IMG-LOGO
Hikmah

Hasan al-Bashri, Rembesan Air Kencing, dan Tetangga Nasrani

Senin 30 September 2019 23:20 WIB
Share:
Hasan al-Bashri, Rembesan Air Kencing, dan Tetangga Nasrani
Keluasan hati Hasan al-Bashri tak hanya membuat orang lain terpukau tapi juga mengikuti jejaknya.
Dalam Kitâb al-Imtâ’ wa al-Mu’ânasah, Imam Abu Hayyan al-Tauhidi mencatat sebuah kisah tentang akhlak mulia yang ditunjukkan Imam Hasan al-Bahsri terhadap tetangganya yang beragama Nasrani. Berikut kisahnya:
 
كان للحسن جارٌ نصرانيّ، وكان له كنيف علي السّطْح، وقد نقب ذلك في بيته، وكان يتحلّب منه البول في بيت الحسن، وكان الحسنُ أمَرَ بإناء فوُضِع تحته، فكان يخرج ما يجتمع منه ليلًا، ومضي علي ذلك عشرون سنةً، فمرض الحسنُ ذاتَ يَوْم فعاده النَّصرانيّ، فرأي ذلك، فقال: يا أبا سعيد، مُذْ كَمْ تَحْمِلُون مِنِّي هذا الأَذَي؟ فقال: منذ عشرين سنةً. فقطع النَّصرَانيّ زُنّاره وأسلم
 
Hasan (al-Bashri) bertetangga dengan seorang Nasrani yang memiliki kamar kecil (jamban/toiet) di atap (rumahnya), dan (lama-lama) berlubang ke dalam rumah Hasan (al-Bashri). Dari lubang itu, air kencing merembes (bocor) ke dalam rumah Hasan (al-Bashri). Hasan meminta sebuah wadah, lalu ia meletakkannya di bawah lubang yang bocor. Ia keluar setiap malam untuk membuang air kencing yang sudah penuh, dan itu sudah dilakukan selama dua puluh tahun lamanya.
 
Suatu ketika Hasan (al-Bashri) sakit dan (tetangganya yang beragama) Nasrani itu menjenguknya, ia melihat kebocoran yang terjadi di rumah Hasan (al-Bashri).
 
Ia bertanya: “Wahai Abu Sa’id, sudah berapa lama kau menanggung kesusahan dariku ini?”
 
Hasan (al-Bashri) menjawab: “Sudah dua puluh tahun.”
 
Seketika itu juga ia memotong ikat pinggangnya dan memeluk Islam. (Imam Abu Hayyan al-Tauhidi, Kitâb al-Imtâ’ wa al-Mu’ânasah, Beirut: al-Maktabah al-‘Ashriyyah, 2011, h. 247)
 
****
 
Bisahkah kita membayangkan, dua puluh tahun bersabar menanggung kesusahan yang setiap hari menimpa; setiap malam keluar rumah sembunyi-sembunyi membuangnya, dan harus melalui hal yang sama setiap harinya. Bisahkah kita membayangkan berada di posisi itu?
 
Tentu sulit, bahkan mungkin hampir mustahil kita kuat melakukannya. Namun Imam Hasan al-Bashri melakukan itu untuk dua puluh tahun lamanya. Bersabar membersihkan rembesan air kencing yang masuk ke rumahnya. Ia tidak marah-marah mendatangi tetangganya dan memperingatkannya. Ia memilih diam dan membersihkannya setiap hari. Ia sedang mengamalkan ajaran nabinya, “falyukrim jârahu” (memuliakan tetangga).  
 
Jika diamati lebih dalam, kisah di atas mengandung banyak sisi menarik. Pertama, soal kerukunan dalam hidup bertetangga, meski terhadap orang yang berbeda agama sekalipun. Karena itu, tetangganya yang Nasrani pun menjenguknya ketika ia sakit. Ini menunjukkan kesehatan hubungan di antara mereka.
 
Kedua, kesabaran dan keluasan hati Imam Hasan al-Bashri. Ia dijenguk oleh tetangganya saat sedang sakit. Artinya, sepanjang dua puluh tahun lamanya ia memperlakukan tetangganya dengan baik. Tidak pernah menampakkan amarah, ketidak-sukaan, atau kelelahan di hadapannya, meski ia harus setiap hari membersihkan rumahnya dari najis air kencing. Ia sama sekali tidak menampakkan ketidak-sukaan terhadap tetangga yang menyusahkannya itu. Andai ia menampakkannya, mungkin tetangganya akan enggan untuk menjenguknya.
 
Ketiga, besarnya pengaruh akhlak yang mulia. Ketika tetangga Nasrani itu menjenguk Imam Hasan al-Bashri, ia melihat kesusahan yang dialami Hasan al-Bashri. Ia terkejut, selama ini kanîf (jamban) miliknya bocor ke rumah Imam Hasan al-Bashri. Sebagai tetangga yang hidup berdampingan dengannya cukup lama, ia pasti tahu kedudukan Hasan al-Bashri di kalangan umat Islam ketika itu. Ia adalah ulama yang sangat dihormati. Tapi ia harus menanggung kesusahan najis setiap hari karenanya. Tentunya ia tahu, umat Islam sangat menjaga kesuciannya dari najis, apalagi seorang ulama seperti Hasan al-Bashri.
 
Karena itu, ia tertegun melihat persembahan akhlak sehalus ini; ia terkejut menyaksikan pertunjukkan kesabaran sekokoh ini. Maka, seketika itu ia memotong ikat pinggangnya dan memutuskan menjadi Muslim. 
 
Akhlak baik Hasan al-Bashri membuatnya tertarik memeluk Islam, tanpa bujuk rayu dan paksaan. Dengan akhlak yang baik, orang akan tertarik dengan prinsip hidup kita, dan apa yang melatari tindakan kita. Dalam hal ini, sang tetangga yakin bahwa perilaku Hasan al-Bashri berasal dari nilai-nilai agama yang dianutnya, sehingga tanpa ragu ia memutuskan menjadi Muslim.
 
Ini menunjukkan bahwa akhlak yang baik berperan besar dalam penyebaran Islam, sebagaimana sabda Rasulullah (HR. Imam Ahmad):
إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلاَق
 
“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.”
 
Pertanyaannya, seberapa besar upaya kita mengamalkannya?
 
Wallahu a’lam bish-shawwab...
 
 
Muhammad Afiq Zahara, alumni PP. Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen
 
Share:

Baca Juga

Senin 30 September 2019 6:0 WIB
Ketika Seekor Semut Lakukan Istisqa di Zaman Nabi Sulaiman As
Ketika Seekor Semut Lakukan Istisqa di Zaman Nabi Sulaiman As
Ilustrasi (kompas)
Semut bukan hewan biasa. Semut memiliki keistimewaan dalam Islam. Semut merupakan salah satu hewan yang disebut dalam Al-Qur’an bahkan diabadikan menjadi salah satu nama surat di dalamnya, An-Naml (Surat Semut).
 
Hubungan semut dan manusia bukan terjadi belakangan ketika anak-anak diserang kawanan semut ketika naik pohon jambu, bacang, mangga, kecapi, atau pohon rambutan. Semut juga kerap dijumpai di sebuah gelas berisi kopi, susu, atau sekadar air putih, bahkan di kaleng susu.
 
Hubungan manusia dan semut sudah terjalin sejak lama. Nabi Muhammad Saw pernah menceritakan seorang nabi di zaman dahulu yang membakar sarang semut karena salah seekor dari mereka mengigitnya. Tetapi atas tindakan melewati batas tersebut, Allah menegur nabi-Nya sebagaimana hadits riwayat Sunan Abu Dawud berikut ini:
 
عن أبي هريرة أن النبي صلى الله عليه وسلم قال نزل نبي من الأنبياء تحت شجرة فلدغته نملة فأمر بجهازه فأخرج من تحتها ثم أمر بها فأحرقت فأوحى الله إليه فهلا نملة واحدة
 
Artinya, "Dari Abu Hurairah, Rasulullah Saw bercerita bahwa salah seorang nabi di zaman dahulu pernah singgah di bawah sebuah pohon. Di sana ia digigit oleh semut. Lalu ia memerintahkan untuk mencari semut tersebut. Semut itu dikeluarkan dari sarangnya, lalu ia memerintahkan untuk membakar sarangnya. Allah setelah itu menegur, ‘Mengapa kau tidak membunuh seekor semut saja?'" (HR Abu Dawud).
 
Pembalasan secara berlebihan terhadap semut itu juga dapat ditemukan pada riwayat Imam Bukhari. Pada riwayat tersebut, menyayangkan pembakaran atas sekelompok semut atas kesalahan seekor semut belaka. Allah pada riwayat ini juga menyebut semut sebagai hewan yang bertasbih:
 
وأبي سلمة أن أبا هريرة رضي الله عنه قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول قرصت نملة نبيا من الأنبياء فأمر بقرية النمل فأحرقت فأوحى الله إليه أن قرصتك نملة أحرقت أمة من الأمم تسبح
 
Artinya, "Dari Abu Salamah, Abu Hurairah RA mengatakan bahwa Rasulullah SAW bercerita bahwa suatu ketika seekor semut mengigit seorang nabi. Ia kemudian memerintahkan untuk mendatangi pemukiman semut, lalu pemukiman itu dibakar. Allah menegurnya, ‘Seekor semut menggigitmu, tapi kamu membakar satu umat (sekelompok semut) yang kerjanya bertasbih?'" (HR Bukhari).
 
Hubungan manusia dan semut tidak selalu antagonis. Hubungan manusia dan semut mengalami pasang dan surut. Pada giliran tertentu, semut sering kali berkontribusi pada umat manusia.
 
Hadits riwayat Imam Bukhari di atas menyebut semut sebagai hewan yang bertasbih/ibadah. Pada riwayat Abu Dawud berikut ini, semut mendahului umat Nabi Sulaiman As melakukan ibadah permohonan air hujan (istisqa) atas kemarau panjang yang mendera makhluk hidup saat itu. Pada riwayat ini Nabi Muhammad Saw bercerita bagaimana seekor semut di zaman dahulu melakukan istisqa terlebih dahulu sehingga Nabi Sulaiman As dan rakyatnya mengurungkan pelaksanaan istisqa karena telah diwakili oleh hamba Allah dari jenis lainnya.
 
عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: (خرج سليمان عليه السلام يستقي، فرأى نملةً مستلقيَةً على ظهرها، رافعةً قوائمَها إلى السماء، تقول: اللهم، إنا خَلْقٌ مِن خلقِك، ليس بنا غنًى عن سُقيَاك، فقال لهم سليمان: ارجعوا؛ فقد سُقيتُم بدعوة غيركم)؛ رواه أحمد، وصحَّحه الحاكم
 
Artinya, "Dari Abu Hurairah Ra, Rasulullah Saw bercerita, ‘Nabi Sulaiman As pernah melakukan ibadah istisqa, tetapi ia melihat seekor semut berposisi telentang dan mengangkat tangan dan kakinya sambil berdoa, ‘Ya Allah, kami adalah salah satu makhluk-Mu. Kami tidak dapat berlepas ketergantungan dari anugerah air-Mu.’ Menyaksikan ini, Nabi Sulaiman AS mengatakan kepada rakyatnya, ‘Mari kita pulang, kalian telah di(mintakan)anugerahkan air oleh doa makhluk hidup selain kalian,'" (HR Ahmad dan dishahihkan oleh Imam Al-Hakim).
 
Dari sini, para ulama kemudian menyimpulkan bahwa istisqa sebagai bentuk permohonan kepada Allah atas kebutuhan makhluk hidup akan air disunnahkan untuk melibatkan makhluk hidup selain bangsa manusia sebagaimana dijelaskan dalam kitab-kitab fiqih.
 
Hal ini juga disinggung oleh Syekh Hasan Sulaiman An-Nuri dan Syekh Alawi Abbas Al-Maliki dalam Ibanatul Ahkam berikut ini:
 
مشروعية الخروج للاستسقاء في الصحراء٬ الاستسقاء مشروع للأمم السابقة٬ يحسن إخراج البهائم في الاستسقاء لأن لها إدراكا يتعلق بمعرفة الله و بذكره وبطلب الحاجات منه تعالى بلغة يفهمها الله ويجهلها الناس
 
Artinya, "(Hadits ini menunjukkan) pensyariatan keluar rumah untuk melakukan istisqa di tanah lapang. Istisqa merupakan syariat bagi umat terdahulu. Alangkah baiknya membawa serta binatang ternak dalam melakukan istisqa karena binatang itu memiliki potensi yang berkaitan dengan makrifat, zikir, dan permohonan hajat mereka terhadap-Nya dengan bahasa yang dipahami oleh Allah dan tidak dipahami oleh bangsa manusia," (Syekh Hasan Sulaiman An-Nuri dan Syekh Alawi Abbas Al-Maliki, Ibanatul Ahkam, [Beirut, Darul Fikr: 1996 M/1416 H], cetakan pertama, juz II, halaman 132).
 
Demikian hubungan semut dan bangsa manusia yang mengalami berbagai warna. Berbagai riwayat di atas menunjukkan bahwa semut (dan makhluk hidup lainnya) memiliki hak yang sama dengan manusia di sisi Allah. Wallahu a‘lam.
 
 
Penulis: Alhafiz Kurniawan
Editor: Kendi Setiawan
Ahad 29 September 2019 7:0 WIB
Ketika Sayyidina Abu Hurairah Dituduh Mencuri
Ketika Sayyidina Abu Hurairah Dituduh Mencuri
Teladan Rasulullah yang meresap dalam diri Abu Hurairah membuat sahabat Nabi ini tetap rileks dan bijaksana saat menghadapi tuduhan negatif.
Dalam Kitâb al-Imtâ wa al-Mu’ânasah, Imam Abu Hayyan al-Tauhidi (w. 414 H) mencatat sebuah riwayat tentang Sayyidina Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu dituduh mencuri sesuatu. Berikut riwayatnya:
 
وقال رجل لأبي هريرة: أنت أبو هريرة؟ قال: نعم. قال: سارق الذّريْرة؟ قال: اللهم إن كان كاذبا فاغفر له, وإن كان صادقا فاغفر لي, هكذا أمرني رسول الله
 
Seorang laki-laki bertanya pada Abu Hurairah: “Kau Abu Hurairah?”
 
Abu Hurairah menjawab: “Benar.”
 
Laki-laki itu bertanya lagi: “Sang pencuri dzarîrah (salah satu jenis wewangian)?”
 
Abu Hurairah berkata: “Ya Allah, jika dia berbohong, maka ampunilah dia. Jika dia benar, maka ampunilah aku. Seperti inilah yang diperintahkan (diajarkan) Rasulullah kepadaku.” (Imam Abu Hayyan al-Tauhidi,  Kitâb al-Imtâ wa al-Mu’ânasah, Beirut: al-Maktabah al-‘Ashriyyah, 2011, h. 247)
 
****
 
Dari jawaban Sayyidina Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu, ia menunjukkan sikap yang diajarkan Rasulullah, atau lebih tepatnya diperintahkan Rasulullah, karena kata yang digunakan adalah “amaranî” (memerintahkan kepadaku). Artinya bersikap memaafkan dan membalas tuduhan dengan doa kebaikan merupakan akhlak yang harus diteladani. Menariknya, doa yang dipanjatkan Sayyidina Abu Hurairah tidak hanya merujuk pada orang yang mencurigainya, tapi juga terhadap dirinya sendiri.
 
Ini membuktikan bahwa, ia sebagai manusia berpeluang salah dan butuh ampunan Tuhan. Barangkali ia pernah secara tak sengaja melakukan kesalahan atau tertempel minyak wangi dan mendapat tuduhan ini. Karena itu, ia tak lupa memanjatkan doa untuk dirinya sendiri: “Ya Allah, jika dia benar, maka ampunilah aku.” Penggunaan kata “shadîqan” (benar/jujur) menunjukkan kerendahan-hati dan ketulusannya. Karena bagaimanapun juga, di titik tertentu manusia pati mengalami perasaan tidak bersalah atau tidak merasa melakukan kesalahan meski ia sebenarnya melakukannya. 
 
Di poin inilah kenapa memohon ampun kepada Allah sangat penting. Karena di setiap tuduhan, gunjingan dan celaan yang kita terima, bisa jadi ada kebenaran di dalamnya. Hanya karena disampaikan dengan cara yang buruk dan menyinggung, kita marah dan menganggapnya sebagai hinaan. Kita menjadi lupa akan sisi kemanusiaan kita yang kemungkinan salahnya tidak lebih kecil dari kemungkinan benarnya.
 
Sayyidina Abu Hurairah juga mendoakan orang yang mencurigainya dengan mengucapkan: “Ya Allah, jika dia berbohong, maka ampunilah dia.” Jika kita menelaahnya lebih dalam, doa ini menunjukkan ketidak-relaan Sayyidina Abu Hurairah jika ada orang yang berdosa karenanya, atau ia menjadi penyebab dosa orang tersebut. Tuduhan palsu adalah perbuatan dosa, maka sudah bisa dipastikan laki-laki yang menuduh Sayyidina Abu Hurairah akan menanggung dosa. Artinya, ia menjadi penyebab tidak langsung dosa orang tersebut. Karena itu, ia memohonkan ampunan kepadanya jika dia berbohong. 
 
Apa yang dilakukan Sayyidina Abu Hurairah ini merupakan kasih sayang. Karena ia tak mau ada orang yang menanggung dosa karena tuduhan kepadanya. Ia ingin setiap kesalahan orang kepadanya diampuni oleh Tuhan. Sebagai murid langsung Rasulullah, tentunya ia ingin agar semua orang terbersihkan dari dosa. Ia tak mau melihat orang-orang kesusahan di akhirat kelak.
 
Karena itu, dalam jawabannya yang berupa doa, ia melakukan dua hal sekaligus untuk orang tersebut. Pertama, memohonkan ampunan untuknya agar tidak terbebani dosa dari tuduhannya. Kedua, ia sedang mengajarkan akhlak yang baik seperti yang diperintahkan Rasulullah. Ia tidak menampakkan kemarahan dan tidak melakukan pembelaan diri. Ia malah bergegas berdoa, memohonkan ampunan untuk orang yang mencurigainya dan memohon ampun untuk dirinya sendiri. 
 
Tindakan ini dibarengi dengan pertunjukkan akhlak yang baik, yaitu tidak menggunakan kata gantu “kau”, “kamu” atau “Anda” dalam doanya. Ia menggunakan kata ganti orang ketiga, “dia”. Dengan menggunakan kata ganti orang ketiga, Sayyidina Abu Hurairah tidak menuduh secara langsung orang di depannya berbuat salah, sekaligus memohonkan ampunan untuk para pembawa mata rantai berita “pencuri minyak wangi” hingga sampai kepada orang yang di depannya ini. 
 
Dengan demikian, ia sedang berdakwah dan mendidik orang yang menuduhnya ini. Dakwah yang ditampilkan dengan wajah yang sejuk, menembus relung hati, dan membuat objeknya tak habis pikir. Maksud “tak habis pikir” adalah memberikan efek kejut yang luar biasa. 
 
Sebab, dalam batasan tertentu manusia bisa memprediksi respon umum yang akan dilakukan seseorang. Misalnya jika pribadinya dihina, atau kebaikannya dipertanyakan, sudah bisa dipastikan responsnya akan marah, sakit hati, tersinggung, membela diri, memusuhi, bahkan mungkin membalas. Tapi respon yang ditampilkan Sayyidina Abu Hurairah berbeda, ia menampakkan sesuatu yang di luar prediksinya, ditambah lagi Sayyidina Abu Hurairah menutupnya dengan perkataan, “Seperti inilah yang diperintahkan Rasulullah kepadaku (ketika sedang menghadapi hal-hal semacam ini).”
 
Pertanyaannya, maukah kita meneladaninya?
 
Wallahu a’lam bish-shawwab...

 
Muhammad Afiq Zahara, alumni PP. Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen
 
Jumat 27 September 2019 14:0 WIB
Ilmu Laduni Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dan Ketawadhuan Sayyidina Ali
Ilmu Laduni Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dan Ketawadhuan Sayyidina Ali
Ilustrasi Syekh Abdul Qadir Al-Jailani. (NU Online)
Ada sebuah pepatah bahasa Arab yang mengatakan ‘Ilmu yang tidak diamalkan ibarat pohon yang tidak berbuah.’ Pepatah di atas menunjukkan bahwa selain memiliki kewajiban mencari ilmu, seseorang dituntut pula untuk menyebarkan dan mengamalkan ilmu yang dimilikinya. Mengapa demikian? Karena dengan mengamalkan, hakikatnya secara tersirat ia juga belajar.

Dalam Al-Quran, Allah swt memberikan jaminan kepada orang yang mengamalkan ilmunya, dia akan memperoleh ilmu yang tidak tertulis di dalam kertas atau yang sering biasa kita sebut dengan Ilmu Ladunni. Sebagaimana Allah berfirman dalam Surat al-Baqarah ayat 282, “Dan bertakwalah kepada Allah, maka Allah akan memberikan pengajaran kepada kalian, dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” 

Menurut sebagian al-`Arifin (orang yang dekat dan mengenal Allah) tafsiran dari ayat di atas adalah bahwa barang siapa yang menempati maqam takwa, maka dia pantas dan layak menerima warisan ilmu Allah yaitu Ilmu Ladunni. 

Menurut sebagian ulama Ilmu Ladunni merupakan ilmu yang diletakkan oleh Allah di dalam hati para kekasih-Nya (waliyullah), dan inilah yang dilakukan oleh Sulthanul Auliya Syekh Abdul Qadir al-Jailani dalam berdakwah menyebarkan ilmunya. 

Ada banyak kisah tentang Syekh Abdul Qadir al-Jailani yang tidak dijelaskan di dalam kitab-kitab ulama zaman dahulu, namun diceritakan di dalam kitab-kitab karangan habaib dan ulama Hadlramaut, Tarim, Yaman. 

Negeri Yaman sering dijuluki Baldatun Auliya (negerinya para wali). Jadi wajar saja apabila banyak dijumpai kisah tentang karomah para wali dan ulama yang tidak dijelaskan secara detail dalam kitab-kitab lain, termasuk ketika Rasulullah dan Sayyidina Ali bin Abi Thalib meludahi mulut Syekh Abdul Qadir al-Jailani di saat mau berdakwah menyebarkan ilmu dikarenakan keder di hadapan para jamaahnya. 

Kisah ini juga diungkap dalam kitab al-Fawāid al-Mukhtārah Lisāliki Ṭarīq al-Ākhirah karya Habib Ali bin Hasan Baharun, seorang santri yang berguru kepada Habib Zain ibn Ibrahim ibn Smith di Hadlramaut, Tarim, Yaman.

Alkisah, suatu ketika Syekh Abdul Qadir al-Jailani melihat kehadiran Rasulullah mendatanginya sebelum melaksanakan Shalat dzuhur. Seketika itu ia kaget bukan main dan tidak jadi melanjutkan shalat. Tak lama kemudian, Rasulullah bertanya;
 
“Wahai anakku, mengapa kamu takut berbicara di hadapan orang banyak?”

“Wahai ayahku, aku ini tumbuh dan besar di tengah-tengah penduduk yang tidak pandai berbicara. Lantas bagaimana aku mau berbicara dihadapan penduduk Kota Baghdad yang pandai berbicara, ditambah lagi ulamanya banyak yang alim?” jawab Syekh Abdul Qadir dengan rasa malu.

Mendengar jawaban Syekh Abdul Qadir al-Jailani, Rasulullah langsung memerintahkan beliau untuk membuka mulutnya. Lalu Rasulullah meludahi mulut Syekh Abdul Qadir al-Jailani sebanyak tujuh kali. Kemudian beliau bersabda, “Sekarang, pergilah dan bicaralah di hadapan manusia. Berdakwalah dan ajak mereka ke jalan Allah, berikan mereka nasihat-nasihat yang baik.”

Begitulah kasih sayang Rasulullah terhadap Syekh Abdul Qadir al-Jailani. Sebagai keturunannya, Rasulullah terus menerus membimbingnya dalam berdakwah menyebarkan ilmu kepada seluruh manusia. Setelah kejadian tersebut, Syekh Abdul Qadir al-Jailani melaksanakan Shalat Dzuhur dan duduk sambil memikirkan bagaimana caranya untuk berdakwah di hadapan penduduk Kota Baghdad yang memiliki banyak ulama sangat alim. Mengingat dirinya bukanlah orang yang pandai berbicara. 

Selang beberapa saat, penduduk Kota Baghdad berbondong-bondong mendatangi Syekh Abdul Qadir al-Jailani di dalam masjid. Mereka meminta Syekh Abdul Qadir al-Jailani untuk memberikan pengajian kepada mereka. Sontak saja beliau bingung apa yang harus disampaikan kepada mereka, saat itu sekujur tubuhnya gemetar dan keder menghadapi penduduk Baghdad.

Disaat Syekh Abdul Qadir al-Jailani kebingungan, tiba-tiba Ali bin Abi Thalib datang dan masuk ke dalam masjid sambil berdiri di hadapannya. Sayyidina Ali bertanya kepada Syekh Abdul Qadir al-Jailani seperti apa yang telah ditanyakan Rasulullah.

“Wahai anakku, mengapa kamu takut berbicara dihadapan orang banyak?” 

“Wahai ayahku, aku tidak bisa, tubuhku dari tadi gemetar dan aku gerogi dihadapan sekian banyak orang ini,” jawab Syekh Abdul Qadir al-Jailani menjawab tanpa rasa malu.

Tak ingin menunggu lama, Sayyidina Ali memerintahkan Syekh Abdul Qadir al-Jailani untuk kembali membuka mulutnya sebagaimana perintah Rasulullah sebelumnya. Lalu Sayyidina Ali meludahi mulutnya sebanyak enam kali. Hal itu membuat Syekh Abdul Qadir al-Jailani heran. 

“Mengapa engkau (Sayyidina Ali) hanya meludahi mulutku enam kali, sedangkan Rasulullah tujuh kali?” tanya al-Jailani. 

“Ini merupakan adab kepada Rasulullah dengan tidak melebihi darinya,” jelas Sayyidina Ali.

Setelah kejadian tersebut, Sayyidina Ali bersembunyi dan mengintip apakah Syekh Abdul Qadir al-Jailani masih takut dan gemetar berbicara dihadapan penduduk Kota Baghdad ataukah tidak. Mungkin berkah dari ludah Rasulullah dan Sayyidina Ali, akhirnya beliau mulai berbicara dan berdakwah di hadapan mereka tanpa ada lagi rasa gemetar dan takut dalam dirinya.

Jika kita memahami alur kisah inspiratif di atas, ada hal yang sangat menarik yang perlu kita contoh yaitu mengapa Sayyidina Ali hanya meludahi mulutnya Syekh Abdul Qadir al-Jailani enam kali. Di sinilah kita perlu melihat betapa adabnya Sayyidina Ali begitu mulia, hingga ‘masalah sepele’ saja ia tidak mau melebihi apa yang telah dilakukan oleh Rasulullah.

Itulah mengapa begitu sangat pentingnya adab dalam kehidupan sehari-hari, karena dengan adab lah derajat seseorang akan diangkat oleh Allah. Terbukti seperti adab Syekh Abdul Qadir al-Jailani, Allah angkat derajatnya dan menjadikannya ‘Raja dari Seluruh Para Wali’. 

Lantas bagaimana dengan ilmu, bukankah itu juga merupakan elemen penting dalam kehidupan sehari-hari? Ilmu juga merupakan unsur yang sangat penting, namun itu setelah adab. Dahulukanlah adab dari pada ilmu. Setinggi apapun ilmu seseorang, tetapi jika ia menjadikan akhlah sebagai elemen yang kedua setelah ilmu, maka sungguh tidak berharga ilmu tersebut.

Hilmi Ridho, santri Ma`had Aly Pondok Pesantren Salafiyah Syafi`iyah Sukorejo.