IMG-LOGO
Ekonomi Syariah

Rukun Akad Mudharabah dalam Ekonomi Syariah

Sabtu 14 September 2019 17:30 WIB
Share:
Rukun Akad Mudharabah dalam Ekonomi Syariah
(Ilustrasi: NU Online)
Dalam Kitab al-Fiqhu 'ala al-Madzâhibi al-Arba'ati, Syekh Abdurrahman Al-Jazairi menjelaskan:
 
ومناسبة المضاربة للمساقاة والمزارعة ظاهرة لأنك قد عرفت أنهما عقدان بين اثنين من جانب أحدهما الأرض أو الشجر، ومن جانب الآخر العمل، ولكل منهما نصيب في الخارج من الثمر، وكذلك المضاربة فإنها عقد يتضمن أن يكون المال منة جانب والعمل من جانب آخر ولكل من الجانبين نصيب في الربح
 
Artinya: "Korelasi antara mudharabah dengan akad musâqah dan muzâra'ah tampak jelas. Sebagaimana anda ketahui bahwa kedua akad terakhir ini terbentuk oleh dua pihak yang menjalin relasi, satu pihak menyerahkan tanah atau pohon, sementara pihak lainnya menyerahkan tenaga. Tiap-tiap dari keduanya ada hak berupa bagian dari hasil panenan berupa buah. Demikian pula dengan akad mudharabah, ia terbentuk dari sebuah jalinan akad yang memuat di dalamnya berupa penyerahan harta dari satu sisi, dan kerja dari sisi yang lain sehingga masing-masing berhak atas bagian keuntungan yang diperoleh." (Abdurrahman al-Jazîry, al-Fiqhu 'ala al-Madzâhibi al-Arba'ati, Beirut: Dâr al-Fikr, 2019: 3/29)
 
Karena dalam mudharabah yang diserahkan kepada pihak lain adalah berupa harta modal, maka akad ini juga disebut dengan akad muqâradlah atau akad qirâdl (transaksi utang piutang). 
 
 
Dengan memperhatikan unsur kesamaan di atas, maka rukun dari akad mudharabahmusâqah, dan mukhâbarah, pada dasarnya mengikuti rukun yang terdapat dalam akad mudharabah. Para ulama berbeda pendapat terkait dengan rukun mudharabah ini. 
 
Menurut kalangan Hanafiyah, rukun mudharabah ada dua yaitu, adanya lafadh ijab dan qabul yang menunjukkan terhadap maksud dilakukannya akad. Menurut pandangan mayoritas ulama, rukun mudharabah ada 3, yaitu:
 
1. Adanya 'aqidain (dua orang yang berakad), yakni terdiri atas pemilik modal (mâlik) dan pengelola ('amil)
 
2. Adanya ma'qùd 'alaih, yaitu objek yang masuk dalam unsur akad, terdiri dari: (a) jenis pekerjaan ('amal); (b) laba (ribhu); dan (c) modal (ra'sul mâl)
 
3. Shighat akad, terdiri dari shighat ijab (menyerahkan) dan shighat qabul (menerima)
 
Ulama kalangan Syafiiyah, memerinci akad ini menjadi 5, yaitu: harta (mâl), usaha ('amal), laba (ribhu), shighat (lafadh ijab dan qabul) dan 'aqidain (dua orang yang berakad). Dengan begitu, pandangan Syafiiyah ini sebenarnya sama dengan pandangan ulama jumhur (mayoritas). Bagaimana dengan pandangan Hanafiyah? Mengapa hanya ada dua syarat saja, yaitu keberadaan lafadh ijab dan kabul saja?
 
Untuk mengetahui ceruk dari kalangan Hanafiyah dalam memandang akad mudharabah ini, kita bisa lihat pada definisi ijab dan qabul dari kalangan tersebut. Dalam al-Fiqhu al-Islami wa Adillatuhu, juz 4, dijelaskan bahwa, yang dimaksud dengan lafadh ijab oleh Hanafiyah adalah:
 
فألفاظ الإيجاب: هي لفظ المضاربة والمقارضة والمعاملة، وما يؤدي معاني هذه الألفاظ بأن يقول رب المال: (خذ هذا المال مضاربة على أن ما رزق الله عز وجل من ربح فهو بيننا على كذا من نصف أو ربع أو ثلث أو غير ذلك من الأجزاء المعلومة).
 
Artinya: "Yang dimaksud dengan lafadh ijab adalah lafadh yang menunjukkan makna mudharabah, muqâradlah, atau mu'amalah, atau segala bentuk pernyataan yang bisa mendatangkan pengertian pada akad, misalnya seperti pernyataan pemodal: ‘Ambil harta ini sebagai modal usaha dengan bagi hasil keuntungan yang direzekikan oleh Allah ﷻ kepada usaha kita dalam menjalankan modal ini, dengan rasio pembagian separuh (untuk aku atau kamu), seperempat (untuk aku atau kamu), atau sepertiga (untuk aku atau kamu) atau menurut nisbah tertentu lainnya yang kita ketahui bersama" (al-Kasâni, Badâi'u al-Shanâi' fi Tartîbi al-Syarâi', Damaskus: Dâr al-Kutub al-Ilmiyyah, 1971: 8/5-6).
 
Sementara itu dalam lafadh qabul, kalangan Hanafiyah menyampaikan ta'rif sebagai berikut:
 
وألفاظ القبول: هي أن يقول العامل المضارب: أخذت، أو رضيت أو قبلت، ونحوها. وإذا توافر الإيجاب والقبول انعقد العقد
 
Artinya: "Lafadh qabul adalah lafadh yang diucapkan oleh seorang pengelola ('amil), seperti: Aku ambil, atau baiklah, aku terima, dan semacamnya. Bila lafadh ijab tersebut bersesuaian dengan ladah penerimaan (qabul), maka sahlah akad." (al-Kasâni, Badâi'u al-Shanâi' fi Tartîbi al-Syarâi', Damaskus: Dâr al-Kutub al-Ilmiyyah, 1971: 8/5-6)
 
Melihat definisi lafadh ijab dan qabul dari kalangan Hanafiyah ini, secara tidak langsung di dalamnya juga terdapat penjelasan bahwa ijab dan qabul dalam akad mudharabah adalah dilakukan oleh:
 
1. Dua orang atau lebih yang bertransaksi
2. Lafadh ijab dan qabul memiliki bentuk shighat
3. Ada modal yang diserahkan
4. Ada nisbah pembagian keuntungan yang disepakati
5. Ada amal yang disepakati
 
Walhasil, meski tampaknya di awal menunjukkan rukun yang berbeda, namun dalam penjabarannya, para ulama ini bersepakat terhadap komponen yang dilibatkan dalam akad mudharabah. Wallahu a'lam bish shawab.
 
 
Ustadz Muhammad Syamsudin, Peneliti Bidang Ekonomi Syariah - Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur
 
Share:

Baca Juga

Jumat 13 September 2019 21:30 WIB
Pengertian Akad Mudharabah dalam Ekonomi Syariah
Pengertian Akad Mudharabah dalam Ekonomi Syariah
(Ilustrasi: NU Online)
Terminologi mudharabah berasal dari wazan ضارب - يضارب - مضاربة, yang artinya saling menyerahkan bagian. Dari sisi etimologi, Imam al-Nawawi rahimahumullah, memberikan definisi sebagai berikut:
 
المضاربة: هي أن يدفع المالك إلى العامل مالا ليتجر فيه، ويكون الربح مشتركا بينهما بحسب ما شرطا وأما الخسارة فهي على رب المال وحده ولايتحمل العامل المضارب من الخسران شيأ وإنما يخسر عمله وجهده
 
Artinya: “Mudharabah adalah penyerahan harta yang dilakukan oleh seorang pemilik modal kepada pelaku usaha (‘amil) agar diniagakan dengan ketentuan berupa keuntungan yang dibagi secara bersama-sama menurut kesepakatan yang telah disepakati. Kerugian usaha merupakan tanggung jawab pemilik seorang, sementara pihak yang menjalankan dan berprofesi sebagai pengelola harta tidak turut menanggungnya kendati kerugian timbul karena pekerjaannya dan kegiatan usaha yang dilakukan” (Al-Nawawi, al-Majmu’ Syarah al-Muhadzab, Damaskus: Daru al-Kutub Al-’Ilmiyah, tt.: 14/553).
 
Dari definisi ini dapat dipahami bahwa di dalam mudharabah, berlaku ketentuan: 
 
1. Pemodal menyerahkan harta yang dimilikinya kepada ‘amil (pelaku usaha yang dimodali). 
 
2. Ada bidang usaha yang digarap dan disepakati oleh mereka berdua
 
3. Kerugian yang terjadi pada perjalanan usaha adalah ditanggung oleh pemilik modal. Sementara itu pihak pengelola hanya menanggung kerugian berupa jerih payah yang sudah dilakukan.
 
Jika dicermati lebih lanjut, maka istilah mudharabah ini adalah identik dengan salah satu cabang syirkah (kemitraan), yaitu syirkah wujuh (kemitraan berbekal kepercayaan/ketokohan). Ciri khas dari akad kemitraan semacam adalah modal hanya diberikan oleh pemilik modal. Adapun pengelola hanya bermodal tenaga (‘amal). Contoh praktisnya dalam kehidupan sehari-hari adalah akad kemitraan antara pemilik toko dan supplier. Pemilik toko hanya bermodalkan tenaga menjualkan, sementara supplier bermodalkan barang yang diserahkan penjualannya kepada pemilik toko. 
 
Berdasar definisi di atas, ada beberapa istilah yang harus dicermati dalam akad mudharabah, antara lain: 
 
Pertama, istilah penyerahan. Jika dicermati, istilah “penyerahan” ini memiliki sejumlah pengertian. Pengertian yang paling menyolok adalah bahwa sesuatu yang bisa diserahterimakan dalam akad mudharabah adalah sudah pasti harus berupa “barang maujud dan bisa disaksikan”. Dengan pengertian lain, tidak berlaku istilah penyerahan berupa barang “manfaat”. Jadi, tidak ada istilah mudharabah dalam harta “manfaat.” Misalnya akad mudharabah berupa “manfaat bisa ditempatinya sebuah rumah”, atau akad mudharabah berupa “manfaat utang.” Bagi hasil berupa sewa menyewa berupa “manfaat utang” adalah istilah lain dari riba. Misalnya seperti “Aku beri pinjaman kamu berupa “uang” sebesar 100 ribu untuk buka usaha. Sewa manfaatnya sebesar 10% per bulan.” Akad semacam termasuk akad mudharabah fasidah (akad mudharabah yang rusak) disebabkan karena menyewakan “harta manfaat,” yang merupakan istilah lain dari riba. 
 
Bandingkan juga dengan akad semacam ini: “Aku sewakan “rumah” ini kepadamu. Harga sewa manfaat untuk tempat tinggalnya, per bulan sebesar 100 ribu.” Akad terakhir ini menyimpan keraguan, yaitu pemilik sedang menyewakan rumah, atau menyewakan manfaat hunian? Jika yang disewa adalah rumah, maka sudah pasti harus dengan manfaatnya berupa tempat yang bisa ditinggali. Dengan demikian tidak boleh dipisah menjadi dua harga, yaitu antara akad sewa “rumah,” dengan akad berupa sewa “manfaat,” karena keduanya adalah satu kesatuan. Adanya pemisahan, bisa menarik pemilik pada akad “gharar” (penipuan) yang dilarang oleh syara’. 
 
Kedua, istilah laba bersama (ribhu musytarak). Laba bersama merupakan istilah yang ditujukan karena adanya modal bersama yang dikelola, sehingga mengecualikan seseorang yang berprofesi sebagai wakil. Seorang wakil mendapatkan upah berdasarkan pekerjaannya. Upahnya bersifat tetap sesuai dengan kesepakatan. Beda halnya dengan seorang yang terlibat dalam akad mudharabah. Besar pendapatan yang diperolehnya bisa naik dan bisa turun tergantung pada omzet yang didapat dari hasil pengelolaan. Apabila omzet usaha berjalan lancar dan mendapatkan banyak pemasukan, maka naik pula pendapatan dari seorang pengelola. Sebaliknya bila omzet penjualan berlangsung menurun, maka menurun pula pendapatan yang dimilikinya. Al-Zuhaili menjelaskan hal tersebut sebagai berikut:
 
والسبب في اشتراك العاقدين في الربح هو أن رب المال يستحق الربح بسبب ماله لأنه نماء ماله والمضارب يستحقه باعتيبار عمله الذي هو سبب وجود الربح.
 
Artinya: “Sebab bersamanya dua orang yang berakad ini dalam keuntungan adalah karena sesungguhnya pemilik modal berhak atas untung disebabkan karena harta yang diserahkannya untuk dikembangkan/dikelola, sementara pihak pengelola berhak atas keuntungan tersebut sebab pekerjaan yang telah dilakukannya yang menjadi sebab bagi adanya keuntungan.” (al-Zuhaili, al-Fiqhu al-Islamy wa Adillatuhu, Damaskus: Dar al-Fikr, tt.: 5/3935)
 
Syarat adanya “kebersamaan dalam pembagian laba” ini secara tidak langsung mengecualikan akad mudharabah ini dari dua pola akad lainnya, khususnya bila dilihat dari cara pembagian keuntungannya, yaitu: 
 
1. Akad mubadla’ah
 
Akad mubadla’ah ini dicirikan sebagai: 
 
إذا شرط جميع الربح لرب المال 
 
Artinya: “[Suatu akad yang terjadi] bila disyaratkan bahwa laba adalah untuk pemilik modal seluruhnya” (al-Zuhaili, al-Fiqhu al-Islamy wa Adillatuhu, Damaskus: Dar al-Fikr, tt.: 5/3936)
 
Di masyarakat Jawa, sistem ini biasanya dikenal dengan sistem ngedok sawah, di mana seluruh hasil panenan hakikatnya adalah milik pemodal. Petani penggarap hanya menerima bagian dengan persen tertentu setelah semua hasil panenan ada di tangan pemodal. Biasanya hasil dibagi 5 bagian, dengan peruntukan masing-masing, adalah ⅗ bagian adalah milik pemodal, ⅕ bagian adalah bagian lahan dan ⅕ bagian sisanya adalah milik penggarap. Jika lahan itu milik pemodal, maka total bagian yang dikuasai pemodal adalah ⅘ bagian dari hasil. Sementara bila lahan itu milik petani penggarap, maka ⅖ bagian hasil panen adalah milik penggarap. Akad sedemikian ini sebenarnya masuk akad musaqah/mudharabah yang rusak, disebabkan karena ketidakjelasan harga sewa tanah. Seolah, ⅕ bagian untuk tanah tersebut adalah upahnya tanah. Padahal tanah tidak memiliki beban kerja (kulfah).
 
2. Akad qardl
 
Akad qardl (utang piutang) merupakan kebalikan dari akad mubadla’ah, yang dicirikan sebagai: 
 
لو شرط جميع الربح للمضارب
 
Artinya: “[Suatu akad yang terjadi] bila disyaratkan seluruh laba adalah milik pengelola.” (al-Zuhaili, al-Fiqhu al-Islamy wa Adillatuhu, Damaskus: Dar al-Fikr, tt.: 5/3936)
 
Meskipun hakikatnya suatu akad disampaikan dengan akad mudharabah (bagi hasil), namun bila disyaratkan bahwa keuntungan hasilnya adalah milik pengelola, maka sejatinya akad tersebut adalah akad qardl atau utang piutang.
 
Wallahu a’lam bish shawab.
 
 
Ustadz Muhammad Syamsudin, Peneliti Bidang Ekonomi Syariah - Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur
 
Senin 9 September 2019 21:45 WIB
Jual Beli Murabahah dan Cabang-cabangnya (1)
Jual Beli Murabahah dan Cabang-cabangnya (1)
(Ilustrasi: NU Online)
Gambaran dari jual beli murabahah adalah jual belinya seseorang dengan harga setara dengan harga pokok barang ketika dibelinya, atau lebih besar, atau bahkan lebih sedikit dari harga dasarnya. Misalnya ada seseorang melakukan transaksi jual beli, dengan menyebutkan: “Harga kulaknya 100 ribu rupiah. Aku jual kepadamu sesuai harga belinya, dengan keuntungan sebesar seribu rupiah untuk tiap-tiap 10 ribunya.” 
 
Hak menjual barang milik dengan harga lebih sedikit, setara atau lebih banyak dari harga beli merupakan hak individu. Untuk itu hukumnya adalah mubah. 
 
Dasar nash dibolehkannya jual beli murabahah ini adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam
 
إذا اختلف الجنسان فبيعوا كيف شئتم
 
Artinya: “Jika dua barang (ribawi) itu berbeda jenisnya, maka jualbelikanlah bagaimana saja kalian mau!”
 
Kebetulan hadits yang dicontohkan di atas berkaitan dengan jual beli barang ribawi. Dengan kata lain, jual beli murabahah juga bisa berlaku untuk barang ribawi dan non-ribawi. Dalam hal ini sudah pasti ada banyak catatan. Sekilas untuk penjelasan dari hadits di atas adalah bahwa jika ada barang ribawi yang berbeda jenis, misalnya antara jagung dan beras, maka diperbolehkan menukarkannya dengan jalan bagaimanapun dua orang yang bertransaksi mau melakukannya.
Catatan untuk jual beli model semacam adalah harus saling serah terima dan kontan. Tidak boleh dikredit, namun boleh untuk diserahkan secara tunda salah satunya, akan tetapi harus jelas kapan barang penggantinya itu diserahkan. Hal yang sama tidak berlaku untuk jual barang ribawi yang sejenis, sebagaimana hal ini sudah banyak kita bahas sebelumnya.
 
Mekanisme jual beli murabahah juga berlaku untuk akad yang berlangsung berikut: “Harga kulak barang sebesar 100 ribu rupiah. Tiap 10 ribunya, aku berikan diskon kepadamu sebesar 1000 rupiah.” Jual beli semacam ini disebut jual beli muwadla’ah
 
Namun, umumnya yang dinamakan jual beli murabahah adalah jual beli dengan selisih adanya keuntungan bagi penjual. Misalnya: “Aku jual padamu barang ini seharga 110 ribu rupiah dari harga kulak sebesar 100 ribu rupiah.” Adat yang berlaku, penjual tidak menyebutkan harga kulaknya. Misalnya. Pembeli hanya menyebut harga jadinya saja yang sudah ditambah keuntungan: “Aku jual barang ini kepadamu seharga 110 ribu rupiah.”
 
Semua model jual beli semacam ini hukumnya adalah boleh disebabkan harganya ma’lum (tsaman ma’lum). Untuk model jual beli murabahah yang pertama, yaitu: “Harga kulaknya 100 ribu. Aku jual kepadamu sesuai harga belinya, dengan keuntungan sebesar seribu rupiah untuk tiap-tiap 10 ribunya,” dalam model jual beli seperti ini, masuk di dalamnya ketentuan harga ma‘lum, khususnya untuk akad sebagai berikut: “Harga pokok barang bila cash adalah 100 ribu. Setiap 10 ribunya, aku mengambil untung sebesar 10 persen.” Keuntungan yang diambil dengan jalan seperti ini, masuk kategori ma'lum juga, sebab hitungannya (hishah) adalah jelas, bahwa 10 persen dari 10 ribu adalah sebesar seribu. 
 
Sampai di sini, ada hal yang perlu dicatat, bahwa selain harganya harus ma'lum (diketahui secara jelas), ketentuan lain dari jual beli murabahah adalah hitungannya juga ma'lum. Sekarang, mari kenali untuk akad dengan model sejenis: 
 
1. Harga kontannya 100 ribu. Harga kreditnya sebesar 120 ribu. Untuk harga kredit bisa dicicil selama satu tahun. Per bulannya anda wajib membayar sebesar 10 ribu. 

2. Harga barang sebesar 120 ribu dengan masa cicilan 1 tahun. Per bulan anda wajib membayar 10 ribu.

3. Harga kontannya 100 ribu. Besaran cicilan kredit barang adalah 10 ribu per bulan selama satu tahun

4. Harga kontannya 100 ribu. Besaran cicilan kredit barang adalah 10% per bulan selama satu tahun

5. Harga kontannya 100 ribu, Bunga kredit sebesar 10% per bulan selama satu tahun
 
Sebagai catatan tambahan bahwa akad jual beli di atas adalah terjadi pada barang non-ribawi. Jadi, sampai di sini, ada tiga hal yang harus diperhatikan dalam jual beli murabahah, yaitu: 
 
1. Harganya harus diketahui secara jelas
2. Jelas hitungannya 
3. Untuk barang non-ribawi, boleh memberlakukan akad kredit
 
Mengapa pada barang ribawi, tidak boleh berlaku akad kredit dalam jual beli murabahah? Simak contoh gambaran akad jual beli kredit murabahah barang ribawi berikut ini!
 
1. Saya beri pinjaman kamu sebesar 100 ribu. Kamu wajib mengembalikan sebesar 120 ribu dengan cicilan setiap bulannya sebesar 10 ribu dan tenor 1 tahun

2. Aku utangi kamu 100 ribu. Besaran cicilan utang adalah 10 ribu per bulan selama satu tahun

3. Aku utangi kamu 100 ribu. Besaran cicilan pengembalian adalah 10% dari pokok utang per bulan selama satu tahun

4. Aku pinjami kamu uang sebesar 100 ribu rupiah, dengan bunga sebesar 20% dengan tenor selama satu tahun.
 
Ada beberapa catatan terkait dengan hal di atas, yaitu:
 
1. Meskipun akad di atas menggunakan istilah pinjam, namun sejatinya adalah jual beli melalui jalan barter barang ribawi berupa uang. 

2. Syarat kebolehan yang dilanggar dari akad pertukaran barang ribawi di atas adalah: 

a. Wajibnya hulul (kontan). Tidak boleh menukarkan dua barang ribawi baik sejenis atau tidak sejenis, dengan salah satunya ditunda pembayarannya tanpa kejelasan waktu ditunaikannya. Penundaan waktu penyerahan barang ribawi yang tidak jelas kapan waktu pelunasannya masuk kategori riba nasiah

b. Wajib tamatsul (sama takarannya). Uang sebesar 100 ribu tidak sama kadarnya dengan uang 120 ribu. Untuk itu maka akad di atas dihukumi tidak sama kadar takarannya sehingga masuk kategori riba fadl.

c. Wajib taqabudl (saling serah terima). Tidak boleh menukarkan dua barang ribawi baik sejenis atau tidak sejenis dengan salah satu barang yang dipertukarkan ditunda penyerahannya
 
Terkait dengan jual beli barang ribawi ini, meskipun jelas besaran harga pokok dan harga kreditnya serta hitungan nisbahnya, tetap tidak diperbolehkan mengingat keberadaan barang ribawi tersebut dilarang secara nash (manshush). Adapun untuk barang non-ribawi, maka diperbolehkan dengan catatan sebagaimana yang sudah disampaikan di atas, yaitu: 
 
● Jelas harga pokoknya (harga cash)
● Jelas harga kreditnya
● Jelas hitungannya
 
Wallahu a’lam bish shawab.
 
Bersambung…
 
 
Ustadz Muhammad Syamsudin, Peneliti Bidang Ekonomi Syariah Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur
 
Kamis 5 September 2019 20:0 WIB
Hukum Lotre untuk Kemaslahatan Organisasi
Hukum Lotre untuk Kemaslahatan Organisasi
Berorganisasi merupakan hal baik. Maka semestinya ditopang oleh hal-hal baik pula.
Berorganisasi merupakan pengalaman yang baik untuk bersama-sama menjalankan suatu bisnis atau memperjuangkan idealisme. Bahkan di dalam sebuah hadits disebutkan tentang anjuran Rasulullah ﷺ agar umat Islam membangun sebuah organisasi. Di dalam organisasi terdapat sebuah keberkahan, selagi tidak ada satu dari salah satu anggotanya yang berlaku khianat.
 
عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال: يقول الله : أنا ثالث الشريكين ما لم يخن أحدهما صاحبه ، فإذا خان أحدهما صاحبه خرجت من بينهما. رواه أبو داود
 
Artinya: Dari Nabi ﷺ, beliau bersabda: “Allah ﷻ berfirman: ‘Aku adalah pihak ketika dari dua orang yang bersekutu selagi tidak saling mengkhianati. Bila salah satunya telah berbuat khianat kepada sahabatnya, maka Aku keluar dari keduanya.” HR. Abu Dawud
 
Khianat merupakan penghilang keberkahan. Allah ﷻ berfirman:
 
 وَإِنَّ كَثِيرًا مِّنَ ٱلْخُلَطَآءِ لَيَبْغِى بَعْضُهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ وَقَلِيلٌ مَّا هُمْ
 
Artinya: “Dan sesungguhnya kebanyakan dari orang-orang yang berserikat itu sebahagian mereka berbuat zalim kepada sebahagian yang lain, kecuali orang orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh; dan amat sedikitlah mereka ini.” (QS Shâd [38]: 24)
 
Ayat ini secara tegas menyiratkan bahwa hukum asal dari berserikat dan berorganisasi adalah boleh. Ketidakbolehan berserikat dan berorganisasi adalah disebabkan karena adanya alasan lain berupa ‘illat keharaman. 
 
Dalam menghidupi sebuah organisasi, kadang dibutuhkan kecakapan dari seorang pemimpin. Salah satu kecakapan itu adalah berusaha menghasilkan dana organisasi. Akhirnya dilakukanlah berbagai upaya agar ada pemasukan, syukur bila dana itu kemudian menjadi dana produktif melalui usaha produktif seperti jual beli. Perlu diketahui bahwa hukum asal muamalah jual beli adalah boleh selagi tidak ditemukan illat (penyebab) keharaman.
 
Ada sebuah praktik jual beli dalam organisasi yang dilakukan melalui jalan arisan. Peserta merupakan seluruh anggota organisasi. Disebut arisan karena pihak yang mendapatkan barang adalah yang namanya keluar dalam undian (qar’un). Mekanisme yang dilakukan adalah dengan jalan semua peserta menyetorkan sejumlah uang ke bendahara, misalnya 5.000 rupiah dengan jumlah peserta sebanyak 100 orang. Setelah uang terkumpul semua, lalu ketua organisasi mengundinya. Nomor yang keluar berperan selaku pihak yang mendapatkan seluruh uang itu. 
 
Akan tetapi, uang diberikan tidak berupa uang, melainkan jenis barang tertentu yang sudah disepakati oleh peserta sebelumnya. Sebut misalnya minyak goreng. Harga eceran minyak goreng Merk X adalah 10 ribu rupiah per bungkus dan harga kulaknya sebesar 9 ribu rupiah per bungkus. Peserta sepakat bahwa pengurus organisasi yang belanja. Jika pengurus organisasi belanja dengan harga kulak, maka dia untung sebesar seribu rupiah. Selisih ini lalu dimasukkan sebagai kas organisasi. 
 
Sebagai catatan dari kasus di atas adalah bahwa semua peserta akan mendapatkan giliran mendapatkan lotre pada waktunya. Pertanyaan yang sering diajukan adalah: apakah boleh melakukan muamalah dengan model demikian?
 
Yang perlu dicatat dari kasus model demikian ini adalah:
 
1. Arisan hukum asalnya adalah boleh. 

2. Akad arisan adalah akad mudâyanah (akad utang piutang). Pihak yang mendapatkan arisan berperan selaku pihak yang berutang. Sementara anggota lainnya berperan selaku yang memberi utang.

3. Ada dua model akad utang dalam arisan:

a. Utang uang. Untuk arisan yang dianggap akad utang uang, maka disyaratkan bahwa uang yang dibawa harus sama dengan uang yang disetor, tidak lebih dan tidak kurang. Jadi, bila uang yang disetor adalah sejumlah 5 ribu rupiah, sementara jumlah pesertanya adalah 100 orang, maka sudah pasti jumlah yang harus diterima oleh peserta yang mendapatkan lotre adalah sejumlah 500 ribu rupiah. Uang ini—sekali lagi—harus diterima secara utuh tanpa berkurang sepeser pun. 
 
Adapun bila disyaratkan oleh organisasi, bahwa uang itu harus dibelikan suatu barang yang dipesan lewat pengurus, maka dalam hal ini diperlukan akad baru, yaitu akad perwakilan. Pengurus bertindak selaku wakil dari peserta yang mendapatkan lotre. Tanpa adanya akad baru, lalu tiba-tiba pengurus membelanjakannya karena sudah adanya kesepakatan di awal, maka kesepakatan semacam ini, (sejauh timbangan penulis), dapat berujung pada riba qardli, yaitu riba utang piutang. 
 
Menurut Al-Syirbini, dalam utang berupa uang, maka yang wajib dikembalikan adalah padanan nilai uang tersebut, meski uangnya sudah tidak berlaku lagi.
 
 (وَيُرَدُّ) فِي الْقَرْضِ (الْمِثْلُ فِي الْمِثْلِيِّ) لِأَنَّهُ أَقْرَبُ إلَى حَقِّهِ وَلَوْ فِي نَقْدٍ بَطَلَ التَّعَامُلُ بِهِ
 
Artinya: "Dalam qardlu (utang piutang) yang dikembalikan adalah padanannya ketika yang diutang adalah perkara yang ada padanannya (mitsli), karena hal itu adalah yang lebih mendekati untuk menngembalikan hak orang yang memberi utang, walau berupa uang yang sudah tidak laku digunakan untuk jual beli lagi" (Syamsu al-Dïn Muhammad al-Khathib al-Syirbini, Mughny al-Muhtaj, Beirut: Dâr al-Ma'rifah, tt.: 2/155)
 
b. Utang barang. Untuk kasus utang barang, maka disyaratkan bahwa barang itu telah ditentukan jenis, ukuran, dan standar harganya. Misalnya: gula 10 kilogram atau minyak goreng merk X 10 bungkus dengan “standar harga eceran” pada toko A. Sifat tertentunya toko ini untuk menghindari terjadinya “standar harga eceran” dari toko yang berbeda. Demikian juga merk dan takaran/berat barang, adalah untuk menghindari terjadinya “merk dan takaran/berat” yang berbeda. Karena minyak goreng merk X kadang harganya berbeda dengan minyak goreng merk Y, meskipun kemasannya adalah sama-sama 1 kilogram. Itulah sebabnya, ketidaksamaan pada salah tolok ukur (merk, takaran dan “standar harga eceran” toko) dapat berakibat pada tercebur akad riba al-fadli
 
Akad yang berlaku untuk model akad arisan berupa utang barang ini, adalah akad bai’ uhdah (jual beli sende). Berdasarkan akad ini, maka diperbolehkan bagi pihak pengurus untuk membelanjakan uang yang terkumpul sesuai dengan yang disepakati. Selisih dari hasil jual beli, boleh dikelola oleh pengurus. 
 
Dasar yang dipergunakan dalam hal ini adalah pendapat al-Syirbini:
 
(وَ) يُرَدُّ (فِي الْمُتَقَوِّمِ الْمِثْلُ صُورَةً) {لِأَنَّهُ صلى الله عليه وسلم اقْتَرَضَ بَكْرًا وَرَدَّ رُبَاعِيًّا وَقَالَ : إنَّ خِيَارَكُمْ أَحْسَنُكُمْ قَضَاءً} رَوَاهُ مُسْلِمٌ
 
Artinya: "Sedangkan kalau yang diutang berupa barang yang bernilai (mutaqawwam) maka yang digunakan membayar adalah sesuatu yang mempunyai bentuk yang sama, karena Nabi Muhammad ﷺ pernah utang seekor unta bikru (unta yang menginjak umur 6 tahun) dan membayarnya dengan seekor unta ruba’i (unta yang menginjak umur 7 tahun), beliau bersabda: sesungguhnya sebaik-baik kalian adalah orang yang paling baik dalam membayar utang. Hadits riwayat Imam Muslim." (Syamsu al-Dïn Muhammad al-Khathib al-Syirbini, Mughny al-Muhtaj, Beirut: Dâr al-Ma'rifah, tt.: 2/156)
 
Bagaimana bila dalam kasus di atas, ada peserta yang tidak mendapatkan lotre?
 
Bilamana terjadi kasus sebagaimana pertanyaan ini, maka tidak diragukan lagi bahwa hal semacam adalah menyerupai judi (qimar) karena tersimpan di dalamnya unsur maisir (spekulatif). Dasar yang dipergunakan dalam hal ini adalah: 
 
يحرم بالإتفاق كل لعب فيه قمار وهو أن يغنم أحدهما ويغرم الآخر لأنه من الميسير أي القمار الذي أمر الله باجتنابه 
 
Artinya: “Para ulama sepakat mengharamkan semua bentuk permainan yang didalamnya ada unsur judi, yaitu: jika salah satu berperan selaku pemenang, sementara yang lain bertindak selaku yang diambil hartanya. Di dalam permainan model demikian ini, terdapat unsur maisir, yaitu judi yang mana Allah ﷻ telah memerintahkan agar menjauhinya.”
 
Semoga tulisan ini berguna bagi semua kader penggerak organisasi di mana pun berada dan dalam rupa apa pun organisasi itu. Sesuatu yang diridhai tidak mungkin dicampur dengan sesuatu yang tidak diridhai. Karena kumpulnya dua hal tersebut adalah yang mustahil bertemu dalam syariat. Wallahu a’lam bish shawab!
 
 
Ustadz Muhammad Syamsudin, Peneliti Bidang Ekonomi Syariah – Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur