak menyamai syariat umat Yahudi tersebut, Nabi Muhammad juga memerintahkan untuk berpuasa pada tanggal 9 (hari Tasu’a) dan 11 Muharram sesuai hadits riwayat Ahmad di atas.  

Perintah tersebut disampaikan Nabi Muhammad pada awal tahun kedua beliau tinggal di Madinah –Nabi tiba di Madinah pada bulan Rabiu’ul Awwal. Beberapa bulan setelahnya (tujuh bulan setelahnya, atau 18 bulan setelah tinggal di Madinah), Nabi Muhammad menerima wahyu tentang perintah puasa Ramadhan. 

Dengan demikian, puasa Asyura dilaksanakan sebagai puasa wajib hanya satu kali saja. “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)
 
Setelah turunnya ayat ini dan puasa Ramadhan telah diwajibkan, maka Nabi Muhammad tidak lagi mewajibkan puasa Asyura bagi umat Islam. Mereka boleh berpuasa Asyura dan tidak berpuasa juga boleh. 
 
Namun demikian, Nabi Muhammad sangat mengajurkan berpuasa Asyura. Hal ini bisa dilihat dari hadits riwayat Ibnu Abbas. “Saya tidak mengetahui Rasulullah SAW bersungguh-sungguh untuk berpuasa kecuali pada hari ini, yakni hari Asyura,” kata Ibnu Abbas.  
 
Penulis: A Muchlishon Rochmat
Editor: Muiz
Share:

Baca Juga

Ahad 8 September 2019 8:0 WIB
Abdullah bin Mas’ud, Orang Pertama Terang-terangan Membaca Al-Qur’an
Abdullah bin Mas’ud, Orang Pertama Terang-terangan Membaca Al-Qur’an
Ilustrasi
Dalam satu hadits riwayat  Ibnu Majah dan Ahmad, Nabi Muhammad Saw bersabda, "Barangsiapa yang ingin membaca Al-Qur’an yang baik seperti pertama kali turun maka bacalah seperti bacaan Abdullah bin Mas’ud."
 
Abdullah bin Mas’ud termasuk dari golongan assabiqunal awwalun (sahabat yang pertama masuk Islam). Beberapa saat setelah masuk Islam, Abdullah bin Mas’ud mengajukan diri menjadi pelayan Nabi Muhammad.
 
Permohonannya pun dikabulkan Nabi. Maka sejak itu, interaksi Bin Mas’ud dengan Nabi begitu intens. Dia selalu mendampingi ke mana pun Nabi pergi. Ia juga  selalu menyediakan segala kebutuhan Nabi–mulai dari menyediakan air mandi hingga membawakan sandal dan siwak. Bahkan, kerap kali masuk ke kamar Nabi untuk sekadar mengurus tempat tidurnya.
 
Karena selalu mendampingi Nabi, Abdullan bin Mas’ud menjadi salah satu dari sedikit sahabat yang langsung mengumpulkan dan belajar Al-Qur’an langsung dari mulut Nabi Muhammad. Di samping itu, Abdullah bin Mas’ud memiliki kecerdasan dan ingatan yang kuat sehingga ia mengetahui betul kapan, di mana, dan kepada siapa (asbabun nuzul) sebuah ayat diturunkan. Maka tidak heran, jika Nabi Muhammad menyerukan kepada orang-orang untuk belajar Al-Qur’an–salah satunya--kepada Abdullah bin Mas’ud.
 
"Ambillah Al-Qur’an itu dari empat orang. Yaitu dari Abdullah bin Mas'ud, Salim, Mu'adz bin Jabal dan Ubay bin Ka'ab," kata Nabi Muhammad. 

Nabi Muhammad suka meminta Abdullah bin Mas’ud untuk membacakan Al-Qur’an untuknya. Selain untuk mengecek bacaan Al-Qur’an sahabatnya itu, Nabi juga suka dengan suara Abdullah bin Mas’ud yang begitu merdu.
 
Terlepas dari itu semua, Abdullah bin Mas’ud adalah sahabat yang pemberani. Setelah Nabi Muhammad, ia tercatat sebagai orang pertama yang membacakan Al-Qur’an dengan terang-terangan di hadapan kaum musyrik Quraisy. Dalam Sirah Nabawiyah (Ibnu Hisyam, 2018) dikisahkan, suatu ketika para sahabat berkumpul dan melontarkan pertanyaan perihal siapa yang berani membacakan Al-Qur’an di hadapan kaum musyrik Quraisy secara terang-terangan. Mengingat pada saat itu orang-orang Quraisy belum pernah mendengarkan Al-Qur’an secala langsung.

Seketika itu juga Abdullah bin Mas’ud langsung menawarkan diri untuk menjadi pembaca Al-Qur’an di hadapan musuh-musuh Islam. Para sahabat lainnya awalnya tidak sepakat karena khawatir Abdullah bin Mas’ud akan dicelakai. Mereka ingin orang yang membacakan Al-Qur’an secara terang-terangan adalah sahabat yang keluarganya bisa melindunginya jikalau kaum musyrik berbuat jahat kepadanya.
 
Abdullah bin Mas’ud masih keukeh. Ingin menjadi pembaca Al-Qur’an di hadapan kaum musyrik Quraisy. Dia meyakinkan bahwa pelindungnya adalah Allah. Para sahabat lainnya akhirnya menyetujui permintaan Abdullah bin Mas’ud tersebut.
 
Esok harinya, Abdullah bin Mas’ud datang ke Maqam Ibrahim pada saat waktu dhuha. Pada saat itu, orang-orang musyrik Quraisy tengah duduk-duduk di sekitaran Ka’bah. Di hadapan mereka, Abdullah bin Mas’ud langsung membacakan Surat Ar-Rahman dengan suara merdu nan lantang. Beberapa orang terpesona ketika mendengar bacaan Al-Qur’an Bin Mas’ud. Setelah mendengar beberapa ayat, orang-orang Quraisy mulai sadar perihal apa yang dibaca Abdullah bin Mas’du. Mereka kemudian mendatangi dan memukuli Abdullah bin Mas’ud.
 
Usai kejadian itu, Abdullah bin Mas’ud mendatangi para sahabatnya dengan muka babak belur dan berdarah. Apa yang dikhawatirkan para sahabat terhadap Abdullah bin Mas’ud menjadi kenyataan. Akan tetapi, Abdullah bin Mas’ud tidak gentar sama sekali. Ia bahkan menawarkan diri lagi untuk membacakan Al-Qur’an secara terang-terangan di hadapan kaum musyrik keesokan harinya.
 
"Jika kalian mau, besok pagi aku akan melakukan hal yang sama," kata Abdullah bin Mas’ud.

"Tidak. Engkau sudah cukup. Engkau telah memperdengarkan kepada mereka sesuatu yang tidak mereka sukai," jawab para sahabat mencegah Abdullah bin Mas’ud.

Abdullah juga banyak meriwayatkan hadits. Ada sekitar 840 hadits yang diriwayatkannya dari Nabi Muhammad. Ali bin Abi Thalib memuji Abdullah bin Mas’ud sebagai sahabat ahli ilmu. Ia begitu menguasai Al-Qur’an dan seluk-beluknya serta meriwayatkan banyak hadits. Abdullah bin Mas’ud meninggal dunia pada saat kekhalifahan Utsman bin Affan, tahun ke-32 Hirjiyah ketika usianya 65 tahun.
 
Pewarta: A Muchlishon Rochmat
Editor: Kendi Setiawan
Kamis 5 September 2019 12:0 WIB
Peran Sayyidah Khadijah saat Nabi Muhammad Diboikot
Peran Sayyidah Khadijah saat Nabi Muhammad Diboikot
ilustrasi
Salah satu strategi kaum kafir Quraisy untuk menghentikan dakwah Islam adalah dengan melakukan blokade dan pemboikotan ekonomi dan sosial terhadap Nabi Muhammad dan keluarga besarnya, Bani Hasyim dan Bani Muthalib. Mereka berpikiran, ketika diboikot maka Bani Hasyim dan Bani Muthalib akan terpecah-belah sehingga menyerahkan Nabi Muhammad. Namun, dugaan mereka salah. Mereka tetap solid dalam menghadapi langkah kaum musyrik tersebut.  
 
Setidaknya ada empat poin yang tertera dalam piagam pemboikotan tersebut. Pertama, tidak boleh menikah dengan salah satu dari mereka dan tidak boleh pula menikahkan dengan mereka. Kedua, tidak boleh menjual dan membeli apa pun dari mereka. Ketiga, tidak menerima perdamaian dari mereka.
 
Keempat, tidak diperbolehkan merasa kasihan pada mereka sampai mereka mau menyerahkan Muhammad. Piagam tersebut kemudian digantung di dalam Ka’bah. Pemboikotan terhadap Nabi berlangsung selama tiga tahun–riwayat lain menyebut dua tahun.
 
Peristiwa ini terjadi pada tahun ketujuh kenabian, di mana istri Nabi, Sayyidah Khadijah, dan paman Nabi, Abu Thalib, masih hidup. Keduanya–yang dikenal sebagai pelindung Nabi dari gangguan kaum musyrik-juga ikut terboikot dan tidak dapat berbuat banyak. Meski demikian, Sayyidah Khadijah memiliki peran penting selama masa pemboikotan.
 
Sayyidah Khadijah telah terdidik dalam keluarga yang terhormat dan serba kecukupan. Keluargnya, Bani Asad, mengetahui kalau rasa lapar akibat pemboikotan kaum kafir Quraisy akan menyakiti Sayyidah Khadijah. Oleh karena itu, mereka berinisiatif mengirimkan sejumlah makanan dan barang-barang yang dibutuhkan lainnya untuk Sayyidah Khadijah. Barang-barang tersebut dikirim seorang budak dengan menggunakan unta pada malam hari, ketika kaum Quraisy sudah terlelap. Sayyidah Khadijah tidak memanfaatkan barang-barang itu sendirian, karena ia membaginya kepada mereka yang lebih membutuhkan. 
 
Merujuk buku Khadijah Ummahatul Mukminin (Ibrahim Muhammad Hasan al-Jamal, 2014), Sayyidah Khadijah –meski tidak secara langsung- juga berperan penting dalam peristiwa penyobekan kertas piagam pemboikotan. Karena dia pula, paku pertama dalam penghancuran piagam pemboikotan diletakkan.
 
Ketika itu, saudara laki-laki Sayyidah Khadijah, Hakim bin Hizam, bersama seorang budak membawa gandum untuk diberikan kepada Sayyidah Khadijah. Di tengah jalan, dia dihadang Abu Jahal. Setelah terjadi ketegangan di antara keduanya, Hakim dibiarkan pergi dengan membawa makanan untuk Sayyidah Khadijah. Abu Bakhtari bin Hisyam yang saat itu juga ada di lokasi kemudian mengambil tongkat pemukul unta dan memukulkannya kepada Abu Jahal.
 
Semenjak itu, kaum berpikir untuk membatalkan pemboikotan yang dzalim tersebut. Masih menurut keterangan dalam buku yang sama, kejadian itu merupakan sebab dibatalkannya pemboikotan dan blokade kaum kafir Quraisy terhadap Nabi Muhammad dan keluarganya. 
 
Memang, setelah Hakim bin Hizam mengirimkan makanan untuk Sayyidah Khadijah dan Abu Jahal dipukul, banyak orang melakukan hal yang sama, diantaranya Hisyam bin Akhi Nahdlah. Tidak hanya itu, peristiwa itu juga membuat perempuan-perempuan Quraisy membicarakan hal itu dan mencela mereka yang tidak mengirim makanan untuk Bani Hasyim dan Bani Muthalib yang diboikot. 
 
Hisyam kemudian menggalang kekuatan dengan memprovokasi beberapa orang untuk membatalkan piagam pemboikotan tersebut. Semula dia mendatangi Zuhair bin Umayyah dan ibunya Atikah binti Abdul Muthalib. 
 
"Wahai Zuhair, apakah engkau ridha kita memakan makanan, memakai baju, menikahi perempuan, sedangkan para pamanmu seperti yang engkau ketahui, tidak boleh menjual atau membeli dari mereka, tidak boleh menikahi ataupun menikahkan seseorang dengan mereka," kata Hisyam. Zuhair menjadi semangat setelah mendengar perkataan Hisyam tersebut. Ia kemudian meminta Hisyam untuk mencari orang lainnya. 
 
Maka Hisyam mendatangi al-Mut’im bin Adi, Abul Bakhtari, dan Zam’ah bin al-Aswad. Kepada mereka, Hisyam mengatakan hal yang sama seperti yang disampaikan kepada Zuhair. Mereka menerima ajakan Hisyam untuk membatalkan pemboikotan terhadap Nabi dan keluarganya. Untuk mematangkan rencana dan strategi pembatalan pemboikotan, pada malam hari mereka berkumpul di puncak Gunung Hajun untuk bermusyawarah. Hasilnya, mereka siap melakukan apapun untuk membatalkan pemboikotan tersebut.
 
Keesokan harinya, Zuhair yang memakai baju terbaiknya melaksanakan thawaf di area Ka’bah. Di hadapan banyak orang, ia ‘memprovokasi’ penduduk Makkah perihal kondisi Nabi Muhammad dan keluarga besarnya yang begitu menderita. Ia juga mengancam tidak akan duduk sampai kertas pemboikotan yang menempel di dinding Ka’bah disobek. 
 
Abu Jahal yang ketika itu berada di baitullah menyatakan tidak akan menuruti permintaan Zuhair. Namun ucapan Abu Jahal langsung ditimpali Zam’ah, Abu Bakhtari, dan Mut’im. Mereka menegaskan, tidak setuju dan tidak ridha ketika isi perjanjian pemboikotan itu ditulis. Mut’im bin Adi langsung menuju kertas penjanjian pemboikotan untuk menyobeknya. Namun, kertas tersebut telah dimakan rayap, kecuali tulisan ‘Dengan menyebut nama-Mu ya Allah.’
 
Dengan demikian, berakhirlah masa pemboikotan dan blokade kaum musyrik Quraisy terhadap Nabi Muhammad dan keluar besarnya. Nabi Muhammad dan Sayyidah Khadijah yang saat itu sedang sakit kemudian keluar dari lembah Bani Hasyim dan menuju ke rumahnya untuk memulai kehidupan yang baru. 
 
Pewarta: Muchlishon Rochmat
Editor: Kendi Setiawan
Rabu 4 September 2019 14:0 WIB
Saat Nabi Muhammad Diserang Tukang Sihir, Labid bin Al-Asham
Saat Nabi Muhammad Diserang Tukang Sihir, Labid bin Al-Asham
Ilustrasi: NU Online
“Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dan istrinya,” (Surat Al-Baqarah ayat 102).

Firman Allah di atas menjadi salah satu dalil bahwa sihir itu benar-benar ada dan nyata, sama seperti perkara ghaib lainnya. Sebagaimana diketahui, sihir adalah upaya yang dilakukan manusia dengan meminta pertolongan kepada setan untuk mencelakai orang lain. Ayat di atas mencontohkan bahwa sihir bisa membuat sepasang suami-istri bercerai.

Praktik sihir sudah berlangsung ribuan tahun yang lalu. Kebencian dan sakit hati biasanya menjadi alasan mengapa seseorang mengirim sihir. Metode yang dipakai tukang sihir untuk mencelakai korbannya begitu bervariasi; ada yang menggunakan rambut calon korban, baju, gambar, dan lainnya. Sihir bisa menyasar siapa saja, termasuk Nabi Muhammad.

Seperti diriwayatkan Asy-Syaikhan dalam Bukhari dan Muslim, Nabi Muhammad pernah disihir oleh Labid Al-Asham. Dikisahkan, suatu ketika Nabi Muhammad pernah membayangkan telah melakukan sesuatu (berhalusinasi mendatangi istrinya satu per satu), namun ternyata beliau tidak melakukannya. Kepada Sayyidah Aisyah, Nabi Muhammad mengatakan bahwa Allah telah memberikan jawaban atas pertanyaan yang pernah beliau ajukan. Jawaban tersebut disampaikan oleh dua malaikat.

“Aku kedatangan dua laki-laki, salah seorang duduk di sisi kepalaku, seorang lainnya duduk di sisi kakiku,” kata Nabi Muhammad kepada Aisyah.

Salah seorang malaikat yang berwujud laki-laki tersebut menjelaskan bahwa Nabi Muhammad tengah terkena sihir. Labid bin Al-Asham adalah pelakunya. Kata malaikat tersebut, Labid menyihir dengan menggunakan sisir dan rambut Nabi Muhammad serta kulit mayang kurma jantan. Sihir Labid ditempatkan di bawah batu di dalam sumur Dzarwan.

Maka keesokan harinya, Nabi Muhammad memerintahkan Ammar bin Yasir dan beberapa sahabatnya untuk mendatangi sumur Dzarwan. Mereka mendapati bahwa air dalam sumur Dzarwan berwarna merah kecokelatan seperti air perasaan daun pacar sementara kepala mayangnya seperti kepala setan. Satu riwayat menyebutkan bahwa gulungan sihir tersebut dibiarkan di dalam sumur. Nabi Muhammad tidak meminta untuk mengangkatnya karena Allah telah menyembuhkannya. Beliau juga tidak suka menyebar keburukan kepada orang banyak. Nabi kemudian meminta agar sumur Dzarwan ditutup.

Sementara riwayat lain menyebutkan bahwa gulungan sihir tersebut diangkat dari dalam sumur. Setelah dibakar, buhul tersebut memperlihatkan tali dengan 11 simpul yang susah untuk dibuka. Pada saat itu, turun wahyu Surat Al-Falaq dan An-Nas (muawwidzatain) kepada Nabi Muhammad. Setiap Nabi Muhammad membaca dua surat itu, maka terbukalah satu simpul tali itu dan demikian seterusnya hingga sebelas kali.

Sejak saat itu, sebelum tidur, Nabi Muhammad selalu membaca muawidzatain (Al-Falaq dan An-Nas)–ada yang menyebut Al-Ikhlas, Al-Falaq, An-Nas–sebelum beliau tidur. Tidak lain, ini adalah untuk melindungi dirinya dari hal-hal yang tidak diinginkan seperti sihir. Kalau seandainya beliau sakit parah, maka Sayyidah Aisyah yang membacakan surat-surat tersebut dan mengusapkan tangannya pada tubuh Nabi Muhammad.

Said Ramadhan Al-Buthy dalam The Great Episodes of Muhammad SAW (2017) mengatakan bahwa sihir yang menimpa Nabi Muhammad hanya berpengaruh pada jasad bagian luarnya saja. Artinya, sihir tersebut tidak sampai ‘menyerang’ hati, akal, dan keimanannya. Nabi memang maksum, namun kemaksumannya bukan berarti beliau terbebas dari berbagai macam penyakit dan berbagai faktor manusiawi lainnya.

Oleh sebab itu, Nabi Muhammad menderita ketika terkena sihir tersebut, layaknya manusia lain kalau terkena. Ketika seseorang mengalami sakit keras, maka wajar kalau dia diliputi khayalan atau bayangan akibat dari sakit yang dideritanya itu. Begitu pun dengan Nabi, beliau membayangkan telah melakukan sesuatu tapi nyatanya tidak.

Al-Buthy menegaskan bahwa Nabi Muhammad terkena sihir tersebut bukan aib atau kekurangan pada dirinya. Sekali lagi, Nabi Muhammad maksum (terjaga dari kesalahan dan kekurangan dalam menyampaikan syariat Allah). Namun kemaksumannya itu ‘tidak berlaku’ dalam hal-hal keduniawian seperti sakit, lapar, haus, dan lainnya.

“Dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudarat dengan sihirnya kepada seorang pun kecuali dengan izin Allah,” (Surat Al-Baqarah ayat 102). (Muchlishon Rochmat)