Biografi Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari, Sang Penyelamat Umat

Biografi Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari, Sang Penyelamat Umat
Meski giat menghadang aqidah batil, Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari pantang memvonis kafir Muslim lainnya yang berbeda paham. (Ilustrasi: NU Online)
Meski giat menghadang aqidah batil, Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari pantang memvonis kafir Muslim lainnya yang berbeda paham. (Ilustrasi: NU Online)

Segenap santri di berbagai sudut pesantren tentu selalu mengagumi nama tokoh kita ini. Nama beliau selalu harum semerbak di setiap kajian ilmu aqidah. Setiap kita meneliti paham aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah tentu kita akan mengenal beliau sebagai salah satu tokoh pendirinya. Ia adalah Ali bin Ismail atau yang lebih terkenal dengan julukan Abu Musa al-Asy’ari. Ia merupakan ulama besar keturunan Abu Musa al-Asy’ari, seorang sahabat Nabi yang disabdakan oleh Baginda Nabi bahwa kaumnya adalah golongan yang selalu mencintai Allah dan mereka dicintai oleh Allah.


عن أبي موسى الأشعري قال قرئت عند النبي صلى الله عليه وسلم (فسوف يأتي الله بقوم يحبهم ويحبونه) قال (هم قومك يا أبا موسى) وأومأ رسول الله بيده إلى أبي موسى الأشعري.


Diriwayatkan dari Abu Musa al-Asy’ari, beliau berkata, “Aku membaca di hadapan Nabi ﷺ penggalan ayat ‘…Maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum, Dia mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya.’ Maka, Nabi ﷺ bersabda ‘Mereka (yang dimaksud dalam penggalan ayat tersebut) adalah kaummu, wahai Abu Musa’. Dan Rasulullah memberikan isyarat dengan tangan beliau kepada Abu Musa al-Asy’ari” (HR Al-Hakim).


Tokoh kita ini bernasab lengkap Ali bin Isma’il bin Ishaq bin Salim bin Isma’il bin Abdullah bin Musa bin Bilal bin Abu Burdah bin Abu Musa Abdullah bin Qais al-Asy’ari. Ia adalah tokoh besar yang tak pernah mengenal lelah untuk memperjuangkan manhaj (metode, mazhab) Ahlussunnah wal Jama’ah. Ia hidup dalam perjuangan mempertahankan ajaran yang lurus yang diajarkan oleh para sahabat Nabi. Ia menghalau setiap pemikiran yang menyimpang di masanya baik dari kalangan yang terlalu berlebihan memakai akal dalam beraqidah seperti sekte Mu’tazilah, maupun dari kalangan ekstremis yang terlalu kaku dalam memahami teks lahiriah Al-Qur’an dan hadits seperti sekte Rafidhah. Ibnu as-Sakir mengatakan:


اتفق أصحاب الحديث أن أبا الحسن علي بن إسماعيل الأشعري كان اماما من ائمة أصحاب الحديث ومذهبه مذهب أصحاب الحديث تكلم في أصول الديانات على طريقة أهل السنة ورد على المخالفين من أهل الزيغ والبدعة وكان على المعتزلة والروافض والمبتدعين من أهل القبلة والخارجين من الملة سيفا مسلولا ومن طعن فيه او لعنه او سبه فقد بسط لسان السوء في جميع أهل السنة


“Ulama ahli hadits telah sepakat bahwa Abu al-Hasan Ali bin Isma’il al-Asy’ari adalah seorang pembesar dari golongan para pembesar ulama ahli hadits. Dan mazhabnya adalah mazhab ulama ahli hadits. Ia membangun argumentasi di dalam bidang ilmu asas dasar dalam beragama yang sesuai dengan manhaj Ahlussunnah. Ia juga menolak atas bantahan orang-orang yang membuat perselisihan dari golongan yang sesat dan pembuat bid’ah. Dan ia menghadapi sekte Mu’tazilah, sekte Rafidhah dan para ahli bid’ah dari golongan ahlu qiblah (orang Islam) serta golongan orang-orang yang keluar dari agama Islam bagaikan pedang yang terhunus. Barang siapa yang memakinya, melaknatnya, ataupun mencacinya maka ia telah membuka jalan untuk berkata kotor kepada segenap pengikut Ahlus Sunnah” (Ibnu as-Sakir, Tabyin Kidzb al-Muftari, Kairo: Dar Imam Razi, 2010, hal. 113).


Semangatnya terukir dalam sebuah syair


بهمة في الثريا إثر أخمصها ۞ وعزمة ليس من عاداتها السأم


Ia berjuang dengan semangat yang seolah bekas telapak kakinya menancap di bintang kejora

Ia berjuang dengan tekad membara yang secara tabiatnya ia tak mengenal rasa bosan.


Abu al-Hasan al-Asy’ari dilahirkan pada tahun 260 H. Sejak masih muda, Abu al-Hasan al-Asy’ari telah ditinggal wafat oleh ayahnya. Kemudian, atas wasiat ayahnya Abu al-Hasan al-Asy’ari dipasrahkan untuk menimba sanad Hadits kepada Syekh Zakaria as-Saji, salah satu ulama yang terkenal dengan kepakaran ilmu hadits dan ilmu fiqih yang juga murid terbaik Imam Ahmad bin Hanbal. Selain itu, Abu al-Hasan al-Asy’ari juga mengambil sanad hadits kepada Abu Khalaf al-Jahmi, Abu Sahl bin Sarh, Muhammad bin Ya’qub al-Muqri’, dan Abdurrahman bin Khalaf al-Bashri (Tajuddin as-Subuki, Thabaqat Syafi’iyyah al-Kubra, Beirut: Darul Kutub al-Islamiyyah, 2009, vol. 3, hal. 347).


Memang benar, semasa mudanya Abu al-Hasan al-Asy’ari menimba ilmu kepada Ali al-Juba’i seorang tokoh ulama Mu’tazilah yang juga ayah tirinya sebagaimana yang dicatat oleh Shalahuddin ash-Shafadi dalam kitab al-Wafi bil Wafayat. Akan tetapi, justru pengalamannya berdiskusi bersama para pakar sekte Mu’tazilah di masa mudanya kelak menjadi bekal untuk mematahkan setiap argumentasi sekte Mu’tazilah ketika ia telah terpanggil untuk membela manhaj Ahlussunnah wal Jama’ah. Salah satu riwayat asal mula Abu al-Hasan al-Asy’’ari terpanggil untuk membela manhaj Ahlussunnah wal Jama’ah sebagaimana yang dicatat Ibnu as-Sakir:


فحكي عنه أنه قال وقع في صدري بعض الليالي شيء مما كنت فيه من العقائد فقمت وصليت ركعتين وسألت الله تعالى ان يهديني الطريق المستقيم ونمت فرأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم في المنام فشكوت إليه بعض ما بي من الأمر فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم عليك بسنتي فانتبهت وعارضت مسائل الكلام بما وجدت في القرآن والأخبار فأثبته ونبذت ما سواه وراء ظهري.


Dikisahkan darinya, bahwa ia berkata “Terbenak di hatiku (Abu al-Hasan al-Asy’ari), beberapa permasalahan dalam ilmu aqidah. Maka, aku pun berdiri untuk menjalankan shalat dua rakaat. Dan aku meminta kepada Allah agar Dia memberikanku petunjuk menuju jalan yang lurus. Aku pun tertidur, tak lama kemudian aku bermimpi bertemu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di dalam mimpi. Aku pun mengadukan beberapa permasalahan kepada beliau. Rasulullah pun mewasiatkan, ‘Tetapilah sunnah-ku.’ Aku pun terbangun dan aku membandingkan beberapa permasalahan ilmu aqidah dengan dalil yang aku temukan di dalam Al-Qur’an dan hadits. Kemudian, aku menetapinya dan aku membuang selainnya di balik punggungku” (Ibnu as-Sakir, Tabyin Kidzb al-Muftari, hal. 37).
 


Setelah itu, Abu al-Hasan al-Asy’ari pun menyibukkan diri untuk menulis pembelaan terhadap manhaj Ahlussunnah wal Jama’ah di rumahnya. Kemudian setelah lima belas hari lamanya, Abu al-Hasan al-Asy’ari keluar dari rumahnya menuju masjid dan ia menaiki mimbar seraya berkata:


معاشر الناس إني تغيبت عنكم في هذه المدة لأني نظرت فتكافأت عندي الأدلة ولم يتراجح عندي حق على باطل ولا باطل على حق فاستهديت الله تبارك وتعالى فهداني إلى اعتقاد ما أودعته في كتبي هذه وانخلعت من جميع ما كنت أعتقده كما انخلعت من ثوبي هذا وانخلع من ثوب كان عليه ورمى به


“Wahai segenap masyarakat, aku menjauh dari kalian semua dalam beberapa waktu ini karena aku ingin meneliti beberapa permasalahan. Maka, menjadi serupa bagiku seluruh dalil yang ada serta tak ada perkara haq yang mengungguli perkara bathil maupun sebaliknya saat itu. Kemudian, aku meminta petunjuk kepada Allah. Maka, Allah pun memberikanku petunjuk kepada keyakinan yang telah aku tuliskan di dalam kitab-kitab yang telah ku tulis ini. Dan aku melepaskan seluruh aqidah menyimpang yang aku yakini selama ini sebagaimana aku melepaskan pakaianku ini (maka Abu al-Hasan al-Asy’ari pun melepaskan pakaian yang ia pakai sebagai isyarat)” (Ibnu as-Sakir, Tabyin Kidzb al-Muftari, hal. 39).


Kedalaman Ilmu Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari

Memang benar, Abu al-Hasan al-Asy’ari lebih terkenal dengan pemikirannya di dalam ilmu aqidah dengan karya monumentalnya yang berjudul “Maqalat al-Islamiyyin” yang berisikan sejarah perkembangan berbagai sekte dalam Islam sejak zaman kenabian hingga di masanya. Akan tetapi, ia juga memiliki beberapa karya besar dalam berbagai bidang ilmu. Di dalam ilmu Hadits, Abu al-Hasan al-Asy’ari membuat kitab khusus yang berisikan bantahan terhadap Ibnu Rawandi, salah satu tokoh Mu’tazilah yang menentang hadits mutawattir.


Di bidang tafsir Al-Qur’an, beliau menulis kitab tafsir al-Mukhtazin. Di bidang ushul fiqh, beliau menulis kitab al-Ijtihad dan al-Qiyas. Menurut Ibnu as-Sakir, Abu al-Hasan al-Asy’ari memiliki 90 karya tulis. Menurut Ibnu Hazm, Ibnu Katsir, dan Ibnu Imad al-Hambali, beliau memiliki 55 karya tulis. Dan menurut Tajuddin as-Subuki, beliau memiliki 21 karya tulis. Akan tetapi, saat ini hanya ada 8 karya beliau yang tercetak, yaitu kitab Maqalat al-Islamiyyah, kitab al-Luma’ fi Radd ala Ahli Zaigh wal Bida’, kitab Tasir al-Qur’an, kitab al-Imad fi Ru’ya, kitab Risalah al-Iman, kitab Risalah al-Istihsan al-Khaud di Ilm al-Kalam, kitab Qaul Jumlah Ashab al-Hadits wa Ahlussunnah fi al-I’tiqad, dan kitab al-Ibanah an Ushul ad-Diyanah (lihat majalah Shaut al-Azhar edisi Rabi’ul Awwal 1440 H, hal. 170)


Sang Penerus Manhaj Para Sahabat Nabi

Peran Abu al-Hasan al-Asy’ari dalam bidang ilmu aqidah adalah sebagai tokoh yang menguatkan argumentasi serta dalil-dalil yang telah diutarakan oleh para ulama di zaman sebelumnya. Ia adalah tokoh yang terang-terangan melawan segenap aqidah yang menyimpang dari pemahaman yang diajarkan para sahabat Nabi. Ia menghadapi para pembesar sekte-sekte yang sesat dengan gagah berani untuk menjalankan wasiat baginda Nabi ﷺ


قال رسول الله إذا لعن آخر هذه الأمة أولها فمن كان عنده علم فليظهره فإن كاتم العلم يومئذ ككاتم ما أنزل على محمد صلى الله عليه وسلم


Rasululla ﷺ bersabda “Ketika generasi akhir umat ini telah melaknat generasi awalnya, maka barang siapa yang memiliki ilmu hendaklah ia menunjukkannya. Maka sesungguhnya orang yang menyembunyikan ilmu di saat seperti itu seperti orang yang menyembunyikan ilmu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad ﷺ” (HR Thabrani).


Hal ini, sebagaimana yang telah diutarakan oleh Tajuddin as-Subuki 


اعلم أن أبا الحسن لم يبدع رأيا، ولم ينش مذهبا وإنما هو مقرر لمذهب السلف، مناضل عما كانت عليه أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم، فالانتساب إليه إنما هو باعتبار أنه عقد على طريق السلف نطاقا وتمسك به وأقام الحجاج والبراهين عليه فصار المقتدي به في ذالك السالك سبيله في الدلائل يسمى أشعريا.


“Ketahuilah, sungguh Abu al-Hasan tidaklah membuat bid’ah pemikiran, bukan juga mendirikan mazhab baru, akan tetapi ia meneguhkan mazhab ulama terdahulu, ia membela manhaj yang dibawa oleh para sahabat Nabi ﷺ. Maka penisbatan kepadanya adalah disebabkan ia meneguhkan jalan para ulama salaf dengan argumentasinya, ia berpegang teguh serta mendirikan argumentasi yang kuat atas manhaj ulama salaf. Maka, yang diikuti dari manhaj Abu al-Hasan beserta dalil-dalilnya disebut dengan Asy’ariyyan” (Tajuddin as-Subuki, Thabaqat Syafi’iyyah al-Kubra, hal. 365).


Wasiat untuk Tak Memvonis Kafir Sesama Muslim

Menjelang wafatnya pada tahun 324 H, Abu al-Hasan al-Asy’ari berwasiat kepada murid-muridnya untuk tidak megkafirkan sesama umat islam. Sebagaimana yang dicatat oleh Syamsuddin adz-Dzahabi dalam kitab Siyar ‘Alam an-Nubala’


عن زاهر بن خالد يقول لما قرب حضور أجل أبي الحسن الأشعري في داري ببغداد دعاني فأتيته فقال أشهد أني لا أكفر أحدا من أهل القبلة لأن الكل يشيرون إلى معبود واحد وإنما هذا كله اختلاف العبارات.


Diriwayatkan dari Zahir bin Khalid, bahwasannya beliau bercerita “Ketika telah dekal ajal Abu al-Hasan al-Asy’ari di rumahku di kota Baghdad, beliau memanggilku maka aku pun mendatanginya. Abu al-Hasan al-Asy’ari berwasiat “Aku bersaksi bahwa aku tak pernah mengkafirkan satu pun orang dari golongan ahlul qiblah (umat Islam), karena seluruhnya menghadap kepada Dzat yang disembah yang satu. Dan sesungguhnya perbedaan yang ada adalah perbedaan dalam penjelasannya saja.”
 


Muhammad Tholhah al Fayyadl, Mahasiswa jurusan Ushuluddin Universitas al-Azhar Mesir, alumnus Pondok Pesantren Lirboyo

BNI Mobile