IMG-LOGO
Trending Now:
Ubudiyah

Peristiwa-peristiwa Penting di Bulan Safar

Sabtu 13 Oktober 2018 20:30 WIB
Share:
Peristiwa-peristiwa Penting di Bulan Safar
Setiap bulan Qamariyyah memiliki peristiwa penting yang terjadi di dalamnya. Entah terjadi masa Rasululah, empat khalifah pasca-beliau, maupun setelahnya. Ketetapan jumlah bulan pun sebenarnya telah ditetapkan oleh Allah ﷻ dalam Al-Qur`an Surat At-Taubah ayat 36:

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ 

Artinya: “Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) dalam ketetapan Allah ketika Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram (suci). Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu dalam (bulan yang empat) itu.” (QS At-Taubah: 36)

Mengapa bulan kedua bulan hijriah itu dinamakan “safar”? Ibnu Mandzur dalam Lisânul ‘Arab menyatakan:

لِإِصْفَارِ مَكَّةَ مِنْ أَهْلِهَا إِذَا سَافَرُوا

“Karena kosongnya Makkah dari penduduknya apabila mereka bepergian.” (Ibnu Mandzur, Lisânul ‘Arab, Dar el-Shâdir, Beirut, juz 4, halaman 460)

Dalam Mandzumah Syarh al-Atsar fî mâ Warada ‘an Syahri Safar (hal 9), Habib Abu Bakar al-‘Adni menyebutkan Rasulullah melakukan tradisi-tradisi yang baik di bulan ini guna menggugurkan anggapan negatif orang-orang pada masa jahiliah. Di antara tradisi baik yang beliau mulai yaitu:

1. Pernikahan Rasulullah dengan Khadijah

مُبْتَدِئًا زَوَاجَهُ مِنْ أُمِّنَا # خَدِيْجَةَ الْكُبْرَى بِأَيَّامِ صَفَرْ
وَكَانَ هَذَا قَبْلَ وَحْيِ رَبِّنَا...

“Dimulai dengan pernikahan beliau dengan Sayyidah Khadijah al-Kubra di hari-hari bulan Safar, dan pernikahan itu berlangsung sebelum datang wahyu dari Allah (sebelum masa kenabian).”

2. Rasulullah menikahkan Sayyidah Fatimah dengan Ali bin Abi Thalib pada bulan ini

وَزَوَّجَ الزَّهْرَاءَ فِيْهِ فَرِحَا ...

“Rasulullah menikahkan az-Zahra (Siti Fatimah) di bulan Safar dengan senang…”

3. Hijrahnya Rasulullah dari Makkah ke Madinah juga terjadi di bulan Safar.

وَهِجْرَةُ الرَّسُوْلِ فِيْمَا ذَكَرُوا # بِآخِرِ الْأَيَّامِ فِي غَارِ الْحَجَرْ

“Hijrahnya Rasulullah pada akhir bulan Safar di goa al-Hajar sebagaimana para ulama sebutkan.”

4. Perang pertama dalam Islam, yaitu perang Abwa

وَغَزْوَةُ الْأَبْوَاءِ فِيْهِ صَدَرَتْ ...

“Perang Abwa di bulan Safar yang terjadi di permulaan.”

Adapun peristiwa-peristiwa penting lain yang tidak disebutkan oleh Habib Abu Bakar al-‘Adni, di antaranya:

5. Penaklukan Khaibar pada tahun ke-7 Hijriah terjadi di bulan Safar.

6. Rasulullah mengutus Usamah bin Zaid kepada pimpinan pajurit Rum tahun 11 Hijriah, itu terjadi beberapa hari pra-wafatnya Rasulullah

Alangkah baiknya sebagai umat Islam kita mengetahui peristiwa-peristiwa penting yang pernah terjadi. Syukur dapat membuka kembali kitab-kitab sejarah, supaya kita dapat mengambil pelajaran dari orang-orang terbaik sebelum kita. Wallahu a’lam

(Amien Nurhakim)

Share:
Kamis 11 Oktober 2018 0:15 WIB
Keutamaan Menziarahi Makam Kedua Orang Tua
Keutamaan Menziarahi Makam Kedua Orang Tua
(Foto: vocativ.com)
Banyak dari kita merasa sedih ketika ditinggal kedua orang tua. Di samping karena perpisahan di dunia, kesedihan anak-anak juga muncul karena mereka menyesal atas kurangnya bakti dan pengabdian kepada kedua orang tua.

Meski demikian, anak tetap dapat berbakti kepada orang tua sepeninggal mereka. Anak-anak itu dapat menziarahi makam kedua orang tua. Ziarah ke makam kedua orang tua memiliki keutamaan luar biasa sebagaimana riwayat berikut ini.

وَقَدْ رَوَى الْحَكِيمُ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَفَعَهُ مَنْ زَارَ قَبْرَ أَبَوَيْهِ أَوْ أَحَدَهُمَا فِي كُلِّ جُمُعَةٍ مَرَّةً غَفَرَ اللَّهُ لَهُ وَكَانَ بَارًّا بِوَالِدِيهِ

Artinya, “Al-Hakim meriwayatkan dari Abu Hurairah RA dengan keadaan marfu’, ‘Siapa saja yang menziarahi sekali makam kedua orang tuanya atau salah satu dari keduanya pada setiap Jumat, niscaya Allah mengampuninya dan ia tercatat sebagai anak yang berbakti kepada keduanya,’” (Lihat Al-Bujairimi, Tuhfatul Habib alal Khatib, [Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyyah: 1996 M/1417 H], cetakan pertama, juz II, halaman 573).

Kedatangan anak dengan ziarah ke makam kedua orang tua saja sudah cukup. Alangkah baiknya di sana mereka mengkhatamkan Al-Qur’an atau membaca beberapa surat dalam Al-Qur’an sebagaimana riwayat berikut ini.

وَفِي رِوَايَةٍ مَنْ زَارَ قَبْرَ وَالِدَيْهِ كُلَّ جُمُعَةٍ أَوْ أَحَدِهِمَا فَقَرَأَ عِنْدَهُ يَس وَالْقُرْآنِ الْحَكِيمِ غُفِرَ لَهُ بِعَدَدِ ذَلِكَ آيَةً وَحَرْفًا وَفِي رِوَايَةٍ مَنْ زَارَ قَبْرَ وَالِدَيْهِ أَوْ أَحَدِهِمَا يَوْمَ الْجُمُعَةِ كَانَ كَحَجَّةٍ

Artinya, “Dalam riwayat lain, Rasulullah SAW bersabda, ‘Siapa saja yang menziarahi (makam) kedua orang tuanya atau salah satu dari keduanya setiap Jumat, lalu membaca di dekatnya Surat Yasin dan sejumlah ayat Al-Quran, maka diampuni baginya dosa sebanyak ayat dan huruf,’ dalam riwayat lain, ‘Siapa saja yang menziarahi (makam) kedua orang tuanya atau salah satu dari keduanya pada hari Jumat, maka itu bernilai ibadah haji,’” (Lihat Al-Bujairimi, Tuhfatul Habib alal Khatib, [Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyyah: 1996 M/1417 H], cetakan pertama, juz II, halaman 573).

Riwayat hadits berikut ini memberikan harapan bagi mereka yang suatu masa dalam hidupnya berbuat durhaka terhadap salah satu atau kedua orang tuanya. Mereka dapat memperbanyak ibadah kepada Allah dengan doa atau ibadah lainnya yang dimaksudkan sebagai hadiah pahala bagi kedua orang tuanya.

وَرُوِيَ إنَّ الرَّجُلَ لَيَمُوتُ وَالِدَاهُ وَهُوَ عَاقٌّ لَهُمَا فَيَدْعُو اللَّهَ لَهُمَا مِنْ بَعْدِهِمَا فَيَكْتُبُهُ اللَّهُ مِنْ الْبَارِّينَ

Artinya, “Diriwayatkan bahwa seorang anak yang kedua orang tuanya wafat sementara ia pernah berdurhaka terhadap keduanya, lalu ia berdoa kepada Allah sepeninggal keduanya, niscaya Allah mencatatnya sebagai anak yang berbakti,” (Lihat Al-Bujairimi, Tuhfatul Habib alal Khatib, [Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyyah: 1996 M/1417 H], cetakan pertama, juz II, halaman 573).

Menurut Al-Bujairimi, hadits-hadits ini menyarankan bahwa orang yang menziarahi makam kedua orang tuanya adalah orang yang berbakti kepada keduanya, tidak durhaka, dan tidak menyia-nyiakan hak keduanya, (Lihat Al-Bujairimi, Tuhfatul Habib alal Khatib, [Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyyah: 1996 M/1417 H], cetakan pertama, juz II, halaman 573).

Al-Bujairimi juga mengutip pandangan As-Subki yang menyatakan bahwa praktik ziarah demi menunaikan sebuah kewajiban itu setara dengan praktik ziarah ke makam kedua orang tua. Oleh karena itu, ia menyarankan sesulit apapun, sebuah perjalanan ziarah itu harus ditempuh.

قَالَ الْإِمَامُ السُّبْكِيُّ وَالزِّيَارَةُ لِأَدَاءِ الْحَقِّ كَزِيَارَةِ قَبْرِ الْوَالِدَيْنِ يُسَنُّ شَدُّ الرَّحَّالِ إلَيْهَا تَأْدِيَةً لِهَذَا الْحَقِّ،

Artinya, “Imam As-Subki mengatakan, ziarah untuk menunaikan kewajiban itu setara dengan menziarahi makam kedua orang tua. Upaya menempuh perjalanan untuk kepentingan ini sangat dianjurkan sebagai bentuk pemenuhan kewajiban,” (Lihat Al-Bujairimi, Tuhfatul Habib alal Khatib, [Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyyah: 1996 M/1417 H], cetakan pertama, juz II, halaman 573).

Dalam menerangkan keutamaan ziarah ke makam kedua orang tua di hari Jumat, Al-Bujairimi mengutip pandangan Ibnu Wasi‘. Ia membawa riwayat yang menyatakan bahwa ahli kubur dapat mengenali siapa peziarah yang mengunjungi mereka di hari Jumat.

وَكَانَ ابْنُ وَاسِعٍ يَزُورُ الْقُبُورَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَيَقُولُ بَلَغَنِي أَنَّ الْمَوْتَى يَعْلَمُونَ بِزُوَّارِهِمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَيَوْمًا بَعْدَهُ

Artinya, “Ibnu Wasi‘ menziarahi makam-makam pada hari Jumat. Ia berkata, ‘Sebuah riwayat sampai kepadaku bahwa ahli kubur itu mengetahui orang-orang hidup yang menziarahi mereka di hari Jumat dan sehari sesudahnya,’” (Lihat Al-Bujairimi, Tuhfatul Habib alal Khatib, [Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyyah: 1996 M/1417 H], cetakan pertama, juz II, halaman 573).

Pelbagai keterangan ini sudah cukup untuk menerangkan keutamaan ziarah ke makam kedua orang tua. Keterangan ini tidak menyarankan orang untuk berbuat durhaka terhadap kedua orang tua, lalu membasuhnya dengan ziarah sepeninggal mereka. Keterangan ini dipahami lebih pada upaya mengejar ketertinggalan atau ikhtiar dalam melanjutkan bakti terhadap kedua orang tua. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)
Sabtu 6 Oktober 2018 20:45 WIB
Larangan Membawa-bawa Nabi dalam Pertengkaran Politik
Larangan Membawa-bawa Nabi dalam Pertengkaran Politik
Ilustrasi (Picssr.com)
Beberapa hari ini jagad dunia maya digemparkan oleh penyebaran hoaks oleh sejumlah kalangan elit politik. Penyebaran kabar palsu tersebut bermula dari salah satu tokoh yang mengaku telah dianiaya oleh orang yang tak dikenal.

Dari situ, banyak kalangan mempercayai dan ikut berempati, bahkan dengan lantang menyuarakan kasus tersebut mengandung motif politik lawan-lawannya dan harus segera diusut. Namun, beberapa waktu belakangan, polisi berhasil menguak bahwa kasus tersebut palsu, tidak sesuai fakta yang riil berdasarkan beberapa tanda bukti.

Dan pada puncaknya, pihak yang bersangkutan mengakui bahwa ia telah berbohong. Ia meminta maaf kepada publik dan beberapa elit politik yang merasa tertipu olehnya.

Banyak respons dari lapisan masyarakat mengenai hal ini. Secara umum, masyarakat sangat kecewa dengan sikap pelaku yang menyebarkan berita bohong tersebut. Bahkan ada yang mengusulkan tanggal 3 Oktober 2018 kemarin sebagai hari hoaks nasional.

Yang unik, beberapa kalangan menganggap, elit politik yang menerima (lalu menyebar) kabar bohong tersebut dalam posisi terzalimi, dikhianati. Mereka menyamakan elit politik yang mereka dukung seperti situasi yang pernah menimpa Nabi ﷺ.

Mohon maaf, penulis tidak bermaksud untuk membela atau ikut campur dalam dukung-mendukung urusan politik. Namun, lebih kepada pandangan penulis agar pertarungan politik praktis selayaknya tidak membawa-bawa nama mulia Baginda Nabi Muhammad ﷺ sebagai alat pembelaan. Karena itu, perlu dilihat secara jernih bagaimana kisah sesungguhnya Nabi ketika menerima kabar bohong tersebut.

Saat itu, Nabi dikhianati oleh sekelompok kaum musyrik yang meminta Nabi untuk mendatangkan para sahabat yang mengajarkan kepada mereka Al-Quran dan Sunnah. 

Nabi mengabulkan permintaan mereka dengan mengutus 70 pengajar yang ahli baca. Sebelum sampai di tempat tujuan, 70 utusan tersebut dibantai, mereka mati dalam keadaan syahid.

Kisah ini masyhur disebutkan dalam beberapa kitab Sirah Nabawiyyah. Bahkan salah satu pakar hadits yang otoritatif, Imam Muslim meriwayatkannya dalam kitab Shahih-nya.

Demikian riwayat dari Imam Muslim:

عن أنس بن مالك قال: جاء ناس إلى النبى صلى الله عليه وسلم فقالوا: أن ابعث معنا رجالا يعلمونا القرآن والسنة. فبعث إليهم سبعين رجلا من الأنصار، يقال لهم: القراء. فيهم خالى حرام. يقرؤون القرآن، ويتدارسون بالليل يتعلمون. وكانوا بالنهار يجيئون بالماء فيضعونه فى المسجد، ويحتطبون فيبيعونه، ويشترون به الطعام لأهل الصفة وللفقراء. فبعثهم النبى صلى الله عليه وسلم إليهم، فعرضوا لهم فقتلوهم، قبل أن يبلغوا المكان

"Dari Anas bin Malik, datang sekelompok orang kepada Nabi, mereka berkata, hendaknya utuslah untuk kami beberapa laki-laki yang mengajarkan Al-Quran dan Sunnah. Kemudian Nabi mengutus kepada mereka 70 sahabat Anshar yang disebut-sebut sebagai pakar qiraah, termasuk di antaranya pamanku, Haram. Mereka membaca, saling bertadarus dan belajar Al-Quran di malam hari. Di siang hari mereka membawakan air dan meletakannya di masjid. Mereka mencari kayu dan menjualnya dan hasilnya mereka belikan makanan untuk Ahlu Shuffah (penghuni teras masjid Nabawi) dan orang-orang fakir. Nabi mengutus mereka kepada kaum musyrik. Mereka diganggu dan dibunuh sebelum sampai di tempat tujuan." (Shahih Muslim)

Kisah tersebut shahih dan benar serta dapat dipertanggungjawabkan. Namun, sangat tidak tepat bila dijadikan sebagai dalih untuk kepentingan politik tertentu. Bukan hanya karena Nabi maksum dari perbuatan menyebar hoaks, tapi juga pribadi beliau terlalu mulia untuk dijadikan tameng umatnya yang bergelimang dosa ini. Tidak pantas menggunakan kisah tersebut sebagai alat untuk 'bertengkar', bertarung dalam kancah perpolitikan. Menyebut Nabi pernah ditipu untuk kemudian dijadikan persamaan situasi yang menimpa elit politik yang didukung, sesungguhnya justru dapat membuka kran untuk menghina Nabi ﷺ.

Syekh Ibnu Hajar al-Haitami menentang keras orang yang bertengkar kemudian ia dihina sebagai orang yang fakir dan penggembala kambing, lantas ia membela diri bahwa Nabi juga fakir dan menggembala kambing.

Menurutnya, tindakan tersebut dapat memberikan persepsi yang salah di masyarakat, bahwa sifat fakir atau profesi menggembala kambing merupakan kekurangan bagi Nabi. 

Demikian pula dalam kasus ini, mengaitkan situasi politik dengan peristiwa Nabi yang pernah ditipu dan khianati, akan berpotensi ada sebuah anggapan bahwa Nabi mudah sekali ditipu.

Syekh Ibnu Hajar juga mengutip pandangan dari Imam Suyuthi, bahwa derajat Nabi lebih tinggi untuk dibanding-bandingkan dengan siapa pun.

Dalam pandangan Syekh Ibnu Hajar, wajib bagi pemerintah untuk menghukum dan mencegah pelakunya dari perlakuan yang tidak pantas  kepada Nabi tersebut. Demikian pula bagi para ulama, agar mencegah masyarakat untuk tidak menirunya.

Dalam himpunan fatwa Syekh Ibnu Hajar al-Haitami ditegaskan:

وسئل رحمه الله تبارك وتعالى بما لفظه كثيرا ما يتخاصم اثنان فيعير أحدهما الآخر بالفقر، أو رعي الغنم مثلا فيقول الآخر الأنبياء كانوا فقراء ويرعون الغنم، أو نحو ذلك مما هو معروف عند العامة مألوف فما حكم ذلك؟

"Beliau ditanya, sering kali dua orang bertengkar, lantas salah satunya menghina pihak lain dengan sifat fakir atau penggembala kambing, kemudian ia berkilah, para Nabi juga fakir dan menggembala kambing, atau ucapan-ucapan lain yang lazim dipakai, bagaimana hukumnya?

فأجاب عفا الله تبارك وتعالى عنه بقوله هذا مما ينبغي أن يفطم عنه الناس غاية الفطم؛ لأنه يؤدي إلى محذورات لا يتدارك خرقها ولا يرتقع فتقها وكيف وكثيرا ما يوهم ذلك العامة إلحاق نقص له - صلى الله عليه وسلم - ببعض صفاته التي هي من كماله الأعظم
وإن كان بعضها بالنسبة إلى غيره - صلى الله عليه وسلم - نقيصة في ذاته كالأمية، أو باعتبار عرف العوام الطارئ كالفقر ورعي الغنم

“Beliau menjawab, pertengkaran yang demikian ini merupakan hal yang wajib dihindari oleh siapa pun dengan sebenar-benarnya. Sebab dapat menciptakan hal-hal negatif yang tidak dapat diatasi dan dicegah. Terlebih, banyak di antaranya yang dapat menyebabkan persepsi negatif kepada orang awam dengan menyebut beberapa kekurangan Nabi ﷺ yang pada hakikatnya hal tersebut merupakan kesempurnaannya yang agung.”

Meski beberapa beberapa di antaranya merupakan sifat kurang bila dinisbatkan kepada selain Nabi, seperti buta huruf, atau berdasarkan penilaian khalayak umum yang baru seperti sifat fakir dan profesi menggembala kambing.

فتعين الإمساك عن ذلك وتأكد على الولاة والعلماء منع الناس من الإلمام بشيء من تلك المسالك فإنها في الحقيقة من أعظم المهالك

“Maka, wajib untuk mencegah dari perbuatan tersebut. Wajib bagi pemerintah dan ulama untuk mencegah manusia dari menetapi perbuatan-perbuatan tersebut, karena sesungguhnya hal tersebut termasuk tempat kebinasaan yang besar.”

وقد بالغ الحافظ الجلال السيوطي شكر الله تبارك وتعالى سعيه. فأفتى بوجوب التعزير البليغ على من عير ولده برعي المعزى فقال مستدلا على أن ذلك ليس بنقص الأنبياء رعوا المعزى؛ لأن مقام الأنبياء - عليهم الصلاة والسلام - أجل من أن يضرب مثلا لآحاد الناس

“Bahkan, Imam Suyuthi berpandangan lebih tentang masalah ini, beliau berfatwa wajib menghukum dengan hukuman seberat-beratnya bagi orang yang menghina anaknya dengan profesi menggembala kambing, beliau berargumen bahwa menggembala kambing tidak menunjukan kekurangan para Nabi, sebab derajat para Nabi lebih besar untuk dibanding-bandingkan dengan individu manusia yang bukan Nabi.” (Syekh Ibnu Hajar al Haitami, al-Fatawa al-Fiqhiyyah al-Kubra, juz.4, hal.236).

Walhasil, sikap membela tokoh tertentu dengan membandingkannya dengan Nabi merupakan hal yang tercela, dapat menodai kemuliaan derajat Nabi.

Tidak selayaknya bagi Muslim yang baik untuk melakukannya dan bagi siapa pun tidak patut untuk menirunya. Bila memungkinkan, pemerintah perlu mengeluarkan tindakan tegas agar hal demikian tidak terulang lagi.

Berpolitik memang harus berdasarkan ajaran akhlak dan teladan luhur dari Rasulullah ﷺ. Tapi bukan dengan mempolitisasi nama beliau ﷺ yang agung, untuk kepentingan ego kelompok dan diri sendiri. Wallahu a’lam bish shawab. (M. Mubasysyarum Bih)

Kamis 4 Oktober 2018 15:30 WIB
Pandangan Syekh Abdul Qadir al-Jilani Menyikapi Bencana Alam
Pandangan Syekh Abdul Qadir al-Jilani Menyikapi Bencana Alam
Ilustrasi (AFP)
Bencana alam melanda negari kita. Tidak berlangsung lama setelah gempa di Lombok, gempa kembali mengguncang warga Sulawesi Tengah, bahkan beberapa jam kemudian disusul dengan tsunami.
 
Beberapa kalangan mengaitkan bencana tersebut dengan kepentingan politik. Menurut mereka, bertubi-tubinya bencana dikarenakan rezim pemerintahan yang menyimpang dan zalim.
 
Bencana yang melanda warga negara kita disebut-sebut sebagai azab yang diturunkan oleh Allah. Betulkah anggapan demikian?
 
Berikut ini pandangan dari Syekh Abdul Qadir al-Jilani dalam menyikapi bencana alam yang melanda orang mukmin.
 
Menurut pandangan Syekh Abdul Qadir al-Jilani, bencana tidak datang sebagai azab bagi orang mukmin. Namun sebaliknya sebagai bentuk cobaan.
 
Beliau berkata:
 
واعلموا ان البلية لم تأت المؤمن لتهلكه وانما اتته لتختبره
 
"Ketahuilah bahwa cobaan tidak datang kepada seorang mukmin untuk merusaknya, namun datang untuk menguji keimanananya.” (Sayyid Ja’far al-Barzanji, al-Lujaini ad-Dani fi Manaqibis Syaikh Abdil Qadir al-Jilani, t.t, Kediri, Maktabah Pondok Pesantren Tahfidh wal Qiraat Lirboyo, h. 136)
 
Menurut pemilik julukan sulthânul auliyâ’ (pemimpin para wali) itu, mukmin diberi musibah oleh Allah, agar diuji sebatas mana tingkat keimanannya. Apakah ia semakin jauh dari Tuhan, apakah semakin dekat.
 
Banyak kita jumpai, orang yang terkena bencana, ia frustasi, pesimis, bahkan cenderung menyalahkan Tuhan.
 
Bagi kaum beriman, bencana yang melanda negara kita, hendaknya menjadi bahan introspeksi diri akan kesalahan-kesalahan kita. Mungkin, kita masih banyak melakukan kemaksiatan. Mungkin kita masih sering menyakiti orang lain, masih sering melalaikan kewajiban-kewajiban.
 
Sebagaimana disabdakan oleh Sayyidina Umar bin Khattab:
 
حاسبوا أنفسكم قبل أن تحاسبوا، وزنوها قبل أن توزنوا
 
"Introspeksilah diri kalian sebelum amal kalian diteliti, timbanglah diri kalian sebelum kalian ditimbang." 
 
Fenomena bencana alam bukan justru menjadi ajang untuk mengintrospeksi amal orang lain atau mencari-cari kesalahannya. Apalagi mengambing-hitamkan terjadinya bencana atas perbuatan atau kebijakan pihak tertentu. Sungguh hal tersebut bukan merupakan sikap yang ideal bagi seorang mukmin.
 
Agama melarang seorang mukmin untuk mencari-cari kesalahan orang lain. Ditegaskan dalam firman-Nya:
 
وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا
 
“Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain.” (QS al-Hujurat: 12)
 
Terkait larangan dalam ayat tersebut, al-Imam al-Baghawi menjelaskan:
 
التجسس هو البحث عن عيوب الناس، نهى الله تعالى عن البحث عن المستور من أمور الناس وتتبع عوارتهم حتى لا يظهر على ما ستره الله منها
 
"Tajassus adalah meneliti aib-aib manusia. Allah melarang meneliti urusan yang samar dari orang lain, dan melarang meneliti aib-aib mereka. Sehingga ia tidak memperlihatkan aib orang lain yang telah ditutupi oleh Allah ﷻ.” (Al-Imam al-Baghawi, Tafsir al Baghawi, juz 4, h. 262)
 
Maka, sebagai orang yang beriman, hendaknya kita memahami bahwa bencana tersebut sesungguhnya merupakan cobaan bagi kita semua.
 
Bencana mengajarkan kepada kita untuk menjadi pribadi mukmin yang lebih berkualitas lagi, lebih dewasa menghadapi perbedaan-perbedaan, bukan justru sebaliknya.
 
Demikianlah sikap kita saat negara kita dilanda bencana menurut pandangan Syekh Abdul Qadir al-Jilani.
 
Semoga para korban bencana diberi tempat yang layak di sisi-Nya, diampuni segala dosa-dosanya dan diterima amalnya. Semoga keluarga korban diberi kesabaran dan ketabahan. 
 
Wallahu a'lam bish shawab.
 
(M. Mubasysarum Bih)