IMG-LOGO
Trending Now:
Ilmu Tauhid

Di Mana Allah Sebelum Penciptaan Semesta?

Rabu 29 April 2020 19:00 WIB
Di Mana Allah Sebelum Penciptaan Semesta?
Kenyataan bahwa Allah tak bertempat bukan hanya didukung dalil teks suci tapi juga argumentasi rasional.

Di antara pertanyaan yang menggelitik bagi banyak orang, tetapi juga jarang dibahas sebab terkesan tabu adalah pertanyaan di mana Allah sebelum alam semesta diciptakan? Sebenarnya pertanyaan ini pernah ditanyakan kepada Rasulullah Muhammad sehingga kita pun tahu jawabannya. Dalam suatu hadits Riwayat Imam Ahmad disebutkan:

 

عَنْ وَكِيعِ بْنِ عُدُسٍ، عَنْ عَمِّهِ أَبِي رَزِينٍ، قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَيْنَ كَانَ رَبُّنَا عَزَّ وَجَلَّ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ خَلْقَهُ؟ قَالَ: «كَانَ فِي عَمَاءٍ مَا تَحْتَهُ هَوَاءٌ، وَمَا فَوْقَهُ هَوَاءٌ، ثُمَّ خَلَقَ عَرْشَهُ عَلَى الْمَاءِ

 

“Dari Waki’ bin Udus, dari pamannya yaitu Abu Razin, ia berkata: Aku berkata: “Wahai Rasulullah, di manakah Tuhan kita Yang Maha Mulia sebelum menciptakan makhluknya?”. Rasulullah bersabda: “Allah berada di Ama’, di bawahnya tak ada udara dan di atasnya tak ada udara, kemudian Allah menciptakan Arasynya di atas Air”. (HR. Ahmad)

 

Jadi jawabannya adalah Allah berada di Ama’. Tapi apa Ama’ itu? Imam al-Hafidz Ali al-Qari menjelaskan maksud kata Ama’ di atas sebagai berikut?

 

قَالَ الْقَاضِي: الْمُرَادُ بِالْعَمَاءِ مَا لَا تَقْبَلُهُ الْأَوْهَامُ وَلَا تُدْرِكُهُ الْعُقُولُ وَالْأَفْهَامُ، عَبَّرَ عَنْ عَدَمِ الْمَكَانِ بِمَا لَا يُدْرَكُ وَلَا يُتَوَهَّمُ، وَعَنْ عَدَمِ مَا يَحْوِيهِ وَيُحِيطُ بِهِ الْهَوَاءُ، فَإِنَّهُ يُطْلَقُ وَيُرَادُ بِهِ الْخَلَاءُ الَّذِي هُوَ عِبَارَةٌ عَنْ عَدَمِ الْجِسْمِ، لِيَكُونَ أَقْرَبَ إِلَى فَهْمِ السَّامِعِ

 

“Sang Qadli berkata: Yang dimaksud dengan Ama’ adalah sesuatu yang tak bisa diterima oleh imajinasi dan tak bisa digapai oleh akal dan pemahaman. Nabi menunjukkan ketiadaan tempat dengan sesuatu yang tak bisa dimengerti dan diimajinasikan. Dan, juga memenunjukkan ketiadaan sesuatu yang memuatnya atau udara yang melingkupinya. Istilah ini secara mutlak dimaksudkan pada suatu kekosongsan murni (khala’) yang merupakan istilah bagi ketiadaan jism (materi). [Hal ini] agar lebih mudah dimengerti oleh pendengar” (Ali al-Qari, Mirqath al-Mafatih, IX, 3661).

 

 

Dengan ini dapat dipahami bahwa Nabi Muhammad hendak menunjukkan bahwa Allah tidak bertempat di mana pun sebab saat itu yang ada hanya Allah sendiri. Pemahaman ini sesuai dengan sabda Rasulullah yang lain berikut ini:

 

كَانَ اللهُ وَلَمْ يَكُنْ شَيْءٌ غَيْرُهُ

 

“Allah telah ada dan saat itu tidak ada apa pun selain Allah” (HR Bukhari).

 

Keberadaan Allah yang sendiri tanpa apa pun itu tak bisa dijangkau oleh akal kita sebab itu di luar pemahaman manusia. Manusia tak dapat membayangkan kesendirian total tanpa waktu dan tempat itu. Adapun memaknai kata Ama’ dalam konteks ini sebagai awan tipis yang sehari-hari kita lihat di langit adalah pemaknaan yang sepenuhnya tidak tepat sebab awan itu adalah makhluk. Memang betul bahwa kata Ama’ dalam percakapan sehari-hari adalah awan tipis, namun jelas bukan itu yang dimaksud oleh Nabi Muhammad dalam konteks ini. Wallahu a’lam.

 

 

Ustadz Abdul Wahab Ahmad, Peneliti Bidang Aqidah di Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur dan Pengurus Wilayah LBM Jawa Timur.

 

Baca Juga