IMG-LOGO
Trending Now:
Syariah

Menjawab Pertanyaan Jebakan Para Anti-Maulid

Kamis 15 November 2018 15:0 WIB
Menjawab Pertanyaan Jebakan Para Anti-Maulid
Ada sebuah rangkaian pertanyaan yang disusun sedemikian rupa oleh orang-orang yang anti-peringatan Maulid Nabi agar pengamalnya terdiam kalah dalam beradu argumentasi atau menjadi ragu akan kebolehan memperingati Maulid Nabi Muhammad ﷺ. Pertanyaan ini sukses menipu banyak orang awam sehingga mereka menyangka bahwa Maulid Nabi adalah bid’ah yang terlarang. Rangkaian pertanyaan jebakan tersebut sebagai berikut:

1. Apakah Maulid Nabi merupakan ketaatan ataukah maksiat? Lumrahnya yang ditanya akan menjawab: “Maulid adalah ketaatan”.

2. Apakah Nabi mengetahui ketaatan tersebut atau tidak mengetahui? Di sini penanya mencoba mengarahkan pada salah satu jawaban saja. Bila yang ditanya menjawab bahwa Nabi tidak mengetahuinya, maka berarti dia menganggap Nabi bodoh dan tak mengerti soal ketaatan pada Allah. Akhirnya yang ditanya tak punya pilihan kecuali menjawab: “Nabi mengetahuinya”.

3. Bila Nabi mengetahuinya, maka apakah Nabi menyampaikan soal itu ataukah tidak? Dari sini yang ditanya terjebak dalam dilema. Bila dia menjawab bahwa Nabi tak menyampaikan soal itu berarti sama saja menuduh Nabi tak menyampaikan ajaran Islam, ini mustahil. Namun bila dia menjawab bahwa Nabi menyampaikannya, maka dia akan dituntut untuk menunjukkan ayat atau haditsnya, dan itu tak mungkin ada. Sampai pada titik ini, jebakan orang anti maulid ini berhasil membuat pengamal maulid kebingungan.

Baca juga:
Penjelasan Para Ulama Tentang Maulid Nabi Muhammad
Jawaban Metodologis untuk Orang yang Gemar Menvonis Bid’ah
Sebenarnya rangkaian pertanyaan di atas sangat lemah bahkan sama sekali tak berdasar. Pertanyaan itu hanya menipu orang-orang awam yang kurang memahami ilmu fiqh atau ilmu ushul fiqh. Begini dua cara untuk mematahkan rangkaian pertanyaan jebakan tersebut:

Cara pertama: 

Bila ditanya apakah maulid Nabi merupakan ketaatan atau maksiat? Dijawab saja bahwa ketaatan berarti melakukan perintah yang ada sebelumnya. Imam al-Jurjani menjelaskan:

الطاعة: هي موافقة الأمر طوعًا

“Taat: adalah melaksanakan perintah secara sukarela.” (al-Jurjani, at-Ta’rîfât, halaman 140)

Seperti halnya ketika Allah memerintahkan untuk shalat, maka mengerjakan shalat adalah ketaatan sedangkan meninggalkan shalat adalah maksiat atau pembangkangan terhadap perintah tersebut. Adapun maulid Nabi tidak diperintah secara khusus sehingga melakukannya tak termasuk dalam kategori ketaatan tetapi tak termasuk pula dalam kategori maksiat sebab tak ada aturan yang dilanggar. Peringatan maulid bukanlah ibadah mandiri tetapi statusnya sama dengan segala bentuk tradisi (‘adah) manusia yang tak diperintah secara khusus tetapi tak juga melanggar aturan syariat, seperti menyelenggarakan rapat, seminar atau kajian mingguan atau bulanan. Tradisi-tradisi seperti itu hukum asalnya adalah netral (mubah), namun secara fiqih bila ternyata isi dan tujuan acaranya baik maka akan dihukumi sebagai kebaikan dan sebaliknya bila isi dan tujuannya negatif maka akan dianggap terlarang.

Dengan demikian, pertanyaan pertama tersebut yang hanya menyediakan dua opsi antara ketaatan dan maksiat adalah pertanyaan yang terbukti salah sehingga harus ditolak. Pertanyaan selanjutnya otomatis gugur dengan sendirinya.

Cara kedua:

Bila ditanya apakah maulid Nabi merupakan ketaatan atau maksiat? Dijawab saja bahwa maulid merupakan ketaatan dalam arti tindakan yang menimbulkan pahala sebab berisi kebaikan, meskipun tak mempunyai perintah yang khusus. Lalu bila ditanya apakah Nabi mengetahuinya atau tidak? Maka dijawab saja bahwa Nabi mengetahuinya.

Bila ditanya apakah Nabi menyampaikannya atau tidak? Maka dijawab saja bahwa Nabi telah menyampaikan seluruh risalahnya tanpa terkecuali, hanya saja penyampaian Nabi Muhammad terhadap risalah dilakukan dengan dua cara, yakni: Disampaikan secara literal dengan nash (teks ayat atau hadits) yang spesifik atau disampaikan secara global dengan isyarat atau dalil-dalil yang bersifat global. Imam an-Nawawi menjelaskan:

وقد قال الله تعالى ما فرطنا في الكتاب من شيء ومعناه أن من الأشياء ما يعلم منه نصا ومنها ما يحصل بالاستنباط

“Allah Ta’ala telah berfirman: “Tak ada sesuatu pun yang Aku luputkan dari al-Qur’an”, maknanya bahwa sesungguhnya terdapat hal-hal yang diketahui secara tegas berupa nash dan ada pula yang dihasilkan dengan cara penggalian hukum (istinbat).” (an-Nawawi, Syarh an-Nawawi ‘Ala Muslim, juz XI, halaman 88)

Nah, peringatan Maulid Nabi tergolong hal yang tak ada nash-nya secara spesifik namun bisa masuk dalam cakupan kategori dalil-dalil global, misalnya: Dalam QS. Yunus: 58, Allah memerintahkan manusia untuk bergembira atas rahmat yang diberikan Allah sedangkan dalam QS al-Anbiya: 107 ditegaskan bahwa Nabi Muhammad adalah rahmat bagi seluruh alam. Dengan demikian, maka bergembira atas keberadaan Nabi di dunia merupakan hal yang sesuai dengan perintah bergembira dalam QS. Yunus: 58 tersebut.

Dalil umum lainnya adalah tindakan Rasul yang memperingati hari kelahirannya setiap Senin dengan puasa adalah bukti bahwa momen kelahiran beliau layak diperingati. Dan banyak dalil-dalil lainnya yang terlalu banyak untuk disebutkan dalam artikel ini yang kesemuanya dapat menjadi patokan penggalian hukum (istinbath) terhadap hukum peringatan Maulid Nabi. 

Dengan jawaban seperti di atas, penanya yang bermaksud menjebak itu akan kebingungan sebab mau tak mau dia harus mengakui bahwa memang tak semua hal ada nash-nya. Kesalahan pertanyaan itu makin jelas ketika logika itu dipakai pada seluruh hal lain yang tak ada nash-nya. Hasilnya semua akan berstatus haram, meskipun sebenarnya sunnah atau bahkan wajib sekalipun; Pembukuan Al-Qur’an menjadi satu mushaf seperti sekarang, penulisan hadits Nabi beserta seluruh ilmu hadits, pendirian lembaga pendidikan Islam, penambahan azan shalat Jumat di masa Khalifah Utsman, penambahan harakat dan titik dalam mushaf, bahkan kebiasaan penduduk Makkah saat ini yang berkumpul secara massal tiap malam 27 Ramadhan saja untuk memburu Lailatul Qadar, dan seluruh hal yang tak ada di masa Rasul akan menjadi haram tanpa kecuali sebab itu semua adalah ketaatan yang kita tak punya pilihan kecuali dianggap “diketahui Rasul” tetapi tak sekalipun Rasulullah menyampaikannya kepada kita dengan instruksi nash yang spesifik tentang itu. Namun tentu saja mengharamkan seluruh hal tersebut adalah tindakan konyol sehingga penanya tersebut harus mengakui bahwa teorinya salah total. Wallahu a'lam.


Abdul Wahab Ahmad, Wakil Katib PCNU Jember dan Peneliti di Aswaja NU Center Jember

Tags:
Rabu 14 November 2018 7:30 WIB
Dalil tentang Merayakan Maulid Dapat Datangkan Syafaat Nabi
Dalil tentang Merayakan Maulid Dapat Datangkan Syafaat Nabi
Ada syubhat (propaganda) dari sebagian kalangan bahwa orang yang merayakan maulid Nabi tidak layak mendapatkan syafaat. Mereka mengatakan bahwa yang mendapatkan syafaat Nabi adalah orang-orang yang men-tauhid-kan Allah.

Pendapat mereka berlandaskan pada hadits Nabi ﷺ:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّهُ قَالَ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِكَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَقَدْ ظَنَنْتُ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ أَنْ لَا يَسْأَلُنِي عَنْ هَذَا الْحَدِيثِ أَحَدٌ أَوَّلُ مِنْكَ لِمَا رَأَيْتُ مِنْ حِرْصِكَ عَلَى الْحَدِيثِ أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ خَالِصًا مِنْ قَلْبِهِ أَوْ نَفْسِهِ 

“Dari Abu Hurairah radliyallahu ‘anh, beliau berkata, Ya Rasulallah siapa orang yang paling beruntung mendapatkan syafaatmu di hari kiamat? Nabi menjawab, wahai Abu Hurairah, sungguh aku menduga belum ada seorang pun yang bertanya sebelum kamu yang menanyakan hal tersebut, karena aku mengetahui kecintaanmu kepada hadits. Manusia yang paling bahagia dengan syafaatku di hari kiamat adalah orang yang berkata Lâ ilâha illa Allâh dengan tulus dari hatinya.” (HR. al-Bukhari, Muslim dan lainnya)

Dalam hadits tersebut, menurut mereka, tidak menyebutkan orang yang merayakan maulid, sehingga dapat disimpulkan bahwa yang mendapatkan syafaat adalah orang yang bertauhid, bukan orang yang merayakan maulid. Benarkah anggapan demikian?
Merayakan maulid merupakan luapan kegembiraan atas terlahirnya Nabi Muhammad ﷺ di dunia. Bergembira atas kelahiran Nabi manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh orang yang beriman, namun juga oleh non-Muslim. 

Di setiap hari Senin, Abu Lahab diringankan siksanya, karena ia senang atas kelahiran Nabi, bahkan Abu Lahab memerdekakan budak perempuannya, Tsuwaibah al-Aslamiyyah untuk menyusui Nabi. 

Dalam Shahih al-Bukhari disebutkan:

قَالَ عُرْوَةُ وثُوَيْبَةُ مَوْلَاةٌ لِأَبِي لَهَبٍ كَانَ أَبُو لَهَبٍ أَعْتَقَهَا فَأَرْضَعَتْ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا مَاتَ أَبُو لَهَبٍ أُرِيَهُ بَعْضُ أَهْلِهِ بِشَرِّ حِيبَةٍ قَالَ لَهُ مَاذَا لَقِيتَ قَالَ أَبُو لَهَبٍ لَمْ أَلْقَ بَعْدَكُمْ غَيْرَ أَنِّي سُقِيتُ فِي هَذِهِ بِعَتَاقَتِي ثُوَيْبَةَ

“Urwah berkata, Tsuwaibah adalah budak Abu Lahab. Ia dimerdekakan oleh Abu Lahab, untuk kemudian menyusui Nabi. Ketika Abu Lahab meninggal, sebagian keluarganya bermimpi bahwa Abu Lahab mendapatkan siksa yang buruk. Di dalam mimpi itu, Abu Lahab ditanya. Apa yang engkau temui? Abu Lahab menjawab, aku tidak bertemu siapa-siapa, hanya aku mendapatkan keringanan di hari Senin karena aku telah memerdekakan Tsuwaibah.”

Hadits ini juga disebutkan oleh al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari, al-Imam Abdur Razzaq dalam kitab al-Mushannaf, al-Hafizh al-Baihaqi dalam kitab al-Dalail, al-Imam Ibnu Katsir dalam kitab al-Bidayah, al-Hafizh al-Baghawi dalam Syarh al-Sunnah, Ibnu Hisyam al-Suhaili dalam al-Raudl al-Anuf, dan al-Imam al-‘Amiri dalam Bahjah al-Mafahil.

Meski merupakan hadits mursal, namun hadits ini tetap dapat diterima riwayatnya, sebab al-Imam al-Bukhari sebagai pakar hadits yang otoritatif mengutipnya dalam kitab al-Shahih, demikian pula para ulama, para penghafal hadits berpegangan pada riwayat tersebut. Di sisi yang lain, hadits tersebut tidak berbicara halal-haram, namun berkaitan dengan sejarah, sehingga tetap bisa dibuat hujjah.

Syekh Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki menegaskan:

وهذه الرواية وإن كانت مرسلة إلا أنها مقبولة لأجل نقل البخاري لها واعتماد العلماء من الحفاظ لذلك، ولكونها في المناقب والخصائص لا في الحلال والحرام وطلاب العلم يعرفون الفرق في الاستدلال بالحديث بين المناقب والأحكام.

“Meski riwayat ini mursal, namun dapat diterima, karena al-Bukhari mengutipnya, ulama dari kalangan huffazh (penghafal hadits) juga berpegangan dengan riwayat ini, dan karena riwayat ini menjelaskan manaqib dan kekhasan seseorang, bukan urusan halal-haram. Para penuntut ilmu tentu mengetahui perbedaan antara mengambil dalil hadits di antara tema manaqib dan hukum.” (Syekh Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki, al-I’lam bi Fatawi Ulama al-Islam Haula Maulidihi ‘alaihi al-Shalatu wa al-Salam, hal.14).

Bila Abu Lahab sebagai non-Muslim yang sangat memusuhi Nabi di sepanjang hidupnya, mendapatkan dispensasi siksa atas kegembiraannya merayakan momen kelahiran (maulid) Nabi, bagaimana dengan seorang Muslim yang merayakannya? Dalam hal ini, al-Hafizh Syamsuddin Muhammad bin Nashiruddin al-Damasyqi, sebagiamana dikutip Syekh Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki mengatakan:

إذا كان هذا كافرا جاء ذمــــــــه * بتبت يداه في الجحيم مخلدا

“Bila Abu lahab ini adalah seorang non-Muslim yang jelas dicela dalam ayat ‘tabbat yada’, ia kekal di neraka Jahim.”

أتى أنه في يوم الإثنين دائمـــــــا * يخفف عنه للسرور بأحمدا

“Ia mendapatkan keringanan siksa di setiap hari Senin, karena gembira atas kelahiran Nabi Ahmad.”

فما الظن بالعبد الذي طول عمره * بأحمد مسرورا ومات موحدا

“Bagaimana dugaanmu terhadap seorang hamba yang bergembiara atas kelahiran Nabi Ahmad di sepanjang umurnya dan mati dalam keadaan bertauhid?”

(Syekh Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki, al-I’lam bi Fatawi Ulama al-Islam Haula Maulidihi ‘alaihi al-Shalatu wa al-Salam, hal. 14)

Dalam sudut pandang yang lain, perayaan maulid bukan terbatas seremonial atau perkumpulan biasa, namun dimaksudkan untuk memupuk rasa cinta kepada Nabi Muhammad ﷺ. Merayakan maulid adalah upaya untuk memperkuat hubungan kita dengan al-janab al-nabawi (sisi kenabian). Sehingga rasa cinta kepada Nabi menjadi hal yang terpatri pada diri setiap Muslim.

Syekh Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki mengatakan:

ليس المقصود من هذه الاجتماعات مجرد الاجتماعات والمظاهر بل ان هذه وسلة شريفة الى غاية شريفة وهي كذا وكذا ومن لم يستفد شيأ لدينه فهو محروم من خيرات المولد الشريف

“Tujuan perkumpulan ini bukan sebatas perkumpulan dan seremonial belaka, namun menjadi perantara mulia untuk maksud yang mulia, ini dan itu. Barangsiapa yang tidak mendapatkan faidah untuk agamanya, maka ia terhalang dari kebaikan-kebaikan maulid Nabi yang mulia.” (Syekh Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki, al-I’lam bi Fatawi Ulama al-Islam Haula Maulidihi ‘alaihi al-Shalatu wa al-Salam, hal.10).

Mencintai Nabi memiliki keutamaan yang luar biasa. Di antaranya kelak di akhirat akan dikumpulkan bersama beliau di akhirat. Ada salah seorang sahabat mengadu kepada Nabi, ia tidak rajin shalat, puasa dan sedekah, ia hanya punya modal kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya. Nabi memberikan jawaban yang menggembirakan, bahwa sahabat tersebut kelak akan dikumpulkan bersama Nabi di hari kiamat. Bagaimana mungkin ia dikumpulkan bersama Nabi bila ia tidak mendapatkan syafaat  sang Nabi?

Dalam sebuah hadits dijelaskan:

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَتَى السَّاعَةُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ مَا أَعْدَدْتَ لَهَا قَالَ مَا أَعْدَدْتُ لَهَا مِنْ كَثِيرِ صَلَاةٍ وَلَا صَوْمٍ وَلَا صَدَقَةٍ وَلَكِنِّي أُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ قَالَ أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ

“Dari sahabat Anas, sesungguhnya seorang laki-laki bertanya kepada Nabi, kapan hari kiamat terjadi ya Rasul? Nabi bertanya balik, apa yang telah engkau persiapkan? Ia menjawab, aku tidak mempersiapkan untuk hari kiamat dengan memperbanyak shalat, puasa dan sedekah. Hanya aku mencintai Allah dan Rasul-Nya. Nabi berkata, engkau kelak dikumpulkan bersama orang yang engkau cintai.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Mengomentari hadits tersebut, al-Imam al-Nawawi mengatakan:

فيه فضل حب الله ورسوله صلى الله عليه و سلم والصالحين واهل الخير الاحياء والاموات ومن فضل محبة الله ورسوله امتثال امرهما واجتناب نهيهما والتأدب بالآداب الشرعية ولا يشترط في الانتفاع بمحبة الصالحين أن يعمل عملهم اذ لو عمله لكان منهم ومثلهم وقد صرح في الحديث الذي بعد هذا بذلك 

“Hadits ini menjelaskan keutamaan cinta Allah, Rasul, orang-orang shaleh dan ahli kebaikan, baik yang masih hidup atau sudah meninggal. Di antara keutamaan mencintai Allah dan RasulNya adalah mematuhi perintah dan menjauhi larangan-Nya serta beretika dengan etika-etika syar’i. Tidak disyaratkan untuk mendapatkan manfaat dengan cara mencintai orang-orang shaleh, berperilaku seperti mereka, sebab jika demikian, maka ia termasuk golongan mereka. Nabi telah menjelaskan hal ini dalam hadits setelah ini. (al-Imam al-Nawai, Syarh Muslim, juz.16, hal,186)

Memang ada beberapa hadits yang bermasalah riwayatnya berkaitan dengan jaminan syafaat Nabi bagi orang yang merayakan maulid. Misalkan hadits “Barang siapa yang megagungkan maulidku, maka aku memberinya syafaat di hari kiamat, barang siapa membelanjakan satu dirham untuk perayaan maulidku, seperti ia membelanjakan satu gunung emas di jalan Allah.” Namun, secara substansi hadits tersebut adalah benar. Permasalahannya hanya dalam etika periwayatan tidak perlu dinisbatkan kepada Nabi. 

Simpulannya, merayakan maulid Nabi adalah upaya yang sangat baik untuk meningkatkan rasa mahabbah kepada sang manusia terbaik. Nabi menjamin, yang mencintai beliau kelak akan dikumpulkan bersama beliau di tempat yang mulia. Mereka-mereka yang dikumpulkan bersama Nabi adalah yang mendapatkan syafaat beliau. Semoga kita semua kelak mendapat syafaat Nabi, dikumpulkan bersama beliau dan orang-orang shaleh. Wallahu a’lam


(M. Mubasysyarum Bih)

Kamis 8 November 2018 11:30 WIB
Jangan Berdoa Meminta Kesabaran
Jangan Berdoa Meminta Kesabaran
Ilustrasi (© Hindustan Times)
Segala sesuatu yang diinginkan seorang hamba memang sebaiknya diminta kepada Tuhan melalui doa, apalagi bila sesuatu itu dianggap baik. Sebab itu, ada banyak hal yang diminta manusia dari Tuhannya. Tetapi kadang permintaan seorang hamba itu tidak tepat, bahkan bisa dibilang konyol. Salah satu contohnya adalah berdoa meminta kesabaran. 

Banyak orang yang berdoa meminta kesabaran dengan tujuan agar menjadi pribadi yang kuat menghadapi musibah. Sepintas, berdoa meminta sabar ini baik sebab kesabaran memang hal yang mulia. Dalam sebuah hadits sahih, Rasulullah bersabda:

قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: الصَّبْرُ نِصْفُ الْإِيمَانِ، وَالْيَقِينُ الْإِيمَانُ كُلُّهُ 

“Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: Kesabaran adalah separuh dari iman dan yakin adalah keseluruhan iman.” (HR. Baihaqi dalam Syu’ab al-Imân)

Meskipun kesabaran bernilai separuh dari iman sehingga keberadaannya teramat sangat penting, namun berdoa meminta kesabaran sebenarnya justru tidak baik. Mengapa demikian? Karena meminta sabar atas musibah sama saja dengan meminta musibahnya terus terjadi. Dalam sebuah hadits disebutkan:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَتَى عَلَى رَجُلٍ وَهُوَ يُصَلِّي وَهُوَ يَقُولُ فِي دُعَائِهِ: اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الصَّبْرَ. قَالَ: سَأَلْتَ الْبَلَاءَ فَسَلِ اللَّهَ الْعَافِيَةَ

“Sesungguhnya Rasulullah ﷺ mendatangi seorang lelaki yang sedang shalat. Lelaki itu berdoa dalam shalatnya: “Ya Allah, sesungguhnya aku meminta kesabaran kepada-Mu”. Rasulullah bersabda: “Engkau telah meminta musibah, maka mintalah kepada Allah keselamatan.” (HR. Ahmad)

Seharusnya orang itu sadar bahwa musibah itu datangnya dari kehendak Allah, maka hendaklah dia meminta musibah itu terangkat, bukan malah meminta sabar dalam menghadapinya. Permintaan kesabaran seolah menunjukkan bahwa musibah itu adalah sesuatu yang harus terjadi tanpa bisa diintervensi oleh Allah sehingga meminta bantuan Allah untuk menghadapinya. Padahal, Allah sangat mampu mengangkat musibah itu kapan pun. Jadi, seharusnya itulah yang diminta ketika tertimpa musibah. Wallahu a'lam.


Abdul Wahab Ahmad, Wakil Katib PCNU Jember dan Peneliti di Aswaja NU Center Jember.

Kamis 8 November 2018 9:15 WIB
Membawa Jimat saat Tes CPNS, Bagaimana Islam Memandang?
Membawa Jimat saat Tes CPNS, Bagaimana Islam Memandang?
Akhir-akhir ini publik dipenuhi oleh berbagai berita tentang peserta tes CPNS yang membawa berbagai macam jimat, mulai dari tulisan berbahasa Arab, kain, tali pocong dan benda-benda lain yang dianggap memiliki kekuatan supranatural. Meski sudah tahu bahwa membawa benda-benda demikian adalah suatu larangan, tetap saja setiap tahunnya ditemukan kejadian yang sama. Ironisnya bahkan ada yang sampai menaruh aneka jimat tersebut dalam tempat yang dianggap tidak layak seperti bra dan celana dalam. 

Sebenarnya bagaimanakah fenomena tersebut ketika ditinjau dari aspek fiqih dan teologi?

Dalam disiplin teologi, jimat hanya dapat dibenarkan ketika pengguna jimat meyakini bahwa yang menentukan terjadinya sesuatu (muatssir) hakikatnya adalah Allah ﷻ bukan berasal dari jimat yang ia pakai, dan juga bukan karena  kekuatan yang diciptakan oleh Allah pada jimat tersebut.

Pemahaman demikian juga berlaku pada segala macam benda yang memiliki fungsi secara adat untuk memberikan suatu bekas/pengaruh (atsar) ketika dijalankan. Sehingga secara teologis, kita wajib meyakini bahwa yang dapat membakar suatu benda itu hakikatnya adalah Allah ﷻ. Bukan zat api, atau kekuatan yang diberikan oleh Allah pada api. Begitu juga berlaku pada contoh-contoh yang lain seperti makanan, pisau, minuman dan materi kebendaan lainnya. Seperti yang disinggung dalam Al-Qur’an:

وَمَا رَمَيْتَ إِذْ رَمَيْتَ وَلَكِنَ اللَّهَ رَمَى 

“Dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang (sebenarnya) melempar.” (QS. Al-Anfal: 17)

Perincian tentang konsep di atas, dijabarkan secara rinci dalam kitab Tuhfah al-Murid:

فمن اعتقد أن الأسباب العادية كالنار والسكين والأكل والشرب تؤثر فى مسبباتها الحرق والقطع والشبع والرى بطبعها وذاتها فهو كافر بالإجماع أو بقوة خلقها الله فيها ففى كفره قولان والأصح أنه ليس بكافر بل فاسق مبتدع ومثل القائلين بذلك المعتزلة القائلون بأن العبد يخلق أفعال نفسه الإختيارية بقدرة خلقها الله فيه فالأصح عدم كفرهم ومن اعتقد المؤثر هو الله لكن جعل بين الأسباب ومسبباتها تلازما عقليا بحيث لا يصح تخلفها فهو جاهل وربما جره ذلك إلى الكفر فإنه قد ينكر معجزات الأنبياء لكونها على خلاف العادة ومن اعتقد أن المؤثر هو الله وجعل بين الأسباب والمسببات تلازما عادي بحيث يصح تخلفها فهو المؤمن الناجى إن شاء الله إهـ

“Barangsiapa yang meyakini bahwa sebab-sebab yang bersifat adat seperti api, pisau, makanan, minuman memberikan bekas pada musababnya berupa terbakar, terpotong, kenyang dan segar dengan watak dasar dan zat benda-benda tersebut maka dia dihukumi kafir menurut kesepakatan para ulama’. Atau ia meyakini bahwa yang memberikan bekas adalah kekuatan yang diciptakan oleh Allah pada benda tersebut maka dalam menghukumi kekufurannya terjadi dua pandangan. Menurut pendapat yang lebih sahih ia tidak kafir namun dihukumi fasik dan mubtadi’ (pelaku bid’ah). Contoh kaum yang berpandangan demikian adalah Muktazilah yang berpendapat bahwa manusia menciptakan perbuatannya sendiri sesuai kehendaknya dengan adanya sifat qudrah yang Allah ciptakan pada diri manusia. Menurut pendapat yang kuat, kaum Muktazilah ini tidak sampai dihukumi kafir.

Barang siapa yang meyakini bahwa yang memberikan bekas adalah Allah, namun Allah mengikatkan antara sabab dan musabab dengan sebuah ikatan yang bersifat dalam jangkauan akal sekiranya tidak mungkin untuk beralih dari hasilnya musabab maka dia adalah orang yang bodoh. Terkadang keyakinan demikian akan menariknya pada kekufuran, sebab ia menginkari terhadap mukjizat para nabi, karena mukjizat adalah sesuatu yang keluar dari hukum adat. Dan barang siapa yang berkeyakinan bahwa yang memberi bekas adalah Allah, dan Allah mengikatkan antara sabab dan musabab dengan sebuah ikatan yang bersifat adat, sekiranya masih ada kemungkinan sebab tersebut untuk tidak menghasilkan musabab maka dia adalah Mukmin yang selamat. Insya Allah.” (Syekh Ibrahim, al-Baijuri, Tuhfat al-Murid, hal. 58)

Selain tergolong dalam pembahasan muatsir, ada kemungkinan juga peserta CPNS tersebut membawa jimat yang beraneka ragam jenis itu dengan tujuan tabarruk (mengharap berkah). Tujuan tabarruk ini tiada lain hanyalah perantara untuk sampai pada Allah dalam hal mewujudkan sebuah kebaikan yang diharapkan. Misalnya, peserta tes berkeyakinan bahwa dengan membawa kertas bertuliskan ayat Al-Qur’an ia semakin dapat mendekatkan dirinya pada Allah sehingga dengan perantara kertas tersebut ia dikabulkan doanya dan dapat lolos dalam tes CPNS yang dijalaninya. 

Penjelasan tentang tabarruk ini dibahas dalam kitab Mafahim Yajibu an Tushahhah:

ينبغي أن نعلم أن التبرك ليس هو إلا توسلا إلى الله سبحانه وتعالى بذلك المتبرك به سواء أكان أثرا أو مكانا أو شحصا 

“Hendaknya kita mengerti bahwa Tabarruk tiada lain hanyalah perantara pada Allah ﷻ dengan menggunakan benda yang dijadikan objek tabarruk. Baik objek itu berupa suatu benda, tempat, atau seseorang” (Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki, Mafahim Yajibu an Tushahhah, hal. 249)

Sedangkan kajian fiqih dalam pembahasan ini terletak pada permasalahan hukum asal menggunakan jimat ini. Menggunakan jimat adalah hal yang diperbolehkan oleh syara’ selama dalam koridor yang telah dijelaskan dalam pembahasan teologi di atas yaitu tetap meyakini bahwa yang mendatangkan kebaikan adalah Allah.  Dalam disiplin fiqih, konsep tentang jimat yang dalam bahasa Arab dikenal dengan kata tamaim, dihukumi sama dalam banyak kasus dengan pembahasan tentang ruqyah (pengobatan dengan doa).

Dalam hadits dijelaskan:

كنا نرقي في الجاهلية فقلنا يا رسول الله كيف ترى في ذلك؟ فقال اعرضوا علي رقاكم لا بأس بالرقى ما لم يكن فيه شرك

“Kami melakukan ruqyah di masa jahiliyah (dahulu), lalu kami menanyakan pada Rasulullah SAW: “Wahai Rasulullah,bagaimana pendapat anda tentang ruqyah?” Rasulullah menjawab: “berikan padaku ruqyah kalian! Tidak apa-apa dengan ruqyah, selama tidak mengandung kesyirikan” (HR. Muslim)

Berhubung dalam informasi yang penulis dapatkan bahwa membawa benda-benda seperti jimat ini dalam tes CPNS adalah hal yang dilarang oleh panitia pelaksana, maka secara spesifik menggunakan jimat dengan cara membawa jimat itu pada saat tes CPNS menjadi hal yang dilarang oleh syara’. Sebab dengan melakukan tindakan ini berarti peserta tes tidak menaati terhadap aturan pemerintah, dan hal ini adalah larangan syara’.

Persoalan lain yang perlu disikapi dalam fenomena ini adalah menaruh jimat pada tempat yang tidak layak, seperti pada bra dan celana dalam. Jika jimat itu berupa hal-hal yang diangungkan secara syara’ (muadh-dham), seperti di dalam jimat terdapat nama-nama Allah, Rasul, ayat Al-Qur’an, dll, maka perbuatan itu adalah perbuatan yang diharamkan bahkan dapat menyebabkan kekufuran bila ia memang bertujuan menghina terhadap benda yang diagungkan tersebut (Syekh Muhammad bin Salim, Is’ad ar-Rafiq, juz 1, hal. 61).

Secara umum dapat ditarik kesimpulan bahwa keyakinan seseorang dalam hal menggunakan jimat sangatlah berbeda-beda. Sehingga dalam hal menghukuminya juga bersifat nisbi, namun ketika penggunaan jimat ini dikhususkan dalam kasus membawa jimat saat tes CPNS maka hukumnya menjadi satu yaitu dilarang oleh syara’. Wallahu a’lam.

(M. Ali Zainal Abidin)