Syariah

Benarkah Wanita Haid Harus Mengqadha Shalat?

NU Online  ยท  Rabu, 3 Juli 2024 | 19:00 WIB

Benarkah Wanita Haid Harus Mengqadha Shalat?

Hukum qadha shalat wanita haid (NU Online).

Wanita yang datang bulan atau mengalami haid, maka ia berstatus sebagai orang yang sedang hadas besar, yang secara syariat tidak dapat diperlakukan sebagaimana orang yang suci. Ada beberapa hal yang perlu dilakukan atau harus dijauhi bagi orang yang sedang hadatsย besar. ย 
ย 

Di antara hal yang perlu dilakukan adalah melaksanakan mandi besar ketika darah berhenti. Sedangkan di antara hal yang perlu dijauhi adalah shalat, tawaf serta membaca atau menyentuh Mushaf Al-Qurโ€™an. Hal ini sebagaimana sabda Nabi saw yang diriwayatkan oleh Sayyidah Aisyah:
ย 

ุนู† ุนุงุฆุดุฉ ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ุงุŒ ุฃู† ูุงุทู…ุฉ ุจู†ุช ุฃุจูŠ ุญุจูŠุด ูƒุงู†ุช ุชุณุชุญุงุถุŒ ูู‚ุงู„ ู„ู‡ุง ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู…: ุฃู† ุฏู… ุงู„ุญูŠุถ ุฏู… ุฃุณูˆุฏ ูŠุนุฑูุŒ ูุงุฐุง ูƒุงู† ุฐู„ูƒ ูุงู…ุณูƒูŠ ุนู† ุงู„ุตู„ุงุฉุŒ ูุงุฐุง ูƒุงู† ุงู„ุขุฎุฑ ูุงู…ุณูƒูŠ ุนู† ุงู„ุตู„ุงุฉ ูˆุตู„ูŠย (ุฑูˆุงู‡ ุงุจูˆ ุฏุงูˆุฏ)
ย 

Artinya, โ€œDari Sayyidah Aisyah ra bahwa Fatimah binti Abi Hubaisy mengeluarkan darah, kemudian Nabi berkata kepadanya, โ€œSesungguhnya darah haid adalah darah hitam yang sudah diketahui, maka jika darah tersebut keluar, tinggalkanlah shalat, dan jika selain darah haid yang datang maka wudhulah,ย kemudian shalatlah." (HR Abu Dawud). (Ibn Hajar Al-Asqalani, Bulughul Maram min Adillatil Ahkam, [Al-Haramain: 2009], halaman 38).
ย 

Dari hadis di atasย jelas Nabi saw memerintahkan siapapun wanita yang sedang mengalami menstruasi untuk tidak melaksanakan shalat. Bahkan sengaja melaksanakan shalat saat sedang haid merupakan salah satu dosa besar.
ย 

Lalu dari shalat yang ditinggalkan apakah ada kewajiban untuk mengqadhaโ€™nya?

Mengenai kewajiban mengqadhaโ€™ shalat bagi orang yang haid juga terdapat hadis yang tegas menjelasakan hal tersebut. Yakni hadis Sayyidah Aisyah yang berbunyi:
ย 

ูƒูู†ู‘ูŽุง ู†ุญูŠุถู ุนู„ู‰ ุนู‡ุฏ ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ๏ทบุŒ ุซูู…ู‘ูŽ ู†ูŽุทู’ู‡ุฑูุŒ ููŠุฃู…ุฑู†ุง ุจู‚ุถุงุกู ุงู„ุตู‘ูŽูˆู…ุŒ ูˆู„ุง ูŠุฃู…ุฑูู†ุง ุจู‚ุถุงุกู ุงู„ุตู‘ูŽู„ุงุฉ ย (ุฑูˆุงู‡ ุงู„ู†ุณุงุฆู‰)
ย 

Artinya, โ€œKami semua haid pada masa Nabi saw, kemudian kami suci. Lalu Nabi sawย memerintahkan kami untuk mengqadhaโ€™ puasa dan tidak memerintahkan kami untuk mengqadhaโ€™ shalat". (HR. Nasaโ€™i). (Abu Abdirrahman Al-Nasaโ€™i, Kitab Sunan An-Nasaโ€™i, [Dar Al-Risalah Al-Alamiyyah], juz IV, halaman 808).
ย 

Dari hadis-hadis yang menjelaskan ketentuan meninggalkan shalat dan hukum mengqadhaโ€™nya ini ulama berpendapat bahwa bagi wanita haid sejatinya tidak ada kewajiban untuk mengqadhaโ€™ shalat yang ditinggalkan semasa haid. Bahkan jika seseorang memaksa untuk mengqadhaโ€™nya, menurut Imam Ibnu Hajar hukumnya adalah haram dan berdosa. (Ibnu Hajar Al-Haitami, Minhajul Qawim Syarhuย Muqaddimah Hadramiyah, [Dar Al-Qutub Al-Alamiyyah], juz I, halaman 126).
ย 

Ketidakwajiban mengqadhaโ€™ shalat sebagaimana yang ditetapkan syariat oleh ulama dipahami sebagai bentuk toleransi dan keringanan agama agar tidak memberatkan terhadap para pengikutnya, sebagaimana penjelasan berikut:ย 
ย 

ูˆูŠุฌุจ ุนู„ูŠู‡ุง ุงูŠ ุงู„ุญุงุฆุถ ู‚ุถุงุก ุงู„ุตูˆู… ุจุงู…ุฑ ุฌุฏูŠุฏ ู„ุงู† ู…ู†ุนู‡ุง ู…ู† ุงู„ุตูˆู… ุนุฒูŠู…ุฉ ูˆุงู„ู…ู†ุน ูˆุงู„ูˆุฌูˆุจ ู„ุง ูŠุฌุชู…ุนุงู† ุฏูˆู† ุงู„ุตู„ุงุฉ ุงุฌู…ุงุนุง ููŠู‡ู…ุง ู„ุฎุจุฑ ุนุงุฆุดุฉ (ูƒู†ุง ู†ุคู…ุฑ ุจู‚ุถุงุก ุงู„ุตูˆู… ูˆู„ุง ู†ุคู…ุฑ ุจู‚ุถุงุก ุงู„ุตู„ุงุฉ) ู„ู„ู…ุดู‚ุฉ ููŠ ู‚ุถุงุกู‡ุง ู„ุงู†ู‡ุง ุชูƒุซุฑย 
ย 

Artinya, โ€œWajib baginya (wanita haid) untuk mengqadhaโ€™ puasa dengan perintah yang baru karena dilarangnya wanita haid untuk berpuasa merupakan 'azimah, sedangkan kewajiban dan larangan, keduanya tidak mungkin berkumpul, dan tidak wajib mengqadhaโ€™ shalat menurut kesepakatan ulamaโ€™ (Ijmaโ€™) di dalam keduanya. Karena adanya hadis Sayyidah Aisyah ra, โ€œKami diperintah untuk mengqadhaโ€™ puasa namun kami tidak diperintah mengqadhaโ€™ shalatโ€, dengan alasan memberatkan (masyaqqah) dalam kewajiban mengqadhaโ€™ shalat. Sebab shalat memiliki jumlah yang banyak."ย (Said bin Muhammad Baโ€™ali Baโ€™asyan Al-Hadrami, Syarhuย Muqaddimah Hadramiyah Al-Musamma Busyral Karim, [Al-Haramain], juz I, halaman 163).
ย 

Lain halnya jika wanita meninggalkan shalat saat haid padahal darahnya sudah berhenti dan ia belum melaksanakan mandi besar, maka tentu shalat yang ditinggalkan wajib untuk diqadha';ย atau meninggalkan shalat saat waktu shalat telah tiba namun wanita tersebut belum melaksanakan shalat dan kemudian ia terpaksa meninggalkan shalatnya sebab datangnya darah haid, maka wanita dengan kasus demikian berkewajiban untuk mengqadhaโ€™ shalat yang ditinggalkan sebelum haid. Sebab saat waktu shalat telah tiba dan darah haid belum keluar ia sudah terkena kewajiban untuk melaksanakan shalat tersebut.ย 
ย 

Karena itu penting kiranya mengutip argumentasi Imam Ibnu Hajar dalam kitabnya:ย 
ย 

ูˆู…ู† ุซู… ู„ูˆ ุงุนุชุงุฏุช ุงู„ุงู†ู‚ุทุงุน ููŠ ุฌุฒุก ู…ู† ุงู„ูˆู‚ุช ุจู‚ุฏุฑ ู…ุง ูŠุณุน ุงู„ูˆุถูˆุก ูˆุงู„ุตู„ุงุฉ ูˆูˆุซู‚ุช ุจุฐุงู„ูƒ ู„ุฒู…ู‡ุง ุชุญุฑูŠู‡ ูุงุฐุง ูˆุฌุฏ ุงู„ุงู†ู‚ุทุงุน ููŠู‡ ู„ุฒู…ู‡ุง ุงู„ู…ุจุงุฏุฑุฉ ุจุงู„ูุฑุถย 
ย 

Artinya, โ€œDan karena itu, jika seorang wanita terbiasa putus darahnya dalam bagian waktu tertentu, sekira waktu yang memuat wudhuโ€™ dan shalat, serta ia yakin dengan kemungkinan tersebut, maka ia wajib untuk memperhatikan waktu tersebut. Jika ditemukan terputusnya darah dalam waktu tadi, wajib baginya untuk segera melaksanakan kefardhuan." (Ibnu Hajar, Tuhfatul Muhtaj bi Syarhi Alfadzil Minhaj, [Darulย Fikr], juz I, halaman 421).ย 
ย 

Penjelasan di atas menunjukkan kewajiban bagi wanita untuk berhati-hati dan memperhatikan waktu-waktu yang mungkin saja ia diwajibkan shalat dalam waktu tersebut, baik sebab terputusnya darah haid saat waktu shalat masih tersisa; atau saat mulai akan keluar darah dan ia mampu melaksanakan shalat namun tidak melaksanakannya.
ย 

Karena itu Imam Malik merekomendasikan kepada para wanita yang menjumpai tanda-tanda darah akan berhenti agar rutin mengecek keluarnya darah dalam dua waktu utama: pertama setiap akan melaksanakan shalat; dan kedua adalah pada setiap menjelang tidur di malam hari. (Muhammad bin Ahmad Ad-Dasuqi, As-Syarhul Kabir lisย Syaikhย Ad-Dardir wa Hasyiyatudย Dasuqi, [Dar Al-Kutub Al-Ilmiyyah], juz I, halaman 281).ย Wallahu aโ€™lam bisย shawab.



Ustadzah Shofiyatul Ummah,ย Pengajar PPย Nurud-Dhalam Sumenep Madura